★DON’T FORGET LIKE★
yang ga suka femboy boleh skip
Bunyi kode angka digital apartemen berbunyi, disusul pintu yang terbuka perlahan. Sosok Heeseung muncul dari balik pintu dengan wajah yang layu karena kelelahan kuliah seharian. Namun, begitu matanya menangkap sosokmu yang sedang bersantai di sofa, binar matanya langsung kembali.
Dia sudah berganti pakaian dengan gaya kesukaannya kalau sedang berdua denganmu: oversized hoodie berwarna merah muda pastel yang menutupi setengah telapak tangannya, celana pendek di atas lutut, dan kaus kaki putih semata kaki. Rambut pirangnya yang lembut sedikit berantakan, membingkai wajah tampannya yang punya sentuhan cantik alami.
“Sayaaang...” rengek Heeseung, suaranya sengaja dibuat sengau penuh kemanjaan.
Dia langsung menjatuhkan dirinya di atas sofa, menenggelamkan wajahnya di pangkuanmu. Kedua lengannya melingkari pinggangmu erat, menghirup aroma tubuhmu seolah itu adalah pasokan oksigen utamanya. Kamu yang aslinya berpakaian daster pendek feminim santai, otomatis menghela napas dengan senyuman kecil. Jiwa “pawang” dominanmu langsung aktif seketika.
“Capek, hm?” tanyamu, tanganmu bergerak mengusap dan menyisir rambut belakangnya dengan tegas namun lembut.
Heeseung mengangguk pasrah di paha kamu, mendongak sedikit dengan tatapan mata anjing minta dikasihani. “Dosennya nyebelin banget tadi. Aku kangen kamu tau seharian... mau peluk yang lama, mau dengerin kamu ngomong.”
“Yaudah, peluk aja. Tapi bersihin muka dulu tadi udah cuci muka belum?” tanyamu dengan nada memerintah yang mutlak.
Mendengar nada bicaramu yang mulai mengambil kendali, Heeseung justru terlihat sangat menyukainya. Pipinya merona merah muda yang menggemaskan. Dia menggeleng pelan. “Hum... malas bergeraaak. Mau gini aja.”
Kamu terkekeh rendah, menundukkan wajahmu hingga jarak kalian hanya tersisa beberapa sentimeter. Tatapan matamu berubah, dari yang tadinya lembut menjadi tajam dan mengunci manik matanya. Keberanianmu meningkat pesat. Kamu mencengkeram dagunya dengan ibu jari dan telunjukmu, menahannya agar tidak bisa berpaling.
“Nurut sama aku, Heeseung. Mandi, atau aku yang mandiin tapi jangan harap kamu bisa tidur cepat malam ini,” bisikmu dengan suara rendah yang penuh otoritas.
Gile. Kalimat itu langsung menyalut gairah tersembunyi di antara kalian. Heeseung menelan ludahnya, matanya menggelap seketika mendengar tantanganmu. Sisi femboy-nya yang penurut langsung bergejolak, namun ada binar menantang di sana. Dia tidak bergerak, justru sengaja membasahi bibirnya sendiri dengan ujung lidah, menatapmu dengan pandangan pasrah yang mengundang.
“Kalau aku milih opsi yang kedua... gimana?” bisiknya berani, suaranya mendadak berubah serak namun tetap ada nada memohon di dalamnya.
Kamu tersenyum miring. Tantangan diterima.
Tanpa aba-aba, kamu membalikkan posisi kalian dengan cepat. Kamu mendorong bahu Heeseung hingga punggungnya membentur bantalan sofa, dan kini kamu berada di atas tubuhnya, mengungkungnya sepenuhnya dengan kedua tanganmu di sisi kepalanya. Hoodie kebesaran yang dia pakai sedikit terangkat, mengekspos paha mulusnya yang langsung bergesekan dengan dastermu.
Heeseung memekik pelan, napasnya mulai memburu saat tanganmu tidak lagi mengusap rambutnya, melainkan turun mencengkeram kedua pergelangan tangannya di atas kepala, menguncinya dengan kekuatan yang tidak disangka bisa keluar dari tubuh feminimmu.
“Kamu bener-bener minta dihukum ya, Baby,” bisikmu tepat di depan ranum bibirnya yang merah.
“A-aku nurut... apa kata kamu...” gumam Heeseung terbata-bata, wajahnya sudah merah padam sempurna karena posisi dominanmu yang begitu intim dan mengintimidasi. Sentuhan jemarimu yang mulai merayap masuk ke balik dastermu sendiri dan menurunkan pelan ritsleting celananya membuat malam itu berubah menjadi eksplorasi gairah yang panas, di mana Heeseung sepenuhnya menyerahkan kendali tubuh dan suaranya di bawah setiap perintah dan sentuhan tegas yang kamu berikan di atas sofa malam itu.
Suasana di atas sofa ruang tengah itu langsung bergeser ke titik paling krusial. Begitu Heeseung berbisik pasrah dengan wajah yang memerah sempurna, kendali sepenuhnya sudah berpindah ke tanganmu. Sisi feminimmu yang biasanya lembut menguap habis, digantikan oleh dominasi mutlak yang membuat atmosfer ruangan terasa makin panas dan pekat.
Kamu menunduk, menatap Heeseung yang terperangkap di bawah kungkungan tubuhmu. Rambut blondenya kontras dengan bantal sofa abu-abu yang sedikit ambles, dan oversized hoodie pastelnya yang sedikit tersingkap mengekspos lekuk pinggangnya yang ramping. Napasnya pendek-pendek, dadanya naik turun dengan cepat, bener-bener pasrah menunggu apa pun yang bakal kamu lakukan selanjutnya.
Tanpa melepaskan tatapan matamu yang tajam mengunci manik matanya, kamu perlahan menduduki paha bidangnya. Bobot tubuhmu yang menekan paha mulusnya membuat Heeseung refleks melenguh rendah, meremas ujung daster santaimu dengan jemarinya yang gemetar.
“S-sayang...” panggilnya serak, ada nada memohon sekaligus gairah yang ketara banget di suaranya.
“Diem, Heeseung. Tadi katanya mau nurut, kan?” bisikmu rendah, tepat di depan bilah bibirnya yang ranum.
Kamu sengaja tidak langsung menciumnya. Kamu membiarkan napas hangatmu menyapu bibirnya yang sedikit terbuka, menyiksanya dengan antisipasi. Tangan kananmu bergerak turun dari bahunya, merayap perlahan melewati dada, perutnya yang rata, hingga jemarimu berhenti tepat di atas ritsleting celana pendeknya yang sudah terbuka sedikit.
Sret...
Suara ritsleting yang diturunkan perlahan terdengar begitu nyaring di keheningan kamar sampai mentok. Heeseung refleks memejamkan mata erat-erat, kepalanya mendongak dengan urat leher yang menegang saat merasakan punggung tanganmu yang sengaja menyentuh kulit sensitif di balik ritsleting itu dengan sengaja.
“Buka matanya, Heeseung. Liat aku,” perintahmu dengan nada otoritas yang tidak bisa dibantah.
Begitu Heeseung membuka matanya yang sayu dan berkabut oleh gairah, kamu langsung menyatukan bibir kalian. Bukan ciuman yang lembut, tapi sebuah pagutan yang menuntut, dalam, dan dominan. Kamu memimpin ritmenya, menyesap bibir atas dan bawahnya bergantian hingga Heeseung hanya bisa mengeluarkan lenguhan tertahan di sela-sela ciuman panas kalian.
Tanganmu yang berada di dalam celananya mulai bergerak dengan ritme yang tegas, membuat tubuh Heeseung di bawahmu refleks melengkung ke atas. Kedua tangan indahnya yang bebas langsung merayap naik, meremas bahumu erat-erat, mencari pegangan karena sensasi panas yang kamu berikan bener-bener membuatnya lemas tak berdaya. Sisi femboy-nya malam itu bener-bener tunduk sepenuhnya, menikmati setiap detik bagaimana kamu mendominasi dan menguasai seluruh tubuhnya di atas sofa apartemen malam itu.
Sentuhan jemarimu bergerak semakin berani dan tanpa ragu. Dengan satu tarikan yang tegas, kamu menurunkan celana pendek beserta boxer yang dikenakan Heeseung hingga lolos dari kaki panjangnya, mengekspos kejantanannya yang sudah menegang sempurna, tampak kontras di bawah pencahayaan lampu apartemen yang temaram.
Heeseung memekik rendah, menutupi wajahnya yang memerah padam dengan sebelah lengan tangannya yang gemetar. Kulitnya yang putih kini dihiasi rona merah yang menjalar dari leher hingga ke dadanya yang bidang.
Di atas tubuhnya, daster santai yang kamu kenakan sudah semakin tersingkap naik akibat pergeseran posisi kalian. Kain tipis itu tergulung hingga batas pinggang, memperlihatkan dengan jelas celana dalammu yang sudah basah oleh cairan pekat akibat gairah yang bergejolak sedari tadi. Kamu menatap Heeseung dengan pandangan lapar, seolah dia adalah mangsa yang sepenuhnya berada di bawah kuasamu malam ini.
“Sayang... s-silakan...” bisik Heeseung sangat serak, menyerah total pada dominasimu.
Heeseung terbaring pasrah di atas sofa. Oversized hoodie pink pastel yang dia kenakan kini tersingkap ke atas hingga batas dadanya, memperlihatkan perutnya yang rata dan naik-turun dengan napas yang memburu. Wajah cantiknya terlihat begitu sayu, matanya yang setengah terpejam berkabut oleh gairah, dan bilah bibirnya yang plumpy serta basah terbuka sedikit, mengeluarkan lenguhan-lenguhan kecil yang begitu menggoda, menunggumu untuk mengambil alih seluruh kendali atas dirinya.
Kamu tersenyum miring, menyukai pemandangan bagaimana seorang laki-laki seperti Heeseung bisa bertekuk lutut dan pasrah seperti ini di hadapanmu. Tanpa membuang waktu lagi, kamu menumpu berat badanmu, memosisikan dirimu tepat di atas miliknya yang sudah menuntut untuk disambut setelah melepas celana dalammu dengan gerakan efisien.
Kamu mencengkeram kedua bahunya dengan kuat, memberikan tatapan penegasan terakhir sebelum kamu perlahan menurunkan pinggulmu, membawa kalian berdua menyatu dalam satu hentakan dalam yang membuat Heeseung mendongak dengan urat leher yang menegang tajam, meremukkan bantal sofa di bawahnya saat kamu mulai mengayunkan ritme dominanmu malam itu.
Kamu melenguh keras, menenggelamkan wajahmu di ceruk lehernya saat miliknya masuk sepenuhnya, mengisi kekosongan di dalam dirimu dengan begitu padat hingga ke pangkal. Rasa nikmat yang menghantam secara tiba-tiba membuat seluruh tubuhmu merinding, dan kamu sengaja menahan posisi itu selama beberapa detik untuk menyesuaikan diri dengan ukuran besarnya yang menjamah titik terdalammu.
Heeseung mendesah berat, suaranya yang serak terdengar begitu frustrasi sekaligus penuh kepuasan. Jakunnya naik turun tidak beraturan. Tangannya yang bebas tidak lagi berpegangan pada sofa, tangan indahnya melayang naik, merayap masuk ke balik daster santaimu yang sudah berantakan. Dengan gerakan menuntut, jemarinya meremas dadamu yang terasa penuh, memilin puncaknya dengan sentuhan yang memberikan kombinasi rasa nikmat dan sensasi terbakar yang luar biasa.
Kamu membiarkannya bermain bebas di sana, menikmati bagaimana jemari Heeseung memperlakukan tubuhmu seolah kamu adalah miliknya yang paling berharga. Sebagai balasannya, jiwa dominanmu kembali mengambil alih. Kamu mulai menegakkan punggung, menatap wajah sayunya dari atas, lalu perlahan menggoyangkan pinggulmu dengan ritme menggoda yang mematikan.
“A-ah... Sayang... pelan-pelan...” rintih Heeseung, matanya terpejam erat dengan dahi yang berkerut dalam saat kamu sengaja memutar pinggulmu, menggiling miliknya di dalam sana dengan begitu ketat.
Kamu menghiraukan permintaannya, justru mempercepat tempo ayunanmu dari atas. Kamu naik dan turun dengan sentuhan yang berani, menikmati sensasi gesekan pekat dalam penyatuan nikmat, di mana celana dalammu yang basah sudah terlempar entah ke mana, menyisakan penyatuan kulit yang basah dan panas.
Heeseung hanya bisa pasrah menahan setiap hentakan tegas yang kamu berikan, membiarkan dirinya tenggelam dalam kendalimu saat kamu terus memacu ritme di atas tubuhnya, menikmati miliknya yang benar-benar terasa pas, enak, dan membawa kalian berdua semakin dekat ke ujung pelepasan.
Heeseung menangis keenakan di bawah kungkunganmu. Air mata gairah menetes di sudut matanya yang sayu, sementara bibir plumpy-nya terus mengeluarkan desahan pasrah yang berantakan saat kamu terus menghantam titik sensitifnya tanpa ampun.
“Sayang... b-boleh aku lepas daster kamu? Aku mau liat semuanya...” rintih Heeseung dengan suara yang sangat manja dan memohon, menatapmu dari bawah dengan pandangan yang bener-bener tunduk.
Kamu menundukkan wajahmu, menatapnya dengan pandangan dominan yang tajam, lalu mengangguk singkat. “Lepas, Heeseung.”
Begitu mendapat izin, dengan gerakan terburu-buru namun tetap berhati-hati, Heeseung menarik daster santaimu ke atas melewati kepala dan melemparkannya ke lantai. Kini kamu bertelanjang dada sepenuhnya di atas tubuhnya. Kamu sama sekali tidak berhenti menggoyangkan pinggulmu tapi sebaliknya, dengan tubuh yang bebas tanpa pakaian, kamu justru menaikkan tempo goyanganmu menjadi semakin brutal dan dalam, membuat sofa di bawah kalian berderit pelan.
Melihat dadamu yang terekspos sempurna di depan matanya, sisi kekanak-kanakan Heeseung yang manja langsung keluar. Dia menarik tengkukmu ke bawah, lalu dengan lahap mengulum salah satu putingmu, menyedotnya dengan nikmat seolah-olah dia adalah anak kecil yang sedang menyusu pada pawangnya. Sentuhan lidahnya yang basah dan hisapan kuatnya di dadamu memberikan sensasi sengatan listrik yang membuat jepitan rahimmu di bawah sana semakin menjepit miliknya dengan ketat.
“Ah-hh... Heeseung, k-kamu pinter banget...” lenguhmu, mendongak dengan napas terengah-engah saat tangannya yang satu lagi meremas dadamu yang sebelah lagi dengan tidak sabar.
Kamu fokus menikmati setiap inci dari miliknya yang tertanam di dalam dirimu. Di bawah sana, kamu bisa merasakan kejantanan Heeseung mulai menegang hebat dan berdenyut kencang di dalam rahimmu-pertanda jelas bahwa dia sudah berada di ambang pelepasan mutlak akibat permainan brutal yang kamu pimpin dari atas.
Heeseung melenguh keras di dada kamu, suara desahan seraknya teredam di antara kulitmu saat dia masih asyik menghisap putingmu dengan rakus. Rasa nikmat yang luar biasa dan jepitan ketat dari rahimmu di bawah sana benar-benar membuat akal sehatnya hilang.
Kedua tangan indahnya bergerak turun dari dadamu, mencengkeram erat kedua sisi pinggulmu dengan sisa tenaga yang dia punya. Dia mencoba menekan pinggulmu ke bawah, menuntut tempo yang lebih cepat dan tumbukan yang lebih dalam.
“Sayang... h-hentak lebih cepet... please, aku mau keluar...” rintih Heeseung dengan suara yang teramat manja, matanya mendongak menatapmu dengan pandangan sayu yang penuh permohonan. Dia bener-bener sudah di ujung tanduk.
Namun, kamu yang memegang kendali penuh malam ini hanya tersenyum miring. Jiwa dominanmu sama sekali tidak berniat menuruti perintahnya begitu saja, apalagi kamu sendiri masih merasakan gelombang nikmat yang tanggung dan belum mencapai puncak.
“Nggak boleh, Heeseung,” bisikmu rendah, menatapnya dengan pandangan lapar yang begitu mengintimidasi. “Siapa yang suruh kamu keluar duluan, hm? Kamu harus tunggu aku.”
Tanpa membuang waktu, kamu mendadak memperlambat gerakan pinggulumu secara drastis. Kamu hanya melakukan gesekan-gesekan kecil yang lambat dan memutar di bagian pangkalnya, sengaja menghindari titik paling sensitifnya. Kamu menggoda pertahanannya habis-habisan, membiarkan kejantanan Heeseung yang sudah menegang hebat dan berdenyut kencang di dalam dirimu tersiksa karena tidak kunjung mendapat pelepasan.
“Ah-aaah! Sayaaang, jangan diginiin... hiks, geli... enak banget tapi tersiksa... heunghh...” Heeseung akhirnya bener-bener menangis keenakan di bawahmu. Air mata gairahnya mengalir semakin deras membasahi pipinya yang merona merah padam.
Dia meremas sofa dengan frustrasi, kepalanya bergerak gelisah ke kanan dan ke kiri. Sisi femboy-nya benar-benar hancur berantakan dan pasrah di bawah kendalimu. Dia hanya bisa merengek dan menangis, memohon-mohon dengan suara sengau yang menggemaskan agar kamu mau bergerak brutal lagi dan membawanya menuju klimaks, sementara kamu dengan sengaja terus menikmati pemandangan indahnya yang sedang tersiksa dalam nikmat di bawah kuasamu.
Melihat Heeseung yang sudah menangis berantakan di bawah kungkunganmu, ego dominanmu melonjak ke titik tertinggi. Sentuhanmu masih sengaja melambat, membiarkan miliknya yang menegang hebat di dalam dirimu tersiksa dalam sensasi menggantung yang membakar.
Kamu menunduk, mencengkeram rahangnya dengan lembut menggunakan satu tangan, memaksanya untuk menatap langsung ke dalam manik matamu yang berkabut lapar.
“Bilang apa dulu, Heeseung? Memohon yang jelas kalau kamu mau aku gerak lagi,” bisikmu rendah, suaranya penuh otoritas yang mutlak di sela napasmu yang terengah-engah.
Heeseung mendongak dengan pasrah, air mata gairah membasahi pipinya yang memerah sempurna. Bibir plumpy-nya bergetar, mengeluarkan suara sengau yang teramat manja dan hancur. “Hiks... Sayang... tolong gerak lagi... Heeseung mau keluar di dalem rahim kamu... please, hancurin aku sekarang... aku milik kamu...”
Mendengar permohonan yang begitu pasrah dan validasi mutlak dari mulutnya, gairahmu sendiri langsung meledak ke puncak. Itu adalah pemicu terakhir yang kamu butuhkan.
“Pinter banget, Baby,” bisikmu sensual.
Tanpa membuang waktu lagi, kamu langsung menubrukkan tubuhmu ke bawah dan menghentakkan pinggulmu dengan tempo yang jauh lebih brutal, cepat, dan dalam dari sebelumnya. Kamu menghantam titik terdalamnya tanpa ampun, menciptakan suara penyatuan kulit yang basah dan pekat di atas sofa. Heeseung menjerit keras, kepalanya mendongak dengan urat leher yang menegang tajam, tangannya mencengkeram bahumu begitu erat hingga kukunya memutih.
Tumbukan brutal yang kamu pimpin dari atas membawa gelombang nikmat yang teramat dahsyat bagi kalian berdua. Hanya dalam beberapa hentakan penuh gairah yang mematikan itu, dinding rahimmu menjepit miliknya dengan sangat ketat seiring dengan tubuhmu yang menegang hebat.
“A-ah! Heeseung... aku... aku mau sampe!” lenguhmu keras.
“Sama-sama... Sayang... nghh!”
Kalian berdua mencapai puncak pelepasan secara bersamaan dalam satu lenguhan panjang yang memenuhi ruangan. Tubuhmu gemetar hebat saat rahimmu menyedot pelepasan cairan hangat yang menyembur deras di dalam dirimu, memenuhi bagian terdalammu hingga meluap. Heeseung melepaskan semua bebannya, menangis haru dalam nikmat mutlak sementara kamu menjatuhkan seluruh bobot tubuhmu di atas dadanya yang naik-turun memburu, menyatukan sisa napas dan keringat kalian dalam keheningan malam yang begitu panas dan memuaskan.
Sensasi hangat yang kental merayap di dalam perutmu saat cairan pekat milik Heeseung memenuhi rahimmu hingga ke titik terdalam, perlahan meluap dan meluber di sela-sela penyatuan kulit kalian yang masih menempel erat. Tubuhmu perlahan rileks, rasa lemas yang nikmat menjalar ke setiap persendian setelah badai gairah yang baru saja berlalu.
Kamu tidak langsung bergeser dari atas tubuhnya. Kamu membiarkan posisimu tetap mengungkungnya, namun kali ini dengan kelembutan yang sangat kontras dari tadi.
Kamu menundukkan kebrutalanmu kepala, memandangi leher jenjang Heeseung yang masih basah oleh keringat tipis. Di sana, jakunnya yang tegas bergerak naik-turun seiring dengan napasnya yang masih memburu berantakan. Bagian tubuh itu selalu menjadi pusat obsesi dan kecintaanmu padanya-kamu selalu suka memandangi bagaimana jakun itu bergerak seksi setiap kali Heeseung sedang serius bicara, atau saat dia mendongak meneguk air minum di depanmu.
Dengan penuh afeksi, kamu mendaratkan kecupan-kecupan kecil yang hangat tepat di atas jakunnya. Sentuhan bibirmu di area sensitif itu membuat Heeseung merinding kecil, mengeluarkan lenguhan rendah yang sangat manja dari tenggorokannya.
“Nghh... Sayang...” gumamnya serak, terdengar sangat lemas dan tak berdaya.
Kamu tersenyum manis, mengalihkan ciumanmu naik ke dagunya, lalu ke pipinya yang masih menyisakan rona merah sisa klimaks tadi. Tanganmu yang semula mencengkeram bahunya dengan kuat, kini berubah menjadi belaian yang teramat lembut. Ibu jarimu mengusap rahang tegasnya dengan penuh rasa sayang, lalu bergerak perlahan menghapus sisa air mata gairah yang masih menggenang di sudut matanya yang sayu.
Sesi aftercare yang kamu berikan bener-bener membuat hati Heeseung meleleh. Sisi dominanmu yang tegas saat bercinta, mendadak berubah menjadi sosok pelindung yang begitu memanjakannya setelah semuanya usai.
Heeseung yang masih bertelanjang dada dengan hoodie yang tergulung di atas dada, perlahan melingkarkan kedua tangan indahnya di pinggangmu. Dia menarik tubuhmu ke bawah agar kalian bisa berpelukan lebih erat lagi, menyembunyikan wajah tampannya yang cantik di ceruk lehermu, menghirup aroma tubuhmu dengan dalam seolah ingin merekam momen ini dalam ingatannya selamanya.
“Makasih... makasih banyak, Sayang,” bisik Heeseung sangat tulus, suaranya yang sengau karena habis menangis terdengar begitu menggemaskan. “Aku sayang banget sama kamu. Tolong jangan pernah tinggalin aku, ya?”
“Nggak akan, Sayang. Aku juga sayang banget sama kamu.”
Kamu terkekeh pelan, mengecup daun telinganya dengan sayang sembari terus mengusap punggungnya yang polos. Perlakuanmu malam ini-bagaimana kamu menerima setiap sisi manja dan femboy-nya, mendominasinya dengan penuh gairah, hingga merawatnya dengan penuh afeksi setelahnya-bener-bener mengunci hati Lee Heeseung seutuhnya. Cintanya padamu tertanam semakin dalam, mengakar kuat di dalam dadanya, memastikan bahwa dia tidak akan pernah bisa berpaling ke lain hati selain ke dalam dekapan hangat pawang terbaiknya ini.
★
Setelah kehangatan yang panjang di sofa mereda, kamu perlahan bangkit dari atas tubuh Heeseung. Cairan yang meluber di paha kalian membuatmu refleks terkekeh, sementara Heeseung langsung menutupi wajahnya dengan hoodie saking malunya karena sudah dibuat menangis berantakan.
“Ayo mandi,” ajakmu sambil mengulurkan tangan.
Tanpa banyak bicara, kamu menariknya berdiri dan menuntun kekasih femboy-mu itu masuk ke kamar mandi. Di bawah guyuran air hangat shower, sesi mandi bareng itu berlangsung sangat manis tanpa ada gairah yang menuntut lagi. Kamu dengan telaten menyabuni punggung Heeseung, sementara dia dengan manja menyandarkan keningnya di bahumu, membiarkanmu membasuh sisa-sisa keringat dan jejak percintaan kalian sampai bersih.
Selesai mandi dan berganti pakaian dengan piyama katun yang nyaman, kalian akhirnya berpindah ke atas kasur empuk kamar utama.
Suasana kamar begitu tenang, hanya diterangi lampu tidur temaram yang hangat. Heeseung langsung mengambil posisi favoritnya: berbaring menyamping dengan kepala berbantalkan lenganmu, sementara satu kaki panjangnya bergelung manja di atas kakimu. Tangannya sibuk memainkan jemarimu, sesekali membawanya ke depan bibir untuk dikecup lembut. Sesi pillow talk kalian dimulai dengan suasana yang begitu magis.
“Besok akhir pekan... kita jadi jalan-jalan, kan?” tanya Heeseung pelan, matanya yang bulat menatapmu penuh harap.
“Jadi, Sayang. Kan aku udah janji mau nemenin kamu,” jawabmu sambil tangan satumu yang bebas mengusap lembut rambut pirangnya yang masih agak lembap. “Kamu mau ke mana emangnya?”
Mendengar jawabanmu, wajah Heeseung langsung berseri-seri. “Aku mau ke pet cafe kucing yang baru buka di daerah Jakarta Barat itu, loh! Yang areanya luas banget dan punya banyak kucing Ragdoll. Aku udah liat review-nya di TikTok, tempatnya lucu banget.”
Kamu tersenyum geli melihat binar kekanak-kanakan di matanya. “Oh, kafe yang itu. Yaudah, besok kita ke sana. Tapi besok kamu harus pakai baju yang rapi, jangan yang terlalu tipis biar nggak masuk angin, paham?”
“Paham, Pawang,” goda Heeseung sambil terkekeh renyah, jakunnya yang seksi bergerak naik-turun saat dia tertawa-membuatmu gemas dan langsung mengecup rahangnya sekali lagi.
Heeseung makin merapatkan tubuhnya, memeluk pinggangmu erat-erat seolah tak mau kehilangan detak jantungmu. “Makasih ya, udah selalu mau nurutin kemauan aku. Aku nggak sabar banget buat besok... mau foto yang banyak sama kamu dan kucing-kucingnya.”
“Iya, tidurlah sekarang. Udah malam,” bisikmu penuh sayang, mengecup puncak kepalanya lama.
Heeseung mengangguk patuh di dalam dekapannya lalu membuka 3 kancing dastermu untuk mengeluarkan payudaramu untuk di kulum-kebiasaan setiap malam nenen ke pawangnya, perlahan memejamkan mata dengan senyuman tulus yang menghiasi bibir plumpy-nya saat menghisap putingmu nikmat. Rasa aman yang kamu berikan malam ini membuatnya tidur dengan sangat nyenyak, tanpa tahu bahwa esok hari di pet cafe impiannya, jiwa protektif dan dominanmu bakal diuji lagi di depan umum demi menjaga kekasih cantiknya ini dari gangguan orang asing.
★
the.. end?
to be continued ga sih?
yang mau lanjut mana suaranya?









deymm gw yg megang kendali di sinii anjayy gacorr!! 🤭😏😝🤤🥵❤️🔥🫦💋💗😻💃🏻💅🏻
Ayy ayy mommyyy 💋