jangan lupa vote
Dunia rasanya seperti berputar di bawah kakimu. Kamu berdiri di lobi kantor yang dingin, menatap layar ponsel yang terus-menerus memberikan notifikasi update sistem, sementara jantungmu berdegup kencang seolah ingin melompat keluar. Kamu terjebak di antara insting untuk lari sekencang mungkin atau tetap memakai topeng profesionalitasmu. Sialnya, realita tidak memberimu pilihan.
“(Y/N)! Ayo cepat, Pak Direktur udah nunggu. Kita harus menghadap Park Sunghoon sekarang buat bahas detail proyek lanjutannya,” seru Yujin sambil menarik lenganmu. Kamu hanya bisa pasrah, merapikan syal sutra yang melilit lehermu-berharap kain itu cukup tebal untuk menyembunyikan tanda kemerahan yang ditinggalkan Riki semalam.
Ruang rapat utama itu terasa seperti kotak es. Di ujung meja marmer yang panjang, Park Sunghoon duduk dengan keangkuhan seorang raja. Dia mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang sangat pas, rambutnya tertata rapi, dan wajahnya datar tanpa ekspresi. Namun, saat kamu dan Yujin melangkah masuk, tatapannya langsung terkunci padamu.
Sunghoon menyipitkan mata. Ada kilatan pengenalan di sana. Dia ingat kamu adalah staf PR yang datang ke arenanya tempo hari bersama Yujin, tapi kabut memori dari aplikasi masih bekerja cukup kuat untuk menyamarkan wajah “wanita malam itu” di otaknya.
“Silakan dimulai,” ucap Sunghoon dingin, suaranya bariton dan berwibawa.
Selama presentasi, kamu berusaha sekuat tenaga untuk tetap tenang. Kamu menjelaskan strategi media, grafik pertumbuhan, dan rencana event selanjutnya dengan suara yang stabil, meskipun tanganmu gemetar di bawah meja.
Kamu bisa merasakan mata Sunghoon tidak sekali pun beralih dari sosokmu. Dia tidak melihat ke arah layar proyektor, dia melihat cara bibirmu bergerak, cara tanganmu merapikan rambut, dan caramu berdiri.
Sunghoon merasa seperti sedang mengejar hantu. Postur tubuhmu, tinggi badanmu, bahkan frekuensi suaramu... semuanya beresonansi dengan memori panas yang menghancurkan kedisiplinannya beberapa malam lalu.
“Sekian presentasi dari kami, Pak Park. Apakah ada tambahan?” Yujin menutup sesi itu dengan senyum cerah.
Sunghoon terdiam sejenak, lalu berdiri. “Proyek ini saya terima. Detailnya sudah sempurna.”
Dia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan sebagai tanda kesepakatan. Yujin menjabatnya lebih dulu, lalu giliranmu. Saat jemarimu bersentuhan dengan kulitnya yang dingin, sebuah sengatan listrik seolah menjalar ke seluruh tubuhmu. Kamu mencoba menarik tanganmu dengan cepat setelah formalitas itu selesai, namun Sunghoon menahanmu.
Cengkeramannya kuat. Sangat kuat.
“Nona Yujin, kamu boleh keluar duluan dan siapkan berkas administrasinya di depan,” ucap Sunghoon tanpa melepaskan matamu. “Saya perlu bicara empat mata dengan rekanmu soal detail teknis yang lebih... spesifik.”
Yujin sempat bingung, tapi dia mengangguk patuh dan meninggalkan ruangan. Begitu pintu tertutup dengan bunyi klik yang final, suasana di ruangan itu berubah drastis. Aplikasi di saku rokmu bergetar hebat-sebuah peringatan bahwa target sedang dalam mode observasi tingkat tinggi.
Sunghoon tidak melepaskan tanganmu. Dia justru menarikmu mendekat hingga jarak di antara kalian terkikis habis sambil sedikit melonggarkan dasinya yang terasa sesak. Aroma parfum maskulinnya yang mahal bercampur dengan aroma dingin yang khas mulai mengepung indramu.
“Ada apa ya, Pak Park? Saya rasa semuanya sudah jelas di presentasi tadi,” ucapmu, mencoba tetap profesional meski napasmu mulai memburu.
Sunghoon tidak menjawab dengan kata-kata. Dia melakukan tindakan yang sangat kurang ajar untuk ukuran pertemuan bisnis. Tangan kirinya yang bebas tiba-tiba merayap naik, melewati bahumu, dan dengan satu gerakan cepat, dia menarik syal sutra yang menutupi lehermu hingga terlepas.
Matanya melebar. Di sana, di kulit lehermu yang putih, terpampang jelas jejak-jejak kemerahan yang masih segar-tanda kepemilikan dari target-target sebelumnya.
“Syalnya bagus, itu buat nutupin kekacauan yang lo buat, kan?” bisik Sunghoon, suaranya kini terdengar berbahaya, persis seperti malam di arena skating itu.
Belum sempat kamu memprotes, Sunghoon melakukan sesuatu yang lebih nekat. Dia membungkuk, menyurukkan wajahnya ke ceruk lehermu, dan mengendus aromamu dengan dalam.
Dia menghirup aroma vanila dan musk yang bercampur dengan feromon tubuhmu-aroma yang sama yang menghantuinya di dalam mimpi buruk dan mimpi basahnya belakangan ini.
“Bau ini...” Sunghoon mengerang rendah, tangannya kini mencengkeram pinggangmu dengan kasar, menekan tubuhmu ke pinggiran meja rapat yang keras. “Gue nggak salah. Postur ini, aroma ini... dan gimana tubuh lo gemetar pas gue sentuh...”
Dia mendongak, menatapmu dengan mata yang kini dipenuhi kegilaan obsesif. Kabut memori di otaknya seolah tersapu bersih oleh bukti fisik yang ada di depannya.
“Lo orangnya, kan? Cewek yang berani ngerusak latihan gue, yang bikin gue kelihatan kayak orang gila yang habis main sendirian malam itu di ruang ganti pribadi gue...” Sunghoon menyeringai gelap, jemarinya menekan bekas hickey di lehermu hingga kamu merintih. “Ternyata lo ada di depan mata gue selama ini. Bersembunyi di balik jabatan staf PR?”
Kamu menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga diri profesionalmu yang sudah berantakan. Kamu menatap mata dingin Sunghoon, menantangnya balik meski jantungmu berdentum kencang hingga terasa ke kerongkongan.
“Pak Park, apa yang Anda lakukan? Ini pelecehan. Anda tidak punya bukti legal apa pun untuk menuduh saya sekasar ini,” desismu, mencoba menjauhkan wajahmu dari hembusan napasnya yang panas. “Tanda di leher saya? Itu urusan pribadi saya, bukan konsumsi klien.”
Mendengar tantanganmu, Sunghoon bukannya mundur, dia justru tertawa rendah-sebuah tawa yang kering, dingin, dan penuh dengan kegemasan yang berbahaya. Matanya berkilat, seolah dia baru saja menemukan teka-teki paling menarik dalam hidupnya yang kaku.
“Bukti legal?” Sunghoon mengulang kata-katamu dengan nada mengejek. “Gue nggak butuh pengadilan buat tahu kalau tubuh gue hafal sama aroma lo, (Y/N). Kedisiplinan gue hancur gara-gara bayangan lo, dan lo mau bicara soal etika bisnis sekarang?”
Tanpa peringatan, Sunghoon mencengkeram pinggangmu dan dalam satu gerakan kuat, dia mengangkat tubuhmu ke atas meja rapat marmer yang dingin. Braakk! Beberapa dokumen proyek terjatuh ke lantai, tablet, dan pulpen bergeser ke sisi lain meja rapat itu, tapi Sunghoon tidak peduli. Dia merangsek masuk ke antara kedua kakimu, mengunci pergerakanmu dengan berat tubuhnya yang atletis.
“Kalau lo mau bukti, gue bakal kasih bukti yang nggak bisa lo sangkal lewat kata-kata,” bisiknya tepat di depan bibirmu.
Dia menarik paksa kancing kemeja kerjamu hingga satu per satu terlepas, mengekspos kulitmu yang masih menyimpan jejak kebrutalan Riki dan target lainnya. Sunghoon mendengus sinis melihat tanda-tanda itu. “Banyak banget ‘tamu’ yang mampir ke tubuh lo, ya? Tapi mulai detik ini, gue bakal hapus semua jejak mereka dengan cara gue sendiri.”
Sunghoon tidak memberikanmu ruang untuk bernapas. Dia langsung menyerang lehermu, memberikan gigitan yang jauh lebih dalam dan menyakitkan daripada malam di arena skating. Dia seolah ingin memahat namanya di kulitmu. Tangannya yang dingin merayap masuk ke balik pakaian dalammu, memberikan sentuhan yang menuntut dan kasar-sebuah “pembayaran” atas gangguan mental yang membuatnya terjaga setiap malam.
“Layani gue sekarang, (Y/N). Di meja ini. Di kantor lo sendiri,” perintahnya dengan nada mutlak. “Atau gue bakal mastiin seluruh direksi di gedung ini tahu kalau staf PR kesayangan mereka adalah ‘hantu’ yang suka masuk ke tempat pria asing di malam hari.”
Kamu merasa terjepit antara kemarahan dan sensasi yang mulai menjalar karena sentuhan Sunghoon yang sangat ahli. Meja rapat yang dingin di bawah punggungmu kontras dengan panas tubuh Sunghoon yang membara. Dia benar-benar sudah kehilangan kendali-sosok atlet nasional yang tenang dan disiplin itu kini berubah menjadi pria posesif yang hanya ingin menandai wilayahnya.
Layar ponselmu yang tergeletak di lantai di antara tumpukan dokumen menyala redup, menampilkan grafik bar yang meningkat pesat.
[MISSION STATUS: REAL-WORLD VERIFICATION]
Target: Park Sunghoon - 100% Convinced.
Current State: Pangeran Es itu mencair menjadi predator.
Kamu memejamkan mata rapat-rapat, mencengkeram pinggiran meja marmer yang dingin hingga buku jarimu memutih. Tidak ada gunanya lagi menyangkal. Tatapan Sunghoon terlalu tajam, seolah dia bisa melihat menembus kulitmu dan menemukan setiap jejak yang ditinggalkan pria lain di sana.
“Pilihan yang bagus, (Y/N),” bisik Sunghoon, suaranya parau melihatmu yang akhirnya berhenti memberontak. “Penurut itu jauh lebih cantik.”
Sunghoon menyelipkan tangan besarnya yang dingin ke dalam celana dalammu yang sudah sangat lembap. Begitu jarinya menyentuh inti dirimu yang sensitif, tubuhmu tersentak hebat. Efek dari “update” aplikasi sepertinya membuat tingkat sensitivitas tubuhmu meningkat berkali-kali lipat di dunia nyata. Sentuhan Sunghoon yang awalnya kasar berubah menjadi permainan jari yang sangat ahli, seolah dia sedang membelah es dengan presisi seorang atlet.
“Udah sebasah ini lo cuma karena sentuhan gue,” Sunghoon menyeringai, matanya yang gelap menatap tepat ke arah tangan yang sedang bermain di dalam dirimu. “Masih mau bilang gue salah orang? Tubuh lo nggak bisa bohong, (Y/N).”
Di luar pintu kayu yang terkunci, kamu bisa mendengar suara langkah kaki staf kantor yang berlalu-lalang dan obrolan ringan Yujin dengan rekan kerja lainnya. Kontras antara suasana kantor yang profesional dan apa yang sedang dilakukan Sunghoon padamu di atas meja rapat ini membuat gairahmu meledak secara abnormal.
Sunghoon mulai menggerakkan jarinya dengan ritme yang menuntut, sementara tangan lainnya meremas payudaramu di balik bra yang sudah tersingkap. Dia membungkuk, menjilat cuping telingamu hingga kamu mengeluarkan desahan tertahan yang sangat dalam.
“ Nghhh... Sunghoon... pelan...” rintihmu, mencoba merapatkan kedua pahamu namun Sunghoon justru membukanya lebih lebar dengan tubuhnya.
“Gue udah nunggu berhari-hari buat mastiin ini bukan cuma mimpi buruk,” geram Sunghoon. Dia melepaskan celananya dengan cepat, memperlihatkan miliknya yang sudah menegang sempurna dan siap menghukummu. “Sekarang, terima bayarannya. Gue mau lo ngerasain setiap inci dari gue, biar lo lupa gimana rasanya dimiliki pria lainnya.”
Tanpa aba-aba, Sunghoon mengangkat pinggulmu dan menghujamkan dirinya masuk ke dalam dirimu dengan satu sentakan brutal.
CRAKK!
Meja rapat itu bergeser sedikit, menimbulkan suara yang cukup keras di ruangan yang sunyi itu. Kamu membekap mulutmu sendiri dengan tangan, takut suara desahanmu tembus sampai ke luar pintu. Sunghoon tidak peduli, dia mulai memacu ritmenya dengan kekuatan penuh, setiap hantamannya membuat punggungmu bergesekan dengan permukaan meja yang keras dan dingin.
Sunghoon benar-benar kehilangan kedisiplinannya. Dia bergerak seperti orang kesurupan, matanya terus menatapmu seolah ingin menelanmu bulat-bulat. Namun, di tengah pergulatan panas itu, gagang pintu ruangan tiba-tiba bergerak.
Cklek... cklek...
“Lho, kok dikunci? (Y/N)? Pak Park? Masih ada yang perlu ditandatangani?” Itu suara Yujin dari balik pintu.
Sunghoon berhenti sejenak, tapi bukannya menjauh, dia justru sengaja menyentak pinggulnya lebih dalam ke dalam dirimu, membuatmu hampir berteriak. Dia menatap pintu itu dengan seringai dingin, lalu kembali menatapmu.
“Jawab, (Y/N). Bilang kalau kita... masih sibuk,” bisik Sunghoon jahat, menantangmu untuk tetap tenang di bawah kendalinya.
Keringat dingin bercampur peluh gairah membasahi keningmu. Kamu mencengkeram jas abu-abu Sunghoon dengan sangat kuat, kuku-kukumu hampir menembus kain mahalnya saat dia sengaja menyentak perlahan namun sangat dalam-sebuah siksaan manis yang membuat rahimmu berdenyut hebat.
“Jawab, (Y/N). Usir dia,” bisik Sunghoon, bibirnya menempel di daun telingamu, mengirimkan getaran elektrik yang membuat kakimu yang melingkari pinggangnya semakin erat menjepit.
Di luar, suara gagang pintu yang diguncang Yujin terdengar semakin tidak sabar. “ (Y/N)? Kok nggak dijawab? Pak Park masih di dalam, kan?”
Kamu menelan ludah dengan susah payah, mencoba menstabilkan pita suaramu yang sudah serak karena rintihan tertahan. “Y-Yujin...” suaramu gemetar, terjeda oleh satu tusukan tumpul dari Sunghoon yang membuat matamu mendelik ke atas. “M-masih... masih ada detail teknis yang... ngh... sangat krusial... J-jangan diganggu dulu.”
Sunghoon menyeringai puas mendengarmu berbohong demi melindunginya-atau tepatnya, melindungi rahasiamu sendiri. Dia tidak membiarkanmu bernapas lega. Begitu mendengar langkah kaki Yujin yang menjauh dengan gumaman bingung, Sunghoon langsung mengubah ritmenya menjadi brutal.
“Pinter banget bohongnya,” geram Sunghoon. “Sekarang, karena dia udah pergi... gue nggak perlu nahan suara gue lagi, kan?”
Sunghoon menghantammu tanpa ampun di atas meja rapat itu. Suara kulit yang beradu dengan marmer dan suara basah penyatuan kalian menjadi satu-satunya musik di ruangan itu. Dia menjambak rambutmu supaya kamu menatap wajahnya yang kini tidak lagi dingin, melainkan penuh dengan api obsesi yang mengerikan.
“Gue nggak peduli siapa yang udah ‘pake’ lo sebelum gue minggu ini,” Sunghoon berbisik kasar di sela-sela ciuman panasnya. “Tapi mulai hari ini, setiap kali lo masuk ke kantor ini, lo bakal inget gimana rasanya gue hancurin di atas meja kerja lo sendiri. Gue bakal jadi pemilik tetap di sini.”
Setiap gerakannya adalah sebuah pernyataan kepemilikan. Sunghoon seolah ingin memastikan bahwa kedisiplinannya yang hancur harus dibayar dengan kehancuran pertahananmu juga.
Kamu mencapai puncak dengan teriakan yang tertahan di balik ciuman kasarnya, sementara Sunghoon mengerang rendah, melepaskan segalanya jauh di dalam dirimu, membasahi rahimmu dengan bukti nyata bahwa instingnya semalam tidak pernah salah.
Sunghoon tidak langsung menjauh. Dia membiarkan berat tubuhnya menindihmu sejenak di atas meja yang berantakan itu. Dia merapikan rambutmu yang basah karena keringat dengan gerakan yang hampir terlihat... lembut, namun posesif.
“Hari ini cukup satu ronde untuk di ruang rapat.” Sunghoon membenarkan bramu yang tersingkap sambil meremasnya gemas.
“Besok, datang ke arena jam 10 malam. Sendirian,” ucapnya sambil bangkit dan mulai merapikan pakaiannya seolah tidak terjadi apa-apa. “Kalau lo nggak datang, gue yang bakal datang ke apartemen lo.”
Sunghoon mengambil syal sutramu yang terjatuh di lantai, lalu melingkarkannya kembali ke lehermu dengan sangat rapi-menutupi tanda merah baru yang jauh lebih gelap dari sebelumnya.
“Sampai ketemu besok, (Y/N).”
Dia keluar dari ruangan dengan langkah tegak, meninggalkanmu yang masih lemas dan berantakan di atas meja rapat. Namun, tepat saat pintu tertutup, ponselmu bergetar hebat.
Pintu ruang rapat tertutup dengan dentuman halus yang bergema di kepala. Kamu masih tergeletak di atas meja marmer yang dingin, merasakan sisa detak jantung Sunghoon yang seolah masih tertinggal di permukaan kulitmu. Napasmu satu-satu, mencoba mengumpulkan kembali serpihan kewarasan yang dirampas paksa oleh sang “Pangeran Es” yang baru saja mencair menjadi predator.
Tiba-tiba, ponselmu yang terhimpit di bawah tumpukan dokumen proyek yang berantakan bergetar hebat. Sebuah notifikasi dengan warna merah pekat muncul, kali ini bukan sekadar peringatan, melainkan konfirmasi atas takdir yang baru saja tersegel.
[MISSION UPDATE: TARGET VERIFIED 100%]
Park Sunghoon has marked his territory in the real world.
[WARNING: CHAIN REACTION] Keberhasilan Sunghoon memicu resonansi pada target lain. Hari ini, kamu tidak diizinkan untuk bersembunyi. Dua titik merah baru telah aktif di radiusmu.
Next Appointment: The King of Night (Jay) & The Silent Watcher (?).
Kamu merapikan pakaianmu dengan tangan gemetar, mengancingkan kemeja satu per satu meski beberapa kancingnya sudah lepas akibat ulah Sunghoon. Syal sutra itu kembali melilit lehermu, menyembunyikan “stempel” baru yang masih berdenyut perih. Kamu keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai, celana dalammu lembab karena menampung cairan yang Sunghoon lepaskan di dalam rahimmu, mencoba memasang wajah sedatar mungkin saat melewati rekan kerja yang sibuk. Kamu sempetin pergi ke toilet untuh bersih bersih sebelum kembali ke mejamu.
Saat kamu duduk di meja kerjamu, kamu hanya bisa bengong. Tatapanmu kosong menatap layar komputer yang mati. Kamu merasa seperti sebuah objek yang sedang diperebutkan oleh entitas-entitas yang jauh lebih kuat darimu.
“(Y/N)! Ya ampun, muka lo kenapa pucat banget gitu? Efek abis dirujak Pak Park ya?” Yujin datang menghampirimu dengan wajah berbinar-binar, sama sekali tidak menyadari badai yang baru saja kamu lalui.
Yujin mencondongkan tubuh, berbisik dengan penuh semangat. “Denger ya, buat ngerayain proyek kita yang barusan di-acc sama Park Sunghoon, malam ini kita harus keluar! Gue udah dapet reservasi di Club Dream. Itu klub paling elite se-Asia Tenggara, (Y/N)! Kabarnya yang punya itu konglomerat muda yang gantengnya nggak masuk akal.”
Club Dream. Jantungmu mencelos. Nama itu tidak asing. Itu adalah markas besar Jay. Pria yang memerintah kegelapan malam dengan tangan besi dan dompet tak terbatas.
Kamu baru saja ingin membuka mulut untuk menolak-ingin bilang kalau kamu butuh tidur selama seribu tahun-tapi ponselmu di atas meja menyala.
[LOCATION DETECTED: CLUB DREAM]
Target: Park Jongseong (Jay) is on site.
Current State:Disturbed & Searching.
Objective: Be the illusion he craves.
CLUB DREAM: The Scent of Longing
Malam itu, dentuman musik techno yang berat menggetarkan dada saat kamu melangkah masuk ke dalam Club Dream bersama Yujin yang langsung menghilang ke lantai dansa. Cahaya neon ungu dan biru menyambar-nyambar, menciptakan bayangan yang menari-nari di dinding berlapis beludru.
Kamu berjalan menuju bar, berniat memesan minuman keras untuk menenangkan sarafmu. Namun, langkahmu terhenti di sudut paling remang di ujung bar VIP.
Di sana, duduk seorang pria dengan kemeja hitam yang tiga kancing atasnya terbuka. Rambutnya sedikit berantakan, dan di depannya berderet gelas-gelas kristal berisi cairan amber yang sudah kosong. Jay. Dia terlihat sangat berbeda dari sosok sombong yang kamu temui di malam kedua. Wajahnya menunjukkan gurat frustrasi yang mendalam. Dia sedang mabuk berat, sendirian di tengah keramaian klub miliknya sendiri.
Jay tidak menyadari kedatanganmu. Dia hanya menatap gelasnya dengan tatapan kosong, seolah mencoba mencari jawaban di dasar alkohol.
“Lagi... kasih gue satu lagi,” gumam Jay pada barista dengan suara serak yang sangat berat.
Kamu mendekat, entah karena tarikan aplikasi atau karena rasa ingin tahu yang nekat. Kamu berdiri tepat di sampingnya, aroma parfummu yang khas-campuran vanila yang lembut namun memabukkan-perlahan menyusup ke indra penciuman Jay yang sedang tumpul oleh alkohol.
Bahu Jay menegang seketika. Gerakannya terhenti saat hendak meraih gelas baru.
Dia menghirup udara dengan rakus, seolah-olah aroma itu adalah oksigen terakhir di dunia ini. Jay perlahan menoleh, matanya yang merah karena mabuk menatapmu dengan pandangan yang tidak fokus, menerka-nerka antara realita dan halusinasi.
“Gue... gue pasti udah gila,” bisik Jay, tawanya terdengar getir. Dia menyugar rambutnya ke belakang, menatapmu dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan intensitas yang menyakitkan. “Halusinasi gue makin parah. Lo... lo datang lagi ke mimpi gue?”
(ga mimpi ini Jay, lo mabuk parah itu udah)
Jay mengulurkan tangannya yang gemetar, jemarinya yang mengenakan cincin emas mahal itu perlahan menyentuh lenganmu, memastikan apakah kamu nyata atau hanya ilusi yang diciptakan oleh rasa rindu dan obsesinya yang meledak-ledak sejak malam itu.
“Baunya sama... lekuk tubuh ini...” Jay bergeser mendekat, wajahnya kini hanya berjarak beberapa inci dari lehermu yang tertutup syal. “Jangan hilang dulu. I beg you... jangan hilang dulu seperti malam itu.”
Tepat saat dia memikirkanmu, tepat saat dia hampir menyerah mencari keberadaanmu di dunia nyata, kamu berdiri di sana. Di depan matanya yang sedang berkabut karena mabuk.
-ˋˏ✄┈┈┈┈
To Be Continued
jangan lupa vote dan komen yach
wopyu all, My Michies😘💖




Pertama ga niihh???🧍🧍