Disclaimer:
Hanya Fiksi Belaka
tolong jangan bawa bawa kehidupan real life idol.
kalo darinawal ga sreg sama judulnya bisa langsung drop aja.
terimakasihππ»
Bagi Park Sunghoon, menari bukan sekadar gerak tubuh, itu adalah cara dia bernapas. Selama bertahun-tahun, masa mudanya habis di ruang latihan yang pengap, menghitung detik dengan tetesan keringat yang jatuh ke lantai kayu. Ketika ia akhirnya berdiri di panggung debut lima bulan lalu, Sunghoon merasa dunianya akhirnya memiliki warna. Ia adalah bintang yang sedang melesat, memecah kegelapan malam dengan sinarnya yang paling terang.
Namun, hanya butuh waktu satu malam untuk meruntuhkan menara yang ia bangun selama tujuh tahun.
Sebuah foto buram, sebuah kesaksian palsu yang dibuat-buat, dan satu narasi jahat tentang kekerasan menyebar seperti wabah. Publik yang tadinya memuja, kini berbalik meludah. Sunghoon ingin berteriak bahwa malam ituβsaat fitnah itu terjadiβia sedang sendirian di studio, menari hingga kakinya lecet demi persiapan konser bulan depan. Namun, agensi memutus akses suaranya. Mereka merampas ponselnya, mengurungnya dalam apartemen yang dingin, dan merilis pernyataan bahwa ia akan hiatus karena "masalah pribadi".
Ia tidak hanya kehilangan kariernya. Ia kehilangan martabatnya. Bahkan sasaeng yang dulu mengikutinya kini mengirimkan surat berisi cacian. Sunghoon hancur. Ia merasa seperti hantu yang masih terjebak di dalam raga yang bernapas.
Malam itu, Seoul terasa sangat mencekam. Sunghoon melangkah keluar dengan hoodie hitam yang menutupi separuh wajahnya, masker, dan kacamata hitam yang ia pakai meski hari sudah gelap. Ia merasa semua mata yang lewat adalah mata yang menghakiminya.
Tujuannya hanya satu: minimarket di pojok jalan. Dengan tangan gemetar, ia mengambil beberapa kaleng bir dan obat penenang dosis ringan yang dijual bebas. Ia hanya ingin tidur. Ia hanya ingin otaknya berhenti berputar.
Di balik meja kasir, kamu berdiri dengan lelah. Kamu adalah (y/n), seorang kasir minimarket yang baru saja menyelesaikan shift panjangmu. Tapi lebih dari itu, kamu adalah bagian dari barisan kecil penggemar yang masih memegang teguh keyakinan bahwa Sunghoon tidak bersalah. Kamu adalah orang yang menghabiskan malam dengan membalas komentar jahat di internet, membela pria yang bahkan tidak tahu namamu.
Saat Sunghoon meletakkan barang belanjaannya, kamu tidak menyadari siapa dia. Sosok itu terlalu bungkuk, terlalu layu. Sunghoon membayar tanpa suara, suaranya yang berat hanya keluar berupa gumaman kecil saat menerima kembalian.
Sunghoon tidak langsung pergi. Ia duduk di kursi plastik depan minimarket, membuka kaleng bir pertamanya dengan tangan yang gemetar hebat. Satu kaleng, dua kaleng, hingga pengaruh alkohol mulai mengaburkan kewaspadaannya. Kacamata hitamnya ia lepas, memperlihatkan mata yang bengkak dan tatapan yang kosong-jiwa yang sudah menyerah pada keadaan.
Jam kerjamu selesai. Kamu melangkah keluar, berniat pulang, namun langkahmu terhenti saat melihat pria di kursi plastik itu. Jantungmu berdegup kencang. Kamu mengenali rahang itu. Kamu mengenali mata indah yang kini terlihat sangat menyedihkan itu.
Itu Sunghoon.
Ia terlihat sangat berantakan. Tidak ada lagi sisa-sisa idol yang bersinar di panggung. Yang ada hanyalah seorang pria muda yang dunianya baru saja kiamat. Kamu berdiri mematung di jarak beberapa meter. Ingin sekali kamu lari ke sana, memeluknya, dan mengatakan bahwa kamu percaya padanya. Tapi kamu takut. Kamu takut dia menganggapmu sebagai sasaeng lain yang ingin menyerangnya.
Namun, saat melihat Sunghoon menunduk dalam dan bahunya mulai bergetar karena tangis yang ditahan, ketakutanmu kalah oleh rasa empati.
Kamu berjalan mendekat, sangat pelan, seolah takut mengusik burung yang terluka. Kamu tidak berkata apa-apa di awal. Kamu hanya meletakkan sebotol air mineral hangat dan selembar sapu tangan di atas mejanya.
Sunghoon tersentak, ia segera menarik tudung hoodienya, berusaha menyembunyikan wajahnya yang basah. "Pergi... tolong jangan ambil foto," bisiknya serak, penuh luka.
"Aku nggak bawa kamera," suaramu gemetar, namun lembut. "Aku cuma mau kasih ini. Cuaca malam ini dingin banget, minum bir dingin cuma bakal bikin kamu makin sakit."
Sunghoon terdiam, namun ia tidak menoleh.
"Aku... aku tahu siapa kamu," lanjutmu, membuat Sunghoon semakin menegang. "Tapi aku bukan mereka yang menghujatmu. Aku fansmu. Dan aku tahu kamu nggak ngelakuin itu. Aku tahu kamu pasti sedang ada di studio malam itu untuk persiapan konsermu. Aku percaya kamu, Sunghoon." Walaupun kamu tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya soal dia, kamu yakin bahwa Sunghoon tidak melakukannya.
Kalimat itu sederhana, tapi bagi Sunghoon, itu adalah oksigen pertama yang ia dapatkan setelah berminggu-minggu tercekik. Ia perlahan mengangkat wajahnya, menatapmu dengan mata yang merah. "Kenapa? Semua orang percaya berita itu. Kenapa kamu nggak?"
"Karena mata nggak bisa bohong," jawabmu tulus. "Pria yang menari dengan ketulusan kayak kamu nggak mungkin punya hati sejahat itu."
Tangis Sunghoon pecah saat itu juga. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, terisak sejadi-jadinya di depan orang asing yang baru ia temui. Kesedihan bertahun-tahun perjuangan yang hancur tumpah malam itu. Kamu memberanikan diri duduk di sampingnya, memberikan dukungan tanpa kata, hanya dengan kehadiranmu yang tulus.
Sunghoon menatap kaleng bir ketiga yang baru saja ia buka dengan pandangan nanar. Tangannya yang gemetar meraih bungkusan obat penenang di atas meja, jemarinya yang panjang dan pucat berusaha merobek kemasannya dengan tidak sabar. Matanya yang sayu tampak mendung, seolah ia ingin segera menelan apa pun yang bisa mematikan rasa sakit di kepalanya.
Namun, sebelum ia sempat mengeluarkan butirannya, tanganmu bergerak cepat. Kamu menahan pergelangan tangannya, membuat gerakan Sunghoon terhenti di udara.
"Jangan," suaramu tegas namun mengandung kecemasan yang nyata. "Kamu sudah minum alkohol terlalu banyak. Kalau ditambah ini, bisa berakibat fatal buat jantung kamu, Sunghoon."
Sunghoon tersentak. Ia menarik tangannya dengan kasar, menatapmu dengan sorot mata yang waspada-insting seorang idol yang sudah terbiasa difitnah dan dikhianati. "Kenapa lo peduli? Lo cuma orang asing yang kebetulan kerja di sini, kan?" tanyanya dengan suara serak, napasnya berbau alkohol namun wajahnya masih terlihat sangat tampan sekaligus menyedihkan.
Ia memicingkan matanya, mencoba menyelidikimu di tengah kesadarannya yang mulai goyah. "Atau... lo sasaeng yang lagi nyamar? Lo mau foto gue dalam keadaan kayak gini terus jual ke media, hah? Biar karir gue makin hancur?"
Mendengar tuduhan itu, hatimu terasa seperti diremas. Alih-alih marah, kamu justru merasa sedih melihat betapa rusaknya kepercayaan pria ini terhadap dunia. Kamu tidak menjawab dengan kata-kata kasar. Kamu perlahan membuka tutup botol air mineral hangat yang tadi kamu beli, lalu menyodorkannya tepat di depan wajahnya.
"Aku nggak butuh foto kamu buat merasa lebih baik. Tapi kamu butuh air ini supaya nggak makin kacau," ucapmu lembut, menatap tepat di matanya tanpa rasa takut. "Minum ini. Aku bakal tetap di sini sampai kamu tenang. Aku nggak bakal pergi, dan aku nggak bakal lakuin apa pun yang kamu takutkan."
Sunghoon terdiam, cukup lama. Ia mencari-cari tanda kebohongan di matamu, namun yang ia temukan hanyalah ketulusan yang murni-sesuatu yang sudah lama tidak ia lihat bahkan dari orang-orang di agensinya sendiri. Perlahan, pertahanannya runtuh. Ia mengambil botol air itu, meneguknya sedikit demi sedikit, membiarkan rasa hangatnya mengalir di tenggorokannya yang panas.
"Gue... gue beneran nggak ngelakuin itu," gumamnya tiba-tiba, suaranya sangat kecil, hampir tenggelam oleh suara angin malam. Ia menunduk, menyembunyikan wajahnya di antara kedua tangannya yang bertumpu pada meja plastik. "Gue cuma latihan. Gue cuma mau debut dengan baik. Kenapa semua orang jahat banget?"
Tangisan Sunghoon tidak lagi meledak, melainkan berupa isakan lirih yang jauh lebih menyayat hati. Di malam yang sunyi itu, di depan minimarket yang sepi, Sunghoon mulai berbicara jujur tentang rasa lelahnya, tentang mimpinya yang dicuri, dan tentang betapa ia merasa berbeda saat menatapmu. Baginya, kamu seolah menjadi satu-satunya titik cahaya kecil di tengah kegelapan total yang menyelimutinya.
Kamu duduk di sana, mendengarkan setiap keluh kesahnya tanpa interupsi, memberikan ruang bagi sang bintang yang sedang jatuh untuk merasa menjadi manusia biasa kembali.
Di tengah keheningan malam, tiba-tiba saku hoodie Sunghoon bergetar hebat. Cahaya terang dari layar ponselnya menembus kegelapan, menampilkan nama "Manajer Kang" yang berkedip-kedip menuntut jawaban. Sunghoon tidak bergerak. Ia hanya menatap layar itu dengan tatapan kosong, membiarkan deringnya memecah kesunyian berkali-kali sampai panggilan itu mati dengan sendirinya.
Tangannya yang gemetar kemudian meraih ponsel itu, menekan tombol daya cukup lama hingga layar benar-benar menghitam. Sunghoon mematikan total koneksinya dengan dunia luar.
"Ketenangan ini... nggak boleh ada yang ganggu," bisiknya parau, lebih kepada dirinya sendiri.
Tiba-tiba, Sunghoon mengangkat kepalanya dan menatapmu. Matanya yang merah karena alkohol dan tangis kini memancarkan desakan yang nyata. "Bawa gue pergi dari sini. Sekarang."
Kamu tersentak, bingung harus bereaksi bagaimana. Kamu bahkan belum sempat menyebutkan namamu, dan pria di depanmu-sosok yang wajahnya terpampang di papan reklame raksasa Gangnam-baru saja meminta pelarian darimu.
"T-tapi ke mana? Aku nggak tahu harus bawa kamu ke mana, Sunghoon," jawabmu dengan suara bergetar. Otakmu berputar cepat. Membawa seorang idol yang sedang hiatus skandal ke tempat umum adalah bunuh diri karier baginya. "Apa ke hotel aja? Aku bisa pesankan kamar atas namaku supaya aman."
Sunghoon menggeleng lemah, sisa kewarasannya yang tinggal sedikit mencoba berpikir logis. "Nggak bisa... Agensi punya akses ke semua jaringan hotel besar. Data tamu bakal kedeteksi dalam hitungan jam. Mereka bakal seret gue balik ke penjara itu lagi."
Ia terdiam sejenak, menatapmu dengan sorot mata yang seolah meminta belas kasihan. "Bawa gue ke tempat lo."
Wajahmu mendadak merah padam. Kamu merasa jantungmu seolah berhenti berdetak. "Rumahku? Tapi... rumahku cuma sewa kamar kecil di lantai atas, nggak seberapa luas, Sunghoon. Kamu nggak bakal nyaman di sana."
"Gue nggak butuh kenyamanan," potongnya dengan nada rendah yang menuntut. "Gue cuma butuh tempat di mana mereka nggak bisa nemuin gue."
Melihat keputusasaan di wajahnya, rasa takutmu perlahan kalah oleh rasa ingin melindungi. Kamu tahu ini berisiko besar. Kalau ada yang melihatmu membawa Park Sunghoon ke rumah sewa murahmu, hidupmu juga akan ikut hancur. Tapi menatap Sunghoon yang hancur begini membuatmu tidak tega meninggalkannya sendirian.
Dengan tangan gemetar, kamu membantu Sunghoon berdiri. Kamu memakaikan kembali maskernya dengan telaten, memastikan tudung hoodienya menutupi seluruh rambutnya. Kamu memapah tubuhnya yang terasa berat namun ringkih itu menuju jalan kecil yang jarang dilalui orang.
Sepanjang jalan menuju rumah sewamu yang berada di lantai atas sebuah gedung tua, kamu terus menunduk, waspada dengan setiap pasang mata atau kamera CCTV yang mungkin menangkap bayangan kalian. Begitu sampai di depan pintu kamarmu, kamu dengan cepat memutar kunci dan membawa Sunghoon masuk, lalu menguncinya rapat-rapat seolah dunia luar adalah ancaman mematikan.
Sunghoon ambruk di atas tempat tidurmu yang kecil. Aroma kamarmu yang sederhana-campuran wangi deterjen dan parfum melati-seolah memberikan ketenangan instan padanya. Di ruangan sempit yang hanya mendapatkan cahaya remang dari lampu jalan di luar jendela, Sunghoon akhirnya melepaskan maskernya dan menarik napas dalam-dalam.
Kamu berdiri mematung di dekat pintu, masih merasa tidak percaya bahwa Park Sunghoonβidol yang kamu pujaβsekarang berada di atas tempat tidurmu. Takut, cemas, tapi di sisi lain, kamu tahu bahwa di sinilah dia merasa aman.
Sunghoon akhirnya menyerah pada rasa lelah dan pengaruh alkohol. Napasnya mulai teratur, berat dan dalam, menandakan ia telah jatuh ke dalam tidur yang sangat lelap di atas tempat tidurmu. Namun, tepat saat kamu menghela napas lega, matamu menyapu sekeliling ruangan-dan jantungmu hampir merosot ke perut.
Dinding kamarmu bukan lagi sekadar dinding. Di sana, wajah Park Sunghoon menatapmu dari berbagai sudut. Poster comeback terakhirnya yang berukuran besar, stiker-stiker kecil di sudut cermin, hingga gantungan kunci yang masih tergantung di tas kerjamu. Semuanya adalah bukti nyata bahwa kamu bukan sekadar "kasir minimarket biasa". Kamu adalah penggemar setianya.
Bodoh, (y/n)! Gimana kalau dia bangun dan lihat semua ini? Dia bakal mikir aku sasaeng yang sengaja menjebaknya!
Dengan panik namun penuh kehati-hatian, kamu mulai bergerak. Kamu mengambil sebuah kardus kosong dari kolong meja dan mulai mempreteli "kuil" kecilmu itu. Kamu mencopot poster-poster itu dengan gerakan setenang mungkin, berusaha agar suara sobekan selotip tidak memecah keheningan malam dan membangunkan pria yang sedang tertidur itu.
Tanganmu gemetar saat melipat poster wajahnya yang tampak begitu bersinar di gambar, sangat kontras dengan sosok asli yang kini bergelung lesu di atas kasurmu dengan hoodie hitam yang masih melekat. Kamu memasukkan semua merchandise, koleksi album, hingga photocard ke dalam kardus, lalu mendorongnya jauh ke dalam lemari pakaian.
Setelah memastikan dinding kamarmu bersih-meskipun sekarang terlihat sangat kosong dan sedikit berbekas selotip-kamu kembali menatap Sunghoon.
Kamu mendekat perlahan, berlutut di sisi tempat tidur. Dalam tidur lelapnya, kerutan di dahi Sunghoon belum sepenuhnya hilang. Ia tampak seperti seseorang yang bahkan dalam mimpi pun masih harus berperang dengan kenyataan pahit. Kamu mengulurkan tangan, nyaris menyentuh helai rambut yang menutupi matanya, namun kamu menariknya kembali sebelum benar-benar menyentuh rambutnya.
Ada dorongan besar untuk mengusap keningnya, menenangkan mimpi buruk yang mungkin sedang ia lalui, tapi kamu menahannya. Kamu tidak ingin terlihat seperti penggemar yang sedang mengambil kesempatan. Bagimu, mendukung Sunghoon selama bertahun-tahun-bahkan sebelum ia dikenal dunia, saat ia masih menjadi atlet yang berjuang di atas es-bukan tentang kepemilikan. Ini tentang melihatnya bahagia. Kamu hanya tidak ingin ia merasa terancam lagi oleh sosok "penggemar" setelah trauma yang baru saja ia alami.
Malam itu, kamu tidur di kursi kayu kecil dengan ke
pala bersandar di meja, membiarkan kasur satu-satunya ditempati oleh sang bintang yang sedang jatuh.
to be continued





Sumpah klo ky gini keinget idol2 yg prnh kena scandal. Bertanya2 apakah scandal mereka real, atau cuma karangan aja? Kalo karangan gimana? Keadaan mereka sehancur ky di cerita ini atau bahkan lebih parah atau ngga? Huhuuu pokoknya sehat2 6 bujang beserta evankuπππ€π€π€
sayangku cintaku, aku sayang dan cinta kamu tulus apa adanya, jikalau kamu melakukan kesalahan yang menurut orang lain fatal, menurutku itu menggemaskan, itu nunjukin kalo kamu memang manusia, dengan itu aku bisa nikahin kamuπ€π€