Kamu tidak pernah membayangkan hidupmu berakhir di sebuah klub malam di pinggir kota, dengan lampu redup, musik yang terlalu keras, dan bau alkohol yang sudah menempel di kulitmu seperti identitas kedua.
Semua itu bermula ketika kamu ditinggalkan dalam keadaan hamil. Laki-laki yang pernah kamu percaya pergi tanpa kata, meninggalkan kamu dengan perut membesar dan tagihan yang menumpuk. Saat itu, kamu tidak punya rumah, tidak punya pekerjaan, dan tidak punya keluarga yang bisa kamu datangi.
Di malam terburuk dalam hidupmu, kamu hampir pingsan di depan sebuah klub kecil. Pengelolanya, Madam Rara menemukanmu dan langsung menolong. Dia memberimu tempat tidur, makanan, bahkan biaya persalinan seadanya. Kamu tidak mengenalnya, tapi dia menolongmu tanpa syarat.
Atau... begitulah yang kamu pikir.
Setelah kamu melahirkan, Madam Rara mengatakannya dengan lembut namun tegas.
"Kalau kamu mau tinggal di sini, kamu harus kerja. Tenang... bukan yang aneh-aneh. Kamu cuma jadi perempuan yang menuang bir dan nemenin pelanggan ngobrol."
Kamu tahu itu bukan dunia yang aman untukmu. Tapi kamu punya bayi. Kamu punya utang budi. Kamu tidak punya pilihan. Dan begitulah kamu bertahan.
Menjadi perempuan malam yang tersenyum ketika hatimu hancur. Menuang bir ke gelas laki-laki yang bahkan tidak melihatmu sebagai manusia hanya sebagai objek nafsu dan ego semata. Bangun tidur, bekerja, menyusui, bekerja lagi.
Hidupmu berjalan seperti itu selama dua tahun-sampai seseorang datang dan merusak ritme yang sudah terbentuk.
Seseorang bernama Lee Heeseung.
Φ΄ΦΆΦΈ. ..π ΰ£ͺ Φ΄ΦΆΦΈπͺ½ΰΌΰΌΰΏ
Heeseung bukan pelanggan pertama yang kamu temui. Tapi dia satu-satunya yang tidak pernah menyentuhmu, tidak pernah meminta sesuatu yang lebih dari sekadar menu penuh bir yang kamu tuangkan. Dia selalu duduk di pojok yang sama. Selalu menunggu giliranmu, walaupun pelayan lain bisa saja melayaninya lebih cepat.
Selalu memperhatikan, tanpa membuatmu risih.
Awalnya kamu pikir itu kebetulan. Tapi semakin lama, kamu sadar, dia memilihmu.
Suatu malam, ketika kamu menyiapkan gelasnya, dia bicara pelan.
"Kamu kelihatan capek hari ini." Heeseung menyadari matamu yang sedikit bengkak dan kantung mata yang sangat jelas, walaupun kamu sudah menutupinya dengan make up tebal.
Kamu tertawa kecil, mencoba profesional.
"Namanya juga kerja malam, Mas."
"Aku bukan nanyain kerjaannya." Heeseung menatapmu lama. "Aku nanyain kamunya."
Salah satu kalimat paling sederhana, tapi kamu merasa seolah seluruh dunia berhenti sebentar.
Setelah malam ketika Heeseung bilang kamu kelihatan capek habis menangis, ada sesuatu yang berubah di antara kalian. Sesuatu yang tidak pernah kamu minta, tapi pelan-pelan merayap masuk.
Sejak saat itu, Heeseung mulai menjadi bagian dari rutinitasmu, mungkin satu-satunya hal yang terasa stabil. Dia datang bukan untuk bersenang-senang, tapi untuk memastikan kamu makan, untuk menanyakan anakmu dan untuk memberimu sebuah kenyamanan yang tanpa sadar membuat hatimu goyah.
Namun kamu tidak boleh dekat dengan pelanggan. Rara selalu bilang. "Deketin pelanggan cuma kalau duitnya jalan aja, rayu sampe mau kasih tip lebih buat kamu. Jatuh hati jangan, ya? Kita bukan di film-film, y/n. Inget itu."
Kamu diam saja. Kamu tahu Madam Rara benar. Kamu tahu kamu tidak boleh luluh.
Tapi bagaimana kamu bisa menghalangi hatimu sendiri, di saat kamu sudah lupa rasanya diperhatikan tanpa syarat?
Φ΄ΦΆΦΈ. ..π ΰ£ͺ Φ΄ΦΆΦΈπͺ½ΰΌΰΌΰΏ
Heeseung mulai datang lebih awal. Kadang sebelum klub buka, dia sudah duduk di depan pintu sambil main ponsel, pura-pura tidak menunggu siapa pun padahal kamu tahu dia menunggumu. Ketika Madam Rara melihat itu, dia cuma melirik sinis. "Kalau dia mau kamu, pastikan dia bayar mahal," katanya sambil menepuk bahumu.
Kamu hanya tersenyum hambar. Kamu tahu Madam Rara tidak bermaksud jahat, itulah logika orang-orang di dunia ini. Perempuan malam hanya dihargai sejauh uang yang bisa mereka tarik dari pelanggan. Tidak ada ruang untuk perasaan.
Tapi Heeseung, dia tidak pernah memintamu apa-apa selain duduk sebentar di sampingnya. Dan itu justru lebih menakutkan.
Malam itu, ketika kamu meletakkan bir di depannya, dia menatapmu lama sebelum berkata pelan, "Kamu makan nggak hari ini?"
Kamu menghela napas. "Kenapa mas nanya begitu?"
"Kamu kelihatan pusing gitu."
"Cuma kurang tidur kok" jawabmu cepat, berharap percakapan selesai.
Tapi Heeseung mengambil gelas, tidak meminumnya, hanya memutar-mutar. "Anakmu kenapa?"
Kamu membeku. Kata itu, 'anakmu' sudah lama tidak disebut orang lain dengan suara selembut itu.
"Ada yang bilang ke mas?" tanyamu kaku.
"Nggak. Kamu pernah sebut dikit waktu itu," jawabnya, "dan perempuan yang begadang karena uang bukan biasanya begini. Ini beda."
Kamu menelan ludah. Heeseung bukan tipe yang banyak bicara. Tapi ketika dia bicara, rasanya seperti dia menembak tepat ke pusat masalah.
"Dia demam. Udah dua hari," katamu akhirnya. "Aku butuh uang buat bawa ke dokter..." Heeseung memotong, "Ambil tip-nya."
"Kamu pikir aku nggak mampu ya, mas?" kamu langsung defensif.
"Terserah kamu mau sebut aku apa," ucapnya. "Tapi kalau bantuan kecil kaya gitu bisa bikin anakmu nggak nunggu dua hari lagi, kenapa kamu tolak?"
Kamu ingin berteriak. Ingin bilang kalau kamu sudah muak dianggap perlu diselamatkan. Muak dianggap lemah. Muak berpikir kamu harus berutang budi pada lelaki. Tapi ucapan itu tidak keluar, karena kamu tahu satu hal. Dia benar. Dan itulah yang membuatmu takut.
Sejak saat itu hubungan kalian berubah. Tidak besar, tidak dramatis, tapi terasa.
Heeseung mulai memperhatikan hal-hal kecil. Kamu yang sering memegang pinggangmu karena pegal, tanganmu yang kering karena deterjen, lingkar matamu yang makin dalam. Dia tidak pernah mengatakan secara gamblang seperti pelanggan lain lontarkan padamu seperti bilang kamu cantik, dia tidak pernah menggoda, tidak pernah meminta lebih.
Tapi dia melakukan hal yang tidak dilakukan pelanggan lain.
Menaruh uang di amplop karena dia tahu kalau tip terbuka pasti kamu kembalikan, mengantar kamu pulang diam-diam dari jauh, memastikan kamu masuk ke gedung dengan aman, mengambil shift yang sama sepanjang minggu dan paling bahaya, memperlakukanmu seperti manusia.
Kadang kalian hanya duduk bersama tanpa banyak kata. Kamu membersihkan gelas di belakang bar, dia membaca berita di ponsel sambil sesekali menanyai hal-hal kecil. Kehadiran Heeseung anehnya menenangkanmu.
Tapi setiap kali rasa nyaman itu muncul, kamu langsung menepisnya karena kamu tahu ujungnya akan sama. Lelaki datang, membuatmu berharap, lalu pergi. Dan hanya kamu yang harus menghadapi konsekuensinya. Kamu tidak butuh itu lagi. Tidak boleh.
"Jangan terlalu dekat sama aku, mas," katamu suatu malam.
Heeseung menaikkan alis. "Kenapa?"
"Kita punya batas," jawabmu sambil menahan suara. "Aku di sini pekerja. Kamu pelanggan. Hubungan kita, cuma sebatas itu."
Heeseung menatapmu, lama. Tatapan yang membuatmu ingin memalingkan wajah.
"Kalau aku bilang aku nggak mau cuma sebatas itu?" katanya pelan. Kamu membeku. Dalam sekejap, semua ketakutan dan keinginanmu bertabrakan sekaligus ketakutan kehilangan kendali, keinginan untuk disayangi, ketakutan untuk jatuh lagi, keinginan untuk berhenti merasa sendirian tapi kamu memilih jawaban yang paling aman. Jawaban yang paling menyakitkan.
" Mas Heeseung... aku single mother. Orang seperti aku yang hidup di dunia seperti ini tidak punya ruang untuk hal-hal seperti itu."
Heeseung menahan napas, menatapmu dengan sesuatu antara marah dan iba.
"You are not just what the world forces you to be.," katanya akhirnya.
Lalu ia mengambil jaketnya, berdiri, dan pergi lebih cepat dari biasanya.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, kamu merasa kosong. Bukan karena dia pergi. Tapi karena kamu menyadari kamu ingin dia tetap tinggal.
Φ΄ΦΆΦΈ. ..π ΰ£ͺ Φ΄ΦΆΦΈπͺ½ΰΌΰΌΰΏ
Malam itu kamu baru selesai shift ketika Madam Rara menelponmu, suaranya tegang.
"Anakmu... panasnya tinggi. Aku sudah kasih obat, tapi dia mengigau cariin kamu."
Darahmu langsung dingin. Kamu naik dua anak tangga sekaligus menuju kamar sempit di lantai dua. Di sana, anakmu terbaring dengan tubuh panas, napas pendek, tangannya mencari-cari kamu dalam tidur. Kamu menempelkan telapak tanganmu ke dahinya dan tubuhmu ikut bergetar.
"Kita harus bawa dia ke klinik," kata Madam Rara saat melihatmu tiba dengan tergesah.
Tapi kamu tahu biaya dokter lebih besar dari uang yang kamu punya.
Kamu baru saja memikirkan cara mencari pinjaman ketika ponselmu bergetar. Nama yang muncul membuat perutmu mual.
Ni-Ki, mantanmu.
Lelaki yang meninggalkanmu saat hamil. Lelaki yang tidak pernah bertanya apakah kamu masih hidup.
"Ada apa?" suaramu dingin.
"Gue butuh uang," katanya tanpa basa-basi. "Lo masih punya, kan? Kirim sekarang."
Kamu tertawa pendek. "Aku punya anak yang sakit. Dan kamu minta uang?"
"Gue ayahnya!" bentaknya.
"Kamu bukan siapa-siapanya!."
Beberapa detik kemudian, panggilan itu terputus. Kamu pikir selesai.vTapi satu jam kemudian, pintu belakang klub digedor keras. Kamu turun dan melihat Ni-Ki berdiri di sana, bau alkohol tajam, tatapan liar.
"Lo pikir gue nggak bisa dateng ke sini?!" teriaknya. "Semua uang lo itu hak gue!"
Kamu berdiri di depan pintu seperti tameng, meski lututmu gemetar.
"Aku nggak punya kewajiban ngasih apa pun ke kamu," ujarmu perlahan. "Kamu pergi waktu aku butuh kamu. Jangan datang cuma waktu kamu butuh uang."
Ni-Ki maju selangkah. Tangannya terangkat dan di detik itulah seseorang menarikmu ke belakang punggungnya.
Heeseung.
Dia berdiri memisahkan kalian, tubuhnya menjadi penghalang.
"Pergi lo dari sini," katanya datar.
"Siapa lo nyuruh-nyuruh gue pergi, bangsatt?" Ni-Ki mendengus.
"Orang yang nggak akan biarin dia disentuh sama laki-laki ga pertanggung jawaban kayak lo."
Ketegangan mengental.
Ni-Ki menatapmu, lalu menatap Heeseung, lalu menggeram.
"Lo pikir dia butuh lo? Dia cuma perempuan klub, murahan, ga punya harga diri! Hari ini main sama lo, besok-"
"KELUAR DASAR BAJINNNNNNNNNNNGAAANN!!!."
Kamu sendiri yang mengucapkannya, dengan suara yang lebih tegas dari yang kamu kira.
Untuk pertama kalinya sejak ia meninggalkanmu dulu, kamu tidak menangis, tidak memohon, dan tidak menciut. Kamu berdiri tegak meski hatimu ketakutan.
Ni-Ki meludah ke lantai, lalu pergi sambil mengumpat.
Ketika suasana kembali hening, Heeseung menoleh padamu.
"y/n, kamu gapapa?"
Kamu ingin bilang iya. Tapi air mata sudah mengalir. Heeseung ingin memelukmu namun dia tidak berhak melakukan hal impulsif seperti itu takut kamu tidak nyaman padanya. Heeseung menunggumu hingga kembali tenang.
Setelah membawa anakmu ke klinik dengan uang yang Heeseung bayarkan tanpa ragu, kalian duduk di depan bangunan kecil itu.
Anakmu tertidur di pangkuanmu, demamnya mulai turun.
Heeseung tidak menyentuhmu. Tidak menghibur berlebihan. Hanya duduk di sampingmu dan menunggu sampai kamu siap bicara.
"Aku capek, Mas..." suaramu pecah. "Aku kerja kayak gini, bertahan. Sembunyi dari masa lalu. Berjuang sendiri, in this economy. Aku... pengen nyerah tapi ga bisa."
Heeseung menarik napas pelan.
"Aku tahu."
"Kamu nggak harus nolong aku terus."
"Aku nggak nolong kamu, aku cuma ada di sini kalo kamu butuh." Kamu terdiam.
Lalu, untuk pertama kalinya sejak kalian saling kenal, Heeseung mengalihkan tatapannya ke langit malam yang terang.
"Kamu nggak harus terus ada di tempat itu," katanya lirih. "Kalau kamu mau keluar. Aku bantu."
Kamu menatapnya, bingung.
"Aku bisa bicara ke Pengelola klub. Ganti semua biaya yang dia anggap kamu 'utang.' Biar kamu bebas. Biar kamu bisa mulai jalani hidup baru."
Kamu menahan napas.
"Aku nggak mau hidup mengandelin laki-laki lagi," ujarmu akhirnya.
"Aku nggak minta kamu mengandelin aku."
Heeseung menatapmu serius.
"Aku cuma minta kamu kasih dirimu kesempatan untuk hidup layak. Kamu yang tentukan jalannya. Aku cuma buka pintunya."
Di antara cahaya lampu klinik dan hujan yang mulai turun tipis, kata-katanya terasa seperti sesuatu yang sudah lama kamu butuhkan yaitu sebuah kesempatan. bukan datang sebagai penyelamat juga bukan meminta cinta yang manis apalagi janji kosong. Namun keempatan untukmu bernapas sebagai manusia yang bebas.
Heeseung meraih jaketnya, lalu menyampirkannya ke bahumu.
"Aku di sini bukan untuk mengambil kamu," katanya pelan. "Tapi kalau kamu siap, aku mau jalan bareng kamu."
Kamu mengangguk pelan-bukan karena kamu sepenuhnya percaya, tapi karena untuk pertama kalinya, kamu ingin mencoba mempercayai seseorang lagi.
Bukan untuk menggantungkan hidup. Bukan untuk jatuh cinta. Tapi untuk menemukan kembali dirimu... tanpa harus sendirian.
Lorong itu sempit dan bau alkohol yang menempel di dinding sudah seperti bagian dari udara di klub ini. Kamu menggendong Acel, tubuhnya kecil dan hangat di dadamu, padahal jantungmu sendiri berdetak terlalu cepat.
Di balik pintu, suara Madam Rara biasanya keras dan sinis. Tapi malam itu... suaranya rendah.
"Tuan... kamu tahu aku rugi kalau ngelepasin dia dia gitu aja, kan? dia yang bikin meja VIP selalu penuh"
Nada bicara yang dibuat tenang itu tidak mampu menyembunyikan ketegangan.
Lalu suara laki-laki itu muncul-dalam, datar, tetapi tidak gentar.
"Dia sudah bayar semua 'hutang budi'-nya. Dengan mengabdi padamu sampai detik ini."
Heeseung berhenti sejenak.
"Sekarang giliranku membawanya pergi dan memastikan dia hidup layak."
Ada suara gesekan amplop tebal di meja.
Hening. Setelah itu langkah kaki mendekat. Pintu terbuka pelan.
Heeseung keluar. Jaketnya sedikit basah oleh gerimis, rambutnya berantakan. Ia menatapmu bukan karena kasihan, bukan dengan paksaan tapi dengan rasa lega yang tak pernah kamu lihat sebelumnya.
"Kamu sudah bebas sekarang," ucapnya pelan.
"Ayo pulang." Saat kamu memeluk Acel lebih erat, dia mengulurkan tangan. "Biar aku gendong. Kamu udah capek seharian nunggu."
Tidak menyentuhmu. Tidak memaksa.
Dia hanya menunggu sampai kamu mengangguk. Dan ketika Acel berpindah ke gendongannya, Heeseung menatapmu sekali lagi. "Gapapa y/n, sekarang kamu aman. Aku di sini."
Malam itu kalian bertiga berjalan keluar dari klub malam, masuk ke dalam mobil Heeseung. kamu dengan satu tas kecil, Heeseung dengan Acel di dadanya. Kamu tidak tahu apa yang menunggu besok.
Tapi malam itu... untuk pertama kalinya, kamu bisa bernapas.
Heeseung, membantumu mencari kontrakan, dia membayar sewa selama yang kamu mau. Kamu awalnya menolak namun caranya meyakinkanmu bahwa dia tidak meminta balas budi darimu dan hanya memintamu membalasnya jika kamu sudah bisa berdiri dengan kakimu sendiri, perlahan itu membuatmu perlahan percaya.
Beberapa bulan kemudian, Kontrakan kecil itu sering bocor ketika hujan. Cat dinding mengelupas karena lembab saat hujan. Kipas angin bunyinya seperti orang batuk. Tapi itu rumah pertama ternyaman yang kamu tinggali tanpa ketakutan.
Pekerjaan susah dicari. Uang susu Acel tidak pernah menunggu. Kadang kamu menangis diam-diam ketika lampu mati. Lalu di hari-hari paling sulit, Heeseung muncul. Bukan seperti pahlawan. Lebih seperti seseorang yang sudah memutuskan untuk tidak pergi. Kadang dia datang sore-sore sambil membawa kantong plastik.
"Aku masak kebanyakan. Kamu mau bantu ngabisin?"
Padahal kamu tahu, dia memang sengaja masak banyak.
Kadang dia berdiri di depan pintu dengan kemeja kusut setelah lembur.
"Lampumu kedip-kedip. Aku benerin ya?
...Jangan bilang enggak. Bahaya kalo malam malam tiba tiba padam"
Pagi-pagi dia mengetuk pintu sambil membawa roti.
"Kamu tidur 2 jam aja udah bersyukur. Acel biar aku antar. Kamu istirahat dulu aja... kali ini tolong jangan menolak"
Dia tidak tinggal. Dia tidak menuntut. Dia hanya hadir.
Perlahan kedekatan itu tumbuh bukan dari sentuhan. Tapi dari hadirnya seseorang setiap kali kamu jatuh.
Φ΄ΦΆΦΈ. ..π ΰ£ͺ Φ΄ΦΆΦΈπͺ½ΰΌΰΌΰΏ
Pagi itu cerah. Sarapan sederhana-nasi hangat dan roti untuk Acel, telur, dan kopi instan yang kamu sengaja buat untuk Heeseung yang datang dini hari ke rumahmu. Acel duduk di pangkuan Heeseung, menepukkan roti ke pipinya sampai remahan berjatuhan. Kamu sedang mencuci piring ketika Acel berkata,
"Ayah, Acel mau susu."
Spon dari tanganmu jatuh ke wastafel. Heeseung menegang seperti patung. Dia tidak berani melihatmu dulu. Baru beberapa detik kemudian dia menoleh pelan, suaranya bergetar halus.
"Kalo kamu nggak keberatan, aku bisa jadi apa pun yang kalian butuh. Tapi aku nggak mau ngambil posisi yang bukan punyaku."
Kamu menelan ludah. Lambat-lambat, kamu mengangguk.
"Kamu boleh. Kalo kamu mau, Mas"
Heeseung akhirnya tersenyum lega, sekaligus takut kamu tiba-tiba berubah pikiran, namun nyatanya kamu tidak.
"Ayah buatin, tapi Acel ikut, ya."
Acel memeluknya erat. Dan sejak hari itu, sesuatu berubah. Bukan drama. Bukan ledakan emosi berlebihan. Hanya pergeseran halus yang terasa benar.
Φ΄ΦΆΦΈ. ..π ΰ£ͺ Φ΄ΦΆΦΈπͺ½ΰΌΰΌΰΏ
Heeseung datang dengan kemeja bersih, rambut rapi, dan tangan gemetar kecil saat memegang buket mawar.
"Aku... mau ngomong sesuatu."
Suaranya lebih gugup dari biasanya.
Kamu tersenyum, sedikit menyelipkan rambutmu di balik telinga, menunggu.
Dia menghela napas panjang.
"Aku nggak punya banyak hal untuk dijanjikan. Nggak punya kata-kata manis juga. Tapi aku punya niat yang kuat. Untuk jagain kamu... sama anak-anak. Kalau kamu mau, aku pingin kita bangun rumah bareng."
Kamu menutup mulutmu menahan tangis haru.
Heeseung buru-buru menambahkan,
"Kamu nggak harus jawab sekarang. Aku cuma-"
" Mas Heeseung..."
Kamu mengangguk.
"Aku mau."
Dia mengerjap, tidak percaya.
Suaranya pecah.
" Kamu mau menikah sama aku?"
"Kamu nggak pernah ninggalin aku, Mas. Itu cukup. Aku mau bangun rumah tangga bereng kamu"
Heeseung menunduk, memelukmu perlahan, sepelan seseorang memegang barang yang mudah rapuh jika diberi tekanan lebih keras.
Tidak ada pesta. Tidak ada dekorasi.
Hanya kamu, Heeseung, Acel, penghulu, dan doa yang lirih.
"Sah."
Acel langsung memeluk Heeseung sambil bersorak "Yeyyy Ayah sama Ibu nikah! Acel punya keluargaaa!"
Kalian tertawa sambil menangis. Heeseung mengecup pipi Acel, lalu keningmu.
"Aku janji akan belajar jadi suami yang baik. Pelan-pelan. Tapi serius."
Rumah lama Heeseung di tengah kota berdebu, sunyi, dan penuh memori masa kecilnya.
"Kalau kamu mau... kita isi lagi rumah ini," katanya pelan.
Kamu mengecat tembok, dia mengepel lantai.
Acel berlarian sambil membawa sapu kecil.
Hari demi hari rumah itu berubah. Bukan hanya bersih-tapi hangat. Kadang saat kamu kecapekan, Heeseung mendekat sambil memijat pundakmu.
"Udah, aku lanjutin. Kamu duduk."
Kadang dia berhenti kerja hanya untuk menatapmu.
"Terima kasih mau tinggal di sini."
Ketika kamu memberi tahu tentang kehamilan, tubuh Heeseung langsung melemah terduduk didepanmu.
Kamu pikir dia bakalan pingsan. Ternyata... dia menangis.
"Mas Heeseung, gapapa?"
Dia memelukmu hati-hati, seolah kamu porselen mahal yang bisa pecah jika disenggol sedikit saja.
"Terima kasih... kamu percaya sama aku sampai sejauh ini."
Kamu membalas memeluknya dan ikut menangis, untuh pertama kalinya kamu menjalani kehidupanmu ini ditemani seseorang yang selalu ada untukmu.
Selama kehamilan, dia berubah menjadi versi terbaik dirinya.
"Kamu ngidam apa?"
"Aku cek keperluan Acel dulu. Abis itu urus persiapan lahiran anak kita"
"Jangan berdiri lama-lama, Sayang.. banyakin minum air putih biar persalinan nanti lancar."
Dia bahkan membaca buku parenting setiap malam sebelum tidur.
Setelah Yesa-Putri kecil kalian lahir, Hujan turun lembut. Acel tidur di kamarnya. Yesa terlelap di box bayi.
Heeseung ketiduran di pangkuanmu-kemeja kerjanya masih menempel, wajahnya lelah tapi damai.
Kamu mengusap rambutnya. Untuk pertama kalinya... kamu benar-benar merasa aman.
"Mas Heeseung..." bisikmu.
"Aku bahagia banget. Terima kasih udah bikin aku ngerasa pulang."
Heeseung membuka mata, mengangkat tanganmu dan menciumnya lama.
"Aku yang harus terima kasih. Karena kamu pilih aku. Karena kamu percaya aku bisa jadi rumah buat kalian."
Dia menatapmu, suaranya serak.
"Kamu nggak akan jalani hidup ini sendirian lagi, y/n. Nggak satu hari pun."
Kamu menangis haru, lalu mencium kening Heeseung lembut. bahkan ucapan terima kasih tidak cukup untuk mengungkapkan betapa bersyukurnya kamu memiliki Heeseung. Anugerah yang Tuhan berikan untukmu atas semua ujian hidup yang telah kamu jalani seorang diri.
Di ruangan kecil itu, dengan suara hujan dan napas dua anak kalian dan Heeseung yang terlelap di pangkuanmu. Kamu sadar sesuatu makna rumah bukan melulu tentang tempat tinggal. Rumah bisa jadi seseorang yang selalu tinggal, meski dulu kamu pernah hancur. Dan malam itu, untuk pertama kalinya, kamu benar-benar punya rumah, rumah yang tidak akan hilang.
Rumah bernama Lee Heeseung.
-THE END-
i miss u π₯Ήπ





Sayang kangenπ₯Ί
Aaaa, heedeung balik gk lo. Aku kangen....