Gerimis malam ini rasanya lebih tajam dari biasanya, menusuk sampai ke tulang. Kamu menghela napas, merapatkan blazer hitam yang membungkus tubuhmu. Sudah dua tahun berlalu sejak kecelakaan itu, tapi setiap kali hujan turun, rasanya kamu masih bisa mendengar suara rem berdecit dan dentuman keras yang merenggut separuh nyawamu.
Kamu menyetir pelan, membiarkan wiper mobil menyapu sisa-sisa air di kaca depan. Saat melewati jembatan layang yang biasanya sepi, matamu menangkap sesosok bayangan. Seorang remaja laki-laki, mengenakan hoodie hitam yang tampak kebesaran untuk tubuh ringkihnya, berdiri diam tepat di tepi pagar jembatan.
Motor bebek tua dengan box makanan di belakangnya terparkir sembarangan di bahu jalan. Kamu tahu itu motor kurir paket atau makanan. Tapi yang membuat jantungmu mencelos adalah posisi kakinya. Dia sudah selangkah lagi dari maut.
“Enggak, jangan lagi...” bisikmu lirih. Kamu teringat wajah suamimu yang tak sempat mengucapkan selamat tinggal. Kamu gak akan biarkan orang lain pergi dengan cara yang sama di depan matamu.
Tanpa pikir panjang, kamu menginjak rem mendadak, keluar dari mobil tanpa peduli payung, dan berlari menerjang hujan.
Evan memejamkan mata. Suara bising air yang menghantam aspal dan sungai di bawah sana terdengar seperti melodi kematian yang menenangkan. Pikirannya kacau. Bayangan bapak kos yang menggedor pintu menagih tunggakan dua bulan, motor cicilan yang sekarang cuma jadi besi tua karena turun mesin, sampai cacian anak-anak di sekolah tadi siang berputar seperti kaset rusak.
“Anak panti aja belagu sok pintar. Urusin tuh bau keringat lo, ganggu pemandangan sekolah aja.”
Evan terkekeh pahit di tengah isak tangisnya yang tersamarkan hujan. Dia cuma punya satu hoodie ini yang layak pakai. Dia kerja sampai jam dua pagi cuma buat nyicil motor supaya bisa ngojek. Dia belajar sampai mimisan supaya beasiswanya gak dicabut. Tapi kenapa dunia seolah-olah gak mau kasih dia napas?
“Capek...” bisiknya. Suaranya serak, hilang ditelan angin.
Evan menarik napas panjang, bersiap tumpuan kakinya lepas dari semen jembatan. Satu... dua...
GREP!
Sebuah pelukan hangat tiba-tiba melingkar erat di pinggangnya. Seseorang mendekapnya dari belakang, menarik tubuhnya menjauh dari tepi pagar dengan tenaga yang cukup kuat.
“Jangan! Tolong, jangan lakukan ini!” Suara itu lembut, tapi penuh getaran ketakutan.
Evan mematung. Napasnya memburu. Dia bisa merasakan kehangatan tubuh seseorang di punggungnya yang basah kuyup. Dia juga bisa merasakan tetesan air mata yang bukan miliknya jatuh ke bahunya.
“Lepasin...” Evan berontak lemah. “ Lepasin saya. Gak ada gunanya...”
“Gak akan.” Kamu justru makin mempererat pelukanmu, menyembunyikan wajahmu di punggung cowok asing ini. “Aku gak tahu apa yang kamu laluin, tapi tolong... jangan pergi sekarang. Aku udah pernah kehilangan orang yang aku sayang, dan aku gak mau lihat itu lagi meskipun kamu orang asing.”
Evan terdiam. Kalimatmu barusan mengandung kesedihan yang sama dalamnya dengan apa yang dia rasakan. Perlahan, kakinya yang lemas menyerah. Dia merosot jatuh ke aspal yang dingin, dan kamu masih setia memeluknya, ikut terduduk di bawah guyuran hujan deras.
Di bawah lampu jalan yang remang, kamu akhirnya bisa melihat wajahnya. Dia masih kecil. Mungkin baru belasan tahun. Wajahnya pucat pasi, matanya sembap, dan tangannya yang kasar—tangan pekerja keras—bergetar hebat.
“Semuanya bakal baik-baik saja,” bisikmu sambil mengusap kepalanya yang basah, persis seperti yang sering kamu lakukan pada suamimu dulu.
Evan Lee, cowok yang biasanya berdiri tegak sendirian melawan dunia, akhirnya runtuh. Di pelukan wanita asing yang baru saja menyelamatkan nyawanya, dia menangis sejadi-jadinya. Dia melepaskan semua sesak yang selama ini dia simpan rapat di balik jaket ojol dan buku-buku pelajarannya.
Malam itu, di atas jembatan yang dingin, dua jiwa yang sama-sama terluka tanpa sengaja menemukan alasan untuk tetap bernapas sedikit lebih lama.
Hujan masih mengguyur bumi, tapi suasana di atas jembatan itu sudah tidak selabu sebelumnya. Kamu membantu Evan berdiri. Cowok itu tampak limbung, matanya masih merah dan kepalanya tertunduk dalam—mungkin malu karena baru saja menangis hebat di depan orang asing.
“Motor kamu... kenapa?” tanyamu pelan sambil melirik motor bebek tua yang terparkir lesu itu.
“Turun mesin, Tan,” jawabnya singkat. Suaranya serak. Dia memanggilmu ‘Tante’ tanpa ragu, mungkin karena melihat cara berpakaianmu yang rapi dan aura dewasa yang kamu punya.
Kamu tidak tersinggung. Justru panggilan itu membuatmu sadar kalau jarak usia kalian memang cukup jauh. “Ya sudah, jangan dipaksa. Aku punya bengkel langganan yang bisa dipanggil. Biar mereka yang jemput motor kamu ke sini.”
Setelah menelepon montir andalanmu, kamu menuntun Evan menuju mobilmu yang hangat. Evan sempat ragu, dia melihat jaket dan celananya yang basah kuyup, takut mengotori jok kulit mobilmu yang terlihat mahal.
“Masuk aja, gak apa-apa. Ada handuk kecil di kursi belakang, pake aja dulu,” ucapmu lembut seolah tahu apa yang dia pikirkan.
Tujuan pertamamu bukan rumah, melainkan sebuah toko baju yang masih buka di pinggir jalan. Kamu gak tega melihat Evan terus-terusan menggigil di dalam mobil.
“Turun, yuk. Kita cari baju ganti dulu,” ajakmu.
“Gak usah, Tan... saya gak punya uang buat ganti...” Evan menahan pintu mobil, suaranya terdengar sangat rendah diri.
Kamu tersenyum tipis, jenis senyum yang menenangkan. “Ini hadiah karena kamu udah mutusin buat tetap hidup malam ini. Ayo.”
Di dalam toko, Evan cuma diam mematung. Dia terlihat sangat asing di antara deretan pakaian yang bersih dan wangi. Matanya sempat melirik label harga, dan kamu bisa melihat bahunya sedikit menegang. Akhirnya, kamu yang memilihkan sweater tebal berwarna earth tone dan celana kain yang nyaman untuknya.
Setelah berganti pakaian, sosok di depanmu ini terlihat berbeda. Dia bukan lagi kurir yang terlihat lusuh, melainkan remaja laki-laki yang sebenarnya punya wajah bersih dan manis, andai saja beban hidup tidak menguburnya terlalu dalam.
Kamu membawanya ke sebuah kedai kopi kecil yang sepi untuk sekadar menunggu kabar dari bengkel. Kamu memesankan cokelat panas untuknya dan kopi hitam untukmu.
“Nama kamu siapa?” tanyamu membuka obrolan.
“Evan, Tan. Evan Lee.” Dia menggenggam cangkir cokelat panas itu dengan kedua tangannya, seolah ingin menyerap semua kehangatan yang ada. “Makasih banyak ya, Tan. Saya... saya gak tahu harus balas gimana. Uang saya benar-benar habis buat biaya sekolah sama cicilan motor.”
Kamu menatapnya dalam. “Kamu sendirian?”
Evan mengangguk pelan. “Baru keluar panti enam bulan lalu. Sekarang ngekos di dekat sekolah. Tadinya saya pikir saya kuat kerja sambil sekolah, tapi ternyata motor satu-satunya malah rusak, terus...” Dia menggantung kalimatnya, tidak sanggup melanjutkan soal tunggakan kosnya.
Mendengar itu, hatimu terasa seperti diremas. Di usianya yang baru tujuh belas, dia sudah memikul beban yang bahkan orang dewasa pun belum tentu sanggup.
“Panggil aku (y/n),” ucapmu memperkenalkan diri. “Dan jangan mikirin soal balas budi. Malam ini, anggap aja semesta lagi pengen peluk kamu lewat aku.”
Evan mendongak, menatapmu dengan binar mata yang campur aduk antara rasa syukur dan rasa tidak percaya kalau masih ada orang asing yang mau peduli padanya sedalam ini.
“Tante (y/n)... kenapa baik banget sama saya?” tanyanya polos.
Kamu terdiam sebentar, menatap jalanan di luar yang masih basah. “Karena aku tahu rasanya kehilangan segalanya dalam satu malam, Van. Dan aku gak mau kamu ngerasain hal yang sama.”
Setelah malam di jembatan itu, hidup Evan nggak benar-benar langsung berubah jadi pelangi, tapi setidaknya dia punya satu alasan buat bangun pagi: kamu.
Sesuai saranmu, motor Evan yang turun mesin itu akhirnya diangkut ke bengkel langgananmu. Selama motornya diservis, kamu nggak membiarkan Evan telantar. Kamu sering menjemputnya di depan gang kosannya yang sempit dan pengap—tempat yang bikin hatimu mencelos setiap kali melihatnya.
“Tante nggak perlu repot-repot jemput, saya bisa naik angkot ke sekolah,” ucap Evan suatu pagi. Dia berdiri di samping mobilmu, masih pakai seragam SMA yang warnanya sudah agak menguning, menggendong tas ransel yang ritsletingnya sudah rusak dan diganti peniti.
“Nggak repot, Evan. Sekalian aku berangkat kerja,” jawabmu bohong. Padahal kantormu arahnya berlawanan. “Masuk, yuk.”
Di dalam mobil, Evan lebih banyak diam. Dia selalu duduk dengan tegak, tangannya ditaruh di atas paha, seolah takut menyentuh apapun yang ada di dalam mobil mewahmu. Bau parfum maskulin suamimu yang masih tertinggal sedikit di kabin mobil kadang membuatmu melamun, tapi kehadiran Evan memberikan distraksi yang kamu butuhkan.
Suatu hari, kamu mampir ke kosan Evan tanpa kabar karena dia nggak membalas pesanmu seharian. Saat kamu sampai di sana, kamu melihat pemandangan yang bikin darahmu mendidih.
Tiga cowok sebaya Evan, pake jaket bermerk, lagi tertawa-tawa sambil membuang tumpukan buku pelajaran ke dalam genangan air got di depan kosan. Evan di sana, berlutut, mencoba menyelamatkan buku-bukunya tanpa melawan sedikit pun.
“Woi, anak panti! Mana motor butut lo? Udah dijual buat bayar kosan ya?” ejek salah satu dari mereka sambil menendang bahu Evan sampai cowok itu tersungkur.
“Berhenti!” teriakmu sambil keluar dari mobil.
Suaramu yang tegas dan penampilanmu yang classy bikin anak-anak itu kaget dan langsung kabur tunggang langgang. Kamu buru-buru menghampiri Evan.
“Evan! Kamu nggak apa-apa?” Kamu memegang bahunya, mencoba membantunya berdiri.
Evan nggak mendongak. Dia justru menepis tanganmu pelan, sangat pelan, tapi terasa sangat menyakitkan. “Kenapa Tante harus lihat saya kayak gini terus?” bisiknya serak. “Kenapa Tante selalu datang pas saya lagi di titik paling menjijikkan?”
“Evan, dengerin aku—”
“Tante orang kaya. Tante punya segalanya. Kenapa Tante mau urusin sampah kayak saya?” Dia akhirnya mendongak, matanya berkaca-kaca. Rasa malu, harga diri yang hancur, dan rasa kagumnya padamu bercampur jadi satu.
Kamu nggak menjawab dengan kata-kata. Kamu justru menarik cowok itu ke dalam pelukanmu, nggak peduli seragamnya kotor karena lumpur got atau bau keringat karena habis di-bully.
“Karena kamu bukan sampah, Evan,” bisikmu tepat di telinganya. “Kamu itu kuat. Lebih kuat dari siapapun yang aku kenal.”
Evan akhirnya luluh. Dia mencengkeram kemejamu erat-erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk lehermu. Untuk pertama kalinya, Evan merasa dia punya “rumah” untuk pulang, meskipun rumah itu adalah seseorang yang dia panggil ‘Tante’.
★
To Be Continued
edisi kangen evan lee
mas ayo update ig 🥹👉🏻👈🏻🤍





omggg kgn epann!! 🥺😭
kurang ajar epan gw lu bully, dasar tiga bocah jamet!! 😡👊🏻🔪
pertamaaa kak