baca selengkapnya di Wattpad…
Suasana di depan meja rias itu mendadak kehilangan oksigen. Kamu bisa melihat di cermin bagaimana jemari Sunghoon yang panjang bekerja dengan ritme yang sangat dominan di balik kain piyamamu. Pria itu benar-benar tidak memberikan ruang bagimu untuk memprotes tanda baru yang ia tinggalkan di lehermu.
“M-mas... pelan...” rintihmu tertahan, namun Sunghoon justru semakin gencar.
Saat kamu mencoba menoleh untuk memprotes, Sunghoon justru menggunakan jemarinya untuk memiringkan wajahmu ke samping. Ia mengunci pandanganmu melalui pantulan cermin sejenak sebelum menyambar bibirmu dengan ciuman yang sangat dalam dan menuntut. Lidahnya menyapu dengan ahli, membungkam segala kata-kata protes yang ingin kamu keluarkan.
Kedua tangannya kini tidak lagi hanya diam. Di dalam piyama, Sunghoon fokus menguleni dadamu dengan remasan yang mantap namun presisi, seolah ia sedang menghafal setiap lekuk tubuhmu yang sempat ia tinggalkan tiga tahun lalu. Sensasi hangat dari telapak tangannya yang lebar bertemu dengan sensitivitas kulitmu membuat tubuhmu gemetar hebat.
Kamu terpaksa bertumpu pada meja rias di depanmu karena lututmu benar-benar terasa seperti jeli. Suara kecupan yang basah dan napas Sunghoon yang menderu di telingamu menjadi satu-satunya melodi di kamar itu.
“Mas sudah bilang, kan?” bisiknya serak di sela ciuman, matanya menatapmu intens lewat cermin sementara tangannya masih sibuk di dalam sana. “Mas nggak akan biarkan kamu lepas lagi. Setiap jengkal tubuh kamu ini... Mas mau tandai lagi biar kamu ingat siapa pemiliknya.”
Kamu hanya bisa mendongakkan kepala, memberikan akses lebih luas bagi Sunghoon untuk terus menjelajahi lehermu. Rasa malu karena melihat dirimu sendiri diperlakukan seperti itu di depan cermin bercampur dengan gairah yang meledak. Malam ini benar-benar bukan hanya tentang menutup luka lama, tapi tentang Sunghoon yang menegaskan posisinya sebagai satu-satunya support system—dan satu-satunya pria—yang punya hak penuh atas dirimu.
Di bawah kendali Sunghoon yang sangat terampil, kamu akhirnya menyerah sepenuhnya, membiarkan piyama yang baru saja kamu pakai kembali berantakan di atas lantai kamar.
Sunghoon benar-benar kehilangan sisa kesabarannya. Dengan gerakan yang lugas namun terarah, ia melepaskan kancing piyamamu satu per satu hingga kain satin itu merosot jatuh ke lantai, menyisakan pemandangan yang membuat napasnya semakin memburu. Di depan cermin, kamu bisa melihat dirimu sendiri yang tampak begitu berantakan, rambut yang sedikit acak-acakan, pipi yang merona hebat, dan bra yang cup-nya sudah bergeser naik ke atas akibat ulah tangannya tadi, menonjolkan bagian sensitifmu yang mengintip malu-malu.
Kontras antara kulitmu yang halus dengan tubuh Sunghoon yang tinggi, tegap, dan atletis di belakangmu menciptakan pemandangan yang begitu provokatif. Tanpa atasan, otot-otot di bahu dan punggungnya yang kokoh terlihat bergerak setiap kali ia memberikan sentuhan baru. Perutmu rasanya seperti diaduk, bukan karena rasa cemas skripsi kali ini, melainkan karena gairah yang membubung tinggi akibat gesekan kulit kalian yang langsung.
“Liat di kaca, Sayang,” bisik Sunghoon parau, suaranya kini terdengar sangat rendah dan berbahaya.
Ia menempelkan tubuh depannya yang panas ke punggungmu yang dingin, membuatmu berjengit kecil karena sensasi yang mengejutkan. Tangannya kembali naik, kali ini tidak masuk ke dalam baju, tapi langsung bersentuhan dengan kulitmu. Ia menarik perlahan pengait bramu hingga terlepas, membiarkan dadamu kini benar-benar bebas dari halangan apapun.
“Kamu cantik banget kalau lagi berantakan begini,” gumamnya sambil memperhatikan pantulanmu yang terlihat sangat sexy dan pasrah di bawah kendalinya.
Sunghoon kembali mengunci bibirmu, sementara tangannya berpindah ke pinggangmu, menarikmu agar bokongmu semakin menekan ke arah kejantanannya yang sudah menegang di balik celana piyama. Kamu hanya bisa meremas pinggiran meja rias dengan kuat, memejamkan mata saat Sunghoon mulai mengeksplorasi area yang lebih sensitif.
Segala lelah bimbingan, ketegangan di mall, hingga konflik masa lalu seolah menguap sepenuhnya. Di depan cermin itu, Sunghoon membuktikan bahwa dia bukan hanya pria soft-spoken yang sabar menemanimu bimbingan, tapi juga pria dominan yang tahu persis bagaimana cara membuatmu melupakan seluruh dunia, selain kehadirannya yang mendominasi setiap sel sarafmu malam ini.
Suasana di depan meja rias itu kini benar-benar kehilangan kendali. Suara napas yang menderu dan gesekan kulit menjadi satu-satunya suara yang mendominasi keheningan malam di apartemen. Kamu merasa duniamu berputar saat Sunghoon dengan gerakan yang cepat namun penuh perhitungan, melorotkan celana piyama pendek beserta pakaian dalammu hingga semuanya menumpuk tak berdaya di atas lantai.
Kini, kamu benar-benar polos di bawah tatapan intens Sunghoon yang terpantul di cermin. Dinginnya udara AC di kamar mendadak kalah oleh hawa panas yang terpancar dari tubuh Sunghoon yang menempel di punggungmu.
“Mas... eunghh,” desahanmu lolos begitu saja saat merasakan jemari Sunghoon yang lincah mulai menyelinap ke bawah, menjelajahi area paling sensitifmu dengan ritme yang sengaja ia mainkan untuk menyiksamu secara nikmat.
Sentuhannya yang ahli membuat seluruh tubuhmu gemetar, jemarimu mencengkeram pinggiran meja rias hingga memutih. Sunghoon benar-benar tahu di mana letak kelemahanmu, dan ia tidak ragu untuk menekannya hingga kamu nyaris kehilangan kesadaran.
“Sshh, jangan cuma merem, Sayang. Liat ke kaca,” bisik Sunghoon, suaranya kini terdengar sangat dalam dan penuh otoritas.
Ia menarik jemarinya sejenak, memberikan jeda yang membuatmu merasa haus akan sentuhannya. Kemudian, dengan tangan yang masih mengunci pinggangmu, ia memutar tubuhmu atau lebih tepatnya memposisikanmu untuk menungging ke arah cermin besar itu.
“Tumpukan tanganmu di meja,” perintahnya lembut namun tak terbantahkan.
Kamu menurut dengan tubuh yang sudah lunglai. Posisi ini membuatmu bisa melihat dengan jelas bagaimana kontrasnya tubuhmu yang mungil dengan sosok Sunghoon yang begitu dominan di belakangmu. Sunghoon kembali menempelkan tubuhnya, dadanya yang bidang bergesekan dengan punggungmu, sementara tangannya kembali bergerak ke depan, meraih dadamu dan menariknya sedikit ke atas agar kamu bisa melihat pantulan yang sangat provokatif itu.
“Liat dirimu sendiri, secantik apa kamu sekarang kalau lagi sama Mas,” gumam Sunghoon sambil mengecup tengkukmu berkali-kali. “Mas mau kamu inget terus posisi ini. Biar besok, pas kamu lagi ngerjain skripsi di meja ini, kamu inget kalau meja ini juga pernah jadi saksi betapa berantakannya kamu di tangan Mas.”
Kamu hanya bisa mengerang rendah, menyembunyikan wajahmu di antara lengan yang bertumpu pada meja rias, sementara Sunghoon mulai bersiap untuk menyatukan kembali dua jiwa yang sempat terpisah itu dalam penyatuan yang paling intim dan emosional. Malam ini bukan lagi soal masa lalu, tapi soal kepemilikan mutlak Sunghoon atas dirimu, di sini dan sekarang.
“Mas jangan gitu, aku malu...” cicitmu dengan suara yang hampir habis. Kamu mencoba menundukkan kepala, menyembunyikan wajahmu yang sudah semerah tomat. Kalimat Sunghoon barusan benar-benar terlalu berani, terdengar mesum namun di saat yang sama getaran di suaranya membuat hatimu berdesir hebat.
Namun, Sunghoon tidak membiarkanmu bersembunyi. Dengan jemarinya yang panjang, ia memegang dagumu, memaksamu untuk kembali mendongak dan menatap pantulan dirimu sendiri yang tengah berada dalam kuasanya.
“Jangan ditundukin. Mas mau kamu liat gimana Mas mencintai kamu,” bisiknya tepat di depan daun telingamu, membuat napasnya yang panas menggelitik sarafmu.
Sambil tetap mengunci pandanganmu di cermin, tangan Sunghoon yang bebas bergerak turun. Kamu bisa mendengar suara gesekan kain saat ia menurunkan sedikit karet celana piyamanya. Melalui pantulan kaca yang temaram, kamu melihat pergerakan tangannya yang cekatan membuka laci meja rias—tempat ia menyimpan “persiapan” dengan rapi.
Suara sobekan kemasan kecil dari giginya itu terdengar begitu nyaring di keheningan kamar. Sunghoon memasang kulit lateks itu dengan gerakan cepat dan efisien, menunjukkan betapa ia tetap mengutamakan keamananmu meski gairahnya sudah di ujung tanduk.
“Mas masuk sekarang ya, Sayang?” gumamnya serak.
Tanpa menunggu jawaban, Sunghoon memegang pinggulmu dengan mantap, memberikan tumpuan yang kokoh sebelum ia mendorong perlahan, memasuki dirimu yang sudah sangat siap dan hangat.
“Ahhh... Mas!” desahanmu pecah saat merasakan kepuasan yang menghunjam hingga ke ulu hati.
Sunghoon memejamkan matanya sejenak, menggeram rendah saat merasakan betapa sempit dan candunya milikmu yang selalu ia rindukan. Ia mulai bergerak dengan ritme yang dalam dan teratur, membuat tubuhmu bergoyang mengikuti hentakannya.
“Kamu bener-bener candu buat Mas, (Y/N)...” Sunghoon berbisik parau sambil terus memperhatikan ekspresi nikmatmu di cermin. “Setiap detiknya, Mas nggak akan pernah bosen kalau itu kamu.”
Di depan meja rias yang biasanya menjadi tempatmu pusing memikirkan revisi, malam ini justru menjadi saksi penyatuan yang begitu intens. Setiap hantaman Sunghoon seolah menghapus sisa-sisa keraguanmu, menyisakan hanya rasa cinta dan kepemilikan yang mutlak. Kamu mencengkeram pinggiran meja rias lebih kuat, membiarkan dirimu hanyut dalam ritme yang diciptakan Sunghoon, pria yang kini bukan hanya menjadi support system-mu, tapi juga seluruh duniamu.
Sentakan Sunghoon yang tadinya teratur kini berubah menjadi lebih liar dan bertenaga. Setiap hantamannya terasa begitu dalam, membuat kakimu gemetar hebat dan nyaris kehilangan tumpuan. Kamu benar-benar sudah berada di ambang batas, hanya bisa mencengkeram pinggiran meja rias hingga buku-buku jarimu memutih.
“Mas... Mas Hoon, udah... aku udah nggak kuat,” rintihmu dengan suara yang pecah oleh desahan.
Sunghoon tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru merangsek maju, mendekap punggung polosmu dengan dadanya yang bidang, seolah ingin menyatukan seluruh inci tubuh kalian tanpa celah. Tangannya yang besar mencengkeram pinggulmu, mengunci posisimu agar ia bisa bergerak lebih leluasa menuju pelepasannya yang kedua.
Kamar itu hanya dipenuhi oleh suara napas yang menderu dan suara kulit yang beradu. Pandanganmu di cermin mulai kabur oleh air mata kenikmatan. Kamu bisa merasakan gelombang panas yang menjalar dari bawah, membuat seluruh tubuhmu bergetar hebat.
“M-mas... akh!”
Tepat saat itu, tubuhmu menegang. Kamu merasakan kontraksi hebat saat orgasme menghantammu. Cairanmu keluar melimpah, membasahi miliknya yang masih tertanam di dalam, memberikan sensasi hangat dan licin yang justru semakin memicu gairah Sunghoon.
Sunghoon menggeram rendah, sebuah suara maskulin yang terdengar begitu primitif di telingamu. Ia memberikan beberapa sentakan terakhir yang sangat dalam dan kuat, sebelum akhirnya ia mencapai puncaknya. Kamu bisa merasakan denyutan hebat darinya di dalam dirimu saat ia melepaskan cairannya yang hangat ke dalam pelindung lateks tersebut.
Sunghoon tidak langsung menjauh. Ia tetap memelukmu erat dari belakang, menyandarkan kepalanya di bahumu yang berkeringat sambil mengatur napasnya yang masih memburu. Kamu terkulai lemas di atas meja rias, kakimu masih terasa bergetar, dan jantungmu berdegup kencang seirama dengan detak jantung Sunghoon yang terasa di punggungmu.
Keheningan malam itu terasa begitu intim. Luka lama, stres skripsi, dan segala ketakutan akan masa depan seolah ikut luruh bersama pelepasan kalian malam ini.
“Makasih, Sayang...” bisik Sunghoon serak, mengecup pundakmu dengan lembut. Kamu terengah-engah, membiarkan tubuhmu yang terasa seperti jeli bersandar sepenuhnya pada dada bidang Sunghoon yang masih naik-turun dengan cepat. Sunghoon tidak langsung melepaskan pelukannya, ia justru semakin mengeratkan lengannya di perutmu, seolah ingin memastikan bahwa kamu tidak akan lari ke mana-mana. Kecupan-kecupan kecil yang lembut kini mendarat di tengkuk dan bahumu, sisa-sisa gairah yang berubah menjadi afeksi yang begitu manis.
“Mas... capek,” gumammu pelan, mencoba mengumpulkan sisa tenaga.
Sunghoon terkekeh rendah, suara deep voice-nya bergetar tepat di punggungmu. “Tadi siapa yang minta jangan berhenti, hm?”
Kamu langsung berbalik dalam dekapannya, memberikan tatapan tajam yang pura-pura galak—sebuah rajukan khas yang selalu berhasil membuat Sunghoon gemas. “Mas Hoon mah! Liat nih, kaki aku sampai gemeteran gara-gara Mas nggak mau pelan sedikit pun. Besok kalau aku nggak bisa jalan ke kampus gimana? Mas mau gendong aku ke ruangannya Pak Bambang?”
Sunghoon tersenyum lebar, jemarinya yang panjang mengusap anak rambut yang menempel di dahi keringatmu. Ia menatapmu dengan binar mata yang begitu dalam, sebuah tatapan yang hanya ia berikan padamu. “Kalau itu maumu, Mas lakukan. Mas akan gendong kamu sampai depan meja Pak Bambang dan bilang kalau mahasiswa kesayangannya ini lagi butuh istirahat karena habis ‘berjuang’ sama Mas semalaman.”
“Ih! Mesum!” kamu mencubit pelan perutnya yang keras, namun akhirnya kamu tidak bisa menahan senyum. Kamu menyembunyikan wajahmu di dadanya, menghirup aroma maskulin perpaduan sabun mandi dan aroma khas Sunghoon yang selalu menjadi candu bagimu.
Meski kamu merajuk karena tubuhmu terasa remuk, ada perasaan lega yang luar biasa yang mengalir di nadimu. Malam ini bukan hanya tentang pelepasan fisik, tapi tentang penyatuan kembali dua kepingan yang sempat retak. Di dalam dekapan Sunghoon, semua ketakutanmu tentang Bab 3 yang menumpuk, komentar pedas teman-temanmu, hingga bayang-bayang kegagalan masa lalu seolah menguap tertiup angin malam.
Sunghoon kemudian membimbingmu kembali ke ranjang, menyelimutimu dengan hati-hati seolah kamu adalah harta karun yang paling berharga. Ia menyusul di sampingmu, menarikmu masuk ke dalam pelukannya lagi, membiarkan kepalamu bersandar di lengan kokohnya.
“Udah, jangan cemberut terus. Besok Mas temenin revisi lagi seharian, oke? Sekarang tidur,” bisiknya sambil mengusap punggungmu dengan gerakan ritmis yang menenangkan.
Kamu memejamkan mata, memeluk pinggangnya erat. Di balik heningnya apartemen ini, kamu menyadari satu hal: dunia luar mungkin keras dan penuh tekanan, tapi selama kamu punya Sunghoon sebagai pelabuhan terakhirmu, kamu akan selalu merasa aman. Kamu tertidur dengan perasaan tenang yang sempurna, tahu bahwa saat kamu terbangun esok pagi, pria yang sama akan tetap ada di sana, siap membantumu menaklukkan dunia—satu halaman skripsi demi satu halaman lainnya.
to be continued
please kasih tau aku kalau ada yang mau ditanyakan
terima kasih michies💖





Bisa share link wattpadnya?
Cepet lulus yn. Terus nikah. Biar bisa keluar di dalem 😋😋