Halo Dek
Laksamana Jay
BACA DENGAN RISIKO SENDIRI
Buat kalian yang nggak nyaman sama cowok dominan, age gap yang jauh banget, identik cerita tentang kaum “Halo, Dek”, dan adegan-adegan panas di Layar Hp yang bikin deg-degan… kalau kalian merasa ketrigger atau punya trauma sama kaum “Halo, Dek”, mending drop sekarang!
Izin pakai Al buat memvisualisasikan Character Jay di cerita ini kalau jadi perwira angkatan laut a.k.a Laksamana Jay
Cerita ini khusus buat yang suka vibe terlarang, slow burn tapi intens, dan penuh rahasia di balik pintu kamar yang terkunci.
Enjoy the ride!
Semua berawal dari rasa bosan di sela-sela jam pelajaran sejarah yang menjemukan. Kamu mengunduh aplikasi itu hanya karena iseng, didorong oleh rasa kepo yang membuncah tentang dunia orang dewasa yang sering dibicarakan kakak kelasmu. Kamu memasang foto terbaikmu-yang sedikit disunting agar terlihat lebih dewasa dan mulai menggeser layar.
Lalu, kamu menemukannya. Profil dengan nama Jay.
Fotonya tidak banyak, hanya satu gambar dia yang membelakangi matahari dengan latar belakang kapal perang besar, menonjolkan siluet bahunya yang kokoh. Kamu menekan tombol match tanpa ekspektasi apa pun. Namun, hanya dalam hitungan detik, ponselmu bergetar.
“Halo. Sepertinya kamu tersesat di aplikasi ini, Adek Kecil?”
Pesan pertamanya sangat sopan, namun ada nada otoritas yang membuat perutmu mulas karena gugup. Percakapanawal mengalir dengan sangat menyenangkan. Jay adalah pendengar yang baik, dia bertanya tentang harimu, hobimu, dan memberikan nasihat-nasihat bijak seolah dia adalah pelindung yang selama ini kamu cari. Bagimu, dia adalah sosokpria impian yang jauh lebih menarik daripada cowok-cowok seangkatanmu yang hanya tahu cara bermain game dan bersikap konyol.
Tiga minggu berlalu, dan duniamu kini berputar di sekitar notifikasi ponsel.
“Cengar-cengir terus. Punya gebetan baru ya?” goda Isa, sahabatmu, saat kalian sedang duduk di kantin sambil menikmati bakso.
Kamu tersedak sedikit, buru-buru menyembunyikan layar ponselmu ke dalam saku seragam. “Apaan sih, Sa? Enggak, Cuma… ya, ada yang lagi deket.”
“Siapa? Anak sekolah sebelah? Atau anak basket?” Isa menyenggol bahumu, matanya berbinar penasaran.
Kamu hanya tersenyum simpul, memutar-mutar sedotan di gelas es tehmu. “Ada deh. Pokoknya dia sudah kerja. Kaum‘Halo, Dek’ gitu, deh.”
Isa mengernyitkan dahinya. Kaum ‘Halo Dek’?, dia ingin bertanya lebih lanjut tapi melihat wajahmu yang berseri-seri, Isa mengurungkan niatnya dan tersenyum simpul.
Kamu sengaja menggantungkan jawabanmu. Kamu tidak berani bilang kalau pria itu berada di atas kapal perang di tengah samudra, dan kamu sama sekali tidak menyebutkan fakta bahwa usianya hampir lima belas tahun lebih tua darimu. Bagimu, perbedaan usia itu bukan masalah, melainkan sebuah prestise yang tidak akan dipahami oleh Isa.
Minggu keempat dimulai dengan perubahan nada dalam pesan-pesan Jay. Dia tidak lagi hanya bertanya tentang tugas sekolah mu, tapi mulai masuk ke ruang-ruang yang lebih pribadi. Cara dia berbicara terasa seperti madu-manis, tapi lengket dan menjerat.
Malam itu, sekitar pukul sebelas, ponselmu bergetar. Sebuah foto terkirim: pemandangan dek kapal yang gelap dengan latar bulan sabit.
“Sepi sekali di sini, Adek Kecil. Cuma ada suara mesin dan ombak,” tulisnya. Tak lama, ponselmu berdering. Panggilan suara.
Kamu menahan napas sebelum mengangkatnya. “Halo?”
“Suaramu kedengeran lelah, (y/n). Belajar sampai selarut ini?” Suara Jay terdengar berat dan sangat dekat, seolah dia sedang berbisik tepat di telingamu.
“Iya, Bang Jay. Tugasnya banyak banget,” jawabmu pelan, sambil memeluk guling erat-erat.
“Anak pintar,” pujinya, dan kamu bisa merasakan pipimu memanas hanya karena dua kata itu.
“Andai aku di sana, aku bakalan ngacakin rambut kamu atau kasih kamu pelukan singkat sebagai hadiah. Kamu pasti kelihatan cantik banget pakai seragam yang sedikit berantakan itu, kan?”
Jantungmu seakan berhenti sejenak. Belum pernah ada yang bicara seperti itu padamu. Kalimatnya terdengar manis dan protektif, namun ada ketegangan aneh yang mulai merayap di dadamu.
“Bang Jay… di sana dingin?” tanyamu, mencoba mengalihkan rasa gugup mu.
“Dingin. Tapi mikirin kamu bikin suasananya jadi berbeda,” suaranya merendah satu oktaf, lebih serak dari biasanya. “Boleh aku minta sesuatu? Aku mau melihat apa yang kamu pakai sekarang. Cuma untuk memastikan kamu nggak kedinginan seperti aku. Kirimkan aku satu foto, ya? Cuma untukku.”
Permintaan itu terdengar seperti permohonan yang tulus, namun ada nada perintah yang halus di dalamnya. Kamu tahu ini sudah melewati batas obrolan biasa, tapi rasa ingin dianggap “spesial” oleh pria seperti Jay membuatmu beranjak dari kasur dan berdiri di depan cermin lemari dengan tangan gemetar.
Tanganmu masih sedikit gemetar saat kamu berdiri di depan cermin. Kamu nggak terlalu mikir macam-macam soal baju tidur yang kamu pakai. Itu Cuma tank top satin warna kuning mentega-yang sebenarnya lebih mirip dalaman -dengan celana pendek senada.
Bahannya memang tipis banget, karena kamu tipe orang yang nggak bisa tidur kalau merasa gerah sedikit saja. Tapi di bawah lampu kamar yang temaram, belahan dada rendahnya justru memperlihatkan kulitmu yang tampak halus.
Kamu mengarahkan kamera, mengambil napas panjang, lalu-cekrek.
Tanpa diedit atau dilihat ulang dua kali, kamu langsung menekan tombol kirim. Detak jantungmu terasa sampai ke kerongkongan. Kamu Cuma pengen Jay tahu kalau kamu nurut, kalau kamu “anak pintar” seperti yang dia bilang tadi.
Setelah menekan tombol kirim, ada perasaan aneh yang meledak di dadamu. Rasanya seperti baru saja melompat daritebing tinggi-ada rasa mual karena takut, tapi adrenalinnya bikin kamu ketagihan. Kamu melihat pantulan dirimu di cermin, siswi SMA teladan dengan nilai rapor bagus, tapi di balik layar ponsel ini, kamu adalah rahasia terbesar seorang perwira angkatan laut. Ada rasa bangga yang nakal saat tahu pria sekuat Jay bisa dibuat sesak napas hanya karena foto sederhana darimu.
“Bang Jay?” panggil mu lirih, saat keheningan di telepon mulai terasa menekan.
“Aku nggak mau cuma lihat foto, (y/n),” suara Jay terdengar lebih berat, kali ini ada getaran yang nggak bisa dia sembunyikan. “Nyalain videonya. Aku mau lihat wajahmu pas kamu dengerin instruksi aku.”
Tanganmu gemetar hebat. Video call? Ini jauh lebih nyata dari sekadar foto. Bayangan kalau wajahmu akan terlihat jelas saat melakukan hal-hal yang diminta Jay mendadak bikin kamu merinding. Tapi, kalimat Jay selanjutnya benar-benar meruntuhkan pertahananmu.
“Tolong… aku sudah terlalu lama sendiri di sini. Cuma kamu yang bisa bikin aku tenang sekarang.”
Kata ‘tolong’ dari pria seperti Jay itu seperti kunci yang membuka pintu terlarang di hatimu. Kamu merasa dibutuhkan. Kamu merasa menjadi satu-satunya pelarian dia dari kerasnya kehidupan di kapal. Tanpa pikir panjang lagi, kamu menekan ikon kamera.
Layar ponselmu terbagi dua. Di bawah, kamu melihat dirimu sendiri-wajahmu merah padam dengan napas yang mulai pendek. Di atas, ada Jay. Dia sudah duduk di pinggir tempat tidurnya, lampu kabin dimatikan, hanya menyisakan cahaya remang dari layar ponsel dan cahaya rembulan yang masuk dari jendela yang menyorot rahang tegas dan tatapan matanya yang gelap.
“Pinter,” bisiknya saat melihat wajahmu muncul. “Sekarang, pelan-pelan… coba turunkan tali baju kuningmu itu. Aku mau lihat bahumu, Adik Kecil. Sambil tatap mata aku, ya? Jangan putus.”
Kamu melakukan apa yang dia minta, jari-jarimu yang dingin menyentuh kulit bahumu sendiri. Suara gesekan kain satin di kamarmu yang sunyi terdengar sangat keras, kontras dengan suara deru mesin kapal yang samar dari ujung telepon. Kamu tahu ini salah, tapi saat Jay menatapmu lewat layar dengan pandangan memuja seperti itu, kamu merasa menjadi pusat semesta.
Saat jari-jarimu menarik perlahan tali tank top kuning itu hingga melorot ke lengan, ada sensasi geli yang aneh di perutmu-seperti ribuan kupu-kupu yang beterbangan tapi dengan cara yang mendebarkan. Kamu bisa melihat di layar kecil ponselmu, jakun Jay naik-turun saat dia menelan ludah. Pandangannya yang gelap seolah-olah bisa menembus layar dan menyentuh kulitmu langsung.
“Letakkan ponselnya di meja, (y/n). Mundur sedikit… aku mau lihat kamu seutuhnya,” perintah Jay. Suaranya serak, berat, dan sama sekali nggak menerima penolakan.
Kamu menurut, menyandarkan ponsel di tumpukan buku pelajaranmu. Kamu mundur beberapa langkah sampai kamera penangkap tubuhmu dari kepala sampai paha. Di sana, dengan tali baju yang sudah jatuh dan kain satin yang nyaris menampakkan puncak dadamu yang menegang karena dingin dan gugup, kamu merasa benar-benar terekspos.
Tiba-tiba, kriek…
Suara pintu lantai bawah yang tertutup dan langkah kaki sayup-sayup dari ruang tengah membuat jantungmu seolah merosot ke lantai. Itu pasti Ibu atau Ayah yang baru selesai menonton TV. Kamu membeku, napas mu tertahan di tenggorokan.
“Kenapa berhenti? Jangan takut, mereka nggak bakal dengar kalau kamu pinter jaganya,” bisik Jay di earphone. Dia malah sengaja mengerang rendah, suara yang bikin area sensitif di balik celana pendekmu mendadak terasa hangat dan lembap-becek.
Refleks, sebuah desahan kecil lolos dari bibirmu. Kamu segera menutup mulut dengan tangan, matamu melebar ketakutan, tapi adrenalin di darahmu justru makin memuncak.
Jay di seberang sana tampak makin kehilangan kendali. Dia menarik kaus hitam press body-nya ke atas, memperlihatkan otot dada yang keras dan perut sixpack yang menonjol sempurna di bawah cahaya remang kabin. Kamu bisa mendengar suara gesekan sabuk dan ritsleting celana yang dibuka-Jay sedang melepas sesaknya di sana, meski dia tetap menjaga kamera hanya sebatas dadanya.
“Lihat aku, (y/n). Fokus ke aku aja,” desak Jay lagi, suaranya makin intens. “Abaikan suara di luar kamarmu. Cuma ada aku dan kamu sekarang. Coba sentuh dirimu sendiri… tunjukkan ke aku gimana cara kamu melakukannya sambil bayangin aku ada di belakangmи.”
Perasaan aneh-campuran antara rasa berdosa, takut ketahuan, dan gairah yang meluap-malah bikin kamu makin semangat. Kamu nggak pernah merasa seberani ini sebelumnya.
Kamu menatap pantulan dirimu di layar kecil ponsel. Wajahmu terlihat sangat berbeda, pipimu merah padam, matamu sayu dan sedikit berair -ekspresi yang belum pernah kamu lihat saat bercermin untuk sekolah. Ada perasaan sange yang nggak terbendung saat menyadari bahwa pria gagah seperti Jay sedang tersiksa di ujung sana hanya karena melihatmu. Kamu merasa kuat, merasa dewasa, meski jantungmu masih berdebar karena takut.
“Tunggu, Bang Jay…” bisikmu lirih. Kamu beranjak sebentar, kaki telanjangmu melangkah cepat ke arah pintu. Klik. Kamu memutar kunci sesunyi mungkin. Suara langkah kaki di luar tadi memang sudah menjauh, tapi kamu butuh keamanan ini sebelum menyerahkan segalanya.
Saat kembali ke depan kamera, kamu memberanikan diri melepas tangan yang tadinya menutupi dada. Kain kuning tipis itu meluncur turun, menumpuk di perutmu yang ramping, membiarkan dadamu yang penuh dan padat terekspos sepenuhnya di depan layar. Kamu bisa mendengar Jay menjilat bibir bawahnya, suaranya di earphone berubah menjadi erangan tertahan yang kasar.
“Indah banget, (y/n)… kamu pemandangan paling indah yang pernah aku lihat seumur hidupku,” suara Jay terdengar pecah. Kamu tahu tangan satunya yang nggak kelihatan di kamera pasti sedang sibuk mengocok miliknya sendiri, membayangkan menyentuhmu langsung.
“Remas dadamu sendiri, Sayang. Bayangkan itu tanganku. Bayangkan aku ada di belakangmu sekarang, memelukmu erat sambil menemani kamu tidur,” perintah Jay.
Kamu menurut, memejamkan mata dan mulai meremas dadamu sendiri. Desahanmu lolos begitu saja, makin berani karena tahu pintu sudah terkunci. Refleks, kamu membuka paha. Celana pendekmu terasa makin mengetat dan menyesakkan di area selangkangan. Jay bisa melihat dengan jelas di antara paha dalammu, kain celana itu mulai merembes basah-banjir karena rangsangan yang dia berikan.
“Lepas celanamu. Aku mau lihat semuanya,” desak Jay. Tatapannya di layar terlihat sangat mendamba, seolah dia sedang tersiksa menahan gairah di tengah samudra yang dingin.
Awalnya kamu sempat ragu, tapi melihat Jay yang begitu menginginkanmu, pertahananmu runtuh. Dengan gerakan pelan dan gemetar tepat di depan kamera, kamu menurunkan celana pendekmu. Jay mengerang keras saat melihat area pribadimu yang bersih tanpa bulu itu kini tampak berkilau karena cairan yang membanjir. Kamu benar-benar sudah kehilangan kendali, hanya ingin memuaskan pria yang kini menjadi pusat duniamu itu.
Suara Jay di earphone-mu sekarang terdengar sangat berbeda-tidak lagi hanya berat, tapi bergetar hebat seolah dia sedang menahan beban yang luar biasa. “(y/n)… (y/n)…” dia terus menyebut namamu, berulang-ulang, seperti sebuah mantra yang membuat bulu kudukmu berdiri. Suaranya yang serak dan napasnya yang menderu di telingamu terasa lebih nyata daripada sentuhan fisik mana pun yang pernah kamu bayangkan.
“Angkat kakimu, Sayang. Mengangkang lebih lebar… aku mau lihat semuanya,” tuntut Jay.
Kamu menurut, tubuhmu terasa ringan dan panas. Kamu membuka paha selebar mungkin di depan kamera, memperlihatkan area pribadimu yang memerah dan basah. Kamu bisa mendengar Jay menelan ludah dengan susah payah di ujung sana. Layar ponselmu sedikit bergoyang, menandakan tangan Jay yang satu lagi sedang bergerak sangat cepat, sangat liar di balik kamera.
“Pinter banget. Sekarang… buka sedikit dengan jarimu. Aku mau lihat bagian dalamnya,” suaranya makin merendah, penuh dirty talk yang awalnya bikin kamu malu tapi sekarang justru bikin kamu makin horny.
Kamu merintih kecil, matamu sayu menatap layar. Kamu merasa sangat terekspos, tapi gairah yang diledakkan Jay lewat suaranya membuatmu kehilangan rasa malu. Saat jemarimu menyentuh klitorismu atas perintahnya, tubuhmu tersentak kecil.
“Iya, di situ… mainin pelan-pelan. Terus bayangin itu jariku yang lagi menyentuhmu,” bisik Jay, suaranya pecah karena erangan. “Sekarang, masukkan satu jarimu, (y/n). Masukin ke dalam… jangan takut, aku ada di sini.”
Kamu sempat ragu, ini pertama kalinya buatmu. Kamu takut akan terasa sakit, tapi tuntutan Jay yang lembut namun posesif membuatmu luluh. Kamu memasukkan satu jarimu perlahan ke dalam lubangmu yang sudah banjir. Rasanya hangat, sempit, dan sangat sensitif.
“Ahhh… (y/n)… pinter banget, Sayang…” Jay mengerang kencang. Suara gesekan tangannya yang mengocok miliknya terdengar makin cepat dan brutal.
Kamu refleks mendesah kencang, suaramu memenuhi kamar yang sunyi itu. Kamu segera membekap mulutmu sendiri dengan tangan satunya, takut suaramu menembus celah pintu, tapi Jay justru makin gila mendengarnya.
Kamu bisa merasakan puncak itu sudah dekat, adrenalin dan gairah bercampur menjadi satu, membuatmu terus memacu jarimu mengikuti irama napas Jay yang makin memburu.
Sentuhan jarimu yang awalnya ragu kini berubah menjadi gerakan yang menuntut. Dirty talk Jay yang makin liar dan mesum benar-benar menyulut adrenalinmu hingga ke titik tertinggi. Kamu tidak lagi peduli dengan risiko tertangkap; yang kamu dengar hanyalah suara Jay yang bergetar hebat memanggil namamu, dan yang kamu rasakan hanyalah panas yang menjalar dari area selangkanganmu ke seluruh tubuh.
“Jay… ahh, Bang Jay…” kamu mendesah namanya berkali-kali, suaramu parau dan penuh damba.
Di seberang sana, Jay mengerang rendah, menyebut namamu dengan suara sexy yang seolah-olah sedang mengklaim setiap inci tubuhmu. Gerakan tangannya di balik kamera terdengar makin brutal, makin cepat.
“Terus, (y/n)… sedikit lagi, Sayang. Lakuin buat aku!” perintah Jay.
Tiba-tiba, duniamu seakan meledak. Untuk pertama kalinya dalam hidup, kamu merasakan gelombang nikmat yang luar biasa hebat-orgasme. Tubuhmu bergetar hebat, kakimu menegang, dan kamu menangis karena sensasi yang terlalu kuat untuk ditanggung sendiri. Di saat yang sama, Jay mengerang kencang, otot dadanya mengeras saat dia melepaskan spermanya di atas tangannya sendiri, napasnya menderu seperti badai di tengah laut.
Kamu ambruk, merebahkan dirimu di kasur dengan posisi masih mengangkang lemas. Spreimu basah, tanganmu sendiri lengket oleh pelepasanmu, dan kamu masih terisak kecil karena syok dan nikmat yang baru saja kamu rasakan.
Layar ponselmu masih menyala. Jay menatapmu dengan pandangan yang sangat puas, melihat cairanmu yang membanjir dan mengalir dari area pribadimu yang kini tampak berkedut-refleks setelah pelepasan.
“Memekmu banjir banget karena aku, (y/n),” bisik Jay lewat earphone, suaranya terdengar sangat intim dan posesif. Kata-katanya membuat area sensitifmu kembali berkedut, mengirimkan sensasi hangat yang terakhir.
Di layar, Jay menunjukkan tangannya yang penuh dengan cairan spermanya yang putih pekat, sebuah bukti visual bahwa kamu pun berhasil membuatnya hilang kendali. Dia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya sebelum memberikan janji yang paling kamu tunggu.
“Tunggu aku, (y/n). Bulan depan aku kembali ke darat. Aku akan jemput kamu, kita bakal dating beneran. Aku mau menyentuhmu secara langsung, bukan cuma lewat layar ini, Selamat malam, Sayang,” janji Jay dengan nada yang sangat manis dan menjanjikan.
Kamu hanya bisa mengangguk lemah sambil tersenyum sayu, memeluk gulingmu erat-erat. Malam itu, duniamu sebagai siswi SMA resmi berubah selamanya.
Klik. Layar ponsel akhirnya menjadi hitam. Kamarmu mendadak terasa jauh lebih sunyi dan dingin tanpa suara napas berat Jay di telingamu. Kamu terduduk lemas di pinggir kasur, menatap sprei yang berantakan dan tubuhmu yang masih terasa bergetar hebat. Ada rasa lelah yang nikmat, tapi juga ada adrenalin yang mendesakmu untuk segera bergerak sebelum seseorang curiga.
Dengan tangan yang masih gemetar, kamu meraih handuk kecil dari gantungan. Kamu membuka kunci pintu selembut mungkin, lalu berjingkat menuju kamar mandi di ujung lorong. Setiap bunyi lantai kayu yang berderit membuat jantungmu nyaris copot, takut Ibu terbangun dan bertanya kenapa putrinya mandi tengah malam.
Setelah membersihkan sisa-sisa “pelepasan” itu dengan air dingin yang mengejutkan kulitmu, kamu kembali ke kamar dengan langkah seribu. Kamu mengganti sprei dengan gerakan cepat, menyembunyikan bukti-bukti pergolakan malam itu di dasar keranjang cucian.
Akhirnya, kamu merebahkan diri kembali. Kamu menarik selimut hingga sebatas dagu, memejamkan mata yang terasa berat karena kantuk yang luar biasa. Di sisa-sisa kesadaranmu, kamu memiringkan tubuh dan memeluk guling erat-erat. Dalam imajinasimu yang mulai kabur karena mimpi, guling itu berubah menjadi lengan kekar Jay yang berbulu tipis, memelukmu posesif dari belakang dan membisikkan janji manis tentang pertemuan kalian di darat nanti.
Kamu tertidur dengan senyum tipis, tanpa tahu bahwa dunia dewasamu baru saja dimulai, dan Jay tidak akan membiarkanmu lepas begitu saja.
To Be Continued
jangan lupa paket lengkapnya 🫶🏻





DEYMM GAPARNAH SEMAU INI SAMA "HALO DEK" tapi harus jay kalo bukan gw gamau ogahh!! 😻💗💋💍💃🏻💅🏻
uhh mantep bgt sihh aku siap menerima & menuruti perintah kamu jay, aku akan menjadi anak polos yg tidak tau apa-apa cuman buat kamu awwww!! 😏🤭🤤🥵😻💗❤️🔥💋🫦💦
Sumpahh kagett kirain ada yg dm "halo dek" Udah panik banget aku kakk😭😭