Pikiranmu melayang balik ke lima tahun lalu. Tokyo sore itu lagi gerimis, dan stasiun Shinjuku rasanya mau meledak karena saking ramainya orang. Di sana kamu melihat Sunghoon—seorang cowok cantik yang kelihatan linglung, berdiri kaku di depan peta jalur kereta bawah tanah dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena bingung.
Kamu yang baru selesai kerja dan masih pakai setelan kantor yang rapi, langsung menarik lengannya tanpa banyak basa-basi. “Ikut aku, aku juga mau ke arah sana,” katamu waktu itu, singkat tapi mutlak.
Siapa yang sangka kalau pertemuan nggak sengaja di lorong stasiun yang remang itu bakal jadi awal dari hubungan yang di luar akal sehat ini? Sunghoon nggak cuma mengikutimu ke peron bawah tanah, tapi dia mengikutimu sampai ke dalam hidupmu, menyerahkan seluruh kedaulatan dirinya untuk kamu kuasai sepenuhnya.
⛩️
Suara kunci pintu yang terbuka pelan biasanya jadi bunyi yang paling ditunggu Sunghoon, tapi malam ini auranya beda. Kamu masuk dengan langkah berat, sisa-sisa dominasi dari ruang rapat masih melekat kuat di wajahmu. Begitu kamu menginjakkan kaki di ruang tamu, Sunghoon langsung mendekat dengan wajah gelisah.
“Kamu pulang telat banget...” bisiknya dengan suara gemetar. Dia mendekat, mencoba mengendus lehermu, dan seketika wajahnya berubah pucat. “Kenapa baunya beda? Ini bukan parfum kamu. Ada bau laki-laki lain di kemeja kamu...”
Kamu cuma diam, menatapnya dengan pandangan dingin yang bikin nyalinya menciut. Bukannya menjauh karena takut, Sunghoon malah langsung ambruk, berlutut di depanmu. Dia memeluk pinggangmu erat banget, seolah kalau dia lepas sebentar saja, kamu bakal hilang dari jangkauannya.
“Maaf... maaf aku nanya gitu, tapi aku nggak suka baunya,” rengeknya sambil mulai menciumi perutmu dari balik kain kemeja kerja. “Tolong, hapus baunya... aku cuma mau bau kamu. Pakai aku, (y/n)... lakuin apa saja, asal bau itu hilang dari kulit kamu.”
Melihat dia yang begitu rapuh dan memohon di kakimu malah bikin hasratmu makin memuncak. Amarah dan gairah yang bercampur di nadimu membuat suasana apartemen terasa pengap.
Kamu menjambak rambut hitamnya, memaksanya mendongak sampai dia meringis, lalu dengan sekali sentakan, menarik kepalanya ke belakang hingga urat lehernya menegang, kamu mendorongnya sampai jatuh terlentang di sofa panjang kulit itu.
Suara debuman tubuhnya beradu dengan sofa terdengar keras, diikuti rintihan tertahan dari bibirnya yang kemerahan.
Tanpa membuang waktu, kamu naik ke atas tubuhnya langsung mengangkanginya. Rok kantormu tersingkap berantakan hingga ke pinggang, hanya menyisakan celana dalam tipis yang sudah mulai lembap.
Kamu duduk tepat di atas pangkal pahanya, membuat seluruh berat badanmu menekan miliknya yang sudah tegang keras di balik kain celananya.
Kamu sengaja menggesekkan milikmu pada miliknya, gerakan pelan tapi menekan yang bikin napas Sunghoon langsung putus-putus.
Kamu menggilingkan pinggulmu dengan kasar di atas tonjolan keras di balik celananya.
“Buka sekarang, atau aku robek,” perintahmu dengan suara rendah yang mengancam.
Tangan Sunghoon gemetar hebat waktu dia melepas pakaiannya sendiri di bawah tatapan tajammu juga saat membuka ritsleting celananya.
Begitu dia polos, matamu langsung tertuju pada dua titik perak yang menghiasi dadanya—tindik nipple yang kamu hadiahkan sebagai tanda kalau dia itu mutlak punya kamu.
“Masih kamu pakai ternyata,” gumammu sambil menjepit salah satu tindik itu dengan jarimu, menariknya sedikit sampai Sunghoon memekik kencang. Tubuhnya melengkung, keringat dingin mulai membasahi kulit putihnya yang sehalus porselen.
“Sakit... tapi aku suka, ahh! Jangan dilepas... kamu yang bilang cuma kamu yang boleh sentuh ini,” rintihnya dengan air mata yang mulai menetes di sudut matanya. Dia benar-benar hancur, pasrah, dan memohon untuk kamu habisi.
Kamu nggak kasih dia napas sedikit pun. Kamu serang dia dengan sentuhan yang liar dan brutal, nggak peduli kalau besok badannya bakal penuh memar karena tanda yang kamu tinggalkan.
Di bawah lampu apartemen yang remang, kamu menunjukkan siapa pemegang kendali sebenarnya, sementara Sunghoon cuma bisa meracau namamu, tenggelam dalam gairah yang bikin dia nggak bisa memikirkan apa-apa lagi selain kamu.
Begitu kejantanan pria itu mencuat keluar—tegang, berdenyut, dan sudah banjir oleh cairan pra-ejakulasi—kamu segera mencengkeramnya dengan telapak tanganmu yang dingin.
Sunghoon tersentak, pinggulnya bergerak liar secara insting.
Kamu tidak melepas celana dalammu; kamu hanya menarik kainnya ke samping, membiarkan pusat intimanmu yang basah bersentuhan langsung dengan kepala kejantanan Sunghoon yang panas.
Memori tentang Shinjuku lima tahun lalu seolah jadi bensin yang membakar api di antara kalian malam ini. Dari cowok asing yang kamu selamatkan di stasiun, sekarang dia jadi suami yang menyerahkan seluruh harga dirinya di bawah kakimu.
Kamu menatap Sunghoon yang telentang pasrah. Sofa kulit itu berdecit setiap kali dia bergerak gelisah. Kamu bisa melihat dadanya naik turun dengan cepat, keringat membasahi kulit putihnya, membuat tindik nipple yang kamu pasang berkilat karena saking basahnya.
Kamu mencondongkan tubuh, tanganmu mencekik lehernya pelan—tidak sampai menyakiti, tapi cukup untuk membuatnya merasa terkurung.
“Kamu tahu kan, bau laki-laki lain di kemejaku tadi cuma sampah dibanding apa yang bakal aku lakuin ke kamu sekarang?”
Sunghoon mendongak, matanya berkaca-kaca, bibirnya yang merah terbuka sedikit. “Iya... ahh, buang bau itu, (y/n)... ganti sama aroma kamu. Tolong, buat aku nggak bisa mikirin apa pun selain rasa sakit dan nikmat dari kamu.”
Kamu menarik tindiknya lagi dengan gigi, sedikit kasar sampai dia memekik kencang. “Sst, jangan berisik. Tetangga bisa dengar suara suamiku yang manja ini,” bisikmu sebelum lidahmu menyapu area sensitif itu dengan liar.
Sunghoon merintih, tangannya mencengkeram lengan sofa sampai kuku-kukunya memutih.
“Ahh! Pelan-pelan... (y/n), itu... ahh, di situ! Tolong lebih keras lagi!”
Kamu nggak berhenti di situ. Kamu menggesekkan milikmu pada miliknya yang sudah sangat tegang dan berdenyut di bawahmu.
Kamu bisa merasakan cairan hangat dari gairahnya sudah mulai membasahi area itu. Kamu sengaja bergerak perlahan, memutar pinggulmu di atasnya, menciptakan gesekan panas yang bikin Sunghoon hampir gila.
“Kamu mau ini, Hoon? Kamu mau ngerasain aku lebih dalam?” tanyamu dengan suara rendah yang sangat dominan.
“Mau... aku mau banget... kumohon, Sayang... masukin sekarang... aku udah sesak,” rengeknya. Suaranya pecah, dia benar-benar di ambang batas. Tangannya mencoba meraih pinggulmu untuk mempercepat gerakan, tapi kamu langsung menepisnya.
“Jangan sentuh. Tangannya di atas kepala,” perintahmu tegas.
Sunghoon langsung menurut, menaruh kedua tangannya di atas kepala dengan posisi menyerah sepenuhnya. Dia terlihat begitu vulgar dan indah secara bersamaan. Kamu memberikan sentuhan-sentuhan brutal di area bawahnya, menggunakan jemarimu untuk mempermainkan sensitivitasnya sambil terus menggesekkan tubuhmu.
“Ahh! (y/n)! Aku... aku mau keluar! Sayang, kumohon!” teriaknya serak. Tubuhnya melengkung ke atas, otot-otot perutnya menegang keras saat kamu mempercepat tempo gesekanmu dan memberikan tekanan maksimal pada miliknya.
“Aku mau keluar... (y/n), aku udah di ujung... kumohon!” rengeknya, suaranya hampir hilang karena terlalu banyak mendesah dan berteriak.
“Belum. Sunghoon, nikmati ini dengan tempo pelan,” desismu. Kamu malah memperlambat gerakan, menyiksanya di titik puncak sampai dia hampir gila. Sunghoon menggelengkan kepalanya liar, tubuhnya kejang-kejang kecil karena menahan ledakan yang sudah di depan mata.
Begitu kamu melihat dia benar-benar sudah nggak sanggup lagi, kamu baru memberikan hantaman terakhir. Kamu menyatu dengannya dalam satu sentakan yang sangat kuat dan kasar. Sunghoon menjerit kencang, suaranya menggelegar di apartemen itu.
“AAHHH— (Y/N)!” Sunghoon menjerit parau, matanya memutar ke atas saat kamu menelannya bulat-bulat hingga amblas ke dasar.
Seluruh otot tubuhnya menegang, urat-urat di lehernya menonjol, dan dia meledak dengan sangat dahsyat di bawah kendalimu.
Saat tubuh Sunghoon mulai menegang hebat, tanda dia sudah di ambang pelepasan, kamu tiba-tiba berhenti total. Kamu menahan pinggulnya agar tidak bisa bergerak, menjepit miliknya dengan otot-otot dalammu seerat mungkin.
“S-sayang? Kenapa berhenti? Please... aku mau keluar... aku udah di ujung...” Sunghoon merintih, wajahnya memerah padam karena menahan ledakan yang tertunda. Air mata mulai mengalir di sudut matanya, benar-benar hancur oleh frustrasi seksual yang kamu berikan.
“Siapa yang kasih izin kamu buat keluar, Hoon?” desismu sambil mencubit dagunya kuat-kuat.
“Nggak ada... hiks... nggak ada yang kasih izin. Tapi ini sakit, (y/n)... tolong, aku mohon... keluarin aku... hantam aku lagi...” Dia menangis, rintihannya berubah jadi permohonan yang menyedihkan.
Dia mencoba menggerakkan pinggulnya ke atas untuk mencari gesekan, tapi kamu malah menekannya makin kuat ke sofa, mengunci setiap gerakannya.
Kamu membiarkannya tersiksa dalam kenikmatan yang tertahan selama beberapa menit, menikmati pemandangan suamimu yang gagah kini menangis tersedu-sedu hanya karena kamu menolak memberinya pelepasan.
Begitu kamu merasa kepuasanmu sendiri sudah memuncak melihat kehancurannya, tanganmu berpindah ke lehernya. Kamu mencengkeram leher Sunghoon dengan satu tangan, memberikan tekanan yang membuatnya sedikit kesulitan bernapas namun justru menaikkan tensi gairahnya ke level gila.
“Oke, bucinku. Terima ini, Sayang” bisikmu tepat di telinganya.
Kamu tidak membiarkannya lepas begitu saja. Kamu menekan tubuhmu padanya lebih dalam dan kuat yang penuh dominasi. Sunghoon menjerit, matanya memutar ke atas saking nikmatnya. Kamu bergerak dengan ritme yang liar, setiap tumbukan terdengar jelas di ruang tamu yang sunyi itu.
“Sebut namaku, Hoon! Katakan siapa pemilik kamu!”
“Ahh... (y/n)... kamu! Cuma kamu pemilik aku... selamanya! Kamu sangat cantik... (y/n)... Ahh, lebih dalam! Terus di situ!” Sunghoon meracau, seluruh tubuhnya bergetar hebat. Dia mencapai puncaknya dengan sangat dahsyat, cairannya membanjiri sela-sela paha kalian berdua saat dia meledak di bawah kendalimu.
Kamu menghujamnya kembali dengan tempo yang jauh lebih brutal dan liar dari sebelumnya.
Setiap hantamanmu terasa seperti ingin menghancurkan tulangnya. Sunghoon meracau namamu dengan suara yang hampir habis, air matanya membasahi bantal sofa saat dia akhirnya kamu izinkan untuk meledak.
Dia memuncratkan cairannya dengan sangat dahsyat, mengotori bagian dalammu dan paha kalian berdua, panas dan lengket, sementara tubuhnya kejang-kejang hebat di bawah cengkeraman tanganmu.
Sunghoon terkulai lemas, napasnya tersengal-sengal seperti orang yang baru saja lari maraton. Tubuhnya lemas seperti tak bertulang, tapi matanya tetap menatapmu dengan binar pemujaan yang nggak pernah pudar, sementara kamu masih duduk tegak di atasnya, mengatur napas, menatap “karya seni” yang baru saja kamu hancurkan dengan nikmat itu. Menatap suamimu yang baru saja kamu hancurkan dengan kepuasan mutlak.
Napas Sunghoon masih tersengal-sengal, tapi matanya yang sayu itu nggak bisa bohong—dia masih lapar. Meskipun tubuhnya lemas setelah kamu hancur di sofa, hasratnya sebagai pria yang memujamu justru makin terbakar.
Dengan sisa tenaga, dia merangkak turun dari sofa, berlutut sebentar di kakimu untuk mencium jemari kakimu sebagai tanda patuh, lalu berjalan pelan menuju kamar tidur. Kamu mengikutinya dari belakang, menikmati pemandangan punggungnya yang penuh tanda merah hasil buruanmu tadi.
To be continue
ngakak njir sama foto ini gatau kenapa😭





AAAA KAKAAAA KANGENN BERATTT, AKUU TIAP HARI NUNGGUIN NOTIF DARI KAKAA TIBA TIBA DI SPAMM UPDATEE ?#!"(")!'? SENENGG BGTTT 😭😭😵🫵🏻
MOMMMMYYY KAGET BANGETT BANYAK NOTIF UPTADE HUAAAAZ SAYANG MOMMYYYY, MISS YOU SM MOMMYYYY🥺🥺🩷🩷🩷🫂🫂🫂