Lampu sorot stadion yang berpijar di luar sana seolah tidak ada artinya dibandingkan atmosfer yang menyesakkan di dalam ruang ganti pribadi ini. Suara teriakan ribuan penggemar terdengar samar dari balik dinding kedap suara, memanggil-manggil satu nama paling keras diantara member rockstar lainnya: Ni-Ki.
Namun, sang pemilik nama justru sedang tidak peduli pada dunia.
βNi-Ki, fokus. Lima menit lagi lo harus on-stage,β bisikmu, mencoba menstabilkan napas.
Tanganmu yang memegang sisir kecil sedikit gemetar saat merapikan helai-helai rambut pirangnya yang menutupi dahi.
Ruangan itu kosong. Seluruh staf dan kru keamanan sedang berkumpul di area koridor untuk koordinasi terakhir. Kesunyian ini adalah kesempatan, dan Ni-Ki tahu benar cara memanfaatkannya.
Tanpa melepaskan tatapan tajamnya darimu lewat pantulan cermin, Ni-Ki bergerak cepat. Ia mencengkeram pinggangmu dan menarik tubuhmu dalam satu sentakan kuat.
Kamu memekik pelan saat duniamu berputar dan detik berikutnya, kamu sudah mendarat di atas pangkuannya. Rok span selutut yang kamu kenakan terangkat tinggi, mengekspos kulit pahamu yang langsung bersentuhan dengan celana kulit hitam yang dikenakannya.
βNi-Ki, lo ngapain sih? Nanti kalau ada yang lihat gimana?β bisikmu waswas sembari melirik cemas ke arah pintu.
βYa biarin aja,β jawabnya santai. Suaranya rendah dan serak, jenis suara yang selalu berhasil bikin kamu merinding. βLagian salah kamu sendiri. Kemarin malah ghosting aku dan batalin janji ke apartemen. Kenapa, hm?β
βAku punya job lain, Ni-Ki. Tolong, jangan sekarang...β
Alih-alih mendengarkan, ia justru menyembunyikan wajahnya di ceruk lehermu. Aroma parfum maskulin yang bercampur dengan hawa panas tubuhnya menyerang indramu. Ia menghirup aromamu dalam-dalam, lalu memberikan gigitan kecil di sana sebuah tanda kepemilikan yang ia tahu akan sulit kamu tutupi dengan concealer nanti.
βI miss you so much, Kak... Sampe rasanya mau gila,β gumamnya di atas kulitmu.
Kamu mendesah tertahan, meremas bahu bidangnya yang sudah terbalut kostum panggung mewah. Inilah realita pahit yang kamu jalani.
Di depan kamera, kamu adalah Stylist yang cekatan, seseorang yang memastikan ia tampil sempurna tanpa cela. Namun di balik pintu tertutup, kamu adalah pelarian rahasianya.
Hubungan ini tidak memiliki nama. Tidak ada kata cinta, tidak ada komitmen. Semuanya berawal dari satu malam penuh kesalahan beberapa tahun lalu malam yang seharusnya menjadi kecelakaan kecil, terbangun dalam keadaan sama sama adalah pokoknya di dalam kamar apartemen Ni-Ki, lebih tepatnya di dalam dekapannya yang hangat, namun itu justru berubah menjadi candu yang mematikan. Kamu tahu ini salah. Kamu tahu hubungan situationship ini hanya akan menghancurkan hatimu jika ia memutuskan untuk berhenti.
Tapi saat Ni-Ki menatapmu dengan mata gelap penuh gairah itu, kamu sadar bahwa baginya, kamu bukan sekadar Stylist. Kamu adalah miliknya, setidaknya sampai lampu panggung padam.
Suasana makin panas, dan Ni-Ki seolah nggak peduli kalau waktu mereka tinggal hitungan menit. Tangan besarnya yang tadi cuma melingkar di pinggangmu, sekarang mulai bergerak nakal. Perlahan tapi pasti, telapak tangannya yang hangat merayap naik dari lutut, menyusuri permukaan paha (adalah pokoknya) yang terekspos karena rokmu yang tersingkap.
βNi-Ki... stop,β rintihmu pelan, tapi tanganmu sendiri malah makin erat meremas bahu kostum panggungnya.
Bukannya berhenti, jemarinya justru makin berani naik ke atas, menyentuh kulit sensitif adalah pokoknya di pangkal pahamu. Sentuhannya terasa kontras-dingin dari aksesori cincin perak yang dia pakai dan panas dari kulitnya sendiri-bikin sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhmu.
βYou smell so good tonight, Kak,β gumamnya pelan. Tangannya sekarang sudah mencapai batas paling atas, memberikan tekanan-tekanan kecil yang bikin kamu hampir kehilangan akal. βYakin mau aku berhenti sekarang? Padahal kamu udah gemeteran gini.β
βNanti... nanti kru masuk, Ni-Ki. Please, fokus ke konsernya dulu,β ucapmu dengan napas yang mulai pendek.
Kamu bisa merasakan seringai tipis di wajahnya saat dia mendongak menatapmu. Matanya yang gelap sekarang penuh dengan keinginan yang terang-terangan. Jarinya terus bermain di sana, bergerak dengan ritme yang sengaja dibuat lambat untuk menyiksa pertahananmu.
βBiarin aja mereka masuk. Biar mereka tahu kalau stylist kesayangan mereka ini cuma punya aku,β bisiknya posesif.
Tepat saat tangannya bergerak semakin dalam dan suasana makin tak terkendali, suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar dari koridor luar, diikuti suara gagang pintu yang diputar.
βNi-Ki! Standby di samping panggung, dua menit lagi!β teriak salah satu staf dari balik pintu.
Kamu tersentak dan refleks ingin meloncat turun dari pangkuannya, tapi Ni-Ki malah mempererat dekapannya sejenak, sengaja memberikan satu remasan terakhir yang telak di pahamu sebelum akhirnya melepaskanmu dengan wajah tanpa dosa.
Mendengar teriakan staf dari balik pintu, Ni-Ki mengeram kesal. Napasnya memburu, jelas merasa terganggu karena interaksi panas kalian harus terhenti tepat sebelum ia mencapai tujuannya.
Tapi sebelum kamu sempat menjauh, ia menarik tengkukmu kasar dan mendaratkan satu ciuman dalam yang menuntut-seolah sedang menyegel janjinya kalau urusan kalian belum selesai.
π«
Setelah Ni-Ki naik ke panggung, kamu berusaha kembali profesional. Kamu sibuk di ruang ganti, membantu member lain yang baru saja turun panggung.
βMakasih ya, Kak,β ucap Sunghoon saat kamu dengan cekatan menyeka keringat di lehernya dengan handuk kecil dan membantunya mengganti kostum ke baju santai untuk pulang.
Kamu hanya mengangguk sambil tersenyum tipis, fokus merapikan kerah baju Sunghoon tanpa menyadari ada sepasang mata gelap yang memperhatikamu dari sudut ruangan.
Ni-Ki berdiri di sana, masih dengan napas terengah setelah performance-nya, mematung sambil meremas botol air mineral saat melihat tanganmu menyentuh kulit member lain begitu telaten.
Begitu kamu selesai membereskan tas makeup dan barang pribadimu, kamu berencana langsung menuju basement. Namun, saat melewati deretan bilik kain tempat ganti baju, sebuah tangan kekar menarik lenganmu dengan sentakan kuat.
Srett!
Kamu terseret masuk ke dalam bilik kecil yang sempit. Belum sempat kamu memprotes, tubuhmu sudah dihimpit ke dinding kain.
Ni-Ki langsung menyerang bibirmu dengan ciuman yang lapar, jauh lebih kasar dan menuntut dibanding sebelumnya. Ada rasa cemburu yang kental dalam setiap pagutannya.
βNgh-β
Kamu hampir mendesah keras karena terkejut, namun akal sehatmu segera kembali. Kamu mendorong dadanya kuat-kuat sampai ia mundur beberapa senti.
βNi-Ki, lo gila?! Di luar masih banyak orang!β bisikmu dengan napas tersengal, wajahmu memerah antara marah dan malu.
Ni-Ki menatapmu tajam, matanya terlihat gelap dan berbahaya di bawah lampu remang bilik ganti. βTadi asik banget ya, megang-megang Sunghoon?β
Ni-Ki nggak menanggapi protesmu. Dia cuma menatapmu dengan pandangan βkamu-milikkuβ yang nggak bisa dibantah.
Tanpa sepatah kata pun, dia menarikmu keluar lewat pintu belakang stadion-jalur khusus yang nggak terjangkau oleh kerumunan fans.
Di sana, sebuah Audi RS e-tron GT hitam mengkilap sudah menunggu, tampak gahar di bawah lampu jalan yang remang.
Dia membukakan pintu untukmu dengan kasar namun protektif, lalu segera memutari mobil dan masuk ke kursi kemudi.
Deru mesin mobil listrik itu terdengar halus tapi bertenaga, seolah menggambarkan emosi Ni-Ki yang sedang tertahan.
Begitu mobil melaju menjauh dari stadion, suasana di dalam kabin terasa sangat intens. Tangan kiri Ni-Ki memegang kemudi, sementara tangan kanannya langsung mencengkeram paha kamu-tepat di titik yang tadi dia sentuh saat di backstage.
βNi-Ki, kita mau ke mana? Ini bukan jalan ke apartemen gue,β tanyamu panik saat melihat dia mengambil rute yang berbeda.
βApartemen kamu kejauhan, Kak. Aku udah nggak sabar,β jawabnya singkat. Suaranya datar tapi penuh penekanan.
βAda motel kecil dekat sini, privasinya aman. Nggak bakal ada fans yang tahu kalau ini mobil aku.β
Dia menginjak pedal gas lebih dalam, membuat tubuhmu terdorong ke sandaran jok kulit yang mewah. Kamu cuma bisa melihat profil wajahnya dari samping, rahangnya yang mengeras menunjukkan kalau dia bener-bener lagi cemburu sekaligus dikuasai gairah.
Nggak sampai sepuluh menit, mobil itu masuk ke area parkir tertutup sebuah motel bergaya minimalis yang tersembunyi di balik gang. Begitu mesin mati, kesunyian di dalam mobil terasa mencekam.
Ni-Ki melepas sabuk pengamannya, lalu berbalik ke arahmu. βTadi di bilik ganti kamu dorong aku, hm? Sekarang coba dorong lagi kalau bisa.β
Dia nggak menunggu jawabanmu. Ni-Ki langsung menarik tengkukmu dan kembali menciummu, kali ini lebih lembut tapi jauh lebih dalam, seolah dia sedang menghapus semua jejak tanganmu yang tadi sempat menyentuh member lain.
π«
To Be Continued





eh si Riki gacor pisan
Wihh akhirnya Riki lagiiiππ§π§!!