Malam ini rumah terasa sangat hangat, namun ada sedikit rasa hampa yang menyelinap di hatimu. Meja makan sudah penuh dengan masakan kesukaan Jay—mulai dari steak wagyu yang bumbunya kamu racik sendiri sampai pasta yang aromanya menggoda. Di tengah meja, sebuah kue cokelat buatanmu dan Jeyna berdiri cantik dengan tulisan “Happy Birthday Papi” yang agak miring karena tulisan tangan si kecil.
Jeyna, putri kecilmu yang berusia 5 tahun, sudah memakai gaun tercantiknya. Namun, matanya yang bulat kini sudah sayu. Dia berkali-kali menguap sambil memeluk boneka beruangnya di sofa.
“Mami... Papi kapan sampai rumah? Jeyna mau kasih kado...” gumamnya dengan suara serak khas anak mengantuk.
Kamu mengusap rambutnya pelan, hatimu mencelos. Kamu baru saja menerima pesan singkat dari Jay:
“Sayang, maaf banget, ada masalah mendadak di kantor. Jangan tunggu aku ya, kalian makan duluan aja. I’m so sorry.”
Kamu menghela napas panjang, menelan rasa kecewa. Kamu sudah berniat membereskan meja makan dan membawa Jeyna tidur saat jam menunjukkan pukul 10 malam. Tapi tepat saat kamu hendak melepaskan lilin yang belum sempat dinyalakan, terdengar suara kunci pintu diputar dengan terburu-buru.
Cklek.
Pintu terbuka lebar. Jay berdiri di sana dengan napas terengah-engah. Jasnya tersampir di lengan, dasinya sudah longgar, dan rambutnya sedikit berantakan. Dia tampak sangat lelah, tapi matanya langsung mencari keberadaan kalian.
“Papi!” Jeyna yang tadi hampir terlelap, tiba-tiba langsung melek sempurna. Dia melompat dari sofa dan berlari kecil menghampiri Jay.
Jay langsung berlutut, menjatuhkan tas kerjanya begitu saja untuk menangkap tubuh mungil putrinya. “Hey, Sayang... maaf ya, Papi telat. Maafin Papi ya?” Jay memeluk Jeyna erat, menciumi pipinya berkali-kali dengan rasa bersalah yang kentara.
Melihat pemandangan itu, rasa sakit hati dan kecewamu menguap seketika. Kamu tersenyum, dengan sigap menyalakan lilin di atas kue dan berjalan mendekat ke arah mereka berdua.
“Happy birthday, Papi,” ucapmu lembut, berdiri di depan Jay yang kini menggendong Jeyna di satu lengannya.
Cahaya lilin yang temaram memantul di mata Jay yang kini berbinar haru. Dia mendongak menatapmu, lalu beralih ke kue di tanganmu. “Kalian... nungguin aku?”
“Jeyna nggak mau tidur sebelum Papi tiup lilin,” jawabmu sambil mendekatkan kue itu.
Jay berdiri, menarikmu mendekat dengan tangan satunya yang bebas, mengecup keningmu lama sekali seolah menyalurkan rasa terima kasihnya yang tak terhingga. “Makasih, Sayang. Makasih sudah sabar sama aku.”
“Ayo Papi, tiup! Make a wish!” seru Jeyna antusias sambil menepuk-nepuk bahu Jay.
Jay memejamkan mata sejenak, lalu bersama Jeyna, dia meniup lilin itu hingga padam. Di bawah remang lampu ruang tamu, Jay membisikkan sesuatu di telingamu sambil tetap memeluk kalian berdua.
“Hadiah terbaik Papi sudah ada di sini. Maaf ya sudah bikin kalian nunggu, I love you both so much.”
Malam yang hampir terasa dingin itu mendadak jadi malam ulang tahun paling hangat bagi keluarga kecil kalian.
Suasana di ruang makan terasa begitu hangat dan hidup. Jay, meski masih memakai kemeja kerjanya yang lengannya sudah digulung sampai siku, tampak benar-benar melepaskan seluruh beban kantornya saat duduk di antara kamu dan putri kecil kalian.
“Papi, Papi tau nggak?” Jeyna memulai ceritanya dengan menggebu-gebu, tangannya yang mungil sibuk memeragakan gerakan mengaduk. “Tadi Jeyna yang bantuin Mami kocok telurnya! Terus pas naruh cokelatnya, Jeyna yang paling banyak kasih chocochips biar Papi seneng!”
Jay tertawa renyah, tawa khasnya yang selalu berhasil membuat hatimu tenang. Dia mencubit pelan hidung Jeyna. “Pantesan kuenya enak banget, ternyata ada rahasia dari tangan ajaib Jeyna ya?”
Kamu tersenyum sambil menuangkan air putih ke gelas kecil Jeyna dan jus kesukaan Jay ke gelasnya. “Dia benar-benar antusias, Sayang. Dari siang dia sudah sibuk pakai celemek kecilnya, nggak mau berhenti sebelum kuenya masuk oven,” tambahmu sambil duduk di sampingnya, memberikan piring berisi steak yang sudah kamu potong-potong agar dia mudah memakannya.
Jay menatapmu dengan pandangan yang begitu dalam—tatapan penuh terima kasih dan kekaguman. Dia meraih tanganmu di bawah meja sejenak, meremasnya lembut sebelum mulai menyantap masakanmu dengan lahap. “Enak banget, Sayang. As expected, masakan istriku emang paling juara.”
Makan malam itu diiringi ocehan riang Jeyna tentang hari-harinya di sekolah, sesekali Jay menanggapi dengan antusias, membuat putri kalian merasa seperti orang paling penting di dunia. Hingga akhirnya, kepala kecil Jeyna mulai terkantuk-kantuk lagi, gerakannya melambat sampai matanya benar-benar sulit terbuka.
“Ayo, Princess-nya Papi sudah ngantuk ya?” Jay bangkit, dengan sigap menggendong Jeyna yang sudah pasrah menyandarkan kepalanya di bahu lebar sang ayah.
Kamu memperhatikan punggung kokoh suamimu saat dia melangkah menuju kamar Jeyna. Kamu pun mulai membereskan piring-piring kotor ke dapur, mencucinya dengan perlahan sambil sesekali tersenyum mengingat betapa beruntungnya kamu memiliki pria sepertinya.
Tiba-tiba, sebuah kehangatan menyergapmu dari belakang. Dua lengan kekar yang sangat kamu kenali melingkar erat di pinggangmu. Jay menenggelamkan wajahnya di ceruk lehermu, menghirup aroma tubuhmu yang selalu menjadi tempat pulang favoritnya.
“Sudah tidur?” tanyamu pelan tanpa menghentikan gerakan tanganmu yang sedang membilas piring.
“Hm, langsung pules begitu kepalanya nempel bantal,” bisik Jay dengan suara serak yang seksi. Dia mengeratkan pelukannya, memberikan kecupan-kecupan kecil di bahumu yang terekspos. “Makasih buat hari ini, Sayang. Makasih sudah jadi ibu yang luar biasa buat Jeyna, dan istri yang sabar buat aku yang selalu sibuk ini.”
Kamu meletakkan piring terakhir, mengeringkan tanganmu, lalu berbalik dalam dekapan suamimu. Kamu mengalungkan tangan di lehernya, menatap wajah lelah namun tampannya yang kini hanya berjarak beberapa inci.
“Ulang tahun kamu itu hari spesial aku juga, Jay. Aku cuma pengen kamu ngerasa pulang,” ucapmu lembut.
Jay tersenyum tipis, matanya mengunci tatapanmu. “Aku selalu merasa pulang setiap kali ada kamu. Sekarang, karena Jeyna sudah tidur... boleh aku minta hadiah ulang tahunku yang sebenarnya?”
Kamu terkekeh pelan, merasakan getaran rendah dari dada Jay yang menempel pada tubuhmu. Kamu sengaja memajukan wajahmu, membiarkan ujung hidung kalian bersentuhan, membuat napas hangat Jay menerpa bibirmu yang sedikit terbuka.
“Hadiah? Hm, kado di meja makan tadi belum cukup?” godamu dengan nada manja yang sengaja dibuat sedikit serak. Kamu menjinjit, seolah ingin mencium bibirnya, namun tepat saat Jay memajukan kepalanya untuk menyambutmu, kamu memalingkan wajah dan mencium sudut rahangnya saja.
“Eits... mandi dulu, Papi. Kamu bau kantor,” bisikmu sambil mendorong dadanya pelan, mencoba melepaskan diri dengan tawa kecil yang menggoda.
Jay tidak bergeming. Dia justru menyeringai—sebuah senyum nakal yang biasanya menandakan bahwa dia tidak akan menerima kata ‘tidak’. “Bau kantor? Padahal tadi Jeyna bilang Papi wangi.”
“Jeyna kan anak kecil, maminya ini beda standarnya,” candamu lagi, mencoba berbalik untuk kembali ke wastafel.
Namun, Jay jauh lebih cepat. Sebelum kamu sempat melangkah, tangan besarnya sudah menyusup ke bawah lipatan lututmu dan punggungmu. Dalam satu gerakan mantap, Jay mengangkatmu ke dalam gendongan bridal style. Kamu memekik pelan, refleks mengalungkan lengan di lehernya agar tidak jatuh.
“Jay! Turunin, aku belum selesai beresin dapur!”
“Dapurnya nggak akan lari, Sayang. Tapi suamimu ini bisa hilang kesabaran kalau disuruh nunggu lebih lama lagi,” geram Jay rendah. Dia tidak membawamu ke kamar mandi seperti pintamu, melainkan melangkah lebar menuju kamar utama kalian.
Begitu pintu kamar tertutup dengan tendangan kakinya, Jay langsung membaringkanmu di atas ranjang yang empuk. Dia tidak memberikanmu celah untuk memprotes. Jay segera mengunci tubuhmu di bawahnya, menumpu berat badannya dengan kedua siku agar tidak menghimpitmu sepenuhnya.
“Tadi di dapur mau cium apa, hm?” tanyanya sambil menatap matamu dalam-dalam.
Tanpa menunggu jawaban, Jay langsung menghujanimu dengan ciuman. Dimulai dari kening, turun ke kedua kelopak matamu, lalu ke pipi, hingga akhirnya dia mengunci bibirmu dengan ciuman yang sangat dalam dan penuh damba. Ciuman itu tidak lagi lembut seperti di depan Jeyna tadi, ini adalah ciuman seorang pria yang sudah menahan haus sepanjang hari.
Lidahnya menyapu bibirmu, meminta akses yang langsung kamu berikan dengan senang hati. Kamu bisa merasakan sisa rasa lelahnya menguap, digantikan oleh gairah yang membara. Tangan Jay merangkak naik, menelusuri lekuk pinggangmu hingga jemarinya menyusup ke rambutmu, menahan kepalamu agar ciuman itu semakin intens.
“Kado paling bagus malam ini bukan steak atau kue tadi,” bisik Jay di sela ciumannya yang berpindah ke ceruk lehermu, memberikan hisapan-hisapan kecil yang membuatmu merinding. “Tapi kamu... cuma kamu hadiah yang aku mau.”
Kamu mendesah pelan, meremas kemeja kerja Jay yang kini sudah semakin berantakan. “Selamat ulang tahun, Jay...”
“Iya, Sayang... ini ulang tahun terbaik,” jawabnya serak sebelum kembali membungkam mulutmu, siap untuk menghabiskan sisa malam ini hanya berdua, menebus waktu yang sempat hilang karena pekerjaan.
Gairah di dalam kamar itu mendidih dengan cepat, seiring dengan Jay yang mulai menanggalkan pakaianmu satu per satu tanpa sisa. Gerakannya terburu-buru namun tetap penuh perasaan, seolah setiap inci kulitmu yang terekspos adalah harta karun yang sudah ia idamkan sepanjang hari. Setelah kamu benar-benar polos di bawahnya, Jay bangkit sejenak untuk melepas kemeja dan celananya.
Otot punggung dan dadanya yang kokoh terpapar di bawah lampu tidur yang remang, terlihat begitu maskulin dan seksi saat ia bergerak. Kamu menelan ludah, benar-benar tersulut melihat betapa jantannya suamimu ini saat sedang dikuasai nafsu.
Jay kembali merapat, menciumi perutmu hingga naik ke dada. Saat ia mulai melahap salah satu puncaknya, menyesap dan memainkannya dengan lidah, kamu mengerang rendah sambil melengkungkan punggung. Tanganmu turun ke bawah, melewati perutnya yang kencang hingga jemarimu menggenggam miliknya yang sudah menegang sempurna—keras, panas, dan berdenyut siap untuk menghujam.
“Nghhh... Jay...” desahmu saat merasakan betapa siapnya dia malam ini.
Jay mengeluarkan erangan frustrasi yang sangat dalam di sela kegiatannya menyesap dadamu. “Sayang... jangan digenggam kayak gitu kalau kamu belum siap aku makan sekarang juga,” geramnya serak, suaranya terdengar sangat terangsang.
Bukannya takut, kamu justru tersenyum nakal. Jiwa penggodamu muncul. Dengan satu gerakan tak terduga, kamu mendorong bahu Jay ke samping, memaksanya terlentang di atas kasur sementara kamu bergerak cepat untuk naik ke atas perutnya.
Kini posisimu berada di atas, mengangkangi pinggulnya dengan rambut yang jatuh berantakan di bahu. Kamu menatapnya dengan pandangan menantang, ujung jemarimu menelusuri tato atau garis otot di dadanya.
“Papi ulang tahun, kan? Jadi malam ini, biar Mami yang kasih servis spesial buat ronde pertama,” bisikmu provokatif sambil sedikit menggoyangkan pinggulmu di atas miliknya yang keras.
Jay mendongak, matanya yang gelap menatapmu dengan binar pemujaan sekaligus gairah yang meledak-ledak. Dia meletakkan kedua tangan besarnya di pinggulmu, membantu menstabilkan posisimu sambil menyeringai lebar.
“Oh, jadi istriku mau main dominan malam ini?” Jay terkekeh rendah, suaranya bergetar di dadanya. “Silakan, Sayang. I’m all yours. Tunjukin ke aku gimana kamu mau manjain suamimu yang haus sentuhanmu ini.”
Kamu tidak membuang waktu. Dengan perlahan namun pasti, kamu menuntun miliknya untuk menyatu denganmu. Saat rasa penuh itu kembali mengisi setiap inci dirimu, kamu mendongak, mendesah vulgar sambil mulai menggerakkan pinggulmu dalam ritme yang kamu kendalikan sendiri.
Jay mengerang keras, tangannya meremas pinggulmu dengan kuat saat ia menikmati bagaimana kamu memimpin pergumulan panas ini sebagai hadiah pembuka yang tak terlupakan bagi ulang tahunnya.
Suasana kamar yang biasanya tenang kini penuh dengan suara napas yang memburu dan erangan rendah Jay yang terdengar sangat terangsang. Setiap kali kamu menekan pinggulmu ke bawah, Jay memejamkan mata erat, urat-urat di lehernya menonjol karena menahan kenikmatan yang hampir melewati batas.
“Sshhh... Sayang, gila...” Jay menggeram serak, tangannya yang besar mencengkeram pinggulmu hingga memerah. “Gimana bisa... hhh, anak kita sudah lima tahun tapi kamu masih sesempit ini? Kamu beneran mau bikin aku gila ya?”
Plak!
Secara refleks, Jay melayangkan tamparan ringan namun mantap ke pantatmu yang sedang bergoyang seksi di atasnya. Suara tamparan itu terdengar begitu vulgar di keheningan malam, memicu sensasi panas yang membuatmu semakin berani. Kamu tidak berhenti, justru kamu semakin memperdalam gerakanmu, memberikan sensasi hisapan yang kuat dari dalam—sebuah gerakan vakum alami yang membuat Jay mendongak dengan rahang yang mengeras.
“Ahhh! Jay-ah... hhh, enak... ah!” Kamu melengkungkan punggungmu dengan indah, rambut panjangmu jatuh menjuntai ke belakang saat kamu menikmati kontrol penuh atas tubuh suamimu malam ini.
Dari posisinya di bawah, Jay disuguhi pemandangan yang paling indah sekaligus mematikan. Dia bisa melihat bagaimana payudaramu membal mengikuti irama gerakanmu, dan bagaimana ekspresi wajahmu yang penuh gairah saat mencoba memanjakannya. Tatapan Jay sangat gelap, penuh dengan damba dan kepemilikan yang absolut.
“Liat aku, Sayang,” perintah Jay rendah. Saat matamu yang sayu bertemu dengan miliknya, dia kembali menampar lembut sisi lain pantatmu, lalu meremasnya dengan posesif. “Goyang terus kayak gitu... aku suka banget liat kamu yang nakal begini pas lagi di atas.”
Kamu menuruti perintahnya, menggilingkan pinggulmu dengan ritme yang semakin berani dan vulgar, membuat Jay terus-menerus mengerang menyebut namamu. Di malam ulang tahunnya ini, Jay benar-benar merasa seperti pria paling beruntung karena memiliki istri yang tidak hanya mencintainya dengan tulus, tapi juga tahu persis bagaimana cara menghancurkan pertahanan dirinya di atas ranjang.
Kamar itu kini dipenuhi aroma gairah yang kental dan suara napas yang benar-benar berantakan. Tubuhmu sudah bergetar hebat, keringat dingin membasahi punggungmu saat dinding rahimmu mulai berkedut-kedut kencang, menjepit milik Jaydengan sangat erat seolah tak ingin melepaskannya.
“Ah! Jay... aku... hhh, mau keluar... ahhh!” Kamu memekik vulgar, kepalamu terdongak ke belakang dengan mata terpejam saat kontraksi hebat itu mulai melanda.
Kedutan di dalam dirimu menjadi pemicu terakhir yang meruntuhkan sisa-sisa pertahanan Jay. Rahangnya mengeras, matanya yang gelap kini benar-benar kehilangan kendali saat merasakan jepitanmu yang luar biasa nikmat.
“Enggak, Sayang... jangan sendirian,” geram Jay serak.
Bukannya membiarkanmu selesai di atas, Jay tiba-tiba mencengkeram pinggangmu dengan sangat kuat. Dalam satu gerakan bertenaga yang sangat maskulin, dia memutar tubuhmu hingga kamu terhempas ke bawahnya dengan posisi kaki terbuka lebar. Jay tidak memberikanmu waktu untuk bernapas, dia langsung mengambil alih kendali sepenuhnya dari bawah.
Jay menghujammu dengan sentakan-sentakan yang jauh lebih kasar, dalam, dan tanpa ampun. Setiap tumbukannya membuatmu memekik gila, suaramu teredam oleh bantal saat Jay terus mengejar klimaksnya bersamamu.
“Lihat aku... keluar bareng aku, Sayang!” desis Jay tepat di depan wajahmu.
Kamu mencengkeram bahu kokohnya, kukumu menancap di sana saat sensasi meledak itu menghantam kalian berdua secara bersamaan. Jay mengerang sangat keras, seluruh tubuhnya menegang saat dia menyentakkan miliknya sedalam mungkin, meluapkan seluruh benih hangatnya ke dalam dirimu yang sudah banjir.
Kamu terkulai lemas dengan napas tersengal, sementara Jay ambruk di atas tubuhmu, menenggelamkan wajahnya di ceruk lehermu sambil terus memelukmu erat—merayakan kemenangan dan cinta yang paling dalam di malam ulang tahunnya.
Sepuluh menit berlalu dalam keheningan yang intim, hanya diisi oleh suara detak jantung kalian yang perlahan mulai kembali normal dan deru napas yang masih terasa hangat di kulit masing-masing. Jay masih belum bergerak seinci pun dari atas tubuhmu, dia membiarkan miliknya tetap tertanam dalam di sana, seolah-olah melepaskanmu berarti mengakhiri kebahagiaannya malam ini.
Tangan Jay yang besar mulai bergerak malas, mengusap helai rambut yang menempel di dahi dan pipimu yang memerah. Dia menatapmu dengan mata sayu yang penuh kasih, namun masih ada kilatan gairah yang belum sepenuhnya padam di sana.
“Lemas banget ya, Sayang?” bisik Jay parau, suaranya terdengar sangat seksi di keheningan malam. Dia memberikan kecupan-kecupan ringan di ujung hidung dan bibirmu yang masih terasa panas.
Kamu hanya bisa mengangguk pelan, menyandarkan tanganmu yang masih agak gemetar di dada bidangnya yang lembap. “Papi... kamu nggak mau lepas dulu? Berat...” gumammu manja, meski sebenarnya kamu pun menyukai kehangatan penyatuan ini.
Jay terkekeh rendah, sebuah getaran maskulin yang terasa langsung di dalam dirimu. “Maaf ya, tapi rasanya terlalu enak buat dilepas. Lagipula...” Jay sengaja menggantung kalimatnya sambil mulai menggerakkan pinggulnya sedikit, sebuah sentakan kecil yang langsung memicu kedutan refleks dari rahimmu.
Matamu membelalak kecil saat merasakan sesuatu di bawah sana kembali menegang dan mengeras di dalam dirimu. “Jay... jangan bilang...”
“Satu ronde lagi ya? Sebagai penutup ulang tahunku,” potong Jay dengan senyum nakal yang sangat menggoda. Dia tidak menunggu jawabanmu, tangannya kembali mencengkeram paha dalammu, menariknya lebih lebar hingga kamu merasa benar-benar terbuka untuknya.
“Tapi janji ya, setelah ini benar-benar istirahat,” pintamu dengan suara yang mulai kembali mendesah saat Jay mulai memacu ritmenya lagi secara perlahan namun pasti.
“Janji, Sayang. Aku bakal buat ronde terakhir ini pelan tapi sangat dalam... biar kamu tidurnya makin pules,” geram Jay sebelum membungkam bibirmu dengan ciuman panas, memulai kembali tarian gairah yang akan mengunci malam ulang tahunnya dengan kepuasan yang absolut.
Ronde kedua ini terasa jauh lebih intens karena sisa-sisa rangsangan tadi membuat sarafmu jauh lebih sensitif. Jay menepati janjinya, dia bergerak pelan, menekankan setiap jengkal miliknya ke dinding rahimmu, membiarkanmu merasakan setiap denyutan dan urat yang menegang di dalam sana.
“Ahhh... Jay... hhh, dalem banget...” desahmu sambil mencengkeram sprei.
Namun, rasa penuh yang lambat itu justru memicu rasa haus yang lebih besar. Birahimu yang sedang tinggi membuatmu tidak puas hanya dengan tempo yang santai. Kamu mendongak, menatap Jay dengan mata sayu yang penuh damba. “Papi... please... jangan pelan-pelan. Aku mau lebih... lebih kenceng!”
Mendengar permintaanmu, mata Jay menggelap seketika. Dia menyeringai, sebuah ekspresi predator yang sangat seksi. “Oh, jadi istriku minta yang kasar sekarang?”
Tanpa membuang waktu, Jay menarik pinggulmu dan membalik tubuhmu dengan sangat dominan. Dia memposisikanmu menungging—posisi favorit kalian berdua. Dalam posisi ini, Jay bisa masuk jauh lebih dalam, menabrak titik terdalammu tanpa hambatan.
Plak!
Jay mendaratkan tamparan keras di pantatmu yang kini terekspos sempurna di depannya. Suara itu memicu gairah Jay hingga ke titik didih. Dia langsung menghujammu dari belakang dengan satu hentakan besar yang membuatmu memekik vulgar.
“Ahhh! Jay-ah! Hhh... i-itu... di situ!” teriakmu saat dia mengenai titik sensitifmu berkali-kali.
“Ini yang kamu mau, kan? Say Happy birthday to me, Sayang,” geram Jay serak.
“H-Happy Birthday, Jay... anghhh“
Dia mulai memacu ritmenya dengan gila. Setiap kali dia maju, perutmu terasa penuh sesak, dan setiap kali dia menarik diri, rasa hampa itu membuatmu reflek mendorong pinggulmu ke belakang untuk menjemputnya lagi. Jay terus menghujammu tanpa ampun, tangannya yang bebas sesekali meremas payudaramu dari bawah atau kembali menampar pantatmu hingga warnanya memerah, menciptakan simfoni suara plak plak plak yang memekakkan telinga.
Kamu benar-benar kehilangan akal, hanya bisa mendesah dan memanggil nama suamimu gila-gilaan sementara Jay terus bergerak menikmati “kado” terakhir yang paling berkesan untuk malam ulang tahunnya ini. Di posisi ini, Jay merasa memiliki kendali penuh atas dirimu, dan dia memastikan setiap inci tubuhmu bergetar hebat di bawah kekuasaannya.
Gelombang nikmat itu datang menghantammu seperti tsunami. Di posisi menungging ini, setiap sentakan Jay terasa berkali-kali lipat lebih intens. Kamu sudah tidak bisa lagi menahan suara desahanmu, kamu memekik vulgar saat kontraksi hebat mulai meremas miliknya di dalam sana.
“Jay! Aku... hhh, keluar lagi! Ahhh!” Tubuhmu menegang hebat, kamu mencapai orgasme keduamu malam ini dengan seluruh tubuh yang bergetar hebat.
Melihatmu yang sudah hancur lemas di bawahnya, Jay justru semakin beringas. Dia mencengkeram pinggangmu hingga jemarinya memutih, memacu ritmenya di detik-detik terakhir dengan kecepatan yang gila. Suara erangannya pecah, rendah dan sangat jantan saat dia merasakan jepitan rahimmu yang luar biasa nikmat.
“Bareng, Sayang... hhh, sedikit lagi!” geram Jay.
Dalam satu hujaman terakhir yang sangat dalam dan mantap, Jay meluapkan seluruh benihnya. Kamu bisa merasakan cairan panas itu membanjiri rahimmu, memberikan sensasi hangat yang meluap-luap. Kalian berdua jatuh ambruk ke atas kasur, Jay langsung menarikmu ke dalam pelukannya dari belakang, masih dalam posisi menyatu, napas kalian berdua saling memburu di keheningan kamar.
Setelah sepuluh menit berlalu dalam keheningan yang intim, Jay mulai melakukan aftercare yang sangat manis. Dia membalik tubuhmu dengan lembut agar kalian bisa saling berhadapan. Tangannya yang besar mengusap keringat di dahi dan lehermu, sesekali memberikan kecupan-kecupan ringan di bibirmu yang bengkak.
“Capek banget, hm?” bisik Jay parau, tangannya mulai merangkak turun, mengelus perut ratamu dengan gerakan melingkar yang sangat seduktif.
Kamu menyandarkan kepalamu di dada bidangnya, menghirup aroma tubuh suamimu yang selalu membuatmu candu. “Papi... kamu beneran mau bikin mami pingsan ya?”
Jay terkekeh rendah, suara tawanya terdengar sangat seksi dan puas. Dia mencondongkan tubuhnya, membisikkan sesuatu tepat di telingamu hingga napas hangatnya membuatmu merinding kembali.
“Kado ulang tahun tadi emang luar biasa, Sayang. Tapi...” Jay menghentikan jemarinya tepat di atas perut bawahmu, menekan sedikit di sana. “Aku rasa Jeyna butuh temen main. Kayaknya kado paling pas buat penutup ulang tahunku malam ini adalah... satu lagi ‘Jeyna’ atau mungkin jagoan kecil yang mirip aku di dalam sini.”
Kamu mendongak, menatap matanya yang penuh godaan namun juga penuh harap. “Jay... kamu serius?”
“Serius banget,” bisik Jay sambil menyeringai nakal, tangannya kembali menarikmu lebih rapat hingga tak ada celah di antara kalian. “Makanya tadi aku keluarin semuanya di dalem, nggak aku kasih sisa. Kita bikin adek buat Jeyna malam ini juga, ya?”
Kamu hanya bisa tersenyum malu dan menyembunyikan wajahmu di dadanya, sementara Jay terus menghujanimu dengan kata-kata manis dan godaan nakal yang membuat malam ulang tahunnya berakhir dengan rencana masa depan yang sangat indah bagi keluarga kecil kalian.
Lampu tidur yang temaram memberikan semburat keemasan pada kulit kalian yang masih lembap oleh peluh. Jay tidak memberikan jeda lama untukmu sekadar menarik napas panjang. Baginya, keinginan untuk “menanamkan” benihnya sebagai tanda kepemilikan dan masa depan bagi keluarga kalian jauh lebih mendesak daripada rasa lelah yang menghampiri.
Jay menarik kedua tanganmu ke atas kepala, menguncinya dengan satu tangan besarnya, sementara tangan yang lain menelusuri lekuk tubuhmu dengan pemujaan yang intens.
“Kali ini, aku nggak akan main-benar-benar pelan, Sayang,” bisik Jay, suaranya berat dan sarat akan janji. “Aku mau kamu ngerasain setiap detik prosesnya. Aku mau kamu inget kalau malam ini, kita lagi bikin kehidupan baru di sini.”
Jay kembali menyatu denganmu, namun kali ini gerakannya terasa sangat berbeda. Tidak ada lagi ketergesaan yang kasar, melainkan dorongan yang sangat dalam, lambat, dan penuh penekanan. Setiap kali dia menghujam, dia berhenti sejenak di titik terdalam, membiarkanmu merasakan denyutan kejantanannya yang seolah ingin menyatu dengan rahimmu.
“Ahhh... Jay... hhh, ini... rasanya beda...” desahmu dengan mata berkaca-kaca karena sensasi emosional dan fisik yang bercampur aduk. Kamu bisa merasakan betapa tulus dan posesifnya Jay saat ini.
“Rasain aku, Sayang... pas aku isi kamu di dalem kamu,” geram Jay. Dia menunduk, mencium bibirmu dengan sangat lembut namun posesif, lidahnya bermain perlahan seiring dengan pinggulnya yang terus menekan dalam.
Pemandangan ini begitu indah, Jay yang menatapmu dengan mata penuh cinta di tengah pergumulan panas, dan kamu yang terbuka lebar menerimanya tanpa sisa. Setiap sentakan lambatnya membuat dinding rahimmu seolah menghisapnya lebih dalam, menyambut calon adik untuk Jeyna dengan kesiapan penuh.
Saat gairah itu mencapai puncaknya, Jay melepaskan kuncian tangannya dan memelukmu sangat erat, menyatukan detak jantung kalian yang berpacu gila.
“I love you... I love you so much,” bisik Jay tepat sebelum dia mengerang panjang, menyentakkan dirinya sedalam mungkin untuk terakhir kalinya malam ini. Kamu merasakan aliran hangat yang sangat deras dan berdenyut mengisi rahimmu—sebuah “hadiah” yang melimpah ruah, yang kalian harapkan akan tumbuh menjadi malaikat kecil kedua dalam rumah tangga kalian.
Kamu memeluk leher Jay erat, kaki yang melingkar di pinggangnya kian mengunci, memastikan tak ada setetes pun kado indah itu yang terbuang sia-sia. Di bawah selimut yang berantakan, dalam sisa-sisa napas yang tersengal, kalian berdua tersenyum—menyadari bahwa malam ulang tahun ini bukan hanya tentang kepuasan, tapi tentang cinta yang kembali bersemi dan rencana indah yang baru saja kalian mulai.
—The End—




aww happy b'day papi💐😚
aaa so sweett,happy birthday papi jayy 🥳🎂