jangan lupa like
Beberapa pekan berlalu dengan alur yang begitu cepat namun tertata rapat. Di dalam ruangan apartemen milik Heeseung, laboratorium mini yang tadinya cuma diisi oleh tiga monitor dan deretan server analisis data kini telah bertransformasi total. Setiap malam seusai jam kuliah selesai, ruangan itu berubah menjadi pusat riset dan pengujian fisik bagi Jake. Heeseung, dengan ketelitian logis dan kepakarannya dalam membedah data digital, bekerja tanpa kenal lelah mengamati setiap perubahan molekuler di dalam darah Jake.
Prosesnya tentu saja tidak berjalan semulus jalan tol. Banyak masa trial and error yang harus mereka lewati bertiga. Ada malam-malam di mana formula suplemen yang diracik Heeseung membuat suhu tubuh Jake melonjak tinggi selama satu jam, atau saat uji ketahanan otot membuat metabolisme Jake mendadak turun tipis. Namun, perkembangan yang ditunjukkan tubuh Jake jauh lebih pesat dari bayangan mereka.
Berkat asupan nutrisi makro yang sesuai kombinasi protein sintetis murni, asam amino, dan ekstrak madu dosis tinggi yang diformulasikan Heeseung, tubuh Jake tidak lagi mengalami kelelahan ekstrem hingga pingsan kritis seperti saat insiden menahan truk kontainer waktu itu.
Sensasi Spidey-Sense di belakang kepalanya kini bisa dialihkan menjadi refleks pertahanan yang terukur. Jake belajar mengendalikan daya tempel telapak tangannya, mengarahkan densitas tembakan jaring organiknya agar tidak terlalu banyak menyedot nutrisi darah, dan yang paling penting dia tidak lagi gampang sakit-sakitan.
Heeseung sendiri berkali-kali menggelengkan kepala sambil berdecak kagum saat memeriksa grafik pemulihan seluler Jake di layar monitor.
“Anak ini bener-bener gila,” celetuk Heeseung pada suatu malam sambil menunjuk grafik regenerasi jaringan otot Jake yang naik seratus persen hanya dalam waktu dua jam. “Laju pembelahan sel darah merahnya mantep banget. Kalau gue publikasikan data ini ke jurnal internasional, gue bisa dapet Nobel Bioteknologi. Tapi tenang aja, rahasia lo aman di tangan gue, Jake.”
Meskipun kontrol fisiknya sudah jauh lebih stabil dan jadwal risetnya padat, panggil imbauan dari nuraninya tidak pernah padam. Di malam-malam tertentu saat sirene polisi melolong di kejauhan atau saat Spidey-Sense-nya bergetar menangkap sinyal bahaya dari sudut-sudut kota, Jake tetap menyelinap keluar dari balkon apartemen Heeseung.
Dengan topeng kain hitam yang melingkupi separuh wajahnya dan hoodie gelap yang menutupi postur tubuhnya, Jake terus bertindak sebagai pahlawan rahasia tanpa nama. Dia membongkar aksi pencurian kendaraan, menggagalkan perampokan di toko kelontong 24 jam, dan menolong warga yang tersudut di gang sepi. Masyarakat kota mulai menyebutnya ‘SpiderMan’, namun tidak ada satu orang pun yang mengetahui bahwa di balik topeng hitam itu adalah seorang mahasiswa yang pendiam.
Sore itu, angin berembus agak kencang membawa aroma tanah basah seusai hujan gerimis. Jake menghentikan sedan silver milikmu tepat di pelataran parkir apartemen tua peninggalan almarhumah tantenya. Sudah hampir sebulan Jake tidak menginjakkan kaki di tempat tinggal aslinya ini semenjak kejadian malam pertama kalian menyusupkan data.
“Masih sama aja ya baunya,” gumam Jake pelan saat kunci pintunya berputar dengan decitan khas, membuka akses masuk ke dalam apartemen tuanya.
Kamu melangkah masuk di belakangnya, mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang tamu kecil itu. Papan tulis putih berisi corat-coret rumus semalam masih berdiri di sana, beberapa buku kalkulus tersusun rapi di meja—bekas sentuhan jemarimu saat pertama kali kamu membereskan tempat ini beberapa pekan lalu.
“Rapi kok. Nggak sekotor yang gue bayangin,” katamu sambil tersenyum hangat, menyapukan pandangan ke sudut ruangan yang kini sudah bersih dari jaring-jaring tua. “Soalnya waktu itu udah dibersihin sama orang terajin di dunia,” goda Jake tipis sambil melirikmu dari balik kacamata bolongnya.
Kamu memutar bola matamu, menahan tawa gembira. “Bisa aja lo. Yaudah, mana barang-barang yang mau diambil buat dibawa ke tempat Mas Heeseung?”
Jake membawa kamu melangkah menuju kamar tidurnya yang sederhana. Di sana, di atas meja belajarnya, tersusun beberapa jurnal penelitian lama milik tantenya dan sebuah kotak peralatan menjahit tebal yang kelihatan agak asing berada di kamar seorang cowok. Namun, perhatianmu langsung tersita oleh sebuah bentangan kain yang tertata rapi di atas kasur tunggal milik Jake. Itu bukan lagi sweater longgar atau hoodie hitam oversize yang biasa dia pakai.
Di atas kasur itu, terbentang sebuah setelan kostum atletis yang dirancang sangat presisi. Kostum itu memadukan bahan Form-fitting athletic spandex berwarna gelap yang sangat fleksibel, dilapisi oleh textured tactical bodysuit di bagian dada dan bahu untuk menahan benturan fisik, serta paduan flexible neoprene material di area sendi pergelangan tangan dan lutut agar pergerakannya tetap bebas saat melayang di antara gedung-gedung tinggi.
Kamu mendekati kasur itu, menyentuh tekstur bahan neoprene-nya yang halus namun sangat kuat di bawah jemarimu.
“Jake... ini...” matamu membelalak kagum. “Lo yang jahit ini semua sendirian?”
Jake berdiri di sampingmu, mengusap leher belakangnya dengan raut wajah yang agak canggung dan sedikit malu. Rona merah tipis menyapu pipinya.
“Iya...” aku Jake pelan, suaranya terdengar begitu jujur. “Tiga bulan terakhir, selain latihan nempel di tembok, gue nyoba belajar menjahit pakai mesin jahit tua punya tante gue. Bahan spandex sama neoprene-nya gue beli ketengan dari tabungan paruh waktu gue. Bahan ini dirancang khusus supaya bisa meredam gesekan angin dan menahan aliran panas dari kelenjar jaring di pergelangan tangan gue.”
Kamu menatap kostum itu, lalu menatap Jake dengan rasa takjub yang tak terpikirkan. Cowok di depanmu ini benar-benar memikirkan setiap detail kehidupannya dengan begitu mandiri dan tekun.
“Tapi... ini belum sempurna,” lanjut Jake sambil mengambil kostum bagian atas tersebut dari kasur. “Bahan di bagian punggung sama bahu belakangnya masih agak kaku pas dipasang. Gue butuh nyobain kostum ini langsung sekarang buat ngetes rentang geraknya sebelum kita bawa barang-barang ini ke tempat Mas Heeseung.”
“Yaudah, cobain gih!” dorongmu bersemangat. “Gue mau lihat gimana wujud asli pahlawan super kota ini kalau pakai kostum beneran!”
Jake terkekeh pelan melihat antusiasmemu. “Oke. Jangan ketawa ya kalau kelihatan aneh di badan gue.”
Jake membawa kostum itu ke kamar mandi kecil di dalam kamar untuk berganti pakaian. Sementara menunggu, kamu duduk di tepi tempat tidur kayu milik Jake, mengamati suasana kamar yang tenang itu. Ada rasa hangat yang tak terucapkan yang perlahan memenuhi dadamu setiap kali kamu berada dekat dengan cowok ini.
Beberapa menit kemudian, suara engsel pintu kamar mandi terdengar terbuka.
“Umm... (Y/N)?” panggil Jake pelan dari balik pintu. “Bagian ritsleting di punggung belakangnya agak macet... Gue agak susah jangkau ke belakang.”
kamu tersenyum tipis. “Sini, gue bantu.”
Kamu berdiri dan melangkah mendekati pintu kamar mandi. Begitu pintu terbuka penuh, napasmu mendadak tertahan di tenggorokan untuk beberapa detik.
Setelan bodysuit itu melekat sangat pas di tubuh Jake. Bahan form-fitting spandex dan neoprene tebal itu membentuk lekuk postur tubuhnya dengan begitu sempurna menampilkan bahunya yang lebar, dadanya yang tegap, serta pinggangnya yang ramping. Kostum berwarna hitam keabu-abuan dengan garis tekstur perak di area pergelangan tangan itu membuat aura Jake Sim berubah total dari seorang mahasiswa biasa menjadi sosok pelindung yang begitu mengagumkan.
Namun, ritsleting di bagian punggung belakangnya memang masih terbuka separuh, memperlihatkan sebagian kulit punggung Jake yang mulus dan otot-ototnya yang menegang halus. Jake membalikkan badannya membelakangimu, agak menundukkan kepalanya. “Agak kaku bahannya, jadi ritsletingnya nyangkut di tengah.”
“Iya, kaku banget bahannya...” bisikmu dengan suara yang mendadak agak pelan.
Kamu melangkah satu sentimeter lebih dekat ke balik punggungnya. Jarak di antara kalian mendadak terasa begitu tipis. Kamu bisa merasakan kehangatan suhu tubuh alami Jake yang terpancar dari kulit punggungnya yang terbuka, bersatu dengan wangi lembut deterjen dan aroma citrus khas yang selalu menempel pada dirinya.
Jemari tanganmu yang halus terangkat pelan, menyentuh kepala ritsleting logam di bagian pinggang belakang Jake. Saat jarimu tidak sengaja bersentuhan tipis dengan kulit punggungnya, kamu bisa merasakan bagaimana tubuh Jake sedikit tersentak halus, reaksi refleks yang begitu sensitif.
Jantungmu berdetak dengan irama yang pelan namun sangat dalam. Pelan. Ada pendar perasaan hangat yang tak bersuara merayap di antara aliran darah kalian berdua. Kamu menarik ritsleting logam itu perlahan ke atas. Kain spandex tebal itu mengatup mulus menyelimuti punggung Jake, merapat sempurna di antara belikatnya hingga mencapai batas leher belakangnya.
Setelah ritsletingnya tertutup rapat, jemarimu tidak langsung menjauh. Telapak tanganmu bertahan satu detik lebih lama di atas bahu kokoh berselimut neoprene milik Jake, mengusap bekas lipatan kainnya dengan kelembutan yang teramat tulus. Jake perlahan memutar tubuhnya kembali menghadapmu. Jarak kalian kini begitu dekat—hanya terpisah belasan sentimeter. Jake menundukkan pandangannya sedikit untuk menatap matamu. Tanpa kacamatanya, iris mata cokelat tuanya yang jernih memantulkan bayangan wajahmu dengan begitu utuh di bawah sorotan lampu kamar yang redup.
Napas kalian berdua berembus teratur dalam keheningan yang tenang. Tidak ada kata-kata puitis yang terucap, tidak ada pengakuan cinta yang gamblang, namun dari cara Jake menatapmu dengan kedalaman rasa percaya, rasa terima kasih, dan kepedulian yang membuncah kamu tahu bahwa di balik kostum pelindung ini, hati Jake Sim telah sepenuhnya ditambatkan padamu.
Jake mengulurkan tangannya pelan, ujung jarinya menyapu satu helai rambutmu yang terlepas di dekat pipimu, lalu menyatukannya kembali ke belakang telingamu dengan kelembutan yang amat sangat.
“Pas banget...” bisik Jake pelan, suaranya terdengar rendah dan begitu hangat di dalam ruangan. “Makasih ya, (Y/N).”
Kamu menyunggingkan senyuman terhangatmu, menatap matanya tanpa sedikit pun berpaling. “Sama-sama, Jake Sim. Kostum ini... kelihatan keren banget di badan lo.”
Jake tersenyum tipis, senyuman tulus yang terpancar mulus dari bibirnya, meruntuhkan seluruh dinding pertahanan masa lalunya yang dulu kelam dan dingin. Di dalam ruangan sederhana ini, di antara benang-benang kostum dan rahasia besar yang kalian simpan rapat, sebuah ikatan kasih yang hangat dan tak terpisahkan telah merajut masa depan kalian bertiga dengan begitu indah dan kokoh.
Suasana di kamar sederhana itu mendadak hening untuk beberapa saat, menyisakan deru napas hangat yang berembus pelan di antara jarak kalian yang begitu tipis. Kehangatan dari jemari Jake yang baru saja merapikan helai rambut di balik telingamu masih terasa menyisa di kulit pipimu, meninggalkan pendar kebas yang manis sekaligus mendebarkan.
Jake, yang sepertinya baru menyadari betapa intim dan dekatnya posisi kalian, mendadak berdeham canggung. Rona merah di pipinya menyebar makin pekat hingga ke ujung telinganya. Untuk menutupi rasa salah tingkahnya yang luar biasa, otaknya yang biasa dipenuhi rumus matematika itu mendadak memunculkan sebuah ide jahil.
“Umm... bentar, (Y/N),” gumam Jake pelan, suaranya agak memelan. “Bahan spandex sama neoprene di area bahu ini beneran udah pas, tapi gue perlu ngetes fleksibilitasnya di posisi ekstrem. Biar dipastikan enggak ada jahitan yang lepas pas dipakai melayang nanti.”
Belum sempat kamu mencerna kalimatnya atau bertanya posisi ekstrem apa yang dia maksud, Jake sudah mengambil satu langkah mundur.
Thwip!
Dengan gerakan semulus air dan refleks yang hampir tak tertangkap mata biasa, Jake menembakkan seutas jaring organik tebal ke arah pilar kayu di atap plafon kamarnya. Sebelum kamu sempat membelalakkan mata, Jake menjatuhkan tubuhnya ke depan, memutar posisinya di udara secara mulus, dan dalam hitungan detik... dia sudah bergantung terbalik tepat di depan wajahmu!
Dua kakinya menempel rapat dan kokoh di plafon kamar, sementara tubuh bagian atasnya menjuntai ke bawah secara melawan hukum gravitasi. Wajah tampannya kini berada persis sejajar dengan wajahmu—hanya terpisah jarak kurang dari sepuluh sentimeter. Rambut cokelatnya yang agak panjang jatuh melambai ke bawah, menampakkan dahi jernihnya dan alis tebalnya yang menawan.
“Jake!” pekikmu pelan, kaget setengah mati sambil menahan dada memakai kedua tanganmu. “Astaga! Kaget gue!”
Jake tidak langsung turun. Malah, seulas senyuman jahil, ekspresi langka yang sangat jarang dia tunjukkan di kampus terukir manis di bibirnya. Matanya yang cokelat jernih berkilat-kilat penuh kejahilan, menatap matamu yang masih membelalak kaget.
“Gimana, (Y/N)?” goda Jake dengan suara rendah yang sengaja dibuat berbisik di depan wajahmu. “Fleksibel banget, kan? Dari posisi terbalik begini aja gue bisa ngeliat muka lo yang makin gampang merah kalau lagi kaget.”
Kamu memicingkan mata, menyilangkan kedua tangan di dada sambil mencoba memasang raut wajah galak, walau jantungmu sendiri di dalam sana sedang berdegup maraton akibat kedekatan posisi kalian yang sama sekali tak terduga ini.
“Oh, gitu ya? Udah jago ngegodain orang sekarang?” balasanmu santai, mencoba menaikkan dagu untuk menantang tatapannya. “Lupa ya dulu siapa yang gemeteran ketakutan pas gelas di tangannya nempel enggak bisa lepas?”
“Itu kan dulu,” jawab Jake santai, masih terkekeh pelan dalam posisi terbalik. Dia mencondongkan wajahnya satu sentimeter lebih dekat padamu, membuat tiupan napas hangatnya menyapu permukaan kulit dahimu. “Sekarang kan gue udah punya mentor terbaik di dunia. Lagian, di posisi terbalik gini, pandangan gue ke lo malah kelihatan makin jelas.”
Melihat tingkah cowok kutu buku yang kini mendadak percaya diri dan hobi menggodamu ini, rasa ingin bahagiamu meluap. Kejahilanmu yang terpendam ikut terpanggil Alih-alih mundur atau salah tingkah, kamu justru mengambil satu langkah lebih maju. Dengan gerakan yang sangat halus dan lambat, kamu mengulurkan kedua tanganmu ke atas. Dua telapak tanganmu yang hangat melayang mendekat, lalu bertengger pas melingkupi kedua belah pipi Jake yang masih bergantung terbalik itu.
Jemari halusmu mengusap lembut kulit pipinya yang hangat dan padat. Seketika itu juga, senyuman godaan di bibir Jake membeku. Jake tersentak halus di tempatnya. Kalimat jahil yang sudah bersiap keluar dari mulutnya mendadak menguap tanpa sisa ke udara. Pria berdaya super yang sanggup menahan beban truk belasan ton itu mendadak mati kutu hanya gara-gara sentuhan dua telapak tanganmu di pipinya.
“Pipi lo hangat banget, Jake Sim,” bisikmu lembut, menyunggingkan senyuman manis penuh kemenangan sambil menatap matanya dari dekat. Kamu menepuk-nepuk pelan kedua pipinya yang kini merona merah padam luar biasa. “Gimana? Muka siapa sekarang yang berubah warna jadi kayak tomat matang?”
Mata Jake berkedip-kedip polos. Napasnya tertahan di tenggorokan. Keberanian dan dorongan menggoda yang tadi sempat dia pamerkan mendadak runtuh total. Pria itu menyadari betapa indahnya ukiran senyumanmu di depan matanya, betapa hangatnya genggaman tanganmu di pipinya, dan betapa tajamnya pendar kasih yang terpancar dari matamu.
Di dalam keheningan kamar yang temaram itu, untuk beberapa detik yang terasa begitu panjang dan magis, kalian berdua cuma saling menatap dalam diam. Tidak ada suara gesekan kain, tidak ada kepakan angin—cuma ada dua pasang mata yang saling terkunci dalam pendar lembut yang teramat manis dan dalam.
Lalu... kesadaran akan betapa tidak rasionalnya posisi kalian mendadak menghantam pikiran Jake.
Bzzzt.
Sensasi canggung yang luar biasa dahsyat melejit memenuhi seluruh pembuluh darah Jake. Dia baru sadar betapa kekanak-kanakan dan tidak sopannya tindakan menggelantung terbalik di depan cewek yang sangat dia hormati ini.
“U-uh... (Y/N)...” gumam Jake gagap, suaranya mendadak melengking tipis gara-gara panik.
“Kenapa, Kapten Spidey?” godamu makin menjadi-jadi, belum mau melepaskan cengkeraman halus di pipinya.
“G-gue... gue mau turun sekarang!” cicit Jake terburu-buru, matanya melirik ke kiri dan ke kanan, tidak berani lagi menatap langsung ke matamu. Jake menepis pegangan jaringnya di atap plafon secara mendadak.
Sret!
Karena terburu-buru dan terlalu canggung, gerakan pendaratannya tidak semulus biasanya. Jake melepaskan kakinya dari plafon dan berputar di udara, namun tumit sepatunya menyenggol ujung kasur.
BRUK!
Jake mendarat telentang di atas kasur tunggalnya dengan posisi yang cukup konyol, disusul suara decitan per kasur tua yang berbunyi lumayan keras. Tangannya terentang ke samping, badannya membeku menatap langit-langit kamar, napasnya terengah-engah bukan karena lelah, melainkan karena salah tingkah tingkat dewa. Kamu yang menyaksikan aksi pendaratan darurat itu tidak sanggup lagi menahan tawa. Tawa renyahmu pecah memenuhi seluruh sudut kamar, menggema hangat di udara sore.
“Aduh, Jake... pahlawan super kok mendaratnya gak profesional gitu sih?” selorohmu sambil memegangi perutmu yang geli.
Jake perlahan duduk di atas kasur, merapikan bagian depan bodysuit-nya yang agak tertarik. Wajahnya benar-benar sudah merah sampai ke batas leher dan ujung telinganya. Dia mengusap leher belakangnya yang terasa super hangat, lalu terkekeh sumbang menutupi rasa malunya.
“Nggak usah ketawa...” gumam Jake polos, mencoba cemberut walau matanya sendiri tidak bisa menyembunyikan pendar kebahagiaan. “Itu tadi... cuma simulasi kalau jaringnya mendadak putus di udara.”
“Iya deh, terserah lo aja, si paling simulasi!” balasmu sambil berjalan mendekati meja belajar, mengambil tas ransel berisi jurnal-jurnal biologi yang tadi sudah disiapkan.
Kamu melirik jam di layar ponselmu. Angka digital sudah menunjukkan pukul lima sore lewat sedikit.
“Yuk, Jake. Udah mau magrib nih,” katamu mengalihkan suasana, mengembalikan ritme percakapan ke mode serius yang aman. “Kasihan Mas Heeseung kalau kita kelamaan di sini. Dia pasti udah nungguin data jurnal sama bakal kaget lihatkostum baru lo ini buat dianalisis serat materialnya.”
Jake menghela napas panjang—menghela napas lega sekaligus penyesalan tipis karena momen manis dan hangat tadi harus terpotong oleh waktu. Dia berdiri dari kasur, merapikan pakaian pelapis luar yang akan dia kenakan di atas kostumnya.
“Iya, lo bener,” sahut Jake, suaranya sudah kembali tenang dan sopan seperti biasa. “Gue lepas kostum ini dulu sebentar, terus kita langsung berangkat ke apartemen Mas Heeseung.”
“Siap. Gue tunggu di ruang tamu ya,” pamitmu lembut.
Saat kamu berbalik melangkah keluar dari kamar tidurnya, Jake sempat menatap punggungmu sejenak. Senyuman tulus, hangat, dan sangat dalam kembali terukir di bibirnya. Rasa canggung yang tadi membakar perlahan surut, menyisakan sebuah kepastian yang tak tergoyahkan di dalam dadanya bahwa di balik semua bahaya, kekuatan super, dan ketakutan akan masa depan, berada di sisimu adalah tempat terbaik yang pernah dia miliki di dunia ini. Dengan langkah yang ringan dan hati yang dipenuhi pendar kebahagiaan, Jake bersiap melepas kostumnya, untuk kemudian melangkah bersamamu menyongsong malam di apartemen Heeseung sebagai sebuah tim yang takkan pernah terpisahkan.
(cr pict dr x)
to be continued
JAKE BLONDE NJIRRRR 😖❤️





Andaikan aku si y/n itu, apa ga kleper² tiap hari kek ikan🫠
AKU SELALU NUNGGU SPIDEY, LANJUT KAK