jangan lupa tinggalin jejak ya
warning... awas ke trigger!
Kedua telapak tanganmu yang gemetar refleks terangkat, mendarat di atas dada bidang Riki yang basah oleh peluh tipis. Dengan sisa tenaga yang kamu miliki, kamu mencoba mendorong tubuh kokoh itu menjauh. Otot-otot tanganmu menegang, berusaha menciptakan jarak agar kamu bisa melepaskan diri dari invasi yang terjadi tanpa persetujuan sadarmu ini.
“Riki... lepas... akh... stop!” suaramu tercekat di tenggorokan, parau dan bergetar menahan kepanikan yang mendadak meluap.
Namun usahamu bagai mendorong dinding batu yang tak bergeming. Perbedaan kekuatan fisik di antara kalian terlalu jauh, terlebih kondisimu baru saja pulih dari kelelahan ekstrem dan pengaruh obat pereda nyeri. Dorongan kedua tanganmu sama sekali tidak membuat posisi Riki bergeser barang satu milimeter pun.
Alih-alih mundur, tatapan mata Riki justru semakin menajam. Dengan satu gerakan tangan yang cepat dan tenang, Riki menangkap kedua pergelangan tanganmu dalam satu genggaman kokohnya, lalu menarik dan menguncinya rapat di atas kepala ke permukaan kasur sutra. Tekanan jemarinya yang dingin dan kuat membuat kedua tanganmu mati kutu, tak lagi mampu melakukan perlawanan fisik.
“Jangan buang-buang tenaga lo, (Y/N),” bisik Riki rendah, suaranya tenang namun sarat akan ancaman mutlak.
Napas hangatnya yang beraroma tembakau dan wiski menyapu pelipismu saat dia mencondongkan wajahnya lebih dekat. Di bawah sana, pinggulnya tidak berhenti bergerak. Setiap sentakan yang ia berikan terasa semakin dalam, memanfaatkan posisimu yang terkunci untuk menekan titik terdalammu tanpa memberi celah sedikit pun bagimu untuk kabur dari kenyataan yang sedang terjadi di atas ranjang itu.
“Brengsek... lo bener-bener brengsek, Riki!”
Suaramu tercekat di tenggorokan, bergetar di antara amarah dan napas yang memburu. Air mata yang tertahan menggenang di sudut matamu, menatap tajam pria di atasmu yang mengabaikan segala batasan. Namun, umpatan itu bukannya menyadarkannya, melainkan justru memicu sesuatu yang jauh lebih liar di dalam diri Riki. Tatapan matanya menggelap total, seringai tipis yang berbahaya terbit di sudut bibirnya.
“Brengsek?” ulang Riki dengan suara rendah yang serak, nada bicaranya dingin namun sarat akan provokasi. “Gue emang brengsek dari dulu, (Y/N). Dan lo udah tahu itu dari awal.”
Alih-alih melambat, Riki melipatgandakan intensitas gerakannya. Tanpa melepas kuncian tangannya di atas kepalamu, pinggulnya bergerak menghujam dengan ritme yang jauh lebih dalam dan konstan. Setiap sentakan yang ia berikan terasa begitu bertenaga, memanfaatkan bobot tubuh dan sudut posisimu untuk menekan titik terdalam tanpa memberi celah sedikit pun bagimu untuk bernapas lega.
Ranjang besar itu berderit pelan seiring tempo yang terus memuncak. Kamu memalingkan wajah ke samping, menggigit bibir bawahmu rapat-rapat untuk menahan desahan yang mulai terlepas di luar kendalimu, sementara Riki terus memaksakan dominasinya di tengah keheningan malam vila yang terisolasi. Desahan yang tertahan akhirnya lolos dari belahan bibirmu, pecah bersamaan dengan air mata yang mengalir di pelipis. Di tengah kemarahan dan rasa frustrasi karena merasa dijebak, tubuhmu justru mengkhianati logika dan harga dirimu sendiri.
Tenaga Riki terlalu dominan. Ritme sentakannya yang konstan, dalam, dan tanpa jeda mengirimkan gelombang panas yang membakar saraf-saraf panggulmu. Reaksi biologis murni itu mengambil alih kendali, dinding intimu berkontraksi hebat, menjepit dan mencengkeram miliknya dengan luar biasa ketat di setiap pergerakan.
Riki merasakan perubahan drastis itu seketika. Pria itu mengeram rendah, urat-urat di lehernya menegang saat cengkeraman ketat dari tubuhmu terasa begitu kuat membungkusnya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring yang mengejek—kontras tajam antara kata-kata kasarmu barusan dengan respons nyata tubuhmu yang tak bisa berbohong.
“Liat diri lo sekarang,” bisik Riki serak tepat di depan wajahmu, hembusan napas panasnya menyapu air mata di pipimu. “Mulut lo sibuk ngatain gue brengsek, tapi di dalem sini... tubuh lo meluk gue sekuat ini.”
Riki melepaskan satu kuncian di tanganmu, beralih menangkup sisi wajahmu dengan jemarinya yang hangat, lalu mengusap jejak air matamu dengan ibu jari.
“Nggak usah sok munafik di depan gue, (Y/N). Tubuh lo tahu persis siapa yang lo butuhin,” desisnya rendah sebelum kembali memberikan dorongan dalam yang memaksamu melenguh panjang dalam kepasrahan total.
“Kenapa lo lakuin ini?!” suaramu bergetar hebat, pecah di antara isak tangis dan napas yang memburu liar. Air mata terus menetes membasahi seprai sutra di bawah kepalamu. “Apa salah gue sama lo, Riki?! Apa yang pernah gue lakuin ke lo sampai lo perlakukan gue serendah ini?!”
Pertanyaan penuh keputusasaan itu bergema di dinding kamar yang temaram. Namun, tidak ada kilat rasa bersalah atau ragu di mata Riki. Ekspresi wajahnya tetap dingin, terkontrol, dan tanpa beban sedikit pun. Pria itu terus menggerakkan pinggulnya dengan presisi yang kejam, membiarkan bobot tubuh dan dominasinya menenggelamkan setiap protes yang keluar dari bibirmu. Riki menunduk sedikit, menatap lurus ke dalam manik matamu yang basah dan bingung.
“Salah lo?” bisik Riki rendah, suaranya parau dan tenang, kontras dengan badai di dalam kepalamu. “Lo nggak salah apa-apa. Gue cuma ngambil balik apa yang harusnya jadi milik gue sejak dulu.”
“Maksud lo apa—akh—gue nggak ngerti!” potongmu dengan erangan tertahan saat sentakannya kembali menghantam titik terdalam.
Riki tidak berniat menjelaskan potongan teka-teki sepuluh tahun lalu yang terkubur di balik memorimu yang hilang. Baginya, kata-kata tidak lagi penting. Gerakan pinggulnya kembali menuntut, menghujam dengan tempo yang kian rapat dan teratur. Gesekan panas yang tanpa pelindung itu perlahan membakar sisa kemarahanmu, menyeret kesadaranmu kembali ke jurang gairah yang tak terhindarkan.
Sensasi penuh yang berdenyut di dalam sana mendesak semakin cepat ke ubun-ubun. Napasmu putus-putus, kedua tanganmu yang bebas kini mencengkeram bahu kokoh Riki tanpa sadar. Gelombang pelepasan sudah menumpuk di ambang batas, siap meledak dan menghancurkan akal sehatmu dalam hitungan detik.
“Riki... gue mau... keluar... please...” rengekmu parau, membuang sisa harga dirimu demi meminta kelegaan.
Namun tepat di detik ketika tubuhmu menegang kaku dan bersiap melompat ke puncak klimaks, Riki tiba-tiba menarik miliknya keluar sepenuhnya.
Plop.
Rasa kosong yang mendadak menyergap intimu terasa seperti sengatan dingin yang kejam. Gelombang kenikmatan yang sudah menggantung di ujung tebing seketika terputus, meninggalkan tubuhmu gemetar hebat dan tersiksa dalam rasa frustrasi biologis yang luar biasa menyakitkan. Kamu terengah-engah, menatap Riki dengan mata membelalak tak percaya. Riki berdiri di atas lututnya di antara kedua kakimu yang masih terbuka, menatap ekspresi hancurmu dengan seringai tipis yang dingin dan penuh kuasa.
“Belum waktunya, (Y/N),” bisik Riki santai tanpa rasa bersalah. “Gue yang nentuin kapan lo boleh selesai malam ini.”
Sebelum kamu sempat memproses rasa frustrasi akibat pelepasan yang ditahan secara paksa, tangan Riki yang besar dan kokoh mencengkeram pinggangmu. Dengan satu gerakan bertenaga dan tanpa ampun, ia membalikkan tubuh lemasmu hingga posisimu menelungkup, lalu menarik pinggulmu ke atas hingga kamu berada dalam posisi menungging di atas ranjang. Dadamu tertekan ke permukaan bantal sutra yang dingin, napasmu terengah-engah berusaha mengais udara. Posisi itu membuat bagian belakangmu terangkat tinggi, terekspos sempurna di bawah temaram lidah api perapian.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat tepat di belahan pantat kananmu. Suara benturan kulit yang telanjang itu bergema nyaring di dalam kamar yang kedap suara, meninggalkan rasa panas menyengat dan jejak kemerahan yang langsung kontras di atas kulit putihmu.
“A-akh...!”
Tubuhmu tersentak hebat, punggungmu melengkung kaku ke bawah merespons rasa perih yang menjalar cepat ke pangkal paha. Belum sempat rasa ngilu itu mereda, jemari panjang Riki sudah meremas bagian yang baru saja ia tampar dengan cengkeraman posesif yang kuat.
“Liat posisi lo sekarang,” bisik Riki rendah di belakang punggungmu, napasnya yang berat dan beraroma tembakau menyapu tulang ekormu. “Tetap di posisi ini. Jangan coba-coba gerak kalau lo mau gue tuntasin malam ini.”
Tanpa memberi waktu bagimu untuk menenangkan detak jantung yang berdegup liar, Riki menempatkan ujung miliknya yang masih basah dan tegang tepat di depan pintu intimu, siap menghujam kembali dari sudut yang jauh lebih dalam dan menuntut. Tanpa aba-aba lagi, Riki menghujamkan miliknya masuk dalam satu dorongan panjang dari belakang. Liang intimu yang masih basah dan sensitif setelah stimulasi sebelumnya langsung terisi penuh hingga ke batas terdalam.
“A-akh... Riki!”
Desahan kencang lolos dari belahan bibirmu, memecah kesunyian kamar tidur yang temaram. Sensasi gesekan langsung tanpa pelindung di sudut masuk baru ini mengirimkan gelombang panas yang membuat seluruh tubuhmu meremang kaku.
Belum sempat kamu menyeimbangkan diri, kedua tangan kokoh Riki merengkuh lenganmu dari belakang. Ia menarik kedua tanganmu ke belakang dan ke atas, memaksa dadamu terangkat dari kasur. Punggungmu melengkung tajam ke bawah, membuat posisi tubuh bagian atasmu seolah melayang di udara dan hanya bertumpu pada kedua lututmu yang gemetar di atas seprai sutra.
Posisi ini benar-benar mengunci mobilitasmu dan membuka sudut penetrasi secara maksimal. Setiap dorongan pinggul Riki terasa menembus lurus dan menghantam tepat di titik paling dalam tanpa ada penghalang atau ruang gerak untuk menghindar.
“Tahan posisi lo,” bisik Riki serak di dekat telingamu.
Riki mulai memacu tempo dorongannya. Hentakannya konstan, dalam, dan terarah, membuat tubuhmu berguncang mengikuti ritme yang ia bangun. Tekanan dari tarikan di kedua lenganmu dan sudut hujaman yang mentok ke dinding rahim memaksamu melenguh panjang, membiarkan tubuhmu sepenuhnya dikendalikan dalam permainan dominasi yang ia tentukan sendiri.
Desahanmu tak lagi tertahan, keluar serak dan memburu di tengah udara kamar yang kian panas. Suara napas dan benturan kulit beradu dengan deru pendingin ruangan, memenuhi setiap sudut keheningan vila. Di posisi tubuhmu yang melayang dan ditarik ke belakang, Riki melepaskan satu tangannya dari pergelangan tanganmu. Jemarinya yang panjang dan basah menyusup ke depan, meraba sela paha hingga mendarat tepat di titik klitorismu yang sudah bengkak dan sensitif.
Tekanan kuat dan putaran ritmis yang ia berikan seketika memicu sengatan kejut listrik. Otot paha bagian dalam dan dinding intimu bergetar hebat di luar kendali sadarmu. Riki mencondongkan tubuhnya ke depan, menempelkan dada bidangnya ke punggung polosmu yang berkeringat. Gigi runcingnya menancap pelan di pertautan leher dan bahumu, memberikan gigitan tajam yang meninggalkan rasa ngilu bercampur gairah, sebelum bibirnya beralih menyapu dan mengulum daun telingamu.
“Liat sehancur apa lo di bawah tangan gue,” bisik Riki sangat rendah, suaranya parau dan sarat kata-kata vulgar yang membakar akal sehatmu. “Lo milik gue, (Y/N). Selamanya cuma bakal jadi tempat gue buang semua obsesi ini.”
Bisikan kotor itu berpadu dengan tekanan jemarinya di depan dan hentakan pinggulnya yang semakin rapat dari belakang. Gelombang panas yang mendesak di pangkal panggulmu naik ke ubun-ubun dengan kecepatan luar biasa, menyeretmu tepat ke tepi jurang pelepasan yang tak lagi bisa kamu bendung.
Sensasi panas yang membakar di dalam rongga intimu telah mencapai titik didih. Seluruh otot panggul dan pahamu menegang kaku, berdenyut cepat menyambut gelombang pelepasan yang tak lagi terbendung.
Di belakangmu, napas Riki berubah semakin berat dan memburu, setiap dorongannya terasa kian padat dan menuntut—pertanda jelas bahwa pria itu juga sudah berada tepat di tepi tebing pelepasannya. Menyadari bahwa tidak ada sehelai pun karet pengaman di antara kalian, rasa panik mendadak menyusup di antara kabut gairah.
“Riki... di luar... please... keluarin di luar...!” rintihmu parau, memohon dengan sisa tenaga yang kamu miliki di tengah desahan yang putus-putus.
Riki mendengus rendah, sebuah tawa serak yang dingin terdengar tepat di samping telingamu. Hentakannya tidak melambat sama sekali, justru semakin dalam menghantam titik terdalammu seolah menantang batas kepatuhanmu.
“Mau nawar di posisi kayak gini?” bisik Riki kejam, jemarinya menekan klitorismu lebih keras hingga tubuhmu tersentak.
“Gue kasih lo dua pilihan,” lanjutnya dengan suara berat yang sarat akan dominasi mutlak. “Pilihan pertama: gue lepas semuanya di dalem rahim lo sekarang, dan lo dapet istirahat tenang malam ini. Atau pilihan kedua: gue cabut keluar... tapi gue jamin ronde pertama ini nggak bakal pernah selesai sampai pagi.”
Pilihan yang mustahil.
Tubuhmu yang sudah kelelahan ekstrem menuntut jeda, namun konsekuensi membiarkan pria itu melepas semuanya di dalam tanpa pengaman adalah batas merah yang belum pernah kamu lewati selama bertahun-tahun. Sebelum kamu sempat menyusun jawaban, sentakan terakhir Riki yang semakin rapat memaksamu memilih antara sisa kewarasan fisik atau kendali atas tubuhmu sendiri.
Keheningan dan keraguanmu di tengah desakan waktu menjadi jawaban mutlak bagi Riki. Kilat kepuasan dingin terpancar dari manik matanya yang pekat.
“Diem berarti lo milih jalan panjang,” bisik Riki rendah di dekat tengkukmu.
Sesuai ancamannya, tepat sebelum gelombang pelepasan yang sudah membakar ujung sarafmu meledak, Riki menarik miliknya keluar dari liang intimu dalam satu gerakan tegas dan tiba-tiba.
Plop.
Rasa hampa yang mendadak menyergap seketika memutus paksa momentum klimaksmu. Tubuhmu gemetar hebat menahan frustrasi fisik yang menyiksa, otot-otot paha dan intimu berdenyut ngilu karena puncak kenikmatan yang lagi-lagi digantung begitu saja di depan mata.
Belum sempat kamu mengais napas atau meredakan getaran tubuhmu, kedua tangan kokoh Riki mencengkeram bahumu. Ia membalikkan tubuh lemasmu hingga kembali terlentang menghadapnya, lalu menarikmu maju ke tepi kasur. Riki berdiri tegak di antara kedua kakimu yang masih terbuka. Kejantanannya yang tegang sempurna dan basah berkilau berdiri tepat di depan wajahmu.
Tanpa membuang waktu, jemari tangan kirinya yang panjang menyusup ke sela rambutmu, mencengkeram helaiannya dengan kuat lalu menekan kepalamu turun mendekat ke pangkal pahanya. Tatapannya menatap lurus ke dalam matamu yang berkaca-kaca, dingin dan tanpa ruang untuk negosiasi.
“Buka mulut lo,” perintah Riki datar dan mutlak, suaranya parau menahan desakan panas yang siap ia tuntaskan di depan wajahmu.
Kamu berusaha mengatupkan bibir dan menggelengkan kepala sekuat tenaga, mencoba mengelak dari tekanan tangan Riki di kepalamu. Namun, cengkeraman jemarinya pada helaian rambutmu terlalu kuat dan kokoh untuk dilawan.
“Buka, (Y/N),” bisik Riki rendah, nada bicaranya tidak menyisakan ruang untuk kompromi.
Ibu jari tangan kanannya menekan sudut rahang dan bibir bawahmu, memaksamu membuka sedikit celah. Tanpa memberi jeda sedetik pun, Riki menuntun ujung miliknya yang panas dan berdenyut masuk menerobos belahan bibirmu. Rasa sesak seketika memenuhi rongga mulutmu. Riki menahan kepalamu di posisinya, mengarahkan tempo dan sudut hisapan sesuai kehendaknya, tidak membiarkanmu menarik diri mundur bahkan satu inci pun.
“Jangan ada yang tumpah,” perintah Riki dengan suara parau dan berat, napasnya memburu di udara kamar yang dingin saat ia mencapai batas akhir pelepasannya. “Telan semuanya.”
Otot-otot di tubuh Riki menegang kaku saat sensasi hangat dan intens meledak di dalam rongga mulutmu. Cengkeramannya di rambutmu bertahan erat hingga detik-detik terakhir pelepasan itu tuntas, memaksamu menampung dan menelan habis setiap tetes cairannya tanpa ada yang terbuang ke permukaan seprai.
Riki melangkah ke nakas kayu, mengambil satu gelas air mineral dingin, lalu kembali berlutut di hadapanmu. Tangan kirinya yang kokoh menyangga tengkukmu yang lemas, sementara tangan kanannya mengarahkan bibir gelas ke mulutmu yang masih gemetar.
“Minum,” titahnya dengan suara berat yang teratur. “Telan semuanya sampai bersih.”
Tenggorokanmu yang kering dan perih menyambut aliran air dingin itu dengan rakus, menelan setiap tetes yang tersisa demi membasuh rasa pekat dan sesak yang baru saja mendominasi rongga mulutmu. Gelas itu kosong dalam hitungan detik. Riki meletakkannya kembali ke meja samping dengan denting pelan yang memecah kesunyian kamar utama.
Tubuhmu terkulai di atas seprai sutra abu-abu, otot-ototmu terasa lunglai bagai dilolosi tulang. Kedua kelopak matamu memberat, ingin menyerah pada rasa kantuk dan kelelahan fisik yang menumpuk sejak sesi rekaman di lantai bawah. Namun bagi Riki, janji atas opsi kedua yang kamu pilih tadi bukanlah gertakan kosong.
Sebelum kamu sempat memejamkan mata sepenuhnya, cengkeraman tangannya yang besar dan hangat kembali melingkari pergelangan tanganmu. Dengan satu tarikan mantap dan bertenaga, Riki memaksamu bangkit dari kasur. Kedua kakimu yang lemas nyaris tak mampu menopang bobot tubuhmu sendiri di atas lantai marmer dingin, membuatmu terhuyung ke depan sebelum dada bidang Riki menahan bahumu.
“R-riki... cukup... badan gue udah ga bisa nerima lagi...” bisikmu parau, kedua telapak tanganmu mencoba menahan dadanya, meremas kulit polosnya yang masih memancarkan panas tubuh yang pekat.
Riki tidak menjawab dengan kata-kata. Dia menuntun—hampir menyeret—tubuhmu melintasi kamar menuju sudut ruangan, tempat sebuah meja rias kayu mahoni berukuran besar berdiri menghadap cermin setinggi dinding. Pantulan temaram dari lidah api perapian dan lampu tidur amber menyorot jelas bagaimana sosokmu yang rapuh berdiri di bawah bayang-bayang tubuh jangkungnya yang mendominasi.
Riki menekan bahumu ke bawah, memaksamu membungkuk menumpu pada permukaan meja rias yang dingin. Telapak tanganmu refleks mencengkeram tepi kayu mahoni yang licin, sementara pinggulmu ditarik mundur dan dinaikkan, membentuk posisi menungging tepat di hadapan pantulan cermin besar.
Melihat di pantulan kaca bahwa Riki sama sekali tidak berniat meraih kotak pengaman di nakas, rasa panik yang dingin kembali menyengat kesadaranmu.
“Riki, dengerin gue... pake pengaman, please...” rintihmu dengan suara pecah yang bergetar di ujung tangis. “Jangan tanpa pengaman lagi... I beg you...”
Permintaanmu yang putus asa terpantul jelas di cermin rias, berdampingan dengan ekspresi dingin Riki yang berdiri tegak di belakangmu. Pria itu menatap lurus ke dalam matamu melalui pantulan kaca, tanpa ada sedikit pun kilat ragu atau kompromi di manik matanya yang pekat.
“I told you earlier,“ bisik Riki rendah di dekat punggungmu, jemarinya yang panjang meraba turun menyusuri lekuk tulang belakangmu hingga ke pangkal pinggul. “Lo milih jalan panjang. Dan di jalan ini, nggak ada aturan selain kemauan gue.”
Tanpa memberi jeda bagi permohonan berikutnya, Riki menempatkan dirinya tepat di belakangmu, mengabaikan setiap kata penolakan dan bersiap menembus kembali batas pertahananmu di bawah sorot pantulan cermin yang merekam segalanya.
To Be Continued
perentupan ini masih belum berakhir guys...
kita harus tuntasin obsesi riki sebelum lanjut mengungkap masa lalu mereka berdua





omg skskdhdjjdj sampe sekarang masih ga kepikiran masa lalu mereka tuh apaa sampe si riki se obsesi ituuu❤️🔥❤️🔥❤️🔥
ini bakal jadi paporit ak sich😛😛😏🥺