Jangan lupa tinggalkan jejak, part ini bakalan ewow lama karena riki mau nuntasis obsessed gilanya jadi kalo mau skip langsung scroll bawah aja โบ๏ธ
Hentakan pinggul Riki dari belakang mendarat dengan kekuatan penuh, menghujam liang intimu yang kembali menerima invasinya tanpa sehelai pun pengaman. Di posisi membungkuk menumpu pada meja rias mahoni, sudut penetrasi itu terasa luar biasa dalam dan menekan langsung ke titik terdalam.
Setiap tumbukan keras yang Riki berikan mengguncang seluruh tubuhmu ke depan. Dadamu yang montok bergoyang kencang dan liar mengikuti ritme hentakan kasarnya, menciptakan pantulan visual yang sangat erotis di cermin rias besar tepat di hadapan matamu.
โA-akh... Riki...! Riki, pelan... akh!โ
Desahan kencang dan putus-putus lolos dari tenggorokanmu, menggema nyaring memantul di permukaan kaca cermin dan dinding kamar yang sunyi. Kamu terus meracau memanggil namanya, memohon agar ia menurunkan temponya yang kejam.
Namun, respons biologis tubuhmu berbanding terbalik dengan kata-kata permohonanmu.
Di dalam sana, otot-otot dinding rahim dan liang intimu berkontraksi hebat, mencengkeram dan menjepit batang kejantanannya dengan cengkeraman yang luar biasa ketat dan basah di setiap tarikan dan dorongan. Riki menatap pantulan cermin di depannya, memperhatikan bagaimana ekspresimu yang tersiksa berpadu dengan jepitan kuat dari tubuhmu yang memeluknya tanpa ampun.
โDengerin mulut lo yang minta pelan,โ bisik Riki serak dan berat di belakang tengkukmu, tangan kanannya mencengkeram pinggulmu erat untuk menambah daya dorong, โsementara di dalem sini lo ngejepit gue sekuat ini kayak nggak mau gue lepas.โ
Riki tidak memperlambat temponya sedikit pun. Ia terus memacu ritmenya dengan konstan dan bertenaga, memanfaatkan posisi meja rias untuk menenggelamkanmu lebih jauh ke dalam pusaran kenikmatan yang membakar sisa tenagamu.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat tepat di belahan pantat kirimu yang bergetar mengikuti tempo sentakannya. Suara tamparan kulit telanjang itu bergema nyaring, memantul di permukaan cermin rias yang tinggi dan dingin, meninggalkan cetakan telapak tangan kemerahan yang langsung menyala di atas kulitmu.
โA-akh...!โ
Tubuhmu tersentak maju, telapak tanganmu mencengkeram tepi meja mahoni semakin erat hingga buku-buku jarimu memutih. Riki tidak membiarkan ritme dorongannya mengendur. Hentakan pinggulnya tetap menghujam dalam dan konstan dari belakang, sementara tangan kirinya terangkat ke depan, menyusup ke bawah rahangmu dan menarik kepalamu sedikit ke belakang agar matamu terpaksa menatap pantulan dirinya di cermin. Napas Riki memburu panas di ceruk lehermu, sarat akan amarah yang dingin dan rasa kepemilikan yang teramat pekat.
โJawab gue,โ bisik Riki rendah dan berbahaya, suaranya serak bergetar tepat di telingamu. โSeberapa jauh Jake โdisiplininโ lo biar lo bisa siap buat gue kayak malam ini, hm?โ
Pertanyaan itu meluncur bersamaan dengan satu sentakan dalam yang menghantam titik paling sensitif di dinding intimu.
โApa Jake yang ngajarin tubuh lo buat tunduk, atau lo emang udah dirancang dari dulu cuma buat nahan rasa sakit dan nikmat di bawah kendali gue?โ
Tatapannya di pantulan cermin mengunci matamu yang berkaca-kaca, menuntut jawaban langsung di tengah guncangan tubuhmu yang tak kunjung ia beri jeda untuk bernapas. Keheningan dan bibirmu yang terkatup rapat menjadi bahan bakar yang kian memicu api di mata Riki. Tatapannya di pantulan cermin semakin menggelap, rahangnya mengeras saat ia menyadari penolakanmu untuk membeberkan dinamika masa lalumu bersama Jake.
โBungkam?โ desis Riki rendah, suaranya parau dan dingin. โBagus. Simpan suara lo buat jerit di bawah gue.โ
Plak!
Tamparan kedua mendarat lebih keras di belahan pantat kananmu, disusul satu pukulan mantap lagi di sisi sebelahnya. Bunyi benturan kulit telanjang itu terdengar begitu nyaring dan beruntun, membakar kulit belakangmu dengan rasa perih yang menjalar panas ke seluruh saraf paha bagian dalam.
Bersamaan dengan tamparan bertubi-tubi itu, Riki melipatgandakan kecepatan dan tenaga pinggulnya.
Hentakannya tak lagi sekadar dalam, melainkan berubah menjadi dorongan-dorongan cepat, padat, dan bertenaga penuh. Setiap kali tubuhnya bertubrukan dengan tubuhmu, meja rias mahoni yang kokoh itu berderit pelan dan bergetar di atas lantai marmer. Dadamu berguncang liar tanpa henti, sementara kepalamu terayun ke depan dan ke belakang mengikuti ritme brutal yang Riki bangun tanpa ampun.
โA-akh... Riki...! Ngh...!โ
Desahanmu pecah tak terkendali, menghapus sisa-sisa usahamu untuk tetap diam. Di pantulan cermin besar, kamu bisa melihat dengan jelas bagaimana Riki menundukkan tubuhnya sedikit, mengunci pinggangmu dengan kedua tangannya yang berurat, dan terus memacu temponya bagai mesin tanpa batas dayaโmemaksamu menyerah pada kenyataan bahwa malam ini, kendali sepenuhnya berada di bawah kuasanya.
Sensasi panas dan padat di dalam rongga intimu mencapai taraf yang nyaris tak tertahankan. Setiap sentakan yang Riki daratkan dari belakang menekan dinding rahimmu begitu dalam, memaksa otot-otot di sekitar liang kewanitaanmu berkontraksi secara liar dan tanpa kompromi.
Dinding intimu menjepit, memeras, dan mengunci batang kejantanannya yang telanjang dengan kekuatan luar biasa rapatโsebuah cengkeraman biologis yang begitu mendadak dan intens hingga membuat tubuh kokoh Riki tersentak kaku di tengah gerakannya.
โ(Y/N)... bangsat...โ
Erangan berat, parau, dan tertahan meledak dari balik tenggorokan Riki. Urat-urat di pelipis, leher, hingga sepanjang lengannya yang menahan pinggulmu menonjol tegang. Napasnya tercekat beberapa detik, matanya memejam rapat saat gelombang pelepasan hampir saja menyeretnya ke tepi tebing dalam satu tarikan napas. Sensasi basah, sempit, dan berdenyut kencang itu nyaris meremukkan pertahanan fisiknya yang selama ini selalu ia kendalikan dengan presisi dingin. Namun, alih-alih menyerah atau menarik diri mundur, insting dominan Riki justru menyala lebih buas.
Ia membuka matanya kembali, tatapannya berkilat gelap penuh amarah birahi yang pekat. Kedua tangannya yang besar dan kokoh beralih mencengkeram belahan pantatmu yang sudah memerah akibat tamparan-tamparan sebelumnya. Jemarinya meremas daging empuk itu dengan cengkeraman kuat dan posesif, menancapkan kukunya sedikit ke kulitmu untuk menarik pinggulmu semakin rapat, menempel tanpa celah ke pangkal pahanya. Riki tidak memperlambat tempo barang sedetik pun. Ia justru memacu dorongan pinggulnya ke tingkat yang jauh lebih brutal.
Plak... plak... plak!
Suara benturan kulit telanjang yang basah bergema kian nyaring dan beruntun, berpadu dengan getaran meja rias mahoni yang terus bergeser tipis di atas marmer. Setiap hujaman yang Riki lepaskan mendarat dengan bobot penuh, menabrak titik terdalammu berkali-kali tanpa memberi jeda bagi otot-ototmu untuk relaksasi. Kombinasi antara rasa sesak dari penetrasi yang terlampau dalam, rasa perih panas di kulit belakang akibat remasan keras tangannya, serta ritme liar yang tak kenal ampun seketika meruntuhkan seluruh kontrol saraf sadarmu.
Kedua lenganmu yang menopang di meja mahoni kehilangan sisa kekuatannya, sikumu menekuk lemas, membiarkan dadamu menempel langsung pada permukaan kayu yang dingin dan licin oleh peluh. Kepalamu terkulai miring ke atas menghadap cermin. Kelopak matamu berputar setengah ke atas (ahegao), pandanganmu memudar dalam kabut kenikmatan yang menyiksa, sementara belahan bibirmu terbuka lebar dengan ujung lidah yang sedikit menjulur tanpa daya, mengais pasokan udara di antara desahan-desahan panjang yang parau dan tak lagi terputus.
Di pantulan cermin besar setinggi dinding itu, sosokmu terlihat sepenuhnya hancur, tunduk, dan larut dalam ekstasi murni di bawah kuasa gerak pinggul Riki yang terus memburu titik puncaknya tanpa belas kasihan. Di posisi tubuhmu yang terkulai di atas meja rias, tangan kiri Riki yang basah menyusup ke bawah pangkal pahamu. Jemarinya yang panjang bergerak cepat dan terarah, langsung mendarat tepat di titik klitorismu yang sudah membengkak dan luar biasa sensitif.
Tekanan kuat, cepat, dan melingkar yang ia berikan di depan berpadu dengan hentakan pinggulnya yang semakin liar dan bertenaga dari belakang. Stimulasi ganda tanpa celah itu mengirimkan arus listrik bertegangan tinggi yang seketika membakar seluruh sisa kesadaran rasionalmu. Riki mencondongkan tubuhnya ke depan, menekan punggung polosmu dengan dadanya yang basah oleh peluh, lalu mengunci pinggulmu dalam cengkeraman tak tergoyahkan.
โJangan berani-berani nahan,โ bisik Riki parau dan berat di dekat telingamu, suaranya tercekat oleh batas akhir pelepasan yang sudah di ambang mata. โKeluar bareng gue... sekarang!โ
Sentakan-sentakan terakhirnya menghantam begitu dalam dan bertubi-tubi hingga menyentuh batas paling mentok di dinding rahimmu. Di saat yang bersamaan, putaran ibu jarinya di klitorismu mencapai tempo maksimal.
โA-AKH... RIKI!โ
Jeritan panjang dan putus-putus meledak dari tenggorokanmu, menggema nyaring membelah keheningan kamar tidur lantai dua. Otot-otot dinding intimu seketika menjepit hebat dalam konvulsi klimaks yang luar biasa dahsyat, memeras kejantanannya dengan cengkeraman teramat ketat.
Erangan buas lolos dari bibir Riki saat ia mencapai puncaknya. Mengabaikan segala batas dan opsi sebelumnya, pria itu menenggelamkan miliknya sedalam mungkin, menahan dirinya di titik terdalam, dan melepaskan seluruh lahar panasnya langsung ke dalam rahimmu tanpa ada sehelai pun pengaman yang menghalangi. Pelepasan pekat dan deras itu memenuhi rongga intimu, mengirimkan sensasi hangat yang menyengat di tengah getaran tubuh kalian berdua yang menyatu erat di bawah temaram cahaya perapian.
Napas Riki memburu berat di ceruk lehermu, terasa panas dan membakar kulit yang basah oleh peluh. Pria itu tidak menarik miliknya keluar sama sekali, ia sengaja membiarkan kejantanannya tetap tertanam penuh hingga batas terdalam di dalam rahimmu, merasakan bagaimana cairan hangat pelepasannya memenuhi rongga sempit itu seutuhnya.
Seringai miring penuh kepuasan dan kemenangan terukir jelas di wajah Riki saat ia menatap pantulan dirimu di cermin rias yang berkabut tipis. Riki mencondongkan wajahnya lebih dekat, bibirnya menyapu daun telingamu yang memerah sebelum melontarkan kata-kata kotor dan merendahkan dengan suara yang begitu parau dan dingin.
โLiat gimana lo nampung semuanya sampai penuh di dalem,โ bisik Riki vulgar tanpa sisa filter, jemari tangannya meremas pinggulmu semakin lekat ke tubuhnya. โLo nggak punya hak lagi buat nolak gue, (Y/N). Mulai malam ini, tubuh lo udah sepenuhnya ditandai sama cairan gue... persis kayak jal*ng kecil yang dari awal cuma ditakdirkan buat jadi wadah bir*hi gue.โ
Setiap kata-kata rendah yang ia bisikkan langsung menghantam saraf sensorikmu yang masih luar biasa sensitif pasca-klimaks. Hinaan yang sarat akan kepemilikan mutlak itu memicu reaksi biologis yang kejam, dinding intimu seketika berkontraksi hebat, berkedut-kedut liar dan meremas batangnya yang masih tegang di dalam sana dengan cengkeraman yang teramat kencang. Riki mengeram tertahan, memejamkan matanya sesaat saat jepitan kuat dari tubuhmu memerasnya tanpa ampun.
โFUCK...โ desis Riki serak, seringainya makin melebar merasakan denyutan liar itu. โMulut lo mungkin benci dengernya, tapi liat gimana liang lo malah makin rakus ngejepit gue tiap kali gue rendahin kayak gini.โ
Dengan satu tarikan mantap dan tegas, Riki menarik kejantanannya keluar dari liang intimu. Suara basah yang pekat (plop) bergema di antara pantulan kaca meja rias dan dinding kamar yang sunyi, diikuti aliran hangat cairan pelepasan yang perlahan menetes membasahi kulit paha bagian dalammu. Namun, tidak ada jeda ataupun tanda-tanda bahwa malam ini akan segera berakhir.
Riki membalikkan tubuhmu yang lunglai, menarik pinggangmu mendekat ke tepi meja rias hingga kamu kembali berhadapan langsung dengannya. Sebelum kamu sempat menarik napas untuk mengumpulkan sisa kesadaran, tangan kekarnya sudah mencengkeram tengkukmu, menarik wajahmu maju dan membungkam bibirmu dengan ciuman yang luar biasa menuntut dan dalam.
Lidahnya menguasai rongga mulutmu tanpa ampun, melumat, membelit, dan mengecap setiap desah napasmu yang tersengal. Ciuman itu terasa begitu panas, pekat, dan mendominasiโmenelan habis sisa-sisa protes rasional yang sempat tersisa di kepalamu.
Di saat yang bersamaan, tangan kanan Riki yang basah meluncur turun ke sela pangkal pahamu. Jemarinya yang panjang dan terlumuri campuran cairan gairah kalian mulai meraba, mengusap, dan membelai lipatan intimu yang membengkak sensitif. Sentuhan ritmis jemarinya di titik klitoris seketika memicu gelombang getaran baru di sepanjang saraf panggulmu, membuat tubuhmu meremang dan melemas total.
Seluruh dinding pertahanan dan amarahmu akhirnya runtuh menjadi kepasrahan yang tak terelakkan. Tubuhmu yang kelelahan ekstrem memilih untuk berhenti melawan realitas dominasinya. Kedua tanganmu yang gemetar perlahan terangkat dari tepi meja rias, bergerak melingkari leher dan bersandar di atas pundak lebarnya yang kokoh. Kamu menyandarkan keningmu di ceruk leher Riki, membiarkan jemarimu meremas helaian rambut di tengkuknya dengan gestur pasrah yang manja dan bergantung sepenuhnya pada topangan pria itu.
Merasakan lilitan tanganmu di pundaknya dan napas manjamu yang berhembus di lehernya, tatapan mata Riki semakin menggelap oleh kepuasan mutlak. Tanpa membuang waktu, Riki mengangkat sedikit salah satu kakimu, menyejajarkan kembali miliknya yang masih tegang sempurna di depan pintu intimu yang basah berkilau. Dalam satu dorongan kuat dan mantap, ia menghujamkan miliknya kembali masuk ke dalam rongga hangatmu hingga mentok ke titik terdalam.
โA-akh... Riki...โ
Lenguhan halus dan panjang lolos dari belahan bibirmu, tubuhmu terlonjak pelan dalam rengkuhannya saat kepenuhan yang akrab itu kembali mengunci kalian berdua dalam putaran gairah baru di bawah temaram perapian yang tak kunjung padam. Suara penyatuan kalian di tepi meja rias itu terdengar begitu basah, licin, dan berirama pekat, memecah kesunyian vila di setiap dorongan pinggul Riki. Sisa-sisa cairan pelepasan yang melumasi dinding intimu menciptakan bunyi decak basah yang terus berulang tanpa jeda.
Kedua tanganmu melingkar lemas di pundak lebarnya, jemarimu meremas kulit punggungnya yang basah oleh peluh tipis. Dalam kepasrahan total dan gelombang gairah yang kembali membakar akal sehatmu, bibirmu terus meloloskan desahan vulgar yang tak lagi tertata.
โA-akh... Riki... Riki, enak banget... ngh...โ rintihmu parau di ceruk lehernya, tubuhmu bergerak mengikuti tempo kuat yang ia bangun.
Namun, alih-alih puas mendengar namanya terus disebut dari bibirmu, tatapan mata Riki justru semakin menajam. Rahangnya mengeras, ekspresi dinginnya menuntut dominasi yang jauh lebih absolut dari sekadar pengakuan nama.
Riki menghentikan gerakannya sesaat tepat di titik terdalam, menahan tubuhmu tetap terhimpit di antara meja mahoni dan dada bidangnya. Tangan kirinya terangkat ke atas, mencengkeram rahangmu dengan jemari yang kokoh dan sedikit memaksa kepalamu mendongak menatap lurus ke dalam manik matanya yang pekat.
โSiapa yang lo panggil โRikiโ di posisi kayak gini?โ bisik Riki rendah, suaranya parau dan sarat akan otoritas mutlak. Ia memberi satu sentakan pendek namun luar biasa bertenaga ke dinding intimu, membuat tubuhmu terlonjak kaku dalam rengkuhannya.
โPanggil gue Master,โ titahnya tanpa kompromi, napas panasnya menyapu bibirmu yang gemetar. โUlangi desahan lo barusan, dan sebut siapa pemilik lo malam ini.โ
Selama ini, kamu selalu memegang prinsip untuk tidak pernah merendahkan diri dengan panggilan fantasi semacam itu di depan pasangan mana pun. Bagimu, kata itu adalah batas harga diri yang tidak boleh dilewati. Namun, menatap sepasang manik mata elang Riki yang menggelap totalโterbakar oleh campuran obsesi, birahi pekat, dan dominasi yang tak mengenal kompromiโkamu menyadari bahwa malam ini tidak menyisakan ruang untuk prinsip lamamu. Karena mau tidak mau hamu harus memilih antara bertahan dan menikmati arusnya, atau hancur di bawah kuasanya tanpa ampun.
Napasmu tersengal di antara rasa sesak dan nikmat yang berdenyut di panggul. Kedua tanganmu yang melingkari lehernya meremas pundak kokoh itu semakin erat.
โM-master...โ bisikmu parau, suaramu bergetar halus menembus keheningan kamar. โ...Master, please...โ
Panggilan itu meluncur dari bibirmu, menjadi tanda penyerahan total atas kendali yang ia minta, satu-satunya harapanmu agar permainan ini bisa selesai dan kamu bisa beristirahat total. Namun, alih-alih melembutkan perlakuan atau memperlambat tempo seperti yang kamu harapkan, kata itu justru menjadi pemicu yang membakar habis sisa kendali diri Riki. Kilat buas di matanya menyala seketika, dan seringai kemenangannya terbit di sudut bibir. Tanpa memberi jeda, Riki melipatgandakan kekuatan pinggulnya.
Plak... plak... plak!
Hentakannya menghujam dengan kecepatan dan tenaga yang jauh lebih kencang, menabrak titik terdalammu bertubi-tubi tanpa belas kasihan. Meja rias mahoni berderit pelan dan bergeser di atas lantai marmer, sementara tubuhmu terguncang hebat di bawah ritme brutalnya.
โSmart choice,โ desis Riki serak tepat di depan wajahmu, napasnya memburu panas saat ia terus memacu dorongannya ke batas maksimal, memastikan kamu merasakan seutuhnya siapa yang memegang kendali atas setiap jengkal tubuhmu malam ini.
Kedua kakimu terpaksa mengangkang lebih lebar di tepi meja rias, melingkari pinggang kokoh Riki untuk mencari tumpuan agar tubuhmu tidak merosot jatuh ke lantai marmer. Di posisi yang terbuka maksimal ini, setiap dorongannya terasa menancap lurus dan menghujam tanpa batas ke titik paling dalam. Namun tempo yang Riki bangun sudah terlalu liar dan bertenaga.
Benturan tubuhnya yang tak kenal ampun membuat meja rias mahoni itu bergetar hebat, bergeser pelan dengan bunyi decit kayu yang beradu di atas lantai marmer. Botol-botol parfum kaca di atas meja berdenting satu sama lain, bergetar mengikuti ritme brutal yang Riki lepaskan.
โR-riki... tahan dikit... mejanya goyang... akh!โ rintihmu dengan napas yang terputus-putus, berusaha meminta jeda di tengah guncangan yang kian tak terkendali.
Bukannya menahan diri, Riki justru memanfaatkan keterbukaan posisimu. Ia menarik kedua tanganmu yang melingkar di lehernya, lalu menurunkannya dan mencengkeram kedua pergelangan tanganmu kuat-kuat, menekannya rapat ke permukaan meja tepat di samping kanan dan kiri pahamu yang mengangkang lebar.
Kuncian itu mengunci pinggulmu dalam sudut yang melengkung sempurna ke depan. Akibatnya, setiap kali Riki menghujamkan miliknya masuk hingga mentok dari depan, pangkal paha dan batang tubuhnya yang berpeluh langsung menekan dan menggesek klitorismu yang bengkak secara konstan dan kasar. Stimulasi ganda yang teramat intens itu menghantam saraf intimu yang sangat sensitif tanpa celah.
โNggak ada yang perlu ditahan malam ini,โ bisik Riki serak dan berat, napas panasnya menyapu keningmu saat ia menatap matamu yang berkaca-kaca.
Tekanan pada kedua tanganmu semakin kuat, sementara pinggulnya terus memacu tempo sentakan yang kian rapat, membiarkan gesekan keras di titik sensitifmu membakar habis sisa pertahananmu hingga kamu hanya bisa meracau pasrah di bawah dominasi penuhnya.
โAh... ah... yes... yes... enak banget, Riki... kenceng banget... ahh, gue udah nggak tahan...!โ
Desahan liar dan mantap itu meluncur tanpa sisa kendali dari bibirmu, memenuhi setiap sudut kamar tidur yang temaram. Kamu tak lagi mampu menutupi kenyataan betapa tubuhmu larut dalam guncangan ritme yang ia berikan. Tekanan konstan pada klitorismu dan hujaman dalam yang menabrak dinding rahim tanpa jeda membuat seluruh saraf panggulmu meledak dalam sensasi kenikmatan yang teramat intens.
Akal sehatmu runtuh sepenuhnya.
Kepalamu terkulai lemas ke belakang, bertumpu di tepi meja mahoni. Kedua kelopak matamu berputar setengah ke atas, pandanganmu kabur menatap langit-langit yang remang, sementara bibirmu terbuka lebar dengan ujung lidah yang menjulur pasrah, mengais oksigen di tengah gelombang ekstasi yang nyaris membuatmu kehilangan kesadaran.
Melihat ekspresi wajahmu yang sepenuhnya hancur dan tunduk di bawah kuasanya, tatapan mata Riki menggelap buas. Tanpa melepaskan kuncian pada kedua pergelangan tanganmu, Riki langsung mencondongkan tubuhnya ke depan dan membungkam mulutmu dengan ciuman yang luar biasa menuntut dan dalam.
Ia melahap bibirmu yang terbuka, lidahnya menyapu dan membelit lidahmu yang menjulur, mengecap sisa desahan dan saliva yang mengalir di sela pertautan bibir kalian. Ciuman itu terasa begitu panas, kasar, dan mengunci seluruh saluran napasmu.
Di bawah sana, gerakan pinggul Riki tidak melambat barang sedetik pun. Dalam keadaan bibir kalian yang saling melumat rakus, Riki terus menyodokkan miliknya masuk dan keluar dengan tempo yang kian rapat, dalam, dan tanpa ampun. Setiap tumbukan kerasnya menghantam titik terdalam liang intimu, membuat meja rias berderit kian kencang saat ia menuntaskan gelombang kenikmatan itu hingga ke batas paling akhir.
Tanpa melepaskan penyatuannya, Riki mencengkeram erat bagian bawah pahamu dan menarik tubuhmu ke atas dalam satu gerakan sentakan yang luar biasa bertenaga. Kedua kakimu refleks melingkar rapat di pinggang kokohnya, membuat posisimu sepenuhnya melayang di udara tanpa tumpuan meja lagi. Kedua tangan besar Riki beralih menyusup ke belakang, mencengkeram dan meremas kuat kedua belahan bokongmu untuk menopang seluruh bobot tubuhmu agar tetap menempel lekat pada tubuhnya.
Posisi menggendong ini membuat gravitasi bekerja sepenuhnya menentangmu. Setiap kali Riki mendorong ke atas, miliknya menghujam masuk lebih dalam dan padat ke liang intimu, menciptakan gesekan maksimal yang langsung menghantam dinding rahimmu tanpa ada celah melarikan diri. Stimulasi yang terlampau intens itu seketika meruntuhkan sisa pertahanan tubuhmu.
Otot-otot di dalam rongga intimu menjepit kencang, berdenyut liar dan memeras batangnya dalam gelombang konvulsi klimaks yang meledak hebat. Tubuhmu gemetar kaku di udara, napasmu tercekat di tenggorokan saat pelepasan yang tak tertahankan itu menyengat seluruh saraf panggulmu lebih dulu.
Menyadari bahwa kamu sudah mencapai puncak sebelum dirinya, sifat keras kepala dan dominan Riki justru semakin terpancing. Ia menolak untuk melambat atau membiarkanmu beristirahat menikmati sisa klimaksmu. Alih-alih memberi jeda, Riki justru mengencangkan remasan tangannya di bokongmu dan melipatgandakan tenaga dorongannya menjadi jauh lebih kasar dan menghujam.
Plak... plak... plak!
Suara benturan panggul yang basah dan beradu di udara memenuhi kamar tidur yang temaram. Riki memacu temponya tanpa ampun, menghantam titik terdalammu yang masih berkedut sensitif pasca-klimaks.
โA-akh... R-riki... ngh... Too deep...!โ
Air mata seketika merebak dan menetes deras di pipimu. Campuran rasa ngilu, sesak, dan kenikmatan yang terlampau pekat membuatmu menangis terisak di ceruk lehernya. Jemarimu mencengkeram bahu lebarnya kuat-kuat, merintih di antara tangisan pilu dan desahan panjang saat Riki terus menghujamkan miliknya tanpa jeda untuk mengejar pelepasannya sendiri.
Dekapan Riki mengunci tubuhmu bagai rantai baja. Dalam posisi menggantung di udara dengan kedua kakimu yang melingkar lemas di pinggangnya, pria itu menenggelamkan wajahnya di lekukan lehermu yang basah oleh keringat. Hembusan napasnya yang berat dan membara menyapu kulit sensitifmu, disusul bisikan rendah yang menghantam langsung ke dasar kesadaranmu.
โLo pikir kebrutalan gue malam ini cuma soal nafsu sesaat?โ bisik Riki serak, suaranya sarat akan obsesi yang teramat pekat. โPemicu dari semua kegilaan ini adalah lo, (Y/N). Gue udah nyari lo ke mana-mana... selama sepuluh tahun terakhir.โ
Kata-kata itu seketika memicu dentuman keras di dalam kepalamu. Sepuluh tahun? Ingatanmu kabur total. Sejauh apa pun kamu mencoba menggali memori masa lalu, tidak ada satu pun jejak atau bayangan tentang seorang pria bernama Riki di masa kecilmu. Riki merasakan kebingunganmu, namun ia sama sekali tidak berniat mengurai benang kusut itu.
โNggak usah repot-repot nyari tahu siapa gue di masa lalu lo,โ desisnya dingin tepat di daun telingamu. โYang jelas, begitu kontrak satu bulan ini tuntas... lo bakal jadi milik gue seutuhnya. Tanpa batas, tanpa ada yang bisa ngerebut lo lagi.โ
Pernyataan itu membuat dadamu sesak. Bagaimana mungkin? Kamu dan Jake sudah merancang segalanya dengan sangat rapiโrencana pelarian terstruktur untuk keluar bersama dari lingkaran hitam industri ini begitu proyek kolaborasi selesai. Apakah Jake mengkhianatimu dan menyerahkanmu begitu saja ke tangan Riki? Tidak, logika itu bertabrakan dengan kenyataan. Malam sebelum proyek ini dimulai, Jake mengklaimmu dengan kepemilikan yang teramat kuat, bersumpah tidak akan pernah membiarkan orang lain menyentuhmu. Jika Jake tidak berniat melepasmu, lalu siapa sebenarnya Riki hingga memiliki kuasa sebesar ini?
Rasa sakit yang teramat tajam menusuk pelipismu. Upaya keras otakmu untuk mengingat memori yang terblokir memicu migrain hebat. Kamu mengerang tertahan, memegangi kepalamu yang terasa nyaris pecah di antara isak tangis dan napas yang putus-putus. Riki tidak peduli dengan rasa sakit kepalamu. Baginya, ketidaktahuanmu adalah berkah sekaligus kutukan.
โJangan mikir,โ potong Riki kasar, cengkeraman tangannya di pinggulmu kian menekan. โTutup pikiran lo itu. Karena sekalipun memori sialan itu balik ke kepala lo, satu-satunya hal yang bakal lo lakuin cuma benci sama gue seumur hidup.โ
Sebuah kebenaran pahit, karena bahkan tanpa ingatan itu pun, kamu sudah membenci pria ini sejak insiden jebakan ciuman sepuluh detik di lorong studio rekamanโdi mana ciuman sepuluh detik itu menjadi pemicu ditandatanganinya kolaborasi eksklusif dengan taruhan sebesar ini. Di tengah kondisi fisik yang terkuras habis, sensasi di titik sensitifmu kembali menegang. Keberadaan Riki yang masih tertanam utuh di dalam dirimu mulai berdenyut mantap, mengumpulkan kembali kekuatannya dalam kepenuhan yang menekan. Energinya seakan tidak memiliki titik henti, menolak untuk mundur dan langsung bersiap membuka kelanjutan malam tanpa kompromi.
โRiki... gue mohon... biarin gue istirahat... badan gue udah nggak kuat...โ rintihmu dengan suara serak yang memilukan, air mata mengalir deras membasahi bahunya.
Kamu memohon untuk dilepaskan, merasa harga dirimu hancur berkeping-keping bagai barang pajangan yang digunakan seenaknya demi memuaskan ego dan dominasi. Seluruh prinsip dan batasan yang kamu bangun bertahun-tahun runtuh tak bersisa di bawah kendalinya. Kamu masih terikat kontrak resmi di bawah naungan agensi Jake, namun di dalam kamar ini, kamu sepenuhnya menjadi tawanan tanpa daya. Riki menolak permohonan itu mentah-mentah. Sebuah seringai dingin dan berbahaya terbit di wajahnya saat ia mendekatkan bibirnya kembali ke telingamu.
โIstirahat? Nggak ada kata istirahat malam ini,โ bisik Riki dengan hembusan napas yang membakar. โDan biar lo sadar posisi lo yang sebenarnya... kamar ini udah gue pasang kamera tersembunyi di setiap sudut. Dari awal lo masuk, desahan lo, air mata lo, sampai setiap jengkal tubuh lo yang gue hancurin... semuanya terekam jelas tanpa ada yang terlewat.โ
Kemarahan yang membakar dada seketika mengalahkan rasa sakit di sekujur tubuhmu. Mendengar ancaman rekaman kamera tersembunyi itu, akal sehatmu menolak untuk terus menjadi boneka pasrah. Dengan sisa tenaga terakhir yang terkumpul di ujung keputusasaan, kamu menyentakkan kedua tanganmu dari pundaknya. Kamu mendorong dadanya sekuat tenaga, lalu mengayunkan telapak tangan kananmu ke udara dengan kecepatan penuh.
PLAK!
Suara tamparan keras bergema memekakkan telinga di dalam kamar utama. Telapak tanganmu menghantam pipi kiri Riki dengan telak, menyisakan sensasi panas menyengat di kulit jemarimu sendiri. Kepala Riki terlempar ke samping. Di detik itu juga, waktu seolah berhenti berputar.
Pria itu membeku total.
Bukan rasa perih dari tamparan itu yang menghentikannya, melainkan sengatan memori masa lalu yang mendadak meledak di kepalanya. Sentuhan, sudut hantaman, hingga getaran tangan yang sama persis seketika menarik kesadaran Riki mundur sepuluh tahun ke belakangโke sebuah malam kelam di mana seorang gadis kecil melayangkan tamparan serupa dengan tatapan mata yang dipenuhi luka dan kebencian yang identik. Kilasan ingatan itu menghantam mental Riki begitu keras, membuatnya terdiam kaku tanpa sepatah kata pun.
Tanpa berkata apa-apa, Riki melangkah pelan mendekati ranjang, lalu menurunkan tubuhmu di tepian kasur. Sentakan itu akhirnya memisahkan penyatuan kalian.
Plop.
Riki berdiri tegak di depanmu. Batang kejantanannya masih mengeras sempurna dan berkilat basah oleh campuran cairan tubuh, namun kobaran api dominasinya mendadak terkunci di balik keheningan yang dingin.
Sementara itu, tubuhmu sudah luluh lantak. Kamu duduk di tepi kasur dengan napas memburu, kedua kakimu gemetar hebat menahan perih. Kulit putihmu dipenuhi ruam kemerahan, jejak gigitan tajam di leher dan bahu, serta bekas cengkeraman jemarinya yang mencetak jelas di pinggang dan pangkal pahaโsebuah bukti nyata bagaimana ia telah memporak-porandakan fisikmu tanpa ampun.
Isak tangis amarah akhirnya meledak, berubah menjadi rentetan makian yang kamu lontarkan tepat ke wajahnya.
โBrengsek lo, Riki! Pria sinting nggak punya otak!โ semprotmu dengan suara serak yang bergetar hebat di ujung tenggorokan, menatapnya dengan kebencian murni. โLo pikir lo siapa bisa pasang kamera seenak jidat dan ngancam gue kayak gini?! Gue manusia, bukan boneka pemuas nafsu lo!โ
Air mata terus menetes membasahi dadamu yang kembang kempis menahan sesak.
โAda aturan profesional di kontrak itu, dan lo udah langgar semuanya! Lo nggak punya etika, nggak punya rasa hormat sedikit pun sama partner yang udah kehabisan tenaga sampai hampir pingsan berkali-kali di bawah lo!โ lanjutmu memaki tanpa rasa takut, menumpahkan segala muak yang menumpuk. โLo cuma pengecut terobsesi yang manipulatif dan menjijikkan!โ
To Be Continued
sepertinya kalian bisa menebak apa hubungan riki sama yn
๐





Pertama ๐
wait ga bisa komen apapun, tapi setidaknya disini udh mulai masuk ke babak selanjutnya dimana kita akan lihat potongan puzzle masa lalu ni-ki sm y/n