Not a smut story at all
;
Lampu high beam itu seolah menelan seluruh duniamu dalam warna putih yang membutakan. Kamu sudah siap. Kamu sudah melepaskan segalanya—napasmu, sisa cintamu yang malang, dan raga yang sudah tidak punya rumah untuk pulang. Tapi, alih-alih hantaman besi dingin yang meremukkan tulang, yang kamu rasakan adalah decitan ban yang memilukan dan guncangan udara yang kencang.
Pintu mobil SUV itu terbuka dengan dentuman kasar. Sepasang kaki melangkah cepat, berlari membelah aspal menuju titik di mana kamu berdiri mematung seperti mayat hidup.
“(y/n)?! (y/n)!”
Suara itu... bukan suara berat Sunoo yang tadi memaki. Bukan pula suara lembut Yuna. Itu adalah suara yang beberapa jam lalu menawarkan roti cokelat di taman rumah sakit.
Pandanganmu yang kabur perlahan menangkap sosok pria yang berlari ke arahmu. Jake. Dia tidak lagi memakai jas putihnya, hanya kemeja hitam yang lengannya digulung asal, tapi binar matanya yang penuh kecemasan itu mustahil salah kamu kenali. Tepat saat kakimu tak lagi mampu menopang beban duniamu, saat jahitan di perutmu benar-benar menyerah dan membiarkan darah hangat membanjiri piyamamu, tubuhmu ambruk.
Jake menangkapmu.
Dia menangkapmu sebelum kulitmu yang pucat menyentuh aspal jalanan yang kotor. Kedua tangannya yang kokoh mendekapmu erat, mencegahmu jatuh lebih dalam ke jurang kegelapan. Kamu bisa merasakan detak jantungnya yang berpacu liar melalui dadanya yang bersentuhan dengan bahumu.
“Astaga... (y/n), lihat saya! Tetap buka matamu!” Suara Jake bergetar, sesuatu yang jarang terjadi pada seorang dokter yang biasa menghadapi kematian.
Tangannya meraba punggung dan perutmu, dan ketika dia menarik tangannya, cairan merah kental itu sudah mengotori jemarinya. Jake membeku sesaat melihat jumlah darah yang merembes keluar, membasahi kain tipis baju rumah sakitmu hingga berubah warna menjadi merah pekat yang mengerikan di bawah lampu jalanan.
Kamu mendongak sedikit, menatap wajah Jake yang kini dipenuhi ketakutan yang nyata. Kamu ingin bicara, ingin bilang kalau kamu sudah tidak apa-apa jika harus pergi sekarang, tapi suaramu hilang di tenggorokan. Kesadaranmu mulai terseret menjauh, seperti ombak yang menarik pasir kembali ke lautan.
“Jake...” bisikmu parau, nyaris tak terdengar.
“Sstt, jangan bicara. Saya di sini. Kamu aman,” Jake menggendong tubuh ringkihmu dengan gerakan protektif, seolah kamu adalah satu-satunya hal berharga yang tersisa di dunia ini.
Dia membawamu kembali ke mobilnya dengan langkah seribu. Dia tidak peduli jok mobilnya akan hancur oleh darah, dia tidak peduli pada peraturan lalu lintas saat dia memutar balik kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit tempat dia bekerja.
Sepanjang perjalanan, Jake terus memanggil namamu, satu tangannya menggenggam tanganmu yang mendingin sementara tangan lainnya mengendalikan kemudi. “Jangan menyerah, (y/n). Demi apa pun, jangan sekarang. Kamu baru saja mulai bernapas lagi di taman kemarin, jangan berhenti sekarang!”
Di kursi penumpang yang gelap, kamu mulai kehilangan rasa sakit itu. Semuanya perlahan menjadi ringan. Bayangan Sunoo yang menamparmu, bayangan Minju yang memeluk leher pria itu, hingga bayangan sepatu bayi putih yang hancur... semuanya memudar, digantikan oleh aroma parfum kayu manis dari kemeja Jake yang kini menjadi satu-satunya peganganmu sebelum semuanya benar-benar gelap gulita.
Lantai rumah sakit yang dingin kembali menjadi saksi bisu kehancuranmu. Jake berlari di sepanjang koridor instalasi gawat darurat, kemeja hitamnya kini basah dan lengket oleh darahmu yang terus merembes. Tidak ada lagi sapaan ramah atau senyum tenang dari dokter muda itu, yang ada hanyalah perintah-perintah tegas kepada perawat dan wajah yang kaku karena ketegangan.
Jake tidak menolongmu karena cinta—setidaknya belum. Dia menolongmu karena rasa tanggung jawab yang menghantam dadanya saat melihat tubuh ringkihmu hampir bersentuhan dengan bemper mobilnya. Baginya, kamu adalah nyawa yang hampir ia renggut, dan ia tidak akan membiarkan itu terjadi.
Kondisimu turun drastis. Tubuhmu yang belum sempat pulih dari trauma kehilangan anak dan kecelakaan pertama, kini harus kembali menghadapi meja operasi karena pendarahan internal akibat jahitan yang robek paksa. Kamu terbaring koma selama dua hari, terjebak dalam ruang antara hidup dan mati yang hampa.
Selama itu pula, ponselmu yang tergeletak di nakas terus bergetar. Layarnya retak, menampilkan nama “Yuna” yang memanggil puluhan kali.
Jake, yang baru saja selesai shift dan berniat mengecek keadaanmu sebagai bentuk tanggung jawab pribadi, akhirnya mengangkat telepon itu.
“Halo? (y/n)? Lo di mana?! Gue ke apartemen lo tapi kok sepi—”
“Maaf,” suara berat Jake memotong. “Pemilik Hp ini sedang berada di ruang intensif Rumah Sakit Central. Saya dokter yang membawanya ke sini.”
Hening di seberang sana, sebelum suara tangis Yuna pecah.
Satu jam kemudian, Yuna sampai dengan napas tersenggal. Dia melihatmu dari balik kaca ruang perawatan. Kamu tampak sangat kecil di antara kabel-kabel dan selang yang menopang hidupmu. Wajahmu sepucat kertas, dan pipi kirimu—tempat Sunoo mendaratkan tamparannya—masih menyisakan lebam biru yang kontras.
Yuna menghampiri Jake yang sedang berdiri tak jauh dari sana, masih setia memantau grafik monitormu meski dia bukan dokter penanggung jawabmu kali ini.
“Dokter... apa yang terjadi?” tanya Yuna dengan suara parau. “Kenapa dia bisa begini lagi? Dia baru saja pulang tadi pagi.”
Jake menggeleng pelan, matanya menatapmu dengan sorot yang sulit diartikan—campuran antara kasihan dan rasa bersalah yang dalam. “Saya menemukannya di tengah jalan. Dia hampir tertabrak mobil saya dalam keadaan pendarahan hebat. Sepertinya dia baru saja mengalami guncangan fisik yang sangat berat.”
Yuna menutup mulutnya, air mata mengalir deras. Dia merogoh tasnya, mencoba menghubungi Sunoo lagi, tapi nomor pria itu dialihkan. Pesan-pesannya hanya berstatus terkirim tanpa dibaca.
“Di mana laki-laki brengsek itu?!” desis Yuna penuh kemarahan. “Pacarnya hampir mati, lalu selama delapan tahun sekarat sama hubungan yang nggak pasti, dan dia bahkan nggak muncul?”
Yuna menoleh ke arah Jake yang masih diam. “Dokter, apa ada laki-laki lain yang datang mencarinya? Namanya Sunoo.”
Jake hanya memberikan gelengan pelan. “Sejak dia masuk dua hari lalu, hanya saya yang ada di sini untuk menandatangani berkas darurat. Tidak ada pria lain. Tidak ada siapa pun.”
Dadamu mungkin masih terasa sakit dalam tidurmu yang panjang, tapi kebenaran ini jauh lebih menyakitkan seperti memberikan gelombang frekuensi yang membuat dadamu semakin sempit. Di saat maut hampir menjemputmu, Sunoo mungkin sedang tertawa atau tertidur pulas dalam pelukan tunangan barunya, sama sekali tidak peduli bahwa perempuan yang pernah ia panggil “rumah” selama delapan tahun kini sedang berjuang untuk sekadar menarik napas berikutnya.
Jake menghela napas, ia menyentuh bahu Yuna pelan—sebuah gestur profesional untuk menenangkan. “Dia butuh waktu lama untuk pulih kali ini. Bukan cuma fisiknya, tapi sepertinya... jiwanya juga.”
Yuna menatapmu lagi, lalu menatap Jake. Ada sesuatu yang aneh. Jake tidak mengenalmu secara pribadi, tapi cara pria itu berdiri di sana, memastikan setiap detail laporan medismu benar, memberikan kesan bahwa dia lebih peduli padamu daripada pria yang sudah bersamamu selama delapan tahun.
★
Pagi itu, cahaya matahari yang menyeruak masuk lewat celah gorden terasa seperti sembilu yang menyayat mata. Kamu mengerjap pelan, merasakan tubuhmu seringan kapas namun seberat timah di saat yang sama. Seluruh persendianmu kaku, dan area perut serta kakimu berdenyut dengan rasa sakit yang tumpul namun konstan.
Kamu melihat bayangan seorang pria yang sedang sibuk mengecek kantong infusmu. Dalam benakmu yang masih kabur dan dipenuhi sisa-misa anestesi, satu nama muncul secara insting. Nama yang sudah menjadi bagian dari napasmu selama hampir satu dekade.
“Sunoo...” bisikmu parau. Suaramu nyaris tidak terdengar, pecah dan kering. “Noo... kamu di sini?”
Kamu berharap tamparan itu adalah mimpi. Kamu berharap wanita bernama Minju itu adalah halusinasi akibat stres kerja. Kamu berharap Sunoo masih pria yang sama yang akan memelukmu saat kamu sakit.
“Noo, panggil Sunoo... aku mau ketemu dia,” gumammu lagi, air mata mulai menggenang di sudut mata. Kamu belum sadar kalau pria yang berdiri di sampingmu memiliki bahu yang lebih tegap dan tatapan yang jauh lebih tulus.
Pria itu terhenti. Jake menarik napas panjang, menatapmu dengan sorot mata yang sulit dijelaskan—campuran antara prihatin dan rasa tidak tega. “Ini saya, Jake. Dokter yang waktu itu... kamu ingat?”
Kesadaranmu mulai terkumpul. Kamu menoleh pelan dan mendapati wajah Jake, bukan Sunoo. Harapanmu hancur seketika. Kamu mencari-cari ponselmu dengan tangan yang gemetar hebat, mengabaikan rasa perih di perutmu yang seolah ingin robek kembali.
Begitu ponsel itu ada di tanganmu, hal pertama yang kamu lihat adalah kalender digital.
Lusa.
Lusa seharusnya menjadi perayaan sembilan tahun kalian. Sembilan tahun yang kini hanya menjadi tumpukan sampah di mata Sunoo. Kamu membuka aplikasi pesan dengan sisa harapan terakhir, namun yang kamu dapati hanyalah kenyataan pahit: Foto profil Sunoo hilang. Pesanmu hanya centang satu. Kamu diblokir.
Diblokir seperti orang asing. Seolah delapan tahun itu tidak pernah terjadi.
Kamu melihat rentetan pesan dari Yuna. Pesan-pesan penuh amarah yang bergetar karena rasa sayang.
“Kenapa lo diem aja (y/n)?! Kenapa lo nggak bilang kalau dia udah tunangan?! Lo pikir lo pahlawan kalau menderita sendirian? Laki-laki brengsek itu nggak pantes buat setetes pun air mata lo!”
Kamu tidak menjawab. Kamu tidak sanggup. Jemarimu bahkan terlalu lemah untuk sekadar mengetik satu huruf. Kamu hanya bisa menatap layar ponsel itu sampai penglihatanmu kabur oleh air mata.
Jake yang melihat kondisimu yang semakin hancur, mencoba bersikap tenang. “Saya ambilkan makanan cair untuk kamu dulu, ya? Kamu sudah satu minggu tidak masuk nutrisi apa pun. Tubuh kamu sangat lemah.”
Jake melangkah keluar, memberikanmu ruang untuk bernapas—atau setidaknya, begitulah pikirnya. Namun, begitu pintu tertutup, keheningan ruangan itu justru mencekikmu.
Kamu melihat tubuhmu di balik selimut. Kamu terlihat sangat kurus, pucat, dan penuh bekas luka. Kamu merasa jijik pada dirimu sendiri. Kamu merasa hancur secara fisik, mental, dan harapan. Jika Sunoo yang menjadi duniamu selama sembilan tahun saja bisa membuangmu seperti sampah, untuk apa kamu masih berjuang menarik napas di ruangan ini?
Pikiran itu melintas begitu saja. Cepat dan tajam. Mengakhiri semuanya terasa lebih logis daripada harus menghadapi hari lusa—hari peringatan hubungan yang sudah menjadi bangkai.
Matamu tertuju pada botol obat-obatan di atas nakas yang belum sempat dirapikan perawat, atau mungkin kabel-kabel yang melilit tubuhmu. Kamu merasa tidak punya alasan lagi untuk bangun besok pagi. Sunoo sudah membunuhmu tepat saat dia melayangkan tamparan itu, dan sekarang, kamu hanya ingin menyelesaikan apa yang dia mulai.
Kamu menutup mata rapat-rapat, isak tangismu pecah dalam kesunyian yang mematikan, tepat saat tanganmu mulai bergerak mencari sesuatu yang bisa menghentikan denyut jantungmu selamanya.
Tanganmu yang gemetar sudah meraih selang infus, siap mencabutnya dengan paksa. Kamu tidak peduli jika darah akan kembali membanjiri kasur ini. Kamu hanya ingin berhenti. Berhenti merasakan perih, berhenti mengingat, berhenti menjadi beban untuk dunia yang sudah tidak menginginkanmu.
Cklek.
Pintu terbuka. Jake berdiri di sana membawa nampan berisi makanan cair. Matanya yang tajam langsung menangkap posisi tanganmu. Dia tidak berteriak. Dia tidak memanggil perawat. Jake hanya berjalan tenang, meletakkan nampan itu di meja, lalu mendekat dan memegang tanganmu dengan sangat lembut—namun sangat kuat sehingga kamu tidak bisa bergerak.
“Jangan,” bisiknya rendah. Matanya menatap tepat ke matamu yang basah. “Kalau kamu pergi sekarang, kamu cuma bikin dia menang. Kamu mau dia hidup bahagia tanpa rasa bersalah sedikit pun setelah apa yang dia lakuin?”
Kamu terisak hebat, tubuhmu yang kurus berguncang. “Dia udah bahagia, Dokter... dia udah nggak butuh aku.”
Tepat saat itu, Yuna masuk ke ruangan. Wajahnya merah padam, dia memegang ponselnya seolah ingin menghancurkannya. Begitu melihatmu sadar, dia langsung memelukmu, namun isakannya justru lebih keras darimu.
“Laki-laki iblis,” umpat Yuna di sela tangisnya. “Bisa-bisanya dia...”
Yuna nggak sanggup menahan diri. Dia menunjukkan layar ponselnya padamu. Di sana, di akun Sunoo yang sudah memblokirmu, terpampang foto-foto pesta lamaran yang sangat mewah. Sunoo terlihat begitu tampan, memeluk pinggang Minju di depan dekorasi bunga yang megah. Keterangannya tertulis: ‘A new chapter begins.’
Tanggal postingannya? Tiga hari yang lalu. Saat kamu masih dalam kondisi kritis di ruang operasi untuk kedua kalinya.
Duniamu seolah berhenti berputar. Lusa adalah sembilan tahun perjalananmu, tapi seminggu yang lalu, dia sudah meresmikan penggantimu di depan seluruh dunia. Ternyata, selama ini bukan hanya masa depanmu yang abu-abu, tapi kamu memang sudah dihapus dari skenario hidupnya sejak lama.
Kamu tidak berteriak lagi. Kamu hanya menatap layar itu dengan pandangan kosong. Rasa sakit di perutmu mendadak hilang, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar ke seluruh tulang. Kamu merasa seperti mayat yang dipaksa bernapas.
Yuna terus memaki, menceritakan bagaimana dia mengirim ribuan pesan makian sampai akhirnya dia pun diblokir oleh Sunoo. Tapi kamu sudah tidak mendengar.
Jake, yang sejak tadi berdiri di sisi tempat tidur, mengambil ponsel Yuna dan menjauhkannya dari pandanganmu. Dia menatap Yuna dengan kode agar berhenti bicara, lalu dia beralih kepadamu.
Jake berlutut di samping ranjangmu agar tinggi matanya sejajar denganmu. Dia mengambil tanganmu yang dingin, lalu menggosoknya perlahan agar hangat.
“Dengarkan saya, (y/n),” ucap Jake dengan nada yang sangat dalam dan tulus. “Saya nggak tahu apa yang kalian lewati selama sembilan tahun. Tapi saya tahu satu hal sebagai dokter: kamu selamat dari kecelakaan itu bukan untuk mati sia-sia di sini. Kamu tanggung jawab saya sekarang. Saya nggak akan biarkan kamu menyerah sebelum kamu melihat diri kamu sendiri tersenyum lagi.”
Untuk pertama kalinya, di tengah badai pengkhianatan Sunoo, kamu merasakan sebuah jangkar. Jake bukan sekadar dokter yang merasa bersalah karena hampir menabrakmu, ada binar di matanya yang seolah menjanjikan bahwa dia akan menjadi saksi kalau kamu berharga, meski duniamu yang lama sudah hancur menjadi debu.
To Be Continued
mau nikah sama Dokter Jake aja 😭🫶🏻





ihh nunu kok jahatt bgt sihh!! 🙁😔💔
OMGG MAUUU JAKEE!! JAKE I LOVE YOUU MUACHH!! 🤭😻💋
DEMI KAK BIKIN SI SUNOO SAMA MINJU SIALAN INI MENDERITA PLS, KASIAN BGT YEEN. ITU KALO NYICIL MOTOR DAH LUNAS ITU 9 TAHUN BJIR