Tahun-tahun berlalu seperti montase film yang penuh warna. Hubungan rahasiamu dengan Sunghoon tumbuh menjadi sesuatu yang begitu kokoh, ditempa oleh kedewasaan dan kesabaran. Selama masa itu, kamu tetap menjadi jurnalis yang tajam, sementara di sisi lain, kamu adalah sosok “bayangan” yang selalu ada di barisan depan konser, di balik layar comeback solo, hingga menjadi orang terakhir yang ia peluk sebelum ia berangkat memenuhi tugas wajib militer.
Masa wamil ternyata membuat Sunghoon semakin matang. Ia kembali dengan fisik yang lebih bugar, bahu yang lebih lebar, dan aura kepemimpinan yang semakin bersinar. Penggemar menyambutnya seolah ia adalah raja yang kembali ke tahtanya. Namun, ada satu hal yang berubah: tatapan matanya jauh lebih tenang, seolah ia sudah memiliki “jangkar” yang kuat dalam hidupnya.
Hingga tibalah saat di mana kontrak grup dengan agensi baru tersebut berakhir setelah masa perpanjangan yang sukses.
Tanpa ada skandal pacaran sebelumnya, tanpa ada foto paparazzi yang berhasil menangkap basah kalian (terima kasih pada kemampuan jurnalisme investigasimu dalam menghapus jejak), Sunghoon melakukan sesuatu yang sangat berani.
Melalui sebuah surat tulisan tangan yang diunggah di akun pribadinya dan konferensi pers singkat, Sunghoon mengumumkan masa depannya.
“Aku telah memberikan seluruh masa mudaku untuk panggung, dan aku tidak menyesalinya karena ada kalian di sana. Namun, ada satu orang yang telah menjagaku di saat duniaku gelap, yang tetap percaya padaku saat aku sendiri hampir menyerah. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku untuk menjaganya kembali. Aku akan menikah.”
Dunia hiburan gempar. Internet seolah meledak. Meski ada segelintir sasaeng gila yang mencoba menggali identitasmu atau melontarkan kebencian, Sunghoon berdiri seperti tameng baja. Ia tidak menyebutkan namamu, tidak memberikan foto wajahmu—ia melindungimu dengan cara yang paling elegan. Ia hanya ingin dunia tahu bahwa ia telah memilih pelabuhannya.
Malam Sebelum Hari Bahagia tiba. Di unit penthouse yang sekarang sudah terasa seperti rumah kalian bersama, Sunghoon sedang duduk di sofa sambil membolak-balik draf undangan pernikahan yang polos tanpa nama mempelai wanita demi keamanan.
“Kamu nggak takut?” tanyamu pelan sambil membawakannya segelas air. “Setelah pengumuman itu, tekanan dari luar pasti makin gila.”
Sunghoon menarik tanganmu, membawamu duduk di pangkuannya—posisi favoritnya sejak malam itu. Ia memeluk pinggangmu erat, menyandarkan kepalanya di bahumu.
“Aku lebih takut kalau harus kehilangan kamu lagi, (y/n). Urusan dunia luar... biarlah mereka menebak-nebak. Jurnalis Shin sudah kerja keras menghapus semua jejak kita, kan?” godanya sambil mencium pipimu yang kini sedikit lebih berisi.
“Tapi tetap saja... mereka nggak tahu kalau ‘calon istri’ Sunghoon adalah jurnalis yang paling mereka benci karena sering bongkar kasus korupsi,” ujarmu sambil tertawa kecil.
Sunghoon terkekeh rendah. “Itu bagian terbaiknya. Mereka nggak akan pernah nyangka kalau ‘malaikat pelindungku’ adalah wanita paling tangguh di dunia jurnalisme. Biarlah ini jadi rahasia terindah kita sampai nanti kita siap buat muncul berdua.”
Pernikahan kalian direncanakan akan sangat tertutup di sebuah pulau privat yang aksesnya hanya bisa dicapai dengan pengawalan ketat dari tim keamanan Jay. Tidak ada media, tidak ada siaran langsung. Hanya ada para member, keluarga inti, Rei, dan Yujin.
Sunghoon meraih jemarimu, menatap cincin pertunangan yang melingkar manis di sana.
“Makasih ya sudah nunggu selama ini. Dari mulai kamar sewa yang sempit, kantor polisi yang dingin, sampai masa wamil yang lama... kamu nggak pernah pergi,” bisiknya dalam. “Besok, pas janji suci itu diucap, nggak ada lagi kode-kode rahasia. Di depan Tuhan dan sahabat-sahabat kita, kamu resmi jadi milikku sepenuhnya.”
Kamu mengecup keningnya, merasakan ketulusan yang tak pernah pudar selama bertahun-tahun ini. “Aku juga makasih, Hoon. Karena kamu lebih milih jujur ke dunia soal statusmu daripada terus sembunyi, meskipun itu berisiko.”
“Aku mau bangga punya kamu, (y/n). Walaupun dunia nggak tahu wajahmu, mereka harus tahu kalau aku adalah pria paling beruntung karena dicintai olehmu,” sahutnya sebelum ia membungkam bibirmu dengan ciuman yang lembut namun penuh kepastian.
Malam itu, kalian tertidur dalam dekapan masing-masing. Di luar sana, dunia mungkin masih berisik menebak siapa sosok beruntung itu, tapi di dalam kamar ini, hanya ada ketenangan. Besok, babak baru akan dimulai—sebuah awal di mana Park Sunghoon dan kamu bukan lagi dua orang yang sembunyi dari badai, melainkan dua orang yang siap berjalan bersama menuju matahari terbenam.
★
Hari yang selama ini terasa seperti angan-angan kosong di depan layar laptop, akhirnya benar-benar nyata di depan mata. Di dalam salah satu kamar mewah di vila pribadi itu, kamu berdiri di depan cermin besar, menatap sosok wanita yang mengenakan gaun putih elegan dengan potongan minimalis namun sangat berkelas.
Jantungmu berdegup sangat kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari dadanya. Tanganmu dingin, dan kamu berkali-kali menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.
“Aduh, jurnalis kita yang biasanya paling berani debat sama polisi sekarang kok gemeteran gini sih?” goda Yujin sambil merapikan veil transparan di rambutmu.
Rei tertawa sambil memberikan buket bunga mawar putih ke tanganmu. “Wajar dong, Jin. Bayangin, ini bukan cuma soal nikah, tapi dia beneran bakal jalan ke altar sama Park Sunghoon! Gila, kalau fans lain tahu, internet bisa kiamat hari ini.”
“Tapi beneran, lo cantik banget,” lanjut Rei dengan nada yang lebih tulus, matanya sedikit berkaca-kaca. “Dari zaman kita lari-larian di warnet demi hapus jejak dia, sampai akhirnya hari ini tiba... Lo layak dapetin kebahagiaan ini.”
Kalimat Rei membuatmu tersenyum kecil, meski matamu ikut memanas. “Makasih ya, kalian berdua selalu ada buat gue. Kalau bukan karena kalian yang bantuin gue koordinasi massa malam itu, mungkin ceritanya bakal beda.”
Musik instrumen lembut mulai terdengar dari halaman luar. Melalui celah jendela, kamu bisa melihat halaman vila yang sudah dihias cantik dengan bunga-bunga liar dan kursi kayu putih yang tertata rapi. Tidak ada kamera media, tidak ada kerumunan fans yang histeris. Hanya ada para member—Jay, Jungwon, Jake, Heeseung, Sunoo, dan Riki yang terlihat sangat tampan dengan setelan jas mereka—serta keluarga inti.
Pintu besar itu terbuka. Begitu kamu melangkah keluar, udara segar dari arah laut menyambutmu. Namun, pandanganmu langsung terkunci pada satu titik: Park Sunghoon.
Dia berdiri di sana, di ujung altar kayu yang dihias bunga. Dia mengenakan tuksedo hitam yang sangat pas di tubuh bugarnya. Rambutnya ditata rapi, memperlihatkan dahi dan wajahnya yang selalu kamu puja. Begitu matanya menangkap sosokmu, Sunghoon terlihat menelan ludah. Ia tidak bisa menyembunyikan ekspresi terpesonanya. Matanya berkaca-kaca, dan ia memberikan senyum tipis—jenis senyum yang penuh dengan kelegaan dan kemenangan.
Kamu berjalan perlahan, setiap langkahmu terasa seperti rangkuman dari semua perjuangan kalian. Dari malam dingin di sel penjara, masa-masa sembunyi di apartemen, hingga penantian panjang saat dia wajib militer. Semua rasa lelah itu menguap saat kamu akhirnya sampai di hadapannya.
Sunghoon meraih tanganmu yang masih sedikit gemetar. Ia meremasnya lembut, mencoba menyalurkan ketenangan yang biasa ia berikan padamu.
“Kamu cantik banget... sampai aku lupa gimana caranya napas,” bisiknya sangat pelan, hanya bisa didengar olehmu.
Pendeta mulai memimpin upacara. Saat tiba waktunya pengucapan janji, Sunghoon memegang kedua tanganmu, menatap tepat ke matamu dengan intensitas yang membuat duniamu kembali terhenti.
“Aku, Park Sunghoon, mengambilmu sebagai istriku. Bukan karena kamu adalah orang yang menyelamatkanku dari kehancuran, tapi karena kamu adalah satu-satunya alasan aku ingin terus menjadi orang baik. Di depan sahabat dan keluarga kita, aku berjanji untuk menjagamu dari dunia luar yang bising, dan memberikanmu rumah yang paling aman—yaitu di sampingku. Selamanya.”
Kamu pun menjawab dengan suara yang bergetar namun pasti, “Aku, (y/n), mengambilmu sebagai suamiku. Aku berjanji akan terus menjadi pendukung pertamamu, pasangan jujur yang akan selalu membela kebenaranmu, dan pasangan yang tidak akan pernah membiarkanmu merasa sendirian lagi.”
“Sekarang, silakan mempelai pria mencium mempelai wanita.”
Sunghoon tidak menunggu lama. Ia menarik pinggangmu pelan, mendekatkan wajahnya, dan menyatukan bibir kalian dalam sebuah ciuman yang sangat dalam dan penuh perasaan. Sorak-sorai dari para member dan tangis haru dari Rei serta Yujin pecah di sekeliling kalian.
Di bawah sinar matahari sore yang hangat dan di hadapan orang-orang yang paling mencintai kalian, Park Sunghoon bukan lagi milik dunia. Dia adalah milikmu, dan kamu adalah miliknya. Rahasia terbesar dalam sejarah industri hiburan itu akhirnya tertutup dengan akhir yang paling indah—sebuah pernikahan yang lahir dari keberanian, kejujuran, dan cinta yang tak terkalahkan.
Sesi foto bersama berubah menjadi keributan yang penuh tawa. Para member ENFINITY benar-benar nggak bisa diam Heeseung dan Jay yang sibuk mengatur gaya, Jake dan Sunoo yang terus-menerus melemparkan confetti ke arah kalian, sampai Riki yang menjahili Sunghoon dengan pose-pose konyol di belakangnya.
Namun, di tengah keriuhan itu, Sunghoon nggak pernah sekalipun melepas genggaman tangannya darimu. Setiap kali fotografer bilang, “Satu, dua, tiga!”, Sunghoon selalu menoleh padamu, mencuri kecupan di pelipis atau hanya sekadar menatapmu dengan binar mata yang bilang, “Akhirnya, kita sampai di sini.”
Begitu acara makan malam selesai dan tamu-tamu mulai kembali ke kamar masing-masing, Sunghoon menuntunmu masuk ke dalam kamar utama vila yang sudah didekorasi dengan sangat romantis. Lilin-lilin kecil beraroma vanilla dan sandalwood menyala di setiap sudut, dan taburan kelopak mawar putih menghiasi ranjang king size yang menghadap langsung ke arah laut.
Sunghoon menutup pintu dan menguncinya. Suasana yang tadinya ramai mendadak berubah menjadi sangat sunyi dan privat. Hanya ada suara deburan ombak di kejauhan dan napas kalian yang mulai saling mengejar.
“Capek?” tanya Sunghoon lembut. Ia melonggarkan dasinya, lalu melepas jas tuksedonya dan melemparnya ke kursi.
Kamu mengangguk pelan sambil duduk di tepi kasur, mencoba melepas sepatu hak tinggimu yang mulai menyiksa. “Capek, tapi seneng banget. Masih ngerasa ini nggak nyata, Hoon.”
Sunghoon berlutut di depanmu, mengambil alih tugas melepaskan sepatumu. Setelah selesai, ia tidak langsung berdiri. Ia tetap di sana, mengusap pergelangan kakimu perlahan, lalu mendongak menatapmu.
“Sekarang nyata, (y/n). Kamu sudah jadi Park (y/n) sekarang,” bisiknya dengan suara serak yang selalu berhasil membuat perutmu mulas.
Ia berdiri, lalu berjalan ke belakangmu untuk membantumu membuka ritsleting gaun pengantinmu. Kamu bisa merasakan jemarinya yang dingin bersentuhan dengan kulit punggungmu, mengirimkan gelombang listrik yang familiar. Begitu gaun itu sedikit melonggar, Sunghoon tidak langsung menariknya turun. Ia justru membenamkan wajahnya di ceruk lehermu, menghirup dalam-dalam aroma parfummu yang bercampur dengan wangi tubuhmu yang memabukkan.
“Hoon...” desahmu pelan saat merasakan bibirnya mulai memberikan kecupan-kecupan basah di sepanjang bahumu.
“Malam ini nggak akan ada yang ganggu kita. Nggak ada chat dari manajer, nggak ada jadwal latihan, nggak ada sasaeng,” gumamnya di telingamu. Ia membalikkan tubuhmu agar menghadapnya.
Wajah Sunghoon terlihat sangat tampan di bawah cahaya temaram. Matanya berkilat dengan gairah yang jauh lebih dalam dari malam-malam sebelumnya. Ini adalah malam pertama kalian sebagai suami istri, sebuah penyatuan yang sah secara hukum dan hati.
Ia menarikmu berdiri, membuat tubuhmu yang hanya terbalut gaun yang melonggar menempel sempurna pada kemeja putihnya yang setengah terbuka. Sunghoon meraih pinggangmu, mengangkatmu dengan mudah ke atas pangkuannya sambil ia duduk di tepi kasur—posisi yang selalu menjadi favoritnya untuk mendominasi.
“Aku mau kita nikmatin setiap detik malam ini, pelan-pelan banget,” bisiknya sambil menatap bibirmu yang sudah sangat ia dambakan.
Ia mulai melepas kancing kemejanya satu per satu dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya sudah mulai merayap masuk ke dalam gaunmu, mencari kulit hangat yang selama ini ia rindukan.
“I love you, Mrs. Park,” gumamnya tepat sebelum ia membungkam bibirmu dengan ciuman yang sangat intens, penuh dengan rasa kepemilikan dan janji masa depan yang baru saja kalian mulai. Malam itu, vila pribadi di pinggir pantai itu menjadi saksi bagaimana seorang idola dunia benar-benar menyerahkan seluruh jiwa dan raganya hanya untuk satu wanita yang telah menjadi pahlawan di hidupnya.
“I love you too, Park Sunghoon... lebih dari apapun,” balasmu dengan suara yang hampir habis, tenggelam dalam tatapan matanya yang begitu memuja. Kamu melingkarkan lenganmu di lehernya, menariknya lebih dekat seolah ingin melebur menjadi satu dengannya.
Sunghoon tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh kemenangan sekaligus kasih sayang. Ia menarik ritsleting gaunmu sepenuhnya hingga kain putih mahal itu luruh ke lantai, menumpuk di sekitar kakimu. Kini, di bawah temaram lampu kamar yang hangat, kamu berdiri di hadapannya dengan hanya mengenakan set pakaian dalam pengantin yang sudah kamu siapkan dengan jantung berdebar tadi pagi.
Bra putih berenda yang kontras dengan warna kulitmu, celana dalam senada, dan stocking putih transparan yang membungkus kaki jenjangmu hingga ke paha atas. Pemandangan itu membuat napas Sunghoon tercekat. Matanya menelusuri setiap jengkal tubuhmu, dari ujung kepala hingga ujung kakimu yang terbalut kain tipis itu.
“Kamu... bener-bener mau bikin aku gila ya, (y/n)?” bisiknya parau, suaranya kini terdengar jauh lebih rendah dan berbahaya.
Ia menarikmu kembali ke dalam dekapannya, membiarkan kulit dadanya yang telanjang bergesekan langsung dengan rendamu yang halus. Tangan Sunghoon yang besar mulai merayap turun, jemarinya menyentuh pinggiran stocking-mu, mengusap kulit lembut di sana dengan gerakan yang sangat perlahan, seolah sedang menghargai setiap inci dari “hadiah” yang baru saja ia buka.
“Stoking ini...” gumamnya sambil menatap area di mana kain transparan itu bertemu dengan kulit pahamu. “Sangat cantik di kamu. Tapi aku nggak sabar buat ngerasain kamu langsung tanpa penghalang apapun.”
Sunghoon mengangkat tubuhmu dengan satu gerakan mantap, membawamu ke tengah ranjang yang penuh kelopak mawar. Ia membaringkanmu dengan lembut, lalu kembali menindihmu, mengunci kedua tanganmu di atas kepala. Posisi ini membuat dadamu yang terbalut bra renda itu naik turun dengan cepat karena napasmu yang memburu.
Ia menunduk, menciumi sepanjang garis tulang selangkamu sebelum bibirnya berhenti tepat di atas kaitan depan bramu.
“Malam ini, nggak akan ada yang terburu-buru,” ucapnya sambil menatap matamu dalam-dalam. “Aku mau memuja setiap inci tubuh istriku sampai kamu nggak bisa lagi sebut nama lain selain namaku.”
Dengan satu sentuhan ahli, ia membuka kaitan bramu, membiarkannya terbuka dan memperlihatkan keindahanmu sepenuhnya di bawah cahaya lilin. Sunghoon mengerang rendah, merasa sangat beruntung karena wanita luar biasa ini sekarang benar-benar miliknya, secara sah dan selamanya. Malam pengantin yang panjang dan penuh gairah pun dimulai, jauh lebih indah dari semua bayangan yang pernah kamu miliki.
To Be Continued
ramein dong pake like dan komen
🥹👉🏻👈🏻





deymn bisa apa? BISA GILAK GW!! omggg seneng bgt bisa nikah sama hoonie walaupun cmn story/pov!! 😭😻💃🏻💗💋🫦
ga kebayang kalo gw beneran nikah sama hoonie HAHAHAHHAHA 😋🤟🏻
hiburan mahasiswa semester akhir yg stress ama skripshit aka skipsi, THANKS BGTT BUATT AUTHOR KESAYANGAN GW ILYSM!! 😻💗💋
Damnn!! Baca ini sambil denger laguny Chris grey tambah deg deg