Pet
JaySunWon
Pagi itu, sedan hitam mewah berhenti dengan halus di depan gerbang tinggi sekolah khusus perempuan. Hari ini adalah hari pertamamu di semester kedua kelas tiga. Di dalam mobil, suasana masih terasa sangat protektif, hampir seperti pelukan yang terlalu erat hingga membuatmu sedikit sulit bernapas.
“Jangan melamun terus di kelas. Kalau ada apa-apa, langsung telepon aku atau Jungwon, oke?” Sunoo mengusap pipimu dengan ibu jarinya, lalu memberikan ciuman singkat di pipi kananmu. Ia menatapmu sejenak, merapikan anak rambutmu dengan tatapan yang seolah ingin memindai setiap pikiran yang melintas di kepalamu.
“Dan jangan sampai orang terlalu dekat sama kamu,” tambah Jungwon dari sisi lain. Ia menarik tanganmu, memberikan ciuman lembut di pipi kirimu, lalu mengusap puncak kepalamu penuh sayang. “Dunia luar itu nggak seaman rumah, (y/n). Orang bisa jadi jahat banget tanpa alasan jelas.”
Kamu tersenyum, merasa sangat dicintai oleh dua kakak kandungmu ini. “I know, Kak. Aku kan sudah besar sekarang.”
Namun, begitu kamu melangkah masuk ke koridor sekolah, “dunia luar” yang diperingatkan Jungwon langsung menyambutmu. Di depan loker, Isa sudah menunggu dengan tatapan meremehkan.
“Cih, drama pagi yang menjijikkan,” cibir Isa saat kamu lewat. Ia sengaja menabrak bahumu cukup keras, membuat buku-buku yang kamu peluk terjatuh ke lantai.
“Masih betah akting jadi boneka mahal? Padahal kalau boneka itu rusak, tidak ada gunanya lagi.”
Kamu terdiam, segera berlutut untuk memunguti buku-bukumu. Kamu teringat kata-kata Isa kemarin yang menyebutmu “anak pungut”. Dia cuma iri, bisikmu dalam hati.
Kamu tahu Isa mengincarmu karena sejak kelas satu dia sangat menyukai kakak kembarmu namun selalu diabaikan. Kamu berusaha meyakinkan dirimu sendiri bahwa kamu benar-benar darah daging keluarga Park, bukan seperti yang dia tuduhkan.
Kamu memilih tidak membalas. Kamu takut jika masalah ini membesar, Papa Jay akan kecewa atau lebih parah lagi—dia akan melarangmu sekolah dan mengurungmu di rumah demi “keamananmu”.
ִֶָ. ..𓂃 ࣪ ִֶָ🪽་༘࿐
Sore harinya, saat pulang sekolah, suasana berubah dingin. Bukan karena AC mobil, tapi karena rasa takut yang mulai menjalar di nadimu. Di ujung lorong sekolah tadi, Isa benar-benar bertindak jauh. Ia menjegal langkahmu hingga hampir tersungkur, lalu dengan kasar menarik ujung pita rambutmu—pita yang tadi pagi dipasangkan Jungwon dengan sangat telaten—hingga terlepas dan kusut.
“Kamu itu cuma anak pungut, (y/n). Kamu cuma mainan yang kebetulan ditaruh di etalase kaca. Terus kalau mereka bosan, kamu bakal dibuang ke tempat sampah,” bisikan Isa masih terngiang, lebih menyakitkan daripada lebam di lenganmu saat Isa mencengkramnya kuat yang kini tertutup seragam.
Sesampainya di rumah langit sudah gelap, kamu berusaha bersikap senormal mungkin. Kamu tidak langsung ke kamar melainkan pergi ke perpustakaan pribadi keluarga lalu duduk di sofa baca, mencoba membaca buku untuk mengalihkan pikiranmu dari kejadian tadi pagi. Hingga tak terasa malam pun tiba.
“Ayo turun, sudah waktunya makan malam,” suara Jungwon mengejutkanmu. Ia sudah berdiri di lengan sofa, sangat dekat. Matanya mengamati setiap inci wajahmu, seolah mencari noda yang tak seharusnya ada di sana. Saat tanganmu bersambut dengan tangannya, ia meremas jemarimu perlahan, memastikan kamu tidak akan lari.
Di ruang makan, Jay sudah menunggu. Pria itu menatapmu dengan binar bangga yang sangat dalam—terlalu dalam. “Putri Papa cantik sekali malam ini,” ucapnya pelan sambil mengusap kepalamu.
“Papa selalu puji aku cantik, apa nggak bosan?,” kamu mencoba bercanda untuk menutupi kegugupanmu karena takut ketahuan jika putrinya ini baru saja menjadi bahan bullying di sekolah.
“Kamu selalu cantik, Sayang. Papa nggak akan pernah bosan bilang.” Jay mengusap kepalamu dengan penuh sayang saat dia menarikmu mendekat duduk di kursi di sisi kanan yang biasanya diduduki Jungwon. Sementara, kalian tukar posisi.
“Tumbuhlah dengan baik, (y/n). Papa dan kakak-kakakmu akan memastikan duniamu tetap sempurna.”
Kamu tersenyum manis. Kata-kata Jay selalu memiliki sihir yang membuatmu terus percaya, meski pergelangan tanganmu terasa perih. Kamu berusaha menggerakkan tangan sealami mungkin agar lengan seragammu tidak tersingkap.
Namun, di tengah keheningan makan malam yang biasanya tenang, Sunoo berhenti mengunyah. Matanya tertuju pada rambutmu yang kini dibiarkan terurai tanpa hiasan apa pun.
“Pita rambut yang Jungwon pasang tadi pagi mana, (y/n)?” tanya Sunoo. Suaranya datar, hanya bertanya seperti biasa, tapi cukup untuk membuatmu membeku.
“Oh, itu... kayaknya jatuh di sekolah, Kak. Tadi aku agak buru-buru pas pindah kelas,” jawabmu, berusaha menjaga nada suaramu agar tidak bergetar.
Jungwon yang duduk di sampingmu tidak berkomentar. Namun, matanya yang tajam tidak sengaja menangkap gerakanmu yang refleks menutupi lengan kiri dengan tangan kanan di bawah meja. Tanpa aba-aba, Jungwon mengulurkan tangan dan menarik pergelangan tanganmu.
“Kak, sakit—” ringismu tertahan.
Jungwon tidak melepaskannya. Ia justru menyingsingkan lengan seragammu ke atas, mengungkap memar kebiruan yang kontras di kulit putihmu. Sunoo langsung terdiam, matanya menyipit menatap luka itu.
Jay yang tadinya sedang menyesap minumannya, meletakkan gelasnya pelan. Ia tidak berteriak atau marah-marah. Ia hanya mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menatap memar di lenganmu dengan ekspresi yang sulit dibaca.
“Itu bukan luka karena jatuh, (y/n),” ujar Jay tenang. Terlalu tenang. “Ada bekas kuku di sana. Siapa yang nyakar kamu?”
“Nggak ada, Pa. Tadi cuma nggak sengaja kena pinggiran meja pas aku lari—”
“Jangan bohong,” potong Jungwon, jemarinya mengusap pinggiran lebam itu dengan tekanan yang membuatmu meringis lagi. “Ini bekas tangan orang. Ada yang menyentuh kamu di sekolah?”
Sunoo menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat tangan di dada. Matanya kini menatapmu dengan sorot kecewa yang justru terasa lebih menyesakkan daripada kemarahan.
“Kenapa nggak cerita? Kamu tahu kan kita nggak suka kalau kamu nutup-nutupin sesuatu kayak gini?”
“Aku cuma nggak mau Papa sama Kakak khawatir, ini masalah kecil kok,” gumammu pelan, mencoba menarik tanganmu kembali, tapi Jungwon masih menahannya.
Jay menarik napas panjang, lalu mengusap wajahmu dengan lembut, seolah ingin menghapus rasa takutmu. “Masalah kamu adalah masalah Papa juga. Kamu itu satu-satunya anak perempuan di rumah ini. Papa nggak akan biarkan ada orang luar yang bikin putri Papa pulang dengan luka kayak begini.”
Jay menatap Sunoo dan Jungwon sekilas. Tatapan mereka bertemu dalam sebuah pemahaman yang tidak kamu mengerti.
“Besok nggak usah sekolah dulu. Istirahat di rumah sampai lukanya hilang,” lanjut Jay dengan nada yang tidak bisa dibantah.
“Tapi, Pa, besok ada ujian—”
“Nanti Papa yang urus ke kepala sekolah,” potong Jay final. “Makan malamnya diselesaikan, habis ini Sunoo yang obati lukamu di kamar. Jangan ada yang disembunyikan lagi, ya?”
Kamu hanya bisa menunduk, menatap piringmu yang masih penuh. Ketakutan terbesarmu terjadi, satu luka kecil sudah cukup bagi mereka untuk mulai menarikmu kembali ke dalam rumah, menjauh dari dunia luar yang menurut mereka tidak aman.
ִֶָ. ..𓂃 ࣪ ִֶָ🪽་༘࿐
Pintu kamarmu tertutup dengan bunyi klik yang halus, tapi bagimu itu terdengar seperti pintu penjara yang terkunci. Sunoo datang membawa kotak obat, sementara Jungwon berdiri di dekat pintu, melipat tangan di dada sambil terus mengawasimu dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Sini,” perintah Sunoo lembut sembari menepuk sisi ranjang di sebelahnya.
Kamu duduk dengan kaku. Sunoo mulai mengoleskan salep dingin pada lebam di lenganmu. Gerakannya sangat telaten, seolah ia takut kulitmu akan hancur jika ditekan terlalu keras.
“Siapa, (y/n)?” tanya Jungwon tiba-tiba dari posisinya berdiri. Suaranya rendah, tidak menuntut tapi sangat menekan. “Nggak mungkin meja sekolah bisa bikin bekas kuku sedalam ini.”
Kamu menggigit bibir bawahmu, tetap menatap lantai. “Aku nggak tahu, Kak. Mungkin pas di kantin tadi desak-desakan, aku nggak sadar siapa yang kena.”
Sunoo menghentikan gerakannya. Ia mendongak, menatap matamu dalam-dalam. “Kamu nggak pernah jago bohong sama kami. Kenapa harus dilindungi orang yang sudah bikin kamu sakit?”
“Aku nggak lindungi siapa-siapa, Kak Sunoo. Benar-benar nggak ada apa-apa,” jawabmu bersikeras. Kamu tahu, sekali nama Isa keluar dari mulutmu, hidup gadis itu—dan kebebasan sekolahmu—akan berakhir saat itu juga.
Sunoo menghela napas pendek, lalu menutup kembali kotak obatnya. Ia tampaknya mengalah, walau kamu tahu ini hanya gencatan senjata sementara.
Jungwon kemudian bergerak menuju lemarimu, membukanya dengan santai seolah itu lemari miliknya sendiri, dan mengambil sepasang piyama satin tipis.
“Ganti bajumu,” kata Jungwon sambil meletakkan piyama itu di sisi ranjang.
“Kalian... nggak keluar?” tanyamu ragu.
“Malam ini aku dan Kak Sunoo akan tidur di sini bersamamu,” ucap Jungwon datar, seolah itu adalah keputusan paling logis di dunia.
“Tapi, Kak... aku udah besar, bukan bocah lima tahun lagi yang harus ditemani tidur,” bantahmu dengan suara yang lebih mirip cicitan anak kecil yang sedang merajuk. Kamu merasa privasimu mulai terkikis habis.
“Nggak ada tapi-tapian, (y/n). Kami cuma mau mastiin tidurmu lelap dan nggak mimpi buruk seperti hari-hari yang lalu,” sahut Sunoo. Ia mengusap pipimu, memberikan sengatan nyaman yang aneh, sejenis rasa aman yang dibalut dengan rasa posesif yang kuat.
Kamu akhirnya mengembuskan napas panjang, menyerah pada keinginan mereka. Kamu berganti pakaian di balik walk-in closet, lalu kembali ke ranjang.
Malam itu, kamu berbaring di tengah, diapit oleh dua tubuh yang jauh lebih besar dan kuat darimu. Sunoo memelukmu dari samping, sementara Jungwon menggenggam tanganmu yang terluka, seolah mereka sedang menjaga aset paling berharga yang pernah mereka miliki.
Di kegelapan kamar, kamu hanya bisa menatap langit-langit, menyadari bahwa semakin kamu mencoba menyembunyikan luka dari dunia luar, semakin erat mereka mengikatmu di dalam rumah ini.
ִֶָ. ..𓂃 ࣪ ִֶָ🪽་༘࿐
Hanya butuh waktu kurang dari dua puluh empat jam bagi dunia Isa untuk hancur berkeping-keping.
Hari yang seharusnya menjadi persiapan fokus kelulusan bagi kelas 3, justru menjadi hari terakhir Isa menginjakkan kaki di gedung yayasan Park.
Berkas-berkas perundungan yang ia lakukan padamu sejak kelas 1—yang selama ini kamu kira tersembunyi rapat—tiba-tiba tersaji di meja kepala sekolah dengan bukti foto dan saksi yang tak terbantahkan. Isa dikeluarkan tanpa hormat (DO) saat itu juga.
Namun, hukuman Isa hanyalah permukaan dari badai yang sesungguhnya.
Saat kamu duduk di ruang tengah, menikmati strawberry with chocolate—cemilan kesukaan Jungwon yang juga sekarang menjadi favoritmi—di bawah pengawasan Sunoo, berita di televisi menampilkan wajah ayah Isa yang sedang digiring petugas. Ternyata, ini jauh lebih dalam daripada sekadar kecemburuan remaja. Ayah Isa, yang selama ini menjadi rekan bisnis kepercayaan Papa Jay, terbukti menjadi dalang di balik hilangnya setengah saham perusahaan dan penggelapan dana masif untuk memfitnah Jay.
“Dunia luar itu kotor, (y/n). Itulah kenapa Papa selalu bilang, hanya di rumah ini kamu benar-benar aman,” ujar Jay sambil melipat koran paginya dengan tenang, seolah kehancuran satu keluarga di luar sana hanyalah berita cuaca baginya.
Kekacauan media yang mengincar keluarga Jay membuat pengawasan terhadapmu semakin ketat selama beberapa tahun. Kamu nyaris tidak pernah keluar tanpa pengawalan atau kehadiran si kembar. Kamu menghabiskan masa remajamu dalam kekangan posesif keluarga, terlindungi dari jepretan kamera dan niat jahat orang-orang yang ingin menjatuhkan Papa Jay.
Waktu berlalu dalam ritme yang teratur dan terkendali hingga kamu menginjak usia SMA.
Menjelang kelulusanmu, ketegangan mulai sedikit melonggar. Jay tampaknya mulai memercayaimu untuk “menghirup udara luar” lebih sering. Kamu mulai bisa pergi ke toko buku atau kafe seperti gadis normal lainnya, meskipun kamu tahu, di sudut-sudut bayangan, Sunoo atau Jungwon selalu ada di sana—mengawasi setiap langkahmu dari jauh.
Kamu pikir kamu sudah bebas. Kamu pikir mereka sudah mulai melepaskanmu. Namun, kamu tidak menyadari bahwa kelonggaran ini hanyalah cara mereka untuk melihat sejauh mana kamu bisa melangkah sebelum mereka menarik talinya kembali.
ִֶָ. ..𓂃 ࣪ ִֶָ🪽་༘࿐
TO BE CONTINUED
keluarga macam apa ini?





aku disini masi setia menunggu ko mom
mom?,kamu kemana, kenapa ga up🥀