Kejadian di taman benar-benar menguras nyawa Jake. Begitu sampai di apartemen, ia langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa, sementara kamu yang kembali ke wujud kitten hanya melompat ke atas perutnya, mendengkur halus seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, ketenangan itu hanya bertahan selama sepuluh menit.
Ponsel Jake yang tergeletak di meja mendadak bergetar gila-gilaan. Ratusan notifikasi masuk dari grup “Anak-Anak Amba” dan aplikasi media sosial X (Twitter).
“Apalagi sih...” keluh Jake sambil membuka ponselnya. Detik berikutnya, matanya hampir melompat keluar.
Di kolom Trending Topic, sebuah foto mencuat dengan caption: “Cosplayer Kucing Tercantik di Festival Kota! Ekornya gerak beneran, pakai teknologi apa ya?”
Foto itu adalah fotomu saat sedang miringin kepala polos di taman tadi. Meski tudung hoodie-mu menutupi sebagian wajah, kecantikanmu yang “tidak manusiawi” tetap terpancar jelas.
Sunghoon: “Woi, Jake! Ini (y/n) kan?! Gue hafal banget bentuk kupingnya! Lo gila ya bawa dia ke tempat umum?!”
Riki: “Bang Jake payah! Kita semua jagain dia biar nggak ketahuan, lo malah bikin dia viral! Liat komennya, semua orang nanya dia siapa!”
Heeseung: “Jake, kita hapus semua jejak digitalnya sekarang. Gue dapet info ada beberapa orang yang mulai ‘searching’ lokasi taman itu. Kalau ada yang tau dia tinggal sama lo, habis kita semua.”
Di kolom Trending Topic, sebuah foto mencuat dengan takarir:
“Cosplayer Kucing Tercantik di Festival Kota! Ekornya gerak beneran, pakai teknologi apa ya?”
Itu adalah fotomu saat sedang memiringkan kepala dengan polos di taman tadi. Walau tudung hoodie-mu menutupi sebagian wajah, kecantikanmu yang “tidak manusiawi” tetap terpancar jelas.
Sunghoon: “Woi, Jake! Ini (y/n) kan?! Gue hafal banget bentuk kupingnya! Lo gila ya bawa dia ke tempat umum?!”
Riki: “Bang Jake cupu! Kita semua susah payah jagain dia biar nggak ketahuan, lo malah bikin dia viral! Liat komennya, semua orang nanya dia siapa!”
Heeseung: “Jake, hapus semua jejak digitalnya sekarang. Gue dapet info ada beberapa orang yang mulai nyari lokasi taman itu. Kalau ada yang tau dia tinggal sama lo, mampus kita semua.”
Jake membanting ponselnya ke bantal. Ia merasa bodoh karena meremehkan betapa hausnya netizen akan hal-hal estetik yang misterius.
Belum sempat ia membalas, pintu apartemennya digedor kasar. Saat dibuka, kelima temannya sudah berdiri di sana dengan wajah yang tidak bersahabat.
“Lo ceroboh, Jake,” Jay masuk duluan dan langsung mengunci pintu. “Lo tau kan aturan kita? Dia itu rahasia. Sekarang fotonya udah di-retweet sepuluh ribu kali.”
“Gue cuma mau dia hirup udara seger doang!” bela Jake defensif.
“Udara seger atau lo mau pamer kalau lo punya mainan secantik ini?” Sunghoon menyindir tajam. Ia berjalan ke arahmu yang sedang duduk di sofa, mengangkatmu-masih dalam wujud kitten-dan menatap matamu dalam-dalam. “Gara-gara Jake tolol, kita semua kena getahnya. Jadi, gue rasa kompensasinya harus adil.”
“Maksud lo apa?!” Jake mulai waspada.
Heeseung maju, membenahi kacamatanya dengan aura yang sangat dominan. “Kita semua harus pastiin dia nggak bakal ‘nakal’ lagi buat keluar rumah. Caranya? Bikin dia capek sampe nggak bisa jalan buat beberapa hari ke depan.”
Kamu yang merasakan atmosfer di ruangan itu mulai memanas karena feromon kelima pria itu naik secara serentak, langsung berubah kembali ke wujud manusia. Kamu duduk di tengah sofa, dikepung oleh mereka berlima.
“Jake... (y/n) salah ya?” tanyamu polos, matamu mulai berkaca-kaca melihat raut kemarahan di wajah mereka.
Jake yang tadinya marah, mendadak luluh menatapmu meski terlihat dingin tapi sedikit menyiratkan keteduhan disana. Ia berlutut di depanmu, menggenggam kedua tanganmu lembut.
“Lo nggak salah, (y/n). Gue yang salah. Tapi mereka bener... lo harus dikasih ‘pelajaran’ supaya nggak sembarangan buka tudung kepala lo lagi di tempat umum.”
“Siapa yang mulai duluan?” tanya Riki sambil mulai melepas jaketnya, matanya lapar menatap kakimu yang jenjang.
“Gue,” sahut Jake tegas. “Tapi kali ini, lo semua nggak perlu nunggu giliran di luar. Kita ‘jinakin’ dia bareng-bareng di sini supaya dia inget siapa yang harus dia dengerin.”
Sore itu, apartemen Jake berubah menjadi ruang isolasi yang penuh dengan desahan rintihan yang menyayat udara.
Mereka melakukan “pembersihan” atas kesalahan Jake dengan cara yang paling brutal dan intens.
Kamu ditekan dari segala sisi, tidak diberikan celah sedikit pun untuk menghirup oksigen dengan tenang.
Jake memimpin dari depan, menguasai bibirmu dengan ciuman yang menuntut kepatuhan, sementara Jay dan Sunghoon memegang masing-masing tanganmu, menguncinya di atas kepala hingga kamu hanya bisa menggeliat pasrah.
Di saat yang sama, Heeseung dan Riki berbagi tempat di bawah, memberikan stimulasi yang membuat tubuhmu gemetar hebat.
Ketegangan di dalam ruangan itu memuncak saat mereka mulai “mengisimu” secara bergantian tanpa jeda.
Tumbukan demi tumbukan yang kuat dan konstan membuatmu menangis tak berdaya, merasakan penyatuan yang begitu penuh dan menyesakkan.
Setiap inci tubuhmu, dari bibir atas hingga bibir bawah, seolah tidak dibiarkan kosong dari kejantanan mereka.
“Inget ya, (y/n)... cuma kita yang boleh liat lo kayak gini. Jangan pernah berani pamer ke orang lain lagi,” bisik Sunghoon serak di telingamu saat ia menggantikan posisi Jake dengan hentakan yang membuatmu memekik pelan.
Suara kulit yang beradu dan erangan erotis yang berat memenuhi setiap sudut ruangan. Jake sengaja membuatmu tetap terjaga sepanjang malam, memastikan bahwa setiap inci kulitmu penuh dengan tanda kemerahan dan aroma mereka yang pekat.
Mereka benar-benar menjinakkanmu hingga kamu lemas total, memastikan bahwa memori tentang rasa sakit dan nikmat malam ini akan membuatmu tidak akan pernah berani lagi berpikir untuk memperlihatkan dirimu pada dunia luar.
🐾
Kehidupan (y/n) setelah kejadian viral itu berubah menjadi isolasi yang manis namun menyesakkan.
Pintu apartemen kini dipasang kunci biometrik tambahan yang hanya bisa dibuka oleh Jake, Jay, Sunghoon, Heeseung, dan Riki. Kamu benar-benar menjadi “tahanan” cantik di dalam sangkar emas.
Namun, ancaman dari dunia luar ternyata jauh lebih nyata daripada yang mereka duga.
Seminggu setelah foto itu viral, Jake mulai merasa ada yang tidak beres.
Setiap kali ia keluar untuk membeli kebutuhan atau ke kampus, ia merasa ada mata yang mengawasi.
Puncaknya adalah ketika sebuah paket tanpa nama sampai di depan pintu.
Jake membukanya dan wajahnya langsung pucat pasi. Isinya adalah kumpulan foto-foto (y/n) saat di taman dan ada sekelebat foto Jake yang menggendongmu di pundak kayak karung beras memampangkan wajah Jake yang terlihat panik, tapi diambil dari jarak jauh dan sudut yang berbeda dari foto viral.
Di balik foto itu tertulis: “Gue tahu dia bukan manusia biasa. Gue melihat ekornya kalo itu asli. Serahin dia ke gue, atau gue lapor polisi atas tuduhan eksperimen ilegal.”
Malam itu juga, geng Amba berkumpul darurat.
“Stalker,” desis Heeseung sambil meneliti foto-foto itu. “Orang ini terobsesi. Dia pasti ada di taman itu dan ngikutin Jake pulang.”
“Gue bakal cari tahu IP address siapa pun yang nge-post soal ini di forum dark web,” Jay menimpali dengan nada dingin. “Tapi sementara itu, (y/n) nggak boleh sendirian sedikit pun.”
Karena ancaman stalker itu, intensitas penjagaan terhadapmu meningkat sepuluh kali lipat.
Setiap hari, minimal harus ada dua orang yang menjagamu di apartemen saat yang lain kuliah. Hal ini justru membuat kehidupan isolasimu semakin liar.
Kamu yang merasa bosan karena dilarang mendekati jendela-apalagi keluar-mulai mencari perhatian dengan cara yang hanya kamu ketahui: Feromon.
Suatu sore, saat Jake sedang mandi dan Sunghoon sedang menjagamu sambil bermain game, kamu sengaja berubah menjadi manusia di atas karpet tepat di hadapan Sunghoon. Kamu merangkak mendekatinya, hanya mengenakan kemeja Jake yang kedodoran yang memang sengaja tergeletak dekat sana agar kamu bisa memakainya.
“Sunghoon... (y/n) takut. Ada orang jahat ya di luar?” bisikmu sambil menyandarkan kepalamu di paha Sunghoon.
Sunghoon menjatuhkan stik PS-nya. Aroma manis yang keluar dari tubuhmu dalam ruangan tertutup itu membuatnya hilang akal.
“Iya, ada orang jahat. Makanya lo harus nurut sama kita,” jawabnya parau, tangannya mulai merayap masuk ke balik kemejamu.
Jake keluar dari kamar mandi, hanya menggunakan handuk. Bukannya marah melihat Sunghoon mulai “menyentuh” miliknya, Jake justru mendekat dan mengunci pintu ruang tengah.
“Dia lagi gelisah, Jake. Dia butuh ditenangin,” ujar Sunghoon dengan napas memburu.
Jake tersenyum tipis, mendekat dan menjambak rambutmu pelan agar kamu mendongak. “Butuh ditenangin atau emang lagi mancing, hm?”
Malam itu, isolasimu berubah menjadi sesi “penjinakan” kolektif yang lebih intens karena rasa frustasi mereka terhadap stalker tersebut.
Jake dan Sunghoon memulainya di ruang tengah, memaksamu menerima mereka berdua secara bergantian.
Jake menghujamimu dari belakang dengan dorongan brutal tanpa ampun hingga membuatmu orgasme berkali-kali.
Ia sibuk mengerang dan mencengkram pantatmu yang mulai memerah karena sentakan pinggulnya dan pukulan kasar disana, membuat Jake semakin terjepit didalammu dan kamu semakin bergetar hebat karena ulahnya.
“Jake... Ahh...(y/n) mau keluarr lag-hmmph-” Belum selesai kamu ngomong Sunghoon menghujamkan kejantanannya ke dalam mulutmu saat kamu sudah hampir mencapai orgasme kesekian kalinya.
“Tahan dulu, kitten nakal... Gue belum selesai sama mulut cantik lo ini” Sunghoon mencengkram kepalamu lembut namun penuh penekanan sangat membantumu mendorong masuk ke dalam hingga membuatmu hampir tersedak dan membuatmu menangis akibat stimulasi ganda yang membuatmu hampir pingsan.
Tiba-tiba, ponsel Jake berbunyi. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal: “Gue di depan pintu. Gue bisa denger suaranya. Buka, atau aku panggil semua orang ke sini.”
Seketika, seluruh aktivitas terhenti. Jake dan Sunghoon saling pandang dengan tatapan membunuh.
Adrenalin mereka memuncak-campuran antara gairah yang belum tuntas dan amarah terhadap pengganggu.
Jake memakai celananya dengan cepat, menyambar sebuah tongkat bisbol dari balik pintu, sementara Sunghoon menarikmu masuk ke kamar dan menguncinya.
“Siapa pun itu di luar, dia nggak bakal keluar dari lorong ini hidup-hidup,” desis Jake sebelum melangkah menuju pintu depan.
Di dalam kamar, kamu meringkuk ketakutan, namun insting kitten-mu bisa merasakan bahwa malam ini, rahasiamu akan dilindungi dengan darah jika perlu. Jake dan gengnya bukan lagi sekadar teman mainmu, mereka telah berubah menjadi pelindung yang siap menjadi kriminal demi menjaga eksistensimu.
to be continued



