Suara ketukan stiletto mahal milikmu menggema di lorong lantai eksekutif PJ Group. Kamu berjalan dengan punggung tegak, memegang map laporan berisi grafik saham yang melonjak tajam pagi ini.
Setiap staf yang berpapasan menunduk hormat, menatapmu dengan perpaduan antara kagum dan takut. Kamu adalah (Y/N), Manager di sejak 5 tahun lalu yang kini berusia 29 tahun yang baru saja menyelamatkan muka perusahaan di bursa efek.
Tanpa mengetuk, kamu masuk ke ruangan Direktur Utama. Kamu tahu aturannya: pukul 12.05 adalah jadwalmu “melapor”.
Jay sedang berdiri membelakangimu, menatap pemandangan New Yrk city dari jendela setinggi langit-langit. Bahunya lebar, dibalut kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan mewah dan urat-urat tangan yang menonjol.
“Saham naik 7,2 persen, Pak Direktur. Tugas saya selesai,” ucapmu dingin, meletakkan map di mejanya.
Jay berbalik perlahan. Senyum tipis yang meremehkan—namun memikat—terukir di wajah tampannya.
“Selalu efisien, (Y/N). Itu sebabnya aku tidak bisa membiarkanmu pergi ke perusahaan lain.”
Dia berjalan mendekat. Langkahnya tenang, seperti predator yang sedang mengunci mangsa. Kamu tetap diam, menantang tatapannya. Jay berhenti tepat di depanmu, sangat dekat hingga kamu bisa merasakan hawa panas dari tubuhnya.
“Tapi kamu tahu, aku tidak memanggilmu ke sini hanya untuk angka-angka membosankan ini,” bisiknya. Tangannya yang besar tiba-tiba terangkat, bukan untuk mengambil map, melainkan menuju leher kemeja putihmu yang terkancing rapi.
Jantungmu berdegup kencang, tapi wajahmu tetap datar. Kamu tidak mundur selangkah pun.
Jay menyentuh kerah kemejamu, merapikannya dengan gerakan yang sangat lambat. Ujung jarinya sengaja menyentuh kulit lehermu, mengirimkan sengatan listrik yang sudah 9 tahun tidak kamu rasakan. Matanya turun ke arah dadamu, tertuju pada titik di mana dia tahu rahasia kecilmu berada di balik kain itu.
“Kancingnya hampir lepas,” dustanya dengan suara serak.
“Atau memang sengaja kamu buat begini agar aku melihatnya?”
Itu adalah ketidakjelasan pertamanya hari ini. Dia menghina profesionalitasmu, tapi matanya memuja tubuhmu.
“Saya rasa Pak Direktur terlalu banyak berfantasi,” balasanmu tegas sembari menepis tangannya halus.
Jay tertawa kecil, suara bariton yang berat. “Fantasi? (Y/N), aku tidak butuh fantasi untuk mengingat bagaimana rasanya kulitmu di bawah jemariku. Aku punya ingatan yang sangat... tajam.”
Dia kembali ke mejanya, duduk dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa. “Kembali bekerja. Dan (Y/N)? Pakai gaun merah yang aku kirim ke apartemenmu untuk pesta nanti malam. Aku tidak suka melihatmu terlalu tertutup seperti ini. Itu... menyiksa.”
Kamu keluar dari ruangan itu dengan tangan mengepal. Sial. Dia masih punya kendali itu padamu.
Sambil berjalan kembali ke ruanganmu, pikiranmu terlempar ke 9 tahun lalu. Ke sebuah rumah sewa sempit di dekat kampus. Tidak ada kemeja sutra, tidak ada jabatan Direktur. Hanya ada Jay yang mengenakan kaos oblong, memelukmu erat di bawah selimut yang sama setelah kalian kelelahan tertawa.
“Aku nggak akan kemana-mana, (Y/N). Setelah wisuda, kita bangun semuanya bareng-bareng,” janjinya saat itu sambil mengecup titik tahi lalat di dadamu.
Janji yang dia injak-injak saat dia menghilang tanpa kabar di hari wisuda, meninggalkanmu yang hancur sendirian. Dan sekarang, dia kembali sebagai bosmu, bersikap seolah dia masih memiliki hak atas tubuhmu.
💼
Kamu tiba di Grand Ballroom hotel bintang lima, tepat ketika lampu-lampu kristal memancarkan kilaunya yang memukau.
Di antara kerumunan petinggi perusahaan dan kolega, pandangan semua orang seolah terpaku padamu. Gaun merah off-shoulder dengan belahan tinggi di paha yang dikirimkan Jay pagi ini—yang sudah mati-matian kamu tolak dalam hati—ternyata berhasil menonjolkan setiap lekuk tubuhmu dengan elegan. Kamu tidak pernah tahu Jay masih mengingat ukuranmu dengan akurat.
Desain gaun itu memang minim, namun setiap jahitannya berteriak “mahal dan berkelas”, menepis kesan murahan. Kamu menyugar rambutmu ke satu sisi, membiarkan satu sisi lehermu terekspos, lengkap dengan kalung berlian yang Jay sertakan dalam paket pengiriman. Kamu memakainya bukan karena menuruti Jay, melainkan karena kamu memang suka berlian. Itu penjelasan yang kamu berikan pada dirimu sendiri.
Mencoba mengabaikan tatapan-tatapan yang terpaku, kamu langsung mencari rekan kerjamu, Yunjin. Kamu tidak ingin sendirian terlalu lama.
“Y/N! Astaga, kamu benar-benar seperti bintang film!” seru Yunjin, memelukmu erat. “Gaun itu... gila! Pasti mahal banget.”
“Hadiah dari Direktur Utama untuk tim atas kenaikan saham,” dustamu dengan tenang. Kamu tidak ingin Yunjin tahu Jay secara spesifik yang mengirimkan gaun ini untukmu.
Saat kamu sedang tertawa kecil dengan Yunjin, pandanganmu secara tidak sengaja bertemu dengan Jay. Dia berdiri di area VIP, dikelilingi oleh sekelompok investor penting. Jay mengenakan tuksedo hitam yang pas di tubuhnya, mempertegas otot-otot di balik kain.
Tatapannya padamu begitu intens, seperti nyala api yang siap melalap. Ada campuran kekaguman, kepemilikan, dan kemarahan yang membara.
Tiba-tiba, seorang pria paruh baya dengan senyum ramah mendekat. Dia adalah Mr. Mingyu, direktur dari perusahaan software rekanan yang baru saja berinvestasi besar di PJ Group.
“Manager (Y/N), penampilan Anda malam ini sangat... menawan,” pujinya, memegang gelas champagne.
“Saya tidak bisa melepaskan pandangan.”
Kamu tersenyum sopan. “Terima kasih, Mr. Mingyu. Selamat atas investasi Anda.”
“Saya rasa kita perlu mendiskusikan beberapa potensi kerja sama yang lebih... pribadi,” katanya, tawanya agak terlalu keras. Tangannya bergerak, seolah ingin menyentuh pinggangmu, tapi kamu dengan cepat memundurkan diri satu langkah.
Mata Jay yang menyala dari seberang ruangan seolah menjadi sensor pribadimu. Kamu bisa merasakan tensi di udara.
Tiba-tiba, sebuah tangan kokoh memegang lenganmu dari belakang, menarikmu sedikit lebih dekat.
“Maaf, Mr. Mingyu,” suara Jay sedingin es, namun masih ada nada sopan santun. “Manager (Y/N) masih memiliki beberapa hal untuk didiskusikan dengan saya.”
Jay tidak memandang Mr. Mingyu. Seluruh fokusnya tertuju padamu. Rahangnya mengeras. Tanpa menunggu jawaban dari Mr. Mingyu yang terlihat terkejut, Jay menarikmu pelan namun tegas menuju sudut ruangan yang lebih sepi, dekat pintu balkon.
“Apa-apaan itu, Jay?” bisikmu, mencoba melepaskan cengkeramannya yang menguat di lenganmu. “Aku sedang bicara dengan rekan kerja.”
Dia menoleh padamu, matanya gelap oleh kemarahan. “Rekan kerja? Dia hampir menggerayangi pinggangmu, (Y/N)! Dan kamu membiarkannya?!”
“Aku bisa urus diriku sendiri!” balasanmu tajam. “Dan kamu tidak punya hak untuk mengatur siapa yang boleh atau tidak boleh bicara denganku.”
Jay mendorongmu pelan hingga punggungmu menyentuh dinding dingin di balik tirai tebal. Tangannya yang bebas menampar dinding di samping kepalamu, menguncimu. Aroma tubuhnya yang maskulin dan memabukkan langsung menyergap indramu.
“Tidak punya hak?” Suaranya rendah dan penuh bahaya. “Seharusnya aku dulu tidak pergi, (Y/N). Maka tidak akan ada bajingan lain yang berani menyentuhmu seperti itu.”
Wajahnya mendekat, napasnya hangat di bibirmu. Jantungmu berdebar tak karuan. Kamu tahu Jay sedang kehilangan kendali. Dan ini terasa sangat, sangat intim.
“Kupikir kamu memintaku memakai gaun ini agar aku terlihat cantik. Bukan untuk ditarik-tarik seperti ini,” gumammu, mencoba menjaga kewarasan.
“Oh, kamu terlihat lebih dari cantik,” desisnya, bibirnya menyentuh pipimu. “Kau terlihat... membuatku gila.”
Kemudian bibirnya beralih ke telingamu, suaranya hampir tidak terdengar.
“Dan aku berani bersumpah, jika aku melihat pria lain menyentuhmu lagi malam ini, pesta ini akan menjadi akhir dari karier mereka. Dan mungkin... permulaan dari sesuatu yang lain untuk kita berdua.”
Matanya bertemu dengan matamu, penuh janji dan ancaman. Dia menarik diri, wajahnya kembali datar, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Kembali ke pesta, Manager (Y/N),” katanya, suaranya kembali menjadi direktur yang dingin. “Dan ingat, mata Direktur Utama selalu mengawasimu.”
Dia berbalik, meninggalkanmu sendirian di sudut yang tersembunyi, tubuhmu masih bergetar karena sentuhannya dan ancaman terselubung di balik tatapannya.
💼
To Be Continued





Lah jay lu yg salah ngapain coba ngasih gaun kek gitu, ya jelaslah siapa yg tak tergoda💃