9 OBSESSION.EXE
EN
Jay tidak memberikanmu kesempatan untuk memprotes. Cengkeramannya di pergelangan tanganmu terasa panas dan mutlak, menyeretmu melewati kerumunan orang yang menari di lantai dansa menuju lift privat yang langsung membawamu ke lantai dua.
Begitu pintu VIP Room yang kedap suara itu tertutup, suasana klub yang bising seketika lenyap, digantikan oleh aroma leather, cerutu mahal, dan aroma alkohol yang menguap dari tubuh Jay.
โGue nggak peduli lo nyata atau hantu, malam ini lo nggak boleh lenyap lagi,โ geram Jay. Suaranya berat, serak oleh alkohol, namun penuh dengan keputusasaan yang mencekam.
Kamu menggerutu dalam hati, โMisi sialan ini bener-bener mau bikin gue gila,โ tapi saat Jay menyudutkanmu ke pintu kayu yang kokoh, jantungmu berkhianat. Kamu bisa merasakan dadanya yang bidang naik-turun dengan napas memburu. Matanya yang merah menatapmu seolah-olah kamu adalah satu-satunya air di tengah padang pasir.
Jay tidak sabar. Dia benar-benar merindukanmu sampai ke titik sarafnya yang paling dalam. Tanpa aba-aba, dia meraup bibirmu dengan ciuman yang kasar, berantakan, dan penuh dengan yearning-kerinduan yang menyakitkan. Rasa alkohol di lidahnya bercampur dengan rasa posesif yang meluap-luap.
โLo beneran di sini... lo nggak ilang kayak kemarin...โ gumam Jay di sela-sela ciumannya, tangannya gemetar saat meraba lekuk tubuhmu, memastikan bahwa yang dia sentuh adalah kulit dan daging, bukan sekadar imajinasinya yang rusak.
Kamu yang awalnya ingin menolak, perlahan mulai terbawa suasana. Dominasi Jay yang mentah-karena dia sedang tidak sadar sepenuhnya-terasa jauh lebih jujur. Dia tidak peduli dengan martabatnya sebagai konglomerat sekarang, dia hanya seorang pria yang sedang memuja โhantuโ yang akhirnya pulang ke pelukannya.
Jay menarik syalmu dengan kasar, menyingkap tanda merah milik Sunghoon yang masih segar di lehermu. Matanya yang mabuk seketika berkilat marah.
โSiapa?!โ raung Jay, cengkeramannya di bahumu mengeras. โSiapa yang berani nandain milik gue pas gue lagi gila nyariin lo?!โ
Dia tidak menunggu jawaban. Dengan cemburu yang buta karena alkohol, Jay langsung menyerang area yang sama di lehermu, menghisap dan menggigitnya dengan brutal seolah ingin menimpa tanda milik Sunghoon dengan tandanya sendiri. Dia mengangkatmu, memaksamu melingkarkan kaki di pinggangnya, dan membawamu ke sofa kulit besar di tengah ruangan.
โMalam ini, gue bakal bikin lo nggak bisa jalan buat pergi dari sini,โ bisik Jay, menanggalkan kemejanya dengan satu tangan sementara tangan lainnya mengunci pergerakanmu. โGue bakal bayar setiap detik kegilaan gue minggu ini dengan tubuh lo, (Y/N).โ
Suasana di dalam VIP Room itu semakin pekat dengan aroma maskulin yang mengintimidasi dan hawa panas yang memancar dari tubuh Jay.
Jay tidak lagi berperilaku seperti pengusaha dingin yang disegani di dunia malam, alkohol dan obsesi telah mengupas lapisan kewarasannya, menyisakan seorang pria yang sedang kelaparan akan realita.
Saat dia menjajah tubuhmu, tangannya yang besar dan kasar merayap dengan posesif, mencengkeram kulitmu seolah takut jika dia melonggarkan pegangannya, kamu akan menguap menjadi asap lagi.
โLo nggak tahu... seberapa hancur gue seminggu ini, (Y/N),โ racau Jay, suaranya parau dan bergetar di ceruk lehermu. โGue liat kasur gue ribuan kali yang masih nyisain wangi tubuh lo... gue liat diri gue sendiri di cermin ada bekal kuku lo kayak orang gila dan berasa kayak meluk angin. Gue hampir nembak kepala gue sendiri karena mikir gue udah gila beneran.โ
Mendengar pengakuan yang begitu mentah dan jujur, sesuatu di dalam dirimu ikut bergejolak. Kamu menarik tengkuknya, membisikkan desahan seksi tepat di telinganya yang memerah. โGue di sini, Jay... gue nyata. Rasain gue...โ
Bisikanmu seperti suntikan adrenalin murni yang langsung membakar saraf Jay. Matanya yang merah berkilat dengan kegelapan yang lebih pekat. Tanpa banyak bicara lagi, Jay menarik celana dalammu dengan satu sentakan kasar hingga kain tipis itu robek, membuangnya ke lantai tanpa sisa. Dia tidak peduli dengan kelembutan, yang dia inginkan hanyalah kepastian fisik yang mutlak.
Jay memaksamu berbaring di sofa kulit yang dingin, lalu membuka kedua kakimu hingga mengangkang lebar. Pandangannya yang lapar menyapu tubuh bugilmu yang kini terekspos sepenuhnya di bawah lampu neon temaram.
โRasa ini... jepitan ini... gue harus mastiin kalau ini bukan mimpi lagi,โ geram Jay.
Dia menghujamkan dirinya masuk ke dalam dirimu dengan satu sentakan brutal yang membuat sofa itu berderit keras. Kamu membusungkan dada, merintih keras saat merasakan milik Jay yang besar dan panas memenuhi rahimmu sepenuhnya. Sensasi โpenuhโ yang diberikan Jay sangat berbeda dengan Sunghoon, jika Sunghoon adalah es yang tajam, maka Jay adalah api yang menghanguskan.
Selama penyatuan yang kasar dan penuh tenaga itu, Jay tidak membiarkan tangannya menganggur. Dia meraup payudaramu, meremasnya dengan kekuatan yang membuatmu mendesah tak keruan. Dia memutar dan menarik putingmu, menciptakan sensasi nyeri yang bercampur dengan kenikmatan yang membuat akal sehatmu terbang. Jay benar-benar kecanduan, dia membenamkan wajahnya di dadamu, menghirup aroma tubuhmu sambil terus memacu ritme pinggulnya dengan kecepatan yang gila.
โLo punya gue... denger? Nggak ada cowok lain, nggak ada siapa pun yang boleh nyentuh lo selain gue!โ Jay menggeram di tengah desahannya yang berat. Setiap hantamannya ke dalam dirimu seolah-olah dia sedang memahat namanya di dalam jiwamu, memastikan bahwa rasa ini akan membekas lebih dalam daripada memori apa pun.
Keringat Jay menetes ke perutmu, hawa panas tubuhnya membungkusmu dalam sebuah gelembung obsesi yang mencekam. Kamu bisa merasakan dinding rahimmu berdenyut hebat, menjepit milik Jay dengan ritme yang sama liarnya, membuat pria itu hampir kehilangan napas karena kenikmatan yang terlalu intens. Jay terus menekan, terus merasuk, ingin menenggelamkan dirinya sepenuhnya di dalam dirimu sampai kamu pingsan lagi di bawah kendalinya.
Jay menjamahmu tiada henti dari gaya lotus, doggy style dan menggantung dia lakukan sampai rahimmu penuh dengan cairannya. Setelah beberapa ronde yang menguras seluruh tenaga, Jay akhirnya mencapai puncaknya dengan erangan yang menggetarkan ruangan. Dia melepaskan segalanya di dalam dirimu, membiarkan tubuhnya yang berat ambruk di atasmu. Napasnya masih tersengal, dan dia memelukmu dengan dekapan yang sangat erat, seolah-olah nyawanya tergantung pada kehadiranmu.
Napasmu terasa berat dan panas, paru-parumu seolah terbakar saat kamu mencoba mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang diperas habis oleh Jay. Di atas sofa kulit yang kini berantakan dan basah oleh keringat, Jay terkapar dalam tidur yang sangat lelap, kepuasan mutlak yang jarang ia rasakan. Bibirnya mengukir senyum tipis yang tampak begitu kontras dengan imej โKing of Nightโ yang dingin. Dia menggumamkan namamu berkali-kali dalam igauan mabuknya, sebuah pengakuan bawah sadar yang akan menjadi bukti tak terbantahkan baginya besok pagi bahwa kamu bukan sekadar fatamorgana alkohol.
Dengan kaki yang bergetar hebat dan rasa nyeri yang berdenyut di pangkal paha, kamu merangkak bangun. Kamu memungut pakaianmu yang berserakan, mengenakan kemeja yang kini kehilangan dua kancing utamanya-membuat belahan dadamu dan renda bra yang tersingkap terlihat begitu jelas. Kamu melangkah keluar dari ruangan VIP itu dengan gontai, meninggalkan aroma seks dan obsesi Jay di belakangmu.
Kamu masuk ke dalam toilet klub yang mewah namun sepi. Saat menatap pantulan dirimu di cermin besar yang dilapisi emas, kamu nyaris tidak mengenali dirimu sendiri. Makeupmu luntur, menciptakan aksen smokey eyes yang berantakan namun justru menambah kesan liar. Rambutmu kusut, dan lehermu penuh dengan โkarya seniโ merah keunguan dari Sunghoon dan Jay yang saling bertumpang tindih.
โGila... gue bener-bener kayak habis dijarah,โ batinmu sambil membersihkan sisa-sisa jejak Jay dengan tisu basah.
Kamu merogoh tasmu, mengirim pesan singkat pada Yujin: โGue balik duluan, badan gue nggak enak. Jangan cari gue.โSetelah itu, dengan jari yang masih gemetar, kamu memesan taksi online. Kamu hanya ingin pulang, mengunci diri, dan tidur. Namun, aplikasi OBSESSION punya rencana lain.
๐ฎ
Langkahmu gontai saat keluar dari pintu belakang klub menuju area penjemputan. Udara malam yang dingin menusuk kulitmu yang sensitif, membuatmu merinding. Karena pandangan yang sedikit kabur akibat kelelahan luar biasa, kamu tidak menyadari ada sosok tinggi yang berdiri tegak di jalur jalanmu.
DUG!
Tubuhmu menabrak dada bidang yang keras seperti tembok beton. Kamu kehilangan keseimbangan, kakimu yang lemas menyerah, dan kamu hampir jatuh ke aspal jika sepasang lengan yang kuat tidak segera menangkap pinggangmu dengan sigap.
โHati-hati,โ suara itu rendah, tenang, namun memiliki otoritas yang menggetarkan udara.
Itu Lee Heeseung. Pria yang paling misterius, paling cerdas, dan yang paling sulit ditebak dari ketujuh targetmu. Dia berdiri di sana dengan mantel panjang berwarna cokelat gelap, menatapmu dengan ekspresi yang awalnya hanya datar-sampai dia menarikmu lebih dekat untuk menyeimbangkan posisimu.
Saat wajahmu berada tepat di depan dadanya, Heeseung mengendus udara secara instingtif. Aroma parfum vanilamu yang lembut kini bercampur dengan feromon tubuh yang sedang dalam puncak gairah, serta aroma maskulin tajam milik pria lain (Jay) yang masih menempel di kulitmu.
Mata Heeseung yang tajam seketika berubah. Pupilnya melebar, dan ketenangan logis yang biasanya ia banggakan hancur berkeping-keping dalam satu detik. Dia mengenali โrasaโ ini. Ini adalah aroma yang sama yang merusak konsentrasi dan tidurnya selama tujuh hari terakhir.
โJadi... kamu nyata?โ bisik Heeseung, suaranya berubah menjadi geraman halus yang berbahaya. Berbeda 100% seperti saat pertama kalinya kamu mendarat di kamarnya.
Heeseung melihat penampilanmu yang berantakan, kemeja yang terbuka, kancing yang hilang, dan leher yang penuh tanda. Rahangnya mengeras. Dia memang belum tahu bahwa itu adalah ulah Sunghoon atau Jay, namun sisi posesifnya sebagai pria alfa langsung tersulut melihat โmiliknyaโ baru saja dijamah pria lain hingga mengenaskan seperti ini.
โSiapa yang bikin kamu berantakan kayak gini?โ Heeseung mencengkeram rahangmu, memaksamu menatap matanya yang kini dipenuhi nafsu yang mulai mengendalikan akal sehatnya. โHarusnya aku yang pertama kali melakukannya padamu di dunia nyata, bukan bajingan lain.โ
Tanpa menunggu taksi onlinemu datang, Heeseung menarikmu menuju mobil SUV hitamnya yang terparkir tak jauh dari sana. Dia tidak bertanya, dia tidak meminta izin. Logikanya sudah kalah oleh insting untuk โmembersihkanโ jejak pria lain dari tubuhmu.
Hanya butuh sepuluh menit bagi Heeseung untuk membawamu ke penthouse pribadinya yang berada di lantai paling atas gedung pencakar langit. Begitu pintu terbuka, dia melemparmu ke atas tempat tidur king size yang menghadap ke pemandangan lampu kota.
Ponselmu di saku bergetar hebat.
[NEW EMERGENCY: THE THIRD TARGET]
Lee Heeseung - STATUS: LUST DRIVEN.
Warning:Dia tidak akan melepaskanmu sampai aromanya sendiri menggantikan aroma pria lain di tubuhmu.
Heeseung melepas mantelnya, lalu membuka jam tangan mahalnya dengan gerakan yang sangat tenang namun penuh tekanan. Dia merangkak ke atas tempat tidur, mengunci kedua tanganmu di atas kepala dengan satu tangan besarnya.
โAku akan menghapus setiap jejak pria itu dari kulitmu, (Y/N),โ bisik Heeseung sambil mulai mencium bahumu yang terbuka. โDan kali ini, aku tidak akan membiarkanmu pingsan terlalu cepat. Aku ingin kamu mengingat setiap detik bagaimana aku membalas perbuatan mereka padamu.โ
Heeseung nggak banyak omong. Tatapannya yang tajam tapi tenang itu justru yang bikin merinding, seolah dia lagi membedah isi pikiranmu. Tanpa aba-aba, dia nuntun kamu yang langkahnya masih gontai ke arah kamar mandi pribadinya yang luas banget-lebih mirip spa bintang lima daripada kamar mandi biasa.
โKita bersihin dulu badan kamu, (Y/N). Bau cowok lain di kulit kamu bener-bener ngerusak fokus aku,โ bisik Heeseung dengan suara bariton yang rendah banget.
Dia nyalain bathtub raksasa, ngisi air hangat yang aromanya menenangkan, tapi suasana di sana justru makin panas. Heeseung ngelepas sisa kemeja kamu yang kancingnya udah ilang itu dengan pelan, seolah-olah dia lagi ngebuka kado yang sangat berharga. Begitu kamu bugil, dia bawa kamu masuk ke dalam air hangat.
Di dalam bathtub, Heeseung nggak langsung โnyerangโ. Dia ambil sabun cair, lalu mulai ngebalurin ke bahu dan dadamu dengan gerakan yang sangat sensual. Jarinya yang lentik tapi kuat itu menjamah setiap inci kulitmu, ngegosok pelan bekas-bekas merah dari Sunghoon dan Jay seolah-olah dia mau ngapus keberadaan mereka dari tubuhmu.
โAh... Heeseung... ngh...โ kamu mendesah pelan pas ngerasain tangan Heeseung mulai masuk ke sela paha kamu di bawah air.
Sensasi air hangat yang bergejolak karena gerakan tangannya bikin kamu makin sensitif. Heeseung makin berani, dia narik kamu buat duduk di pangkuannya di dalam air. Penyatuan di dalam bathtub itu kerasa beda banget-licin, hangat, dan sangat intim. Heeseung bergerak dengan ritme yang stabil tapi menghujam dalam, bikin air di bathtub itu tumpah-tumpah ke lantai. Kalian berdua mendesah enak banget, saling nyari bibir masing-masing buat ciuman yang dalem banget sampai akhirnya pelepasan bareng terjadi di dalam air yang berbusa itu.
Tapi kalau kamu pikir Heeseung bakal puas cuma sekali, kamu salah besar.
Begitu keluar dari kamar mandi, dia nggak kasih kamu waktu buat pake handuk dengan benar. Dia langsung nggendong kamu yang masih basah-basahan dan ngelempar kamu ke kasur king size-nya yang empuk banget. Heeseung langsung nindih kamu, matanya yang tadi tenang sekarang bener-bener gelap karena nafsu yang udah nggak terbendung lagi.
โBarusan itu cuma pemanasan buat bersihin kamu. Sekarang... bagian intinya,โ geram Heeseung.
โT-tunggu dulu ahh,โ Heeseung tidak memperdulikan intrupsimu. Dia maksa kedua paha kamu kebuka lebar sampai mentok, bener-bener posisi yang bikin kamu terekspos tanpa pertahanan. Pas kamu liat miliknya yang udah menegang sempurna dan jauh lebih galak dari ronde pertama, kamu refleks nahan dadanya. Tubuhmu rasanya udah mau remuk karena digempur tiga pria dalam sehari.
โHeeseung, tunggu... please... aku capek banget,โ rengekmu dengan suara serak.
Bukannya dengerin, Heeseung justru makin tertantang. Dia nyengkeram kedua pergelangan tanganmu dengan satu tangan besarnya, lalu ngunci tanganmu di sisi kepalamu sampai kamu nggak bisa gerak sama sekali. Dia nahan beban tubuhnya di atas kamu, bikin kamu ngerasain detak jantungnya yang gila.
โNggak ada kata capek malam ini, (Y/N). Aku mau kamu ngerasain gimana rasanya punya aku yang sebenernya, bukan cuma lewat ilusi mimpi,โ ucap Heeseung dingin tapi penuh gairah.
Tanpa permisi lagi, dia langsung menghujam masuk ke dalam dirimu dengan satu sentakan yang brutal banget. Kamu membusungkan dada, napasmu tercekat karena rasanya bener-bener penuh dan sesak. Heeseung nggak kasih kamu jeda buat adaptasi, dia langsung mainin ritme yang kasar dan cepat. Kasurnya sampe bunyi berdecit parah tiap kali Heeseung nyentak pinggulnya.
Kamu cuma bisa meracau nggak jelas sambil natep langit-langit penthouse yang mewah itu. Heeseung bener-bener dominan, dia nggak mau denger protesmu dan cuma mau denger suara desahanmu yang manggil namanya berkali-kali.
Heeseung makin menggila. Dia sama sekali nggak peduli kalau tubuhmu sudah gemetar hebat karena kelelahan setelah meladeni Sunghoon dan Jay. Di bawah lampu remang penthouse-nya, Heeseung terus menggempurmu tanpa ampun. Setiap hantamannya kerasa presisi, bertenaga, dan sangat dalam, bikin kamu cuma bisa megap-megap nyari oksigen.
โAh... Heeseung... ngh... pelan... dikit...โ rengekmu yang suaranya sudah hampir habis.
Bukannya pelan, Heeseung justru makin bersemangat. Dia ngeliat payudaramu yang memantul indah mengikuti ritme gila pinggulnya. Heeseung mengerang keenakan, matanya yang biasanya penuh logika sekarang cuma berisi kabut nafsu yang gelap. Sesekali, dia mendaratkan tamparan keras di payudaramu yang bergoyang, bikin kulitmu yang sensitif makin merah meradang.
PLAK!
โSuara kamu bagus banget, (Y/N). Jangan berhenti desah, aku mau denger seberapa dalam aku bisa masuk,โ bisik Heeseung dengan suara serak yang seksi banget di telingamu.
Nggak puas dengan posisi biasa, Heeseung tiba-tiba narik kedua kakimu sampai ke atas bahunya, ngerubah posisinya jadi gaya catapult. Posisi ini ekstrem banget, pinggulmu terangkat tinggi, bikin sudut masuknya jadi jauh lebih tajam dan dalam. Kamu langsung membelalak, ngerasain miliknya menghujam sampai ke pangkal rahim dengan sangat telak.
โ NGHhh! Hee-Heeseung... sakit... tapi... enak banget... akh!โ
Kamu bener-bener kehilangan kendali atas suaramu. Desahanmu jadi nggak karuan, pecah jadi rintihan-rintihan kecil tiap kali dia nyentak. Heeseung bener-bener tahu titik lemahmu. Dia nggunain berat tubuhnya buat nekan kamu lebih jauh lagi, seolah dia mau menanamkan eksistensinya sedalam mungkin biar kamu nggak pernah bisa lupa gimana rasanya dimiliki oleh seorang Lee Heeseung.
Heeseung bener-bener kecanduan sama reaksi tubuhmu. Dia nggak mau ini cepet selesai, dia mau kamu ngerasain setiap denyut kepemilikannya sebelum dia bener-bener ngelepasin semuanya di dalem.
โHeeseung... please... aku nggak kuat lagi... keluar di dalem aja sekarang... hiks... ngh...โ
Suaramu pecah jadi tangisan nikmat yang bener-bener menyedihkan tapi justru kedengeran sangat erotis di telinga Heeseung. Air mata yang mengalir di pipimu bukannya bikin dia kasihan, malah jadi bahan bakar baru buat nafsunya yang udah gila. Dia makin gemas liat kamu yang udah berantakan dan memohon-mohon kayak gitu.
โNggak semudah itu, (Y/N). Aku mau denger suara tangisan kamu lebih kencang lagi,โ geram Heeseung sambil menahan pelepasannya dengan kontrol diri yang luar biasa-sisi logisnya cuma dipake buat satu hal: memperlama siksaan nikmat ini buat kamu.
Tubuhmu bergetar hebat, saraf-sarafmu rasanya udah terbakar habis sampai akhirnya kamu keluar duluan untuk kesekian kalinya. Rahimmu menjepit miliknya dengan denyutan yang sangat kuat, tapi Heeseung belum selesai. Bukannya melemas, dia justru makin beringas.
Dengan tenaga yang masih meluap-luap, Heeseung ngerubah posisi kalian jadi gaya acrobat yang ekstrem. Dia terlentang di bawah, lalu narik tubuhmu buat menindihnya di atas dalam posisi duduk yang sangat terbuka. Posisi ini bikin kamu sangat rentan, Heeseung punya kendali penuh buat dorong pinggulnya dari bawah dengan tenaga yang jauh lebih besar.
โA-akh! Heeseung... ngh... terlalu dalam... hiks...โ
Setiap kali Heeseung nyentak dari bawah, kamu ngerasa miliknya seolah mau nembus perutmu. Tangannya yang besar nggak tinggal diam, dia nyengkrem payudaramu dengan kasar, narik putingmu, sementara jempolnya yang lain mainin klitorismu dengan ritme yang gila di tengah penyatuan kalian yang basah.
Kamu bener-bener nangis keenakan, kepala kamu terkulai ke belakang, leher jenjangmu terekspos dan bergetar setiap kali Heeseung menghujam. Rasanya kayak semua saraf di tubuhmu disetrum barengan. Heeseung natep wajah hancurmu dengan tatapan puas, seolah dia baru aja berhasil membedah sisi paling liar dari diri kamu.
โLihat... bahkan tangisan kamu pun manggil nama aku,โ bisik Heeseung sambil terus memacu dorongannya sampai kasur di bawahnya berderit parah.
Kesadaranmu perlahan memudar, tertelan oleh gelombang kenikmatan yang terlalu intens dan rasa lelah yang sudah mencapai batas maksimal. Duniamu menjadi gelap tepat saat Heeseung mengerang rendah, melepaskan seluruh benihnya jauh di dalam rahimmu. Tubuhmu lunglai, jatuh tak berdaya di atas dada bidang Heeseung yang masih naik-turun memburu napas.
Kamu bener-bener pingsan.
Biasanya, aplikasi OBSESSION bakal langsung menarikmu kembali ke kamarmu begitu misi selesai seolah semuanya cuma mimpi. Tapi kali ini beda. Karena ini adalah Real-World Convergence, sistem nggak bisa memindahkan fisikmu begitu saja. Kamu terjebak di dunia nyata, di dalam dekapan pria yang paling logis namun paling terobsesi padamu.
Melihatmu yang tiba-tiba tak sadarkan diri, Heeseung sempat tertegun. Dia menyentuh pipimu yang memerah, lalu merasakan denyut nadimu yang masih berdegup kencang namun teratur. Dia menghela napas panjang, ada secercah rasa puas sekaligus posesif yang terpancar dari matanya.
Dengan sangat telaten, Heeseung ngerawat tubuhmu. Dia ngambil handuk hangat, ngelap keringat dan sisa-sisa penyatuan kalian dengan sangat lembut. Dia menatap setiap memar merah-stempel dari Sunghoon, Jay, dan dirinya sendiri-yang kini menghiasi kulit putihmu seperti karya seni yang berantakan. Dia nggak merasa bersalah, dia justru merasa bangga karena sekarang tubuhmu penuh dengan jejak pria-pria yang mencintaimu secara gila.
Heeseung memakaikan kaos miliknya yang kebesaran di tubuh lemasmu, lalu membaringkanmu kembali di tengah ranjang king size-nya yang berantakan.
Fajar mulai menyingsing, menyelinap masuk lewat jendela besar penthouse yang menampilkan siluet kota. Kamu masih tertidur sangat lelap, tenggelam dalam mimpi buruk yang bercampur nikmat.
Heeseung nggak tidur. Dia menghabiskan sisa malam itu cuma buat ngeliatin wajah tidurmu. Dia kemudian memposisikan dirinya di belakangmu, melakukan gaya spooning yang sangat erat. Lengan besarnya melingkar di pinggangmu, menarik punggungmu agar menempel sempurna pada dadanya. Dia membenamkan wajahnya di ceruk lehermu, menghirup aroma tubuhmu yang sekarang sudah didominasi oleh aromanya.
Dia mendekapmu seolah-olah kamu adalah harta karun yang bakal hilang kalau dia lengah sedetik saja.
โSelamat pagi, (Y/N),โ bisik Heeseung pelan saat dia merasakan tubuhmu mulai bergerak kecil karena cahaya matahari. โJangan harap kamu bisa lari lagi hari ini. Karena sekarang, aku tahu persis di mana harus nemuin kamu.โ
Layar ponselmu di atas nakas berkedip dingin, memecah keheningan fajar di penthouse mewah milik Heeseung. Namun, barisan kata yang muncul kali ini jauh lebih menuntut daripada sebelumnya, seolah aplikasi OBSESSION sedang menertawakan nasibmu yang kian terjepit.
[LEVEL 2 MISSION: THE TWIN OBSESSION]
Objective: Jebak dua predator dengan frekuensi yang sama dalam satu ruangan.
Targets: Jake Sim & Kim Sunoo.
Warning: Aura โbaikโ mereka hanyalah kamuflase. Jangan biarkan mereka mencium aroma pria lain di tubuhmu, atau sistem tidak akan bisa menjamin keamananmu lagi.
Tubuhmu merinding seketika. Membayangkan Jake yang hangat namun posesif bertemu dengan Sunoo yang manis tapi manipulatif di satu ruangan yang sama benar-benar membuat nyalimu ciut. Apalagi sekarang, kamu masih terperangkap dalam dekapan Heeseung yang posesifnya tidak main-main.
Saat kamu mencoba bergerak untuk duduk, lengan Heeseung yang melingkar di pinggangmu justru semakin mengencang. Dia tidak tidur, dia hanya memejamkan mata, menikmati detak jantungmu yang berpacu di punggungnya.
โMau ke mana, (Y/N)? Matahari aja belum naik,โ bisik Heeseung, suaranya parau dan sangat dalam, mengirimkan getaran yang membuat bulu kudukmu berdiri.
Kamu menarik napas panjang, mencoba memutar otak. Kamu tahu Heeseung adalah pria yang paling mengedepankan logika. Jika kamu bicara soal sihir atau aplikasi, dia akan menganggapmu gila. Kamu harus memberinya penjelasan yang bisa diterima oleh akal sehatnya yang tajam.
โHeeseung... dengerin aku,โ ucapmu sambil membalikkan tubuh dalam dekapannya, menatap matanya yang kini terbuka dan menatapmu intens. โAku tahu ini nggak masuk akal. Kejadian seminggu ini... aku emang โjalang gilaโ yang nggak sengaja masuk ke mimpi-mimpi kamu. Anggap aja itu lucid dream. Kamu terlalu stres dengan pekerjaan sampai otak kamu menciptakan proyeksi tentang aku.โ
Heeseung menyipitkan mata, rahangnya mengeras. โProyeksi? Tapi rasa tubuh kamu semalam... itu nyata.โ
โItu kebetulan,โ sanggahmu cepat, meski suaramu sedikit gemetar. โPertemuan kita di depan klub semalam itu cuma kebetulan yang sial. Aku emang ada... โurusanโ sama pemilik klub itu, Jay. Aku nggak tahu kalau ternyata kita dipertemukan lagi di sana.โ
Mendengar nama Jay, ekspresi Heeseung berubah drastis. Ada kilatan keterkejutan sekaligus kemarahan yang tertahan. โJay? Jongseong maksudmu? Dia rekan bisnis sekaligus teman dekatku. Jadi... tanda di lehermu itu dari dia?โ
Kamu hanya bisa terdiam, membiarkan asumsinya bekerja. Heeseung terdiam lama, terlihat sedang berperang dengan logikanya sendiri. Dia benci ketidakteraturan, tapi penjelasanmu tentang lucid dream dan kebetulan yang beruntun adalah satu-satunya jembatan yang bisa menghubungkan kegilaan ini dengan dunianya yang teratur.
Akhirnya, Heeseung menghela napas panjang. Dia melepaskan pelukannya, meski tangannya masih mengelus pipimu dengan posesif.
โOke. Anggaplah semua itu kebetulan yang gila,โ ucap Heeseung sambil beranjak dari kasur, menampilkan tubuh atletisnya yang tanpa busana dengan penuh percaya diri. โTapi kebetulan itu berakhir pagi ini. Sekarang kamu nyata di depan mata aku.โ
Meski terlihat enggan melepaskanmu, sisi gentleman Heeseung muncul. Dia membuatkanmu sarapan sederhana namun mewah, menyajikannya dengan sikap yang sopan tapi tetap mendominasi ruang gerakmu. Setiap kali dia meletakkan piring atau menuangkan teh, dia sengaja menyentuh kulitmu, seolah ingin memastikan kamu tidak akan menghilang lagi.
Setelah selesai, Heeseung mengantarmu ke pintu depan. Dia menahan pintu itu dengan satu tangan, menghalangi jalanmu sejenak.
โAku bakal biarin kamu pulang sama taksi yang aku pesanin,โ ucapnya, nadanya tidak menerima bantahan. โTapi kasih aku nomor teleponmu. Aku nggak peduli ini lucid dream atau bukan, aku nggak berniat kehilangan kamu lagi buat kedua kalinya.โ
Dengan tangan gemetar, kamu mengetikkan nomor teleponmu di ponsel mahalnya. Heeseung tersenyum tipis-sebuah senyum kemenangan yang dingin. Begitu kamu melangkah keluar, ponselmu bergetar.
[MISSION STATUS: LOGICAL ACCEPTANCE COMPLETED]
Target: Lee Heeseung
STATUS: PERMANENT ANCHOR.
System Note: Heeseung menerima alasanmu hanya agar dia punya kendali atasmu di dunia nyata. Kamu masih berada di dalam genggamannya, dan sekarang... Jake serta Sunoo sudah menunggu giliran mereka di koordinat selanjutnya.
Kamu membuang napas panjang saat taksi yang dipesan Heeseung meluncur menjauh dari gedung penthouse. Tubuhmu rasanya mau remuk, tapi layar ponselmu terus berkedip, menampilkan peta navigasi yang memaksamu menuju sebuah titik di pusat kota: Kampus Seni Internasional.
Kamu nggak tahu kalau itu kampus Sunoo, tapi instingmu bilang ada sesuatu yang besar di sana. Masa bodoh dengan Sunghoon yang mungkin mengamuk karena nggak mendatanginya dan sekarang kamu bolos kerja, atau Jay yang mungkin sedang mengerahkan seluruh anak buahnya buat cari kamu dimanapun kamu berada. Hari ini kamu mengambil cuti sakit-sakit yang sebenarnya, karena fisikmu memang sudah di ambang batas.
To Be Continued
semoga suka ya sayang sayangku
wopyu michies๐
jangan lupa like, follow dan comment๐ฅฐ




Jake dan sunoo di satuin gilakk melayangg ๐คค