Off The Backstreet
Ni-Ki
Menjadi pacar Ni-Ki itu definisi blessing sekaligus curse. Sebagai mahasiswa semester 4, hari-harimu sudah cukup hectic dengan tumpukan tugas matkul yang nggak masuk akal. Tapi jadi pacar seorang Ni-Ki? Itu level stres yang berbeda. Dia itu Ketua BEM semester 6 yang karismatik, atletis, dan punya sorot mata tajam yang bisa bikin satu aula langsung senyap.
Kamu memilih backstreet dalam hubungan ini. Bukan karena nggak bangga, tapi kamu tahu gimana “buasnya” mahasiswi di kampus ini kalau sudah menyangkut Ni-Ki. Terutama Elsa, sekretaris BEM yang selalu menempel pada Ni-Ki dengan alasan koordinasi proker.
“Nanti malam jangan pulang telat ya, sayang. Aku jemput di gerbang belakang,” bisik Ni-Ki tepat di telingamu saat kalian berpapasan di lorong menuju perpustakaan yang cukup sepi.
Dia nggak berhenti jalan. Dia cuma melambat sedetik, memberikan kode lewat kerlingan matanya sebelum lanjut berjalan dengan wibawa Ketua BEM-nya.
Kamu mematung, pura-pura sibuk ngecek notifikasi di ponsel padahal tanganmu gemetar hebat. Aroma parfum woody maskulinnya masih tertinggal di indra penciumanmu, bikin fokusmu buyar seketika.
🏵️
Sore itu di kantin, kamu duduk di pojokan, berusaha low profile. Dari kejauhan, kamu melihat Ni-Ki sedang rapat bareng anak-anak organisasi. Elsa duduk tepat di sampingnya, tertawa lebar sambil sesekali menyentuh lengan Ni-Ki—entah sengaja atau tidak. Dada kamu terasa sesak. Rasanya ingin nyamperin dan bilang kalau cowok itu milikmu, tapi kamu ingat janji sendiri.
Tiba-tiba, ponselmu di atas meja bergetar.
💬Ni-Ki ❤️: Jangan liatin Elsa terus. Aku nggak suka kamu cemburu tapi diem aja. Matamu nggak bisa bohong, sayang.
Kamu tersentak, hampir menjatuhkan sendok. Kamu mencari keberadaannya dan mendapati Ni-Ki sedang menatap lurus ke arahmu dari meja rapat, benar-benar mengabaikan Elsa yang masih asyik bicara di sampingnya. Dia memberikan senyum tipis—jenis senyum yang cuma ditujukan buat kamu—sebelum kembali ke mode serius.
🏵️
Kejadian paling mendebarkan adalah saat kamu harus naik lift menuju lantai 4 untuk kelas sore. Lift itu penuh sesak, dan entah takdir atau kebetulan, Ni-Ki masuk di detik terakhir. Dia berdiri tepat di belakangmu. Karena terlalu penuh, tubuhnya mau tak mau menempel pada punggungmu.
Kamu bisa merasakan napasnya di tengkukmu. Di tengah keramaian mahasiswa lain yang asyik ngobrol, tangan Ni-Ki bergerak pelan ke bawah, menyelinap di antara celah tasmu dan pinggangmu, lalu mencubit kecil pinggangmu dengan gemas. Kamu menahan napas, wajahmu panas bukan main.
“Lantai 4 ya, Kak Ni-Ki?” tanya salah satu mahasiswi di depan.
“Iya,” jawab Ni-Ki tenang, suaranya yang berat bergetar sampai ke punggungmu, sementara tangannya masih nakal mengusap punggung tanganmu yang tersembunyi di balik kerumunan.
Malamnya, di dalam mobil Ni-Ki yang terparkir jauh dari area kampus, Ni-Ki akhirnya bisa bernapas lega. Dia melepas pdh BEM-nya, tampak lelah tapi matanya berbinar saat menatapmu.
“Sampai kapan kita harus main petak umpet kayak gini, Sayang?” tanyanya lembut sambil mengusap rambutmu.
“Besok Valentine, lusa aku Sertijab. Aku pengen di hari terakhirku jadi Ketua BEM, orang-orang tahu siapa perempuan hebat yang selama ini jadi rumah aku buat pulang.”
“Kak Ni-Ki, kamu tahu alasannya. Fans kamu... terutama si Elsa Elsa itu... aku belum siap kalau harus jadi bahan omongan satu kampus,” jawabmu pelan, menunduk.
Ni-Ki nggak menjawab lewat kata-kata. Dia menarikmu ke dalam pelukannya. Tubuhnya yang bongsor dan pundaknya yang lebar benar-benar menenggelamkan tubuh mungilmu. Dia mencium puncak kepalamu lama sekali.
“Aku bakal jagain kamu. Nggak akan ada yang berani nyentuh kamu kalau mereka tahu kamu punya aku. Trust me.”
Malam 14 Februari, Ni-Ki mengajakmu dinner di sebuah kafe rooftop yang agak jauh dari jangkauan mahasiswa kampusmu. Dia sangat romantis malam itu, memberimu buket bunga ukuran sedang yang dia sembunyikan di balik jaketnya dan sebuah kalung dengan inisial namanya.
“Buat pengingat kalau kamu itu milik aku. Titik. Nggak ada protes,” katanya posesif namun manis saat memakaikan kalung itu ke lehermu.
“Makasih, Sayang”
“Buat kamu apa sih yang engga,” Ni-Ki mencolek hidungmu gemas, kalian pun tertawa menikmati moment valentine malam ini dengan tenang.
Saat kalian beranjak pulang, di parkiran yang agak remang, Ni-Ki seolah nggak mau lepas. Dengan nggak sabaran nunggu sampai mobil, dia memelukmu sangat erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk lehermu, menghirup aroma tubuhmu yang menenangkan.
“Bentar... lima menit lagi,” gumamnya manja, kontras banget sama imejnya yang galak di depan anggota BEM.
Namun, tanpa kalian sadari, sebuah mobil lewat dengan kecepatan rendah. Di dalamnya ada Elsa.
Elsa menghentikan mobilnya dari kejauhan. Matanya menyipit melihat siluet Ketua BEM kebanggaannya sedang memeluk erat seorang gadis. Tubuh Ni-Ki yang besar memang menutupi wajahmu, tapi Elsa tahu itu jaket Ni-Ki.
Tangannya mengepal kuat di setir mobil. Dia curiga, tapi dia belum punya bukti kuat karena kamu benar-benar “hilang” di dalam dekapan Ni-Ki.
Hari Sertijab tiba. Pagi itu setelah kejadian di parkiran. Suasana ruang sekre BEM terasa dingin. Elsa berdiri di depan meja Ni-Ki, melemparkan sebuah berkas dengan kasar.
“Ki, siapa cewek semalam?” tanya Elsa tanpa basa-basi. Suaranya bergetar antara marah dan tidak percaya.
Ni-Ki bahkan tidak mendongak dari laptopnya. Jari-jarinya masih lincah mengetik draf laporan akhir. “Bukan urusan lo, El. Fokus ke LPJ divisi lo aja.”
“Bukan urusan aku? Kita udah bareng-bareng di BEM dua periode ini, Ki! Semua orang ngira kita bakal ‘jadi’. Terus semalam aku liat kamu meluk cewek di parkiran kayak orang kesetanan? Siapa dia? Anak maba mana yang kamu pungut?”
Ni-Ki berhenti mengetik. Dia mendongak, matanya yang tajam menatap Elsa dengan tatapan yang sangat dingin—tatapan yang nggak pernah dia kasih ke kamu.
“Jaga mulut lo, Elsa,” suara Ni-Ki rendah, tapi penuh ancaman. “Dia bukan pungutan. Dia alasan gue bisa bertahan di posisi ini sampai sekarang. Dan satu lagi, kita nggak pernah ada hubungan apa-apa selain rekan kerja. Jangan pernah lewat batas. Inget posisi lo dimana”
Elsa terdiam, wajahnya pucat pasi. Tapi dia belum menyerah. Dia tahu siapa kamu, dan dia berniat mempermalukanmu di kantin siang itu.
🏵️
Sertijab telah usai. Begitu Ni-Ki resmi meletakkan jabatannya, dia seolah melepas topeng “formal”-nya. Sehari setelah itu, Ni-Ki mendatangi kelasmu secara terang-terangan.
“Ayo, ngerjain skripsi di perpus pusat,” ajaknya di depan pintu kelas, saat teman-temanmu masih berkumpul.
“Ni-Ki! Orang-orang liatin!” bisikmu panik, mencoba mendorongnya menjauh.
“Biarin. Aku udah bukan Ketua BEM lagi. Aku cuma Ni-Ki, pacar kamu yang lagi butuh semangat buat lulus,” katanya lantang, sengaja biar semua orang dengar.
Di perpustakaan, dia menarik kursi tepat di sebelahmu. Tidak peduli pada bisik-bisik atau tatapan tajam Elsa yang kebetulan lewat, Ni-Ki justru menggenggam tanganmu di atas meja.
“Ni-Ki, lepas dulu... aku mau nulis,” bisikmu.
“Tulis pakai tangan kiri aja, Sayang. Tangan kananmu jatah aku,” jawabnya tanpa menoleh dari laptop, tapi senyum kemenangannya nggak bisa disembunyikan.
Dia bahkan mengangkat tangan kalian yang bertautan, lalu mengecup punggung tanganmu dengan bunyi cup yang jelas banget, membuatmu refleks menyembunyikan wajah di balik buku materi.
🏵️
Siang itu, kantin sangat ramai. Kamu sedang duduk sendiri menunggu kelas selanjutnya saat Elsa dan gerombolannya sengaja lewat dan menumpahkan sedikit minuman ke meja tempatmu belajar.
“Ups, sori. Sengaja,” cetus Elsa sinis. “Eh, (y/n) ya? Anak semester 4 yang katanya deket sama Ni-Ki? Sadar diri dong, Ni-Ki itu sebentar lagi lulus, punya masa depan cerah. Jangan jadi beban buat dia dengan hubungan rahasia nggak jelas ini.”
Mahasiswa di sekitar mulai berbisik. Kamu hanya bisa menunduk, meremas ujung bajumu. Kamu ingin lari, tapi sebuah tangan besar tiba-tiba mendarat di bahumu. Hangat. Sangat familiar.
“Siapa yang lo bilang beban, Elsa?”
Suara berat itu bikin seluruh kantin mendadak hening. Ni-Ki berdiri di belakangmu, wajahnya datar namun auranya sangat mengintimidasi.
Dia menarik kursi di sebelahmu, lalu duduk dengan santai sambil merangkul pinggangmu secara posesif di depan semua orang.
“Gue yang minta hubungan ini dirahasiain, karena gue nggak mau pacar gue diganggu sama orang-orang caper kayak lo,” kata Ni-Ki sambil menatap Elsa tajam.
Ni-Ki kemudian menoleh padamu, tatapannya berubah 180 derajat menjadi sangat lembut. Dia mengambil tisu, mengelap tumpahan air di mejamu tanpa rasa risih.
Elsa dan gengnya masih bergeming. Bingung antara mau membalas atau melangkah pergi sedangkan Ni-Ki dengan santainya tadi setelah pergi membeli siomay kesukaanmu akhirnya mengambil suapan pertama untuk diberikan kepadamu. Kamu menatap sekeliling, beberapa mahasiswa melirik bahkan terang-terangan ngomongin kalian berdua di mejanya masing-masing, bahkan Elsa dan beberapa anggota BEM lainnya yang ada di kantin sempat syok.
“Kak, aku bisa makan sendiri,” kamu hendak mengambil alih garpu dari tangan Ni-Ki tapi dengan cepat tarik menjauh.
“Biarin mereka liat,” bisik Ni-Ki saat melihatmu ragu. “Aku mau mereka tahu kalau mulai sekarang, tugas utama aku bukan lagi ngurusin organisasi, tapi ngurusin kamu. Cepet makan, atau aku cium di sini?”
Ancaman itu bekerja. Kamu membuka mulut dengan wajah memerah, menerima suapan dari cowok yang sekarang nggak lagi jadi rahasia.
“Maaf ya, Sayang, gara-gara aku kamu jadi diginiin,” bisiknya cukup keras untuk didengar orang-orang sekitar. Dia lalu mencium pelipismu dengan berani. “Mulai sekarang, nggak ada rahasia lagi. Aku udah capek akting nggak kenal kamu di lorong.”
Elsa hanya bisa mematung, menanggung malu karena semua mata sekarang menatapnya dengan pandangan mengejek. Sementara itu, Ni-Ki justru dengan santai menyuapimu
Sore itu, setelah keributan di kantin, Niki membawamu ke Taman Baca yang sepi. Ni-Ki menarikmu untuk duduk di antara kedua kakinya, menyandarkan punggungmu ke dadanya yang bidang. Dia lanjut membaca jurnal di tabletnya, sementara dagunya diletakkan di bahumu. Sesekali, dia menciumi pipimu secara acak. Dia butuh waktu berdua saja denganmu tanpa gangguan.
“Tadi itu... kamu beneran nggak apa-apa?” tanyamu pelan saat kamu bersandar di dadanya yang bidang.
Ni-Ki semakin menarikmu masuk ke dalam pelukannya, menyandarkan dagunya mencari posisi ternyaman bahumu sesekali mengecupnya lembut.
“Harusnya aku yang nanya gitu. Maaf aku terlalu lama dengerin ketakutan kamu sampai lupa kalau tugasku itu jagain kamu, bukan nyembunyiin kamu.”
Dia meraih tanganmu, memainkan cincin perak yang baru saja dia selipkan di jarimu—sebuah janji baru.
“Sekarang semua orang tahu. Elsa nggak akan berani lagi. Sama orang yang katanya Fans aku itu nggak akan berani lagi. Karena mereka tahu, kalau mereka nyentuh kamu, itu artinya mereka cari masalah sama aku.”
Ni-Ki memutar tubuhmu agar menghadapnya. Dia menatap matamu dalam, tangannya mengusap pipimu lembut. “Makasih ya, udah bertahan di samping aku meski aku sering egois sama urusan organisasi. Sekarang aku udah bebas, aku mau habisin sisa semesterku cuma buat nemenin kamu kuliah, nungguin kamu di depan kelas, dan pamer ke semua orang kalau pacarku itu perempuan paling cantik di kampus ini, dan aku mau habisin sisa masa kuliahku cuma buat jadi ‘Ni-Ki pacarnya (y/n)’, bukan Ketua BEM.”
Kamu tersenyum, merasakan beban yang selama ini menghimpit dadamu menguap begitu saja. Ternyata, pengakuan Ni-Ki di depan umum adalah hal paling melegakan yang pernah kamu rasakan.
“Sekali lagi makasih ya, udah sabar kemarin-kemarin,” bisiknya serak di telingamu.
“Makasih juga karena udah buktiin kalau kamu serius sama hubungan ini, Kak.” Kamu menggenggam tangannya yang mendekap tubuh mungilmu.
Kamu bisa merasakannya—detak jantung Ni-Ki yang tenang namun kuat di punggungmu. Kamu sadar, Ni-Ki tidak pernah main-main. Dia benar-benar ingin dunianya berputar di sekitarmu sekarang.
🤍—THE END




Yeuu kasian gk dipilih lu Elsa 😜
Plssss suka bgt POV Riki yg kekginii 💋🤗,btw smngtttt mommyy