Sore itu, langit Ibu Kota berwarna oranye keruh, sepadan dengan rasa lelah yang menggelayut di pundakmu setelah kelas terakhir yang membosankan. Kamu melangkah masuk ke dalam bus kota yang untungnya belum terlalu penuh. Saat mencari tempat duduk, matamu tidak sengaja bertabrakan dengan sepasang mata tajam di kursi paling belakang-kursi tunggal yang terselip di pojok, seolah memang disediakan untuk seseorang yang ingin mengamati tanpa teramati.
Laki-laki itu, Riki-tentu kamu belum mengenalnya, mengenakan jaket denim pudar dengan tudung kepala yang separuh menutupi rambutnya. Dia tidak mengalihkan pandangan. Alih-alih membuang muka seperti orang asing pada umumnya, Riki justru menatapmu lurus, intens, dan... lapar. Ada seringai tipis yang nyaris tak terlihat di sudut bibirnya, membuatmu merasa seperti seekor pelanduk yang baru saja masuk ke jangkauan radar pemangsa. Kamu berpegangan pada tiang bus, mencoba mengabaikan debaran aneh di dadamu. Namun, ketenangan itu hanya bertahan dua halte.
Tiba di depan sebuah kampus swasta, gerombolan mahasiswa merangsek masuk seperti air bah. Bus yang tadinya lega mendadak sesak. Bau parfum yang bercampur keringat, tawa keras, dan obrolan tentang tugas memenuhi udara. Kamu terdorong ke belakang, semakin dekat ke arah Riki.
Tubuhmu tergencet di antara dua pria besar yang membawa tas punggung tebal. Kamu merasa sesak, hampir kehilangan keseimbangan tiap kali bus bergoyang tidak stabil. Di saat itulah, sebuah tangan yang kokoh dan hangat tiba-tiba melingkar di pinggangmu. โSiniโ suara berat dan rendah itu bergetar tepat di belakangmu.
Tanpa menunggu persetujuan, Riki menarik tubuhmu dengan satu sentakan dominan. Kamu terpekik pelan saat bokongmu mendarat tepat di atas paha kerasnya. Posisi ini gila. Kamu duduk membelakanginya, dipangku di kursi sempit itu, sementara orang-orang di sekelilingmu terlalu sibuk bercanda hingga tak menyadari apa yang terjadi di bawah sana.
Kamu mencoba bangkit, tapi tangan Riki yang besar justru mengunci perutmu, menahanmu tetap di sana. โDuduk diam atau kamu jatuh, Sweetheart,โ bisiknya, suaranya serak dan menempel di ceruk lehermu, mengirimkan gelombang panas yang instan ke sekujur tubuhmu.
Disaat yang sama, kamu menyadari sesuatu yang berbahaya. Kamu sedang dalam masa ovulasi, tubuhmu sedang sangat sensitif, dan panties-mu sudah mulai terasa lembap sejak di kelas tadi. Begitu kamu mendarat di pangkuannya, kamu bisa merasakan sesuatu yang keras, panjang, dan berdenyut tepat di bawah lipatan rokmu.
Riki tidak memakai celana yang tebal. Begitu kamu bergerak gelisah mencari posisi agar tidak terlalu menekan kejantanannya, kamu justru mendengar Riki menggeram rendah.
โJangan banyak gerak... atau aku nggak akan tanggung jawab kalau benda ini makin โmarahโ di bawahmu,โ bisik Riki lagi, kali ini tangannya mulai merayap naik dari perut, jemarinya perlahan mengusap tulang rusukmu melalui kain kaosmu yang tipis.
Kamu menelan ludah, suhu tubuhmu melonjak drastis. Bus yang bising, jalanan yang macet, dan tangan asing yang mulai berani ini menciptakan adrenalin yang mematikan.
Suasana di dalam bus semakin pengap. Suara tawa mahasiswa di barisan depan dan klakson kendaraan yang bersahutan dari luar menciptakan tembok suara yang sempurna-sebuah kamuflase untuk tindakan gila yang mulai pecah di kursi paling belakang. Kamu bisa merasakan jantungmu berdegup begitu kencang hingga rasanya detaknya bisa dirasakan oleh Riki melalui punggungmu.
โLepasin...โ bisikmu dengan suara gemetar, tanganmu mencoba mencengkeram tangan besar Riki yang masih mengunci perutmu. โAku mau berdiri, ini nggak sopan.โ
Bukannya melepaskan, Riki Justru semakin menekan tubuhmu ke arahnya. Dia menghirup lehermu dengan rakus, seolah kamu adalah candu yang sudah lama ia incar. โKamu nggak kemana-mana, sayang. Lihat sekelilingmu, nggak ada tempat buat kamu berdiri tanpa kegencet.โ
Tangan Riki mulai bergerak liar. Dari perut, jemarinya merayap naik, menyusup ke balik kaosmu yang tipis. Kamu berjengit, mencoba memutar tubuh untuk menghindar, tapi ruang yang sempit justru membuat bokongmu bergesek hebat di atas kejantanannya yang sudah mengeras maksimal. Riki mengecam rendah, sebuah suara primal yang menandakan dia sudah kehilangan kesabaran.
Jemari Riki yang panjang kini sudah sampai di bawah bra-mu. Dia menyelipkan jarinya ke dalam cup, mengusap permukaan payudaramu yang sensitif dengan gerakan melingkar yang menuntut. Kamu terengah, matamu memejam erat saat ibu jarinya menemukan putingmu yang sudah mengeras karena kombinasi rasa takut dan gairah yang tidak terelakkan.
โJangan.. Riki.. ada banyak orang,โ rintihmu pelan, tanganmu memukul-mukul pelan lengannya yang kekar.
โNggak akan ada yang lihat,โ bisiknya gelap tepat di lubang telingamu, lidahnya sesekali menyentuh daun telingamu, membuat kakimu terasa lemas. โMereka terlalu sibuk sama urusan mereka sendiri. Cuma aku yang fokus sama kamu sekarang. Kamu basah banget, kan? Aku bisa ngerasain panasnya tembus ke celana aku.โ
Sentuhan Riki berubah menjadi remasan yang lebih berani. Dia memperlakukan tubuhmu seolah ia adalah pemilik sah atas setiap inci kulitmu. Kamu merasa terancam, merasa dilecehkan oleh pria asing yang bahkan namanya pun baru saja kamu ketahui dari bisikannya, tapi di sisi lain, tubuhmu yang sedang dalam masa ovulasi memberikan pengkhianatan yang nyata. Cairanmu semakin deras mengalir, membuat panty-mu terasa lengket dan tidak nyaman.
Bus menghantam lubang jalan yang cukup dalam, membuat semua penumpang terhuyung. Tubuhmu melompat kecil di pangkuannya, dan saat kamu mendarat kembali, pusat sensitifmu menekan langsung ke arah batangnya yang tegang. Kamu memekik pelan, sebuah desahan yang tertahan di tenggorokan.
Riki menyeringai, sebuah ekspresi predator yang menang, โItu suara apa, huh? Kamu malah minta lebih?.โ Tangannya yang satu lagi mulai turun, merayap di atas paha luar rokmu, perlahan tapi pasti bergerak menuju pangkal paha.
Kamu mencoba merapatkan paha, memberikan perlawanan terakhir, tapi Riki dengan mudah menyelipkan lututnya di antara kedua kakimu, memaksamu untuk terbuka.
โJadilah gadis penurut,โ bisiknya dengan nada memerintah yang sangat dominan. โAtau aku bakal buat semua orang di bus ini tahu apa yang lagi kita lakuin di belakang sini.โ
Ancaman itu membuatmu membeku. Kamu merasa terpojok, terpaksa mengikuti permainan gilanya di tengah keramaian sore yang memuakkan ini.
Ancaman Riki barusan benar-benar mengunci lidahmu. Kamu menatap ke depan, ke arah barisan penumpang yang hanya berjarak beberapa meter, namun terasa seperti di dunia yang berbeda. Ketakutanmu akan skandal dan dominasi pria asing ini membuatmu tidak punya pilihan selain menyerah pada situasi.
Tangan Riki yang kasar kini sudah menyusup ke balik rok langgarmu. Kamu berjingkat saat jemarinya yang panas menyentuh kulit paha dalammu yang sensitif.
โBuka buat aku,โ bisik Riki, suaranya kini terdengar sangat gelap dan menuntut. Kerjasama yang Terpaksa Seolah terhipnotis oleh tatapan predatornya, kamu mulai bergerak.
Dengan napas yang tersenggal, kamu sedikit mengangkat tubuhmu, berpura-pura sedang membenarkan posisi duduk agar penumpang lain tidak curiga. Namun di bawah sana, tanganmu bergerak cekatan menyingkap rok bagian belakang dan menurunkan panty-mu hingga batas paha.
Dinginnya udara bus yang masuk ke sela-sela kakimu membuatmu merinding, kontras dengan panas yang memancar dari tubuh Riki. Di saat yang sama, kamu mendengar bunyi sret yang pelan-suara risleting celana Riki yang diturunkan.
Begitu kejantanannya yang sudah lembap oleh pre-cum itu menyembul keluar, Riki tidak menunggu sedetik pun. Dia meraih pinggangmu, memosisikan lubangmu yang sudah sangat becek tepat di atas ujung batangnya yang berdenyut. โSekali hentak, jangan teriak,โ perintahnya pelan.
Jleb.
Kamu menggigit bibir bawahmu sampai hampir berdarah saat Riki mendudukkanmu kembali dengan kuat. Batangnya yang besar mengisi liangmu yang sempit secara Instan. Matamu membelalak, kepalamu tertelentang ke bahu Riki saat rasa sesak yang nikmat itu menguasai seluruh sarafmu.
Laju bus mulai menggila. Sopir yang mengejar setoran mulai menginjak gas dan rem secara mendadak karena kemacetan jam pulang kantor. Setiap kali bus mengerem mendadak, tubuhmu terdorong ke depan, membuat batang Riki menusuk hingga ke pangkal rahimmu.
Plak, plak, plak.
Suara kulit paha kalian yang beradu mulai terdengar samar di sela kebisingan mesin bus. Riki mulai memainkan ritmenya. Dia tidak hanya diam; tangannya yang besar mencengkeram pinggulmu, menaik turunkan tubuhmu dengan kasar seolah-olah kamu hanyalah alat untuk pemuasannya.
โAhhh...Riki...p-pelan...โ rintihmu dengan suara yang nyaris hilang.
โNggak bisa, sayang. Busnya yang minta kita buat kasar,โ geram Riki. Dia semakin beringas, menghujammu tanpa jeda. Kamu terpaksa berpegangan pada rangka besi di depanmu, mencengkramnya dengan tangan gemetar hingga buku-buku jarimu memutih.
Pandanganmu mulai mengabur. Pusing karena guncangan bus dan stimulasi brutal dari Riki membuatmu serasa melayang. Di tengah keramaian orang-orang yang bercengkerama tentang pekerjaan dan tugas kuliah, kamu sedang โditumbukโ habis-habisan oleh seorang asing di pojok bus yang gelap.
Setiap tikungan tajam membuat gesekan di dalam sana semakin gila. Kamu sudah berada di ujung tanduk, dinding rahimmu terus memeras milik Riki, mencari pelepasan yang sudah di depan mata.
Guncangan bus yang semakin gila seolah beradu dengan kecepatan hantaman Riki di bawah sana. Kamu sudah tidak bisa lagi berpikir jernih. Semua rasa takut dan perasaan terancam tadi perlahan terkubur oleh gelombang kenikmatan yang terlalu intens.
Riki menarik kepalamu, memaksamu menoleh ke samping sehingga bibirnya menempel tepat di lubang telingamu. Napasnya yang memburu terasa seperti api.
โLihat sekeliling kamu, little bitch... mereka semua nggak tahu kalau di belakang sini kamu lagi dikentot habis-habisan sampai becek begini,โ bisik Riki dengan kata-kata yang begitu kotor dan tanpa sensor.
โMemek kamu rakus banget, nyepitin kontol aku kayak nggak mau lepas. Kamu emang murahan, ya? Senang banget ditumbuk orang asing di bus sampai mau mampus begini, huh?โ
Kalimat vulgar itu seperti bensin yang nyambar api. Mendengar dirinya disebut begitu rendah oleh pria yang baru kamu temui, liangmu bereaksi secara refleks. Otot-otot di dalam sana menjepit batang Riki dengan kekuatan gila, meremasnya dengan denyutan yang ritmik.
โAhh-Riki! F-fuck...Stop...โ Rintihmu dengan mata yang sudah memutar ke atas-ahegao. Lidahmu edikit menjulur keluar karena overload sensorik. Pandanganmu berkunang-kunang, hanya bisa melihat lampu jalanan yang berkelebat di luar jendela bus.
Riki mengerang keras, sebuah suara parau yang tertahan di tenggorokan. Dia tidak berhenti. Justru, dia melakukan power stroke-hantaman-hantaman terakhir yang sangat dalam dan cepat, memanfaatkan inersia bus yang sedang melaju kencang.
โKeluar bareng aku, bajingan! Peras punya aku sampai habis!โ perintahnya serak.
Kamu meremas besi di depanmu sekuat tenaga saat puncak itu menghantam. Tubuhmu melengkung, rahimmu berdenyut hebat memeras batang Riki yang juga sedang berdenyut kencang di dalam sana.
โAAHHH-NGGHHHโ
Cairanmu menyembur keluar, bercampur dengan tumpahan benih Riki yang terasa panas mengisi penuh liangmu. Kalian berdua mematung sejenak, napas tersenggal-senggal di sela hiruk-pikuk penumpang yang mulai bersiap turun. Riki menyembunyikan wajahnya di ceruk lehermu lalu memberikan gigitan dan hisapan yang cukup kuat membuat tanda merah kepemilikan yang sangat jelas, meresap sisa gairahnya sebelum perlahan menarik diri.
Bus berhenti dengan sentakan keras tepat di halte depan kompleks apartemenmu. Suara pintu bus yang terbuka terdengar seperti lonceng peringatan.
Dengan tangan gemetar dan jantung yang masih berpacu, kamu segera membenahi panty dan rokmu. Kamu tidak berani menoleh ke arah Riki. Tanpa sepatah kata pun, kamu segera berdiri dan merangsek keluar di antara kerumunan penumpang yang turun
Kamu berjalan setengah berlari menuju lobi apartemen. Kakimu terasa lemas, dan ada sensasi lengket yang mengalir di paha dalammu-sisa dari โkenang-kenanganโ Riki yang tertinggal. Kamu hanya ingin sampai ke unitmu, mengunci pintu, dan menganggap ini semua hanya mimpi buruk yang nikmat.
Namun, saat kamu akan mencapai pintu kaca lobi, kamu menoleh ke belakang untuk memastikan.
Jantungmu seolah berhenti berdetak. Riki ada di sana. Dia berdiri di trotoar, hanya beberapa meter darimu. Dia tidak Iari, tidak mengejar. Dia hanya berdiri dengan tenang, memasukkan tangan ke saku jaket denimnya, menatapmu dengan pandangan yang sama seperti di bus tadi-pandangan seorang predator yang tahu bahwa mangsanya tidak akan bisa lari jauh.
Dia ikut turun, dan dia tahu di mana kamu tinggal.




deymn gila sex in public anjir rikii mantep bgt sayangg!! ๐ญ๐คค๐ซ ๐ซฆ๐๐ป๐๐๐ป
LANJUT PLISS!!!!