jangan lupa vote
Perpisahan tak kasat mata setelah presentasi UTS itu rasanya seperti menekan tombol hard reset dalam hidupmu. Begitu melangkah keluar dari Studio Pertunjukan hari itu, hal pertama yang kamu lakukan saat sampai di kamar kosan adalah mengambil ponselmu.
Tanpa ragu, kamu membuka aplikasi WhatsApp, Instagram, sampai Line. Satu per satu, akses komunikasi Riki kamu putus. Kamu memblokir nomornya dan mengunci akun media sosialmu. Kamu tidak melakukan itu karena marah atau ingin membalas dendam agar dia mencari-carimu. Kamu melakukkannya murni karena kamu butuh napas baru. Kamu butuh ruang steril di mana nama โRikiโ tidak bisa menyusup dan merusak kedamaian yang sedang berusaha kamu bangun kembali.
Hari-hari berikutnya berjalan merayap. Mengubah kebiasaan lama yang sudah berakar selama berbulan-bulan itu jelas tidak mudah. Ada hari-hari di mana dadamu terasa teremas begitu erat. Seperti di kelas Ilmu Akustik Ruang & Organologi. Kelas yang cukup menguras otak itu kebetulan juga diambil oleh si kembar, Ryul dan Ohyul. Kamu memilih duduk sendirian di barisan tengah dekat jendela, sengaja menjauh dari area mana pun yang berpotensi jadi tempat hinggap gengnya Riki.
Beberapa kali, saat dosen sedang sibuk mengencangkan frekuensi audio di depan layar proyektor, pandanganmu terlempar keluar jendela. Menatap dedaunan pohon beringin yang bergoyang tertiup angin sore. Kamu melamun. Meratapi betapa bodoh dan gilanya kamu dulu. Kok bisa ya, aku sampai merendahkan diri segitunya cuma buat cowok yang bahkan gak pernah nganggap aku ada? Kok bisa aku sebut obsesi mengerikan itu sebagai โcintaโ?
Dari pojok belakang kelas, Ryul dan Ohyul beberapa kali memergokimu sedang melamun menatap kosong ke luar kaca. Mereka menyadari tatapan matamu yang redup dan kehilangan binar bising yang biasanya ada. Namun, menyadari situasi canggung dan rentan yang sedang kamu lewati, duo pemain bass dan keyboard itu tidak pernah mencoba menghampiri atau mengajakmu bicara. Mereka cukup bijak untuk memberimu ruang.
Ketika secara tidak sengaja kamu harus berpapasan dengan Riki di koridor gedung fakultas, refleks tubuhmu bekerja cepat. Pernah suatu hari, di dekat tangga menuju lantai dua, kamu melihat dari kejauhan Riki sedang berdiri mengobrol bersama Stella. Riki tampak mendengarkan Stella yang tertawa sambil memegang lembaran kertas.
Dulu, pemandangan itu pasti sukses membuat dadamu sesak, memancing rasa cemburu yang membakar, dan memicu dorongan cegil-mu untuk menghampiri mereka dan merusak suasana. Tapi sekarang? Begitu mata menangkap siluet Riki dari jarak sepuluh meter, kamu langsung berbalik arah secara mulus. Kamu berpura-pura lupa membawa sesuatu dan berjalan cepat menuju arah sebaliknya.
Kamu tidak ingin bertatap mata dengannya. Kamu tidak ingin mendengar suaranya. Hari-harimu memang terasa beratโmembongkar ulang kesehatan mental dan harga diri yang sempat hancur itu butuh energi luar biasa. Tapi kalaupun Riki mendadak punya niat untuk mendekatimu kembali? Kamu sudah terlalu capek. Tenagamu sudah habis untuk drama semacam itu. Lagipula, Riki sendiri memang tidak menunjukkan kemajuan berarti. Dia tetap Riki yang dingin, gengsian, dan tertutup. Dia tidak pernah mengejarmu secara ugal-ugalan atau mencegatmu di depan kelas. Dan jujurly, kamu sangat bersyukur untuk hal itu. Pasifnya Riki justru menjadi jalan tol buatmu untuk makin cepat move on dan fokus merawat dirimu sendiri.
Waktu adalah penyembuh yang sangat tenang. Perlahan tapi pasti, energi negatif dan rasa insecure yang selama ini menggerogoti jiwamu mulai menguap.
Kamu mulai menata ulang hidupmu. Kamu kembali melukis kuku-kukumu dengan warna-warna yang kamu suka, bukan warna yang kira-kira bakal disukai Riki. Kamu mulai rutin mendengarkan genre musik baru, fokus mengolah teknik vokalmu sampai para dosen takjub, dan mengenakan pakaian yang betul-betul membuatmu merasa nyaman dan cantik sebagai dirimu sendiri.
Bukan lagi gaya pastel yang dipaksakan atau oversized sweater yang muram, melainkan style yang memancarkan aura feminine milikmu secara alami. Garis wajahmu yang dulu selalu terlihat tegang dan penuh beban kini melunak. Senyummu kembali meretas dan kali ini bukan senyum palsu untuk menutupi rasa canggung, tapi senyum lepas yang terpancar dari perasaan yang sudah stabil dan bahagia.
Siang itu, matahari Fakultas Seni terpancar cerah. Kamu duduk di gazebo taman tengah bersama Hyerin, teman sekelasmu di Harmoni Lanjut. Meski sebelumnya kalian hanya sebatas kenalan yang sering menyapa, belakangan ini kamu dan Hyerin makin akrab karena sering berada di kelompok latihan vokal yang sama.
Kamu sedang tertawa terbahak-bahak sampai matamu menyipit, mendengarkan cerita Hyerin tentang kucing kosannya yang tidak sengaja masuk ke dalam mesin cuci yang sedang tidak menyala.
โSumpah ya, (Y/N)! Gue udah panik setengah mati nyariin si Otot, eh tau-taunya dia lagi tidur nyenyak di dalam tabung cuci!โ seru Hyerin sambil menepuk meja kayu gazebo.
Kamu tertawa makin kencang, memegangi perutmu yang sampai agak geli. Tawa renyahmu yang melengking tenang itu memantul di udara siang yang hangat, menarik perhatian beberapa mahasiswa yang sedang lalu lalang di sekitar taman. Hyerin mendadak menghentikan ceritanya. Dia menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap wajahmu lekat-lekat dengan binar kagum.
โKenapa, Rin? Kok ngeliatin aku gitu amat?โ tanyamu sambil merapikan helai rambut yang jatuh ke pipimu, masih sisa-sisa tertawa.
โEnggak... gue cuma mikir aja,โ jawab Hyerin dengan senyum tipis. โHonestly, lo beda banget tau gak sih beberapa minggu belakangan ini?โ
Kamu mengedipkan mata. โBeda gimana?โ
โBeda... makin cantik. Kayak, aura lo tuh kerasa banget cerahnya sekarang,โ jelas Hyerin tulus. โDulu kan pas semester awal-awal lo kayak selalu terburu-buru, selalu kelihatan tertekan gitu walaupun lo suka senyum. Tapi sekarang, ketawa lo tuh lepas banget. Pure cantik dan anggun. Vibes cewek independen yang udah healed banget tau gak?โ
Kamu tersenyum hangat mendengar ucapan Hyerin. โMasa sih? Ya bagus dong kalau gitu. Berarti vitamin dan jam tidur aku berfungsi dengan baik.โ
โIya beneran! Bukan cuma gue kok yang notice. Kemarin pas kita kelas vokal gabungan, temen-temen cewek juga pada ngomongin lo. Katanya gaya berpakaian lo sekarang makin classy dan aura feminim lo makin keluar, gue kalo jadi cowok kayaknya bakal jatuh cinta langsung pada pandangan pertama sama lo.โ
Tanpa kalian sadari, tak jauh dari tempat gazebo berada di area koridor luar laboratorium instrumen gengnya Riki sedang berdiri menenteng tempat gitar dan stik drum. Mereka baru saja selesai kelas sore.
Junghwan adalah orang pertama yang menghentikan langkahnya. Matanya tertuju pada sosok cewek bergaun floral simpel dengan cardigan krem yang sedang tertawa lepas di gazebo. โAnjir...โ gumam Junghwan pelan, sampai-sampai James dan Ohyul yang berjalan di sampingnya ikut berhenti. โItu si (Y/N) bukan sih?โ
James membetulkan letak kacamata tipisnya, menatap ke arah gazebo selama beberapa detik tanpa kedip. โIya, itu (Y/N) sama Hyerin.โ
โGokil...โ bisik Ryul sambil menggeleng-gelengkan kepala. โSumpah ya, aura tuh gak pernah bohong. Dia semenjak gak ngejar-ngejar Riki lagi malah makin keliatan makin mahal gak sih? Vibes-nya bener-bener kayak cewek-cewek seni yang anggun dan susah digapai. Kalo gue gebet juga yang ada gue insecure duluan.โ
โKetawanya renyah banget lagi, beda banget sama pas waktu masih sering nongkrong di meja kita sambil bawa-bawa bakso,โ tambah Ohyul, memberikan penilaian jujur.
Di antara mereka berempat, Riki berdiri paling belakang. Tangan Riki yang sedang memegang tali tas gitarnya mengencang hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya terkunci sepenuhnya pada sosokmu yang ada di gazebo. Dia melihat bagaimana kamu menyibakkan rambutmu ke belakang telinga, melihat bagaimana matamu berbinar terang saat mendengarkan Hyerin bicara, dan melihat bagaimana senyuman tulus itu menghiasi wajahmu.
Senyuman dan tawa ceria yang dulu selalu kamu persembahkan khusus untuknya yang dulu selalu dia buang dan abaikan dengan kata-kata kasar kini terpancar begitu indahnya bukan untuk dirinya lagi. Ada rasa nyeri yang teramat sangat, seperti sayatan halus yang perlahan merembet di balik dadanya. Riki menyadari satu hal yang menghantam kesadarannya sampai hancur dan kenyataannya adalah kamu tidak lagi membutuhkan Riki untuk menjadi bahagia. Kamu sudah benar-benar menemukan dirimu kembali, dan Riki... kini hanyalah orang asing yang pernah kamu lewati.
๐ธ
Sore itu, studio musik universitas mulai sepi saat matahari menyandarkan cahayanya di balik pilar-pilar beton Fakultas Seni. Di pojok ruangan yang pengap oleh bau kayu instrumen dan bekas kabel amplifier, Riki masih duduk menatap layar ponselnya. Jempolnya mengusap layar datar itu dengan gerakan melambat, hampir ragu-ragu, seolah satu sentuhan salah akan memicu ledakan yang meruntuhkan sisa harga dirinya.
Akses komunikasi pribadinya ke akun milikmu sudah mati total. Blocked. Tidak ada pemberitahuan berkilat, tidak ada suara denting pesan masuk, hanya sebuah dinding tak kasat mata yang tebal dan dingin. Kamu telah melenyapkan Riki dari daftar orang yang berhak melongok ke dalam ruang hidupmu.
Namun, Riki bukan orang yang kehabisan akal ketika rasa penasaran mulai menggerogoti dadanya bagai rayap di malam hari. Ada satu celah kecil yang lupa kamu tutup, akun Instagram resmi milik band Fakultas yang ia nahkodai bersama gengnya. Sebuah akun kolektif dengan pengikut beberapa ribu orang yang dulu, di hari-hari ketika kamu masih terobsesi padanya, sempat kamu follow-back tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjangnya. Kamu lupa atau mungkin sudah terlalu tidak peduli untuk repot-repot memblokir akun organisasi tersebut. Melalui layar akun band itulah, Riki mendadak menjadi seorang pengintai pasif di kegelapan. Sebuah peran ironis yang dulunya adalah spesialisasimu.
Setiap malam, di kamar kosnya yang remang-remang dengan gumpalan kabel kabel efek gitar melingkar di lantai, Riki akan membuka story milikmu. Dia mempelajari pola barumu mulai dari jam berapa kamu mengunggah foto, kafe mana yang sering kamu datangi untuk mengerjakan tugas vokal, buku teori musik apa yang sedang kamu baca, hingga jenis teh herbal yang belakangan ini sering kamu potret di dekat jendela kamarmu.
Kamu tidak lagi mengunggah lirik-lirik lagu galau atau tulisan bersirat yang ditujukan padanya. Tidak ada lagi kutipan enemies-to-lovers atau foto sembunyi-sembunyi dari belakang punggungnya. Postinganmu kini berisi senyuman lepas, rekaman audio pendek saat kamu berlatih teknik vokal belting yang makin bersih, atau foto-foto candid buatan Hyerin yang menangkap gestur alamimu yang anggun.
Hingga sore itu, sebuah story baru muncul di lingkar merah akunmu. Latar belakangnya adalah ayunan kayu di taman kota, tersiram sinar matahari senja yang keemas-emasan. Kamu duduk di atas ayunan itu memakai gaun terusan kain katun tipis warna krem dengan rambut terurai yang terlempar angin pelan. Kamu tersenyum cerah bukan senyum yang dipaksakan atau senyum manis terkesan genit yang dulu sering kamu lemparkan padanya untuk memancing perhatian. Itu adalah senyum yang memancar dari kedalaman hatimu yang sudah tenang.
Di pojok bawah video pendek itu, kamu menyematkan lagu latar Honeybee milik Olivia Rodrigo. Melodi lagunya mengalun lembut, bercerita tentang kehangatan yang manis dan kepasrahan yang damai.
Riki mematung. Matanya terpaku pada matamu di dalam layar ponsel. Jarinya tanpa sadar menekan layar agar video itu tidak berpindah ke postingan orang lain. Dia memutar story berdurasi lima belas detik itu berulang-ulang, mungkin lebih dari tiga puluh kali, sampai suara instrumen dari lagu itu terpatri sempurna di dalam kepalanya.
โAnjir, serius lo, Ki? Lo ngelamun sambil ngeliatin story cewek yang udah ngeblokir lo pakai akun band?โ
Suara berat James mendadak memecah keheningan studio. James berdiri di ambang pintu sambil membawa dua botol minuman dingin. Tanpa suara, James berjalan mendekat dan menyenggol bahu Riki, melirik tepat ke arah layar ponsel yang masih menampilkan wajah cerahmu di atas ayunan.
Riki refleks mematikan layar ponselnya. Gerakannya terlalu cepat, terlalu defensif, sampai-sampai ponsel itu hampir terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai kayu. Wajah Riki tetap diusahakan sedatar mungkin, nonchalant, seolah dia baru saja tertangkap basah hanya sedang mengecek pemberitahuan email kampus. โGue cuma lagi ngecek engagament akun band,โ sahut Riki dingin, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi busa.
โEngagement pala lo peang,โ celetuk Junghwan yang menyusul masuk dari balik pintu, membawa sekantong plastik berisi camilan. โLo kira gue gak liat dari tadi muka lo kayak orang hilang arah? Itu lagunya Olivia Rodrigo kan? Si (Y/N) baru bikin story sejam lalu paka lagu itu. Lo ketahuan, Bro... Keliatan banget lagi stalking akun doi.โ
Ohyul dan Ryul yang ikut masuk ke ruangan langsung tertawa geli. Ryul mengambil tempat duduk di atas amplifier bass yang mati, menyilangkan kakinya. โGokil sih. Dulu ditinggal kabur, sekarang dijadiin bahan stalking. Gimana rasanya, Ki? Enak gak berada di posisi orang yang nyari-nyari perhatian tapi gak diwaris?โ
Riki meraih botol minuman dari tangan James, membuka tutupnya dengan kasar tanpa membalas tatapan teman-temannya. โGak usah sok tau. Gue cuma gak sengaja ke-klik.โ
โKe-klik sampai diputar lima puluh kali?โ goda James sambil terkekeh, menyulut rokoknya di dekat jendela yang terbuka. โSumpah ya, Ki. Muka lo boleh sok nonchalant, tapi aura lo belakangan ini suram banget tau gak? Di tongkrongan diem aja, tapi giliran ada yang nyebut nama (Y/N), alis lo langsung keangkat. Lu tuh kayak orang gila yang lagi ngamuk dalam diam.โ
Riki diam. Dia menolak melayani godaan teman-temannya. Namun, jauh di dalam hatinya, setiap kata yang diucapkan James dan Junghwan menghantamnya dengan kebenaran yang pahit. Dia memang sedang murkaโbukan pada mereka, bukan padamu, melainkan pada dirinya sendiri yang terlambat menyadari betapa bernilainya kehadiranmu sebelum semuanya menjadi abu.
to be continued





Sebenernya sayang klo endingnya sm riki or sama salah satu temennya. Soalnya ud upgarde diri, berarti pasangan jg hrs upgrade ga yg gitu2 aja karena kan disini riki sm temen2nya ky setipe gitu. Cocoknya yn ketemu sama cowo mateng, dr fakultas yg punya aura2 kalem gitu2. Auranya kan ud mahal, jd cocok bgt sama laki2 yg ud settle๐โ๏ธโ๏ธโ๏ธ
Sebenay sayang banget kalau endingnya masih sama riki, secara perempuan yang benar benar punya jati diri dan sebebas iyu rasanya gimana ya kalau balik lagi ke cowok yg lama gitu wkwk