𓆩♡𓆪
Kamu berdiri dengan tenang, menyesap sisa sampanye di gelasmu sambil memperhatikan sosok pemuda yang sedang meringkuk di lantai lorong VIP Bar yang hanya bisa di akses orang orang papan atas di dunia entertainment yang kebetulan dekat dengan lokasi konser besar yang akan dilaksanakan malam ini.
Lee Heeseung.
Bintang besar yang dipuja satu dunia sekarang cuma kelihatan kayak anak ayam yang kehilangan induk.
Beberapa jam kedepan dia akan tampil di panggung skala stadium yang berisi orang orang penting dan juga puluhan ribu penggemar di sana. Dia datang kesini untuk menenangkan diri.
Napasnya pendek-pendek, tangannya mencengkeram dadanya sendiri. Tragis, tapi sekaligus terlihat sangat manis buat kamu nikmati.
Kamu berjalan mendekat, suara high heels-mu bergema pelan di lorong sepi itu. Kamu berlutut di depannya, aromamu yang seperti campuran musk dan bunga sedap malam langsung menyerang indranya.
“Heeseung? Lo oke?” tanyamu santai, meski kamu tahu persis dia nggak oke.
Heeseung mendongak, matanya merah dan penuh ketakutan. Dia sempat terpaku liat muka kamu—wajah yang baru aja dia liat di sampul majalah dewasa di backstage tadi. Tapi dia langsung berusaha pasang tembok.
“Gue... gue gapapa. Pergi lo,” usirnya ketus, suaranya gemetar. “Jangan panggil staf. Jangan bilang siapa-siapa kalau lo liat gue kayak gini disini.”
Kamu terkekeh pelan, jari telunjukmu mulai berani menelusuri rahangnya yang kaku.
“Galak banget. Padahal karir lo lagi di ujung tanduk, kan? Gue bisa denger suara ketakutan lo dari jarak satu kilometer, Seung. Lo takut besok orang-orang bosen sama lo. Lo takut suara lo tiba-tiba ilang di tengah panggung.”
“Tau apa lo soal gue?!” Heeseung menepis tanganmu kasar, dia mencoba berdiri tapi kakinya lemas. “Lo cuma model. Jangan sok tau soal hidup gue.”
“Gue tau lebih banyak dari yang lo bayangin,” bisikmu, sekarang benar-benar merapat ke arahnya sampai dia nggak punya ruang buat kabur.
Kamu sengaja mengeluarkan aura succubus-mu sedikit demi sedikit.
“Gue bisa bantu lo. Gue bisa bikin lo jadi ‘Dewa’ di atas panggung nanti malam. Nggak akan ada lagi rasa takut, nggak ada lagi gemetar kayak gini. Lo bakal dapet energi yang nggak ada habisnya.”
Heeseung tertawa sinis, meski matanya mulai nggak fokus karena pesonamu. “Bantu? Pakai apa? Duit? Atau lo cuma mau pansos sama gue?”
“Bukan pakai itu,” kamu tersenyum miring, bibirmu hampir menyentuh telinganya.
“Gue butuh energi lo, dan lo butuh karisma gue. Kita barter aja. Syaratnya cuma satu... setiap malam sebelum lo manggung, lo harus ‘setor’ ke gue. Tapi bukan asal main. Gue harus sampai puas karena itu satu-satunya cara energi kita bisa menyatu sempurna. Kalau nggak sampai sana, ritualnya gagal. Lo bakal hancur di panggung nanti. Gimana? Deal?”
Heeseung terdiam. Logikanya bilang ‘lo gila’, tapi tubuhnya mulai bereaksi aneh. Panas yang menjalar dari sentuhanmu bikin dia merasa lebih tenang sekaligus lapar secara bersamaan.
Dia menatap bibirmu, lalu ke matamu yang berkilat aneh.
“Lo... lo gila,” gumamnya, tapi tangannya malah beralih mencengkeram pinggangmu, menarikmu lebih dekat.
“Gue nggak percaya takhayul kayak gitu.”
“Coba aja dulu,” bisikmu penuh kemenangan.
“Kalau nanti lo nggak ngerasa sehebat itu di panggung, lo boleh tinggalin gue.”
Akhirnya, benteng pertahanan Heeseung runtuh.
Dia menyerah pada rasa putus asanya dan pada gairah yang kamu suntikkan ke kepalanya. Dia menarikmu ke dalam ruangan kosong terdekat, mengunci pintunya dengan kasar.
Saat dia mulai menciummu dengan liar dan berantakan karena serangan paniknya berubah jadi nafsv, kamu menahan dadanya.
Kamu menatapnya dengan pandangan yang mendominasi, membuat dia merasa kecil di bawah kendalimu.
“Sstt... pelan-pelan, Sayang,” godamu, suaramu rendah dan sangat s€nsval. “Jangan panggil gue ‘lo’ lagi kalau kita udah di posisi begini. Panggil nama gue seolah lo lagi muja dewa lo.”
“Ngh... (y/n)...” Heeseung mengerang, suaranya serak. Dia benar-benar kehilangan kendali diri.
“Panggil lebih manis lagi, Heeseung. Beg for it. Bilang kalau lo butuh gue buat nyelamatin lo,” perintahmu sambil memberikan rangsangan yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya.
Heeseung sudah benar-benar terbawa arusmu. Dia berlutut di depanmu, matanya yang tadi penuh ketakutan sekarang penuh dengan obsesi padamu. “Tolong gue... (y/n). Gue butuh lo. Tolong... kasih gue energi itu.”
Kamu tersenyum puas. Ikan besarnya sudah masuk perangkap. Mulai malam ini, karirnya, jiwanya, dan tubuhnya adalah milikmu sepenuhnya.
𓆩❦︎𓆪
Kamu menarik Heeseung ke sofa kulit yang ada di sudut ruangan remang-remang itu. Dengan satu dorongan lembut namun penuh kuasa, kamu membuatnya terduduk. Heeseung benar-benar tidak berdaya, matanya yang tadi liar karena panik kini hanya terfokus pada setiap gerak-gerikmu.
Kamu mulai melucuti pakaianmu dengan gerakan yang sangat lambat, membiarkan setiap helai kain jatuh ke lantai, memperlihatkan kulitmu yang seputih porselen di bawah cahaya lampu yang minim.
Heeseung menelan ludah kasar, jakunnya naik turun menahan diri agar tidak terbuai terlalu jauh namun tangannya gemetar saat dia mulai membuka kancing kemejanya sendiri dengan terburu-buru, sampai beberapa kancing terlepas paksa.
“Pelan-pelan, Sayang... lo harus nikmatin setiap detiknya supaya energinya murni,” bisikmu sambil merangkak naik ke pangkuannya.
Kamu membantu melepaskan sisa pakaiannya, membiarkan kulit kalian bersentuhan sepenuhnya.
Panas tubuh Heeseung terasa membakar, adrenalin dan rasa haus akan validasi dalam dirinya menjadi bahan bakar yang sangat lezat bagi insting succubus-mu.
Kamu melihat miliknya yang tegang dan berurat mengeluarkan pre-ejakulasi padahal kamu belum melakukan sesuatu yang lebih. Saat kamu menyentuh miliknya dan menyatukan tubuh kalian pelan, sebuah desahan panjang dan dalam lolos dari bibir Heeseung.
“Ngh... (y/n)... ini... ini gila,” rintihnya, mencengkeram pinggangmu sampai kukunya memutih. Kamu terkekeh menggoda di telinga Heeseung, penyatuanmu berjalan pelan dengan sengaja. Menyiksa Heeseung yang mulai gemetar dan sedikit mengeliat seakan memaksamu lebih dalam mendorongnya hingga batas.
Kamu mulai bergerak dengan ritme yang memabukkan. Ruangan itu hanya diisi oleh suara napas yang menderu dan desahan sensual yang saling bersahutan.
“Liat gue, Heeseung,” perintahmu dengan suara rendah yang bergetar penuh kuasa. “Rasain gimana energi gue masuk ke tiap sel darah lo. Lo bukan cuma Lee Heeseung lagi... lo adalah milik gue.”
Heeseung mengerang keras, kepalanya mendongak ke belakang saat dia merasakan dinding rahimmu meremas miliknya dengan ritme supernatural yang gila.
Heeseung bukan lagi bintang pop yang kaku, dia menjadi pria yang haus, memuja setiap inci tubuhmu. Kamu bisa merasakan aliran energinya mulai terserap ke dalam rahimmu, rasanya sangat kuat—jauh lebih kuat dari manusia mana pun yang pernah kamu temui.
Saking kuatnya energi Heeseung, kamu mulai kehilangan kendali atas penyamaran manusiamu.
Dari tulang ekormu, sebuah buntut dengan ujung berbentuk hati tipis yang lincah menyembul keluar, melilit paha Heeseung dengan posesif.
Sepasang tanduk hitam kecil mulai tumbuh di sela rambutmu, dan tato berbentuk hati di perut bawahmu kini bersinar merah terang, berdenyut mengikuti detak jantung kalian yang sinkron.
Itu bukan lagi sekadar hubungan fisik, dia bisa merasakan sesuatu yang panas dan kental mengalir dari pangkal pahanya menuju dadanya, menyapu bersih semua rasa cemas dan serangan panik yang tadi menyiksanya.
“Heeseung... ah! Dikit lagi... jangan berhenti!” suaramu pecah saat dinding rahimmu mengencang hebat, meremas miliknya dengan kekuatan supernatural yang bikin Heeseung hampir kehilangan kesadaran karena nikmat.
“Ah... (y/n)... gila... gue bisa ngerasainnya,” gumam Heeseung tidak terkendali. Matanya yang biasanya jernih kini berkilat-kilat, terpaku kuat pada tato di perut bawahmu yang bersinar terang setiap kali kamu mencapai puncak.
Kamu mencapai puncak dengan ledakan squirt yang hebat, membasahi sofa kulit itu bersama pelepasan Heeseung di dalam rahimmu yang hangat.
Dia benar-benar terlena. Dia tidak lagi peduli kalau ada staf yang mungkin lewat mencarinya di depan pintu, atau kalau konser harus dimulai lima menit lagi. Di kepalanya, hanya ada rasa nikmat yang menghancurkan dan keinginan untuk terus memuaskanmu agar dia tetap merasa sekuat ini.
Tapi, tepat saat kamu mengira ritual ini selesai, Heeseung justru menggeram rendah. Dia merasakan lonjakan energi yang begitu besar sampai dia tidak mau ini berakhir.
Dalam satu gerakan yang cepat, energinya mudah meledak, Heeseung memutar posisimu. Sekarang dia yang berdiri di antara kedua kakimu, memaksamu mengangkang lebar di atas sofa. Matanya yang berkilat gelap menatap langsung ke arah tanduk dan ekormu tanpa rasa takut—hanya ada obsesi dan pemujaan.
“Gue nggak akan lepasin lo secepat itu, (y/n),” bisiknya serak sebelum kembali menyerangmu dengan tempo yang lebih brutal, membuatmu mendongak dan berteriak karena kenikmatan yang meluap-luap. Untuk pertama kalinya kamu kehilangan sisi dominasimu sebagai succubus.
Saat kamu squirt untuk kedua kalinya di atas sofa itu, tubuh Heeseung tersentak hebat. Dia merasa seolah seluruh dunianya meledak menjadi ribuan keping cahaya. Cairan yang keluar dari tubuhmu meresap ke dalam pori-porinya, membawa kekuatan spiritual yang membuatnya merasa tidak terkalahkan.
Dia terkulai di antara kaki telanjangmu, napasnya memburu, menatapmu dengan pandangan yang benar-benar tunduk. Kamu mengusap rambutnya yang basah kuyup, menarik wajahnya agar sejajar dengan wajah iblismu.
“Sekarang, bangun,” bisikmu sambil mengecup bibirnya yang bengkak. “Lampu panggung udah nyala. Kasih mereka pertunjukan yang nggak akan pernah mereka lupain. Inget, setiap teriakan mereka adalah energi buat gue.”
Heeseung berdiri dengan gerakan yang jauh lebih anggun dan tenang dari sebelumnya. Tidak ada lagi tangan yang gemetar. Dia memakai kemejanya kembali dengan perlahan, matanya menatap cermin, tapi yang dia lihat bukan lagi dirinya yang rapuh. Dia melihat seorang predator.
Sebelum keluar, dia berbalik sebentar, menatapmu yang masih duduk santai di sofa dengan wujud succubus-mu yang perlahan memudar kembali ke wujud manusia.
“Jangan ke mana-mana,” ucap Heeseung datar namun posesif. “Gue bakal balik buat lebih banyak lagi setelah ini.”
Dia melangkah keluar dari bar menuju panggung. Begitu kakinya menginjak lantai stadium, aura hitam yang pekat namun mempesona terpancar dari tubuhnya. Dia tidak hanya bernyanyi malam itu, Heeseung menjerat jiwa ribuan orang hanya dengan satu tatapan, persis seperti cara kamu menjeratnya.
𓆩♡𓆪
Beberapa jam kemudian, di atas panggung besar di depan puluhan ribu orang, Heeseung berubah menjadi sosok yang menakutkan sekaligus mempesona. Karismanya meledak. Suaranya yang tadinya dia takutkan akan hilang, kini terdengar begitu bertenaga sampai getarannya terasa ke tulang belakang setiap penonton. Dia menguasai panggung seolah itu adalah kerajaan pribadinya.
Setiap kali dia menarik nada tinggi atau menatap ke kamera dengan pandangan predatornya, stadium itu seolah akan runtuh karena teriakan penggemar. Heeseung benar-benar takjub pada dirinya sendiri. Dia merasa seperti dewa.
Setelah konser selesai, Heeseung tidak pergi ke pesta perayaan. Dia langsung berlari kembali ke ruang ganti, membanting pintu, dan menemukanmu sedang duduk santai di sana—sudah kembali ke wujud manusia sempurnamu.
Heeseung berlutut di depanmu, menyandarkan kepalanya di pangkuanmu sambil terengah-engah. Keringat membasahi seluruh tubuhnya, tapi matanya tidak bisa lepas darimu.
“Gue... gue nggak bisa balik lagi ke yang dulu, kan?” gumamnya, meraih tanganmu dan mencium telapak tanganmu dengan penuh pengabdian.
“Perasaan tadi... perasaan di atas panggung itu... gue nggak mau itu ilang. Gue butuh lo, (y/n). Gue nggak peduli kalau gue harus terikat selamanya sama lo. Jangan pernah tinggalin gue.”
Kamu tersenyum miring, mengusap rambutnya dengan lembut. Kamu tahu, dia bukan lagi sekadar partner perjanjian. Heeseung sudah menjadi pecandu, dan kamu adalah satu-satunya obatnya.
“Lo nggak akan pernah redup selama lo tetep jadi milik gue, Heeseung,” bisikmu puas.
𓆩❦︎𓆪
TBC





OH MY GOD INI MT PAPORIT