Your Favorite Lilies
Park Sunghoon
Kamu dan Sunghoon tidak pernah menikah karena cinta. Kalian menikah karena keadaan. Karena rasa kasihan, karena kehilangan, karena ada seseorang yang pergi terlalu cepat-Shua, kakakmu, perempuan yang dia cintai sepenuh hidupnya.
Sejak hari pertama, kamu tahu posisi kamu. Kamu hanya pengganti yang kebetulan masih hidup.
Malam-malam kalian sunyi.
Dia jarang bicara, lebih sering menghindar, tapi setiap kali pulang dalam keadaan mabuk, dia mencari kamu.
Menarik kamu ke dalam pelukannya dengan napas berat dan mata yang kosong. Kamu diam saja, bahkan ketika nama yang keluar dari bibirnya bukan namamu.
βShua...β
Kamu ingin marah, tapi suara itu terdengar terlalu sedih untuk dibenci.
Jadi kamu diam, sampai terbiasa.
Suatu malam, kamu berani bicara.
βSunghoon, aku bukan Shua.β
β...Jangan mulai.β
βAku cuma pengen kamu sadar kalau aku juga manusia. Aku ngerasa, aku capek.β
βKalau capek, pergi aja.β
Dan kamu tersenyum kecil. Karena kamu tahu gak ada tempat lain yang bisa kamu tuju.
β’β’β’β’
Beberapa minggu setelah pertengkaran itu, kamu mulai sering mual.
Awalnya kamu pikir cuma stres, tapi hasil tes bilang lain.
βSelamat, Anda hamil,β kata dokter.
Kamu pulang dengan tangan gemetar.
Entah kenapa, meskipun takut, kamu juga merasa bahagia.
Ada kehidupan kecil yang tumbuh di dalam kamu mungkin ini pertanda bahwa sesuatu dalam hubungan kalian masih bisa diperbaiki.
Tapi kenyataan gak seindah itu.
Saat kamu bilang pada Sunghoon, dia cuma menatapmu lama, lalu berkata datar:
βKamu hamil?β
βIya... aku tahu ini mendadak, tapi-β
βGugurin.β Kamu terdiam. Jantungmu seketika berhenti berdetak beberapa detik mendengan kata yang barusan diucapkan oleh Sunghoon.
βApa?β
βAku gak mau anak ini. Aku gak siap.β
βTapi aku siap, Sunghoon. Ini darah kamu juga.β
βAku gak mau lihat anak itu lahir dari kebohongan ini.β
βKebohongan?β
βKamu pikir aku pernah cinta sama kamu?β
Sakitnya terlalu dalam untuk dijelaskan.
Tapi kamu cuma menarik napas panjang, lalu bilang pelan:
βKalau kamu mau anggap bayi ini kesalahan, silakan. Tapi aku gak akan bunuh dia. Aku udah cukup banyak kehilangan untuk tahu rasanya menyesal.β
Dan malam itu kamu tidur sendirian dengan tangan di perutmu yang masih datar.
β’β’β’
Bulan demi bulan lewat.
Kamu tetap menjalani semuanya sendiri.
Pergi kontrol sendiri, menyiapkan kamar kecil sendiri. Sunghoon masih dingin, tapi kadang kamu lihat dia menatap perutmu diam-diam, seolah ingin bicara tapi gak tahu caranya.
Di bulan ketujuh, tubuhmu mulai lemah.
Kamu sering pingsan, napasmu pendek, dan dokter bilang kamu harus dirawat.
Waktu itu, Sunghoon datang, wajahnya cemas, seperti orang yang baru sadar sesuatu bisa hilang untuk kedua kalinya.
βKondisi kamu bahaya,β katanya.
βAku tahu.β
βKenapa gak bilang dari awal?β
βKamu gak nanya.β
Dia terdiam.
Kamu cuma menatap jendela rumah sakit, lalu berkata pelan,
βAku pengen bayi ini lahir, Hoon. Sekalipun aku gak bisa liat dia tumbuh.β
Air mata Sunghoon jatuh untuk pertama kalinya sejak Shua meninggal.
βJangan ngomong kayak gitu.β
βAku cuma pengen satu hal... kalau nanti aku gak bisa terus di dunia ini, tolong jaga dia.β
βJangan ngomong kayak kamu bakal pergi.β
βKamu gak bisa nyuruh aku bertahan, tapi kamu bisa terus hidup buat dia.β
Dia menggenggam tanganmu erat. Mengusap suraimu lembut dengan tangan gemetar.
βMaafin aku.β
βAku udah maafin kamu dari lama. cintaku terlalu besar daripada rasa sakit yang selama ini aku alami, Sunghoonβ
βY/N...β sebelum air matanya terjatuh, detik itu juga Sunghoon mengecup keningmu lama.
Malam itu kamu tidur dengan senyum kecil di wajahmu.
Pagi berikutnya, kamu gak pernah bangun lagi. Tapi tangisan kecil di ruang itu terdengar nyaring. Bayi kalian lahir lebih cepat dari seharusnya. Kamu sudah memilih... dan Sunghoon baru tahu setelah semuanya berakhir.
Beberapa hari kemudian, dia menemukan suratmu di laci buku catatan Shua yang selama ini gak pernah dia buka lagi.
βSunghoon, kalau aku mati nanti, tolong jangan datang ke pemakamanku. Aku gak mau kamu nangis buat orang yang gak pernah kamu cintai. Tapi kalau suatu hari kamu ngerasa rindu, tolong... jangan panggil nama Shua. Panggil aku. Aku bukan dia, tapi aku harap suatu hari kamu bisa belajar mencintai seseorang tanpa harus membandingkannya.β
Dia menangis sampai tubuhnya gemetar.
Untuk pertama kalinya, dia sadar-kamu gak pernah minta dicintai, kamu cuma pengen dilihat.
Tiga tahun kemudian.
Suara tawa anak kecil memenuhi halaman rumah kecil di pinggiran kota.
βPapa, bunga Mama udah tumbuh lagi!β
βIya, cantik banget. Kayak kamu.β
Sunghoon jongkok, membetulkan pita rambut di kepala putri kecilnya, rambut hitamnya sama seperti kamu dulu.
Di belakang mereka, bunga lili putih bermekaran di bawah sinar sore.
Dia masih sering bicara sendiri di malam hari. Bukan untuk menyesal, tapi untuk mengingat.
βAku jagain dia, seperti yang kamu minta.
Dia tumbuh baik... dan dia punya senyum kamu.β
Sunghoon menatap langit, suaranya nyaris berbisik.
βAku lihat kamu di matanya, setiap hari.
Terima kasih... karena sebelum pergi, kamu kasih aku alasan buat hidup.β
Angin sore menerpa lembut.
Putri kecilnya tertawa lagi, memanggil βAppa!β dengan nada ceria.
Dan di antara semua yang hilang, sesuatu tetap tinggal-kecil, lembut, tapi nyata.
Cinta.
Kadang cinta bukan soal siapa yang pertama hadir, tapi siapa yang tetap bertahan, bahkan saat semuanya harus berakhir.
-The End-




cuma segini aja aku nangis, apa lagi 10 bab kaya digigit tawon kali π