Dingin Seoul di bulan November ternyata tidak sebercanda itu. Di depan gerbang universitasnya, kamu berdiri dengan tangan yang gemetar-bukan hanya karena suhu yang menusuk tulang hingga ke sumsum, tapi karena kotak bekal hangat di pelukanmu.
Kamu membayangkan wajah Sunoo. Bayangan senyumnya adalah satu-satunya navigasi yang membawamu terbang ribuan kilometer ke sini tanpa kabar.
Lalu, dia muncul.
Sunoo berjalan keluar dengan jaket padding hitam yang menelan tubuh ringkihnya. Dia tidak sendirian. Ada tawa yang lepas dari bibirnya, jenis tawa yang tidak pernah sampai ke telingamu lewat panggilan video call yang seringkali terputus sinyal.
“Sunoo?” suaramu serak, kalah oleh deru angin.
Dia menoleh. Duniamu runtuh saat melihat binar matanya meredup seketika. Tidak ada pelukan yang kamu dambakan. Yang ada hanyalah sunyi yang membentang, lebih luas dari jarak Jakarta-Seoul yang baru saja kamu lalui.
“Lho? Kok... kamu di sini?”
Suaranya datar. Sangat biasa. Seolah kamu hanyalah tetangga yang tidak sengaja berpapasan di depan minimarket, bukan kekasih yang menghabiskan tabungan setahun demi sebuah kejutan.
“Aku mau kasih kejutan, Nu. Aku baru sampai tadi pagi,” jawabmu, mencoba menahan air mata agar tidak membeku di pipi.
Sunoo menghela napas panjang, kepulan uap keluar dari mulutnya. Dia menatap temannya sejenak, memberi isyarat untuk pergi duluan, lalu kembali menatapmu dengan sorot mata yang paling asing yang pernah kamu lihat.
“Harusnya kamu bilang, (Y/N). Aku lagi sibuk banget. Hari ini aku ada janji, besok juga. Kamu... kamu ke sini malah bikin semuanya jadi rumit.”
Detik itu, kamu sadar. Kejutan ini bukan hadiah untuknya. Ini adalah hukuman untukmu. Kamu datang untuk menjemput rindu, tapi justru menemukan bahwa tempatmu di hidupnya sudah lama dikosongkan tanpa pemberitahuan.
Kotak bekal di pelukanmu perlahan kehilangan uapnya. Tadi pagi, kamu memasaknya dengan sisa tenaga setelah penerbangan sepuluh jam-tumis daging kesukaannya yang bumbunya kamu bawa langsung dari dapur rumah. Sekarang, lemaknya mulai memutih, membeku, persis seperti suasana di antara kalian.
Sunoo melirik jam tangannya. Bukan jam tangan lama pemberianmu, tapi sebuah jam pintar baru dengan strap kulit yang tampak mahal.
“Kamu nginep di mana, (Y/N)?” tanyanya tanpa menatap matamu. “Hotel? Atau Airbnb? Sendirian?”
“Aku... aku belum kepikiran, Nu. Tadinya aku pikir aku bisa mampir ke tempatmu dulu, sekalian...”
“Tempatku nggak bisa,” potongnya cepat. Terlalu cepat. “Udah penuh buku, lagi berantakan banget karena aku lagi ngerjain proyek bareng tim. Lagian, aku nggak enak sama teman-teman kalau tiba-tiba bawa orang asing-maksudku, bawa tamu tanpa bilang dulu.”
Orang asing. Kata itu menghantam dadamu lebih keras daripada turbulensi pesawat tadi malam.
“Oh,” hanya itu yang keluar dari bibirmu. Kamu meremas pinggiran kotak bekal itu sampai jarimu memutih. “Maaf ya, aku ganggu jadwalmu.”
Sunoo menghela napas, kali ini terdengar seperti orang yang sedang menghadapi masalah logistik yang merepotkan.
“Gini aja, aku pesenin taksi ya? Aku kasih alamat hotel yang deket kampus. Kamu istirahat di sana. Aku beneran nggak bisa nemenin sekarang, ada meeting jam lima.”
Dia mengeluarkan ponselnya, jemarinya lincah mengetik di layar-gerakan yang sangat biasa, namun terasa seperti dia sedang mengusirmu secara halus dari radarnya.
“Nu,” panggilmu lirih. “Kamu nggak mau tanya... gimana kabarku? Atau seenggaknya, gimana perjalananku ke sini?”
Sunoo berhenti mengetik. Dia menatapmu, tapi matanya kosong. Hanya ada kelelahan di sana, bukan rindu.
“Perjalananmu pasti capek, kan? Makanya aku suruh istirahat. Kabar kita bisa bahas nanti... kalau aku ada waktu luang. Oke?”
Taksi datang. Warna oranyunya tampak mencolok di antara abu-abunya Seoul. Sunoo membukakan pintu untukmu-sebuah gestur sopan yang terasa sangat asing karena biasanya dia akan menggandeng tanganmu lebih dulu.
“Masuk deh, biar nggak makin kedinginan. Kabari kalau udah sampai hotel.”
Pintu tertutup. Dari balik kaca jendela yang mulai berembun karena napasmu, kamu melihat Sunoo berbalik badan tanpa menoleh lagi. Dia kembali berjalan masuk ke gedung kampusnya, menembus kerumunan orang, dan menghilang.
Kamu sendirian di kursi belakang taksi, memeluk kotak bekal yang sekarang sudah benar-benar dingin. Bau makanannya tercium samar, dan mendadak kamu merasa mual. Ternyata benar, jarak yang paling jauh bukan tentang kilometer, tapi tentang sepasang mata yang menatapmu namun tidak lagi melihatmu di masa depannya.
(Flashback - Satu Bulan Lalu)
“Nanti kalau kamu beneran ke sini, aku nggak akan lepasin kamu sedetik pun. Kita bakal keliling Seoul sampai kaki kamu pegel, terus aku bakal pesenin cokelat panas paling enak yang pernah ada. Janji ya?” Suara Sunoo di seberang telepon malam itu terdengar begitu dekat, seolah napasnya menyapu telingamu.
Kamu memeluk guling, tersenyum menatap langit-langit kamar di Jakarta, membayangkan jemarinya yang hangat akan menaut jemarimu di bawah salju pertama.
(Kembali ke Realitas - Di Dalam Taksi)
Nyatanya, salju pertama baru saja turun, dan jemarimu membeku sendirian di kursi belakang taksi. Tidak ada cokelat panas. Yang ada hanya kotak bekal dingin yang aromanya mulai membuatmu mual-aroma harapan yang basi.
Kamu menunduk, menatap layar ponsel yang gelap. Satu notifikasi masuk. Bukan dari Sunoo. Hanya pesan otomatis dari operator seluler yang menyambutmu di negara ini. Kamu tertawa getir. Ternyata, mesin lebih peduli pada kedatanganmu daripada laki-laki yang baru saja memesankanmu taksi untuk pergi menjauh darinya.
(Flashback - Dua Minggu Lalu)
“Aku kangen, (Y/N). Rasanya jarak ini makin lama makin nggak masuk akal. Kenapa sih kita harus sejauh ini?”
(Kembali ke Realitas)
“Jaraknya memang nggak masuk akal, Nu,” bisikmu lirih pada kaca jendela yang berembun. “Bahkan saat aku sudah berdiri di depan matamu, jarak kita tetap nggak masuk akal.”
Kamu membuka tutup kotak bekal itu. Mengambil sepotong daging dengan tangan gemetar, lalu memakannya. Rasanya hambar. Dingin. Dan sulit ditelan, persis seperti kenyataan bahwa kamu sudah kalah. Kamu menghabiskan sisa perjalanan dengan mengunyah air mata dan masakan yang sudah kehilangan nyawanya.
(Kembali ke Realitas - Di Dalam Taksi, Seoul)
Taksi itu terjebak lampu merah. Kamu menatap layar ponselmu yang masih gelap, berharap ada satu saja pesan penyesalan dari Sunoo. “Maaf, tadi aku cuma kaget,” atau “Tunggu di hotel, aku ke sana.”
Tapi yang muncul justru sebuah notifikasi Instagram story Sunoo.
Tanganmu bergetar hebat saat membukanya. Itu adalah Instagram Story dari teman perempuan yang tadi jalan bersamanya, Dia menandai Sunoo. Di sana, mereka sedang duduk di sebuah kafe estetik dengan pencahayaan hangat. Sunoo sedang tertawa, matanya menyipit membentuk bulan sabit-jenis tawa yang dulu hanya milikmu.
Keterangan fotonya singkat, namun cukup untuk membunuhmu:
“Finally, coffee break after a long day! Thanks for the treat, Sunoo-ya! ☕✨”
Hanya sepuluh menit setelah dia mengusirmu dengan alasan “sibuk banget” dan “ada meeting”. Ternyata, dia punya waktu. Dia hanya tidak punya waktu untukmu.
Kamu menatap pantulan wajahmu di layar ponsel. Rambutmu berantakan karena penerbangan jauh, matamu sembab, dan wajahmu pucat. Kamu terlihat seperti pengemis cinta di tengah kota yang tidak menginginkanmu.
“Pak, berhenti di depan saja,” ucapmu pada supir taksi dalam bahasa Korea yang terbata-bata.
Kamu turun di pinggir jalan antah berantah. Kamu berjalan menuju tempat sampah besar di sudut gang, lalu melempar kotak bekal itu ke sana.
Buk.
Suara jatuhnya kotak itu terdengar final. Perjuanganmu, bumbu dapur yang kamu bawa dari rumah, dan cintamu yang selama ini kamu rawat, berakhir di antara tumpukan limbah kota.
Kamu mengirimkan satu pesan terakhir sebelum mematikan ponsel:
“Aku udah di hotel. Makasih taksinya. Maaf sudah jadi interupsi di hari sibukmu. Aku pulang besok pagi.”
Sunoo hanya membalas: “Oh, oke. Hati-hati di jalan ya. Sorry nggak bisa antar ke bandara.”
Tidak ada pertanyaan “Kenapa cepat banget?”. Tidak ada keberatan. Dia justru merasa lega karena interupsi itu berakhir lebih cepat dari dugaannya.
(Di dalam taksi menuju bandara - esok paginya)
Kamu tidak pergi ke hotel. Semalaman kamu hanya duduk di kursi kayu sebuah taman kecil yang sepi, membiarkan salju tipis mengubur sepatu ketsmu.
Kamu menunggu ponselmu bergetar. Kamu menunggu dia merasa bersalah. Kamu menunggu dia menyadari bahwa kekasihnya sedang sendirian di kota asing yang membeku.
Sampai fajar menyingsing, layar itu tetap gelap.
Di dalam taksi menuju Incheon, kamu mencoba meneleponnya sekali lagi. Hanya sekali.
“Halo?” suara Sunoo terdengar serak, khas orang yang baru bangun tidur. Suaranya hangat, namun kehangatan itu bukan untukmu. Itu adalah sisa-sisa mimpinya yang tidak melibatkanmu.
“Nu, aku udah di jalan ke bandara,” ucapmu. Suaramu kosong, sudah habis terbakar tangis semalam.
“Oh... pagi banget? Aku baru mau siap-siap ke kampus.” Ada suara gesekan selimut di seberang sana.
“Ya udah, hati-hati ya. Maaf ya (Y/N), minggu ini beneran chaos banget. Nanti kalau aku senggang, aku telepon.”
“Nu,” potongmu pelan. “Kamu tahu nggak, aku ke sini pakai uang tabungan yang harusnya buat aku bayar semesteran?”
Hening sejenak.
“Kenapa kamu nekat banget, sih? Aku kan nggak pernah minta kamu dateng,” jawabnya, kali ini dengan nada kesal yang jujur.
“Sekarang kamu malah bikin aku ngerasa bersalah, padahal aku lagi fokus buat masa depan aku di sini. Kamu egois kalau caranya begini.” Egois. Kata itu menjadi paku terakhir di peti mati hubungan kalian.
“Iya, aku egois,” bisikmu. “Aku egois karena ngira aku masih punya rumah di hati kamu. Ternyata aku cuma tamu yang nggak diundang, ya?”
Sunoo tidak menjawab. Heningnya di seberang sana adalah jawaban paling jujur yang pernah dia berikan. Dia tidak membantah. Dia tidak menahanmu.
“Aku pergi ya, Nu. Jangan telepon lagi. Fokus aja sama masa depanmu. Aku nggak mau jadi variabel yang ngerusak rencana masa depan kamu yang udah kamu susun rapi lagi tanpa aku di dalamnya. Selamat tinggal.”
Kamu mematikan sambungan sebelum dia sempat membalas-atau mungkin, sebelum kamu menyadari bahwa dia memang tidak akan membalas apa-apa.
Kamu melepaskan kartu SIM Korea yang baru kamu beli kemarin, mematahkannya menjadi dua, dan membuangnya ke lantai taksi.
Selesai. Hubungan bertahun-tahun itu mati bukan dengan ledakan, tapi dengan hening yang mencekik di sebuah taksi menuju bandara.
(Jakarta - Setahun Kemudian)
Kereta Commuter Line melaju membelah mendung Jakarta. Kamu berdiri bersandar pada pintu kaca, menatap refleksi dirimu sendiri.
Ponselmu bergetar. Sebuah notifikasi muncul. Bukan pesan, bukan telepon. Hanya sebuah pengingat otomatis dari aplikasi galeri foto: “Kenangan Hari Ini - 1 Tahun Lalu”.
Layarnya menampilkan foto kakimu yang terkubur salju tipis di taman Seoul. Foto yang kamu ambil saat kamu menunggu seseorang yang tidak pernah datang.
Dulu, melihat foto itu akan membuatmu merasa seperti ditarik kembali ke dasar samudera. Sekarang? Kamu hanya menatapnya dengan datar. Kamu menekan tombol ‘Hapus’, lalu ‘Bersihkan Sampah’.
Seorang remaja di sebelahmu sedang menangis sesenggukan sambil menatap layar ponselnya, mungkin baru saja diputuskan. Kamu melihatnya dan ingin sekali berbisik: “Nanti juga napasmu nggak sesak lagi. Nanti juga kamu bakal lupa rasanya mohon-mohon sama orang yang bahkan nggak peduli kamu masih hidup atau nggak.”
Tapi kamu diam. Kamu hanya membetulkan posisi earphone-mu, memutar lagu dengan tempo paling cepat yang kamu punya, dan melangkah keluar saat pintu kereta terbuka.
Kamu berjalan di antara kerumunan orang, membawa luka yang sudah dijahit rapi oleh waktu. Kamu tidak lagi mencintainya, tapi kamu juga tidak akan pernah menjadi orang yang sama lagi. Kamu adalah versi dirimu yang baru-yang tahu bahwa jarak terjauh di dunia ini bukan Jakarta-Seoul, tapi dua orang yang saling menatap namun tak lagi memiliki ruang di hati masing-masing.
To Be Continued
;
“Pada akhirnya, aku pulang bukan membawa pelukan, melainkan membawa sunyi yang membeku. Hidup memang tetap berjalan, tapi ada satu bagian dari diriku yang tertinggal di sebuah taksi di Seoul-terjebak di sana selamanya, menunggu seseorang yang tak pernah menoleh saat aku pergi.”
.
I’m glad you stuck around until the end of this story.





loveeee thaaaaat