Minggu pagi itu, Jakarta belum sepenuhnya terbangun dari lelapnya. Sisa-sisa hujan semalam meninggalkan aroma tanah basah yang dingin dan udara yang relatif bersih dari kepulan polusi.
Di depan pintu pagar kosanmu, sebuah Honda Civic hitam sudah terparkir rapi sejak pukul enam kurang seperempat. Riki berdiri bersandar pada pintu pengemudi, mengenakan kaus polos warna putih dilapisi kemeja linen tipis biru yang lengannya digulung asal hingga siku. Celana chinos cokelat longgar dan sepatu kets putih melengkapi tampilannya yang sangat santai—sangat berbeda dari penampilan biasanya yang serba gelap dan tegang saat di kampus.
Ketika pintu pagar kayu kosanmu berderit terbuka, Riki langsung menoleh. Matanya terkunci padamu. Kamu keluar membawa sebuah tas kain kecil. Kamu mengenakan gaun terusan kain katun melayang berwarna kuning gading dengan garis leher rendah yang sederhana, dilapisi cardigan rajut tipis warna krem. Rambutmu dibiarkan terurai bebas, hanya diikat sebagian kecil di belakang menggunakan pita kain warna senada. Tidak ada riasan tebal, hanya sedikit pelembab bibir dan sedikit perona di pipimu yang memerah alami terkena udara pagi.
Riki terpaku di tempatnya selama beberapa detik, lupa mematikan puntung rokok yang sengaja tidak dia nyalakan sejak tadi.
“Kenapa, Ki? Ada yang aneh ya sama baju aku?” tanyamu pelan sambil merapikan ujung gaunmu yang tertiup angin pagi.
Riki tersentak kecil. Dia menggelengkan kepalanya pelan, lalu sebuah senyuman tipis yang hangat terkembang di bibirnya. Dia melangkah mendekat, memangkas jarak di antara kalian.
“Gak ada yang aneh,” bisik Riki dengan suara beratnya yang baru bangun tidur. Tangannya terangkat secara alami, merapikan helai rambutmu yang tersingkap angin dan menyelipkannya di belakang telingamu. “Kamu cantik banget pagi ini. Bikin aku gak mau ngajak kamu ke tempat ramai.”
Kamu tertawa renyah—suara tawa renyah yang kini selalu menjadi favorit Riki. “Loh, emang kita mau ke mana? Kamu kan kemarin cuma bilang suruh siap-siap jam enam pagi.”
“Taman Tabebuya,” jawab Riki singkat sambil membukakan pintu penumpang depan untukmu. “Taman kota kecil di Selatan yang sepi kalau pagi. Gue... eh, aku mau bawa kamu ke sana sebelum ramai orang olahraga.”
Perubahan cara Riki menyebut dirinya dari ‘gue’ menjadi ‘aku’ saat bicara dua mata denganmu masih membuat dadamu bergetar hebat. Ada rasa manis yang meletup-letup di dalam dadamu melihat bagaimana cowok yang dulu paling keras kepala ini berusaha keras membiasakan diri demi dirimu.
Kamu melangkah masuk ke dalam kabin mobil yang sudah wangi aroma kopi hangat. Di atas tempat minum konsol tengah, sudah bertengger dua cangkir kopi susu gula aren dari kedai favoritmu, lengkap dengan satu kotak sarapan roti bakar keju.
“Aku udah beliin sarapan,” kata Riki saat dia duduk di balik roda kemudi dan menyalakan mesin. “Nanti dimakan di jalan ya, kalau kamu lapar.”
Kamu menatap roti bakar dan kopi itu, lalu menatap Riki yang mulai memutar setir meninggalkan area kosan. “Kamu beneran hafal semua yang aku suka sekarang ya, Ki?”
Riki melirikmu sekilas lewat kaca spion tengah, lalu menatapmu langsung saat mobil berhenti di lampu merah pertama. Tangannya yang bebas dari setir bergerak perlahan di atas konsol tengah, lalu menyusupkan jemarinya di antara jemarimu—menggenggam tanganmu dengan erat dan hangat.
“Aku hafal semuanya, (Y/N),” bisik Riki jujur. “Dan aku bakal punya banyak waktu buat mempelajari hal-hal baru yang kamu suka mulai hari ini.”
Perjalanan menembus Jakarta Selatan di Minggu pagi berjalan sangat lancar. Tanpa kemacetan lalu lintas yang biasa membakar emosi, Honda Civic itu meluncur mulus menembus jalanan rindang, membawa kalian menuju kawasan taman tersembunyi itu dalam waktu kurang dari setengah jam.
Riki memarkir mobilnya di sudut area parkir yang paling teduh. Taman Tabebuya pagi ini masih sangat tenang. Tidak ada kerumunan orang berjualan atau bising kendaraan. Yang ada hanya hamparan rumput hijau yang masih terpercik embun, kolam teratai kecil yang tenang di tengah taman, serta deretan pohon rimbun yang menaungi bangku-bangku kayu di sepanjang jalurnya.
Matahari pagi baru saja naik setinggi galah, memancarkan sinar keemasan yang hangat dan merembes indah di sela-sela dedaunan canopy pohon. Udara pagi terasa begitu sejuk dan bersih, menerbangkan ujung gaun katunmu.
Riki turun dari mobil membawa sebuah tikar piknik kain motif kotak-kotak yang sengaja dia siapkan dari rumah, bersama sebuah tote bag besar berisi peralatan gitarnya. “Kamu bawa gitar juga, Ki?” tanyamu terheran-heran saat kalian berjalan beriringan menyusuri jalan setapak taman yang dilingkupi pepohonan asri.
“Iya,” jawab Riki tenang, tangannya yang satu lagi menggenggam erat jemarimu, memastikan kamu berjalan nyaman di atas rumput. “Aku merasa lagu-lagu aku kurang bagus kalau gak dinyanyiin di depan kamu sambil dengerin suara gemericik air dan burung pagi.”
Kamu terkekeh pelan, menyandarkan kepalamu sebentar ke bahu tegap Riki saat kalian berjalan. “Sejak kapan seorang Nishimura Riki jadi puitis begini?”
“Sejak aku nyaris kehilangan kamu,” balas Riki singkat namun telak, membuat langkahmu sempat terhenti sejenak karena kejujuran di balik kalimatnya.
Kalian akhirnya memilih sudut paling privat di tepi kolam teratai kecil. Riki menggelar tikar kainnya di atas padang rumput yang bersih di bawah naungan pohon rimbun, lalu mengajakmu duduk membelakangi jalur utama taman. Di depan kalian, terhampar permukaan air kolam yang tenang memantulkan bayangan langit pagi, tanpa ada kebisingan kota. Hanya ada kalian berdua, gemerisik dedaunan tertiup angin, dan kicauan burung yang lembut.
Kamu melepas sandal teplekmu, menaikkan lutut pelan dan membiarkan jemari kakimu merasakan sejuknya rumput di tepi tikar. Riki duduk di sampingmu, cukup dekat hingga lengan baju kalian saling bergesekan. Dia mengeluarkan gitar akustik kesayangannya dari dalam tas, menyetem senarnya sebentar, lalu membiarkan instrumen itu bertengger di pangkuannya.
“Kamu tahu gak, Ki?” katamu pelan, menatap lurus ke arah bunga teratai yang bermekaran di atas air kolam. “Apa?” tanya Riki lembut, pandangannya tidak tertuju pada kolam, melainkan pada profil samping wajahmu yang tersiram sinar matahari pagi.
“Dulu, pas aku masih ngejar-ngejar kamu kayak orang gila...” kamu menghirup napas dalam-dalam, merasapi udara sejuk taman yang menyejukkan. “...aku selalu membayangkan gimana rasanya kalau kita bisa jalan berdua kayak gini. Tanpa kamu yang ketus, tanpa aku yang terpaksa berakting manja cuma buat ditarik perhatiannya.”
Riki menghentikan jemarinya di atas senar gitar. Raut wajahnya mendadak berubah agak serba salah. Ada sisa-sisa rasa bersalah yang kembali mencubit hatinya tiap kali kamu mengingat masa-masa itu. “Sori...” bisik Riki pelan, menundukkan kepalanya. “Aku benar-benar minta maaf buat masa lalu itu, (Y/N).”
Kamu memutar badanmu menghadap Riki. Melihat raut cemas di wajah cowok itu, kamu tersenyum hangat. Tanganku terangkat, meraih jemari Riki yang sedang memegang fretboard gitar dan mengusapnya lembut.
“Aku gak ngomong gitu buat bikin kamu merasa bersalah, Riki,” bisikmu tulus. “Aku cuma mau bilang... kenyataan hari ini ternyata jauh lebih indah daripada semua khayalan aku dulu. Kamu yang ada di depan aku sekarang jauh lebih manis dari Riki yang ada di bayangan aku.”
Riki mengangkat matanya, menatap lurus ke dalam matamu. Senyuman lega yang sangat tampan perlahan terukir di bibirnya. Dia menghembuskan napas panjang, lalu membalas genggaman tanganmu. “Makasih,” kata Riki parau. “Makasih karena gak menyerah sama aku, walaupun aku pernah jadi orang paling brengsek di hidup kamu.”
Pagi makin merambat naik, namun sudut taman itu tetap tenang dan privat. Riki mulai memetik senar gitarnya. Bukan lagu pop hits yang biasa dimainkan di kampus, bukan pula lagu jazz-ballad yang kalian bawakan saat Festival Fakultas. Riki memainkan sebuah melodi baru—sebuah petikan nada fingerstyle yang sangat lembut, hangat, dan belum pernah kamu dengar sebelumnya. Nada-nadanya mengalun santai, menyatu secara sempurna dengan embusan angin pagi yang menggoyangkan ranting-ranting pohon di atas kalian.
“Ini lagu apa, Ki? Aku baru pernah denger,” tanyamu penasaran, menopang dagu dengan kedua tangan sambil memperhatikan jemari Riki yang menari lincah di atas senar.
Riki tersenyum tipis, matanya tetap fokus pada gitar. “Lagu baru. Belum ada judulnya.”
“Kamu yang bikin?”
“Iya. Aku bikin lagu ini seminggu lalu... pas malam-malam aku gak bisa tidur gara-gara mikirin gimana caranya ngajak kamu kencan pertama tanpa bikin kamu merasa risih.”
Dadamu bergetar mendengar pengakuan jujur itu. Kamu menatap bagaimana sinar matahari pagi menembus helai rambut hitam Riki, menyoroti garis rahangnya yang tegas dan bulu matanya yang lentik saat dia fokus memainkan musik. Cowok ini benar-benar telah menyerahkan seluruh perhatian dan perasaannya padamu.
Riki mulai menyanyikan bait-bait lagu itu dengan suara beratnya yang rendah dan hangat. Liriknya sederhana, bercerita tentang seseorang yang berjalan di dalam kegelapan dan dingin, sampai akhirnya sebuah cahaya kecil datang meruntuhkan semua dinding pertahanannya. Lirik itu bercerita tentang pencarian, penyesalan, dan kedamaian yang akhirnya ditemukan pada sosok cewek yang ada di sampingnya.
Saat lagu itu mencapai nada terakhirnya, Riki membiarkan getaran senar gitarnya memudar perlahan disapu angin taman. Dia meletakkan gitarnya di atas tikar, lalu berbalik mengikis sisa jarak di antara kalian. Riki meraih kedua belah tanganmu, menangkupnya di dalam genggaman tangannya yang besar dan hangat.
“(Y/N),” panggil Riki pelan.
“Iya, Riki?”
“Aku tau kita baru aja resmi mulai jalanin ini,” kata Riki, tatapan mata hitamnya begitu dalam dan intens menatap matamu. “Tapi aku mau kamu tau satu hal. Kamu gak perlu lagi berubah jadi siapa-siapa buat aku. Kamu gak perlu lagi memaksakan diri buat jadi tipe cewek yang kamu pikir bakal aku suka.”
Riki meremas jemarimu lembut. “Aku cinta sama kamu yang sekarang. Cewek anggun, mandiri, dan punya hati seluas ini yang berdiri di depan aku. Kamu adalah rumah tempat aku mau pulang.”
Air mata kebahagiaan yang hangat perlahan menggenang di sudut matamu. Kata-kata Riki bukan sekadar obralan manis, kamu bisa merasakan kesungguhan yang membakar di setiap suku katanya. “Aku juga cinta sama kamu, Riki,” balasmu dengan suara yang agak bergetar tahan haru. “Terima kasih sudah mau belajar memahami aku.”
Riki tersenyum sangat manis. Dia memajukan badannya, menangkup sebelah pipimu dengan tangannya yang hangat, lalu menundukkan kepalanya secara perlahan.
Di tepi kolam taman yang sepi, di bawah bungan dan naungan pohon hijau serta pendar sinar matahari keemasan, Riki mencium bibirmu dengan kelembutan yang begitu dalam dan penuh rasa hormat. Tidak ada lagi ketakutan, tidak ada lagi rasa canggung atau dinding gengsi yang memisahkan. Hanya ada dua jiwa yang akhirnya menemukan tempo yang paling sempurna untuk berjalan bersama.
Siang mulai menjelang saat kalian akhirnya memutuskan untuk membereskan tikar piknik. Riki membantumu memakai kembali sandal teplekmu, bahkan sempat berlutut di atas rumput hanya untuk merapikan tali sandalnya yang agak terbelit—sebuah tindakan sederhana yang membuat jantungmu berdesir hebat melihat bagaimana dia memperlakukanmu seperti seorang putri.
Saat berjalan kembali menuju parkiran mobil, kalian saling bergandengan tangan, saling menautkan jari-jari dengan sangat erat. “Habis ini mau makan siang di mana, Ki?” tanyamu sambil mengayunkan genggaman tangan kalian pelan.
“Ada kedai kafe kecil di daerah Wijaya yang tempatnya asri dan gak terlalu bising,” jawab Riki lancar. Rupanya dia sudah merencanakan seluruh alur kencan pertama ini dengan sangat matang dari A sampai Z. “Habis itu aku anter kamu pulang ke kosan biar kamu bisa istirahat.”
Kamu menoleh menatap Riki dari samping. “Kok cepet banget pulangnya? Aku masih mau jalan bareng kamu.”
Riki menghentikan langkahnya di dekat mobil, berbalik menatapmu dengan senyuman jahil yang membuat ketampanannya makin memancar. Riki menarik genggaman tanganmu hingga tubuhmu mendekat ke dadanya.
“Aku gak mau bikin kamu capek di kencan pertama kita, (Y/N),” bisik Riki di depan wajahmu, matanya memancar hangat. “Lagian... kita kan punya banyak hari minggu lainnya di depan kita. Aku bakal bawa kamu ke tempat-tempat tenang lainnya yang kamu suka.”
Kamu tertawa pelan, menyandarkan dahi ke dada tegap Riki, menghirup aroma wangi sandalwood dari kemeja linennya yang kini terasa begitu akrab dan menenangkan.
“Janji ya?” bisikmu dari balik dadanya.
Riki merangkul pinggangmu dengan kedua tangannya, melingkarkan pelukan hangatnya di tubuhmu di tengah udara taman yang cerah.
“Janji,” balas Riki mantap, lalu mengepalkan kecupan hangat di puncak kepalamu. “Aku janji.”
Kencan pertama yang sederhana di taman tersembunyi itu menjadi penanda resmi bahwa masa lalu yang kelam telah sepenuhnya usai. Lagu baru mereka telah dimulai—sebuah lagu manis dengan tempo yang pas, dimainkan oleh dua orang yang telah belajar saling menghargai dan mencintai dengan cara yang paling benar.
🎸
Makan siang di kafe asri daerah Wijaya berlangsung sangat hangat. Riki yang dulunya bahkan enggan duduk di meja yang sama saat di kantin kini sibuk memotong hidangan dan memastikan piringmu terisi. Dia memastikan kamu makan dengan tenang, mengusap sudut bibirmu yang terkena bumbu dengan tisu, dan mendengarkan setiap cerita kecil tentang masa kecilmu dengan antusiasme yang tak pernah pudar.
Begitu selesai makan siang dan hari mulai merambat menuju sore, Riki tidak langsung membawamu pulang ke kosan. “Ki, ini kan bukan jalan pulang ke arah kosan aku?” tanyamu heran saat menyadari Honda Civic Riki meluncur melewati gerbang tol dan mengarah ke daerah Sentul yang sejuk.
Riki melirikmu sekilas dari balik roda kemudi, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman misterius. “Aku tahu kamu belum mau pulang. Lagian udara Jakarta siang ini agak panas, kan? Aku mau bawa kamu ke satu tempat yang adem.”
“Ke mana?”
“Hutan Pinus Sentul,” jawab Riki pelan. “Ada area jalan setapak di atas bukit yang sepi. Ada kedai kopi kayu kecil di tengah pohon pinus. Tempatnya tenang banget, cocok buat duduk santai sambil nunggu sunset.”
Dadamu bergetar manis. Riki benar-benar memperhitungkan segalanya demi memastikan kencan pertama kalian jauh dari keramaian dan kebisingan kota yang membuat tegang.
Dua puluh menit kemudian, mobil Riki membelah celah pegunungan Sentul. Udara sejuk bersuhu dua puluh derajat langsung menyergap saat Riki membuka sedikit kaca jendela mobil. Bau tanah basah, daun pinus yang segar, dan hembusan angin gunung menggantikan hawa hangat kota tadi siang.
Riki memarkir mobilnya di bawah rindangnya pohon pinus raksasa. Kamu dan Riki berjalan menyusuri jalan setapak tanah yang ditutupi guguran daun pinus kering. Suasananya begitu damai. Hanya ada derit gesekan dahan pohon yang tertiup angin, cicit burung liar, dan suara pijakan sepatu kalian. Riki menggenggam tanganmu sangat erat, memasukkan jemarimu yang agak dingin terkena angin gunung ke dalam saku kemeja linennya agar tetap hangat.
“Dingin ya?” tanya Riki lembut, menghentikan langkahnya di bawah salah satu pohon pinus yang tinggi.
“Agak dingin, tapi seger banget, Ki,” jawabmu sambil menghirup udara gunung yang bersih. “Aku suka banget tempat ini. Riki kok tahu tempat sepi kayak gini sih?”
Riki tersenyum tipis, membetulkan letak cardigan rajutmu agar menutup dada dengan rapat. “Dulu pas gue—maksud aku, pas aku lagi jenuh banget sama urusan musik atau lagi kesel... aku sering ke sini sendirian. Cuma duduk, ngerokok, dengerin suara angin. Tapi sekarang...”
Riki mengikis jarak, menatap matamu lurus-lurus di antara tembusan sinar matahari sore yang menerobos celah-celah daun pinus. “Sekarang aku gak perlu sendirian lagi kalau ke sini. Karena ada kamu.”
Kalian sampai di kedai kopi kayu kecil yang berada di atas bukit. Kedai itu hanya berupa bangunan panggung kayu sederhana dengan meja-meja luar ruangan yang menghadap langsung ke lembah hijau. Hanya ada dua pasangan lain yang duduk berjauhan, menciptakan privasi yang sangat sempurna.
Riki memesankan dua cangkir hot hazelnut latte hangat dan sepiring churros hangat bertabur gula kayu manis. Kalian duduk di meja kayu paling ujung, membiarkan kaki kalian menggantung santai menatap pemandangan lembah yang perlahan diselimuti kabut tipis sore. Sinar matahari senja berwarna jingga keemasan membias indah di langit barat.
Kamu menyesap kopi hangatmu, merasakan aliran kehangatan merayap di tenggorokanmu. “Enak banget kopinya, Ki.”
Riki tidak meminum kopinya sendiri. Dia bersandar pada sandaran kursi kayu, menopang dagunya dengan satu tangan sambil menatap wajahmu tanpa kedip. Sinar matahari senja memantul indah di bola matanya yang hitam, menonjolkan garis rahang dan ketampanannya yang begitu tajam.
“Kenapa ngeliatin aku gitu terus dari tadi?” tanyamu, merasa pipimu agak memanas terkena tatapan intensnya.
“Aku cuma masih gak percaya,” bisik Riki jujur, suaranya pelan dan dalam. “Gue... aku pernah hampir kehilangan cewek seindah ini cuma gara-gara gengsi sialan aku.”
Kamu meletakkan cangkir kopimu di atas meja, lalu mengulurkan tanganmu menyentuh punggung tangan Riki. “Riki, kita kan udah janji gak bakal bahas penyesalan itu lagi. Yang penting itu sekarang dan nanti.”
Riki menatap jemarimu yang memegang tangannya, lalu membalikkan telapak tangannya untuk menggenggam jemarimu balik dengan sangat lembut. Dia mengangkat tanganmu ke atas, memajukan badannya, lalu mengecup punggung tanganmu dengan sangat lama. Sensasi bibir Riki yang hangat di kulit punggung tanganmu membuat dadamu bergetar hebat.
“Terima kasih ya, (Y/N),” bisik Riki dari balik jemarimu. “Terima kasih sudah hadir di hidup aku. Terima kasih sudah mengajarkan aku cara mencintai yang benar.”
“Sama-sama, Riki,” balasmu manis, mengusap pipi Riki dengan tanganmu yang satu lagi.
Di atas bukit pinus Sentul yang tenang, di hadapan pemandangan matahari terbenam yang memerah megah, kalian menikmati sore pertama kalian sebagai sepasang kekasih. Riki menyandarkan kepalamu ke bahu tegapnya, merangkul pinggangmu rapat-rapat dalam dekapannya yang hangat, membiarkan waktu bergulir lambat dalam irama tempo baru yang penuh dengan kebahagiaan yang utuh.
to be continued..
enak enaknya kapan ya enaknya?





nanti malam bisa lah ya
Tuh kn ki asik pny pacar mana modelanny kek y/n lg, jgn disia2in lg ntr nyesel 7 turunan😏