Lampu indikator lift di atas pintu berdenting pelan, menunjukkan angka 1. Begitu pintunya terbuka, kamu langsung merapatkan jaket rajut oversized yang membungkus kemeja kuliahmu. Kacamata berbingkai tipis yang bertengger di hidungmu agak merosot karena kamu terlalu lama menunduk, fokus membaca jurnal interaksi obat di ponsel selama menunggu.
Kamu melangkah keluar ke arah lobby utama apartemen. Melirik jam digital di pergelangan tangan—13.30 WIB.
“Tiga puluh menit,” gumammu pelan, menggelengkan kepala tanpa benar-benar kesal.
Sebagai mahasiswi Farmasi, tingkat kesabaranmu memang sudah terlatih di atas rata-rata manusia normal berkat praktikum berjam-jam di laboratorium. Jadi, menunggu pacarmu yang telat setengah jam karena urusan anak Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) bukan lagi hal yang bisa memancing emosimu.
Di luar gerbang lobby, sebuah sedan hitam yang sangat kamu kenal akhirnya berbelok masuk. Mobil itu berhenti tepat di depan undakan tangga. Dari balik kaca film yang gelap, samar-samar kamu bisa melihat siluet cowok bertubuh tegap di balik kemudi.
Kamu membuka pintu penumpang depan, langsung disambut oleh embusan hawa AC yang dingin dan... aroma maskulin yang sangat pekat. Campuran antara parfum mahal woodsy-citrus miliknya, dan satu aroma lagi yang langsung membuat indra penciumanmu sensitif: asap tembakau.
Jake duduk di sana, masih mengenakan jaket varsity kebanggaan fakultasnya yang berwarna biru-putih. Kaos putih polos di dalamnya agak ketat, mencetak jelas siluet dadanya yang bidang hasil latihan fisik harian. Rambutnya agak berantakan, tipe messy hair sengaja yang justru membuatnya kelihatan sepuluh kali lipat lebih seksi.
Begitu kamu menutup pintu, Jake langsung menoleh. Sepasang matanya yang teduh tapi tajam itu langsung mengunci pandanganmu. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman tipis yang—kalau cewek lain yang lihat—pasti sudah bikin lutut lemas.
“Hai, Sayang,” suara Jake terdengar serak, rendah, dan bergetar tepat di pendengaranmu. Dia bahkan baru bernapas dan bersuara dua kata, tapi atmosfer di dalam mobil langsung berubah padat. “Maaf banget, ya? Tadi anak-anak UKM bola nahan aku di lapangan, ada evaluasi kapten bentar. Lama banget ya nunggunya?”
Jake mengikis jarak. Tubuh besarnya condong ke arahmu, satu tangannya yang dipenuhi urat-urat menonjol itu terangkat untuk mengusap pipimu dengan ibu jari. Kulitnya hangat, kontras dengan hawa AC. Wajahnya perlahan mendekat, matanya turun menatap bibirmu, berniat memberi kecupan sapaan seperti biasanya.
Kamu bisa merasakan kehangatan napasnya yang berjarak tinggal beberapa senti dari wajahmu. Tapi, begitu mendeteksi bau tembakau yang terlalu kuat dari sela napasnya, perutmu agak bergejolak.
Sebelum bibir penuh Jake menyentuh milikmu, kamu dengan cepat menempelkan telapak tanganmu di dadanya, menahannya agar tidak maju lebih jauh.
Jake menghentikan gerakannya. Alisnya terangkat sebelah, tatapannya beralih dari bibirmu naik ke matamu, memancarkan binar menggoda yang setengah bingung. “Kenapa, hm? Masih ngambek gara-gara aku telat?”
Kamu menggeleng pelan, lalu menunjuk cup holder di dekat tuas transmisi yang berisi botol air mineral yang masih segel.
“Minum dulu, terus kumur-kumur,” katamu, suaramu terdengar datar tapi tegas, khas anak lab. “Bau tembakaunya kuat banget, Jake. Kamu abis ngabisin berapa batang sama anak-anak FIK lainnya tadi? Aku bisa mual kalau kamu langsung cium sekarang.”
Bukannya tersinggung atau menjauh, Jake malah terkekeh rendah. Suara kekehannya yang berat itu bergema di dadanya, terasa sampai ke telapak tanganmu yang masih menempel di sana. Dia menangkap pergelangan tanganmu, menurunkan tanganmu dari dadanya secara perlahan, tapi tidak melepasnya. Malah, jemari besarnya menyelinap di antara jemarimu, menggenggamnya erat dan membawanya ke atas paha kokohnya.
“Cuma sebatang tadi, beneran. Itu pun dipaksa temen,” bisik Jake, matanya menyipit jenaka, menatapmu dengan pandangan yang begitu intens sampai rasanya persediaan oksigenmu menipis. “Galak banget sih pacarnya Jake ini kalau urusan higienis. Iya, iya... aku kumur dulu.”
Jake meraih botol air mineral dengan tangan satunya yang bebas—karena tangannya yang lain menolak melepas genggaman tanganmu. Dia membuka tutupnya dengan gigi, sebuah gerakan kasual yang entah kenapa kelihatan sangat brengsek tapi seksi di matamu. Dia meminumnya sedikit, lalu membuka pintu mobil sedikit untuk membuang air kumurannya ke saluran air di pinggir drop-off.
Setelah selesai, dia menutup pintu kembali, menyeka bibirnya dengan punggung tangan, lalu kembali menatapmu. Kali ini, senyumannya jauh lebih nakal.
“Udah bersih. Udah wangi. Mau dicek laboratorium dulu, Bu Farmasi?” tanyanya dengan nada setengah berbisik, wajahnya kembali mendekat.
Kamu mendengus pelan, tapi tidak menolak lagi saat lengan kekar Jake melingkar di belakang lehermu, menarikmu dengan lembut untuk memangkas jarak yang tersisa. Bibirnya melumat milikmu dengan minat, setelah lama tidak melakukan kontak fisik seminggu ini.
Mobil akhirnya melaju membelah jalanan kota yang siang itu cukup bersahabat. Jarak apartemenmu ke kampus memang tidak jauh, hanya butuh sekitar lima belas menit berkendara. Di sepanjang jalan, tangan kiri Jake tidak pernah kembali ke kemudi kalau tidak benar-benar dibutuhkan, tangan itu tetap setia mengusap punggung tanganmu yang diam di atas pahanya.
Hubungan kalian sudah berjalan lima bulan. Angka yang cukup membuat gempar seisi kampus di awal-awal hubungan dulu.
Gimana enggak? Jake adalah salah satu ikon di kampus. Mahasiswa FIK yang karismanya meluber ke mana-mana. Dia bukan tipe buaya yang murahan, yang suka tebar pesona atau nge-DM banyak cewek. Enggak. Jake itu tipe yang effortlessly attractive. Dia ramah, bicaranya selalu lembut, perilakunya sopan, tapi justru karena dia memperlakukan semua orang dengan baik—terutama cewek-cewek—dia sering dicap buaya.
Banyak kakak tingkat atau mahasiswi hits yang mencoba peruntungan buat masuk ke hidup Jake. Tapi Jake selalu merespons mereka dengan batasan friendly yang tegas. Sampai akhirnya, dia malah jatuh hati padamu.
Kamu yang sehari-hari lebih memilih tenggelam di balik tumpukan diktat anatomi fisiologi manusia, memakai kacamata, rambut dicepol asal, dan memakai baju-baju longgar yang nyaman. Di kampus, kamu adalah definisi cewek lowkey yang tidak menonjol. Tapi mereka tidak tahu saja, kalau ada acara besar—seperti gala dinner fakultas atau dies natalis—dan kamu memutuskan untuk dandan, memakai dress yang pas di tubuh, dan melepas kacamata... semua mata langsung tertuju padamu. Dan di momen-momen seperti itulah, Jake biasanya akan bertingkah posesif setengah mati, menempel padamu seolah ingin memberi tahu dunia kalau cewek menawan ini adalah miliknya.
“Nanti malam kamu senggang?” suara Jake memecah keheningan di dalam mobil. Mobilnya berhenti di lampu merah.
“Ada tugas laporan praktikum sih, tapi bisa dicicil sore ini. Kenapa memangnya?” tanyamu tanpa menoleh, jemarimu sibuk memainkan ujung jaket varsity-nya.
Jake memutar tubuhnya sedikit menghadapmu. Dia meletakkan sikutnya di atas kemudi, menopang dagunya sambil menatap profil samping wajahmu dengan pandangan yang... begitu memuja.
“Mau ngajak pacarku jalan-jalan. Kita udah seminggu gak proper date, kan?” katanya manis. Tangannya bergerak naik, merapikan beberapa helai rambutmu yang keluar dari cepolan dan menyelipkannya ke belakang telingamu. Sentuhan jarinya di kulit lehermu membuat bulu kudukmu agak meremang.
“Bukannya nanti sore kamu ada kumpul sama anak-anak komite olahraga?” kamu mengingatkan, akhirnya menoleh menatap mata cokelatnya.
Jake menghela napas dramatis, bibirnya sedikit mengerucut. “Ah, iya. Ada kating fakultas lain juga yang mau ikut bahas sponsor. Males banget sebenarnya.”
Kamu tersenyum tipis. Kamu tahu persis siapa ‘kating’ yang dimaksud. Salah satu anak fisip yang sejak semester lalu gencar banget mendekati Jake, bahkan sering kedapatan memberikan botol minum langsung ke Jake di pinggir lapangan bola.
Dulu, di dua bulan pertama pacaran, kamu sempat merasa risih. Hati cewek mana yang gak panas melihat pacarnya dikelilingi fans dan didekati cewek-cewek populer? Tapi lama-kelamaan, kamu sadar. Jake tetaplah Jake. Caranya bicara yang manis memang sudah bawaan lahir, tapi pandangan matanya yang dalam, afeksinya yang intens, dan seluruh atensinya... hanya dia berikan untukmu. Kamu tetap menjadi dunianya yang tenang di tengah bisingnya popularitas kampus.
“Ya udah, selesaiin dulu urusan kampusmu,” katamu santai. “Aku juga mau fokus nyelesaiin laporan di perpus nanti.”
Jake menatapmu lama, ada binar kagum yang tidak disembunyikan dari matanya. “Kenapa kamu bisa se-santai ini sih? Gak ada cemburu-cemburunya sama sekali. Kadang aku sengaja loh gak nolak pas mereka minta foto, biar kamu agak cemburu terus meluk aku di depan mereka.”
Kamu tertawa kecil, mencubit pelan lengan kekarnya. “Gak usah kekanak-kanakan. Lagian, buat apa aku cemburu sama orang yang cuma bisa nikmatin senyum ramahmu, sementara aku yang dapetin semuanya yang nggak mereka tahu?”
Mendengar ucapanmu, mata Jake menggelap. Ada kilat intens yang mendadak muncul di sana. Dia menarik tanganmu, mengecup punggung tanganmu dengan lama, membiarkan bibirnya yang hangat menempel di kulitmu sambil matanya menatapmu lurus.
“Kamu bener-bener pinter ya bikin aku gila,” bisik Jake, suaranya mendalam, penuh dengan nada menjanjikan sesuatu. “Awas aja nanti malam. Jangan harap bisa pulang cepat ke apartemen.”
🤭
Sore harinya, perpustakaan pusat kampus cukup lengang. Kamu duduk di sudut paling pojok, dekat jendela besar yang menampilkan pemandangan sore hari. Di depanmu bertebaran buku-buku tebal dan laptop yang menyala, menampilkan struktur kimia obat.
Kamu baru saja meregangkan otot lehermu yang kaku ketika sebuah bayangan besar menutupi cahayamu.
Begitu mendongak, Jake sudah berdiri di sana. Jaket varsity-nya sudah dilepas, menyisakan kaos putih polosnya yang sekarang agak sedikit basah oleh keringat di bagian dada, seolah dia baru saja berlari dari ruang rapat ke perpustakaan ini. Aroma parfumnya yang maskulin kembali menguar, menginvasi area mejamu.
Tanpa suara—karena ini perpustakaan—Jake langsung mengambil posisi duduk di kursi kosong tepat di sebelahmu. Jaraknya dekat sekali, hingga lengan kalian saling bersentuhan.
“Katanya rapat?” bisikmu sangat pelan, hampir seperti desisan, sambil melirik sekitar, takut penjaga perpus menegur.
Jake tidak menjawab dengan kata-kata. Dia malah menggeser kursinya lebih dekat lagi sampai paha kalian berdempetan. Dia meletakkan satu lengannya di sandaran kursimu, seolah sedang merangkulmu dari belakang tanpa benar-benar menyentuh pundakmu.
“Aku kabur,” bisik Jake tepat di telingamu. Napas hangatnya menggelitik kulit lehermu, membuatmu reflek menarik bahumu sedikit. “Rapatnya muter-muter gak jelas. Lagian, kating yang tadi sibuk nanya-nanya hal gak penting terus. Aku bosen. Kangen kamu.”
Kamu menahan senyum, mencoba kembali fokus pada layar laptop. “Jake, ini tempat umum. Jangan mulai deh.”
“Mulai apa? Aku cuma duduk,” katanya dengan nada polos yang sangat menyebalkan tapi menggemaskan.
Namun, di bawah meja, tangan Jake mulai bekerja. Jemari besarnya meraba lututmu yang terbalut celana jins, lalu perlahan bergerak naik ke atas pahamu. Sentuhannya perlahan, tidak terburu-buru, tapi memberikan tekanan yang pas yang langsung membuat seluruh fokusmu buyar dari rumus kimia di layar laptop.
Kamu menegang kecil, tanganmu yang memegang pulpen agak gemetar. Kamu melirik Jake dari sudut matamu. Cowok itu... justru sedang menatap lurus ke depan, pura-pura memperhatikan buku tebalmu dengan wajah seserius mungkin, seolah-olah dia adalah mahasiswa paling teladan sedunia. Tapi tangan kirinya di bawah meja terus bergerak melakukan usapan-usapan lambat di paha bagian dalammu, naik semakin tinggi secara provokatif.
“Jake...” bisikmu, suaramu agak serak, ada nada peringatan sekaligus... antisipasi yang tidak bisa kamu sembunyikan.
Jake menoleh pelan, wajahnya berjarak sangat dekat hingga hidung kalian hampir bersentuhan. Kacamata yang kamu pakai membuat matamu kelihatan lebih besar, dan Jake selalu suka itu. Dengan gerakan lambat yang sengaja menyiksa, dia menggunakan tangan kanannya untuk melepas kacamatamu dari hidung, lalu meletakkannya dengan pelan di atas meja.
“Kacamatanya lepas dulu,” bisik Jake, matanya turun menatap bibirmu yang sedikit terbuka karena gugup. “Kesan cewek pintarnya ilang kalau gak pakai ini. Yang tersisa... cuma cewekku yang cantik banget.”
Tangan Jake di bawah meja meremas pelan paha atasmu, membuat desahan kecil hampir lolos dari tenggorokanmu kalau kamu tidak segera menggigit bibir bawahmu sendiri. Siksaan emosional dan fisik yang dia berikan benar-benar membuat jantungmu berpacu gila-gilaan.
“Ayo pulang,” bisik Jake lagi, suaranya sekarang terdengar lebih berat, serak oleh ketegangan yang tertahan. Tatapannya menuntut, penuh dengan keintiman yang siap meledak begitu kalian keluar dari tempat ini. “Kita selesaiin urusan kita di apartemenmu. Tanpa interupsi. Gimana, Sayang?”
Kamu menatap mata cokelat gelapnya yang kini sepenuhnya dipenuhi oleh dirimu. Sifat sabar dan lowkey yang biasa kamu agungkan runtuh seketika hanya dengan satu tatapan dan beberapa patah kata manis dari mulut cowok FIK ini.
Kamu menutup laptopmu dengan satu gerakan cepat, lalu mengemas buku-bukumu ke dalam tas tanpa melepas pandangan dari matanya.
“Ayo,” jawabmu pendek, senyuman menantang akhirnya terukir di bibirmu.
Jake tersenyum penuh kemenangan, kilat seksi terpancar jelas dari wajah tampannya saat dia berdiri dan langsung menyampirkan tasmu di bahunya, siap membawa dunianya pulang ke tempat di mana hanya ada kalian berdua.
To Be Continued





ditunggu lanjutannya ya mommy 😉💞
IHHH SUKAAAA