Sore itu benar-benar membosankan. Kamu sudah dua jam tiduran di sofa, scrolling TikTok sampai jarimu pegal, tapi tidak ada satu pun video yang menarik. Saat perutmu mulai keroncongan, kamu memutuskan ke dapur untuk membuat mi instan. Sialnya, begitu knop kompor gas diputar, pemantiknya hanya berbunyi klik-klik tanpa mengeluarkan api sedikit pun. Gasnya masih penuh.
Sebuah ide nakal mendadak melintas di kepalamu saat melihat ponsel. Kamu membuka ruang obrolan dengan Jake.
โJake, kompor kosan aku mati. Punya keahlian benerin ginian nggak? Atau kamu cuma ahli bikin yang lain โpanasโ?โ
Tidak butuh waktu lama sampai sebuah balasan masuk.
โSepuluh menit. Siapin aja bayarannya.โ
Tepat sepuluh menit kemudian, Jake sudah berdiri di ambang pintu dapurmu. Ia hanya mengenakan kaus oblong putih polos yang sedikit ketat dan celana pendek hitam. Efek baru pulang futsal, pikirmu. Wajahnya yang tampan terlihat santai, ada senyum tipis yang meremehkan saat ia melihatmu yang sengaja memakai kaus kebesaran yang mengekspos paha mulusmu.
โMana yang rusak?โ tanya Jake, langsung berjalan mendekati kompor tanpa basa-basi. Ia membungkuk, memeriksa tabung gas dan selangnya. Posisi itu membuat otot lengan dan punggungnya tercetak jelas di balik kaus putihnya.
Kamu bersandar di konter dapur, tepat di sebelah Jake, lalu sengaja mendekatkan tubuhmu hingga lengan kalian bergesekan. โItu... nggak mau nyala. Kayak kamu kalau lagi cuek.โ
Jake terkekeh rendah, matanya tetap fokus pada pemantik kompor, tapi tangan kirinya tiba-tiba terulur dan menepuk pantatmu pelan. Plak. โNakal ya. Sengaja kan biar aku ke sini?โ
โKalau iya kenapa? Kamunya juga mau langsung dateng,โ godamu lagi, jemarimu mulai berani bermain di tengkuknya, membelai rambut belakangnya yang agak basah oleh keringat. โJadi... bisa dibenerin nggak? Aku udah laper banget. Tapi nggak tahu laper karena mi atau laper karena hal lain.โ
Jake menghentikan kegiatannya. Ia memutar tubuhnya, mengunci posisimu dengan kedua tangannya di sisi konter dapur, membuatmu terperangkap di antara tubuh besarnya dan meja konter. Tatapannya berubah gelap, dipenuhi kilat gairah seorang pemain yang tahu persis kapan harus menyerang.
โKompornya gampang,โ bisik Jake, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajahmu. Aroma keringat jantan dan parfumnya yang maskulin langsung memenuhi indra penciumanmu. โTapi kalau lapar yang โlainโ, aku bisa kasih makan kamu sampai kenyang sekarang juga. Mau?โ
Aroma parfum maskulin yang bercampur dengan sisa keringat sehabis futsal dari tubuh Jake mendadak terasa seribu kali lebih pekat. Jarak yang terkikis habis di antara tubuh kalian membuat udara di dapur yang sempit itu mendadak berubah super gerah.
Jake tidak memberikan ruang sedikit pun untukmu menarik napas. Tatapan gelapnya mengunci pergerakanmu, sebelum akhirnya ia memiringkan kepala, mendekatkan bibirnya yang hangat hingga menyapu permukaan kulitmu. Tanpa menunggu persetujuan atau aba-aba, ia langsung menunduk dan melahap bibirmu telak.
โEmhh...โ
Lenguhan pelan lolos dari sela bibirmu saat tautan itu langsung terasa menuntut. Kamu yang sudah hafal dengan ritmenya sama sekali tidak menolak. Kedua lenganmu langsung terangkat, mengalung erat di leher Jake, jari-jarimu meremas rambut di tengkuknya yang masih agak basah.
Ciuman itu tidak ada lembut-lembutnya sama sekali. Hubungan tanpa status yang sudah berjalan hampir tiga tahun sebagai tetangga kos membuat Jake tahu persis titik lemahmu. Bunyi kecapan yang cukup keras mulai menggema di ruang dapur yang sepi, bersahut-sahutan dengan detak jantungmu yang mendadak maraton.
Belum sempat kamu mengumpulkan oksigen, Jake menempelkan tubuhnya lebih rapat, mendesakmu hingga punggungmu membentur dinding keramik konter dapur. Detik berikutnya, kedua tangan kekar Jake berpindah ke pinggangmu. Dengan satu sentakan mudah, ia mengangkat tubuhmu dan mendudukkanmu di atas konter dapur.
Perubahan posisi itu membuat ciuman Jake semakin brutal. Ia memperdalam pagutan, memiringkan posisi kepala bergantian untuk menyesap bibir atas dan bawahmu tanpa membiarkanmu bernapas. Kamu terengah-engah di dalam dekapannya, kepalamu agak mendongak menikmati dominasi cowok di depanmu ini.
Tangan Jake mulai menjelajah dengan liar. Dari pinggang, telapak tangannya yang hangat dan agak kasar naik ke atas, meremas dadamu dari balik kaus kebesaran yang kamu pakai. Remasan kuat itu sukses membuatmu melenguh tertahan di tengah ciuman.
Tak puas sampai di situ, tangan Jake turun dengan cepat, menyelinap ke balik celana pendek gemas yang kamu kenakan. Begitu jemarinya yang hangat bersentuhan langsung dengan kulit paha bagian dalammu dan bergerak naik tanpa aba-aba, matamu langsung terbelalak. Kamu memekik keras, separuh terkejut dan separuh keenakan karena sentuhan yang tiba-tiba itu.
โJake... ahh,โ bisikmu putus-putus saat ciumannya beralih turun ke perpotongan lehermu, meninggalkan jejak-jejak basah yang membuat seluruh tubuhmu merinding.
Jake terkekeh rendah di ceruk lehermu, getaran suaranya terasa geli di kulitmu. Tangannya di dalam sana bergerak semakin berani, menuntut reaksi yang lebih dalam dari tubuhmu.
โKatanya tadi lapar, hmm?โ bisik Jake dengan suara serak yang seksi tepat di telingamu, sementara jemarinya terus bermain dengan ritme yang perlahan membuat akal sehatmu menguap. โIni baru makanan pembukanya.โ
Suasana di dalam dapur kosan yang tadinya terasa pengap kini berubah menjadi ruang yang sepenuhnya dikuasai oleh ketegangan yang pekat. Udara seolah menipis, menyisakan deru napas yang saling memburu di antara kamu dan Jake. Hubungan tanpa nama yang telah terjalin selama tiga tahun ini memang selalu berjalan di bawah radar, sebuah rahasia tak tertulis di koridor kos-kosan yang tenang, namun selalu meledak dengan intensitas yang sama setiap kali pintu ditutup.
Jake menarik diri beberapa sentimeter dari ceruk lehermu, memberikan ruang bagimu untuk menghirup oksigen yang sedari tadi tertahan. Tatapannya masih segelap malam, menatap lurus ke dalam matamu yang mulai sayu karena stimulasi yang bertubi-tubi. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, tangan Jake yang berada di balik celanamu bergerak dengan kepastian yang mutlak. Dengan satu gerakan yang terukur, ia menurunkan celana pendek longgar yang kamu kenakan bersamaan dengan pakaian dalammu yang sudah tak mampu menyembunyikan respons alami tubuhmu.
Pakaian itu terlepas begitu saja, jatuh di lantai dapur yang dingin, kontras dengan suhu tubuh kalian yang terus meroket. Jake menurunkan pandangannya sejenak, mengamati bagaimana tubuhmu bereaksi sepenuhnya terhadap kehadirannya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis, ekspresi kepuasan dari seorang pria yang tahu persis bahwa ia memegang kendali penuh. Ia membasahi bibirnya sendiri, gestur sederhana yang entah bagaimana terlihat begitu lapar dan penuh intimidasi di bawah pendar lampu dapur yang remang-remang.
โTernyata kamu beneran kelaparan,โ bisik Jake, suaranya kini terdengar lebih berat dan serak, bergetar di rongga dadanya yang bidang.
Sebelum kamu sempat membalas ejekannya, kedua tangan Jake yang besar dan hangat mencengkeram kedua lututmu. Dengan perlahan namun tegas, ia mendorong kakimu ke samping, membuka pertahananmu lebar-lebar di atas konter dapur. Posisi ini membuatmu merasa sangat terekspos, namun tatapan Jake yang tidak lepas darimu justru memberikan sensasi mendebarkan yang membuat bulu kudukmu meremang. Ia menatap lekat-lekat kilau basah yang menandakan betapa tubuhmu menginginkannya, sebelum kembali mengarahkan manik matanya yang tajam langsung ke matamu. Ia ingin kamu melihat apa yang akan dilakukannya.
Tanpa memberikan jeda untukmu bersiap, Jake menundukkan kepalanya. Sentuhan pertama lidahnya di area paling sensitifmu membuat seluruh tubuhmu menegang seketika. Sensasi hangat, basah, dan kontras dengan udara malam langsung menyengat sistem sarafmu. Kamu refleks mencengkeram pinggiran meja konter dapur hingga jemarimu memutih, menahan diri agar tidak merosot jatuh.
Jake tidak melakukannya dengan tergesa-gesa. Sesuai dengan ritme pelan yang membakar yang selalu menjadi keahliannya, ia memulai dengan sesapan-sesapan lambat yang penuh tekanan di sekitar klitorismu. Setiap gerakan lidahnya terasa begitu sengaja, memetakan setiap senti kepekaan yang kamu miliki. Detik berikutnya, ia menekan lebih dalam, menyesap inti dirimu yang sudah basah kuyup dengan ritme yang konsisten, membuatmu terengah-engah tanpa bisa memprotes.
โJake... nggh, Jake...โ
Nama itu lolos begitu saja dari belahan bibirmu, berubah menjadi untaian desahan yang memenuhi ruang dapur yang sunyi. Suaramu terdengar asing di telingamu sendiriโterlalu serak, terlalu pasrah, dan sepenuhnya menggoda. Mendengar namamu dipanggil dengan nada seperti itu tampaknya memberikan suntikan energi baru bagi Jake. Gerakan lidahnya berubah menjadi lebih intens, menyapu dan memainkan titik paling sensitifmu dengan keahlian yang hanya bisa didapatkan dari pengalaman bertahun-tahun bersamamu.
Namun, Jake tidak berhenti di situ. Sembari lidahnya terus memberikan stimulasi yang memabukkan di bagian luar, tangan kanannya naik dan menumpu di paha bagian dalammu. Dua jarinya yang panjang dan besar, yang biasanya lihai melempar bola di lapangan futsal, kini menemukan fungsi lain yang jauh lebih intim. Dengan dorongan yang perlahan namun pasti, kedua jari itu menyelinap masuk ke dalam kehangatan dirimu yang sudah siap menyambutnya.
โAhhh!โ
Kamu memekik pelan, punggungmu refleks melengkung dari permukaan konter. Sensasi penuh yang tiba-tiba itu membuat kepalamu mendongak, menatap langit-langit dapur dengan pandangan yang mengabur. Dua jari Jake bergerak masuk dan keluar dengan ritme yang selaras dengan gerakan lidahnya di luar, menciptakan kombinasi stimulasi ganda yang membuat akal sehatmu perlahan-lahan menguap ke udara.
Jake bisa merasakan bagaimana dinding tubuhmu menjepit jemarinya dengan erat, sebuah reaksi otot yang menandakan bahwa kamu sudah berada diambang batas. Ia sengaja mempercepat temponya sedikit, menekuk jarinya di dalam untuk menyentuh titik terdalam yang selalu berhasil membuatmu kehilangan kendali. Setiap kali jari-jarinya bergerak tenggelam dan menarik diri, bunyi gesekan basah yang intim terdengar, memicu adrenalin yang membuat detak jantungmu kian menggila.
โBagus... terus panggil namaku,โ gumam Jake di sela-sela kegiatannya, suaranya teredam oleh kulit pahamu. Ia mendongak sejenak, menatap wajahmu yang memerah, matamu yang terpejam rapat, dan bibirmu yang tergigit menahan suara yang lebih keras. โJangan ditahan.โ
Perintah itu meruntuhkan pertahanan terakhirmu. Kamu tidak lagi peduli jika ada anak kos lain yang lewat di koridor luar. Desahan demi desahan mengalir deras dari tenggorokanmu, bersahut-sahutan dengan napas Jake yang juga mulai memberat. Kedua tanganmu beralih dari konter dapur menuju rambut Jake, mencengkeram helaian hitamnya yang setengah basah, menuntunya untuk menekan lebih dalam, memohon secara tidak langsung untuk mengakhiri siksaan manis ini.
Ketegangan di dalam tubuhmu menumpuk dengan cepat, seperti ombak yang menggulung tinggi di tengah lautan dan siap menghantam pantai. Setiap sentuhan lidah Jake dan setiap ketukan jarinya di dalam dirimu membawa gelombang panas yang berpusat di perut bagian bawahmu. Kamu bisa merasakan otot-otot tubuhmu mulai gemetar, tanda bahwa puncak itu sudah sangat dekat.
Jake, dengan kepekaan instingnya yang tajam, menyadari perubahan ritme tubuhmu. Bukannya memperlambat untuk menyiksamu lebih lama, kali ini ia memilih untuk membawamu terbang. Gerakan jarinya menjadi lebih dalam dan bertenaga, sementara sesapan lidahnya di atas klitorismu menjadi lebih tegas dan menuntut.
โJake, aku... aku nggak kuat... ahh!โ
Kalimatmu terputus saat gelombang kenikmatan yang luar biasa itu akhirnya pecah. Tubuhmu menegang hebat seiring dengan dinding intimmu yang menjepit jemari Jake dalam kontraksi yang berulang-ulang. Sensasi pelepasan itu mengalir ke seluruh ujung sarafmu, membuatmu mendesahkan nama Jake satu kali terakhir dengan sisa tenaga yang ada sebelum seluruh tubuhmu melemas sepenuhnya.
Jake mempertahankan posisinya selama beberapa saat, membiarkan tubuhmu menyelesaikan denyut kekosongan pasca-puncak, menikmati bagaimana kamu perlahan-lahan kembali memijak bumi di dalam dekapannya.
Keheningan pasca-puncak yang baru saja kamu lalui terasa seperti jeda di tengah badai. Napasmu masih tersengal, memburu oksigen yang terasa kurang di paru-paru, sementara tubuhmu masih bergetar hebat di atas konter dapur. Sensasi hangat yang tertinggal dari permainan Jake masih terasa nyata di seluruh permukaan kulitmu.
Jake tidak segera menjauh. Ia masih berada di sana, menopang berat tubuhnya dengan satu tangan di konter, sementara tangan lainnya perlahan menarik diri dari keintimanmu, meninggalkan jejak panas yang seolah masih berdenyut. Ia menatapmu lekat-lekat, matanya yang tadi penuh dengan fokus intens kini perlahan melunak, namun kilat gairah di dalamnya sama sekali tidak meredup. Sebaliknya, intensitas itu justru meningkat, berubah menjadi bentuk kelaparan yang lebih mendasar, lebih jujur.
Ia berdiri tegak, merapikan posisinya namun tidak pernah memutus kontak mata barang sedetik pun. Kamu masih terduduk di konter, rambutmu berantakan, kausmu tersingkap, dan napasmu masih belum beraturan. Jake menatapmu seolah kamu adalah satu-satunya hal yang nyata di dunia ini, sebuah pemandangan yang tak ingin ia lewatkan sedikit pun.
โMasih mau pura-pura cuma laper karena mi instan?โ suara Jake terdengar serak, hampir seperti geraman rendah yang bergetar di udara dapur. Ia melangkah maju, memangkas jarak yang tersisa, hingga kakinya berdiri di antara kedua paha yang terbuka lebar.
Kamu hanya bisa menatapnya, bibirmu sedikit terbuka, ketidakmampuanmu untuk berkata-kata adalah jawaban paling jujur. Tubuhmu masih terlalu lemas, masih terlalu dipenuhi sisa-sisa puncak kenikmatan, namun di saat yang sama, kehadiran Jake yang begitu dekat memicu kembali debar yang baru saja mereda.
Jake meraih pinggangmu, jemarinya yang kokoh mencengkeram kulitmu dengan posesif. Ia tidak butuh jawaban verbal. Ia tahu betul apa yang kamu inginkan, sama seperti ia tahu betul apa yang ia inginkan. Dan saat ini, di dapur kos yang sempit ini, keinginan kalian berdua telah melebur menjadi satu titik fokus yang tak terelakkan.
โAku udah nunggu timing ini sejak aku ngetok pintu tadi,โ bisik Jake, wajahnya mendekat hingga hidung kalian bersentuhan. โAku bisa mencium aroma gairah kamu, dan itu nyiksa aku lebih dari apa pun.โ
Tanpa membuang waktu, ia meraih sesuatu dari sakunyaโsebuah pengingat akan rutinitas yang selalu kalian jalani setiap kali keadaan ini terjadi. Gerakannya sangat hafal, sebuah koreografi yang sudah terasah selama tiga tahun terakhir. Jake tidak memberikanmu ruang untuk berpikir, ia hanya ingin kamu merasakan kehadirannya sepenuhnya.
Ia menekan tubuhnya lebih rapat, mendesakmu agar lebih bersandar ke belakang di atas meja konter. Tekanan tubuhnya yang berat dan maskulin terasa begitu dominan, membuatmu merasa kecil di bawahnya. Kamu mengalungkan tangan di lehernya lagi, menariknya mendekat, membiarkan tubuhmu menuntut apa yang seharusnya sudah terjadi sejak lama.
Jake memposisikan dirinya, dan dengan satu dorongan yang terkontrol namun tegas, ia membiarkan dirinya merasakan hangatnya dirimu. Kamu memekik pelan, sebuah suara yang tertahan di tenggorokan saat sensasi penuh itu kembali mengisi ruang kosong di dalam dirimu. Itu adalah perasaan yang selalu terasa sama, selalu terasa intens, dan selalu membuat duniamu berhenti berputar.
Jake berhenti sejenak, membiarkan tubuhmu beradaptasi dengan kehadirannya. Ia menatap matamu, mencari konfirmasi, menunggumu untuk menarik napas panjang dan menyambutnya sepenuhnya. Kamu mengangguk pelan, jemarimu semakin erat meremas bahunya, sebuah sinyal yang sudah lebih dari cukup bagi Jake.
Gerakannya dimulai dengan perlahan. Jake bukan tipe orang yang terburu-buru saat ia sudah memiliki apa yang ia inginkan sepenuhnya di bawah kendalinya. Ia ingin menikmati setiap inci, setiap gesekan, setiap kontraksi yang kamu berikan. Ia mulai bergerak, masuk dan keluar dengan ritme yang lambat namun dalam, menciptakan gesekan yang membakar di setiap titik sarafmu.
Dapur yang tadinya dingin kini terasa seperti tungku api. Bunyi napas kalian yang saling bersahutan, gesekan tubuh yang menciptakan ritme beraturan, dan desahan yang kini tidak lagi kamu tahan, semuanya memenuhi ruangan. Jake membiarkan tangannya menjelajah, dari pinggangmu, turun ke paha, hingga kembali naik untuk membelai punggungmu, memastikan kamu tetap terikat dengannya dalam setiap detik pergerakan.
Setiap kali ia bergerak maju, kamu merasa seolah-olah dirimu terangkat dari dunia nyata, dibawa terbang ke tempat di mana hanya ada sensasi, di mana hanya ada dirimu dan Jake. Kamu memejamkan mata, membiarkan insting mengambil alih, membiarkan tubuhmu merespons setiap sentuhannya dengan cara yang paling liar.
Jake terkekeh pelan di sela napasnya yang memberat, menyukai bagaimana kamu tidak lagi mencoba menjaga jarak, bagaimana kamu membiarkan dirimu sepenuhnya pasrah di bawah kendalinya. Ia mempercepat temponya, mengubah ritme yang lambat tadi menjadi sesuatu yang lebih menuntut, lebih bertenaga. Setiap hantaman terasa begitu tepat, menghantam titik yang selalu berhasil membuat duniamu guncang.
โLihat aku,โ perintah Jake di tengah gerakannya yang semakin intens.
Kamu membuka mata, menatap matanya yang juga menatapmu dengan penuh rasa lapar. Di sana, kamu melihat refleksi dirimu sendiri, wajah yang memerah, mata yang berkaca-kaca, dan bibir yang terbuka menahan desahan. Itu adalah pemandangan yang tampaknya memicu Jake untuk bergerak lebih jauh, lebih dalam.
โKamu punya aku sekarang, di sini,โ bisiknya, suaranya kini terdengar seperti sebuah janji sekaligus pernyataan.
Kamu tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan tarikan di lehernya, memaksanya untuk terus bergerak, untuk tidak berhenti sampai kalian berdua mencapai batas. Dan di dapur itu, di tengah malam yang membosankan yang berubah menjadi malam yang tak akan pernah kalian lupakan, kalian berdua pun tenggelam dalam pusaran gairah yang hanya bisa kalian berdua pahami, tanpa perlu definisi, tanpa perlu status, hanya ada kalian dan keinginan yang saling terpenuhi.
xixixi
to be continued
lanjut nanti





Ini emang langsung ke intinya yaa๐ญ๐๐ป
Info kostan jake dong๐