Off-Zone Love
Jungwon
Suara decitan sepatu kets di atas tanah kering itu selalu terdengar sama. Dingin, berdebu, dan menyiksa.
Yang Jungwon memindahkan tumpuan berat badannya ke kaki kanan. Jarinya menusuk jahitan kulit bola bisbol di dalam sarung tangannya-mencari cengkeraman four-seam fastball yang dulu bisa ia lakukan bahkan dengan mata terpejam. Di depannya, jaring penangkap bola berdiri kokoh, berjarak tepat 18,44 meter.
Hening. Malam di lapangan bisbol belakang SMA Hwanwoon selalu sesepi ini jika lampu utama sudah dimatikan, menyisakan dua lampu sorot kecil di sudut tribun yang mulai redup dan berkedip.
Jungwon menarik nafas panjang. Udara malam musim gugur menusuk paru-parunya. Ia mengangkat kaki kirinya, merentangkan tangannya ke belakang, melepaskan seluruh dorongan otot bahunya, dan-
PLAK!
Bola itu tidak mendarat di tengah jaring. Bola itu terbang melenceng jauh ke arah kiri, menghantam tiang besi pembatas dengan suara dentang nyaring yang memecah kesunyian malam, sebelum akhirnya memantul liar ke semak-semak.
Jungwon membeku. Posisi tubuhnya masih tertahan di gerakan akhir melempar, nafasnya terengah-engah. Tangan kanannya gemetar hebat. Garis keringat dingin menetes dari pelipis, melintasi rahang tegasnya, lalu jatuh menetes ke atas tanah.
Lagi. Meleset lagi.
โJungwon! Lo niat main nggak sih?! Bola segitu melencengnya mau bikin batter lawan jalan gratis ke first base?!โ
โLo tuh mantan MVP SMP! Mana lemparan 140 km/jam lo yang dijagoin itu?! Kenapa sekarang megang bola aja kayak ketakutan?!โ
Suara bentakan pelatih tadi sore masih bergema tajam di telinganya. Begitu juga tatapan sinis dari para senior di klub bisbol SMA. Mereka muak. Mereka merekrut โsi jeniusโ Yang Jungwon dengan harapan besar bisa membawa sekolah lulus ke turnamen nasional. Namun yang mereka dapatkan hanyalah seorang starting pitcher yang bahkan tidak sanggup melempar strike sederhana.
Setiap kali Jungwon berdiri di atas mound-gundukan tanah tempat pelempar berdiri-matanya tidak lagi melihat catcher yang siap menangkap bolanya.
Matanya selalu melihat bayangan itu.
Tiga tahun lalu. Pertandingan final tingkat SMP.
Inning terakhir, dua out, skor imbang. Jungwon berdiri di mound dengan kepercayaan diri setinggi langit. Di piringan pemukul (batterโs box), berdiri rival terberatnya-pemukul utama dari tim lawan yang selama ini tak pernah bisa ditaklukkannya. Jungwon ingin menumbangkannya. Ia ingin membuktikan bahwa dialah yang terbaik.
n.b: Inning (atau babak) adalah satu satuan babak permainan dalam olahraga bisbol, softball, atau kriket.
Ia memegang bola keras-keras, memutar badannya, dan melepaskan lemparan fastball terkuat dalam hidupnya.
Namun, genggamannya tergelincir karena keringat.
Bola itu tidak meluncur ke sarung penangkap. Bola bisbol seberat 145 gram yang melaju dengan kecepatan di atas 135 km/jam itu terbang lurus, menghantam tepat di samping helm pelindung kepala sang rival.
CRACK.
Suara batok helm yang retak. Suara tubuh yang roboh menghantam tanah seperti boneka kain yang diputus talinya. Darah yang merembes segar membasahi tanah merah. Ambulans yang masuk ke lapangan dengan sirene meraung-raung. Dan yang paling menghantui Jungwon hingga hari ini: mata rivalnya yang terbuka lebar, kosong, sebelum akhirnya tidak pernah bisa bermain bisbol lagi selamanya.
Sejak hari itu, jemari Jungwon seperti terkutuk. Otaknya secara refleks menolak melempar bola tepat ke arah area strike, karena ketakutan setengah mati bola itu akan melayang dan menghancurkan hidup orang lain lagi.
โBangsat,โ umpat Jungwon pelan. Suaranya serak.
Ia berjalan gontai menuju keranjang bola, mengambil satu bola bisbol lagi, lalu kembali ke mound. Ia melempar lagi.
Brak! Meleset jauh ke kanan.
Ia mengambil bola lagi. Melempar lagi.
Plak! Membentur tanah jauh sebelum mencapai jaring.
Keringat membasahi kaos latihan abu-abunya hingga menempel ketat di dada dan punggungnya yang tegap. Otot bisep dan bahunya menegang frustrasi. Setiap kali ia mencoba memaksa tangannya melempar lurus, dadanya mendadak sesak, nafasnya tercekat, dan bayangan darah di tanah merah itu kembali membakar ingatannya.
โTangan lo terlalu tegang. Kalo gaya melempar lo kaya gitu terus sampai subuh, otot bahu lo bisa robek, tau.โ
Suara feminin yang santai dan sedikit ketus itu tiba-tiba terdengar dari arah tangga tribun yang gelap.
Jungwon terperanjat. Ia langsung berbalik tajam, menyipitkan mata menembus kegelapan malam. Sarung tangan bisbolnya masih terangkat di depan dada.
Seorang gadis berjalan santai menuruni anak tangga semen. Kamu mengenakan jaket oversized berwarna hitam dengan jorts pants longgar, kedua tanganmu terbenam di dalam saku jaket. Rambutmu sedikit berantakan kena angin malam, dan di mulutmu ada kotak susu pisang yang sedotannya sedang kamu gigit ringan.
Jungwon mengerutkan alisnya dalam-dalam. Wajahnya yang tampan terlihat makin dingin dan tidak bersahabat di bawah remang lampu jalan.
โSiapa lo?โ tanya Jungwon, suaranya berat dan sarat kekesalan. โNgapain cewek kayak lo malam-malam keluyuran di lapangan sendirian?โ
Kamu berhenti tepat di balik jaring pembatas, mengamati keranjang berisi puluhan bola yang berserakan tak beraturan di sekitar Jungwon. Kamu menyedot susu pisangmu sampai berbunyi sret, lalu membuang kotaknya ke tempat sampah di dekatmu.
โGue? Gue cuma murid sini yang kebetulan lewat mau balik ke asrama,โ jawabmu santai, menunjuk gedung sekolah di kejauhan dengan dagumu. โTapi dari tadi gue merinding denger suara benturan bola ngacak. Gue kira ada hantu lapangan lagi ngamuk, ternyata cuma cowok frustrasi yang nggak bisa melempar bola dengan bener.โ
Mata Jungwon mengilat tajam. Rasa harga dirinya yang memang sudah hancur seharian ini makin tersenggol oleh ucapan kasarmu.
โBukan urusan lo. Pergi sana,โ potong Jungwon dingin. Ia berbalik, memunggungimu, dan mengambil bola lain dari keranjang.
โLo Yang Jungwon, kan?โ tanyamu lagi, sama sekali tidak terpengaruh oleh pengusiran dinginnya. Kamu malah melangkahi jaring pembatas kecil dan berjalan masuk ke area lapangan. โAce pelempar utama klub bisbol yang katanya jenius tapi pas tanding kemarin malah ngelemparin bola sampai kena burung merpati yang lewat.โ
Jungwon mengepalkan tangannya di dalam sarung tangan sampai buku-buku jarinya memutih. โGue bilang pergi.โ
โLagian, lo kenapa juga masih di sini jam sembilan malam?โ balasmu sambil bersedakap, menatap raut wajah Jungwon yang tegang dari samping. โApalagi lo sendirian, teriak-teriak ga jelas. Dan lo nanya kenapa gue ada di sini? Terserah gue dong, gue punya kaki buat jalan. Lapangan ini punya sekolah, bukan punya lo.โ
Jungwon menghela nafas kasar, memutar tubuhnya kembali menghadapmu. Tinggi badannya yang menjulang membuatmu harus sedikit menengadah untuk menatap matanya. Rahang Jungwon mengeras, matanya yang tajam menatapmu intens, mencoba mengintimidasi.
โGue ga peduli lo siapa,โ katamu Jungwon dengan nada rendah menekan. โGue lagi latihan. Jadi mending lo tutup mulut lo dan balik ke asrama sebelum kepala lo kena bola nyasar.โ
โBola nyasar?โ Kamu terkehuh pelan, lalu menyunggingkan senyum tipis yang sangat memancing emosi. โ Ngelihat kualitas lemparan lo dari tadi, bola lo bahkan nggak bakal sanggup mengarah ke gue meskipun lo sengaja ngarahinnya ke muka gue.โ
โLo-โ Jungwon menggeram.
Tanpa membalas ucapanmu lagi, Jungwon berbalik cepat. Ia menarik nafas dalam-dalam, mencoba mengabaikan keberadaanmu yang berdiri hanya beberapa meter di belakangnya. Ia memfokuskan pandangannya ke sasaran, mengangkat kakinya, dan melempar bola sekuat tenaga untuk membuktikan ucapannya.
SRAK!
Bola itu kembali melenceng jauh, menghantam tanah dan bergulir tidak berdaya ke pinggir lapangan.
Kamu tertawa kecil. Tidak keras, tapi cukup untuk membuat telinga Jungwon memerah karena malu dan emosi.
Jungwon memejamkan mata erat-erat. Napasnya naik turun tidak teratur. Setiap kali ada orang yang melihat kegagalannya, kepalanya rasanya ingin pecah. Ia benci kasihan, ia benci ejekan, dan yang paling ia benci adalah fakta bahwa badannya sendiri menolak untuk bekerja sama.
Kamu menghentikan tawamu saat melihat bahu Jungwon yang gemetar halus. Ada sesuatu dari cara cowok itu berdiri-postur tubuhnya yang defensif, cengkeraman jarinya yang terlalu kuat pada bola, dan matanya yang menyimpan ketakutan mendalam-yang membuatmu sadar bahwa ini bukan sekadar masalah teknik yang buruk.
Ini masalah mental. Masalah trauma yang mengunci seluruh potensinya.
N.b: Masalah mental atau hilangnya kontrol motorik secara tiba-tiba pada pemain bisbol sering disebut yips, kecemasan bertanding, atau hambatan performa
Kamu berjalan mendekatinya, menghentikan langkahmu tepat di samping mound. Bau keringat campuran maskulin, tanah basah, dan angin malam menguar kuat dari tubuh Jungwon.
โLo butuh manajer,โ ucapmu tiba-tiba, suaranya kini terdengar lebih tenang dan tanpa nada ejekan.
Jungwon menoleh lambat, menatapmu seolah kamu baru saja mengatasnamakan bahasa alien. โApa?โ
โGue bilang, lo butuh manajer,โ ulangmu mantap. โManajer klub bisbol kita yang sekarang cuma sibuk ngurusin jadwal tanding sama ngelayanin senior-senior sok ganteng itu padahal muka ga seberapa dibandingkan lo-โ
โNggak ada yang benar-benar merhatiin kenapa rotasi bola lo selalu goyah di detik terakhir.โ
Jungwon menatapmu dari atas ke bawah, lalu terkekeuh meremehkan. Senyum sinis terukir di bibirnya yang lembab oleh keringat.
โManajer?โ Jungwon menyipitkan mata. โLo bahkan ga gue kenal. Lo siapa? Tiba-tiba datang malam-malam, ngerecokin latihan gue, terus sok tahu mau jadi manajer gue? Lo tau apa tentang bisbol?โ
โGue tau kalau release pointยน lo berubah setiap kali lo mau melempar fastball,โ jawabmu tenang, menatap lurus ke dalam mata cokelat pekat milik Jungwon. โLo menahan tenaga lo di akhir gerakan. Lo kayak... takut melempar bola itu keras-keras. Lo takut bolanya ngenai orang lagi, kan?โ
ยนtitik atau momen tepat di mana bola lepas dari tangan pitcher saat melempar. Titik ini menentukan akurasi, kecepatan, dan arah lemparan
Kata-kata itu menghantam Jungwon bagai petir di siang bolong.
Raut wajahnya berubah drastis. Senyum sinisnya lenyap seketika, digantikan oleh tatapan kelam dan liar. Dalam satu gerakan cepat yang tidak terduga, Jungwon melangkah maju, memangkas jarak di antara kalian hingga dada bidangnya hampir bersentuhan dengan dadamu. Ia menunduk, mengikis jarak wajah kalian hingga kamu bisa merasakan hembusan nafasnya yang panas dan berburu di kulit pipimu.
โJangan sok tahu tentang gue,โ bisik Jungwon tajam, suaranya mengandung ancaman yang pekat. โLo ga tahu apa-apa.โ
Kamu tidak mundur seinci pun. Kamu tetap menatap matanya, menikmati ketegangan listrik yang mendadak meledak di antara kalian berdua.
โKalau gue salah, buktiin,โ tantangmu lirih, bibirmu mengukir senyum tipis. โLempar satu bola strike malam ini. Tepat di tengah jaring. Kalau lo bisa lakukan itu sekali aja, gue bakal minta maaf dan langsung pergi dari sini, ga bakal ganggu lo lagi.โ
Jungwon menatap bibirmu, lalu kembali ke matamu. โDan kalau gue ga bisa?โ
โKalau lo ga bisa...โ Kamu maju setengah langkah lagi, membuat jarak di antara kalian makin mengikis memabukkan. โ...biarin gue jadi manajer pribadi lo. Gue yang bakal pegang keranjang bola lo itu, gue yang bakal catat tiap lemparan lo, dan gue yang bakal ada di sini setiap malam sampai lo bisa melempar tanpa rasa takut itu lagi.โ
Jungwon tertawa pendek, tawa frustrasi yang sarat akan penolakan. โLo gila. Gue ga butuh bantuan cewek asing kayak lo.โ
โLo takut, Yang Jungwon?โ godamu manis. โTakut kalau ternyata yang diomongin cewek asing ini benar?โ
Rahang Jungwon mengeras. Ego dan rasa gengsi laki-lakinya terbakar hebat. Tanpa memutuskan kontak mata denganmu, tangannya meraba ke dalam keranjang, mengambil bola bisbol terakhir yang tersisa.
โLihat baik-baik, Yapper,โ desis Jungwon.
Ia berbalik menuju mound. Jungwon menarik nafas dalam-dalam, memejamkan mata sejenak mencoba mengusir bayangan darah tiga tahun lalu, lalu membuka matanya fokus pada jaring di depannya. Ia menarik tangannya ke belakang, memutar pinggulnya, dan melepaskan bola itu dengan seluruh sisa tenaga yang ia miliki.
BZZT-PLAK!
Bola itu terbang melengkung liar, menabrak bagian paling atas jaring pembatas, lalu memantul jauh keluar area lapangan dan menghilang di dalam kegelapan malam.
Hening kembali menguasai lapangan.
Jungwon berdiri kaku. Tangannya meluncur turun ke samping tubuhnya. Kepalanya tertunduk dalam, nafasnya terdengar berat dan putus-putus. Kekecewaan yang teramat sangat menyelimuti badannya.
Kamu tidak tertawa kali ini. Kamu berjalan mendekatinya dari belakang, melangkah tanpa suara di atas tanah kering, hingga kamu berdiri tepat di belakang punggungnya yang tegap namun bergetar pelan.
โSesuai kesepakatan,โ bisikmu di dekat telinganya. โMulai malam ini, gue manajer lo, Yang Jungwon.โ
โพ๏ธ
to be continued
duh ganteng





Kemarin wkt pelemparan LG sunghoon yg jd pelembar bola. Ngebayangin kl uwon yg lempar karisma apa yg akan dia keluarkan๐ซ
Jd inget film wind up jeno jaemin. Ini si yeen posisinya jd jaemin ini. Ga jadi ubi kan si yeen klo disini?๐ญ๐ญ๐ญ