cantipnya sunghoon 💖
Napas Sunghoon masih tersengal-sengal, tapi matanya yang sayu itu nggak bisa bohong—dia masih lapar. Meskipun tubuhnya lemas setelah kamu hancur di sofa, hasratnya sebagai pria yang memujamu justru makin terbakar.
Dengan sisa tenaga, dia merangkak turun dari sofa, berlutut sebentar di kakimu untuk mencium jemari kakimu sebagai tanda patuh, lalu berjalan pelan menuju kamar tidur menggandeng tanganmu masuk. Kamu mengikutinya dari belakang, menikmati pemandangan punggungnya yang penuh tanda merah hasil buruanmu tadi.
Begitu sampai di kamar, Sunghoon langsung membuka laci nakas. Dia mengeluarkan borgol besi dengan lapisan bulu hitam yang sudah sering banget kamu pakai untuk menguncinya. Dia naik ke atas kasur king size kalian, lalu berbaring terlentang sambil menyodorkan kedua tangannya ke arahmu.
“Kunci aku, (y/n)...” bisiknya serak. “Aku nggak mau bisa gerak. Aku mau kamu habisi aku lagi, lebih parah dari yang di sofa tadi.”
Klik.
Suara logam yang mengunci pergelangan tangannya ke kepala ranjang itu seolah jadi bel tanda dimulainya ronde yang lebih liar. Sekarang dia benar-benar nggak bisa kabur. Kakinya terbuka lebar, menanti apa pun yang bakal kamu lakuin.
Kamu naik ke atas kasur, merangkak perlahan di antara kedua kakinya. Kamu sengaja membiarkan rambutmu yang berantakan menyentuh paha bagian dalamnya, bikin Sunghoon merinding hebat. “Tadi di sofa itu cuma pemanasan, Hoon. Sekarang, aku nggak bakal kasih kamu ampun sampai pagi,” katamu dengan nada yang bikin dia makin tegang.
Kamu mengambil minyak pijat dari nakas, menuangkannya ke atas dadanya yang masih naik turun.
Cairan itu membasahi tindik nipple-nya, membuatnya makin licin dan sensitif. Kamu mempermainkan kedua tindik itu dengan kasar, menariknya sampai Sunghoon berteriak sambil menarik borgolnya keras-keras. Suara dentingan logam yang beradu dengan kayu ranjang bikin suasana makin panas.
“Ahh! (y/n)! Lebih kencang! Tarik lagi!” rintihnya, kepalanya mendongak, memperlihatkan jakunnya yang naik turun saat dia menelan ludah dengan susah payah.
Kamu nggak berhenti di situ. Kamu turun ke bawah, memberikan serangan lidah yang brutal di area paling sensitifnya. Kamu menghisapnya dengan kuat, memberikan tekanan yang bikin Sunghoon hampir kehilangan kesadaran.
Tangannya yang terborgol mencoba meremas sprei, tubuhnya melengkung tinggi, kejang karena nikmat yang luar biasa.
“Please... (y/n)... aku mau ngerasain kamu lagi... sekarang! Hantam aku, Sayang!” Sunghoon memohon dengan wajah yang benar-benar hancur oleh nafsu. Matanya merah, air matanya menetes membasahi bantal.
Kamu berdiri di atasnya, menatap suamimu yang terborgol itu dengan tatapan predator.
“Kamu mau ini?” tanyamu sambil menekan miliknya dengan telapak tanganmu.
“Iya! Aku mau! Aku milik kamu! Cepet, (y/n)!”
Tanpa basa-basi lagi, kamu menghujamnya dengan penyatuan yang jauh lebih kasar dari sebelumnya. Awalnya kamu merasa penuh dan sesak dengan miliknya yang besar dan berurat namun kamu segera mengambil alih kendali.
Setiap tumbukanmu bikin ranjang kalian bergetar hebat dan borgol di tangannya berdenting liar. Sunghoon menjerit sejadi-jadinya, namanya kamu panggil berkali-kali dalam desahan yang vulgar.
Kamu nggak kasih dia ritme yang stabil, kamu menghajarnya dengan tempo yang cepat dan brutal, memaksanya untuk mencapai puncak berkali-kali sampai dia nggak sanggup lagi bicara.
Di bawah dominasimu yang gila, Sunghoon meledak untuk kedua kalinya, seluruh tubuhnya kaku, matanya memutar ke atas, dan dia cuma bisa meracau namamu seolah kamu adalah satu-satunya Ratu dalam hidupnya malam itu.
Setelah ledakan kedua yang benar-benar menguras tenaga itu, suasana kamar jadi sedikit lebih tenang, cuma suara napas kalian yang saling bersahutan.
Kamu melihat Sunghoon yang masih tergeletak lemas dengan tangan terikat, dadanya naik turun dengan cepat, dan matanya sayu menatapmu penuh cinta yang hampir gila.
Kamu mendekat, mengecup bibirnya dengan lembut—sebuah kontras yang manis setelah semua kebrutalan tadi. Kamu membisikkan kata-kata pujian kecil di telinganya sambil membuka kunci borgol di pergelangan tangannya.
Begitu terlepas, Sunghoon nggak langsung menarik tangannya, dia malah mengusap pergelangan tangannya yang memerah dengan ekspresi puas.
“Pintar banget suamiku malam ini,” bisikmu rendah, yang langsung bikin dia merinding lagi.
Kamu nggak membiarkannya istirahat terlalu lama. Kamu bangkit, duduk di pinggir kasur dengan posisi kaki yang terbuka lebar, memamerkan sisa-sisa pelepasan kalian berdua yang masih basah dan berantakan di sana.
“Hoon, bersihkan. Jangan ada yang tersisa,” perintahmu sambil menatapnya tajam.
Tanpa perlu disuruh dua kali, Sunghoon langsung merangkak turun ke arah pahamu. Posisi kalian sekarang bertukar; dia berlutut di lantai sementara kamu duduk berkuasa di atas kasur. Dia menatap pemandangan di depannya dengan lapar, seolah-olah itu adalah hidangan paling mewah yang pernah ada.
“Dengan senang hati, Sayang...” jawabnya serak.
Sunghoon menerima perintahmu dengan binar mata yang berubah. Jika tadi dia hanya pasrah dihajar, sekarang dia melihat kesempatan untuk menunjukkan bagaimana seorang pria dewasa memuja wanitanya.
Dia merangkak turun, berlutut dengan mantap di antara kedua pahamu yang terbuka lebar di pinggir ranjang.
“Aku akan buat kamu lupa cara berdiri, Sayang,” bisiknya serak, sebuah nada dominan yang muncul dari rasa percaya diri karena dia tahu persis setiap titik saraf yang bisa membuatmu hancur.
Dia tidak langsung menjilatnya. Sunghoon memulai dengan memberikan napas panasnya di kulit paha dalammu, membuat bulu kudukmu berdiri. Kemudian, dengan gerakan yang sangat sengaja, dia menggunakan lidahnya untuk menyapu bersih sisa-sisa pelepasan kalian. Lidahnya bergerak panjang, menekan dengan ritme yang stabil dan kuat.
“Ahh, Hoon... di situ,” desahmu, tanganmu spontan mencengkeram sprei saat lidahnya menemukan titik paling sensitifmu.
Sunghoon mendongak sebentar, menatapmu dengan pandangan predator yang lapar. Dia tidak berhenti, malah, dia mulai menghisap dengan kuat, menggunakan tekanan mulutnya untuk memancing setiap tetes gairah yang tersisa.
Jari-jarinya yang panjang meremas pantatmu, mengangkat pinggulmu agar lebih dekat ke wajahnya. Dia benar-benar menguasai keadaan sekarang, memaksamu untuk merasakan setiap inci stimulasi yang dia berikan.
Sunghoon mulai bekerja. Dia menggunakan lidahnya dengan sangat telaten, menjilat setiap inci kulitmu, membersihkan semua jejak panas malam ini dengan penuh pengabdian.
Setiap sapuan lidahnya terasa hangat dan basah, bikin kamu sesekali mendesah kecil dan meremas rambut hitamnya yang berantakan.
Dia melakukan tugasnya dengan sangat detail. Sesekali dia mendongak, menatap matamu sambil terus bekerja, memastikan kamu puas dengan apa yang dia lakukan.
Sunghoon benar-benar menikmati momen ini—momen di mana dia bisa melayanimu sepenuhnya, menghisap sisa gairah kalian seolah itu adalah candu yang bikin dia ketagihan.
Lidahnya bergerak liar tapi terukur, masuk lebih dalam, mengaduk emosi dan fisikmu sampai kamu merasa perutmu melilit hebat. Tensi di dalam kamar itu kembali memuncak, lebih panas dari sebelumnya karena sekarang kamu yang berada di bawah kendali lidahnya.
“Hoon, tunggu... itu terlalu... ahh!” kamu meracau, tubuhmu mulai gemetar hebat.
Sunghoon seolah tahu kamu sudah di ambang batas. Bukannya melambat, dia malah mempercepat gerakannya.
Dia menggunakan lidahnya seperti senjata, menekan titik pusat kenikmatanmu tanpa ampun sambil jemarinya bermain nakal di area sekitarnya. Kamu merasa ada gelombang besar yang mendesak dari dalam, sesuatu yang tidak bisa lagi kamu tahan.
“Keluar buat aku, (y/n)... kasih aku semuanya!” perintahnya di sela-sela kegiatannya.
Detik berikutnya, tubuhmu menegang kaku. Kamu membusungkan dada, napasmu tertahan di tenggorokan saat ledakan dahsyat itu datang.
Kamu squirt dengan hebat tepat di wajahnya, sebuah pelepasan yang begitu kuat hingga membasahi wajah dan rambut Sunghoon. Cairan gairahmu menyembur keluar, tanda bahwa dominasi lidahnya telah berhasil menaklukkanmu sepenuhnya.
Sunghoon tidak menjauh. Dia justru menyambut semburan itu dengan mata terpejam, membiarkan dirinya basah oleh bukti kenikmatan yang dia berikan padamu. Setelah getaran tubuhmu mereda, dia menjilat sisa-sisa cairan di bibirnya sendiri dengan ekspresi yang sangat puas, seolah dia baru saja memenangkan medali paling berharga.
Sunghoon merintih kecil di antara pahamu, tangannya meremas paha kamu dengan posesif. Dia nggak mau melewatkan satu tetes pun. Baginya, membersihkanmu adalah ritual suci yang menutup malam penuh kegilaan kalian.
Dia mendongak, wajahnya berantakan dan basah, tapi senyumnya begitu bangga.
“Gimana? Masih merasa paling dominan sekarang?” godanya dengan suara yang dalam, sambil mengecup lembut paha dalammu yang masih bergetar, dengan wajahnya yang berantakan, cairanmu menetes dari dagunya, tapi matanya berkilat penuh kemenangan. Kamu hanya menganggukkan kepala membiarkan Sunghoon merayakan kemenangannya karena telah mendominasimu untuk sesaat.
Setelah merasa semuanya benar-benar bersih, dia memberikan satu kecupan lama di sana sebelum akhirnya mendongak dengan wajah yang basah dan berantakan, tapi terlihat sangat bahagia.
“Sudah bersih, (y/n). Semuanya sudah masuk ke dalam diriku,” ucapnya dengan senyum tipis yang nakal sekaligus patuh.
“Good boy, pintas sekali suamiku ini” Kamu menariknya naik ke pelukanmu, benar-benar tak berdaya setelah serangan lidahnya. Malam itu berakhir dengan kalian yang saling mengunci di bawah selimut, tenggelam dalam kelelahan yang paling nikmat di pusat kota Tokyo.
⛩️
Setelah kelelahan yang luar biasa itu, kalian sempat terlelap beberapa jam. Namun, sebelum fajar benar-benar menyingsing di ufuk Tokyo, Sunghoon sudah terjaga. Dia tidak tahan melihatmu tidur begitu tenang sementara tubuhnya masih haus akan pengabdian.
Dia menggendongmu dengan gaya bridal style menuju kamar mandi mewah kalian yang berdinding marmer hitam. Kamu terbangun karena sensasi dingin udara pagi yang menyentuh kulit polosmu, tapi pelukan Sunghoon yang hangat segera meredamnya.
Sunghoon mendudukkanmu di atas meja wastafel marmer yang dingin, sementara dia berdiri di antara kedua pahamu yang masih terasa lemas. Dia menyalakan shower dengan air hangat yang segera mengisi ruangan dengan uap tipis.
“Masih mengantuk, Sayang?” bisiknya sambil menciumi bahumu yang penuh dengan tanda merah dari semalam.
Kamu membuka mata perlahan, menatap bayangan kalian di cermin besar. Kamu terlihat begitu dominan meskipun dalam keadaan berantakan, dan Sunghoon—pria dewasa yang gagah itu—berdiri di depanmu seperti pelayan yang paling setia.
“Bersihkan aku, Hoon. Aku merasa lengket di mana-mana,” perintahmu dengan suara serak khas bangun tidur yang malah terdengar sangat seksi di telinganya.
Sunghoon tersenyum patuh. Dia mengambil sabun cair beraroma mawar kesukaanmu, menuangkannya ke tangannya, lalu mulai menggosok tubuhmu dengan sangat perlahan.
Tangannya bergerak dari leher, turun ke dadamu, lalu berhenti sejenak di perutmu. Dia berlutut di lantai kamar mandi yang basah, kembali menciumi perutmu dengan intensitas yang sama seperti saat kamu baru pulang kerja.
Kamu mencengkeram rambutnya yang basah, memaksanya mendongak. “Kamu belum puas juga?”
Sunghoon menggeleng, matanya berkilat penuh hasrat yang nggak kunjung padam. “Nggak akan pernah puas kalau itu kamu, (y/n). Aku mau ngerasain kamu lagi di bawah air ini. Aku mau denger kamu teriak nama aku sekali lagi sebelum matahari terbit.”
Dia menarikmu turun dari wastafel, membawamu ke bawah guyuran air hangat. Di sana, di bawah kucuran air, Sunghoon memutar tubuhmu hingga kamu menghadap dinding kaca kamar mandi. Dia menekan tubuhmu dari belakang payudaramu menempel di kaca yang dingin, tangannya yang kuat mencengkeram pinggulmu dengan posesif.
“Pegang kacanya, (y/n). Jangan sampai jatuh,” perintahnya, kali ini dengan nada yang sedikit lebih tegas, menunjukkan sisi dewasanya yang ingin mengambil alih sebentar.
Kamu menurut, menempelkan kedua telapak tanganmu di kaca yang mulai berembun. Sunghoon tidak menggunakan banyak basa-basi lagi. Dia langsung menyatu denganmu dari belakang dalam satu dorongan yang dalam dan kuat. Kamu memekik, suaramu menggema di kamar mandi yang kedap suara itu.
Gesekan kulit yang basah dan suara air yang jatuh menciptakan ritme yang benar-benar liar.
Sunghoon menghajarmu dengan tumbukan yang stabil tapi brutal. Setiap kali dia mendorong, kamu bisa merasakan tindik di dadanya bergesekan dengan punggungmu, mengingatkanmu bahwa pria ini adalah milikmu seutuhnya, luar dan dalam.
“Ahh! Hoon... pelan sedikit... ini terlalu... ahh!” kamu meracau, napasmu memburu di antara uap air yang makin tebal.
“Nggak akan, Sayang. Aku mau kamu ngerasain sebesar apa aku menginginkan kamu pagi ini,” balasnya sambil menggigit cuping telingamu, tangannya naik untuk meremas payudaramu dengan kasar.
Kamu mencapai puncakmu dengan sangat cepat karena sensitivitas tubuhmu yang belum pulih dari semalam.
Tubuhmu gemetar hebat, kakimu nyaris lemas kalau saja tangan Sunghoon tidak menahan pinggulmu dengan kuat. Kamu mengerang keras, meninggalkan jejak tangan yang berantakan di kaca kamar mandi yang berembun.
Sunghoon menyusul tak lama kemudian. Dia mengerang rendah, menyembunyikan wajahnya di ceruk lehermu saat dia melepaskan segalanya di dalam dirimu.
Kalian berdiri diam di bawah guyuran air untuk beberapa saat, hanya suara napas yang memburu dan detak jantung yang saling beradu.
Sunghoon kemudian membalikkan tubuhmu, memelukmu erat sambil menciumi seluruh wajahmu.
“Sekarang kita benar-benar bersih,” bisiknya bahagia.
“Ayo balik ke kasur, aku mau peluk kamu sampai siang.”
Kamu cuma bisa tersenyum lemas, membiarkannya membungkusmu dengan handuk tebal dan mengendong (membawamu) kembali ke tempat tidur, tempat di mana pengabdian Sunghoon tidak akan pernah berakhir.
⛩️
Sore hari di Tokyo selalu punya atmosfer yang magis. Setelah “pertempuran” panjang yang menguras tenaga sejak semalam hingga pagi tadi, kamu dan Sunghoon memutuskan untuk keluar mencari udara segar.
Kamu mengenakan trench coat hitam yang elegan dengan sepatu bot hak tinggi yang memberikan bunyi klik dominan di setiap langkahmu.
Sementara itu, Sunghoon tampil begitu memikat, dia mengenakan oversized sweater putih tulang dan celana bahan yang jatuh sempurna di kakinya yang jenjang.
Rambut hitamnya tertata sedikit acak-acakan, memberinya aura antara pria dewasa yang tampan sekaligus manis yang bikin siapa pun ingin menoleh dua kali.
Selama berjalan menuju restoran sushi langganan kalian di area Ginza, tangan Sunghoon tidak pernah lepas dari lenganmu. Dia terus menempel, kepalanya sesekali bersandar di bahumu dengan tatapan yearning yang begitu jelas—seolah dia ingin seluruh dunia tahu bahwa pria semenarik dia adalah milikmu.
Setelah menikmati sushi premium yang meleleh di mulut, kalian berjalan santai menuju pusat kota. Saat sedang berdiri di dekat persimpangan Shibuya yang ikonik, seorang perempuan muda dengan kamera profesional di lehernya menghampiri kalian.
“Permisi... Maaf mengganggu waktunya,” ucap perempuan itu, matanya terang-terangan memindai wajah Sunghoon dengan lapar.
“Saya fotografer jalanan. Bolehkah saya mengambil beberapa potret pria ini? Wajahnya sangat photogenic, saya rasa dia cocok untuk proyek portofolio saya.”
Sunghoon menatapmu, menunggu instruksi. Kamu mengangkat bahu santai.
“Hanya wajah, kan? Silakan.”
Perempuan itu tersenyum lebar dan mulai mengatur posisinya. Namun, ada yang aneh. Alih-alih mengarahkan lensa ke wajah Sunghoon yang sedang berpose manis, sudut kamera itu perlahan turun.
Matamu yang tajam menangkap shutter kamera itu bergerak saat lensa terfokus pada bagian ph Sunghoon yang tercetak di balik celananya, lalu bergeser ke area dada di mana jejak tindikmu mungkin sedikit menonjol di balik kain sweater.
Dominasi yang Tak Terbantahkan
Rahangmu mengeras. Kamu melangkah maju tepat saat perempuan itu hendak menekan tombol lagi.
Tanpa peringatan, kamu menyentuh lengan perempuan itu dengan cukup keras hingga keseimbangannya goyah. Kamera mahal itu terlepas dari genggamannya dan menghantam aspal dengan bunyi prak yang memuakkan. Lensa depannya retak seribu.
“Hei! Apa-apaan kamu?! Kamu tahu berapa harga kamera ini?!” teriak perempuan itu, wajahnya merah padam karena marah.
Kamu tidak mundur selangkah pun. Kamu berdiri tegak, membiarkan aura dominanmu yang dingin menelan keberanian perempuan itu. Kamu melirik kamera yang tergeletak, lalu menatap matanya dalam-dalam dengan tatapan yang bisa membekukan darah.
“Aku bisa bayar kameramu sepuluh kali lipat kalau perlu,” suaramu rendah, dingin, dan sangat mengancam. “Tapi sebelum itu, ambil kameramu dan tunjukkan hasil jepretanmu tadi. Sekarang.”
Perempuan itu gemetar melihat tatapan matamu. Dengan tangan gemetar, dia memungut kameranya yang layarnya retak tapi masih bisa menyala.
Kamu merebut kamera itu dari tangannya, membolak-balik galeri fotonya. Benar saja, ada tiga foto yang sangat tidak senonoh—fokusnya bukan pada wajah, tapi pada bagian tubuh Sunghoon yang seharusnya hanya menjadi konsumsi matamu.
Kamu menghapus foto-foto itu dengan kasar, lalu menjatuhkan kembali kamera itu ke dadanya.
“Foto yang tidak senonoh dari suamiku. Kamu beruntung aku hanya merusak kameramu, bukan melaporkanmu atas pelecehan,” desismu tepat di depan wajahnya.
Perempuan itu menciut, mundur beberapa langkah dengan lutut yang bergetar hebat sebelum akhirnya lari menjauh tanpa berani menoleh lagi.
Sunghoon yang sedari tadi menyaksikan hanya bisa tertegun. Melihatmu begitu posesif dan berkuasa melindunginya malah memicu gairah yang jauh lebih dalam dari biasanya. Dia mendekat, memeluk lenganmu lebih erat, wajahnya memerah karena bangga.
“Kamu keren banget tadi, Sayang...” bisiknya, suaranya serak penuh damba. “Aku suka pas kamu marah karena mereka lihat aku.”
Kamu menoleh padanya, membelai pipinya dengan jemarimu. “Jangan senang dulu, Hoon. Kita pulang sekarang. Kamu harus diberi pelajaran karena sudah membiarkan perempuan itu mengambil foto bagian tubuhmu tanpa protes.”
Mata Sunghoon berkilat senang mendengar kata “pelajaran”. Dia tahu apa yang menantinya di apartemen. Selama perjalanan pulang di dalam kereta bawah tanah yang padat, dia terus mendusel di ceruk lehermu, berbisik lirih yang hanya bisa kamu dengar.
“Kunci aku lagi nanti malam, (y/n)... Hukum aku sebrutal mungkin karena mata perempuan itu. Aku cuma mau jadi tontonan buat kamu... cuma kamu.”
Dan malam itu di Tokyo kembali menjadi saksi, bagaimana sang Alpha Woman meredam seluruh gairah suaminya yang manja dalam dominasi yang tak akan pernah berakhir.
THE END




