Arah Pulang
Jake
ꨄ︎
Malam itu dinginnya menggigit, tapi udara segar di pinggiran sungai dekat taman kota selalu punya cara buat bikin dada terasa lebih lapang. Gemericik air sungai dan pendar lampu taman yang kekuningan menyapa begitu kamu sampai. Di sudut biasa—dekat bangku kayu tua yang catnya mulai mengelupas—seorang cowok berkulit bersih dengan hoodie abu-abu kebesaran sudah duduk menyandar.
Jake.
Sesekali tangannya memainkan batu kerikil, melemparnya pelan ke permukaan air sampai terdengar bunyi pluk halus.
Kamu menghela napas lega, merapatkan jaket setelah seharian bergelut dengan tenggat waktu jam 11 malam dari dosen seni rupa—mereview puluhan foto patung dari folder Google Drive yang bikin mata rasanya mau lepas. Tapi rasa lelah itu agak terobati. Tumben banget Jake ngajak ketemu di Jumat malam sabtu kaya gini. Biasanya dia paling anti keluar malam kalau kamu ga yang minta duluan.
“Woi,” panggilmu pelan sambil mendaratkan diri di sampingnya.
Jake menoleh. Dalam detik itu juga, raut wajahnya yang tadinya datar, dingin, dan sunyi langsung runtuh. Garis bibirnya tertarik membentuk ukiran senyum yang begitu hangat—senyum yang cuma disisakan dunia khusus untuk y/n. Tangannya terulur mengusap puncak kepalamu, sedikit merusak tatanan rambutmu yang sudah acak-acakan dari kampus.
“Tugas patungnya udah kelar, y/n?” suaranya lembut, serak-serak basah yang familiar di telingamu selama enam tahun terakhir.
“Udah, berkat keajaiban menit-menit terakhir,” jawabmu terkekeh, menyandarkan punggung ke bangku kayu. “Tumben banget kamu ngajak keluar jam segini, Jake? Ada apa? Laper?”
Jake cuma ketawa pelan. Tawa yang selalu bikin kamu bingung. Enam tahun berteman, kamu selalu merasa Jake itu seperti teka-teki yang potongan gambarnya sengaja ditiadakan oleh Tuhan. Dia misterius, susah ditebak, dan sifatnya sering berubah-ubah tanpa pola. Kadang dia bisa sangat jahil, kadang mendadak diam seribu bahasa selama berhari-hari.
Tapi satu hal yang pasti: hidup Jake ga pernah mulus. Dari urusan keluarganya yang berantakan, masalah finansial, sampai luka-luka tak kasat mata yang kerap kamu temukan di matanya. Hebatnya, Jake selalu punya seribu cara buat menutup itu semua. Dia cuma bakal tersenyum, menyahut “aku gapapa”, lalu mengalihkan pembicaraan seolah dunianya sedang baik-baik saja. Dia ga pernah membiarkan kamu khawatir, meski kamu tahu dunianya hancur berantakan di balik punggungmu.
“Ga ada apa-apa. Pengen ketemu kamu aja,” ujar Jake santai. Dia meluruskan kakinya, menatap lurus ke arah aliran sungai yang memantulkan bayangan lampu kota. “Pikiran aku lagi agak berisik dari biasanya.”
“Berisik kenapa? Cerita coba sama aku. Jangan diwajah-wajahin senyum terus kalau lagi capek,” tegurmu pelan, menatap profil samping wajahnya yang tegas.
Jake menoleh lagi ke arahmu. Matanya berkilat redup di bawah temaram lampu. “y/n... menurut kamu, kalau seseorang hilang dari hidup kamu, tapi dia ga mati, kamu bakal benci dia ga?”
Dahi berkerut. “Maksudnya gimana? Ya tergantung. Hilang kenapa dulu? Pergi tanpa kabar gitu?”
“Bukan pergi,” potong Jake halus. “Cuma... dunianya yang bergeser. Gimana kalau suatu hari, aku ada di tempat yang sama kaya kamu, tapi kita ga bisa saling sentuh lagi? Gimana kalau aku lenyap dari hidup kamu, tapi aku masih bernapas di suatu tempat?”
“Jake, kamu ngomong apa sih? Aneh banget dari tadi,” kekehmu garing. Ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba merayap di tengkukmu.
Jake tidak menjawab. Dia malah meraih tanganmu, menggenggam jemarimu erat-erat. Dingin. Tangannya terasa begitu dingin malam ini. Dia membawanya ke pipinya sendiri, membiarkan kamu merasakan kehangatan kulitmu menyentuh wajahnya.
“Enam tahun ya, y/n,” gumamnya pelan, matanya menatapmu dengan binar yang sulit diartikan—campuran antara kehangatan yang luar biasa dan rasa kehilangan yang teramat dalam. “Terima kasih ya, udah jadi satu-satunya alasan aku bisa ketawa sejujurnya. Kamu itu... seluruh warna di dunia aku yang abu-abu.”
“Jake...”
“Aku cuma mau kamu janji satu hal,” sela Jake, senyum khasnya kembali terpatri di wajahnya. “Habis ini, hidup yang bagus ya? Kerjain tugas jangan mepet deadline terus. Makanan jangan sering di-skip. Kalau kangen aku... liat aja sungai ini.”
“Kamu mau ke mana sih sebenarnya?!” suara kamu agak meninggi, kepanikan mulai menjalar. Kamu berusaha mencerna jalan pikirannya yang selalu impulsif dan tak tertebak ini.
Jake cuma berdiri dari bangku kayu. Dia mengacak rambutmu sekali lagi, lebih lama dari biasanya.
“Aku balik dulu ya, y/n. Jangan malam-malam pulang ke kosannya.”
Sebelum kamu sempat berdiri dan menahannya, Jake sudah berbalik melangkah pergi. Dia tidak berlari. Langkahnya tenang, menyatu dengan deretan pejalan kaki dan keramaian Jumat malam di sepanjang taman. Kamu berteriak memanggil namanya, tapi dia hanya melambaikan tangan tanpa berbalik.
Dan malam itu... jadi malam terakhir kamu melihat Jake.
Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan.
Jake lenyap.
Bukan karena dia meninggal—kamu tahu pasti itu. Nomornya masih aktif tapi tidak pernah membalas pesan. Rumahnya kosong melompong dengan papan ‘Dijual’. Kampus menyatakan dia mengajukan pengunduran diri secara mendadak tanpa alasan yang jelas. Teman-temannya ga ada yang tahu dia ke mana.
Dia tidak mati. Jantungnya masih berdetak di suatu tempat di bumi ini. Tapi keberadaannya di duniamu... hilang tanpa jejak. Seperti dihapus begitu saja dari kenyataan yang kamu jalani.
Sore itu, di musim yang berbeda, kamu kembali duduk di bangku kayu tepi sungai itu. Angin berembus membawa kenangan enam tahun bersama cowok paling misterius yang pernah kamu kenal. Cowok yang menyimpan seluruh rasa sakitnya sendirian, lalu memilih untuk lenyap begitu dunianya terlalu berat untuk menampung kalian berdua.
Kamu merogoh saku, mengeluarkan sebuah ponsel tua yang seminggu lalu dikirimkan ke alamat kosanmu tanpa nama pengirim—hanya berisi satu rekaman suara pendek tertanggal malam Jumat itu.
Kamu menekan tombol play.
Suara kresek-kresek terdengar, disusul napas teratur dan suara serak yang begitu kamu rindukan.
“y/n... maaf ya. Maaf aku ga bisa terus ada di samping kamu. Dunia aku terlalu berantakan buat disandingkan sama dunia kamu yang terang. Kalau aku tetap bertahan di dekat kamu, aku cuma bakal seret kamu ke dalam kegelapan aku. Jadi... aku memilih buat lenyap dari hidup kamu, bukan dari dunia.
Aku masih ada, y/n. Aku masih bernapas, masih hidup di bawah langit yang sama kaya kamu. Tapi biarlah aku jadi bisikan angin yang cuma lewat. Jangan cari aku ya? Biarkan aku menyimpannya sendiri. Makasih udah pernah jadi senyum aku. Bahagia terus ya, y/n.”
Audio berakhir.
Kamu menatap aliran sungai yang tenang di depanmu. Tidak ada air mata yang menetes, hanya ada kehampaan yang menjalar melingkupi dada. Jake benar-benar cowok yang susah ditebak. Bahkan di akhir kisahnya denganmu, dia tidak memberikan perpisahan tragis seperti di novel-novel—dia hanya memilih untuk menjadi asing kembali.
Dia ada, tapi tak lagi tergapai. Dan bagi hatimu, lenyapnya Jake dari duniamu terasa jauh lebih menyiksa daripada sebuah kematian.
to be continued
ꨄ︎





HYYY MOMMYYYYY SENENGGG BANGET ADA BANYAKK UPTADEEEE YEYYYY, SEHAT SEHATT TERUS YAA MOMMYYYY KUUU, SEMANGATTT TERUSSSS MOMMYYYY🩷🩷🩷, anu mommyyy mau fict sunghoon, karena lagi rindu🥺🥺☝🏻