Dunia modeling itu kejam, tapi entah kenapa, Kim Sunoo bisa bertahan di sana selama lima tahun. Cowok itu punya aura feminin yang ethereal bangetโtipe wajah yang bikin orang langsung terobsesi pada pandangan pertama. Agensinya tahu itu, dan mereka mengeksploitasi "kecantikan" Sunoo habis-habisan untuk high-end brand, jauh lebih sering dibanding model pria lainnya.
Dan di sinilah kamu. Manager hotel yang seharusnya sibuk dengan urusan operasional, tapi malah berakhir jadi "benteng" terakhir untuk anak teman mamamu ini.
๊จ๏ธ
Malam itu, lobi hotel sedang sibuk-sibuknya, tapi fokusmu terpecah saat ponselmu bergetar hebat. Nama "Nunu ๐ฆ" muncul di layar. Kamu menghela napas, sudah bisa menebak apa yang terjadi. Begitu kamu sampai di area parkir VIP, kamu menemukan Sunoo duduk di dalam mobil agensinya, sendirian, dengan wajah yang pucat pasi.
Manajernya yang nggak becus itu bahkan nggak terlihat batang hidungnya.
"Sunoo," panggilmu tegas.
Dia mendongak. Matanya yang jernih langsung berkaca-kaca begitu melihat sosokmu. Tanpa kata, dia keluar dari mobil dan langsung menghambur ke pelukanmu, menyembunyikan wajahnya di ceruk lehermu. Tubuhnya sedikit gemetar.
"Kak... mereka kasih aku baju yang terlalu terbuka lagi. Aku bilang nggak mau, tapi mereka maksa," bisiknya parau. "Nunu capek..."
Kamu mengusap tengkuknya, merasakan kulitnya yang dingin. Rasa kesal pada agensinya memuncak, tapi melihat Sunoo yang serapuh ini, amarahmu meredup menjadi rasa posesif yang kuat. "Udah, jangan nangis. Urusan agensi biar Kakak yang urus nanti. Sekarang, ikut aku."
๊จ๏ธ
Begitu sampai di unit apartemenmu, suasana langsung berubah. Di luar, kamu adalah manager yang disegani. Di sini, kamu adalah otoritas absolut bagi seorang Kim Sunoo.
Kamu duduk di sofa, menyilangkan kaki, sementara Sunoo berdiri di depanmu seperti anak kecil yang sedang menunggu hukumanโatau hadiah. Kamu menatapnya tajam, memperhatikan sisa glitter pemotretan yang masih menempel di tulang pipinya.
"Sini, Nunu," perintahmu pendek.
Sunoo mendekat, lalu dengan patuh dia berlutut di lantai, tepat di depan kakimu. Dia meletakkan kedua tangannya di atas lututmu, mendongak dengan tatapan yang selalu berhasil bikin pertahananmu runtuh.
"Tadi Kakak marah ya di parkiran?" tanyanya pelan, jemarinya memainkan ujung kemeja kerjamu.
"Aku marah karena kamu nggak bisa tegas sama mereka, Noo. Kamu itu aset, bukan objek," ujarmu sambil menarik dagunya agar menatapmu lurus. "Kenapa selalu nunggu aku datang baru berani nolak?"
Sunoo menggigit bibir bawahnya. Matanya mulai sayu, napasnya agak berat karena dia tahu kamu sedang dalam mode dominan. Inilah yang dia cariโseseorang yang bisa mengambil kendali atas hidupnya yang berantakan.
"Karena aku cuma mau nurut sama Kakak..." gumamnya. Dia perlahan menyandarkan kepalanya di pangkuanmu, mencari kenyamanan dari tanganmu yang mulai mengusap rambutnya dengan kasar namun sayang.
"Kalau Kakak stres karena kerjaan hotel tadi, Kakak boleh lampiasin ke aku. Marahin aku, atau suruh aku apa aja. Aku bakal lakuin," Sunoo mendongak, wajahnya terlihat sangat rapuh, benar-benar pasrah di bawah kuasamu.
"Please... Mommy," bisiknya dengan nada rendah yang manja, seolah memohon agar kamu melepaskan semua bebanmu kepadanya malam ini.
Kamu tersenyum miring, menyelipkan jemarimu di antara helaian rambutnya. "Pinter. Kalau gitu, jangan bergerak sampai aku bilang boleh, paham?"
Sunoo mengangguk kecil, matanya terpejam rapat, menikmati setiap detik otoritas yang kamu berikan padanya. Di matanya, kamu bukan cuma pelindung, tapi pemilik yang berhak melakukan apa saja pada "bunga" yang sedang kelelahan ini.
Kamu menarik napas panjang, menatap Sunoo yang masih bersimpuh di kakimu. "Tahan dulu manjanya, Nunu. Kakak nggak mau ada gangguan pas kita 'main' nanti. Aku beresin sampah-sampah di agensimu dulu."
Sunoo cuma bisa mengangguk pasrah, matanya yang sayu menatap punggungmu saat kamu bangkit dan mengambil kunci mobil.
๊จ๏ธ
Setengah jam kemudian, kamu sudah berdiri di depan meja CEO agensi StarGaze. Ruangan itu dingin, tapi auramu jauh lebih membekukan. Manager Sunoo yang tadi menghilang, kini duduk menyamping dengan wajah angkuh.
"Kontrak Sunoo itu untuk modelling, bukan untuk dijual secara visual lewat pakaian yang melanggar privasi dan kenyamanan dia," ujarmu dingin, melempar tumpukan foto brief pemotretan ke atas meja.
"Dengar ya, Mbak Manager Hotel," si CEO terkekeh remeh, "Sunoo itu produk kami. Pasarnya memang suka dia yang tampil androgynous dan sedikit... terbuka. Itu yang bikin dia laku."
Kamu tersenyum miring, tipe senyum yang bikin orang yang melihatnya merasa terancam. "Produk? Oke. Mari kita main pakai cara bisnis. Hotel tempatku bekerja adalah mitra utama untuk semua event global agensi kalian tahun ini. Saat satu telepon dariku berdering nanti, dan aku pastikan semua kontrak venue, akomodasi, dan kerja sama korporat kalian di jaringan hotel kami diputus secara sepihak dengan alasan pelanggaran etika kerja terhadap artis."
Wajah CEO itu berubah drastis. "Kamu gila? Kamu tahu seberapa besar kerugian kita berdua?"
"Aku nggak peduli seberapa gede agensi ini," kamu maju satu langkah, menumpu tangan di mejanya, menatapnya tepat di mata. "Kalian manfaatin sifat penurut Sunoo karena dia anak yang baik. Tapi kalian lupa, dia punya aku sebagai walinya. Kalau besok aku masih lihat Sunoo pulang dengan kondisi gemetar karena baju yang nggak layak, aku nggak cuma putusin kontrak hotel, tapi aku bakal bawa kasus eksploitasi ini ke publik. Good luck sama harga saham kalian."
Kamu berbalik pergi tanpa menunggu jawaban, meninggalkan ruangan yang seketika hening mencekam. Kamu tahu ini berisiko, tapi untuk Sunoo, kamu siap membakar jembatan mana pun.
๊จ๏ธ
Kembali ke apartemen, suasana sudah remang-remang. Aroma scented candle favoritmu menyeruak. Begitu pintu terkunci, kamu melihat Sunoo masih di posisi yang samaโberlutut di karpet dekat sofa, seolah dia memang tidak bergerak seinci pun sejak kamu pergi.
Kamu melempar tas dan jas kerjamu ke sembarang arah. Beban stres pekerjaan dan emosi dari agensi tadi membuat tensimu naik. Kamu butuh pelampiasan, dan "hadiah" terbaikmu sudah menunggu.
"Semua udah beres, Nunu. Mereka nggak bakal berani macem-macem lagi," ucapmu sambil melonggarkan kancing kemeja teratasmu.
Sunoo mendongak, matanya berkilau kena cahaya lampu redup. Dia bisa merasakan aura dominanmu yang berkali-kali lipat lebih kuat setelah konfrontasi tadi. Dia merangkak mendekat, memeluk pinggangmu dan menyandarkan pipinya di perutmu.
"Makasih, Kak... makasih udah jagain aku," bisiknya tulus.
Kamu menarik rambutnya pelan, memaksa dia menatapmu. "Sekarang tanggung jawab Kakak ke agensimu udah selesai. Sekarang tinggal urusan kamu sama aku."
Sunoo meneguk ludah, wajahnya memerah sempurna. Dia tahu persis apa artinya itu. Tubuhnya gemetar kecil, bukan karena takut, tapi karena antisipasi yang luar biasa.
"Apa pun yang Mommy mau..." suaranya pecah, penuh kepasrahan yang manis. "Aku milik Mommy malam ini. Tolong... hilangin stres Mommy pakai aku."
Kamu tersenyum puas. Tangamu turun ke lehernya, merasakan detak jantungnya yang berpacu cepat. "Pinter. Jangan nangis ya kalau nanti Mommy sedikit kasar?"
Sunoo cuma bisa mendesah pasrah, memberikan kontrol sepenuhnya padamu, siap menjadi pelampiasan atas segala penat yang kamu bawa dari dunia luar.
Ponselmu yang tergeletak di meja terus-terusan bergetar. Notifikasi dari manajer Sunoo dan beberapa petinggi agensi masuk bertubi-tubi. Mereka panik, marah, sekaligus memohon negosiasi. Suara getaran itu merusak keheningan apartemen yang seharusnya jadi safe place kalian.
Kamu melirik layar ponsel itu dengan tatapan muak, lalu meraihnya. Tanpa membaca satu pun pesan, kamu menekan tombol power lama-lama sampai layarnya gelap total. Blackout.
"Nggak akan ada yang bisa ganggu kita malam ini," ucapmu dingin. Kamu melempar ponsel itu ke sudut sofa, lalu kembali fokus pada sosok yang masih bersimpuh di depanmu.
Sunoo gemetar. Dia bisa merasakan betapa besarnya proteksi sekaligus dominasi yang kamu berikan. Baginya, melihatmu mematikan akses dunia luar demi dia adalah sebuah turn on yang luar biasa.
"Nunu," panggilmu dengan suara rendah yang memerintah.
"I-iya, Kak?" Sunoo mendongak, matanya makin sayu, bibirnya sedikit terbukaโbenar-benar menunjukkan sisi submisif yang sudah mencapai batas.
"Tadi Kakak udah capek banget debat sama orang-orang bodoh itu. Sekarang, aku mau kamu bayar semua waktu dan energi yang aku buang demi kamu." Kamu meraih dasi kerjamu yang sudah lepas, lalu memutarnya pelan di jemarimu. "Buka baju kamu sendiri. Pelan-pelan. Aku mau lihat sejauh mana agensi itu udah bikin kamu nggak nyaman."
Sunoo menelan ludah dengan susah payah. Dengan tangan yang sedikit gemetar, dia mulai membuka kancing kemeja silk-nya satu per satu. Dia melakukan itu sambil tetap menatap matamu, mencari persetujuan di setiap gerakan. Begitu kemejanya jatuh ke lantai, terlihat jelas beberapa bekas kemerahan di pundaknya akibat bahan baju pemotretan yang kasar dan terlalu ketat tadi siang.
Melihat kulit putihnya yang "ternoda" oleh kelalaian orang lain bikin sisi posesifmu makin meledak.
"Sini," perintahmu lagi.
Sunoo merangkak mendekat sampai dadanya menyentuh lututmu. Kamu mengusap bekas kemerahan di pundaknya dengan ibu jari, lalu sedikit menekannya, membuat Sunoo mendesah kecil antara rasa perih dan nikmat.
"Sakit, Kak..." rintihnya pelan, tapi dia malah makin menyandarkan tubuhnya padamu.
"Biar kamu inget rasa sakit ini, biar kamu nggak berani lagi bilang 'iya' ke orang selain aku," bisikmu tepat di telinganya. Kamu mengikatkan dasi tadi ke kedua pergelangan tangannya dengan simpul yang cukup kuat namun rapi.
Sunoo tidak melawan sedikit pun. Dia justru memberikan tangannya dengan sukarela, membiarkanmu melakukan apa saja.
"Maafin Nunu, Mommy... Nunu emang nggak berguna kalau nggak ada Mommy," bisiknya dengan nada yang sangat rapuh, air mata kecil mulai menggenang di sudut matanyaโsenjata pamungkas yang selalu bikin kamu merasa punya kuasa penuh atas hidupnya. "Tolong... buat aku cuma inget sentuhan Kakak aja malam ini. Tolong hapus semua rasa nggak nyaman tadi..."
Kamu tersenyum puas, menarik ikatan di tangannya agar dia semakin dekat ke wajahmu. Malam masih panjang, dan kamu benar-benar akan memastikan bahwa setiap inci dari Kim Sunoo hanya akan bereaksi terhadap perintahmu.
Suasana apartemen semakin terasa kedap, seolah dunia di luar sana sudah tidak ada lagi harganya. Hanya ada kamu, Sunoo yang terikat, dan aroma parfume mahalnya bercampur vanilla dari tubuhnya yang mulai menguar karena suhu tubuhnya yang naik.
Melihat matanya yang basah dan badannya yang bergetar kecil, kamu melunakkan sedikit ekspresimu. Kamu nggak langsung menghajarnya dengan ketegasan yang dingin, melainkan memulai dengan sentuhan yang jauh lebih berbahaya: kelembutan yang menghanyutkan.
Kamu menarik napas panjang, lalu menangkup wajah mungilnya dengan kedua tanganmu. Jempolmu mengusap tulang pipinya yang tirusโefek dari diet ketat yang dipaksakan agensi keparat itu. Kamu mulai menciumi seluruh wajahnya, mulai dari dahi, turun ke kedua kelopak matanya yang tertutup rapat, lalu ke ujung hidungnya. Setiap kecupan itu terasa seperti segel kepemilikan.
"Kak... eum... Mommy..." Sunoo merintih pelan, lehernya mendongak, mencari lebih banyak kontak.
Kamu berpindah ke telinganya, menggigit kecil cupingnya sebelum berbisik, "Kamu tahu kan, aku benci lihat kamu capek kayak gini?"
Tanganmu turun, mengusap pundaknya yang tegang, lalu perlahan masuk ke area dadanya yang polos. Kamu mengusap kulit halusnya dengan gerakan memutar yang sangat pelan, hampir seperti godaan yang menyiksa. Kamu bisa merasakan detak jantungnya yang menggila di bawah telapak tanganmu. Setiap kali jemarimu menyentuh titik sensitifnya, tubuh Sunoo tersentak, punggungnya melengkung, dan napasnya berubah menjadi desahan pendek yang putus-putus. Dia benar-benar bergetar di bawah kuasamu.
Hubungan kalian memang sudah bergeser jauh. Sejak dua tahun terakhir, saat agensinya mulai memperlakukan Sunoo seperti robot tanpa istirahat, apartemenmu berubah jadi satu-satunya safe place buat dia. Dia akan datang tengah malam dengan mata sembap, curhat tentang betapa muaknya dia dipaksa berpose provokatif, sampai akhirnya dia lebih sering tidur di ranjangmu daripada di rumahnya sendiri.
Puncaknya adalah malam itu, beberapa bulan lalu, saat Sunoo yang kelelahan hebat nyaris pingsan di pelukanmu dan menggumamkan satu kalimat yang mengubah segalanya:
"Kak, aku nggak butuh kebebasan kalau itu artinya aku harus jauh dari kamu. Tolong, kurung aku aja di sini... jadiin aku milik Kakak seutuhnya, biar aku nggak perlu mikir apa-apa lagi selain cara buat nyenengin Kakak."
Kalimat itu adalah deklarasi penyerahan diri yang paling mutlak. Dan malam ini, kamu menagih janji itu.
"Nunu, kamu masih inget apa yang kamu bilang waktu itu?" tanyamu sambil terus mengusap dadanya, membuat dia hampir kehilangan kesadaran karena sensasi yang kamu berikan.
Sunoo mengangguk lemah, air matanya jatuh satu-satu, tapi bibirnya tersenyum bahagia. "Inget... dan sampai kapan pun, aku nggak akan berubah pikiran. Tolong... take control of me, Kak. Aku mau hancur di tangan Kakak aja daripada utuh di tangan mereka."
Kamu tersenyum puas, kali ini tanganmu tidak lagi sekadar membelai lembut. Kamu memberikan sedikit tekanan yang lebih tegas, membuat Sunoo memekik kecilโsebuah harmoni antara kepatuhan dan gairah yang hanya milik kalian berdua.
Kamu menarik pelan ikatan dasi di tangannya, menuntun Sunoo yang sudah lemas untuk naik ke atas tempat tidur. Kamu merebahkan tubuhmu, lalu menariknya masuk ke dalam dekapanmu. Dengan posisi tangan yang masih terikat di depan dada, Sunoo langsung mencari posisi ternyamannyaโdia ndusel di dadamu, menyembunyikan wajahnya di sana seolah itu adalah satu-satunya tempat paling aman di seluruh dunia.
Hening sejenak. Hanya ada suara detak jantung kalian yang saling berpacu dan hembusan napas Sunoo yang terasa hangat di kulitmu.
"Udah lebih tenang, Nunu?" tanyamu lembut sambil mengusap punggungnya yang polos.
Sunoo mengangguk pelan dalam pelukanmu. "Makasih, Kak. Kadang aku ngerasa... kalau nggak ada apartemen ini, dan nggak ada Kakak, aku mungkin udah hancur dari lama. Di luar sana, semua orang cuma mau liat wajahku, mau manfaatin badanku buat jualan produk mereka. Cuma di sini aku ngerasa jadi manusia."
Kamu terdiam, teringat setahun lalu saat Sunoo pulang jam tiga pagi dengan tangisan histeris karena agensinya memaksa dia melakukan diet ekstrem sampai dia pingsan dua kali saat photoshoot. Saat itu, kamu yang menyuapinya bubur sambil memarahi manajernya lewat telepon. Sejak saat itu, dinamika kalian berubah, dari sekadar kakak-adik ketemu gede, menjadi hubungan di mana Sunoo menyerahkan seluruh hidupnya ke tanganmu.
"Kak..." suara Sunoo memecah keheningan, terdengar lebih rapuh dari sebelumnya. "Kakak nggak pernah ngerasa terbebani kan punya aku yang manja dan merepotkan kayak gini?"
Kamu menarik dagunya, memaksa dia menatap matamu. "Nunu, dengerin aku. Aku suka kamu yang kayak gini. Aku suka pas kamu cuma nurut sama aku. Aku suka pas aku punya kuasa penuh buat jagain sekaligus... milikin kamu. Jadi jangan pernah ngerasa jadi beban, karena aku yang milih buat nggak ngelepasin kamu."
Mata Sunoo berkaca-kaca, kilatan kekaguman dan kepatuhan mutlak terpancar jelas. "Kalau gitu... jangan pernah kasih aku kebebasan, Kak. Aku mau tetep kayak gini. Aku mau jadi milik Kakak, bahkan kalau dunia luar bilang ini salah."
Kamu mengecup keningnya lama, memberikan rasa aman yang dia dambakan sebelum badai gairah kembali datang. Kamu bisa merasakan tubuhnya mulai rileks dalam pelukanmu, namun di saat yang sama, ada antisipasi yang kembali muncul di matanya.
"Pillow talk-nya cukup, Sayang," bisikmu, suaramu berubah menjadi lebih rendah dan otoriter. Kamu melepaskan pelukan hangat itu sedikit, memberikan jarak agar kamu bisa menatapnya sebagai "objek" yang akan kamu kuasai malam ini.
"Sekarang, aku mau kamu tetep di posisi ini. Jangan lepasin ikatan tangan kamu, dan jangan tutup mata kamu. Aku mau kamu liat sendiri gimana cara aku ngebuat kamu lupa sama semua rasa capek itu."
Sunoo menelan ludah, seluruh saraf di tubuhnya seolah tersengat listrik mendengar perintahmu. "I-iya, Mommy... lakuin apa aja. Aku siap."
Suasana kamar semakin intens, hanya menyisakan deru napas Sunoo yang memburu dan detak jantung yang seolah berdentum di dinding ruangan. Kamu bangkit sedikit, menumpu tubuhmu dengan satu tangan sementara tangan lainnya beralih ke kain terakhir yang menutupi tubuh Sunoo.
Dengan gerakan yang sangat tenang namun penuh intimidasi, kamu melucuti kain itu, membiarkan sosok di bawahmu benar-benar terekspos tanpa celah di bawah cahaya lampu kamar yang temaram. Sunoo meringkuk kecil, insting alaminya muncul untuk menutupi diri, namun dia segera teringat perintahmu. Dia memaksa tangannya yang terikat untuk tetap diam di depan dada, membiarkan matamu menjelajahi setiap inci kulitnya yang pucat dan halus.
"Cantik," bisikmu singkat, sebuah pujian yang terdengar seperti vonis bagi Sunoo.
Lalu, tanpa melepaskan kontak mata, kamu mulai beralih melucuti pakaianmu sendiri. Kamu melakukannya dengan gerakan yang lambat, sengaja membiarkan Sunoo menonton setiap pergerakanmu. Kamu ingin dia melihat siapa yang memegang kendali penuh malam ini. Kamu ingin dia merasakan perbedaan antara tubuhnya yang ringkih dan pasrah dengan sosokmu yang berkuasa di hadapannya.
Sunoo meneguk ludah, matanya mengikuti setiap helai pakaian yang jatuh ke lantai. Pipinya merah padam, dan napasnya semakin pendek saat menyadari bahwa sebentar lagi, tidak akan ada penghalang apa pun di antara kalian.
Begitu kamu benar-benar terbebas dari pakaianmu, kamu merangkak kembali ke atas tempat tidur, mengunci tubuh Sunoo di bawahmu. Kulit kalian bertemuโhangat, kontras, dan mematikan.
"Nunu," suaramu kini lebih rendah, hampir seperti geraman halus. "Liat aku."
Sunoo mendongak dengan tatapan paling rapuh yang pernah dia miliki. Bibirnya bergetar, siap menerima apa pun yang akan kamu berikan.
"Malam ini, lupain soal kamu punya agensi. hari ini kami nggak punya jadwal. Kamu cuma punya aku sebagai otoritas tunggal di hidup kamu," ujarmu sambil mengusap rahangnya tegas. "Paham?"
"P-paham, Mommy..." jawabnya parau, pasrah seutuhnya saat kamu mulai mengambil alih kontrol total atas tubuh dan jiwanya.
Kamu mulai bergerak turun, meninggalkan area wajahnya dan beralih ke leher jenjangnya. Kamu memberikan ciuman-ciuman kecil yang lembut, namun perlahan berubah menjadi gigitan kecil dan hisapan yang menuntut. Sunoo melenguh, kepalanya mendongak ke belakang hingga urat lehernya terlihat jelas, memberikan akses penuh padamu untuk menandainya.
Tanganmu yang bebas menjelajahi tubuhnya, sementara bibirmu terus turun ke arah dadanya. Kamu menciumi seluruh badannya dengan telatenโperutnya yang rata, tulang pinggulnya yang menonjolโmembuat Sunoo terus-terusan tersentak.
"Mom... Mommy, please..." rengeknya, suaranya sudah serak dan pecah. Tubuhnya meliuk-liuk gelisah di bawahmu. Dia benar-benar pasrah, tangannya yang masih terikat dasi sesekali terangkat seolah ingin meraihmu, tapi dia menahan diri karena takut melanggar perintahmu.
Kamu tidak menghiraukan rengekannya. Kamu justru menaikkan posisimu, merangkak naik hingga kamu menduduki perutnya. Di sana, kamu bisa merasakan dengan jelas kejantanannya yang sudah menegang sempurna, berkedut-kedut tak sabar di bawah perutmu. Cairan pre-cum yang mengkilap mulai muncul di ujungnya, membasahi kulitnya yang putih bersihโsebuah pemandangan yang sangat memuaskan egomu sebagai pemiliknya.
"Nunu, liat ini," bisikmu sambil sedikit menekan pinggulmu ke bawah, sengaja menggoda bagian bawahnya yang sensitif.
"Ahhh! Mommy... geli... mau lagi..." Sunoo mendesah sangat pasrah. Air matanya kini benar-benar jatuh, tapi wajahnya menunjukkan ekspresi nikmat yang luar biasa. Dia sudah di ambang batas. Dominasimu benar-benar melucuti seluruh pertahanan dirinya.
"Kamu mau apa, hm?" tanyamu dingin tapi menggoda, tanganmu mengusap dadanya yang naik-turun karena napas yang tidak beraturan.
"Mau Kakak... mau lebih... tolong hukum aku, Mommy... aku udah nggak tahan," rintihnya sambil menatapmu dengan mata yang penuh permohonan. Dia benar-benar sudah menjadi "milikmu" sepenuhnyaโseorang submisif yang hanya menunggu satu perintah terakhir darimu untuk meledak.
Kamu tersenyum miring, menikmati betapa kuatnya pengaruhmu pada model papan atas yang dipuja dunia ini. Di luar sana dia adalah bintang, tapi di bawahmu, dia hanyalah Nunu-mu yang rapuh.
Kamu menatap Sunoo yang sudah benar-benar kacau di bawahmu. Wajahnya memerah, keringat tipis membasahi pelipisnya, dan matanya hanya fokus pada satu hal yaitu kamu.
Sambil tetap menduduki perutnya, kamu perlahan bergerak naik. Kamu memegang miliknya yang sudah sangat tegang dan basah, lalu dengan gerakan yang mantap namun penuh kendali, kamu memasukkannya ke dalam intimu yang hangat dan sempit.
"Ahhh...!" Sunoo menghembuskan napas panjang, kepalanya terlempar ke belakang saat merasakan sensasi panas dan ketat yang menjepitnya seutuhnya. Tubuhnya bergetar hebat; rintihannya terdengar sangat nikmat sekaligus penuh beban emosi yang tumpah ruah.
"Kak... Mommy... sempit banget... ahh, ini gila," gumamnya dengan suara yang nyaris hilang.
Kamu tidak langsung bergerak. Kamu justru diam di sana, membiarkan dia merasakan betapa dalamnya dia sudah terjebak di dalam kuasamu. Kamu menumpu tangan di dadanya, menatapnya dengan tatapan predator yang puas.
"Nunu, kerasa?" bisikmu.
"Kerasa... kerasa banget, Mom... tolong, gerak..." rengeknya dengan tatapan memohon yang bisa meruntuhkan harga diri siapa pun. Tangannya yang terikat berusaha menarik pinggulmu, memohon agar kamu segera memberikan ritme yang dia dambakan.
Melihat dia sesekali meringis karena kenikmatan yang terlalu besar, kamu mulai bergerak. Pelan, sangat pelan, namun setiap sentakannya kamu arahkan tepat ke titik terdalamnya. Kamu sengaja menggodanya, memberikan ritme yang tidak konsistenโterkadang cepat, lalu tiba-tiba berhenti total hanya untuk melihat ekspresi frustrasinya.
"Kak, jangan berhenti... please, jangan mainin aku kayak gini," rintihnya pasrah, tubuhnya melengkung mengikuti setiap gerakanmu. Air matanya kembali jatuh karena sensasi yang terlalu overwhelming.
"Bilang apa?" tanyamu sambil mempercepat ritme gerakanmu, membuat suara gesekan kulit dan desahan Sunoo memenuhi ruangan.
"Tolong... milikin Nunu seutuhnya... Nunu mau keluarin semuanya di dalam Kakak... Mommy, please!" serunya, suaranya pecah saat dia mendekati titik puncak. Dia sudah benar-benar hancur dalam kendalimu, membiarkanmu menuntunnya menuju pelepasan yang paling melegakan sekaligus paling mengikat seumur hidupnya.
Suasana di kamar itu benar-benar sudah di ambang batas. Sunoo sudah kehilangan akal sehatnya, otot-otot di seluruh tubuhnya menegang, dan dia mulai bergerak secara impulsif, mencoba mendorong pinggulnya ke atas untuk mengejar pelepasan yang sudah di ujung tanduk.
"Mom... Mommy, aku udah nggak tahan... aku mau keluar... di dalem, please..." suaranya serak, penuh desakan yang hampir putus asa.
Namun, kamu justru menghentikan gerakanmu secara tiba-tiba. Kamu menekan bahunya ke kasur, menahannya tetap di posisi bawah. Kamu menatapnya dengan tatapan dingin yang dominan, membuat Sunoo tersentak dari kabut gairahnya.
"Nggak boleh, Nunu," ucapmu tegas, suaramu rendah namun tidak terbantah. "Kamu terlalu terburu-buru. Siapa yang kasih izin kamu buat selesai secepat ini?"
"Tapi, Mom... ahh, ini sakit... penuh banget..." Sunoo merengek, wajahnya terlihat sangat tersiksa sekaligus memohon. Dia menatapmu dengan mata basah yang layu, benar-benar seperti anak kucing yang sedang dihukum. "Tolong... Nunu janji bakal nurut apa aja, tapi tolong keluarin sekarang..."
Kamu tersenyum tipis, lalu menunduk, membisikkan sesuatu tepat di telinganya yang memerah. "Aku bilang tunggu, ya tunggu. Kamu mau jadi anak nakal yang nggak nurut sama aku?"
Mendengar kata 'nakal', Sunoo langsung terdiam. Dia meneguk ludah, berusaha mati-matian menahan gejolak di tubuhnya meskipun kejantanannya di dalam dirimu sudah berkedut hebat minta dilepaskan. Dia memejamkan mata rapat-rapat, mencoba mengatur napasnya yang kacau demi mematuhimu.
"Enggak... Nunu anak baik..." bisiknya parau, pasrah seutuhnya meskipun badannya gemetar karena menahan beban nikmat yang menyiksa.
Kamu mengusap rambutnya lembut sebagai imbalan atas kepatuhannya. Kamu membiarkan dia merasakan sensasi penuh itu tanpa gerakan selama beberapa saat, membiarkan dia sadar bahwa di sini, bahkan untuk urusan pelepasannya pun, kamulah yang memegang kendali. Setelah kamu rasa dia sudah cukup tenang dan benar-benar menyerahkan kontrolnya padamu, barulah kamu mulai bergerak kembaliโkali ini dengan ritme yang jauh lebih dalam dan intens.
Tensi di ruangan itu sudah tidak bisa dibendung lagi. Kamu mengambil kendali penuh, mengabaikan protes tubuh Sunoo yang sudah mencapai limitnya. Dengan satu tangan menekan dadanya dan tangan lainnya mencengkeram sprei, kamu mulai menggoyangkan pinggulmu dengan sentakan yang mantap, kasar, dan dalam.
Setiap tumbukan yang kamu berikan membuat Sunoo terlonjak. Dia menangisโair mata asli yang mengalir karena perpaduan rasa sakit yang intens dan kenikmatan yang terlalu luar biasa untuk ditanggung otaknya. Suaranya sudah habis, hanya menyisakan rintihan parau yang memanggil namamu berkali-kali.
"Kak... ahh! Mommy... ampun... sakithh, tapiโahhh!" Sunoo meracau, tubuhnya melengkung hebat.
Kamu tidak membiarkannya lepas. Kamu justru semakin gencar, memberikan tekanan pada titik-titik sensitifnya yang membuat dia hampir kehilangan kesadaran. Kamu menatapnya tajam, memastikan dia tetap terjaga untuk merasakan detik-detik terakhir ini.
"Tahan, Nunu. Jangan sekarang. Bareng sama aku," bisikmu dengan napas yang memburu.
Sunoo menggigit bibir bawahnya sampai memerah, tangannya yang terikat mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Dia benar-benar berjuang mati-matian menahan cairannya hanya demi mematuhimu, meskipun kejantanannya sudah berkedut gila di dalam dirimu.
Hingga akhirnya, kamu merasakan gelombang pelepasan itu datang menghantammu. Kamu memberikan beberapa sentakan terakhir yang paling kuat, merenggut seluruh kesadaranmu sendiri.
"Sekarang, Nunu! Keluarin!" perintahmu dengan suara yang pecah karena klimaks.
Begitu izin itu keluar, pertahanan Sunoo runtuh seketika. Dia memekik keras, menyemburkan seluruh cairannya jauh ke dalam dirimu bersamaan dengan pelepasanmu yang menjepitnya erat. Tubuh Sunoo bergetar hebat dalam spasme yang lama, wajahnya tenggelam dalam bantal, menangis sejadi-jadinya karena beban stres dari agensi dan gairah yang tertahan tadi akhirnya meledak habis tanpa sisa.
Kamar itu seketika hening, hanya menyisakan suara napas kalian yang saling bersahutan di tengah remang lampu.
๊จ๏ธ
Beberapa menit berlalu. Kamu mengatur napasmu, lalu perlahan turun dari atas tubuhnya. Mengambil beberapa lenbar handuk di atas kursi sebelah nakas dan membersihkan milik Sunoo yang lengket karena pelepasannya juga cairanmu. Melihat Sunoo yang masih lemas tak berdaya dengan mata sembab, sisi lembutmu kembali muncul. Kamu meraih pergelangan tangannya, melepaskan ikatan dasi yang meninggalkan bekas kemerahan di kulit putihnya dan mencium tangannya lembut.
Kamu menariknya ke dalam dekapanmu, menyelimuti tubuh kalian berdua. Sunoo langsung bersembunyi di dadamu, mencari kehangatan yang paling dia kenal.
"Makasih, Mommy..." bisiknya sangat pelan, suaranya hampir hilang. "Nunu sayang banget sama Kakak."
Kamu mengecup puncak kepalanya, mengusap punggungnya dengan gerakan menenangkan. "Tidur, Nunu. Besok nggak ada yang bisa ganggu kamu lagi. Kakak janji."
Malam itu, di bawah perlindunganmu, Kim Sunoo akhirnya bisa tidur dengan tenang tanpa bayang-bayang agensi yang menyiksanya. Dia tahu, selama dia berada di tanganmu, dia akan selalu amanโmeskipun dia harus menjadi submisif kecilmu selamanya.





Lanjut sih ka๐คญ