Not Just A Friend
Heeseung
Bagi orang lain, hubunganmu dengan Lee Heeseung mungkin terdengar seperti mimpi indah. Bagaimana tidak? Ibu kalian bersahabat sejak SMA, mengandung kalian di tahun yang sama—Heeseung hanya tiga bulan lebih tua darimu—dan kalian tumbuh besar di lingkungan yang identik.
Ada foto kalian mandi bersama di bak plastik saat balita, foto kalian menangis bersama karena jatuh dari sepeda, hingga foto kelulusan SMA di mana lengan Heeseung merangkul bahumu dengan protektif.
Sekarang, di masa kuliah, “kebersamaan” itu berlanjut ke level yang lebih privat. Kalian tinggal di sebuah rumah dua lantai di dekat kampus yang dibiayai penuh oleh kedua orang tua kalian. Heeseung di lantai atas, kamu di lantai bawah. Namun, garis batas itu hanyalah formalitas. Kamu punya kode akses unitnya, dan dia punya kunci cadangan kamarmu.
Siang itu, suhu musim panas sedang di puncaknya. Kamu baru saja menyelesaikan kelas maraton dan langsung mendaki tangga menuju unit Heeseung karena AC di kamarmu sedang bermasalah.
“Heeseung, gue gerah banget di sini. Musim panas bikin gue pengen lepas baju,” ucapmu sambil mengempaskan diri di sofa kain abu-abu miliknya. Kamu menarik kerah kausmu, mengipasi lehermu yang berkeringat dengan tangan.
Heeseung, yang sedang memunggungi kamu di area dapur kecilnya, hanya mendengus pelan. Bunyi es batu yang berdenting masuk ke dalam gelas kaca terdengar menyegarkan.
“Lepasin aja,” jawabnya santai, suaranya rendah dan tenang seperti biasa. “Kencengin suhu AC-nya, kalau nggak nanti gue ambilin kipas tambahan di gudang.”
Dia berbalik, membawa segelas besar es jeruk kesukaanmu. Heeseung hanya mengenakan kaus kutang putih (singlet) dan celana pendek olahraga. Otot lengannya yang kencang dan sedikit urat yang menonjol di tangannya terlihat jelas saat dia meletakkan gelas itu di meja depanmu.
Kamu tidak ragu. Dengan gerakan terbiasa, kamu menyangkutkan jari-jarimu ke ujung kaus dan menariknya melewati kepala, menyisakan kamu hanya dengan tank top tipis tanpa bra—karena toh, ini Heeseung. Kamu sudah sering melakukan ini di depannya sejak puber, menganggapnya tak lebih dari sekadar “kakak” atau bagian dari perabotan rumah.
“Ah... mendingan,” gumammu sambil meregangkan tubuh, membuat tank top itu sedikit terangkat dan menonjolkan lekuk tubuhmu.
Heeseung duduk di sebelahmu, sangat dekat hingga kulit lengan atasnya yang dingin karena uap es bersentuhan dengan kulit lenganmu yang panas. Dia menyesap minumannya sendiri, matanya tertuju pada layar TV yang mati, tapi sudut matanya sempat turun menyapu leher dan bahu putihmu yang kini terekspos.
“Minum dulu, nanti lo dehidrasi,” katanya sambil menyodorkan gelas es jeruk itu ke bibirmu.
Kamu tidak mengambil gelasnya. Kamu hanya memajukan wajah, membiarkan Heeseung memegang gelas itu sementara kamu menyesap sedotannya. Matamu terpejam menikmati rasa dingin yang mengalir di tenggorokanmu. Tanpa kamu sadari, setetes air es tumpah dari sudut bibirmu, mengalir turun ke dagu lalu jatuh ke tulang selangkamu, meresap ke kain tipis yang menutupi dadamu.
Tangan Heeseung berhenti bergerak. Matanya yang tajam kini terkunci pada tetesan air yang membasahi bajumu. Keheningan di ruangan itu tiba-tiba terasa berbeda—lebih berat, lebih padat.
“Y/N,” panggilnya pelan. Suaranya sedikit lebih serak dari satu menit yang lalu.
“Hm?” kamu menoleh, wajahmu hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Kamu bisa mencium aroma sabun mandi dan sisa parfum maskulinnya yang tercampur aroma jeruk.
Heeseung tidak menjawab dengan kata-kata. Bukannya menjauh, dia malah mengangkat tangan kirinya. Ibu jarinya yang kasar namun hangat menyentuh dagumu, mengusap sisa air di sana dengan gerakan lambat—terlalu lambat untuk ukuran seorang “teman”.
“Lain kali kalau minum hati-hati,” bisiknya. Matanya tidak menatap matamu, melainkan terpaku pada bibirmu yang masih basah.
Detik itu, untuk pertama kalinya dalam seumur hidupmu, suhu AC yang sudah paling rendah pun tidak mampu mendinginkan rasa panas yang tiba-tiba menjalar dari dadamu hingga ke wajah.
Kamu menyadari satu hal.
Heeseung bukan lagi anak laki-laki yang menangis bersamamu di atas sepeda.
Dia adalah seorang pria. Dan dia sedang menatapmu seolah-olah kamu bukan lagi adiknya.
Langkahmu sedikit terhentak saat menuruni tangga dari unit Heeseung menuju kamarmu sendiri. Sentuhan ibu jarinya di dagumu tadi masih terasa hangat, seolah meninggalkan jejak permanen di sana. Kamu menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran aneh itu. “Dia cuma Heeseung,” batinmu meyakinkan diri.
Beberapa jam kemudian, perutmu keroncongan. Karena malas memasak, kamu memutuskan untuk berjalan ke minimarket yang berada tepat di seberang kompleks rumah kalian. Kamu tahu Heeseung sedang ada shift kerja part-time di sana sore ini.
Namun, suasana tenang musim panas itu pecah saat kamu hampir sampai di depan pintu kaca minimarket.
Tiga orang gadis, yang sepertinya kakak tingkat di kampus, sedang berdiri menghalangi jalan. Salah satunya—yang tampak paling dominan dengan riasan tebal—menatapmu dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan.
“Oh, ini cewek yang katanya ‘nempel’ terus sama Heeseung?” ucap si gadis di tengah, suaranya cempreng dan penuh nada mengejek.
“Gak tahu malu banget ya, kemana-mana ekornya Heeseung terus. Lo nggak punya temen lain apa gimana?”
Kamu menghentikan langkah, menyilangkan tangan di dada. “Masalahnya sama lo apa ya?”
“Masalahnya? Heeseung itu kualitasnya beda sama lo. Jangan narik dia turun cuma karena lo manja dan nggak bisa mandiri,” timpal temannya yang lain sambil tertawa sinis.
Darahmu mendidih. Kamu bukan tipe orang yang diam saja saat diprovokasi. “Gue nggak nempel, kita tinggal serumah. Kalau iri bilang, nggak usah pakai bawa-bawa kualitas. Lo bahkan nggak tahu rasa es jeruk buatan dia gimana, kan?”
“Lo—!” Gadis itu maju, wajahnya memerah karena marah, tangannya terangkat seolah ingin mendorong bahumu.
Kring!
Pintu minimarket terbuka. Sosok tinggi dengan seragam rompi biru tua melangkah keluar. Heeseung, dengan wajah lelah pasca melayani pelanggan, langsung menangkap keributan di depan matanya.
“Kenapa nih ribut-ribut?” Suara Heeseung berat dan dingin, seketika membungkam tawa sinis ketiga gadis itu.
“Heeseung... ini, cewek ini nggak sopan banget tadi pas kita mau lewat,” ucap si pemimpin geng tadi, tiba-tiba mengubah suaranya menjadi lembut dan manja.
Heeseung tidak melihat ke arah gadis itu. Matanya terkunci padamu yang masih memasang wajah galak dengan kepalan tangan yang siap menghantam sesuatu. Heeseung menghela napas panjang, lalu melangkah tepat ke tengah-tengah, memisahkanmu dari mereka.
“Dia Sahabat gue,” ucap Heeseung datar kepada ketiga gadis itu. Matanya menatap mereka satu per satu dengan tatapan yang membuat mereka mundur selangkah. “Dan kalau kalian punya masalah sama dia, berarti kalian punya masalah sama gue juga. Cabut sekarang gak lo pada.”
Ketiga gadis itu hanya bisa melongo, lalu pergi dengan gerutu kesal setelah melihat betapa protektifnya Heeseung berdiri di depanmu.
Begitu mereka menjauh, Heeseung berbalik. Tapi bukannya menenangkanmu, dia malah menjentik dahimu dengan keras.
“Aduh! Sakit, Heeseung!” protesmu sambil memegangi dahi.
“Lagian lo ngapain sih? Berantem sama nenek sihir kayak gitu nggak ada gunanya,” omelnya, nadanya tinggi karena khawatir tapi terdengar menyebalkan di telingamu. “Kalo tadi mereka beneran main tangan gimana? Lo mau babak belur di depan minimarket?”
Kamu mendengus kesal, memalingkan wajah. “Gue bisa bela diri. Taekwondo? Silat? Boxing? Gue jabanin sini. Mereka yang duluan nyari gara-gara, bawa-bawa nama lo lagi.”
“Diem,” potongnya tegas. Dia menarik tanganmu, menyeretmu masuk ke dalam minimarket yang dingin karena AC. Dia mendudukkanmu di kursi tinggi dekat jendela kaca. “Tunggu di sini sampai shift malam gue selesai. Dua puluh menit lagi. Jangan berani keluar kalau nggak bareng gue.”
“Gue laper, Seung—”
Dia tidak menjawab, tapi berjalan ke rak makanan, mengambil sebuah roti isi dan susu cokelat, lalu meletakkannya di depanmu. “Makan. Diem di situ, jangan kemana-mana.”
Kamu hanya bisa mengerucutkan bibir, memerhatikan punggungnya yang kembali ke balik meja kasir. Dari tempatmu duduk, kamu bisa melihat bagaimana Heeseung bekerja. Cara dia melayani pelanggan dengan sopan, tapi matanya sesekali melirik ke arahmu melalui pantulan kaca—memastikan kamu masih duduk di sana, memastikan kamu aman dalam jangkauan pandangannya.
Dua puluh menit berlalu. Heeseung keluar dari ruang staf sudah dengan baju santainya, menyampirkan tas di bahu.
“Ayo balik,” ajaknya singkat.
Kalian berjalan bersisian menembus angin malam yang mulai sejuk. Suasana hening, hanya suara gesekan sandal kalian di aspal. Jarak antara kalian sangat tipis—setiap beberapa langkah, punggung tangannya tidak sengaja menyentuh punggung tanganmu.
“Tadi... makasih,” gumammu pelan.
Heeseung menghentikan langkahnya tepat di depan gerbang rumah. Dia menunduk, menatapmu dengan ekspresi yang sulit dibaca. Tangannya terangkat, bukan untuk menjentik dahimu lagi, tapi kali ini jemarinya merapikan anak rambut yang menutupi matamu, lalu tangannya turun, menggenggam pergelangan tanganmu dengan erat.
“Lain kali, kalau ada yang ganggu, panggil gue. Jangan sok jagoan sendiri jadi bocah,” bisiknya, ibu jarinya mengusap kulit nadi di pergelangan tanganmu, membuat jantungmu berpacu dua kali lebih cepat. “Lo itu tanggung jawab gue, Y/N. Lo paham?”
Kamu hanya bisa mengangguk kaku, mendadak kehilangan kemampuan untuk membalas ejekannya.
🍻
To Be Continued



tanggung jawab lo?
oh, nikahin gue pls
cinta banget sama heeseung disini, jadi pengen panggil dia aa