Malam itu, apartemen terasa begitu tenang. Kamu hanya menyalakan beberapa lampu hias yang memberikan kesan hangat dan intimate. Riki duduk di karpet bulu, sementara kamu duduk tepat di depannya. Di depanmu, Cahaya kuning hangat dari lilin angka yang tertancap di atas kue tart cokelat, Riki dengan senyum yang tidak pernah lepas dari wajahnya menatapmu dengan mata berbinar.
“Selamat ulang tahun, sayang,” bisikmu tulus.
Wajah Riki terlihat sangat tampan di bawah pendar lilin menatapmu dengan intens dan penuh kehangatan, memantulkan bayanganmu yang sedang tersenyum manis dibalik pendar lilin.
“Ayo, make a wish dulu,” bisikmu lembut.
Riki memejamkan mata sejenak, lalu meniup lilinnya. Begitu asap tipis naik ke udara, Riki menarik tengkukmu, membisikkan kalimat yang membuat jantungmu mencelos, “Harapanku cuma satu, semoga setiap ulang tahunku sampai puluhan tahun ke depan, aku masih bangun di samping kamu.”
Suasana jadi sangat fluffy. Kamu menyuapkan potongan kue kecil ke mulut Riki, yang dibalas Riki dengan jilatan nakal di ujung jarimu menyesapnya pelan sampai kamu merinding.
Kalian berdua tertawa kecil, saling melempar kalimat sayang, dan berbagi ciuman lembut yang masih terasa manis karena krim cokelat. Benar-benar momen intimate yang sempurna.
Dia menarikmu ke pelukannya, membisikkan kalimat sayang yang begitu dalam di telingamu, membuatmu merasa menjadi wanita paling beruntung.
Sampai akhirnya, napas Riki mulai memberat. Tangannya yang tadinya mengelus pipimu, mulai turun ke leher, lalu merayap masuk ke balik kaosmu. Usapan tangannya di pinggangmu berubah. Napasnya mulai memburu di ceruk lehermu.
“Sayang... aku mau hadiah tambahannya sekarang,” bisik Riki, suaranya berubah serak.
🎂
Riki merebahkanmu di sofa ruang TV. Kamu bisa merasakan jantungmu berdegup kencang saat tangannya mulai nakal, menggerayangi tubuhmu di balik pakaian.
Dia tidak langsung membuka bajumu, melainkan hanya menyingkapnya. Jemarinya mulai “bekerja” di luar pantiesmu, menggesek pelan di atas kain yang mulai lembap. Kamu mendesah, pinggulnya bergerak refleks mencari tekanan lebih.
“Riki... please, buka...” rintihmu, sudah tidak tahan karena hanya diberi stimulasi dari luar.
Kamu mulai merasa basah, sangat basah, sampai kain tipis itu terasa lengket di kulitmu.
“Riki... please, sekarang...” rengekmu sambil membuka paha lebih lebar.
“Sabar, sayang. Aku mau hias hadiahku dulu,” bisiknya gelap.
Riki menyeringai. Dia melepas pantiesmu dengan satu tarikan pelan, lalu menyuruhmu melebarkan kakinya. Sebelum kamu sempat bertanya, kamu terkesiap saat melihatnya meraup krim kue ulang tahunnya tadi dengan jemarinya yang panjang.
Srettt...
Kamu mematung, napasmu tertahan saat merasakan krim dingin itu dibalurin ke seluruh permukaan miss v-mu mengoleskannya tebal-tebal ke klitoris dan lubangmu. Kontras antara dinginnya krim dan panasnya tubuhmu bikin kamu shock sesaat. Tapi sebelum kamu sempat protes, mulut Riki sudah ada di sana. Tanpa menunggu, Riki membenamkan wajahnya di sana.
SLURPP... AHNN..
Dia ngokokopin kamu dengan beringas. Kamu menggelinjang hebat, tanganmu meremat rambutnya saat lidah Riki yang kasar dan panas menyapu krim itu, masuk ke dalam lubangmu yang sempit, lalu menghisap klitoris-mu dengan sedotan yang kuat dan tekanan yang gila. Kamu menggelinjang, jari-jarimu menjambak rambut Riki, menariknya sedikit menjauh agar dia berhenti.
“Riki! Ahh—too much... pelan-pelan sayang...” Kamu cengap-cengap, kepalamu berkunang-kunang karena stimulasi lidah dan hisapan Riki yang sangat presisi. Riki tidak memperdulikan permohonanmu dan semakin menghisap dan menggerakkan lidahnya dengan brutal. bukannya mendorong menjauh kamu malah menekan kepalanya semakin dalam ke arahmu.
“Riki! Arghh, dikit lagi... Riki, fuck!”
Kamu sampai cengap-cengap, duniamu seolah berputar. Telapak kakimu menekuk kaku karena kenikmatan yang belum pernah kamu rasain sebelumnya.
Kamu meledak untuk pertama kalinya hanya karena lidahnya. Cairanmu menyembur, bercampur dengan sisa krim, Riki tersenyum puas di bawah sana lalu menyesap semuanya tanpa sisa.
Riki tidak memberimu nafas. Dia menarikmu berdiri, Setelah kamu memohon-mohon, Riki akhirnya membawa permainan ke level berikutnya. dia membungkukkan badanmu di atas meja membuatmu menungging sempurna di belakangnya.
JLEB!
Satu sentakan buta tanpa aba-aba. Kamu menjerit, matamu mendelik ke atas saat batangnya yang besar dan panas mengisi rahimmu sampai mentok. “Ahhh! Riki, pelan—terlalu dalam—”
“Enggak ada kata pelan buat malam ini, Sayang,” geramnya. Dia mulai menghujam dengan ritme yang mematikan.
Plak, plak, plak!
Bunyi kulit bokongmu yang beradu dengan panggulnya memenuhi ruangan. Setiap tusukan terasa seperti ingin membelah tubuhmu. Riki meremas payudaramu dengan kasar, meninggalkan bekas kemerahan sementara dia terus memompa tanpa ampun sampai kamu hanya bisa mengerang tidak jelas.
Sentakan Riki di meja makan tadi hanyalah pembukaan dari badai yang sesungguhnya
Tubuhmu gemetar hebat, kedua tanganmu mencengkeram pinggiran meja kayu itu sampai buku jarimu memutih. Setiap hantaman dari belakang terasa begitu solid, mengisi setiap inci kekosongan di dalam dirimu dengan presisi yang menyakitkan sekaligus nikmat.
“Riki... ahh! Jangan secepat itu—ngghh!” rintihmu dengan suara pecah.
Riki tidak mendengarkan. Dia justru meraih rambutmu, menarik kepalanya ke belakang sehingga leher jenjangmu terekspos, lalu membisikkan kalimat yang membuat darahmu berdesir panas.
“Lihat diri kamu, sayang... berantakan banget cuma karena aku,” bisiknya serak, napasnya yang panas memburu di telingamu. “Krimnya masih berasa manis di dalam sini. Kamu mau lagi, kan? Bilang kalau kamu suka aku hantam kasar begini.”
“I-iya... hantam aku, Riki! Lebih dalam... please...” kamu meracau, kehilangan akal sehat. Riki melepas penyatuan dan mendudukkanmu di atas meja membuka pahamu lebar dan melakukan penyatuan ke dua kalinya dengan brutal.
“Kamu enak banget, (y/n)... rasanya pengen aku rodok setiap hari non-stop sampe kamu gak bisa bangun dari kasur”
Tanpa banyak bicara, dia mengangkat tubuh kamu, mendudukanmu di atas meja makan, dan membiarkan kejantanannya yang sudah menegang sempurna menuntut haknya lagi.
Riki memposisikanmu bersandar di meja. Saat penetrasi terjadi...
JLEB!
Kamu langsung memekik, matanya mendelik ke atas. Riki tidak memberikan jeda. Dia menghujam dengan ritme yang cepat dan kasar, setiap hentakannya membuat tubuhmu bergetar hebat.
“Kamu mau ini, kan? Hadiah buat aku, tapi kamu yang paling rakus,” bisik Riki berat di telingamu sambil meremas bokongnya hingga memerah.
Pindah ke sofa, Riki memaksamu dalam posisi cowgirl. Kamu yang sudah lemas dipaksa memegang kendali. Namun, saat kamu mulai kelelahan, Riki mengambil alih dengan menarik pinggulmu ke bawah sementara dia menyentak ke atas. Penetrasi yang sangat dalam itu mengenai titik sensitifmu berkali-kali sampai kamu hanya bisa menangis pasrah di dada Riki.
Tanpa melepaskan penyatuannya, Riki membopongmu kembali ke karpet bulu tempat lilin ulang tahun tadi masih menyisakan aroma vanilla yang samar menarik bantal sofa dan memberikannya padamu sebagai pegangan.
Dia merebahkanmu dan langsung mengangkat kedua kakimu hingga melewati bahunya, posisi yang membuat lubangmu terbuka lebar dan pasrah.
“Kamu hadiah terbaik buat aku, (y/n). Dan aku bakal makan kamu pelan-pelan sampai pagi,” geramnya sebelum kembali menghujam.
Kali ini ritmenya lebih brutal. Dia tidak memberimu ruang untuk bernapas. Setiap kali batangnya yang tegang dan berurat itu masuk, dia sengaja menekan titik sensitifmu hingga kamu memekik kencang.
Sensasi gesekan kulit yang basah karena keringat, suara plak plak yang semakin intens, dan erangan Riki yang terdengar seperti binatang buas yang kelaparan.
“Sempit banget, sayang... kamu emang diciptain cuma buat aku isi. Basah banget, denger kan suaranya? Kamu haus banget sama punya aku, huh?”
Kamu meledak untuk kedua kalinya, tubuhmu melengkung kaku saat cairannya menyemprot dinding rahimmu bersamaan dengan klimaksmu yang dahsyat.
Kamu pikir itu sudah berakhir. Namun, Riki hanya berhenti sejenak untuk mengecup keningmu sebelum membalik tubuhmu menjadi posisi doggy style.
“Belum selesai, sayang. Aku masih keras, dan kamu masih harus melayani birthday boy-mu ini,” bisiknya sambil menepuk bokongmu keras hingga meninggalkan jejak merah yang kontras di kulit putihmu.
Dia masuk lagi dari belakang, kali ini dengan sudut yang lebih menukik. Kamu hanya bisa membenamkan wajahmu di bantal sofa, meredam teriakanmu saat dia mulai memompa dengan kekuatan penuh. Riki benar-benar kehilangan kendali, dia memegang pinggangmu begitu erat seolah ingin menghancurkannya.
“Riki, ahh! Aku... aku nggak kuat lagi... capek...” tangismu pecah karena stimulasi yang terlalu bertubi-tubi.
“Tahan, (y/n). Jangan pingsan dulu. Aku mau keluar di dalam lagi. I love you so much it hurts, and I’m going to ruin you tonight,” bisiknya posesif, penuh dengan cinta yang gelap dan obsesif.
Malam itu, apartemen yang tadinya tenang berubah menjadi saksi bisu penyatuan yang penuh gairah. Riki benar-benar membuktikan ucapannya, dia tidak membiarkanmu tidur, berpindah dari sofa ke tempat tidur, mencoba setiap sudut tubuhmu sampai fajar menyingsing, meninggalkan kamu yang terkulai lemas namun merasa begitu dicintai dengan cara yang paling primitif.
Malam itu berakhir dengan sprei yang berantakan dan tubuh yang menyatu lengket oleh keringat serta sisa-sisa pergumulan kalian berdua.
🎂
Pagi harinya, cahaya matahari mengintip malu-malu dari balik gorden. Kamu masih terlelap, wajahmu polos namun penuh jejak “pertempuran” semalam—bibir bengkak dan bite marks di leher. Riki, yang sudah bangun duluan, memandangimu dengan tatapan yearning.
Tangan nakalnya mulai merayap di antara pahamu yang rapat. Dengan lembut tapi pasti, dia memposisikanmu telentang.
Riki mengambil lubricant dari laci, membalurkannya dengan hati-hati agar kamu tidak perih. Dia mulai mengucek klitorismu pelan dulu, memperhatikan bagaimana tubuhmu merespons meski dalam keadaan tidur.
Kamu merasakan sensasi dingin dari lubricant yang dia oleskan. Klitoris-mu diusep, ditekankan, dan dikucek dengan jemarinya yang lihai. Kamu mulai merintih di dalam tidur, tubuhmu kembali bereaksi meski otot-ototmu masih pegal.
Begitu kamu membuka mata, Riki menatapmu dengan pandangan yearning. “Aku mau lagi, boleh?” tanyanya.
Kamu cuma bisa berdeham tipis, memberi ijin yang langsung dia sambut dengan gerakan jemari yang makin kencang sampai kamu kelojotan.
“Nngghh... Riki... stop...” rintihmu, tapi tubuhmu justru mengkhianatimu dengan kembali membasah.
Tiba-tiba... PLAK!
“Nungging! Aku nggak suka dibilang stop kalau aku belum puas,” perintahnya dengan suara serak yang sangat seksi.
Kamu yang sudah dibutakan nafsu segera menurut. Kamu menungging dengan gemetar. Lubangmu yang masih bengkak meneteskan cairanmu dan terbuka dari semalam tampak sangat menggoda, siap menerima apapun. Riki mainin klitoris-mu dari belakang dengan tangan kiri sementara tangan kanannya sibuk menyiapkan miliknya sendiri. Riki mengocok batangnya sendiri hingga precum-nya menetes ke lubangmu,
“Please, fill me up...” rengekmu.
JLEB!
Dia menghujammu dari belakang sampai dadamu terbentur kasur. “ANHHH! RIKI! SAKIT—TAPI ENAK—AGHH!” Kamu meracau, air mata menetes karena stimulasi yang terlalu hebat. Riki menjambak rambutmu, menarik kepalanya ke belakang agar dia bisa mencium lehermu sambil terus menyodok dengan brutal.
“Kamu berisik banget sayang. Apa mau mulutnya aku sumpel pake kntl juga biar diem?” ancamnya dengan suara rendah yang justru bikin kamu makin horny sambil memberikan sentakan yang sangat keras sampai kamu bisa merasakan ujungnya menyundul dinding rahimmu.
Dia menggempurmu dari belakang, tangan kanannya sesekali menjambak rambutmu atau meremas payudaramu dengan kasar. Kamu benar-benar overstimulasi, hanya bisa meremas sprei sampai buku jarimu memutih.
“Balik badan, lihat aku,” perintahnya.
Kamu berbalik, menatap matanya yang penuh obsesi. Riki memposisikanmu dalam gaya missionary, favoritmu. Dia mengangkat kakimu ke bahunya, membuat lubangmu terbuka lebar tanpa perlindungan.
JLEB! JLEB! JLEB!
Dia menghujam sekuat tenaga. Kamu bisa melihat kulit perut bawahmu bergerak-gerak setiap kali dia menyodok dalam—cetakan ujung batangnya terlihat jelas dari luar perutmu.
“Riki... ahh... aku mau keluar... Riki!”
“Bareng, sayang... keluar bareng aku,” geramnya. Dia mempercepat ritme, faster, deeper, harder. Dia menciumi wajahmu, membisikkan “Kamu cantik banget... fuck, kamu sempit banget,” berkali-kali.
Saat klimaks itu datang, Riki menekan seluruh berat tubuhnya padamu, menghujam paling dalam seolah ingin menyatu selamanya, dan menyemburkan cairannya yang panas memenuhi rahimmu.
Kamu gemetar hebat, kakimu melingkar erat di pinggang dan bahunya, kuku-kukumu menancap di punggungnya saat kamu merasakan pelepasan yang membuat duniamu putih seketika.
Napas kalian berdua bersahutan di keheningan kamar. Riki ambruk di atasmu, menyembunyikan wajahnya di ceruk lehermu yang penuh hickey.
“Ulang tahun paling gila...” bisiknya sambil mencium keningmu yang berkeringat.
Setelah badai itu reda, Riki membalik badannya di bawahmu, kamu berbaring di dadanya yang bidang, masih berusaha mengatur napas.
“Yang ulang tahun kamu, tapi kok yang dipuasin malah aku?” tanyamu pelan.
Riki mengelus rambutmu, mengecup keningmu dengan penuh kasih. “Aku puas kalau ngeliat kamu keenakan, sayang. Makasih ya, Sayang... you’re my best gift ever.”
Kamu memeluknya makin erat, menenggelamkan wajahmu di dadanya, merasa sangat dicintai meski tubuhmu terasa remuk redam merasa hancur sekaligus sangat dicintai di saat yang bersamaan.
To Be Continued




AKHIRNYA UP MOMM😭
INI FAVORITE GUE❤️😍🤤