★Jangan lupa like and comment ya★
Kampus malam itu benar-benar menjadi medan perang. Suara orator dari atas mimbar tak henti-hentinya menggema, bersaing dengan deru mesin motor yang sengaja digeber di pinggiran gerbang kampus. Kamu berdiri di barisan depan, memegang megafon dengan tangan yang gemetar karena emosi. Kamu benar-benar muak dengan pihak rektorat yang hari ini mengeluarkan kebijakan pemotongan dana organisasi secara sepihak tepat di tengah semester.
Di tengah riuhnya massa, sosok pria dengan jaket kulit hitam-yang terlihat sangat kontras dengan jas almamater BEM yang ia pakai-berjalan santai sambil mengisap rokok. Asapnya mengepul, terbawa angin tepat ke arah wajahmu. Dia adalah Ni-Ki. Dia tidak tampak seperti aktivis yang sedang memperjuangkan keadilan, dia tampak seperti seseorang yang datang ke sini hanya untuk menonton kehancuran kampus yang ia benci.
"Bisa nggak, rokoknya dimatiin? Ini area aksi, bukan tempat ngerokok!" tegurmu ketus, mengabaikan fakta bahwa auranya yang sangat dominan dan tatapan tajamnya cukup mengintimidasi.
Ni-Ki menoleh. Matanya yang sipit dan dingin menyapu wajahmu dari atas ke bawah dengan tatapan yang merendahkan. Dia tidak mematikan rokoknya, justru membuang abu rokoknya ke tanah tepat di depan sepatumu.
"Emang lo siapa? Polisi kampus?" suaranya rendah, serak, dan penuh nada sinis yang khas. "Aksi gini nggak bakal ngerubah apa-apa, Babe. Rektorat itu cuma bakal ketawa lihat anak-anak culun teriak-teriak di depan gerbang."
Kamu mendengus, merasa darahmu mendidih. "Kita di sini buat menuntut transparansi, bukan buat dengerin pendapat cowok brengsek yang cuma bisa ngerusak suasana!"
Ni-Ki tertawa pelan, sebuah tawa kering yang tidak mencapai matanya. Dia mendekat, memangkas jarak di antara kalian hingga kamu bisa mencium aroma tembakau yang pekat bercampur parfum maskulin yang tajam. Dia menunduk sedikit, menatapmu tepat di manik mata dengan intensitas yang membuat napasmu tertahan.
"Brengsek?" ulang Ni-Ki, suaranya kini berbisik, cukup rendah untuk membuat bulu kudukmu meremang. "Lo bahkan nggak tahu siapa gue, tapi udah berani ngasih label. Be careful, nanti label itu malah jadi doa."
"Gue nggak peduli siapa lo," balasmu lantang, meski jantungmu mulai berpacu liar karena cara dia menatapmu. "Yang jelas, lo cuma sampah di sini. Minggir, jangan halangi barisan."
Ni-Ki tidak minggir. Dia malah menyandarkan bahunya ke pagar, melipat tangan di depan dada, dan menatapmu dengan senyum miring yang sangat menyebalkan sekaligus memikat. "Gue bakal liat berapa lama lo bisa bertahan dengan idealism lo itu. Dan kalau suatu saat lo butuh seseorang buat bener-bener ngerusak sistem ini... jangan cari gue. Gue cuma bakal bikin hidup lo lebih berantakan."
Satu tarikan napas panjang ia ambil dari rokoknya, lalu dihembuskan tepat di depan wajahmu sebelum ia berbalik badan, melenggang pergi meninggalkanmu yang masih mematung karena kesal.
Itu adalah pertemuan pertama yang penuh dengan gesekan dan rasa tidak suka. Kamu menganggapnya sebagai musuh, sebagai perusak suasana, dan sebagai contoh nyata dari definisi 'cowok brengsek'. Namun, kamu tidak menyadari satu hal: di matamu yang penuh amarah tadi, Ni-Ki justru melihat sesuatu yang menarik. Sesuatu yang membuatnya tidak bisa berhenti memikirkan wajahmu sepanjang sisa malam itu-dan ia baru saja memasukkan namamu ke dalam daftar "mainan" barunya, meski ia sendiri belum tahu seberapa dalam ia akan terjebak nantinya.
★
Tiga hari setelah insiden demo itu, suasana kampus masih terasa tegang, tapi tidak setegang urat sarafmu saat ini. Kamu sedang berada di selasar gedung BEM untuk menyerahkan laporan revisi anggaran, dan pemandangan pertama yang kamu tangkap adalah Ni-Ki.
Dia sedang duduk di atas meja panjang-bukan di kursi-dengan satu kaki bertumpu di lantai. Di tangannya ada tumpukan map yang sepertinya dia periksa dengan malas, sementara tangan satunya lagi memutar-mutar pemantik api zippo yang terus mengeluarkan bunyi klik-klik yang sangat mengganggu konsentrasi.
"Laporannya ditaruh di sini aja," ucapnya tanpa menoleh, suaranya serak seolah baru saja menghabiskan dua bungkus rokok semalaman.
Kamu meletakkan map itu dengan bantingan kecil. "Gue butuh tanda tangan ketua bidang, bukan cuma ditaruh."
Ni-Ki akhirnya mendongak. Tatapannya masih sama terlihat malas, meremehkan, tapi entah kenapa kali ini terlihat jauh lebih mengintimidasi dalam jarak sedekat ini. "Ketua bidang lagi keluar. Gue wakilnya. Lo punya masalah sama itu?"
Kamu terdiam sejenak. Kamu tidak tahu kalau cowok yang hobinya balap liar ini ternyata punya jabatan penting di BEM. "Gue mau transparansi, Ni-Ki. Gue nggak mau laporan ini cuma jadi sampah di tangan orang kayak lo."
Ni-Ki menutup mapnya perlahan, lalu turun dari meja. Dia berjalan mendekat, memaksamu untuk mundur satu langkah sampai punggungmu membentur rak buku besi di belakangmu. Dia tidak berhenti sampai jarak kalian hanya tersisa beberapa inci.
"Transparansi?" Ni-Ki berbisik, satu tangannya bertumpu di rak besi tepat di samping kepalamu, mengunci pergerakanmu. "Lo itu berisik banget ya soal aturan. Padahal di dunia nyata, nggak ada yang bener-bener bersih, (y/n)."
"Itu karena orang-orang kayak lo yang bikin kotor!" balasmu berani, meski dadamu naik turun karena gugup.
Ni-Ki mendengus pelan, matanya turun menatap bibirmu sejenak sebelum kembali ke matamu. "Lo tahu apa yang paling gue benci? Orang yang sok suci tapi sebenernya cuma pengen narik perhatian."
"Gue nggak butuh perhatian lo!"
"Tapi lo dapet, kan?" Ni-Ki menyeringai miring. Dia mengambil map laporanmu, lalu tanpa diduga, dia merobek bagian pojok kertasnya hanya untuk menuliskan nomor telepon dengan pulpen hitam. "Laporan lo banyak yang nggak masuk akal. Revisi lagi, terus hubungin gue malem ini kalau lo mau gue tanda tangan."
"Gila lo ya? Ini laporan resmi!" kamu mencoba merebut map itu, tapi Ni-Ki mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Malem ini, di sirkuit lama belakang kampus. Bawa laporan yang udah bener," ucapnya dingin. "Atau anggep aja organisasi lo nggak bakal dapet dana sepeser pun semester ini."
Ni-Ki menjauh, meninggalkanmu yang gemetar karena amarah. Dia berjalan pergi sambil melambaikan tangan tanpa menoleh, meninggalkan aroma asap rokok dan parfum mahal yang seolah sengaja menempel di seragammu. Kamu tahu ini jebakan, kamu tahu dia hanya ingin mempermainkanmu, tapi harga diri dan nasib organisasimu kini ada di tangan cowok paling brengsek se-fakultas itu.
Sentuhan tangannya yang sempat tidak sengaja menyenggol bahumu tadi terasa panas, menyulut api kemarahan-atau mungkin sesuatu yang lain-yang mulai membakar egomu perlahan-lahan.
Kamu menatap lembaran laporan itu dengan tangan yang gemetar hebat. Kamu sudah memeriksanya tiga kali, dan tidak ada satu pun angka yang meleset. Ni-Ki hanya sengaja-dia sedang bermain-main, mengumpanmu untuk masuk ke dalam dunianya yang gelap dan berbau aspal.
★
Malam itu, sirkuit lama di belakang kampus terasa mencekam. Suara deru mesin motor sport saling bersahutan, menciptakan kebisingan yang memekakkan telinga di bawah lampu jalan yang remang dan berkedip. Di tengah kerumunan anak motor dan perempuan-perempuan dengan pakaian minim, kamu melihatnya.
Ni-Ki sedang bersandar pada motor Ninja hitamnya, satu kakinya tertekuk, sementara seorang perempuan bergelayut manja di lengannya. Dia sedang tertawa kecil, tapi matanya yang tajam langsung menangkap sosokmu yang berdiri canggung di pinggir lintasan.
"Wah, liat siapa yang dateng," ucap Ni-Ki keras, membuat beberapa temannya menoleh dan bersiul menggoda. "Si pejuang transparansi akhirnya mau turun ke aspal juga."
Kamu berjalan mendekat, berusaha mengabaikan tatapan merendahkan dari orang-orang di sekitarnya. "Ini laporan yang lo minta. Tanda tangan sekarang, gue mau balik."
Ni-Ki melepaskan rangkulan perempuan di sampingnya, lalu berjalan perlahan ke arahmu. Dia mengambil map itu dengan dua jari, seolah itu adalah benda menjijikkan. Tanpa melihat isinya, dia justru menggunakan map itu sebagai alas untuk mematikan puntung rokoknya.
"Ni-Ki! Apa-apaan lo!" pekikmu, mencoba merebut map yang sekarang sudah ada noda bekas abu rokok di sampulnya.
"Sabar, Babe. Gue perlu periksa dulu, kan?" Ni-Ki menyeringai. Dia tidak membuka mapnya, malah mendekat hingga dadanya hampir bersentuhan denganmu. Dia merunduk, membisikkan sesuatu yang membuat darahmu naik ke kepala. "Gue pikir lo bakal dateng pake baju yang lebih... pantas buat sirkuit. Lo kelihatan kaku banget, kayak mau presentasi di depan dosen mati."
"Gue di sini buat urusan BEM, bukan buat jadi bahan tontonan lo," desismu, menahan amarah yang meledak-ledak.
Ni-Ki tertawa, suara tawanya terdengar sangat meremehkan. Dia menarik ikat rambutmu dengan satu gerakan cepat, membuat rambutmu tergerai berantakan. "Nah, mendingan. Jangan terlalu tegang, nanti cepet tua."
"Balikin ikat rambut gue, cowok brengsek!"
"Ambil sendiri," tantang Ni-Ki sambil memasukkan ikat rambutmu ke dalam saku celana jinsnya yang ketat. Dia lalu melemparkan map itu ke atas jok motornya. "Gue bakal tanda tangan, tapi setelah lo duduk di belakang gue buat satu putaran. Anggep aja ini... biaya administrasi."
Beberapa temannya tertawa makin keras. Salah satu dari mereka berteriak, "Sikat, Ki! Lumayan buat pemanasan balap!"
Kamu merasa harga dirimu diinjak-janjak. Dia memperlakukanmu seolah kamu adalah salah satu dari perempuan simpanannya yang bisa dia perintah sesuka hati. Matamu mulai berkaca-kaca karena amarah, tapi kamu menolak untuk terlihat lemah di depan srigala seperti dia.
"Lo bener-bener sampah, Ni-Ki. Lo manfaatin jabatan lo cuma buat hal serendah ini?"
Ni-Ki tidak terlihat tersinggung. Justru, dia terlihat sangat menikmati ekspresi amarahmu yang meledak. Dia mendekat lagi, kali ini tangannya dengan berani mengusap pipimu yang memanas, ibu jarinya menekan bibir bawahmu sedikit terlalu keras.
"Gue emang sampah, dan lo baru aja masuk ke tempat pembuangannya," bisiknya dengan tatapan yang sangat menggoda sekaligus berbahaya. "Pilihannya cuma dua: lo naik ke motor gue sekarang dan dapet tanda tangan itu, atau lo balik ke kampus dan jelasin ke temen-temen lo kenapa dana mereka hangus cuma gara-gara ego lo yang setinggi langit."
Ni-Ki menatapmu dengan senyum penuh kemenangan, menunggu kamu menyerah pada permainannya sementara tangannya masih betah bermain di sekitar lehermu, memberikan sensasi dingin yang kontras dengan panasnya amarah di dadamu.
Dengan napas yang tertahan di kerongkongan, kamu terpaksa menelan semua makian yang sudah di ujung lidah. Kamu benci betapa Ni-Ki tahu persis letak kelemahanmu. Dengan tangan gemetar, kamu melangkah mendekat ke motor hitamnya, menerima kekalahan paling memalukan dalam hidupmu.
Ni-Ki menyeringai puas, sebuah ekspresi kemenangan yang membuatmu ingin menampar wajah tampannya saat itu juga. Ia naik ke atas motor, menyalakan mesin yang menderu garang, lalu menoleh sedikit ke arahmu.
"Naik. Dan jangan pegangan ke jaket gue, gue nggak mau jaket mahal ini lecek gara-gara tangan keringetan lo," ucapnya ketus, sengaja ingin merendahkanmu lebih jauh di depan teman-temannya yang masih menonton sambil tertawa.
Kamu naik ke jok belakang yang tinggi dan sempit, terpaksa memegang pinggiran besi motor dengan kaku. Namun, tanpa aba-aba, Ni-Ki menarik tanganmu dan melingkarkannya dengan paksa ke pinggangnya yang keras. "Pegangan yang bener, atau lo bakal mati di aspal malam ini. Gue nggak mau repot ngurusin mayat aktivis sok suci di sirkuit gue."
Kamu mendengus jengkel, tadi dia bilang jangan pegangan sekarang malah menarik tanganmu buat meluk dia. "Gue benci lo," desismu tepat di telinganya.
"Simpen benci lo buat nanti, Babe," balasnya dingin sebelum menarik gas dengan brutal.
Motor itu melesat seperti peluru. Angin malam menghantam wajahmu, dan kamu terpaksa memeluk tubuh Ni-Ki lebih erat agar tidak terjatuh. Kamu bisa merasakan otot punggungnya yang tegang di balik jaket kulitnya, dan aroma rokok serta parfumnya yang kini memenuhi indra penciumanmu. Di tengah ketakutanmu, Ni-Ki justru sengaja meliuk-liukan motornya dengan ekstrem, membuatmu berteriak dan semakin merapatkan tubuhmu ke punggungnya.
Setelah satu putaran yang terasa seperti selamanya, ia berhenti mendadak di area yang lebih sepi, jauh dari sorak-sorai penonton. Ia mematikan mesin, namun tetap membiarkanmu memeluknya selama beberapa detik sebelum ia berdeham pelan.
"Udah puas meluknya? Atau lo ketagihan?" sindirnya sambil melepaskan tanganmu dengan kasar.
Kamu segera turun dengan kaki yang lemas. Ni-Ki turun dari motor, mengambil map laporanmu yang tadi ia lempar ke jok, lalu mengeluarkan pulpen. Tanpa membaca satu kata pun, ia membubuhkan tanda tangan yang berantakan di atas kertas yang kini sudah sedikit bau asap dan abu rokok.
"Nih," katanya, menyodorkan map itu ke dadamu dengan sedikit dorongan. "Tanda tangan paling mahal yang pernah lo dapet, kan?"
Kamu menyambar map itu, matamu menatapnya dengan api amarah yang masih berkobar. "Lo pikir dengan begini lo hebat, Ni-Ki? Lo cuma cowok pengecut yang harus pake ancaman buat dapet apa yang lo mau."
Ni-Ki bukannya marah, ia justru melangkah maju, memerangkapmu di antara tubuhnya dan bodi motor yang masih panas. Ia merunduk, napasnya yang berbau tembakau menerpa bibirmu.
"Mungkin gue emang pengecut," bisiknya rendah, tangannya perlahan masuk ke saku celana dan mengeluarkan ikat rambutmu, lalu ia menciumnya perlahan sambil menatap matamu. "Tapi gue tipe pengecut yang bakal bikin lo nggak bisa tidur malam ini karena terus-terusan mikirin gimana rasanya meluk gue di atas aspal tadi. Sampai ketemu di rapat BEM besok, Precious."
Ia melemparkan ikat rambutmu ke tanah di depan kakimu, lalu kembali naik ke motornya dan melesat pergi, meninggalkanmu sendirian di kegelapan dengan jantung yang berdegup kencang-bukan karena takut, tapi karena sensasi aneh yang mulai menjalar di bawah kulitmu yang kamu benci setengah mati.
Kamu berdiri mematung di tengah kegelapan sirkuit yang mulai ditinggalkan kerumunan, menatap ikat rambutmu yang tergeletak di aspal seolah benda itu adalah harga dirimu yang baru saja dilemparkan ke tanah. Kamu memungutnya dengan jari yang masih gemetar, merasakan sisa panas dari saku celana Ni-Ki yang masih tertinggal di sana. Sialan. Kamu benar-benar membenci bagaimana
dia bisa mengendalikan seluruh emosimu hanya dalam waktu tiga puluh menit.
★
TO BE CONTINUED
KALO RAME LANJUT PART DUA 🫰🏻
harus rame sih, soalnya gue suka genre ini 🫰🏻





sialan rikii lu tengil abis!! nyebelin bgt bikin gw emosii berani bgt lu menggores ego & harga diri gw!!! 😭😡👊🏻(untung di rl gw syg bgt ama lu ki 💗)
brengsek nya tuh ngebrengsek bgt 😭