2 Arah Pulang
Jake
ꨄ︎
Satu dekade. Sepuluh tahun berlalu begitu saja, merayap dalam senyap.
Banyak hal yang berubah. Kota tempatmu menimba ilmu dulu kini makin padat, gedung-gedung tinggi bermunculan, dan kamu bukan lagi mahasiswi seni rupa yang panik mengejar deadline jam 11 malam. Kini, kamu adalah seorang guru seni rupa di salah satu SMA swasta ternama di kota ini.
Hari-harimu riuh. Dipenuhi suara gelak tawa, celotehan, hingga kelakuan bandel anak-anak SMA yang tak jarang bikin mengelus dada. Kamu menikmati perannmu. Hidupmu berjalan dengan sangat baik di mata orang lain.
Tapi jauh di dalam relung hatimu, waktu seolah berhenti di Jumat malam sepuluh tahun lalu.
Kamu tidak pernah benar-benar bisa melupakan Jake. Rasa itu tidak pernah pudar, malah mengendap menjadi kerinduan yang makin pekat. Anehnya, kamu sering kali merasa Jake ada di sekitarmu. Seperti saat kamu merasa ada seseorang yang memperhatikanmu dari jauh di tengah keramaian, atau helaan napas akrab di balik embus angin malam. Tapi takdir seolah sengaja memagari kalian, atau... mungkin Jake yang memang teramat lihai menghindar.
Hari itu, sekolah mengadakan acara outbound tahunan untuk siswa baru. Lokasinya berada di area taman kota dan sepanjang bantaran sungai—tempat yang begitu familier hingga rasanya dada terasa sedikit sesak begitu kakimu melangkah ke sana.
Setelah menyelesaikan sesi materi seni rupa luar ruang dan melepas anak-anak didikmu untuk mengikuti kegiatan kelompok bersama instruktur outbound, kamu melangkah pelan memisahkan diri.
Langkah kakimu menuntunmu secara otomatis ke sudut itu.
Bangku kayu tua itu masih ada di sana. Catnya sudah berkali-kali dilapisi ulang, tapi posisinya ga pernah berubah. Menghadap langsung ke aliran sungai yang tenang.
Kamu mendudukkan diri di sana. Angin sore berembus lembut, membawa ingatan sepuluh tahun lalu berputar ulang seperti pita kaset tua. Kamu merogoh saku, mengeluarkan ponselmu, lalu membuka folder album tersembunyi di galeri.
Foto-foto lamamu bersama Jake terpampang di sana. Foto candid Jake yang sedang tertawa lebar—tawa yang cuma bisa terbit saat dia bersamamu. Foto saat dia memakai hoodie abu-abu kebesaran favoritnya. Foto jemarinya yang jahil merusak tatanan rambutmu.
Satu tetes air mata mendadak lolos tanpa sempat kamu tahan.
“Jake... aku kangen,” batismu lirih.
Rasa sesak yang terpendam selama sepuluh tahun mendesak ingin keluar. Ada satu hal yang sampai detik ini paling kamu sesali. Kamu ga pernah sempat mengutarakannya. Kamu ga pernah sempat bilang kalau rasa berteman selama enam tahun itu sudah lama berubah. Kamu ga pernah sempat bilang... kalau kamu menyayangi dan mencintainya lebih dari apa pun di dunia ini.
“y/n?”
Suara itu.
Bukan suara dari rekaman telepon tua. Bukan pula suara dalam ingatanmu. Suara itu nyata, berembus searah dengan angin sore, memanggil namamu menggunakan huruf kecil yang terdengar begitu lembut dan dalam.
Jantungmu seakan berhenti berdetak. Jemarimu gemetar hebat saat kamu perlahan menegakkan kepala dan menoleh ke samping.
Di sana, beberapa langkah dari bangku kayu, berdiri seorang pria dewasa. Dia mengenakan kemeja kasual yang rapi, memegang sebuah buku sketsa kecil di tangannya. Guratan wajahnya jauh lebih matang, badannya lebih tegap, tapi tatapan mata itu... binar mata redup yang menyimpan ribuan cerita itu tetap sama.
Itu Jake.
Jake yang selama sepuluh tahun ini lenyap. Jake yang selama ini hidup di langit yang sama, namun terpisah jarak yang tak kasat mata.
“Jake...?” suaramu tercekat, hamper tak terdengar.
Jake menatapmu. Untuk beberapa detik, tidak ada kata yang terucap di antara kalian. Hanya ada desir angin dan gemericik air sungai yang mengisi kesunyian. Lalu, perlahan tapi pasti, garis bibir pria itu tertarik.
Senyum itu kembali. Senyum hangat, tulus, dan rapuh—senyum yang selama sepuluh tahun ini menghilang dari duniamu.
“Udah lama ya, y/n,” gumam Jake. Suaranya sedikit bergetar, menahan gejolak emosi yang sama besarnya.
Kamu berdiri dari bangku kayu, membuat jarak di antara kalian terkikis. “Kamu... kamu benar-benar ada di sini? Selama ini kamu ke mana, Jake? Kenapa...” Air matamu menetes makin deras, tak lagi bisa ditahan. “Kenapa kamu tega pergi gitu aja?”
Jake melangkah mendekat. Perlahan, seolah takut kamu akan menghilang jika dia bergerak terlalu cepat. Dia mengangkat tangannya yang dingin—sama dinginnya seperti malam itu—dan dengan lembut mengusap air mata di pipimu menggunakan ibu jarinya. Sentuhan yang sudah sepuluh tahun tak pernah kamu rasakan.
“Maaf...” bisik Jake tulus, matanya menatap tepat ke dalam matamu. “Maaf udah bikin kamu nunggu dan bingung sejauh ini.”
“Aku ga pernah benci kamu, Jake,” potongmu cepat, memegang jemanginya yang ada di pipimu. “Tapi aku benci fakta kalau aku ga sempat bilang... kalau aku sayang sama kamu. Aku cinta sama kamu, Jake. Dari dulu, sampai detik ini.”
Jake tertegun. Napasnya tertahan. Matanya berkaca-kaca menahan rasa haru yang teramat sangat. Senyumnya kian melebar, kali ini jauh lebih lepas dan lega daripada sepuluh tahun lalu.
“Aku tahu, y/n,” balas Jake lembut. “Dan aku juga selalu mencintai kamu. Selalu. Bahkan di hari-hari paling gelap waktu aku memilih buat menjauh dari kamu.”
Dia mendengus pelan, menatap anak-anak SMA berpakaian seragam sekolahmu yang sedang berkegiatan di kejauhan, lalu kembali menatapmu.
“Aku ga pernah benar-benar pergi, y/n. Aku cuma... butuh waktu buat menata duniaku yang hancur, supaya suatu hari nanti, saat aku berdiri di depan kamu lagi, aku ga akan seret kamu ke dalam kegelapan aku lagi. Aku cuma mau jadi seseorang yang layak buat berdiri di samping kamu.”
Jake menggenggam kedua tanganmu, memeluknya erat di dada.
“Hari ini... duniaku udah membaik. Dan aku udah ga akan lari atau lenyap lagi.”
Di bawah pendar matahari sore di tepi sungai kota, rasa hangat yang sempat hilang selama sepuluh tahun itu akhirnya kembali penuh. Takdir mungkin sempat memisahkan, tapi perasaan yang tumbuh dengan tulus tidak pernah benar-benar lenyap—ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk pulang.
Jake menarik napas panjang, menghirup udara sore yang berembus di atas permukaan sungai. Perlahan, dia memiringkan kepalanya, menatap wajahmu dengan tatapan yang jauh lebih tenang—seolah seluruh beban berat yang dia pikul selama enam belas tahun terakhir akhirnya terangkat sepenuhnya.
“Anak-anak murid kamu... mereka ngeliatin kita dari sana, y/n,” bisik Jake pelan, kekehannya terdengar halus serak.
Kamu menoleh sebentar ke arah lapangan rumput tak jauh dari tempat kalian berdiri. Beberapa siswa SMA yang tadi kamu awasi tampak berbisik-bisik sambil mencuri pandang, heran melihat guru seni rupa mereka yang biasanya tegas dan tenang, tiba-tiba berdiri memegang tangan seorang pria asing sambil meneteskan air mata.
Kamu tertawa kecil di tengah sisa isak tangismu, menyapu pipi dengan punggung tangan. “Biarin aja. Nanti aku bisa kasih mereka tugas bikin esai tiga lembar kalau berani ledekin gurunya.”
Jake terkekeh lagi. Suara tawanya kali ini benar-benar jernih. Tidak ada lagi nada getir atau kepalsuan yang dulu sering dia sembunyikan di balik senyum misteriusnya.
Dia lalu mengajakmu kembali duduk di bangku kayu itu. Kali ini, tidak ada lagi jarak berjarak yang sengaja dia ciptakan. Jake duduk tepat di sampingmu, menggandeng jemarimu dan menautkannya dengan erat. Kehangatan tubuhnya kini terasa nyata—bukan lagi ingatan semu atau bayangan yang selama sepuluh tahun ini cuma ada di dalam kepalamu.
“Jadi... selama sepuluh tahun ini, kamu beneran ga pernah pindah kota?” tanyamu pelan, menatap profil samping wajahnya.
Jake menggeleng pelan. “Aku sempat pindah beberapa tahun pertama, y/n. Kerja serabutan, urus sisa-sisa masalah keluarga yang belum selesai, sambil nyelesaiin kuliah seni dan desain yang sempat tertunda.”
Dia mengusap jemarimu halus. “Tapi lima tahun terakhir... aku sebenarnya udah balik ke kota ini. Aku buka studio reka bentuk dan ilustrasi kecil-kecilan di dekat kawasan kampus tua kita.”
Matamu melebar. “Lima tahun?! Kamu ada di kota yang sama kaya aku selama lima tahun dan kamu ga pernah nemuin aku?!”
“Aku sering nemuin kamu, y/n,” aku Jake jujur. Tatapannya melembut. “Tapi dari jauh. Aku pernah liat kamu lagi nunggu angkutan umum sambil neduh hujan di depan galeri seni. Aku pernah liat kamu keluar dari gedung sekolah ini pakai baju dinas guru. Bahkan... beberapa kali aku sengaja duduk di kedai kopi depan kampus cuma buat liat kamu lewat.”
“Jake...” suaramu tertahan. Ada rasa hangat yang membuncah, tapi juga sedikit rasa kesal yang manis. “Kenapa ga samperin aku dari dulu kalau gitu?”
“Karena aku takut,” bisik Jake, jemarinya memeluk milikmu lebih erat. “Aku takut pas aku nyamperin kamu, kamu udah bahagia sama orang lain. Atau yang lebih buruk... aku takut aku belum cukup pantas buat kembali ke hidup kamu. Aku janji sama diri sendiri, aku baru boleh berdiri di depan kamu kalau duniaku udah benar-benar stabil, kalau aku udah ga punya luka yang bisa gores kamu lagi.”
Jake meraih buku sketsa kecil yang tadi dia pegang, lalu membukanya di pangkuan kalian.
Lembar demi lembar buku sketsa itu dipenuhi dengan lukisan pensil dan cat air. Dan di setiap lembarannya... hanya ada satu objek.
Kamu.
Gambar kamu sedang tertawa, gambar kamu yang tertidur di perpustakaan kampus sepuluh tahun lalu, gambar kamu memakai pakaian guru, hingga gambar kamu yang sedang duduk sendirian di bangku kayu tepi sungai ini.
“Selama sepuluh tahun ini, kamu ga pernah lenyap dari pikiran aku, y/n,” ujar Jake, suaranya bergetar menahan haru. “Duniaku emang sempat hancur dan sepi. Tapi setiap kali aku ngelukis kamu, aku ngerasa duniaku masih punya warna.”
Airmata hangat kembali menetes di pipimu, tapi kali ini bibirmu tersenyum lebar. Kamu menyandarkan kepalamu di bahu kokoh Jake. Aroma wangi tubuhnya—campuran kayu manis dan hujan—memeluk indramu, menghapus seluruh kesepian dan keraguan yang bertahun-tahun meracuni pikiranmu.
“Jangan pernah hilang lagi ya, Jake,” gumammu lirih. “Mau duniamu terang atau gelap, aku ga peduli. Aku cuma mau ada di samping kamu.”
Jake mendaratkan kecupan lembut di puncak kepalamu, menyalurkan seluruh rasa cinta, kerinduan, dan rasa syukur yang tertahan selama seribu malam.
“Enggak akan lagi, y/n,” jawab Jake mantap. “Aku udah pulang.”
Matahari sore perlahan tenggelam di balik garis cakrawala, membiarkan pendar jingga keemasan memantul indah di atas permukaan sungai. Di bangku kayu tua itu, dua jiwa yang sempat terpisah oleh waktu dan takdir akhirnya kembali menyatu—bukan lagi sebagai teka-teki yang rumit, melainkan sebagai sebuah kisah yang akhirnya menemukan bait penutup paling indahnya.
to be continued
ꨄ︎





yeen, aku ikut nangis ni