9 Halo Dek
Laksamana Jay
jangan lupa vote
Hari-hari di sekolah kini terasa seperti siksaan yang merambat lambat bagi kamu. Duduk di bangku kelas dengan seragam OSIS yang kaku, kamu merasa asing dengan duniamu sendiri. Di sekitarmu, teman-teman membicarakan tugas kelompokatau drama remaja, sementara pikiranmu terjebak dalam memori panas di hotel dan getaran vibrator kaca yang kini menjadi rahasia paling gelap di dalam tas sekolahmu.
Kamu mulai menjadi sangat manja. Setiap jam istirahat, kamu bersembunyi di pojok perpustakaan atau toilet hanya untuk mengirimkan pesan-pesan singkat yang menuntut perhatian Jay.
(y/n): “Bang Jay... kangen. Dadaku sesak banget pengen dipeluk Abang. Di sekolah ngebosenin, aku pengen pulang terus denger suara Abang.”
Jay, di sela kesibukannya sebagai Laksamana Pertama, selalu menanggapi dengan kecepatan yang membuat jantungmu berdebar. Ia tidak lagi kasar namun ia menggunakan kata-kata yang begitu manis, memanggilmu “Sayang”, “Ratu Kecil”, dan”Milik Abang”. Manipulasinya bekerja sempurna agar kamu merasa seolah-olah dunia luar tidak lagi penting, asalkan Jay tetap memberikan validasi cintanya padamu.
Dinamika kalian pun bergeser. Kini, bukan lagi Jay yang meminta sesi video call vulgar (VCS). Justru kamu yang mulai sering merasa heat hanya karena mendengar suara baritonalnya atau membaca kata-kata manisnya yang provokatif. Keinginanmu untuk menyenangkan Jay-dan keinginanmu untuk merasakan “kepuasan” yang ia berikan-menjadi sebuah adiksi yang tak terbendung.
Suatu malam, kamu sedang berbaring di tempat tidur dengan ponsel di samping bantal. Jay sedang bersantai di rumah dinasnya, bermain game arcade di PC gaming-nya. Ia melakukan on-mic, meletakkan ponselnya tepat di sebelah mouse, sehingga setiap klik mekanik dan suara napasnya terdengar jelas di telingamu.
“Sial, dikit lagi... mati lo!” Jay mengumpat rendah, diikuti suara tawa kemenangan yang berat dan seksi saat ia berhasil mengalahkan musuh di layar monitornya.
Suara Jay yang sedang fokus, erangan kesalnya saat kalah, dan tawa maskulinnya saat menang, menciptakan getaran aneh di perut bawahmu. Tanpa sadar, tanganmu meraba laci nakas dan mengambil vibrator kaca bening itu. Dengan tubuh yang hanya terbalut daster tipis tanpa pakaian dalam, kamu menyelinapkan alat itu ke dalam dirimu.
Sluuurp... Bzzzzzzzt...
Kamu memejamkan mata erat, menggigit bibir bawahmu hingga hampir berdarah untuk menahan desahan agar tidak terdengar oleh Jay. Kamu bergerak perlahan di atas kasur, membiarkan getaran vibrator itu menyentuh titik-titik saraf yang sudah Jay “rusak” sebelumnya. Kamu membayangkan tangan Jay-lah yang sedang memegang alat itu, membayangkan Jay sedang menatapmu dengan tatapan predatornya sementara ia sibuk dengan permainannya.
Jay tidak bodoh. Sebagai seorang perwira tinggi dengan insting intelijen yang tajam, ia mendengar setiap gesekan kain, napasmu yang mulai tidak teratur, dan bunyi humming mesin vibrator yang samar tertangkap mikrofon. Ia tahu persis kamu sedang bermain sendirian di sana. Namun, Jay sengaja membiarkannya. Ia tidak bertanya, tidak menggoda, dan tetap fokus pada layar PC-nya.
Jay menyukai fakta bahwa kamu sudah begitu bergantung padanya secara biologis hingga kamu melakukan hal itu secara sukarela tanpa diminta. Ia menikmati posisi “berkuasa” di mana hanya dengan suaranya yang sedang bermain game, ia bisa membuatmu berantakan di seberang telepon.
“Kamu masih di sana, (y/n)?” tanya Jay tiba-tiba dengan nada datar namun penuh selidik, setelah suara klik mouse-nya berhenti sejenak.
“I-iya, Bang... hhh... masih,” jawabmu dengan suara yang sangat tipis dan bergetar, berusaha menekan kontraksi hebat di dalam rahimmu.
“Pinter. Temenin Abang sampai level ini selesai ya, Sayang,” ucap Jay sambil kembali bermain, seringai tipis muncul di wajahnya saat ia mendengar rintihan tertahanmu yang semakin liar di seberang sana.
Suasana kamar yang gelap hanya diterangi oleh cahaya remang layar ponselmu. Tubuhmu sudah melengkung ekstrem di atas kasur, seprei yang tadinya rapi kini kusut masai akibat remasan tanganmu. Kamu sudah tidak bisa lagi menahan desahan yang sejak tadi tertahan di tenggorokan. Suara klik mouse Jay dan umpatan rendahnya setiap kali ia menyerang musuh di layar PC menjadi musik latar yang paling erotis bagi sarafmu.
“Ahhh... Bang Jay... hhh... Ja-jay...” rintihmu pecah.
Kamu mendorong vibrator kaca itu hingga ke pangkal, merasakan sensasi penuh yang menyiksa sekaligus nikmat. Otot-otot intimu menjepit batang dingin itu dengan sangat erat, seolah-olah sedang berusaha menyedot seluruh energi dari bendaitu. Napasmu memburu, tarikan napasmu semakin tidak teratur, sangat kontras dengan Jay yang di seberang sana masih terdengar sangat fokus dan dingin menghadapi level terakhir permainannya.
Tepat saat kamu mencapai puncak, tubuhmu tersentak kaku. Kamu melenguh panjang, suara desahan yang dalam dan serak memenuhi panggilan telepon itu. Intimu berkedut hebat, membanjiri vibrator kaca itu dengan cairan pelepasanmu yang hangat. Kamu meremas dadamu sendiri, mencoba menenangkan jantung yang berdegup gila, lalu dengan sisa tenaga, kamu mendekatkan bibirmu ke arah mikrofon ponsel.
“Bang... hiks... liat (y/n)... Abang... diem aja dari tadi...” bisikmu manja, menuntut perhatian pria yang baru saja membuatmu hancur hanya lewat suara.
Tiba-tiba, suara game yang tadinya bising menghilang. Hening. Lalu, layar ponselmu berubah menjadi tampilan Video Call.
Jay muncul di layar monitornya dengan tatapan yang sangat tajam. Ia menyandarkan punggungnya di kursi gaming, wajahnya terlihat tenang namun matanya berkilat haus. Ia melihatmu yang berantakan-wajah memerah, rambut kusut, dandaster yang tersingkap.
“Taruh ponsel kamu di antara paha kamu. Sekarang,” perintah Jay, suaranya rendah dan penuh otoritas.
Kamu tersentak, merasa seperti pencuri yang tertangkap basah sedang menikmati kepuasan di saat dia sibuk. Dengan tangan gemetar, kamu meletakkan ponsel di antara kedua pahamu, mengarahkan kameranya tepat ke arah intimu yang masihberdenyut liar dan vibrator kaca yang bening itu-yang kini tampak mengkilap dan basah oleh sisa pelepasanmu.
Jay menatap pemandangan itu melalui monitor raksasanya. Ia melihat bagaimana lubang intimu masih mencoba menjepit alat itu, mengirimkan bukti nyata betapa berantakannya kamu tanpanya. Jay tidak marah karena kamu “mencuri waktu”, sebaliknya, ia menyeringai puas.
“Pinter banget. Good girl,” ucap Jay, suaranya kini melunak, manipulatif namun menenangkan. “Ternyata kamu emang nggak bisa tahan kalau nggak Abang ‘hukum’, ya?”
Ia mengusap bibirnya sendiri, menatap lekat ke arah kameramu. “Sabar ya, Sayang. Tahan itu di dalem kalau perlu. Dua hari lagi Abang jemput. Kita bakal lakuin yang lebih dari sekadar mainan kaca itu. Ngerti?”
Mendengar janji itu, kamu hanya bisa mengangguk lemas, merasa sangat dimiliki sekaligus sangat haus akan pertemuan nyata dengan Laksamanamu itu.
Malam itu berakhir dengan bisikan rendah Jay yang seolah merayap masuk ke dalam alam bawah sadarmu. Sambil menatap layar yang menampilkan wajah tidurmu yang tenang-namun dengan tubuh yang masih “terisi” oleh benda kaca miliknya-Jay menyunggingkan senyum kemenangan yang dingin.
“Mimpi basah yang indah, budak kecilku. Sampai jumpa di hari Sabtu,” bisiknya sangat lirih sebelum layar PC-nya menggelap, memutuskan sambungan namun tidak memutuskan jerat obsesi yang telah ia tanam dalam jiwamu.
[Sabtu Sore di Gerbang Sekolah 14.00 WIB]
Udara Sabtu siang terasa lebih gerah dari biasanya, namun jantungmu berdegup jauh lebih kencang daripada suhu udara di sekitarmu. Kamu berdiri di balik pilar gerbang sekolah, merapikan setelan seragam Pramuka cokelatmu yang masih rapi. Rok plisket panjangmu bergoyang pelan tertiup angin, dan handuk leher merah-putih yang terikat rapi di lehermu seolah menjadi simbol kepolosan yang kontras dengan apa yang tersimpan di balik tas ranselmu.
Kamu sudah melakukan kebohongan terbesar dalam hidupmu: izin kepada Ibu untuk camping (Persami) di sekolah sampai hari Minggu. Sebuah alibi sempurna untuk menghabiskan waktu 24 jam penuh dalam kekuasaan Jay.
Kamu sengaja meminta Isa pulang duluan dengan alasan ada urusan organisasi. Setelah memastikan area sekolah mulai sepi dari gerombolan siswa, kamu melangkah keluar. Kamu telah berdandan sedikit lebih niat hari ini, sapuan lip tint tipis di bibir mungilmu, sedikit concealer untuk menutupi sisa lebam di leher, dan aroma parfum vanila yang manis khas remaja berusia 16 tahun.
Di seberang jalan, sebuah mobil SUV hitam dengan plat nomor dinas militer sudah terparkir gagah. Kaca filmnya yang gelap membuat siapapun tidak bisa melihat ke dalam, namun kamu tahu siapa yang ada di sana.
Pintu kemudi terbuka. Laksamana Pertama Jay keluar dari mobil, dan untuk sesaat, napasmu tertahan di tenggorokan.
Hari ini ia tidak memakai baju santai. Jay mengenakan Seragam Dinas Harian (SDH) perwira angkatan laut yang sangat pas di tubuh tegapnya. Kemeja putih dengan tanda pangkat bintang satu di pundak, celana biru tua yang disetrika tajam, dan sepatu fantofel hitam yang mengkilap sempurna. Ia berdiri bersandar di pintu mobil, kacamata hitam menutupi tatapan tajamnya, memandangi sosokmu yang mungil dalam balutan seragam Pramuka.
“Sini, Sayang,” panggil Jay pelan, namun suaranya memiliki otoritas yang membuat kakimu bergerak otomatis mendekatinya.
Begitu kamu sampai di depannya, Jay tidak mempedulikan sekeliling. Ia melepas kacamata hitamnya, menunduk sedikit untuk menatap wajahmu yang sudah dipoles make-up tipis. Jemarinya yang kasar mengusap pipimu, lalu turun menariksedikit kerah seragam Pramukamu.
“Cantik banget hari ini. Seragam cokelat ini... bikin kamu kelihatan makin menggemaskan buat dirusak,” bisik Jay dengan nada manis yang manipulatif, membuat bulu kudukmu meremang dan intimu kembali berdenyut seketika.
Ia membukakan pintu untukmu, memperlakukanmu seperti ratu namun dengan tatapan yang mengatakan bahwa kamu adalah tawanan pribadinya untuk dua hari ke depan. Begitu kamu masuk ke dalam kabin mobil yang dingin dan harumaroma maskulin Jay, ia segera menyusul dan mengunci pintu secara otomatis.
“Siap buat ‘camping’ bareng Abang, (y/n)?”
Jay menyeringai, mulai melajukan mobilnya menjauh dari sekolah, membawamu menuju destinasi rahasia di mana ia telah menyiapkan “pelatihan kepatuhan” yang jauh lebih intens dari sebelumnya.
Mobil SUV hitam Jay meluncur tenang memasuki area parkir khusus di salah satu pusat perbelanjaan paling elit di ibu kota. Kamu duduk di kursi penumpang, jemarimu saling bertaut di atas rok Pramuka cokelatmu, merasa sedikit kerdil namun sangat bangga karena berada di samping pria setinggi Laksamana Jay.
Begitu turun, Jay tidak ragu menggandeng tanganmu. Seragam perwiranya yang gagah mengundang tatapan hormat sekaligus penasaran dari orang-orang yang berpapasan. Mereka mungkin mengira kamu adalah adiknya, atau kerabat dekatnyapadahal, di balik balutan seragam Pramuka itu, kamu adalah milik pribadinya yang paling patuh.
Jay membawamu ke sebuah Spa & Wellness Center eksklusif. “Manjain diri kamu, Sayang. Abang mau kulit kamu sehalus sutra buat malam ini,” bisiknya tepat di telingamu sebelum menyerahkanmu pada terapis profesional.
Selama dua jam, kamu dipijat, lulur, dan dimanjakan dengan aroma terapi yang menenangkan. Semua rasa lelah dari sekolah dan ketegangan rahasiamu seolah menguap. Jay benar-benar memperlakukanmu seperti ratu, persis seperti janjinya. Setelah itu, ia membawamu makan siang di restoran fine dining yang tenang. Entah kenapa vibes-nya malah seperti ayah dan anak remaja yang sedang kencan di saat ibunya sibuk belanja.
“Enak makanannya?” tanya Jay lembut sambil memotongkan steak untukmu. Matanya yang tajam menatapmu dengan binar kasih sayang yang manipulatif. “Kamu berhak dapet ini semua, (y/n). Asalkan kamu terus nurut sama Abang, dunia ini bakal ada di genggaman kamu.”
Kamu tersenyum tersipu, merasa sangat dicintai. Setelah makan, Jay membawamu ke butik perhiasan mewah. Ia memilihkanmu sebuah gelang emas putih yang manis, namun matanya tertuju pada sebuah kotak kecil yang ia beli secara rahasiasementara kamu melihat-lihat jam tangan.
Di dalam kotak itu, tersimpan sebuah choker kulit hitam yang elegan dengan aksen emas, yang secara tersembunyi tersambung dengan rantai tipis menuju klem putting (nipple clamps) yang sangat kuat. Sebuah “perhiasan” fungsional yang akanmenandai kepemilikannya secara fisik.
★
To Be Continued




Y/n nih bnr² definisi remaja labil, tp labilnya kebablasan😭 yg ku heran emg ga ada grup sekolah yah smp kagak curiga bjir ibu bapaknya
MANIPULATIF NYA GK MAIN II..TP JUJUR KALO JAY GYE SANGGUP 🖐🏻