Sharing With Daddy
Heeki
Malam di Bali terasa begitu panjang. Di bawah temaram lampu kamar resort mewah, Heeseung menatapmu dengan binar mata pria dewasa yang sangat tenang. Dia baru saja menyelesaikan urusan kantornya, tapi perhatiannya langsung beralih sepenuhnya padamu.
"Kenapa melamun, Sayang? Sini, duduk dekat aku," panggil Heeseung lembut. Suaranya berat, khas pria usia 40 tahun yang sudah matang.
Kamu mendekat, duduk di tepi ranjang. Sejujurnya, bayangan Rikiโpacarmu di kampus yang menghilang tanpa kabarโmasih sesekali melintas. Riki yang liar, Riki yang selalu menuntut tubuhmu setiap ada kesempatan di kosan dulu. Tapi sekarang, ada Heeseung di depanmu. Suami sahmu yang memperlakukanmu seperti porselen mahal.
"Aku cuma... masih ngerasa kayak mimpi bisa nikah sama kamu, Mas," jawabmu pelan, mencoba tersenyum.
Heeseung terkekeh, tangannya yang besar mengusap pipimu. "Aku tahu perjodohan ini cepat banget. Makanya, aku nggak mau buru-buru. Aku mau kamu nyaman dulu sama aku."
Malam itu, Heeseung menunjukkan sisi "intim" yang berbeda dari Riki. Jika Riki adalah badai yang menghancurkan, Heeseung adalah ombak tenang yang menghanyutkan. Dia menciummu dengan penuh penghormatan, inci demi inci, membiarkanmu mendesah karena perlakuannya yang sangat sabar. Malam pertama kalian di Bali tidak terasa seperti paksaan, melainkan penaklukan perlahan yang membuatmu akhirnya luluh dan mulai melupakan sosok Riki yang temperamental.
๊จ๏ธ
Tiga bulan berlalu. Kamu sudah mulai terbiasa menjadi istri seorang pengusaha besar. Heeseung sangat memanjakanmu, meski dia sibuk, dia selalu memastikan kamu tidak kekurangan apa pun. Sampai suatu hari, Heeseung pulang dengan wajah berseri-seri.
"Sayang, anakku sudah pulang dari magangnya di luar kota. Akhirnya dia mau mampir ke rumah buat ketemu Ibu tirinya," kata Heeseung antusias saat kalian makan malam.
"Oh ya? Bagus dong. Akhirnya aku bisa ketemu dia," jawabmu jujur. Kamu hanya tahu Heeseung punya anak laki-laki, tapi karena dia jarang di rumah dan lebih sering di apartmentnya yanh dekat dengan kampus, kamu belum pernah melihat fotonya.
Pintu depan terbuka. Suara langkah kaki sepatu sneakers terdengar di lantai marmer.
"Dad? I'm home," suara itu... suara yang sangat familiar di telingamu. Jantungmu seolah berhenti berdetak.
Seorang cowok dengan jaket kulit hitam masuk ke ruang makan. Wajahnya yang rupawan, tatapan matanya yang tajam dan sedikit angkuhโitu Riki. Nishimura Riki. Cowok yang terakhir kali menidurimu sebelum perjodohan itu datang. Cowok yang belum sempat kamu putuskan secara resmi.
Heeseung berdiri, merangkul bahu Riki dengan bangga. "Nah, ini anakku, Riki. Ki, kenalin, ini istri Daddy. Mama baru kamu."
Riki tidak bergerak. Matanya yang dingin menatapmu lurus-lurus. Kamu membeku, tanganmu di bawah meja gemetar hebat, mencengkeram kain rokmu sampai kusut.
"Halo," suara Riki terdengar sangat tenang, terlalu tenang. "Jadi ini... pilihan Daddy?"
Heeseung tersenyum tanpa curiga. "Iya. Dia cantik kan? Orangnya lembut banget, kamu pasti betah di rumah sekarang."
Riki melangkah maju, mendekat ke arahmu yang masih duduk mematung. Dia mengulurkan tangannya untuk bersalaman. "Nishimura Riki. Senang akhirnya bisa 'ketemu' secara resmi."
Saat tanganmu menyambut tangannya, Riki meremas jemarimu sedikit lebih kuat dari seharusnya. Ada kilatan amarah, rindu, dan obsesi yang bercampur di matanya, tapi wajahnya tetap datar di depan Heeseung.
"Tangannya dingin banget," celetuk Riki pelan, matanya tidak lepas dari bibirmu yang sedikit bengkakโbekas ciuman Heeseung tadi sore. "Lagi nggak enak badan? Atau... kaget lihat saya?"
"A-aku... cuma sedikit nggak nyangka aja kalau anak Mas Heeseung sudah sebesar ini," jawabmu terbata-bata.
Riki menarik tangannya, lalu duduk di kursi tepat di depanmu. Dia menatap hidangan di meja dengan senyum miring yang ambigu.
"Tenang aja, Dad. Aku bakal sering-sering di rumah mulai sekarang. Kayaknya ada banyak hal yang perlu aku 'urus' lagi di sini," kata Riki sambil melirikmu tajam. "Apalagi soal... berbagi barang kesayangan."
Heeseung tertawa, sama sekali tidak menangkap maksud terselubung anaknya. "Bagus kalau gitu. Biar rumah ini makin ramai."
๊จ๏ธ
Malamnya, saat Heeseung sedang mandi, kamu berdiri di balkon kamar, mencoba mengatur napas yang sesak. Tiba-tiba, pintu kamar terbuka pelan. Kamu pikir itu Heeseung, tapi aroma parfum maskulin yang tajam dan familiar itu membuatmu menoleh cepat.
Riki berdiri di sana, menyandar di bingkai pintu dengan tangan bersedekap.
"Jadi ini alasan kamu hilang tanpa kabar, Sayang?" bisik Riki. Suaranya sekarang berubah, tidak lagi formal seperti di depan ayahnya. Ini suara Riki yang biasa kamu dengar di atas ranjang.
"Ki... pergi dari sini. Daddy kamu ada di dalam," bisikmu ketakutan.
Riki melangkah maju, memojokkanmu di pagar balkon. Dia menghirup aroma lehermu dengan rakus. "Hebat ya. Dari pacar jadi Mama. Daddy tahu nggak kalau 'miliknya' ini sudah sering aku pakai sampai lecet?"
"Cukup, Riki! Kita udah berakhir," kamu mencoba mendorongnya, tapi tenaga Riki jauh lebih kuat.
"Berakhir? Aku bahkan belum pernah bilang mau putus," Riki mencengkeram pinggangmu, menekankan tubuhnya padamu. Di bawah temaram bulan, kamu bisa merasakan kemarahan sekaligus gairah yang menggebu dari tubuhnya. "Nikmatin aja peran kamu jadi istri Daddy yang penurut. Tapi jangan harap aku bakal lepasin kamu gitu aja. Apa yang sudah jadi milikku, bakal tetap jadi milikku... meski aku harus berbagi sama Daddy sendiri."
Riki melepaskanmu tepat saat suara pintu kamar mandi terbuka. Dia tersenyum santai, seolah tidak terjadi apa-apa, lalu melenggang pergi meninggalkanmu yang lemas dengan jantung yang berpacu gila.
Heeseung keluar dari kamar mandi dengan handuk yang tersampir di bahunya, langsung menyadari perubahan atmosfer di dalam kamar. Dia melihatmu berdiri kaku di dekat balkon, wajahmu yang tadinya segar sehabis mandi kini berubah pucat pasi, seolah-olah seluruh darahmu baru saja tersedot keluar.
"Sayang? Kamu kenapa?" Heeseung langsung menghampirimu, langkahnya lebar dan penuh kecemasan. Dia melingkarkan lengannya di bahumu, menarikmu ke dalam pelukan hangat yang aromanya sangat menenangkanโaroma sabun bayi dan parfum mahal.
Kamu tersentak kecil, jantungmu masih berdebar gila karena ancaman Riki barusan. Kamu menyembunyikan wajahmu di dada bidang Heeseung, menghirup napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.
"Eh... Mas," gumammu serak. "Enggak tahu, tiba-tiba kepalaku pusing banget. Kayaknya aku kecapekan."
Heeseung mengelus rambutmu, telapak tangannya terasa hangat di pipimu yang dingin. "Pusing banget? Mau aku panggilin dokter? Atau mau aku pijitin?"
Kamu menggeleng perlahan, makin mengeratkan pelukanmu di pinggangnya. "Enggak usah, Mas. Aku cuma mau... manja-manja sama kamu aja. Boleh kan?" alibimu, mencoba terdengar semanis mungkin meski di dalam hati kamu merasa seperti pendosa paling besar karena baru saja dipojokkan oleh anaknya sendiri di balkon yang sama.
Heeseung terkekeh rendah, suara khas pria matang yang begitu memanjakan telinga. Dia mengecup puncak kepalamu. "Tentu saja boleh. Istriku mau manja kapan pun juga boleh."
Tanpa banyak bicara, Heeseung mengangkat tubuhmu dengan lembutโmembuatmu sedikit melayangโlalu membawamu ke arah ranjang king size mereka. Dia merebahkanmu dengan sangat hati-hati, seolah-olah kamu adalah barang pecah belah. Dia ikut berbaring di sampingmu, menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh kalian berdua, lalu menarikmu ke dalam dekapannya.
"Kebetulan banget kamu lagi manja begini," bisik Heeseung sambil mengelus punggungmu perlahan. "Soalnya besok pagi-pagi sekali aku harus berangkat ke luar kota. Ada proyek baru di Surabaya yang nggak bisa ditinggal. Seminggu, Sayang. Kamu nggak apa-apa kan di rumah sama Riki?"
Mendengar nama Riki, tubuhmu kembali menegang. Seminggu. Tujuh hari tanpa perlindungan Heeseung. Itu artinya kamu akan terjebak di rumah ini hanya berdua dengan serigala berbulu domba bernama Nishimura Riki.
"Seminggu, Mas? Lama banget..." ucapmu, kali ini ketakutanmu beneran nyata, bukan sekadar akting.
"Maaf ya? Nanti aku usahain pulang lebih cepat," Heeseung mencium keningmu, lalu turun ke kelopak matamu, dan berakhir dengan ciuman lembut namun dalam di bibirmu. Ciuman yang penuh kasih sayang, sangat kontras dengan ciuman kasar dan penuh tuntutan yang biasa Riki berikan.
"Tidur ya, Sayang. Good night," bisiknya tepat di telingamu sebelum dia mendekapmu lebih erat, membiarkanmu tenggelam dalam pelukannya.
Kamu memejamkan mata, mencoba tidur, tapi pikiranmu terbang ke kamar sebelah. Kamu tahu, di balik dinding itu, Riki mungkin sedang tersenyum menang. Riki tahu ayahnya akan pergi. Riki tahu kamu akan sendirian. Dan kamu tahu betul, Riki bukan tipe orang yang akan menyia-nyiakan kesempatan emas seperti ini.
๊จ๏ธ
Udara dingin jam tiga pagi menyelimuti kamar, namun hangat tubuh Heeseung yang masih mendekapmu terasa jauh lebih dominan. Heeseung terbangun lebih awal, ia menatap wajahmu yang terlelap dalam remang lampu tidur. Ada rasa berat yang menggelayuti hatinya; seminggu tanpa melihat wajahmu, tanpa aroma tubuhmu, rasanya seperti hukuman bagi pria seusianya yang baru saja menemukan kembali gairah hidup.
Tangannya yang besar mengusap rambutmu yang berantakan di atas bantal, lalu turun ke pipimu, membelainya dengan ibu jari dengan sangat pelan. Hasratnya pagi itu tidak meledak seperti badai, melainkan mengalir tenang namun sangat dalam dan tak terbendung.
"Sayang... bangun sebentar," bisiknya serak tepat di telingamu.
Heeseung mulai menghujani wajahmu dengan ciuman-ciuman kecil. Dari kening, turun ke kelopak mata, hingga ke ujung hidungmu. Kamu melenguh pelan, matamu terbuka sedikit dan menemukan tatapan Heeseung yang begitu intens, penuh dengan kerinduan yang padahal ia belum pun pergi.
"Mas... jam berapa?" tanyamu dengan suara serak khas bangun tidur.
"Masih pagi, tapi aku nggak bisa berhenti lihatin kamu," gumam Heeseung. Ia tidak menunggu jawabanmu lebih lama. Bibirnya segera mempagut bibirmu, awalnya hanya sebuah kecupan lembut yang penuh rasa sayang, namun perlahan berubah menjadi lumatan yang dalam dan menuntut.
Tangan Heeseung bergerak perlahan di balik daster sutramu, mengusap pinggangmu dan naik ke punggungmu, menarikmu agar semakin rapat menempel pada tubuhnya yang sudah panas. Gerakannya sama sekali tidak tergesa-gesa. Ia ingin menikmati setiap inci tubuhmu, menyimpan memorinya baik-baik untuk dibawa pergi ke luar kota nanti.
"Aku bakal kangen banget sama kamu, it hurts just thinking about it," bisiknya di sela-sela ciumannya yang kini berpindah ke lehermu.
Heeseung memberikan hisapan lembut di sana, menciptakan sensasi hangat yang menjalar ke seluruh sarafmu. Kamu hanya bisa melingkarkan lenganmu di lehernya, menariknya lebih dekat. Meskipun ada bayangan Riki yang menghantuimu, sentuhan Heeseung yang begitu menghormatimu sebagai istri selalu berhasil membuatmu luluh.
Dengan gerakan yang sangat sabar, Heeseung memosisikan dirinya di atasmu. Ia menatap matamu dalam-dalam, meminta izin tanpa kata, sebelum akhirnya ia menyatu denganmu dalam ritme yang sangat lambat namun terasa begitu penuh. Kamu memejamkan mata, merasakan setiap pergerakan Heeseung yang penuh perasaanโseolah setiap sentuhannya adalah caranya mengatakan bahwa kamu adalah miliknya, dan hanya miliknya.
"Mas... ahh, pelan banget..." rintihmu pelan.
Heeseung tersenyum tipis, ia mengecup bibirmu berulang kali saat ia terus bergerak dengan konsisten. "Aku mau ini terasa selamanya, Sayang. Aku mau kamu ingat rasa ini sampai aku pulang nanti."
Pagi buta itu, di bawah remang lampu kamar, Heeseung membawamu menuju puncak kenikmatan dengan cara yang paling manis sekaligus menyesakkan dada. Ia mengunci jemarimu dengan jemarinya, tidak membiarkan ada jarak sedikit pun. Saat pelepasan itu datang, Heeseung mendekapmu sangat erat, membenamkan wajahnya di ceruk lehermu sambil membisikkan kata-kata cinta yang membuatmu merasa sangat dicintaiโsekaligus sangat takut akan apa yang menantimu setelah dia pergi.
Suhu di kamar semakin memanas, dan gairah yang sempat mereda sebentar justru kembali menyulut dengan lebih hebat. Rasa heat yang mendadak menyerangmu membuat akal sehatmu sedikit terpinggirkan. Kamu butuh lebih, dan kamu butuh kendali.
"Mas... ganti posisi," bisikmu parau di telinganya.
Heeseung sedikit terkejut, namun ia memberikan senyum tipis yang sangat memuja. "Apapun buat kamu, Sayang."
Dengan gerakan lembut, Heeseung membantumu berpindah hingga kini kamu berada di atas tubuhnya. Posisi Woman on Topโini adalah kali pertama kamu melakukannya sebagai Nyonya Lee yang terhormat. Namun, memori ototmu tidak bisa berbohong. Tubuhmu secara otomatis tahu bagaimana cara bergerak, bagaimana cara menempatkan pinggulmu agar segalanya terasa pas.
Sesaat, kilasan bayangan Riki di kosan sempit dulu melintas di benakmu. Bagaimana Riki biasanya mencengkeram pinggangmu dengan kasar dan menuntutmu bergerak lebih cepat. Bayangan itu membuatmu meremang, namun saat matamu terbuka dan menatap Heeseung, kamu melihat tatapan yang jauh berbeda.
Heeseung menatapmu dengan mata yang penuh rasa kagum, tangannya yang besar merayap naik hanya untuk mengelus pipimu, bukan mencengkerammu.
"Kamu cantik banget dari sini, Y/N," gumam Heeseung, napasnya memburu.
Melihat betapa tulusnya Heeseung memperlakukanmu, rasa bersalah dan keinginan untuk menyenangkannya bercampur aduk. Kamu ingin memberikan kenangan yang tak terlupakan untuk suamimu ini sebelum dia benar-benar pergi dan meninggalkanmu dalam "bahaya" bersama Riki.
Kamu mulai bergerak dengan ritme yang lebih berani. Rambutmu yang berantakan jatuh menutupi wajahmu saat kamu mendongak, menikmati setiap inci penyatuan kalian. Kamu menunduk, mencium bibir Heeseung dengan penuh perasaan, seolah-olah sedang meminta maaf secara diam-diam atas rahasia besar yang kamu simpan.
"Mas... aku sayang kamu," rintihmu di sela-sela gerakanmu yang semakin intens.
Heeseung mengerang rendah, tangannya turun untuk menahan pinggulmu, membantumu mengatur tempo yang semakin liar namun tetap penuh rasa. "Aku lebih sayang kamu, Y/N. Kamu benar-benar bikin aku gila pagi ini."
Ronde kedua ini terasa jauh lebih menguras emosi. Kamu bergerak seolah-olah ini adalah malam terakhirmu bisa bernapas bebas. Di bawah bimbingan tangan Heeseung, kamu mencapai puncakmu dengan suara tangisan kecil yang tertahan, sementara Heeseung menyusulmu tak lama kemudian, mendekapmu sangat erat hingga kamu bisa merasakan detak jantungnya yang menggila di dadamu.
Kamu ambruk di atas dada bidangnya, mencari napas yang seolah habis. Heeseung membelai punggungmu yang berkeringat, mengecup bahumu berkali-kali dengan penuh rasa terima kasih.
"Terima kasih, Sayang. Ini... hadiah keberangkatan terbaik buat aku," bisiknya tulus.
Kamu hanya bisa terdiam, memejamkan mata rapat-rapat. Kamu baru saja memberikan segalanya untuk Heeseung, namun di sudut hatimu yang paling dalam, kamu tahu bahwa saat Heeseung melangkah keluar dari pintu rumah nanti, "permainan" yang sebenarnya dengan Riki baru saja dimulai.
Suasana subuh itu terasa berat. Heeseung sudah rapi dengan setelan jasnya, berdiri di ambang pintu utama. Kamu berdiri di hadapannya dengan daster yang dilapisi outer tipis, mencoba menutupi bekas-bekas kemerahan yang ditinggalkan Heeseung tadi pagi.
"Aku berangkat ya, Sayang. Jaga diri baik-baik," Heeseung mengecup keningmu lama.
Tanpa kamu sadari, Riki sudah berdiri di anak tangga terbawah. Dia memakai kaos hitam polos, rambutnya berantakan, dan matanya yang tajam langsung tertuju pada lehermu yang sedikit terekspos. Dia melihat "tanda" itu.
"Hati-hati, Dad. Jangan khawatir, aku bakal jagain 'Mama' dengan sangat baik di sini," suara Riki terdengar sangat sopan, namun matanya yang menatapmu justru menyiratkan hal sebaliknya.
Heeseung tersenyum, menepuk bahu Riki. "Makasih, Ki. Daddy percaya sama kamu." Begitu mobil Heeseung keluar dari gerbang, senyum di wajah Riki langsung hilang, digantikan oleh seringai yang membuat bulu kudukmu meremang. Kamu berbalik untuk masuk, tapi Riki sengaja berpapasan dengannya di koridor sempit, menyenggol bahumu dengan keras.
"Wangi Daddy nempel banget di kamu. Jijik banget," bisiknya tepat di telingamu sebelum dia melenggang pergi.
๊จ๏ธ
Kamu mencoba menyibukkan diri di dapur, berharap dengan tetap sibuk, kamu bisa menghindari Riki. Namun, saat kamu sedang menuang air minum, Riki muncul dan langsung bersandar di meja makan, menghalangi jalanmu.
"Gimana rasanya tadi pagi? Enak?" tanya Riki tiba-tiba dengan nada santai, seolah menanyakan cuaca.
"Riki, jangan mulai. Hormati aku, aku istri Daddy kamu," jawabmu dengan suara gemetar.
Riki tertawa renyah, tawa yang dulu sangat kamu sukai tapi sekarang terdengar mengancam. Dia mendekat, mengurungmu di antara tubuhnya dan meja dapur. "Istri? Kamu itu pacarku yang belum sempat aku putusin. Daddy cuma 'pinjam' sebentar, tapi kelihatannya dia pakai kamu terlalu kasar."
Jemari Riki yang dingin menyentuh bekas kemerahan di lehermu, menekannya sedikit hingga kamu meringis. "Tanda ini... kelihatannya nggak cocok di kamu. Harusnya punyaku yang ada di sini."
"Lepasin, Ki! Aku bakal lapor Heeseung!"
"Lapor aja. Tapi jangan lupa bilang sama dia, kalau malam ini kita bakal lanjutin apa yang kita tunda tiga bulan lalu," Riki menjauhkan wajahnya, menatapmu dengan binar obsesif. "Siap-siap ya, Sayang. Seminggu ini... kamu punya aku sepenuhnya."
Malam harinya, kamu mengunci pintu kamar utama rapat-rapat. Kamu merasa sedikit aman di dalam sana, merindukan dekapan hangat Heeseung. Namun, sekitar jam 11 malam, terdengar suara klik yang halus.
Pintu terbuka. Riki masuk dengan santainya, memutar kunci cadangan di tangannya. Dia hanya memakai celana training abu-abu, bertelanjang dada, memperlihatkan tubuhnya yang jauh lebih muda dan kencang dibanding Heeseung.
"Kok dikunci? Takut ya?" Riki berjalan mendekati ranjang, menatapmu yang sudah meringkuk ketakutan di bawah selimut.
"Keluar, Riki! Ini kamar Daddy kamu!"
Riki duduk di tepi ranjang, membuat kasur itu sedikit amblas. Dia menarik paksa selimutmu. "Tadi pagi kamu main sama Daddy di sini, kan? Aku denger semuanya dari kamar sebelah. Gimana kamu teriak panggil nama dia... jujur, itu bikin aku panas."
Riki merangkak naik ke atas kasur, memposisikan dirinya tepat di atasmu, menindihmu dengan berat tubuhnya yang sangat kamu kenali. "Tadi pagi sama Daddy, sekarang giliranku. Aku mau hapus semua jejak pria tua itu dari badan kamu, Y/N. Mulai dari detik ini, jangan berani sebut nama dia di depan aku."
Tanpa menunggu jawaban, Riki membungkam bibirmu dengan ciuman yang sangat kasar dan penuh tuntutanโsangat kontras dengan kelembutan Heeseung tadi subuh.
Ini bukan lagi permintaan izin, ini adalah klaim sepihak. Dan di bawah kuasa Riki, tubuhmu mu
lai mengkhianati akal sehatmu, mengingat kembali setiap inci sentuhan pria muda yang masih menjadi "pacarmu" ini.
๊จ๏ธ
to be continued


