Before You Turn 25
Kim Sunoo
Gerimis di awal bulan selalu membawa aroma tanah basah yang pekat, tapi malam ini, aroma itu bercampur dengan rasa cemas yang mencekik dadamu. Kamu, (y/n), melangkah setengah berlari menyusuri trotoar jalan perbukitan yang mulai sepi. Lampu jalanan yang temaram berkedip beberapa kali, memantulkan bayangan tubuhmu yang gemetar di atas aspal yang basah.
Kamu merapatkan jaket denimmu yang mulai lembap. Di dalam saku kanan, jemarimu mencengkeram erat sebuah tabung kecil pepper spray yang baru kamu beli tiga hari lalu di toko online. Kamu sengaja membelinya bukan tanpa alasan.
Lima bulan terakhir, kompleks perumahan di sekitar perbukitan ini tidak lagi aman. Berita di televisi, grup WhatsApp RT, hingga selentingan di media sosial terus membahas hal yang sama: penculikan berantai. Lima orang perempuan, semuanya hilang tanpa jejak tepat di bulan mereka menginjak usia 25 tahun. Tidak ada rekaman CCTV yang jelas, tidak ada saksi mata, dan tidak ada tuntutan tebusan. Mereka menguap begitu saja seperti embun pagi.
Dan bulan depan, tepat di tanggal lima belas, kamu akan merayakan ulang tahunmu yang ke-25.
βSialan, kenapa angkutan umum malam ini susah banget sih,β gumammu ketus, menyeka tetesan air hujan yang mulai mengenai keningmu. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat lima belas menit. Kerjaan di kantor benar-benar menyita waktumu, dan sialnya, dompetmu sedang menipis membuatmu harus berpikir dua kali untuk memesan taksi online yang harganya melonjak dua kali lipat karena cuaca buruk.
Tepat saat hujan deras tiba-tiba tumpah dari langit tanpa ampun, kamu melihat pendar cahaya lampu neon putih dari sebuah minimarket di sudut jalan. Tanpa berpikir panjang, kamu berlari sekencang mungkin, mengabaikan cipratan air yang membasahi ujung celana kainmu, dan mendorong pintu kaca minimarket itu hingga memicu bunyi denting bel yang familier.
Ting-tong.
Kamu terengah-engah di dekat mesin pendingin minuman. Separuh bajumu basah kuyup, rambut panjangmu menempel di pipi, dan napasmu memburu. Kamu mengutuk dalam hati, membersihkan sisa air di wajahmu dengan kasar sembari terus ngedumel pelan.
βHujan sialan... Kenapa harus sekarang sih? Mana jemuran di rumah belum diangkat,β gerutumu dengan suara yang cukup keras karena kesal, tidak memedulikan sekitar. Kamu sibuk memeras ujung jaketmu yang basah ke lantai, merasa menjadi wanita paling tidak beruntung malam ini.
βMau pakai tisu, Kak? Bajunya basah banget itu.β
Sebuah suara berintonasi lembut, sedikit serak namun terdengar sangat jernih, tiba-tiba memecah kepanikanmu.
Kamu tersentak, refleks melangkah mundur satu jengkal dan tangan kananmu kembali menyusup ke dalam saku jaket, siap mencengkeram pepper spray. Matamu yang penuh kewaspadaan langsung tertuju pada sumber suara.
Di seberang meja bar mini tempat pengunjung biasa menyeduh mie instan, seorang cowok sedang duduk bersandar. Di depannya ada satu cup ramen yang sudah kosong dan sebotol air mineral. Cowok itu memakai kaus hitam polos yang dilapisi kemeja flanel longgar yang tidak dikancingkan. Wajahnya... sangat bersih. Matanya sipit namun tajam, sejenis mata rubah yang menggemaskan sekaligus misterius, dengan seulas senyum tipis yang langsung terukir di bibirnya begitu melihat reaksimu yang super defensif.
Kamu menatapnya dari atas sampai bawah. Curiga. Di zaman sekarang, di lingkungan rawan seperti ini, cowok asing yang sok ramah di malam hari adalah red flag terbesar.
βEnggak, makasih. Saya bawa tisu sendiri,β jawabmu ketus dan dingin. Kamu sengaja membuang muka, berjalan menjauh menuju rak barisan camilan hanya untuk menghindari kontak mata dengannya. Kamu berpura-pura sibuk memilih keripik kentang, padahal isi kepalamu sedang menghitung jarak dari posisimu berdiri ke pintu keluar.
Cowok itu tidak tersinggung. Dari sudut matamu, kamu bisa melihat dia bangkit berdiri, merapikan sampah cup ramennya, lalu berjalan mendekat ke arah kasir yang kebetulan sedang kosong karena petugasnya sedang ke toilet belakang.
Dia berhenti sekitar dua meter darimu-jarak yang cukup sopan, seolah dia tahu kamu sedang memasang benteng pertahanan yang tinggi.
βMaaf ya, Kak, kalau aku bikin kaget,β ucapnya lagi. Suaranya terdengar sangat tulus, tipe suara brondong penurut yang tidak memiliki niat jahat sama sekali. βAku cuma kasihan liat Kakak ngedumel sendirian sambil kedinginan. Kebetulan ujan di luar makin awet, dan kayaknya ga bakal reda sampai tengah malam.β
Kamu meliriknya sekilas, ketat meneliti ekspresi wajahnya. Senyum cowok itu masih bertahan, sangat manis, bahkan matanya ikut menyipit membentuk bulan sabit. He looks harmless. Terlalu imut untuk ukuran seorang kriminal. Tapi logikamu menolak untuk lengah.
βIya,β jawabmu singkat, ketus, dan tanpa minat. Kamu mengembalikan keripik kentang ke rak lalu berjalan ke arah pintu kaca, membelakanginya, menatap jalanan perbukitan di luar yang kini tertutup tirai hujan lebat. Air mengalir deras di jalanan yang menanjak. Benar kata cowok itu, hujan ini tidak akan selesai dalam satu jam.
Tiba-tiba, aroma manis yang lembut-seperti perpaduan wangi vanilla hangat dan aroma sabun bayi yang bersih-menguar di dekatmu. Kamu menoleh cepat dan mendapati cowok itu sudah berdiri di sampingmu, memegang sebuah payung lipat berwarna kuning cerah di tangan kanannya.
βRumah Kakak masih jauh dari sini?β tanyanya kasual.
βKenapa nanya-nanya?β tembakmu langsung, matamu menyipit tajam. Nada suaramu penuh intimidasi, mempertegas kalau kamu bukan cewek lemah yang bisa digoda dengan mudah.
Cowok itu terkekeh pelan. Suara kekehannya terdengar sangat renyah, seolah menganggap kecurigaanmu adalah sesuatu yang lucu dan menggemaskan. Dia memiringkan kepalanya sedikit, menatapmu dengan binar mata yang jenaka.
βGalak banget,β bisiknya lembut, namun ada nada menggoda yang terselip di sana. βAku ga niat aneh-aneh, Kak. Cuma mau nawarin bareng. Aku bawa payung, dan kebetulan aku mau balik ke arah kompleks atas. Kalau Kakak searah, kita bisa bagi dua payungnya. Daripada Kakak kemalaman di sini, kan bahaya... apalagi akhir-akhir ini beritanya lagi ga bagus.β
Mendengar kata βberita ga bagusβ, bulu kudukmu meremang seketika. Mengingat para korban yang hilang, berdiri sendirian di minimarket yang sepi ini juga bukan pilihan yang bijak. Kamu menimbang-nimbang dalam hati. Cowok di depanmu ini tingginya sekitar 175 senti, proporsi tubuhnya bagus, tapi wajahnya benar-benar terlihat muda.
βKamu anak kuliahan?β tanyamu akhirnya, mulai membuka suara meski nadanya masih menyelidiki.
βBukan,β jawabnya sambil tersenyum lebar, senang karena kamu akhirnya mau merespons lebih dari satu kata. βAku udah kerja, Kak. Tapi umurku baru dua puluh tahun sih. Masih muda kan? Jadi Kakak ga usah taksir aku sebagai om-om penjahat.β
Kamu mendengus pelan, sedikit merasa konyol karena ketakutanmu sendiri. Selisih lima tahun dengarmu. Dia benar-benar seorang brondong.
βNama kamu siapa?β tanyamu, masih dengan nada menginterogasi.
βSunoo,β jawabnya singkat. Dia mengulurkan tangan kirinya yang bebas ke arahmu. Jemarinya terlihat panjang dan bersih, namun kamu memperhatikan ada beberapa guratan kapalan tipis di telapak tangannya. βKim Sunoo. Kalau Kakak?β
Kamu menatap tangannya selama beberapa detik, memutuskan untuk tidak membalas uluran tangan itu demi menjaga jarak aman. βGak usah tahu nama saya. Dan soal tawaran payung... makasih, tapi saya bisa nunggu hujan reda.β
Sunoo menarik kembali tangannya tanpa rasa canggung sedikit pun. Dia justru memasukkan tangan kirinya ke dalam saku celana, lalu menatap keluar pintu kaca dengan helaan napas dramatis. βYakin mau nunggu? Di sini kalau lewat jam sebelas malam, biasanya petir mulai turun, Kak. Dan lampu jalan di tanjakan depan sering mati total kalau ujan lebat begini. Jalan kaki sendirian di kegelapan total itu... agak menantang, kan?β
Kalimat Sunoo terdengar seperti peringatan yang tulus, tapi entah kenapa, ada sensasi aneh yang menggelitik tengkukmu. Caranya menekan kata βkegelapan totalβ terdengar terlalu pas. Namun, begitu kamu menatap wajahnya lagi, yang kamu lihat hanyalah sepasang mata rubah yang menatapmu dengan raut penuh kekhawatiran.
Kamu melihat jam tanganmu. Sudah pukul 10.30 malam. Rumah kontrakanmu berada di Gang Dua, sekitar sepuluh menit berjalan kaki dari minimarket ini jika melewati jalan menanjak. Jika lampu jalanan mati, kamu benar-benar akan buta arah dalam kegelapan.
βKamu... beneran cuma mau searah ke atas?β tanyamu ragu, benteng pertahananmu mulai retak oleh keadaan yang mendesak.
Sunoo tersenyum penuh kemenangan, namun dia menyembunyikannya dengan sangat rapi di balik anggukan kepala yang sopan. βIya, Kak. Rumahku di area atas lagi. Yuk? Keburu makin deras.β
Dengan berat hati dan perasaan campur aduk antara waspada dan pasrah, kamu akhirnya mengangguk. βYa udah. Tapi jalan masing-masing ya, maksudnya... jangan terlalu mepet.β
βSiap, Princess yang galak,β canda Sunoo sambil membuka pintu minimarket.
Cklek.
Payung kuning itu terkembang di atas kepala kalian begitu kalian melangkah keluar dari area teras minimarket. Angin malam langsung menyergap kulitmu yang basah, membuatmu refleks menggigil dan mendekapkan kedua lengan di dada.
βSini,β ucap Sunoo tiba-tiba.
Sebelum kamu sempat memprotes, Sunoo sudah menggeser posisi berdirinya ke sisi kananmu. Dia menarik gagang payung itu lebih condong ke arahmu, memastikan seluruh tubuhmu terlindung dari guyuran air hujan, sementara bahu kirinya sendiri langsung basah kuyup dalam hitungan detik karena terkena tetesan air yang deras.
βEh, bahu kamu basah,β katamu, sedikit tidak enak hati melihat pengorbanannya.
Sunoo menoleh ke arahmu, jarak wajahnya kini terasa lebih dekat karena kalian harus berbagi ruang di bawah payung kecil itu. Dalam jarak sedekat ini, kamu bisa melihat dengan jelas struktur wajahnya yang halus, kulitnya yang putih pucat, dan tahi lalat kecil yang manis di atas hidungnya.
βGa apa-apa, Kak. Kulitku tebal kok, udah biasa kena dingin,β jawabnya dengan nada suara yang merendah, terdengar begitu lembut di telingamu di antara gemuruh suara hujan. βDaripada Kakak yang basah. Nanti kalau Kakak sakit, siapa yang bakal galak lagi di minimarket?β
Pipimu terasa sedikit menghangat karena kalimatnya. Kamu membuang muka, mencoba mengabaikan debaran aneh di dadamu yang kamu yakini hanyalah efek dari rasa panik. βBisa aja kamu ngomongnya.β
Kekehan kecil terdengar dari bibir manisnya. Suasana yang sedikit suram malam ini tidak begitu buruk, setidaknya untuk saat ini.
To Be Continued




entah kenapa pas part "payung kuning" langsung keinget byeon wooseok π
hm, aku curigaan loh orang nya
gapapa, lov untuk sunoo