3 Arah Pulang
Jake
Senin sore, suasana ruang guru sudah lengang. Bel pulang sekolah sudah berbunyi satu jam yang lalu, menyisakan suara derit kipas angin gantung dan tumpukan kertas ujian seni rupa kelas XI di atas mejamu.
Kamu baru saja hendak meraih pulpen merah untuk menilai lembar berikutnya saat sebuah cangkir keramik diletakkan pelan di sebelah laptopmu. Aroma cokelat panas berbumbu kayu manis yang sangat familier menyeruak, memotong aroma kertas tua di ruangan.
Kamu menoleh kaget.
Di sana, bersandar di tepi mejamu dengan kemeja hitam yang gulungan lengannya dinaikkan sampai siku, berdiri Jake. Dia tersenyum tipis, memutar kunci mobil di jarinya dengan santai-gaya khasnya yang selalu tenang tapi bikin jantung melompat.
โJake? Kok bisa masuk ke sini?!โ bisikmu panik sambil melirik ke arah pintu ruang guru yang terbuka sedikit. โIni area steril, tahu!โ
โAku tadi permisi sama Pak Satpam di depan,โ sahut Jake tanpa rasa dosa, lalu menarik kursi kosong di sebelah mejamu dan duduk di sana. โAku bilang mau jemput Ibu Guru Seni Rupa. Beliau langsung senyum-senyum terus ngasih izin.โ
Pipimu mendadak panas. โJake...โ
โBeresin barang kamu, y/n,โ ujar Jake lembut tapi tegas, mengambil pulpen merah dari tanganmu dan meletakkannya kembali di tempat pensil. โKertas-kertas ini ga akan lari. Tapi kalau cokelatnya dingin, rasanya berkurang separuh.โ
Kamu menatapnya heran. Setelah momen emosional di tepi sungai minggu lalu, kalian memang rutin bertukar pesan. Tapi kamu tidak menyangka cowok yang dulunya super tertutup ini bakal nekat menerobos masuk ke tempat kerjamu begini.
โKita mau ke mana?โ tanyamu sambil merapikan tas.
Jake hanya mengedipkan sebelah matanya, menyunggingkan senyum misterius yang bikin penasaran. โKemajuan.โ
Mobil hitam milik Jake membelah jalanan kota yang mulai dipadati kendaraan pulang kerja. Beda dari sepuluh tahun lalu saat kalian selalu mengandalkan angkutan umum atau jalan kaki, kini Jake menyetir dengan sangat tenang dan piawai. Ada aura kedewasaan yang sangat kental dari caranya mengendalikan kemudi.
Mobil itu akhirnya berhenti di sebuah bangunan dua lantai bercat abu-abu gelap dengan pintu kaca besar di kawasan kota tua. Di papan penanda depan, tertulis nama yang membuat dadamu berdesir: โLuma Studio.โ
โIni... studio kamu?โ tanyamu takjub saat keluar dari mobil.
โYuk, masuk,โ ajak Jake, menggenggam jemarimu tanpa ragu. Sentuhan tangannya yang hangat menyapu buku-buku jarimu, mengirimkan rasa menggelitik yang menyenangkan.
Begitu pintu kaca terbuka, aroma khas cat minyak, kayu, dan kopi langsung menyapa. Lantai satu studio itu dipenuhi dengan rak-rak buku seni, beberapa lukisan setengah jadi yang ditutupi kain, dan meja kerja besar berisi peralatan ilustrasi digital yang sangat modern. Tempat ini sangat bersih, rapi, dan mencerminkan kepribadian Jake yang teliti.
Tapi Jake tidak berenti di lantai satu. Dia menuntunmu menaiki tangga melingkar menuju lantai dua.
Saat pintu lantai dua dibuka, kamu menahan napas.
Lantai atas itu ternyata adalah tempat tinggalnya-sebuah loft minimalis yang hangat. Dan yang paling mengejutkan, tepat di sudut ruangan dekat jendela besar yang menghadap ke pemandangan kota, ada sebuah kanvas raksasa yang tertutup kain putih. Di sekelilingnya, ada ratusan lilin aromaterapi yang sudah menyala, memancarkan aroma lavender dan vanilla yang menenangkan.
(Loft adalah ruang hunian atau apartemen berkonsep tata letak terbuka (open-space) dengan langit-langit sangat tinggi dan minim sekat)
โJake... ini apa?โ tanyamu, terpana melangkah ke tengah ruangan.
Jake berjalan ke belakangmu. Dia meletakkan kedua tangannya di pinggangmu pelan-sebuah gestur posesif tapi lembut yang belum pernah dia lakukan sebelumnya. Dadanya menempel hangat di punggungmu.
โSelama sepuluh tahun, kita cuma hidup dari ingatan dan bayangan,โ bisik Jake tepat di telingamu, suaranya yang serak-serak basah membuat merinding. โKita udah tuntasin masa lalu di tepi sungai minggu lalu, y/n. Dan aku ga mau kita terjebak di sana terus.โ
Dia membalikkan tubuhmu secara perlahan hingga kalian berhadapan. Tatapan mata Jake malam ini sangat intens, tidak ada lagi keraguan atau tirai rahasia di dalamnya.
โHari ini, aku mau mulai masa depan kita. Nyata. Tanpa ada yang disembunyiin lagi,โ lanjutnya.
Jake lalu melangkah ke kanvas raksasa itu dan menarik kain putih yang menutupinya dalam satu gerakan cepat.
Kamu mematung.
Itu bukan sekadar lukisan. Itu adalah lukisan dirimu dalam balutan gaun casual berwarna putih, duduk di antara tumpukan buku dan alat lukis, dengan latar belakang jendela studio ini. Tapi yang membuat dadamu sesak adalah detail kecil di sudut bawah lukisan itu-ada sebuah kunci rumah kecil yang ditempelkan di atas cat minyak yang mengering, lengkap dengan gantungannya.
Gantungan kunci itu berbentuk huruf inisialmu.
โIni studio aku, tapi ini juga rumah aku,โ kata Jake, berjalan mendekatimu kembali. Dia meraih tanganmu, lalu menaruh sebuah kunci duplikat yang sama tepat di telapak tanganmu, membiarkan jemarimu menggegamnya.
โJake, maksudnya...โ
โDulu aku sengaja bikin kamu bingung karena aku ga tahu cara menata duniaku sendiri,โ sela Jake. Tatapannya terkunci pada matamu, napasnya teratur tapi hangat di wajahmu. โTapi sekarang, duniaku udah rapi. Dan aku mau kamu jadi bagian dari setiap sudutnya.โ
Jake memangkas jarak di antara kalian. Tangannya terangkat, mengelus rahangmu lembut sebelum jemarinya menyusup ke sela-sela rambut di belakang kepalamu.
โAku mau bangun tiap pagi dan nemuin kamu di sini. Aku mau antar kamu mengajar tiap hari. Aku mau kamu tahu semua hal tentang aku-hal membosankan, hal aneh, sampai hal paling ga penting sekalipun. Aku mau melangkah maju sama kamu, y/n.โ
Jantungmu berdegup kencang, seolah mau melompat keluar dari rongga dada. Kamu menatap kunci di tanganmu, lalu menatap pria di depanmu yang kini menatapmu dengan kepenuhan cinta yang tak lagi disembunyikan.
โKamu serius?โ bisikmu, suara kamu bergetar antara bahagia dan tak percaya.
โAku pernah ga serius sama kamu?โ balas Jake dengan senyum tipisnya yang menawan.
Tanpa menunggu jawabanmu lagi, Jake memiringkan kepalanya dan merapatkan bibirnya ke bibirmu.
Ciuman itu tidak terburu-buru. Itu adalah ciuman yang dalam, manis, dan sarat akan penantian sepuluh tahun yang akhirnya terbayar tuntas. Sentuhan bibirnya lembut, hangat, menyalurkan segala rasa sayang, kepemilikan, dan rasa syukur yang teramat sangat. Tanganmu secara refleks terangkat, meremas kemeja di dadanya, menahan tubuhmu yang terasa melayang.
Saat Jake akhirnya menarik diri beberapa sentimeter saja dari wajahmu, kening kalian saling menempel. Ibu jarinya mengusap bibir bawahmu pelan, sementara napasnya masih terengah halus.
โJadi, Ibu Guru...โ bisik Jake dengan kekehan renyah di dekat bibirmu, โmau terima kunci rumah ini?โ
Kamu tertawa di tengah napas yang memburu, mengangguk mantap sambil melingkarkan lenganmu di lehernya. โMau. Tapi ada syaratnya.โ
โApa pun,โ sahut Jake cepat tanpa ragu.
โMulai besok, kamu yang harus masak sarapan,โ godamu sambil tersenyum lebar.
Jake tertawa lepas-suara tawa paling bahagia yang pernah kamu dengar seumur hidupmu. Dia mengangkat tubuhmu sebentar, memutar dirimu di udara sebelum memelukmu erat-erat.
โDeal,โ bisiknya di perpotongan lehermu. โBahkan kalau kamu minta aku masakin seumur hidup pun, bakal aku jamin.โ
๊จ๏ธ
Dua tahun semenjak malam di Luma Studio itu berjalan begitu cepat. Tinggal dalam satu atap dan saling melengkapi luka masa lalu membuat kalian makin paham satu sama lain. Jake bukan lagi cowok misterius yang suka menyembunyikan masalah-dia belajar buat cerita, belajar buat mengeluh kalau capek, dan belajar buat manja cuma sama kamu.
Hingga suatu malam di pertengahan bulan Desember.
Malam itu hujan deras menyiram kota. Kamu baru selesai memeriksa tugas gambar siswa SMA-mu di meja makan, sementara Jake fokus dengan kanvas barunya di sudut ruangan. Suasana loft terasa hangat dengan lampu kuning temaram dan aroma teh yang wangi.
โy/n, bisa tolong bantuin aku sebentar?โ panggil Jake pelan dari balik kanvasnya.
Kamu berdiri sambil meregangkan otot leher yang kaku. โBantu apa, Jake? Pegangin cat?โ
โBukan,โ jawab Jake. Dia keluar dari balik kanvas besar itu. Tapi kali ini, dia tidak memegang kuas.
Jake mengenakan kemeja putih kasual favoritmu, rambutnya sedikit acak-acakan tapi matanya berpijar terang. Tanpa pameran kemewahan atau adegan heboh, Jake berjalan mendekatimu, lalu... perlahan meletakkan satu lututnya di atas lantai kayu.
Jantungmu mendadak berhenti berdetak.
โJake... kamu ngapain?โ bisikmu gagap, tanganmu otomatis menutup mulut.
Jake terkekeh pelan-kekehan khasnya yang selalu bikin dadamu berdesir. Dari saku kemejanya, dia mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam kecil dan membukanya. Di dalamnya melingkar sebuah cincin emas putih dengan desain simpel tapi sangat elegan.
โSepuluh tahun aku bikin kamu nunggu tanpa kepastian. Dua tahun terakhir aku ajak kamu tinggal bareng buat ngebuktiin kalau aku udah sembuh dan pantas buat kamu,โ suara Jake terdengar bergetar, tapi tatapannya terkunci mantap pada matamu.
Dia meraih tangan kirimu, mengusap punggung tanganmu dengan ibu jarinya.
โDulu duniaku gelap dan sunyi, y/n. Tapi sekarang, rumah aku itu bukan bangunan ini... rumah aku itu kamu. Dan aku ga mau cuma sekadar โtinggal barengโ. Aku mau mengikat kamu di depan hukum, agama, dan dunia. Aku mau punya hak buat melindungi kamu seumur hidupku.โ
Jake menatapmu dalam-dalam, binar matanya berkaca-kaca menahan rasa haru yang luar biasa.
โWill you marry me, y/n? Janji, habis ini ga akan ada lagi kata lenyap atau sembunyi.โ
Air mata bahagiamu pecah malam itu. Tanpa ragu sedikit pun, kamu mengangguk mantap. โYes! Yes, I will, Jake!โ
Jake tersenyum sangat lebar-senyum paling lepas yang pernah dia miliki. Dia menyematkan cincin itu di jari manismu, lalu berdiri dan merengkuh tubuhmu ke dalam pelukan hangatnya, memutar tubuhmu diiringi suara hujan di luar yang seolah menjadi saksi.
Enam bulan kemudian...
Pernikahan kalian digelar tidak terlalu mewah, tapi sangat intim dan hangat di sebuah area glasshouse bernuansa taman tak jauh dari sungai tempat kalian pertama kali bertemu kembali. Hanya dihadiri keluarga terdekat, teman-teman kampus lama, dan beberapa rekan guru sekolahmu.
Hari itu, Jake terlihat sangat tampan dalam balutan setelan jas hitam yang pas di tubuhnya. Rambutnya ditata rapi, tapi ekspresi wajahnya jujur banget: dia kelihatan sangat gugup sampai tangannya terus-terusan dingin.
Saat kamu melangkah menyusuri lorong dengan gaun pengantin putih yang anggun, mata Jake tidak berkedip sedikit pun. Air mata tergenang di sudut matanya saat melihat kamu berjalan ke arahnya.
Ijab kabul dan pengucapan janji suci berlangsung sangat sakral dan lancar dalam satu tarikan napas.
โSah!โ suara para saksi bergema di dalam ruangan kaca itu.
Begitu dinyatakan resmi sebagai suami istri, Jake langsung meraih tubuhmu dan memelukmu erat sekali-begitu erat seolah takut kamu adalah mimpi yang bisa menghilang saat dia membuka mata.
โTerima kasih udah ga pernah nyerah sama aku, y/n,โ bisik Jake tepat di telingamu saat kalian berpelukan diiringi tepuk tangan riuh para tamu. Tangannya mengelus punggungmu penuh rasa syukur.
Kamu tersenyum manis di dadanya, menatap wajah suamimu yang kini tersenyum begitu cerah tanpa ada lagi bayang-bayang masa lalu yang kelam.
โSelamat datang di babak baru hidup kita, Suamiku,โ godamu pelan.
Jake tertawa renyah, lalu menangkup kedua pipimu dan mendaratkan ciuman manis di bibirmu di bawah pendar cahaya sore yang menembus atap kaca-menandakan bahwa kisah tentang cowok misterius yang dulu pernah lenyap, kini telah menemukan takdir terindahnya untuk menetap selamanya.
to be continued




