Dulu, sesibuk apa pun Jungwon, kalian selalu punya ritme. Voice note receh pas dia lagi break, foto mirror selfie dandanannya buat manggung, atau sekadar chat "Jangan lupa makan" yang singkat tapi bikin anget.
Tapi minggu itu, ritmenya rusak.
Jungwon mendadak jadi manusia paling susah dihubungin. Chat cuma dibaca, atau kalau dibales pun cuma satu-dua kata yang dingin banget. Kamu berusaha maklum, kamu tahu dunianya berat. Sampai akhirnya kamu lihat postingan member lain di Twitter.
Di sana ada Jungwon. Lagi ketawa lepas, ditarik-tarik member lain pas latihan. Dia kelihatan seger, ceria, dan... punya waktu buat mereka.
Sementara buat bales chat "Kamu udah istirahat?" dari kamu aja, dia seakan nggak punya sedetik pun. Di titik itu, rasa maklum kamu hancur, diganti sama rasa sesek yang panas di dada.
Malamnya, kamu mutusin buat telepon. Nada sambungnya lama banget, hampir mati, sebelum akhirnya diangkat.
"Halo? Kenapa?" Suara Jungwon kedengeran capek banget, tapi ada nada ketus yang nggak bisa dia sembunyiin.
Kamu narik napas panjang, berusaha nggak meledak. "Lagi sibuk? Kalau keganggu, aku tutup."
Jungwon diem bentar, kedengeran suara hembusan napas kasar di seberang sana. "Iya, agak sibuk. Bisa kita ngobrol nanti aja?"
"Nanti kapan, Won? Dari kemarin juga 'nanti'. Kamu sempet ketawa-tawa di postingan orang lain, sempet latihan sampai malem, tapi nggak sempet kabarin aku seharian?"
Suara Jungwon meninggi, refleks karena dia juga lagi di titik jenuhnya. "Aku latihan buat US tour, itu kerjaan! Aku ketemu mereka karena emang harus di sana, bukan karena aku milih mereka dibanding kamu. Kamu kenapa sih jadi kekanak-kanakan gini?"
Kata 'kekanak-kanakan' itu bener-bener nancep.
"Aku nggak minta waktu kamu 24 jam! Aku cuma butuh kamu bilang 'aku lagi overwhelmed, nanti aku kabarin ya'. Sesimpel itu biar aku nggak ngerasa kayak orang asing yang ganggu hidup kamu!" Suaramu mulai bergetar.
"Aku nggak punya energi buat jelasin hal-hal kecil kayak gitu tiap saat!" balas Jungwon lebih ketus.
Hening. Dingin banget.
"Oh... jadi aku cuma beban yang nguras energi kamu ya?" bisikmu, suaramu pecah.
"Nggak gitu maksudkuβ"
"Tapi itu yang aku rasain. Kita break dulu ya. Aku capek."
Klik.
Kamu matiin teleponnya duluan sebelum dia makin bikin hatimu hancur. Tiga hari setelah itu? Sunyi total. Kamu ngerasa kehilangan, tapi gengsi buat balik duluan.
Sampai akhirnya, sebuah paket dateng ke rumahmu. Isinya tiket pesawat dan tiket VVIP konser mereka di US. Ada kertas kecil dengan tulisan tangan yang khas banget:
"Aku payah kalau lagi capek, tapi aku selalu jujur kalau lagi kangen. Datang ya? Aku mau kamu lihat sendiri apa yang aku perjuangin di sini. I miss you."
Hati kamu yang tadinya keras kayak batu, langsung luruh gitu aja.
Konser itu luar biasa, tapi fokusmu cuma satu: Cowok dengan leader aura yang kuat di tengah panggung. Pas lampu spotlight nembak ke arahnya, mata Jungwon langsung nemuin kamu di barisan depan.
Dunia seakan berhenti. Dia sempet salah step kecil gara-gara kaget lihat kamu beneran dateng, tapi dia langsung balik profesional. Bedanya, sepanjang konser, matanya nggak pernah bener-bener lepas dari kamu. Tiap dia senyum ke arahmu, rasanya ada listrik yang nyengat sampai ke kaki.
Pas encore selesai, HP-mu geter.
Jungwon: "Meet me in backstage after the performance. I'm not done with you."
Kalimat itu singkat, tapi nadanya kedengeran posesif banget. Bikin kamu merinding sekaligus deg-degan parah.
πππ
Setelah konser dan pertemuan backstage yang intens, Jungwon menjemputmu di koridor kecil. "Kita ke hotel, ya?"
Suaranya lembut, hampir hati-hati.
"Aku nggak mau ngobrol setengah-setengah di ruang tunggu."
Pertemuan di backstage cuma bentar karena dia masih harus urus ini-itu. Dia cuma sempet genggam tanganmu erat banget pas jalan ke mobil jemputan. Dia nggak lepasin genggamannya sampai kalian sampai di depan pintu kamar hotelnya.
Begitu pintu tertutup, suasana langsung berubah drastis. Kamar itu remang-remang, cuma ada lampu pojok yang nyala. Jungwon lepas jaketnya, tapi dia nggak langsung ngomong. Dia berdiri membelakangi kamu, bahunya naik turun, kayak lagi nahan emosi yang meluap.
"Sini," katanya rendah. Suaranya serak habis konser, kedengeran sexy tapi juga nuntut.
Kamu jalan mendekat, tapi sebelum kamu sampai di depannya, Jungwon udah muter badan dan narik pinggangmu sampai badan kalian nempel total.
"Maaf," bisiknya tepat di depan wajahmu. Matanya gelap, natap bibirmu lama banget sebelum balik ke matamu. "Aku benci banget pas tahu kamu nangis gara-gara aku."
"Aku tahu kamu sibuk, Won, tapiβ"
"Sstt." Dia nempatin telunjuknya di bibirmu. Tangannya yang lain merambat naik, melingkar di lehermu, sementara jempolnya ngelus rahangmu pelan. "Aku panik sama tur ini. Aku takut ngecewain banyak orang sampai aku lupa kalau yang paling nggak boleh aku kecewain itu kamu. Kamu rumah aku, (Y/N). Maaf aku malah dorong kamu pergi kemarin."
Dia nyandarin dahinya ke dahimu. Kamu bisa nyium bau parfumnya yang bercampur aroma maskulinβbikin otak kamu mendadak nge-blank.
"Aku kirim tiket itu karena aku tahu aku nggak bakal bisa tampil bener kalau kamu nggak ada di sana," gumamnya. Tangannya makin erat meluk pinggangmu, seolah takut kamu bakal ilang kalau dia longgarin dikit aja.
"Kamu tetep punya aku, Won. Kamu cuma perlu ngomong..." bisikmu balik.
Jungwon senyum tipis, tapi tatapannya nggak lepas dari bibirmu. "Iya, aku janji bakal ngomong terus mulai sekarang."
Dia nggak nunggu lagi. Jungwon nunduk, nyium kamu dengan cara yang beda banget dari biasanya. Kali ini rasanya lebih 'lapar', penuh rindu yang dipendem berhari-hari. Ciumannya dalem, nuntut, dan bikin kamu lemes sampai harus pegangan erat ke pundaknya.
Pas dia lepasin tautannya buat ambil napas, dia masih nempel di bibirmu, bisikin sesuatu yang bikin mukamu panas.
"Boleh aku manja malem ini? Aku kangen banget sampai rasanya sesek."
Kamu cuma bisa ngangguk pasrah. Jungwon langsung angkat tubuhmu, bawa kamu ke kasur tanpa mutusin kontak mata. Malam itu, nggak ada lagi urusan idol atau fans. Cuma ada Jungwon yang bener-bener mau nunjukin kalau dia nggak bisa hidup tanpa kamu.
"Jangan ngilang lagi ya?" bisiknya sebelum dia narik kamu makin dalem ke pelukannya. "Kalau rumahku di sini, aku mau pergi ke mana lagi?"
Begitu punggungmu menyentuh kasur, Jungwon nggak langsung bergerak cepat. Dia justru merangkak naik, mengukung tubuhmu dengan kedua lengannya, menatapmu dalam diam selama beberapa detik yang terasa selamanya. Cahaya lampu nakas yang temaram bikin bayangan rahangnya kelihatan makin tajam.
"Won..." bisikmu, suaramu nyaris hilang karena jantungmu berpacu nggak keruan.
"Jangan panggil namaku kayak gitu kalau kamu mau aku pelan-pelan," gumamnya rendah, suaranya serakβjenis suara yang cuma dia keluarin kalau dia bener-bener lagi emosional.
Dia menunduk, tapi bukannya mencium bibirmu, dia justru mendaratkan kecupan-kecupan panas di sepanjang garis rahangmu, turun ke leher, sampai berhenti di titik sensitif dekat telingamu. Kamu bisa ngerasain napasnya yang memburu, kontras banget sama gerakannya yang sengaja dibikin lambatβseolah dia lagi nyiksa kamu (dan dirinya sendiri) dengan rindu yang ketahan.
Tangan Jungwon yang tadinya di kasur, sekarang mulai merayap masuk ke balik kausmu. Telapak tangannya yang hangat nempel di kulit pinggangmu, bikin kamu refleks menarik napas panjang.
"Tiga hari itu rasanya kayak neraka," bisiknya di depan kulit lehermu. "Tiap aku merem, aku cuma kepikiran gimana caranya biar kamu nggak pergi."
Dia narik wajahnya sedikit, natap kamu dengan mata yang sayu tapi penuh keinginan. Jungwon meraih kedua tanganmu, menautkan jari-jarinya ke jarimu, lalu menekannya pelan ke atas bantal. Dia bener-bener ngunci posisi kamu.
"Boleh kan?" tanyanya lembut, tapi matanya nggak minta jawaban 'tidak'.
Kamu cuma bisa mengangguk pelan, dan itu seolah jadi lampu hijau buat dia. Jungwon kembali nyium kamu, kali ini lebih dalam, lebih menuntut. Kamu bisa ngerasain lidahnya yang menyapu lembut, mengajakmu dalam ritme yang bikin dunia di luar kamar itu bener-bener hilang.
Tangan Jungwon nggak tinggal diam. Dia mulai nuntun tanganmu buat ngerasain detak jantungnya yang gila di balik kemeja tipisnya yang setengah terbuka. Kulit ketemu kulit, panas ketemu panas.
"Kamu nggak tahu seberapa besar efek kamu buat aku, (Y/N)," gumamnya di sela ciuman yang makin intens. "Jangan pernah bilang kamu beban lagi. Kamu itu satu-satunya alasan aku pengen cepet pulang tiap selesai kerja."
Suasana kamar jadi makin panas. Tiap sentuhan Jungwon kerasa lebih berani, lebih posesif, tapi tetep penuh perasaan. Dia seolah mau menghapus semua jejak pertengkaran kemarin dengan setiap inci perhatian yang dia kasih malam itu.
Malam itu bener-bener jadi milik kalian berdua. Nggak ada jadwal latihan, nggak ada kamera, cuma ada Jungwon yang bener-menginginkanmu, dan kamu yang akhirnya ngerasa 'pulang' ke pelukannya yang paling hangat.
Suasana di kamar itu makin panas, tapi Jungwon nggak mau buru-buru. Dia mau menikmati tiap detik transisi ini.
Dia bangkit dikit, duduk bertumpu di atas lututnya sambil natap kamu yang masih terbaring di bawahnya. Tangannya naik ke kancing kemeja hitam yang dia pakai. Satu demi satu kancing lepas dengan ritme yang sengaja dibikin lambat, bikin matamu nggak bisa lepas dari pergerakan tangannya. Begitu kemeja itu jatuh ke lantai, kamu bisa lihat bahu tegap dan otot lengannya yang sedikit berkeringat sisa dari konser tadiβkelihatan sangat maskulin di bawah remang lampu.
"Sekarang giliran kamu," bisiknya rendah.
Jungwon narik kamu buat duduk di pinggir kasur, sementara dia berlutut di lantai, tepat di depanmu. Posisi ini bikin kamu ngerasa sangat diperhatiin, tapi juga bikin deg-degan parah. Tangannya yang hangat mulai naik ke pundakmu, perlahan nurunin tali baju atasanmu, lalu dengan gerakan halus dia lepasin baju itu sampai jatuh ke tumpukan baju miliknya.
Sekarang, tinggal rok yang kamu pakai.
Tangan Jungwon pindah ke pinggangmu. Jemarinya yang panjang nemuin ritsleting rokmu di sana. Kamu bisa ngerasain jarinya yang dingin sesekali nyentuh kulit perutmu, bikin perutmu kayak dikititik ribuan kupu-kupu.
"Jangan tegang gitu," gumamnya sambil senyum tipis, tapi matanya tetep fokus ke apa yang dia lakuin.
Dia mulai nurunin rokmu... sangat pelan.
Begitu kain itu turun perlahan melewati pinggul, udara dingin AC hotel langsung nyentuh kulitmu, tapi anehnya, kamu malah ngerasa panas karena tatapan Jungwon yang nggak lepas dari setiap inci tubuhmu yang mulai terekspos. Pas rok itu sampai di paha, jemari Jungwon sengaja nyapu kulit bagian dalam pahamu dengan ujung jarinya.
Sensasinya bener-bener beda. Ini bukan cuma sentuhan fisik biasa, tapi ada rasa posesif sekaligus pemujaan di sana. Kamu refleks ngeremes seprai kasur di sampingmu, punggungmu merinding hebat, dan napasmu tertahan di tenggorokan. Kamu belum pernah ngerasain sensasi sedalam dan seintens ini sebelumnya.
"Won..." suara kamu keluar dalam bentuk desahan halus yang hampir nggak kedengeran.
Jungwon berhenti sejenak, rok itu udah jatuh di lantai. Dia ngedongak, natap kamu dengan mata yang sekarang bener-benar gelap karena keinginan yang tertahan. Dia narik napas panjang, lalu nyium lututmu pelan sebelum perlahan naik lagi ke arahmu.
"Kamu cantik banget," bisiknya, suaranya serak dan berat. "Sampai aku ngerasa nggak pantes buat milikin kamu sesempurna ini malam ini."
Dia berdiri lagi, ngebawa kamu kembali ke tengah kasur, kali ini tanpa ada satu pun penghalang di antara kulit kalian. Tiap sentuhannya sekarang kerasa lebih nyata, lebih panas, dan bener-bener bikin kamu lupa sama semua pertengkaran yang pernah ada. Malam itu, Jungwon bener-bener mau 'nandain' kalau kamu adalah miliknya, dan dia adalah milikmu sepenuhnya.
Suasana di kamar itu semakin panas, hanya suara deru napas yang saling memburu dan gesekan kulit yang mengisi keheningan malam. Jungwon bergerak dengan ritme yang awalnya sangat lembut, seolah dia takut kamu akan hancur jika dia terlalu kasar. Dia ingin memastikan setiap gerakannya adalah bentuk permintaan maaf dan kasih sayang yang tulus.
Namun, kelembutan itu justru membuat pertahananmu runtuh.
"Won... ahh... Jungwon," desahmu tertahan. Suaramu terdengar serak, memanggil namanya setiap kali dia memberikan tekanan yang tepat.
Mendengar namanya disebut dengan nada penuh damba seperti itu, Jungwon seolah kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Matanya yang sayu seketika menajam. Kamu secara refleks melingkarkan tangan ke lengannya yang kokoh, mencengkeram kulitnya kuat-kuat sampai kukumu meninggalkan bekas kemerahan di sana.
Cengkeraman kuatmu itu menjadi pemicu ledakan gairah yang selama ini dia tahan.
"(Y/N), kamu... kamu bikin aku susah buat pelan-pelan," gumamnya dengan napas yang memburu di ceruk lehermu.
Begitu merasakan cengkeraman tanganmu di lengannya semakin erat, ritme Jungwon yang tadinya tenang berubah menjadi lebih tegas dan penuh tuntutan. Setiap hentakannya kini terasa lebih dalam, lebih intens, seolah dia sedang berusaha menyalurkan seluruh rasa rindu dan frustrasinya selama empat hari ini langsung ke dalam jiwamu.
Kamu mendongak, matamu terpejam rapat saat sensasi panas itu menjalar ke seluruh tubuh. Setiap kali dia bergerak, kamu semakin kuat mencengkeram lengannya, menariknya agar semakin dekat, seolah tidak mau ada jarak satu milimeter pun di antara kalian.
"Tatap aku," perintah Jungwon rendah, suaranya hampir menyerupai bisikan yang sangat dominan.
Saat kamu membuka mata dengan pandangan yang kabur karena air mata kenikmatan, kamu melihat Jungwon menatapmu dengan sorot mata yang begitu memuja namun lapar. Dia mengecup keningmu dengan lembut di tengah gerakannya yang semakin cepat, kontras yang sangat indah antara kasih sayang dan gairah yang membara.
"Jangan pernah... lepasin aku," bisiknya tepat di bibirmu sebelum dia kembali membungkam suaramu dengan ciuman yang sangat dalam, menyatukan seluruh perasaan yang sempat retak menjadi satu keutuhan yang sempurna malam itu.
Keadaan di dalam kamar itu sudah benar-benar mencapai titik didih. Kamu merasa seolah seluruh saraf di tubuhmu terhubung langsung ke setiap gerakan yang Jungwon lakukan. Rasa panas yang menjalar di perut bawahmu semakin menjadi, menandakan kalau kamu sudah berada di ambang batas.
"Aku... aku nggak akan... ahh... lepasin, Won," balasmu terbata-bata di sela desahan yang semakin tidak beraturan.
Kamu menarik tubuhnya lebih dekat, melingkarkan kakimu di pinggangnya untuk mengunci posisinya. Di saat yang sama, otot-otot di bawah sana bereaksi secara naluriah. Kamu menjepit miliknya semakin ketat, memberikan tekanan yang luar biasa di setiap inci pergerakannya.
Sensasi terjepit yang begitu rapat itu membuat Jungwon menggeram rendah, sebuah suara maskulin yang langsung bergetar di dadanya dan terasa sampai ke kulitmu.
"(Y/N)... god, ketat banget," geram Jungwon.
Dia bisa merasakan bagaimana tubuhmu mulai gemetar hebat di bawahnya. Cengkeraman tanganmu di lengannya semakin kuat, kuku-kukumu menekan kulitnya seiring dengan napasmu yang semakin pendek dan cepat. Kamu merasa seolah dunia sedang berputar, dan satu-satunya peganganmu hanyalah tubuh tegap Jungwon yang terus bergerak menuntut di atasmu.
"Won, sedikit lagi... please... aku hampirβ"
Kalimatmu terputus menjadi lenguhan panjang saat rasa nikmat itu memuncak dan meledak di seluruh tubuhmu. Di saat yang krusial itu, kamu menjepitnya dengan kekuatan maksimal, membuat Jungwon ikut kehilangan pertahanannya. Dia memberikan beberapa hentakan terakhir yang sangat dalam dan kuat, sebelum akhirnya dia menyusulmu menuju puncak, menumpahkan seluruh rasa rindu dan gairahnya yang tertahan selama ini.
Jungwon ambruk di atas tubuhmu, menyembunyikan wajahnya di ceruk lehermu sambil mengatur napas yang tersenggal-senggal. Kamu bisa merasakan detak jantungnya yang berdebar keras melawan dadamu, ritme yang sama kencangnya dengan milikmu.
Keheningan kembali menyelimuti kamar, tapi kali ini terasa begitu hangat dan penuh kemenangan. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi amarahβhanya ada kalian berdua yang saling terikat dalam pelukan yang paling jujur.
Setelah badai gairah itu mereda, suasana kamar hotel kembali sunyi, hanya menyisakan suara napas kalian yang perlahan mulai teratur. Jungwon nggak langsung menjauh. Dia tetap membiarkan berat tubuhnya menindihmu sebentar, seolah sedang menikmati kedekatan yang paling intim ini, sebelum akhirnya dia berpindah ke sampingmu.
πππ
Jungwon menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh kalian berdua yang masih polos. Dia nggak membiarkanmu kedinginan sedetik pun. Dengan gerakan lembut, dia menarikmu ke dalam pelukannya, membiarkan kepalamu bersandar di dadanya yang masih terasa panas dan lembap karena keringat.
Tangannya yang tadi mencengkerammu kuat, kini berubah menjadi sangat halus. Dia mengambil jemarimu, mengecup punggung tanganmu berulang kali, lalu mengusap sisa keringat di keningmu dengan ibu jarinya.
"Capek banget, ya?" bisiknya pelan. Suaranya sudah kembali lembut, jauh dari nada dominan yang tadi dia tunjukkan. Kamu hanya membalas dengan anggukan manja.
Dia bangkit sebentar untuk mengambil segelas air putih di meja nakas, lalu membantumu minum sambil menyangga tengkukmu. Perhatian-perhatian kecil kayak gini yang selalu bikin kamu luluhβsisi caretaker Jungwon yang jarang dilihat orang lain.
Setelah suasana benar-benar tenang, kalian berbaring berhadapan di bawah selimut. Jungwon memainkan ujung rambutmu, melilitkannya di jarinya sambil menatap matamu dalam-dalam.
"(Y/N)," panggilnya lirih. "Makasih ya udah mau dateng. Aku beneran nggak tahu harus gimana kalau tadi aku nggak lihat kamu di kursi VVIP itu."
Kamu mengusap rahangnya yang tegas. "Aku juga minta maaf kalau aku sempat ragu sama kamu, Won. Aku cuma takut kehilangan ritme kita."
Jungwon tersenyum kecil, lalu menarik napas panjang. "Tur ini berat buat aku. Tekanannya besar, dan aku tipikal orang yang kalau stres malah nutup diri karena nggak mau orang yang aku sayang kena imbas capeknya aku. Tapi aku salah. Harusnya aku bagi capeknya ke kamu, bukan malah bikin kamu ngerasa sendirian."
Dia mendekatkan wajahnya, mengecup ujung hidungmu gemas.
"Besok, ikut aku ke venue rehearsal, ya? Aku mau kamu ada di sana, di pinggir panggung. Biar tiap aku ngerasa stuck atau capek, aku tinggal nengok ke samping dan lihat alasan kenapa aku harus kerja keras kayak gini."
"Kamu nggak akan diomelin manajemen kalau aku ikut terus?" tanyamu pelan sambil bercanda.
Jungwon terkekeh, suara rendahnya terdengar sangat merdu di telingamu. "Biarin aja. Mereka tahu aku bakal tampil lebih bagus kalau mood-ku bener. Dan mood aku itu cuma kamu."
Dia memelukmu lebih erat, menenggelamkan wajahnya di rambutmu yang wangi.
"Tidur sekarang, yuk? Aku mau bangun besok pagi dan hal pertama yang aku lihat itu muka kamu, bukan langit-langit kamar hotel yang sepi."
Kamu mengangguk di dadanya, mendengarkan detak jantungnya yang sekarang sudah stabil dan menenangkan. Di dalam pelukan Jungwon malam itu, kamu tahu kalau jarak dan kesibukan nggak akan pernah benar-benar bisa memisahkan kalian selama
ada komunikasi yang jujur.
"I love you, Won," gumammu sebelum mata kamu benar-benar terpejam.
"I love you more, Sayang. Tidur yang nyenyak," balasnya sambil memberikan satu kecupan terakhir di puncak kepalamu.
[ THE ENDπ]




ajshsjakdk ini sweet bangett
Ow so sweet tapi kalian gak pake pengaman for real?!