Kamu menyunggingkan senyum tipis, senyuman paling miring dan penuh tantangan yang pernah kamu berikan padanya. Meski kedua pergelangan tanganmu terkunci rapat di atas kepala oleh cengkeraman tangan kiri Jungwon, matamu yang sayu berkabut gairah menatap lurus ke dalam manik mata cokelatnya yang liar.
Kamu memiringkan kepala sedikit, membiarkan leher mulusmu terekspos makin jelas di bawah pendar redup sinar bulan.
“Gengsi kamu tinggi banget sih, Honey?” bisikmu halus, nada suaramu sengaja direndahkan, mengalun penuh godaan tepat di depan bibirnya. “Omongan kamu selalu tinggi, tapi dari tadi kamu cuma nahan aku gini doang. Kalau cuma mau gertak, mending balik tidur. Tapi kalau emang kamu ngerasa sanggup... bikin aku teriak panggil nama kamu malam ini sampai aku lupa caranya berdiri.”
Satu kalimat tantangan itu menjadi pematik terakhir yang menghancurkan sisa-sisa kewarasan Yang Jungwon.
Pupil matanya melebar sempurna. Senyum miring yang luar biasa angkuh, seksi, dan penuh bahaya terukir di wajah tampannya. Erangan rendah yang memabukkan bergetar kuat di dalam dadanya saat ia menyusupkan lututnya di antara kedua pahamu, memaksa kakimu terbuka lebar untuk menyambutnya kembali.
“Kamu sendiri yang minta ya, y/n...” geram Jungwon rendah, napas panasnya membakar permukaan kulit lehermu. “Jangan pernah berani minta berhenti malam ini.” Tanpa jeda sedetik pun, Jungwon menunduk dan menyambar bibirmu dalam ciuman yang jauh lebih brutal dan melumat habis. Lidahnya menerobos masuk tanpa ampun, menyapu bersih setiap sudut rongga mulutmu dalam dominasi yang intens dan tanpa cela. Kamu melenguh pasrah, membalas lumatannya sembari membiarkan jemarimu menelusuri otot-otot punggungnya yang menegang ketat.
Sembari terus melumat bibirmu, Jungwon mengarahkan bagian bawahnya yang sudah membatu keras tepat di depan celamu yang masih basah dan hangat. Tanpa peringatan, ia menyentakkan pinggulnya ke depan, menghujam masuk sepenuhnya dalam satu dorongan yang sangat dalam dan presisi.
“AHHN! JUNGWON!”
Jeritan manjamu pecah seketika di dalam kamar. Sensasi penuh dan menyengat yang datang mendadak membuat matamu terpejam rapat, kepalamu mendongak pasrah saat dinding dalammu langsung menyempit ketat membungkus ukurannya yang besar. Jungwon memutus ciumannya, menatap wajahmu yang merona hebat dengan kekehan seksi yang memabukkan. “Baru dorongan pertama udah teriak sekeras ini, Hm?” bisik Jungwon, suara dirty talk-nya yang serak dan dalam bergema tepat di daun telingamu, membuat seluruh bulu kudukmu berdiri ketat. “Katanya manager aku pemberani? Coba tatap mata aku... panggil nama aku yang jelas, y/n.”
“Jungwon... ahh... kamu... pelan—”
“Ga ada kata pelan buat cewek nakal yang hobi ngetes iman pacarnya sendiri,” potong Jungwon tajam.
Jungwon mulai memacu pinggulnya. Ia tidak memberikanmu waktu sedikit pun untuk bernapas. Ritme yang ia mainkan kali ini sangat cepat, kasar, dan menumbuk dalam tanpa jeda. Setiap hentakannya menghantam titik paling peka di dalam dirimu, menciptakan gelombang kenikmatan yang begitu dahsyat hingga membuat kepalamu serasa melayang.
Plak... plak... plak...
Suara gesekan kulit dan benturan intim bergema keras di dalam kamar yang sunyi. Peluh membasahi tubuh kalian berdua, membuat setiap gesekan terasa makin licin, panas, dan membakar. “Nghh! Ahh! Won... Jungwon... pelan-pelan... ahhn!” jeritmu terengah-engah, jemari tanganmu mencengkeram erat bahu kiri dan seprai kasur saat tubuhmu bergoyang hebat mengikuti tempo liar dari sang ace.
“Ngomong lagi, Sayang...” bisik Jungwon serak di lehermu, bibirnya merayap turun memberi gigitan-gigitan kecil yang meninggalkan tanda kemerahan di sepanjang tulang selangkamu. “Panggil nama aku lagi. Biar seluruh ruangan ini denger siapa cowok yang lagi bikin kamu ketagihan setengah mati malam ini.”
“Jungwon... ahh! Yang Jungwon... fuck... enak banget... ahn!”
Pujian dan desahan jujur dari bibirmu makin memacu kegilaan Jungwon. Tangan kirinya mengunci pinggulmu ketat, menahan tubuhmu agar tetap rapat saat ia memutar dan menumbuk masuk makin tajam dari sudut yang paling mematikan. Sensasi kenikmatan yang menumpuk hebat di dasar perutmu meledak tanpa bisa ditahan. Hanya dalam hitungan menit dari tempo mematikan itu, tubuhmu kejang hebat dalam pelepasan pertama.
“AHH! JUNGWON... AKU... AKU CUM!” teriakmu histeris saat dinding rahimmu menjepitnya ketat dalam kejang kebahagiaan yang melumpuhkan. Namun Jungwon sama sekali tidak berhenti. Melihatmu memejamkan mata dengan napas berburu saat mengalami orgasme, ia justru makin melipatgandakan kecepatan dan kekuatan hentakannya. Ia memanfaatkan kerapatan dinding dalammu yang sedang bergetar hebat untuk makin memacu gairah.
“Nghh... ketat banget, y/n... fuck,” geram Jungwon kasar, urat-urat di lehernya tercetak jelas saat ia terus menumbuk masuk tanpa ampun. “Jangan merem! Lihat aku! Aku belum selesai sama kamu!”
“Won... hhh... udah... geli banget... ahn! Aku baru aja—”
“Aku tau kamu baru cum, tapi kamu masih bisa lebih dari ini,” potong Jungwon dengan nada posesif yang luar biasa membakar. Ia menunduk, menyapu bibirmu dengan ciuman basah sembari terus memacu pinggulnya dalam ritme yang membilas seluruh sarafmu. “Tadi siapa yang bilang aku cuma tahan satu inning? Biar aku tunjukin berapa kali aku bisa bikin kamu orgasme malam ini.” Goyangan dan hentakan Jungwon yang tak kenal lelah merangsang titik pekamu yang sedang sangat sensitif usai pelepasan. Sensasi geli yang membakar bercampur dengan kenikmatan yang tak tertahankan membuatmu merintih dan menangis manja di bawah tubuhnya.
“Jungwon... ahh... ampun... enak banget... ahhn! Won, j-jangan di situ... ahh!”
“Di sini?” goda Jungwon serak, sengaja menumbuk titik yang sama bertubi-tubi dengan gaya dorongan yang memutar. “Enak kan, Y/n? Suara kamu merdu banget kalau lagi panggil nama aku kayak gini...” Dirty talk yang terus membisik di telingamu bersamaan dengan gerakan pinggulnya yang perkasa benar-benar meruntuhkan seluruh pertahananmu. Tubuhmu yang masih basah oleh cairan pelepasan pertama kembali diserang gelombang gairah yang jauh lebih dahsyat.
Hanya berselang beberapa menit, kejang hebat kembali menghantam seluruh tubuhmu. “JUNGWON! AHHN! AKU KELUAR LAGI... WON!” jeritmu serak, menyemburkan pelepasan keduamu tepat di atas kejantanannya yang makin membesar dan panas.
Jungwon mengerang keras saat merasakan cengkeraman dinding dalammu yang begitu dahsyat membungkusnya. Dengan satu dorongan terakhir yang sangat dalam dan mengunci, Jungwon menanamkan dirinya sedalam mungkin, membiarkan lahar panasnya menyembur deras mendobrak rahimmu, menyatukan puncak kenikmatan kalian berdua dalam lelehan gairah yang sempurna. Kalian berdua ambruk saling menempel dengan napas yang berburu hebat dan bersahut-sahutan. Dada Jungwon naik-turun drastis, peluhnya menetes mengenai dadamu.
Ia menunduk, mencium kening, pipi, dan bibirmu yang pecah-pecah dengan kelembutan yang sangat kontras dari aksi brutalnya tadi. “Masih mau nantangin aku lagi, My Love?” bisik Jungwon lembut dengan senyum lesung pipi yang luar biasa tampan, memeluk tubuh lemasmu erat-erat di dalam dekapan hangatnya.
Napasmu masih terengah-engah, naik-turun memburu seirama dengan dada bidang Jungwon yang menempel erat di dadamu. Tubuhmu rasanya benar-benar lemas melayang, kehilangan seluruh tenaga usai dihantam pelepasan bertubi-tubi. Namun, tepat di dalam celamu, dinding rahimmu yang masih kejang halus usai orgasme secara tak sadar terus mencengkeram dan menjepit ketat kejantanan Jungwon yang masih tertanam dalam di sana.
“Nghh... y/n...”
Erangan rendah yang sangat serak tiba-tiba terlepas dari tenggorokan Jungwon. Otot-otot di tubuh tegapnya yang tadinya mulai rileks mendadak kembali menegang kaku. Kamu bisa merasakan dengan sangat jelas bagaimana milik Jungwon yang berada di dalam dirimu yang seharusnya perlahan mengendur usai pelepasan malah kembali berdenyut hebat, membengkak, dan membatu keras hanya dalam hitungan detik.
Kamu mendongak pelan dengan mata sayu yang berkabut, menatap wajah Jungwon yang berada tepat di atasmu. Rahang tegas cowok itu menegang ketat, jalan napasnya kembali memburu panas menampar kulit lehermu. “Won...?” rintihmu halus, suaramu terdengar sangat serak dan manja. “Kamu... kok keras lagi...?”
“Kamu yang bikin ini keras lagi, Sayang...” desis Jungwon rendah, menyatukan keningnya dengan keningmu. Manik mata cokelatnya kembali memancarkan kilatan liar dan lapar—aura predator yang sama sekali belum terpuaskan. Jemari tangan kirinya bergerak menyusup ke bawah pinggulmu, meremas pantatmu ketat sambil memiringkan sudut panggulmu agar makin merapat tanpa celah.
“Jepitan kamu di dalam sana... sempit banget, basah, dan terus melilit aku kayak gini,” bisik Jungwon serak, suaranya dipenuhi dirty talk yang langsung membuat bulu kudukmu berdiri dan seketika membakar kembali sisa-sisa gairahmu. “ Gimana bisa aku berhenti kalau cewek aku sendiri yang meluk milik aku ketat banget di dalam sini?”
“T-tapi aku... hhh... aku masih lemas, Jungwon...” balasanmu terputus saat Jungwon mendadak menggeser pinggulnya pelan, menarik keluar miliknya hampir setengah jalan lalu menyentakkannya kembali masuk ke dalam secara perlahan namun sangat penuh. “AHHN! JUNGWON!” jeritmu tertahan, meremas kuat bahu tegapnya saat dorongan perlahan itu terasa sangat padat dan menyengat sampai ke dasar perutmu.
“Dengerin aku, y/n...” bisik Jungwon tepat di depan bibirmu, menyunggingkan senyum miringnya yang luar biasa seksi dan dominan. “Malam ini belum selesai. Kamu yang mulai goda aku duluan... jadi biarin cowok kamu ini main sampai puas malam ini.”
Tanpa memberi ampun, Jungwon kembali mengangkat kedua paha mulusmu ke atas bahunya, mengunci posisimu di bawah kendalinya sebelum kembali menggenjot pinggulnya dalam tempo yang makin dalam, panas, dan tak terkendali. Pergeseran pinggul Jungwon yang makin dalam dan bertenaga membakar habis sisa-sisa kewarasan di dalam kamar. Kerinduan yang menumpuk sekian lama karena jadwal pertandingan yang padat, ditambah pembatasan gerak akibat cedera bahunya, membuat gairah yang tertahan di dada sang ace meledak tanpa sisa.
Jungwon menarik kedua kaki mulusmu lebih tinggi, menyandarkan paha bagian dalammu di pinggang tegapnya. Dari sudut ini, penetrasinya terasa sepuluh kali lebih padat, menusuk lurus hingga membentur bagian paling peka di dalam rahimmu.
“AHH! Anjing, Yang Jungwon... bangsat, enak banget... ahhn!” misuhmu tak terkendali. Rasa nikmat yang terlalu intens membuatmu lepas kontrol, mengumpat kepuasan di sela-sasa rintihan manjamu.
Jungwon terkekeh rendah, suara tawanya terdengar sangat seksi, berat, dan penuh kepuasan mendengar caramu mengumpat di bawah dominasinya. “Misuh lagi, Sayang... aku suka denger kamu lepas kendali kayak gini,” desis Jungwon serak.
Ia menundukkan kepalanya, menyambar salah satu puncak dadamu yang merona dan kenyal. Jungwon mengulumnya dalam-dalam, menarik dan mengisapnya dengan irama yang kuat dan teratur, sementara tangan kirinya yang bebas memilin dan meremas dadamu yang lain. Sentuhan bertubi-tubi di tubuh bagian atasmu membuat sistem sarafmu serasa tersengat listrik. “Nghh! Won... ahh, jangan diisep gitu... geli, enak banget... ahhn!” jeritmu mendongak, jemari tanganmu menyusup acak ke dalam rambut hitam Jungwon yang lembab oleh keringat.
Tidak berhenti sampai di situ, ibu jari tangan kiri Jungwon merayap turun ke bawah. Di sela-sasa gesekan intim pinggul kalian yang terus bertabrakan tanpa jeda, jemarinya yang hangat menekan dan menggosok klitorismu dengan dorongan melingkar yang makin kencang dan presisi. Sengatan gairah dari tiga titik sekaligus hantaman dalam di rahimmu, isapan panas di dadamu, dan tekanan kencang di klitorismu membuat matamu membelalak sebelum terpejam rapat kembali dalam kenikmatan yang melumpuhkan.
“JUNGWON! YANG JUNGWON! AHHN! FUCK!” jeritmu histeris, menyuarakan namanya dengan nada yang sangat seksi, serak, dan penuh kepasrahan. “AKU ENGGAK KUAT... WON, PLEASE... AHH!”
“Panggil nama aku terus, y/n...” bisik Jungwon di atas permukaan kulit dadamu, membiarkan napas membaganya menampar puncak dadamu yang basah. “Aku udah kangen setengah mati sama kamu. Bertip-tiap hari cuma bisa meluk kamu tanpa bisa nyentuh kamu kayak gini... malam ini aku mau habisin semuanya di dalam kamu.”
Plak... plak... plak...
Hentakan pinggulnya makin brutal, cepat, dan tanpa ampun. Jungwon melampiaskan seluruh gairah terpendamnya, menumbuk masuk makin dalam dan memutar di titik pekamu tanpa memberikan jeda sedetik pun untuk kamu bernapas. Dinding rahimmu diserang dari segala sisi. Sensasi kenikmatan yang begitu masif menumpuk drastis, bergulung-gulung menjadi gelombang orgasme dahsyat yang siap meledak untuk kesekian kalinya.
“Won... aku mau keluar lagi... ahh! Bangsat, Jungwon... aku mau cum!” jeritmu terengah-engah, tubuhmu menegang ketat dari ujung kaki hingga ujung kepala.
“Keluarin buat aku, y/n! Cum di atas milik aku!” geram Jungwon penuh dominasi.
PLAK PLAK PLAK!
Pelepasan ketiga menghantam tubuhmu dengan daya rusak yang luar biasa. Seluruh otot tubuhmu kejang hebat, dinding dalammu menjepit dan melilit kejantanan Jungwon begitu erat hingga membuat cowok itu mengerang keras. Cairan pelepasanmu menyembur basah, melumasi penyatuan kalian yang makin membara.
Sensasi jepitan ketat dari orgasme-mu menjadi pemantik akhir bagi Jungwon. Dengan beberapa hentakan brutal terakhir yang menancap paling dalam, Jungwon menyentakkan pinggulnya maksimal, menanamkan dirinya hingga tak berjarak.
“AHHN! Y/N!”
Erangan berat Jungwon bergema di seluruh ruangan saat ia menumpahkan lahar panasnya yang melimpah ruah ke dasar rahimmu. Tubuhnya menegang keras di atas tubuhmu, menahan posisi itu selama beberapa saat sampai semburan terakhirnya tuntas. Jungwon akhirnya ambruk perlahan, menjatuhkan tubuh tegapnya di sampingmu tanpa menindih bahu kanannya. Ia segera menarik tubuhmu yang sudah lemas tak berdaya ke dalam pelukannya, membungkus kalian berdua erat-erat dengan selimut tebal.
Kamu terkulai pasrah di dadanya, napasmu terengah-engah dengan mata setengah terpejam, benar-benar kehabisan tenaga dan melayang dalam kenikmatan. Jungwon mengecup pelipismu yang basah oleh keringat dengan sangat lembut, menyunggingkan senyum lesung pipinya yang penuh kemenangan. “Makasih udah jadi manager paling penurut malam ini, Sayang...” bisik Jungwon tulus dan seksi tepat di telingamu.
Mata yang berat dan tubuh yang benar-benar lemas membuat pandanganmu makin kabur. Kamu bahkan tidak sanggup lagi mengangkat jemarimu. Di dalam kehangatan kamar yang redup itu, kamu akhirnya menyerah pada rasa kantuk yang luar biasa, membiarkan dirimu terlelap dalam dekapan erat Jungwon dengan posisi tubuh kalian yang masih menyatu erat dan nikmat di balik selimut tebal. Untungnya, esok hari adalah hari libur. Tidak ada jadwal latihan baseball, tidak ada laporan manajemen yang harus diserahkan. Kalian berdua tenggelam dalam tidur yang sangat nyenyak sampai matahari meninggi di garis cakrawala.
⚾️
Beberapa minggu berlalu dengan sangat cepat.
Bahu kanan Jungwon sudah sembuh total berkat terapi rutin dan perawatan telaten yang kamu berikan. Dokter tim bahkan sudah memberikan lampu hijau penuh baginya untuk kembali menginjakkan kaki di atas lapangan. Sang ace SMA Hwanwoon telah kembali ke bentuk terbaiknya.
Aktivitas kalian berjalan normal seperti sediakala. Kamu kembali sibuk mencatat waktu lemparan, menyiapkan handuk, dan mengatur jadwal latihan tim baseball, sementara Jungwon kembali menjadi pusat perhatian seluruh lapangan dengan lemparan fastball-nya yang mematikan. Namun, di balik senyum dan efisiensi kerjamu sebagai manajer tim, ada badai besar yang perlahan mulai mengikis ketenanganmu.
Siang itu, angin musim panas bertiup pelan di koridor SMA Hwanwoon. Sekolah khusus ini memang terkenal dengan peraturannya yang tergolong fleksibel dan tidak terlalu mengekang dibanding sekolah swasta elit lainnya. Hal itulah yang dulu menjadi alasan utamamu bertaruh mati-matian mengejar beasiswa penuh di sini—agar kamu bisa tinggal di asrama sekolah dan lepas dari cengkeraman rumah.
Kamu adalah anak yang tidak pernah diinginkan. Dulu, keberadaanmu di rumah hanya dianggap sebagai beban, sosok yang selalu disalahkan atas setiap kegagalan dan kemarahan ayahmu. Bentakan, barang-barang yang melayang, dan rasa sakit fisik maupun mental sudah jadi makanan sehari-harimu sebelum kamu berhasil kabur ke Hwanwoon.
Trauma masa lalu itu adalah luka bernanah yang sengaja kamu kubur dalam-dalam. Jungwon tidak pernah tahu soal ini. Bagi Jungwon, kamu adalah cewek mandiri, tangguh, penuh perhatian, dan selalu punya solusi untuk setiap masalahnya—versi dirimu yang baru, yang berhasil kamu bentuk setelah keluar dari neraka itu.
Bagi dirimu, ini adalah masalah pribadi. Luka kelam yang sangat kotor, yang tidak perlu menyusupi kehidupan Jungwon yang bersinar terang. Sampai sebuah surat berwarna cokelat lusuh tiba di loker asramamu pagi tadi.
Surat tanpa prangko resmi, hanya tulisan tangan kasar dengan tinta hitam yang sangat kamu kenali itu adalah tulisan tangan ayahmu. Di dalamnya hanya ada beberapa baris kalimat yang menuntut uang dan mengancam akan datang langsung ke asrama Hwanwoon jika kamu tidak menemuinya di luar gerbang sekolah minggu ini.
Sejak membaca surat itu, dadamu rasanya seperti dihimpit batu besar. Rasa takut yang dulu pernah melumpuhkanmu kembali datang menyerang tanpa ampun. Setiap kali mendengar suara benturan keras atau bentakan kasar di sekitar lapangan, tubuhmu refleks bergetar hebat dan napasmu mendadak sesak, sama persis seperti rasa trauma cemas yang pernah dirasakan Jungwon dulu saat cederanya berada di titik terparah.
“y/n?”
Suara tegap dan lembut itu memecah lamunanmu. Kamu tersentak pelan, buru-buru menyembunyikan kedua tanganmu yang gemetaran ke balik papan dada (clipboard) manajer. Jungwon berdiri di depanmu. Baju jersinya sedikit basah oleh keringat usai sesi latihan lempar. Rambut hitamnya agak berantakan, dan wajah tampannya memancarkan kepedulian yang sangat dalam saat ia menatap matamu.
“Kamu melamun lagi,” ucap Jungwon pelan. Ia berjalan mendekat, mendudukkan dirinya di sampingmu di bangku cadangan (dugout). “Tadi aku panggil tiga kali ga denger. Kamu sakit? Demam kamu naik lagi?”
Kamu mengoleskan senyum terbaikmu, senyuman yang sudah kamu latih beribu kali di depan cermin agar terlihat meyakinkan. “Enggak kok, Won,” balasku berusaha sesantai mungkin, meski nada suaraku terdengar sedikit goyah. “Aku cuma agak capek aja. Tadi malam rekap data pemain agak numpuk.”
Jungwon menyipitkan matanya. Ia tidak langsung percaya. Sebagai orang yang sangat dekat dengamu, ia bisa merasakan ada perubahan energi dari caramu bernapas dan tatapan matamu yang terkesan selalu gelisah beberapa hari terakhir. “Beneran cuma capek?” tanya Jungwon lagi. Tangannya terulur, berniat mengelus pipimu dengan lembut.
Namun, secara refleks yang tidak bisa kamu kendalikan, tubuhmu bersiap ke belakang—seolah tangannya adalah bayangan tangan ayahmu yang hendak melayang menghantam wajahmu. Gerakan refleksmu itu membuat tangan Jungwon menggantung di udara.
Atmosfer di antara kalian seketika berubah hening dan canggung. Matamu membelalak kaget atas refleks bodohmu sendiri, sementara Jungwon menatap tangannya sendiri yang menggantung, lalu beralih menatap matamu dengan raut bingung bercampur terluka.
“y/n...” bisik Jungwon heran. “Kamu... takut sama aku?”
“Eng—enggak! Bukan gitu, Won!” sergapmu cepat, panik. Kamu buru-buru meraih tangan Jungwon dan menggenggamnya erat, mencoba meyakinkannya. “Maaf... aku cuma kaget tadi. Beneran, aku cuma kaget.”
Jungwon menatap genggaman tanganmu. Ia bisa merasakan jemarimu dingin dan sedikit bergetar. Hatinya mencelos. Ia tahu ada sesuatu yang sangat salah, tetapi ia tidak tahu apa.
“y/n, kalau ada masalah, ngomong sama aku,” ucap Jungwon tulus, menatap lurus ke dalam matamu. “Dulu kamu yang selalu ada pas aku terpuruk gara-gara bahu aku. Sekarang kalau kamu ada masalah, bagi sama aku. Jangan dipendam sendiri.”
Tenggorokanmu rasanya tersumbat air mata. Rasanya ingin sekali kamu tumpahkan seluruh ketakutanmu di dadanya, memberi tahu padanya bahwa kamu sangat takut pada bayangan ayahmu yang bisa menghancurkan hidup tenangmu kapan saja. Tapi kamu menahannya. Dinding pertahananmu terlalu tebal. Kamu tidak mau membebani Jungwon yang baru saja bangkit dan kembali fokus bertanding.
“Aku ga apa-apa, Jungwon,” bisikmu pelan, menyunggingkan senyum tipis. “Cuma masalah kecil di asrama kok. Nanti juga beres. Kamu fokus latihan aja ya? Ace tim ga boleh kepikiran hal lain.”
Jungwon menghela napas panjang. Ia tahu kamu sedang berbohong dan menutup diri, tetapi melihat raut ragumu, ia memilih untuk tidak memaksamu bicara sekarang. Ia membalas genggaman tanganmu hangat, mengusap punggung tanganmu dengan ibu jarinya. “Ya udah kalau kamu belum mau cerita,” bisik Jungwon lembut namun tegas. “Tapi ingat satu hal, y/n. Kapan pun kamu butuh tempat lari... aku selalu ada di sini.”
tbc





Aku butuh perlindungan jungwon🤗
Ternyata ada hal pilu yg menjadi ketakutan terbesar dibalik binalnya dan keberanian y/n, smoga uwon bisa selamatin y/n dan pny happy ending. Please happy ending yah kak, lg ga mau termehek² krn mikirin si adek😞