2 Off-Zone Love
Jungwon
2 bulan berlalu sejak malam itu.
Setiap hari pukul delapan malam, setelah anggota klub bisbol lainnya pulang dan lampu stadion dikembalikan ke mode hemat energi, kamu selalu duduk di atas tribun kayu dengan buku catatan kecil di pangkuanmu. Dan di bawah sana, Jungwon selalu berdiri di atas mound, terus melempar hingga jemarinya kapalan dan lengannya memar.
Hubungan kalian tidak langsung membaik. Pada minggu pertama, Jungwon hampir selalu mendiamkanmu. Ia melempar, meleset, mengumpat, dan mengabaikan saran-saranmu. Namun kamu bertahan. Kamu tetap membalikkan bola-bola yang berserakan, menyediakannya botol air dingin, dan mencatat pola melencengnya lemparan Jungwon.
Perlahan tapi pasti, pertahanan Jungwon mulai retak.
Ia mulai mau mendengarkan suaramu. Ia mulai mau meminum air yang kamu sodorkan tanpa memasang wajah galak. Dan yang paling berbahaya adalah ia mulai terbiasa dengan keberadaanmu.
Malam itu, hujan gerimis mulai turun membasahi tanah lapangan. Udara dingin menyengat kulit.
โCukup buat malam ini, Won,โ panggilmu dari tepi lapangan sambil merapatkan jaketmu. โTanahnya licin. Lo bisa cedera kalau dipaksa.โ
Jungwon yang baru saja mau mengambil bola lain terhenti. Wajahnya basah oleh perpaduan peluh dan air hujan. Kaos latihan tanpa lengan yang dipakainya melekat sempurna di dadanya, mencetak bentuk otot tubuhnya yang atletis dan keras.
โSatu keranjang lagi,โ potong Jungwon stubborn.
โNggak. Pulang,โ tegasmu sambil berjalan mendekat dan merebut bola dari tangannya. โLo udah melempar 150 bola hari ini. Otot trapezius lo udah kelihatan tegang banget. Kalau lo cedera sebelum seleksi minggu depan, semua latihan kita sia-sia.โ
Jungwon menatap tanganmu yang memegang bola bisbol itu, lalu menatap matamu. Raindrops menetes dari ujung rambut hitamnya yang basah, jatuh melewati bibirnya yang tipis.
โKenapa lo peduli banget?โ tanya Jungwon serak. Udara dingin membuat napasnya mengembul menjadi uap putih. โLo bahkan ga dapat bayaran apa-apa buat jadi manajer gue. Sekolah juga ga tau lo ngelakuin ini.โ
Kamu menatap bola di tanganmu, mengelus permukaan kulitnya yang kasar, lalu menatap Jungwon kembali.
โKarena gue tahu rasanya punya sesuatu yang sangat lo cintai, tapi lo ga bisa menyentuhnya karena trauma,โ jawabmu jujur. Suaramu terdengar lembut di antara derai hujan yang makin deras. โDan gue tahu, di balik ketakutan lo itu, lu masih pelempar bisbol terbaik yang pernah ada.โ
Jungwon terpaku. Matanya bergetar. Tidak ada seorang pun-bahkan pelatihnya atau orang tuanya-yang pernah mengatakan hal itu padanya semenjak insiden tiga tahun lalu. Orang-orang hanya menuntutnya untuk menang, atau mencaci makinya saat ia gagal.
Hanya kamu yang memandangnya sebagai manusia yang sedang terluka.
โSini,โ ucapmu tiba-tiba, menarik tangan kanan Jungwon yang terbebas dari sarung tangan.
โMau ngapain?โ tanya Jungwon kaget, namun ia tidak menarik tangannya.
โTangan lo gemetar,โ katamu pendek. Kamu menuntun Jungwon untuk duduk di bangku pemain yang terlindung atap seng kecil di pinggir lapangan.
Kamu mengambil handuk kering dari tasmu, menyapukannya perlahan ke wajah dan leher Jungwon yang basah. Jungwon mematung, matanya terkunci pada wajahmu yang berjarak begitu dekat darinya. Ia bisa menghirup aroma tubuhmu-harum manis vanila yang bertabrakan dengan bau hujan dan tanah.
Setelah mengeringkan lehernya, kamu meletakkan handuk itu dan mengambil telapak tangan kanan Jungwon. Tangan itu besar, hangat, namun memiliki kapalan tebal di area jemari dan telapaknya akibat bertahun-tahun memegang bat dan bola bisbol.
Kamu menekan otot di antara ibu jari dan telunjuknya pelan-pelan.
โAaghh-โ Jungwon meringis pendek, refleks hendak menarik tangannya, tapi kamu menahannya kuat-kuat.
โTegang banget kan?โ gumammu sambil terus memijat titik-titik tekanan di telapak tangannya dengan jempolmu. โIbu jari lo terlalu banyak menahan beban pas lo winding up. Makanya kontrol arah bola lo selalu meleset ke kiri pas lo lepaskan.โ
Jungwon tidak membalas. Ia tidak lagi peduli pada rasa pegal di tangannya. Seluruh fokusnya kini teralih pada sentuhan jarimu di kulitnya. Sentuhanmu halus, hangat, dan secara ajaib mengirimkan sengatan getaran aneh yang menjalar naik dari pergelangan tangannya, menuju dadanya, dan bermuara di perut bagian bawahnya.
Jungwon memperhatikan jemarimu yang menari di atas telapak tangannya. Matanya lalu naik, memperhatikan bibir bawahmu yang sedikit terbuka karena fokus memijat, bulu matamu yang basah oleh sisa gerimis, dan leher jenjangmu yang terekspos di balik kerah jaket yang sedikit melorot.
Napas Jungwon mendadak terasa jauh lebih berat daripada saat ia berlari keliling lapangan tadi.
โKenapa lo merhatiin gue kayak gitu?โ bisikmu tanpa mendongak, merasakan tatapan tajam Jungwon yang membakar kulitmu.
โLo...โ Suara Jungwon terdengar sangat berat dan serak. โ...lo sengaja ya?โ
Kamu mendongak, menghentikan pijatanmu. โSengaja apa?โ
โBikin gue ga fokus,โ kata Jungwon pelan.
Sebelum kamu sempat membalas, tangan kiri Jungwon yang bebas bergerak cepat. Jemari panjangnya menyusup ke belakang lehermu, menarikmu maju hingga jarak di antara wajah kalian terkikis habis.
Bibir Jungwon mendarat keras di atas bibirmu.
Sentuhan itu tidak lembut. Sentuhan itu penuh dengan ketegangan yang sudah lama terpendam, rasa frustrasi, dan kehangatan liar yang tiba-tiba meledak.
Kamu terperanjat sebentar, matamu membelalak kaget. Namun hangatnya bibir Jungwon yang menekan bibirmu, rasa asin dari sisa air hujan, dan aroma maskulin yang menguar kuat dari tubuhnya dengan cepat meluluhkan pertahananmu. Matamu terpejam perlahan, dan kamu membalas ciumannya.
Jungwon mengerang rendah di balik tenggorokannya saat merasakan balasanmu. Ciumannya berubah menjadi lebih dalam dan menuntut. Bibirnya menyesap bibir atas dan bawahmu secara bergantian, memiringkan kepalanya untuk mendapatkan sudut yang lebih pas. Jemari tangannya yang berada di belakang lehermu menyusup semakin dalam ke sela-sela rambutmu yang basah, menahanmu agar tidak bisa menjauh darinya.
Tanganmu yang tadinya memegang telapak tangannya kini naik secara refleks, meraba dada bidang Jungwon yang naik turun cepat. Otot dadanya terasa keras dan hangat di bawah kain kaosnya yang basah.
โNghh... Won...โ lenguhmu pelan saat Jungwon memindahkan ciumannya ke sudut bibirmu, lalu turun menyusuri garis rahangmu hingga ke ceruk lehermu.
Jungwon menghisap kulit lehermu yang sensitif dengan lembut namun tegas, meninggalkan jejak hangat yang membuat tubuhmu meremang seketika. Kedua tangannya kini berpindah ke pinggangmu, mengangkat tubuhmu dengan mudah dan mendudukkanmu di atas meja kayu tempat penyimpanan peralatan bisbol di dalam bench.
Kini kamu duduk lebih tinggi darinya, dan Jungwon melangkah makin merapat di antara kedua pahamu yang terbuka.
โy/n...โ panggil Jungwon lirih, suaranya terdengar sangat seksi dan dalam di tengah deru suara hujan yang menghantam atap seng di atas kalian. Matanya yang gelap menatapmu penuh dengan gairah yang tak lagi ditutup-tutupi. โGue bisa gila kalau lo terus-terusan ada di dekat gue kayak gini tiap malam.โ
โSiapa yang suruh lo gila?โ bisikmu terengah-engah, jemarimu mengelus rahang tegasnya yang basah.
โLo,โ jawab Jungwon singkat sebelum kembali menyambar bibirmu.
Kali ini ciumannya lebih panas dan teratur. Tangan Jungwon merayap naik ke bawah jaket oversized-mu, menyusup di balik kaos tipis yang kamu kenakan. Kulit jemarinya yang kasar karena kapalan menyentuh pinggangmu yang mulus, mengirimkan gelombang kesemutan hebat yang membuat punggungmu melengkung merapat ke dadanya.
Jungwon memindahkan jemarinya merayap naik ke punggungmu, mengusap tulang rusukmu, lalu melepaskan kaitan bra yang kamu kenakan dengan satu gerakan mahir yang sangat tidak terduga.
โWon...โ napasmu tercekat saat merasakan kebebasan itu.
Jungwon melepaskan ciumannya, matanya menunduk melihat dadamu yang naik turun di balik kain kaos tipis yang kini menempel ketat karena lembab. Tanpa meminta izin lagi, Jungwon menyingkap kaosmu ke atas, mengekspos payudaramu yang indah di bawah remaram lampu malam.
Jungwon menelan ludahnya berat. Otaknya yang biasanya penuh dengan ketakutan akan lemparan bisbol kini sepenuhnya bersih, digantikan oleh pemandangan indah di depannya.
Ia menundukkan kepalanya, menyapu puncaknya yang mengeras dengan lidahnya yang hangat.
โAahh! Jungwon...โ Kamu mendongak, jemarimu meremas erat rambut hitam Jungwon yang basah.
Sensasi lidah Jungwon yang basah dan hangat bermain di sana membuat seluruh persendianmu terasa melorot. Jungwon menyesapnya perlahan, lalu menghisapnya dengan tekanan yang pas, membuat lenguhan-lenguhan kecil terus terlepas dari bibirmu. Tangan luarnya meremas lembut payudaramu yang sebelah lagi, memperlakukan tubuhmu bagai sebuah mahakarya yang sangat bernilai.
Hujan di luar makin deras, namun udara di dalam bench kecil itu terasa makin panas dan membakar.
Jungwon melepaskan kaos basahnya sendiri, melemparkannya sembarangan ke lantai tanah. Tubuhnya yang atletis, dada bidangnya yang terbentuk sempurna, serta perutnya yang berotot tersingkap jelas. Ia kembali merapat padamu, membiarkan kulit dada kalian yang telanjang saling bertabrakan, menyalurkan kehangatan tubuh masing-masing.
Tangan Jungwon turun ke kancing celanamu. Ia menatap matamu, meminta persetujuan secara tersirat melalui tatapan matanya yang membara. Kamu mengangguk pelan, memberikan izin penuh padanya.
Dengan jemari yang sedikit gemetar namun pasti, Jungwon membuka celanamu dan melucutinya bersama underwear-mu hingga menumpuk di pergelangan kaki. Ia berlutut di antara kedua kakimu yang menggantung di tepi meja.
โJungwon, mau ngapain-โ
Kalimatmu terputus saat Jungwon memisahkan paha dalammu dan menundukkan kepalanya di sana.
Napas hangatnya bertiup di area paling sensitifmu, membuat tubuhmu berguncang hebat. Dan ketika lidah hangatnya menyapu lembut pusat kenikmatanmu, kamu menjerit pelan, menutupi mulutmu sendiri dengan telapak tangan agar suaramu tidak bergema ke luar lapangan.
Jungwon bermain dengan sangat telaten. Lidahnya menari dengan tempo yang makin lama makin cepat dan menuntut, menyesap tiap tetes kebasahan yang keluar dari tubuhmu. Tangannya menahan kedua bahumu agar kamu tidak merosot. Sensasi nikmat yang luar biasa meledak di kepala dan tubuhmu, membuat jarimu meremas meja kayu di bawahmu hingga berderit.
โWon... nggghh... udah... gue ga tahan...โ rintihmu dengan napas yang makin memburu.
Jungwon mendongak, menyapu bibirnya yang basah dengan punggung tangannya. Wajahnya terlihat sangat tampan dan liar. Ia berdiri, melepaskan celana olahraganya sendiri dalam satu gerakan cepat, mengekspos kejantanannya yang sudah membesar dan menegang sempurna.
Ia kembali mendekat, mengarahkan intinya ke muara tubuhmu yang sudah sangat basah dan siap.
Jungwon menatap matamu dalam-dalam. โLihat gue, y/n,โ bisiknya rendah. โJangan merem. Eyes on me.โ
Jungwon mendorong pinggulnya perlahan, membiarkan kepunyaannya menyusup masuk memenuhi tubuhmu secara bertahap.
โAahhhn... Jungwon!โ kamu mengerang saat merasakan kepenuhan yang menakjubkan itu. Tubuh Jungwon yang tegap dan hangat mengunci tubuhmu sepenuhnya.
Jungwon memejamkan mata sejenak, menahan napasnya saat merasakan dinding dalammu yang begitu hangat dan menjepitnya erat. Ia menggerakkan pinggulnya bertahap, mulai dari ketukan perlahan yang memabukkan hingga menjadi tempon yang makin cepat, berirama, dan tajam.
Plak... plak...
Suara penyatuan tubuh kalian yang basah berpadu harmonis dengan deru suara air hujan yang menimpa atap seng. Setiap kali Jungwon menumbukkan pinggulnya dalam-dalam, dadanya yang tegap bergesekan dengan dadamu, dan bibirnya kembali menyambar bibirmu untuk menyerap tiap lenguhan manjamu.
โLo sempurna banget, y/n... akh,โ geram Jungwon di telingamu, ketukan pinggulnya makin liar dan tak teratur.
Rasa trauma, ketakutan, dan kegelapan yang selama ini mengurung jiwa Jungwon seolah menguap habis, tergantikan oleh sensasi pekat dan gairah memabukkan yang kamu berikan. Ia merasa hidup kembali. Ia merasa menemukan kembali kendali atas tubuh dan jiwanya.
Kamu melingkarkan kedua kakimu di pinggang tegap Jungwon, memangkas sisa jarak yang ada, membiarkannya menghantam titik terpeka di dalam tubuhmu semakin dalam.
โWon... gue mau... ahh!โ
โSama-sama, y/n... bareng gue,โ bisik Jungwon protektif.
Gerakan pinggul Jungwon mencapai puncaknya-cepat, dalam, dan tanpa ampun. Tubuhmu berguncang hebat sebelum akhirnya ledakan kenikmatan yang luar biasa menjalar dari dasar perutmu, melumpuhkan seluruh sarafmu dalam pelepasan yang hebat. Dinding dalammu menjepit Jungwon sangat erat, dan hal itu memicu pelepasan Jungwon sendiri.
Jungwon mengerang keras, menanamkan posisinya sedalam mungkin di dalam tubuhmu saat lahar hangatnya menyembur deras memenuhi rahimmu.
Ia menyandarkan dahinya di bahumu yang terexpose , napasnya berburu hebat, sementara tubuhnya masih gemetar halus merasakan sisa-sisa kenikmatan yang membakar.
Hujan mulai mereda menjadi gerimis tipis saat jam menunjukkan pukul sepuluh malam.
Di dalam bench yang remang, kamu bersandar di dada telanjang Jungwon. Selimut kain dan jaket tebalnya membungkus tubuh kalian berdua yang masih belum mengenakan pakaian lengkap. Tangan kanan Jungwon-tangan pelemparnya yang legendaris-melingkar protektif di pinggangmu, sementara jemarinya bermain lembut dengan helai rambutmu.
Suasana hening, tapi bukan lagi kesunyian yang menyiksa seperti beberapa jam yang lalu.
โTangan lo ga gemetar lagi,โ gumammu pelan, meraba lengan bawah Jungwon yang berurat tegap.
Jungwon menunduk, mencium puncak kepalamu dengan lembut. โBerkat lo.โ
โGua cuma mijit tangan lo sebentar.โ
โBukan cuma itu,โ potong Jungwon halus. Suaranya terdengar hangat dan rileks, sangat berbeda dari sosok Yang Jungwon yang dingin dan penuh amarah yang kamu temui pertama kali. โPikiran gue yang biasanya penuh sama suara benturan helm itu... malam ini cuma penuh sama suara lo yang indah itu.โ
Kamu tersenyum tipis, menengadah menatap wajah tampannya dari bawah. โJadi, peran manajer gue sukses?โ
Jungwon terkehuk pelan. Senyum manis dengan lesung pipi tipis tersungging di wajahnya-pemandangan langka yang belum pernah dilihat oleh siapa pun di sekolah ini selama tiga tahun terakhir.
โLo lebih dari sekadar manajer,โ bisik Jungwon.
Ia melepaskan pelukannya perlahan, berdiri, dan mengenakan celana olahraganya kembali. Kamu memperhatikannya saat Jungwon berjalan keluar dari bench, melangkah ke tengah lapangan yang basah dan berlumpur di bawah gerimis tipis.
Jungwon mengambil satu bola bisbol yang tergeletak di atas tanah. Udara malam yang dingin menyapu tubuh bagian atasnya yang masih bertelanjang dada.
Ia berbalik menatapmu yang sedang duduk terbungkus jaket di bench.
โLihat ini baik-baik, Manajer,โ ujar Jungwon, senyum percaya dirinya kembali terpancar tajam di matanya.
Jungwon berdiri di atas mound. Ia tidak lagi ragu. Ia tidak lagi menahan napasnya karena ketakutan. Saat ia memegang bola itu, ia hanya melihat bayanganmu yang tersenyum padanya, menyembuhkan setiap bagian jiwanya yang patah.
Jungwon memutar pinggulnya, merentangkan tangannya, dan melepaskan bola itu dengan seluruh kekuatan, teknik, dan jiwa yang selama ini terkunci.
WHSSHHH!
Bola itu membelah udara malam dengan kecepatan tinggi, meluncur lurus bagai anak panah tanpa penyimpangan semimikron pun-
PLAKKKK!
Bola bisbol itu menghantam tepat di titik tengah jaring sasaran, menimbulkan suara dentupan keras yang memantul indah di seluruh sudut stadion yang sepi.
Strike sempurna.
Jungwon menurunkan tangannya. Ia menoleh ke arahmu, menyunggingkan senyum khasnya yang menyebalkan namun tampan luar biasa, lalu berkacak pinggang.
โGue bilang juga apa,โ kata Jungwon santai sambil berjalan kembali mendekatimu. โGue ini pelempar terbaik.โ
Kamu tertawa menawan, berdiri dari meja dan melangkah menyambutnya. โSombong.โ
โSombong karena ada buktinya,โ balas Jungwon cepat. Ia menarik pinggangmu rapat-rapat ke tubuhnya, tidak peduli dadanya yang basah kembali menempel pada pakaianmu. โDan mulai besok... lo wajib ada di tiap pertandingan gue. Di tribun paling depan. Ngeliatin gue.โ
โKalau gue ga mau?โ tantangmu bercanda.
Jungwon menunduk, mengikis jarak bibir kalian kembali hingga napas kalian menyatu.
โKalau lo ga mau...โ bisik Jungwon posesif, โ...gue bakal cium lo di depan seluruh penonton stadion sampai lo bilang iya.โ
โพ
to be continued





Ohh ternyata won cara biar bisa strike kudu pelepasan dulu๐คญ