jangan lupa like
Langkah kakimu dan Riki yang beriringan menaiki tangga panggung disambut oleh gemuruh sorak-sorai penonton yang memenuhi Gedung Pertunjukan Utama. Pendar lampu spotlight kekuningan langsung jatuh menyorot kalian berdua, menciptakan siluet yang begitu dramatis di atas panggung yang megah.
Riki melepas genggaman tangannya dari jemarimu dengan perlahan, memberi ruang bagimu untuk melangkah menuju standing mic di tengah panggung. Dia kemudian mengambil tempat di atas kursi kayu tinggi tepat di sisi kirimu, menyangkutkan gitar akustiknya, dan menatapmu singkat. Anggukan kecil darinya menjadi sinyal bahwa dia sepenuhnya ada di sanaโsiap menjadi fondasi bagi suaramu.
Suasana auditorium mendadak hening ketika Riki mulai memetik senar gitarnya. Petikan perdananya begitu jernih, mengalun lembut membelah udara dingin. Aransemen jazz-ballad yang kalian susun dengan penuh peluh dan air mata kini terdengar begitu hidup. Saat nada pertama lolos dari bibirmu, seluruh penonton seolah tertahan nafasnya.
Suaramu yang jernih, penuh teknik, namun menyimpan emosi yang begitu dalam melayang indah di dalam ruangan. Setiap bait lagu yang kamu nyanyikan tidak lagi berisi rasa sakit atau keinginan untuk mengejar secara buta. Vokalmu memancarkan kedewasaan, kebebasan, dan kehangatan dari seorang cewek yang telah utuh menemukan dirinya kembali.
Di tengah lagu, saat bagian chorus memasuki puncaknya, vokal dua Riki masuk menyatu dengan suaramu. Suara berat Riki membalut vokalisasimu dengan begitu presisi.
Riki tidak menatap ke arah penonton, pandangannya terkunci sepenuhnya padamu dari samping. Matanya berbinar di bawah pendar lampu panggung, memancarkan rasa kagum, rasa bersalah, dan cinta yang tak lagi tertampung. Di atas panggung itu, di depan ratusan pasang mata, semua orang bisa melihat bahwa Riki tidak sekadar mengiringi bahwa dia sedang menatap poros dunianya.
Petikan gitar terakhir Riki melayang pelan, memudar bersama dengung nada vokalmu yang mengalun lembut hingga akhir. Hening sejenak selama dua detik, sebelum akhirnya auditorium meledak dalam tepuk tangan riuh, siulan, dan sorak-sorai menggelegar dari anak-anak Fakultas Seni. Di barisan depan, Junghwan, James, Ohyul, dan Ryul berdiri paling heboh sambil berteriak memanggil nama kalian berdua.
Kamu mengembuskan napas lega, tersenyum lebar dan membungkuk memberi penghormatan. Saat kamu menoleh ke arah Riki, cowok itu sudah berdiri dari kursinya. Riki menatapmu dengan senyuman paling tulus yang pernah kamu lihat di wajahnya, lalu melangkah mendekat dan merangkul bahumu pelan untuk membungkuk bersama di hadapan penonton.
Begitu melangkah turun dari tangga belakang panggung, suara gemuruh penonton perlahan mengabur, tergantikan oleh koridor backstage yang agak sepi. Teman-teman panitia sibuk mempersiapkan penampil berikutnya, memberi kalian ruang tersendiri di lorong menuju taman belakang gedung pertunjukan.
Napasmu masih sedikit terengah akibat euforia panggung, sementara Riki berjalan di sampingmu sambil membawa gitarnya. โ(Y/N),โ panggil Riki pelan. Suaranya tidak lagi tertutupi oleh deru musik atau riuh penonton.
Kamu menghentikan langkahmu di lorong taman belakang yang sejuk, berbalik menatapnya. โKenapa, Ki? Penampilan kita tadi keren banget, kan?โ
Riki tidak langsung menjawab. Dia meletakkan tas gitarnya di atas bangku taman, lalu melangkah mengikis jarak di antara kalian. Riki menatap wajahmu lekat-lekatโmenatap jepit mutiara yang terpasang di rambutmu, gaun champagneyang anggun, dan matamu yang kini terpancar tenang tanpa ada rasa takut atau tertekan lagi.
โIya, keren banget,โ bisik Riki, suaranya parau. โTapi yang paling keren itu lo. Lo luar biasa malam ini, (Y/N).โ
Kamu tersenyum tipis, merasa pipimu agak memanas. โMakasih, Ki. Kamu juga main gitarnyaโโ
โGue mau ngomong sesuatu,โ potong Riki cepat. Matanya menatapmu lurus, jujur, tanpa ada sedikit pun sisa gengsi atau topeng nonchalant yang selama ini menyelimutinya.
Kamu terdiam, menantikan kata-katanya.
Riki menarik napas panjang, mengepalkan tangannya di sisi tubuh sebelum memberanikan diri meraih kedua belah tanganmu. Jemarinya yang hangat dan sedikit bergetar menggenggam jemarimu dengan sangat erat namun lembut.
โGue tau gue lambat banget,โ mulai Riki, suaranya bergetar menahan gejolak emosi di dadanya. โGue tau dulu gue jahat. Gue nyakitin perasaan lo dengan kata-kata kasar gue, gue ngusir lo, dan gue menyia-nyiakan semua perhatian tulus yang cuma lo yang bisa kasih ke gue.โ
Kamu menatap Riki dalam diam. Kamu bisa melihat kepedihan dan penyesalan yang dalam di balik bola mata hitamnya.
โPas lo berhenti mengejar gue dan mulai menutup semua akses...โ Riki melanjutkan, menelan ludahnya kasar, โdunia gue rasanya mendadak sepi banget, (Y/N). Gue sadar betapa bodohnya gue yang mengira gue risih, padahal kenyataannya gue cuma takut dan terlalu gengsi buat mengakui kalau gue udah terbiasa ada lo di hidup gue.โ
Riki memajukan badannya setengah langkah, menundukkan kepalanya sedikit agar sejajar dengan wajahmu. Embun napasnya yang hangat berhembus lembut di dahi dan pipimu.
โGue gak minta lo buat langsung melupakan semua kesalahan gue yang dulu,โ bisik Riki, tatapannya terkunci rapat di matamu. โTapi malam ini, di sini... gue mau bilang kalau gue cinta sama lo, (Y/N). Aku cinta sama kamu. Bukan karena kamu mengejar aku lagi, tapi karena kamu adalah kamu.โ
Dadamu bergetar hebat. Kataโkamuโ yang keluar dari mulut Riki terdengar begitu manis dan tulus di telingamu.
โRiki...โ bisikmu pelan, meresapi setiap penekanan kalimatnya.
โKasih gue kesempatan buat jadi orang yang ngejar kamu sekarang,โ lanjut Riki, jemarinya mengusap punggung tanganmu dengan sangat halus. โIzinkan aku buat jaga kamu, buat perhatiin kamu, dan buat jadi alesan kamu tersenyum setiap hari. Kamu mau kan, beri aku kesempatan itu?โ
Kamu menatap Riki yang kini menantikan jawabanmu dengan raut cemas yang begitu telanjang. Semua rasa sakit, kebodohan, dan masa-masa sulit yang pernah kamu lewati seolah melebur, berganti menjadi pemahaman bahwa kalian berdua telah melalui proses pendewasaan yang mendalam. Kamu yang telah utuh dan Riki yang telah sadar.
Sebuah senyuman manis dan anggun perlahan terkembang di bibirmu. Kamu membalas genggaman tangannya, meremas jemarinya yang hangat.
โAku udah gak mau lari lagi, Riki,โ jawabmu lembut, menatap matanya dengan penuh keyakinan. โDan aku juga mau memberi kamu kesempatan itu.โ
Senyuman lega dan bahagia yang belum pernah kamu lihat sebelumnya mendadak mekar di wajah Riki. Tanpa membuang waktu lagi, Riki menarik tubuhmu lembut ke dalam pelukannya. Dia membenamkan wajahnya di celah lehermu, menghirup aroma wangi tubuhmu sambil memelukmu erat, memeluk masa depan baru kalian yang kini tak lagi terpisah oleh jarak dan gengsi.
Riki membeku sejenak saat merasakan pelukanmu yang membalas dekapan hangatnya. Mendengar jawaban tulus dari bibirmu, napasnya yang tadinya memburu perlahan melunak, digantikan oleh keharuan mendalam yang membuncah di dalam dadanya.
Dia perlahan merenggangkan pelukannya, namun kedua tangannya tidak pernah benar-benar lepas darimu. Jemari Riki yang hangat dan besar berpindah mengusap lembut kedua sisi pipimu, menangkup wajahmu dengan penuh kehati-hatian seolah-olah kamu adalah benda paling berharga dan rapuh yang pernah dia genggam.
โKamu beneran mau kasih aku kesempatan?โ bisik Riki parau, memastikan sekali lagi bahwa momen ini bukanlah ilusi.
Kamu mengangguk pelan, memamerkan senyuman paling tulus dan manis yang membuat matamu menyipit indah. โIya, Riki. Aku beneran.โ
Ibu jari Riki mengusap lembut permukaan pipimu, membelai garis rahangmu hingga berakhir di sudut bibirmu. Pandangan mata hitamnya yang dalam turun menatap bibir ranummu yang sedikit terbuka. Di bawah pendar remang lampu taman belakang gedung pertunjukan dan terpaan angin malam yang sejuk, rasa canggung yang dulu ada di dalam mobil telah sepenuhnya menguap, berganti menjadi tarikan gravitasi yang tak lagi bisa dibendung.
โCan... Can i kiss you?โ tanya Riki lembut, suaranya berupa bisikan rendah yang begitu intim di depan wajahmu.
Kamu tidak menjawab dengan kata-kata. Kamu hanya memejamkan matamu perlahan, memberi sinyal pasrah yang membuat sudut bibir Riki terangkat tipis. Riki menundukkan kepalanya secara perlahan, mengikis sisa jarak di antara kalian. Embun napasnya yang hangat membelai permukaan kulitmu sedetik sebelum bibirnya akhirnya menyentuh bibirmu dengan sangat lembut.
Sentuhan pertama itu begitu halus, hangat, dan penuh rasa hormat.
Tidak ada ketergesaan. Riki menyesap bibirmu dengan kelembutan yang begitu dalam, seolah-olah dia sedang menyampaikan ribuan kata maaf, rasa syukur, dan penyesalan yang selama ini tertahan di dalam dadanya. Tangan Riki yang tadinya menangkup pipimu perlahan bergeser ke belakang tengkukmu, menyusup di antara helai rambutmu yang terurai, menahan kepalamu agar tautan manis itu makin erat.
Tanpa sadar, kedua tanganmu terangkat naik, melingkar rapi di leher tegap Riki. Kamu bisa merasakan ketegangan di bahu Riki perlahan meluruh saat dia merasakan balasan manis dari kecupanmu. Ciuman itu berkembang menjadi lebih hangat dan intens. Riki memiringkan kepalanya sedikit, menekan kecupannya lebih dalam, membuai seluruh indramu hingga dadamu bergetar hebat oleh desiran manis yang belum pernah kamu rasakan sebelumnya. Setiap gerakan bibirnya seolah menegaskan bahwa kamu kini adalah milik sepenuhnya, dan dia tidak akan pernah melepaskanmu lagi.
Beberapa detik berlalu dalam sihir hening malam yang begitu indah, sampai akhirnya Riki perlahan menarik bibirnya kembali. Napas kalian berdua sedikit memburu dan tidak beraturan. Riki menempelkan dahinya di dahimu, membiarkan ujung hidung kalian bersentuhan secara intim. Matanya yang memancar hangat menatap langsung ke dalam matamu yang berkaca-kaca oleh kebahagiaan.
โMakasih, (Y/N)...โ bisik Riki dengan napas terengah pelan, lalu mengecup keningmu dengan sangat lama dan hangat. โMakasih udah mau kasih aku kesempatan buat mencintai kamu dengan benar.โ
Kamu memejamkan mata menikmati kecupan di keningmu, memeluk pinggang tegap Riki makin erat. Di lorong taman yang sepi itu, di bawah pendar bintang malam ini, kisah yang dulu penuh kekacauan dan penolakan akhirnya berlabuh pada dekapan hangat yang paling sempurna.
Di balik rimbunnya tanaman hias di lorong taman belakangโtak jauh dari tempat kalian berdua berdiriโada empat pasang mata yang mengintip dari balik celah dedaunan. Junghwan, James, Ohyul, dan Ryul berdiri berdempetan di sudut remang koridor. Mereka berempat menahan napas sampai muka Junghwan hampir membiru, tak berani mengeluarkan suara sekecil apa pun agar tidak merusak sihir momen yang sedang terjadi di depan sana.
Begitu melihat Riki menundukkan kepala dan bibirnya menyentuh bibirmu dengan sangat lembut, reaksi berantai yang kocak langsung terjadi di balik semak-semak. Junghwan refleks memukuli bahu James secara membabi buta tanpa suara. Plak! Plak! Plak! Mukanya penuh ekspresi histeris yang ditahan setengah mati, matanya melotot selebar-lebarnya.
โAnjir, anjir, anjir... disikat juga akhirnya!โ bisik Junghwan dengan suara tertahan yang lebih mirip desisan ular naga. โPake izin dulu lagi tadi! Sok gentel banget si Es Batu!โ
James yang bahunya jadi korban pukulan Junghwan cuma bisa meringis sambil membetulkan letak kacamatanya yang agak melorot. Namun, tatapan mata di balik kacamatanya tidak bisa menutupi rasa lega dan senyum tipis yang mengembang di bibirnya.
โDiem lo, Hwan! Nanti ketahuan!โ bisik James galak sambil menyikut perut Junghwan pelan. โTapi gokil sih... shotgun wedding sekalian aja dah besok. Momennya dapet banget lagi di bawah pendar lampu taman.โ
Sementara itu, duo kembar Ryul dan Ohyul menyandarkan punggung mereka ke dinding semen, menatap ke arah langit malam yang bertabur bintang dengan helaan napas dramatis. โDuh...โ gumam Ohyul pelan sambil memegangi dadanya, berpura-pura terharu. โWhen ya giliran gue? Capek banget tiap hari cuma jadi penonton dan panitia sukses perjodohan orang.โ
โLo mending, Yul,โ timpal Ryul menatap kembarannya. โGue yang tiap minggu dengerin Riki ngamuk-ngamuk gak jelas di kosan gara-gara bingung mau chat (Y/N) gimana, sekarang rasanya mau syukuran potong tumpeng besok di kantin. Akhirnya kapal kita berlayar juga, Cok.โ
โPenyelamat aura tongkrongan telah kembali,โ bisik Junghwan lagi, matanya masih mengintip ke arah kalian yang sekarang sedang berpelukan hangat di bawah lampu taman. โGue gak bakal lagi nemuin Riki yang mukanya kayak benteng mau runtuh pas latihan drum.โ
โTapi jujur aja ya,โ kata James sambil menyilangkan dada, menatap dua sejoli di ujung lorong itu dengan senyum bangga seorang โsutradaraโ. โRiki keliatan beda banget. Tatapan matanya ke (Y/N) tuh bener-bener... pure affection. Gak ada lagi gengsi-gengsi sampah yang biasa dia pamerin.โ
โYa iyalah,โ bales Ryul. โDia kan udah tau rasanya hampir kehilangan (Y/N) selamanya. Kalau dia nyia-nyiain kesempatan ini lagi, fix sih dia manusia paling bego sedunia.โ
Melihat Riki kini mengecup keningmu dengan sangat lama dan hangat, keempat cowok itu saling pandang. Mereka memutar badan secara perlahan, melangkah jingkat-jingkat meninggalkan area taman belakang tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Mereka memilih memberikan kalian ruang pribadi yang utuh untuk menikmati kebahagiaan itu tanpa ada interupsi dari keributan anak-anak tongkrongan.
Begitu sudah sampai di lobi depan yang ramai dan berjarak cukup jauh dari taman, Junghwan langsung melompat sambil berteriak heboh.
โWOYYYYYY GENGSSS! KAPAL RIKI-(Y/N) RESMI BERLAYAR! BESOK RIKI YANG BAYAR BAKSO KITA SEMUA!โ
Teriakan Junghwan disambut tawa berderai dari James, Ohyul, dan Ryul, merayakan kemenangan Riki yang akhirnya berhasil meluluhkan kembali hati cewek yang paling dia cintai.
end ga sih?





emohhh pokoke lanjut!! ๐๐ญ
Lanjut kakkk ๐ญ