Sunghoon seolah kehilangan akal sehatnya, ia benar-benar memuja setiap inci kulitmu seakan kamu adalah karya seni yang paling berharga dalam hidupnya. Sentuhannya berpindah dari leher ke bahu, lalu turun perlahan, mengikuti lekuk tubuhmu dengan penuh damba. Setiap kali bibirnya menyentuh kulitmu, ia meninggalkan jejak panas yang membuat logikamu semakin terkikis habis.
“Hoon... ahh, Sunghoon...” Kamu hanya bisa melenguh, menyebut namanya berulang kali saat sensasi luar biasa mulai menguasai sistem sarafmu. Suaramu yang bergetar justru menjadi bahan bakar bagi gairahnya.
Sunghoon tidak terburu-buru, ia ingin menikmati setiap detik kemenangan ini. Ia menenggelamkan wajahnya di antara payudaramu yang penuh, menyesap dan memberikan tanda kemerahan di sana. Kulitmu yang sensitif bereaksi hebat, memerah karena rangsangan dan panas tubuhnya yang menyatu dengan milikmu. Kamu meremas rambutnya, menekan kepalanya agar tetap di sana saat ia terus memanjakanmu dengan lidah dan bibirnya yang lihai.
Namun, kejutan sebenarnya baru saja dimulai. Sementara ia masih sibuk memberikan perhatian di bagian atas tubuhmu, tangan Sunghoon merayap turun secara perlahan. Jemarinya yang panjang dan terampil menyelusuri perutmu, lalu turun lebih jauh hingga menyentuh intimu.
Begitu jarinya merasakan kelembapan di sana, Sunghoon mengeluarkan geraman rendah yang sangat maskulin—suara yang menunjukkan kepuasan sekaligus keinginan yang mendalam.
“Kamu sudah sebasah ini, (y/n)?” bisiknya parau, mendongak sedikit hanya untuk melihat ekspresi wajahmu yang sudah dalam puncak rangsangan.
Ia mulai memberikan tekanan lembut di sana, bermain dengan ritme yang sengaja ia buat lambat untuk menyiksamu dalam kenikmatan. Kamu tidak bisa lagi menahan diri, tubuhmu melengkung ke arah tangannya, mencari lebih banyak kontak. Sunghoon tersenyum miring, menatapmu dengan mata yang gelap dan penuh kuasa.
“Malam ini kamu cuma milik aku. Jangan tahan suaramu, aku mau dengar seberapa besar kamu menginginkan aku,” gumamnya, sebelum ia kembali menciummu dengan dalam, sementara jarinya mulai bekerja lebih ahli di bawah sana, membawamu menuju tepi jurang kenikmatan yang belum pernah kamu bayangkan sebelumnya.
Ketegangan di dalam kamar itu mencapai titik didih yang hampir tak tertahankan. Kakimu secara naluriah merapat, mencoba menjepit jari-jari Sunghoon yang masih bergerak lincah di dalam sana. Otot-otot intimu berdenyut kencang, seolah menyedot jemarinya lebih dalam, menuntut stimulasi yang lebih keras saat pikiranmu sudah benar-benar kosong—hanya ada warna putih dan sensasi panas yang membakar.
Sunghoon membungkam desahan kerasmu dengan ciuman yang dalam dan menuntut, menyesap suaramu seolah itu adalah asupan energi baginya untuk terus mendominasi. Namun, saat kamu sudah berada di ambang puncak, saat tubuhmu mulai bergetar hebat menunggu pelepasan, Sunghoon tiba-tiba menarik jarinya.
Ia memberikan jeda yang menyiksa, menatap wajahmu yang sayu dan penuh damba sejenak sebelum ia mulai turun. Bibirnya mengecup perutmu, lalu turun lebih jauh hingga ia berlutut di antara kedua pahamu yang terbuka lebar. Tanpa ragu sedikit pun, tanpa ada gurat jijik di wajah tampannya, Sunghoon memandang intimu yang sudah becek dan berkilau di bawah temaram lampu.
“Kamu indah banget, (y/n)... semuanya tentang kamu sempurna,” bisiknya parau sebelum ia menenggelamkan wajahnya di sana.
Sentuhan lidahnya yang hangat dan basah langsung menyambar titik paling sensitifmu. Sunghoon menghisap, menjilat, dan memainkan lidahnya dengan ritme yang sangat ahli, seolah ia sedang menyesap nektar paling manis di dunia. Kamu tersentak hebat, tanganmu reflek menjalar ke rambutnya, meremas helai demi helai dengan kuat sambil menjepit kepalanya di antara pahamu.
“Hoon... ahh! Sunghoon, pelan... aku... aku mau sampai,” rintihmu dengan suara pecah.
Tubuhmu melengkung, pinggulmu bergerak tanpa sadar mengikuti setiap permainan lidahnya yang semakin cepat dan menekan. Kamu sudah berada di titik puncak, saraf-sarafmu siap meledak, namun Sunghoon tiba-tiba berhenti lagi tepat sebelum kamu benar-benar orgasme. Ia mendongak, napasnya memburu dengan wajah yang basah karena cairanmu, menatapmu dengan pandangan yang sangat posesif.
“Jangan dikeluarkan dulu, sayang. Tahan sedikit lagi,” gumamnya dengan suara yang sangat rendah, memberikan godaan terakhir dengan kecupan di paha dalammu.
Sunghoon bangkit kembali, menyejajarkan tubuhnya denganmu. Ia meraih tangannya ke belakang, meraih pengaman yang sudah ia siapkan, lalu melepaskan sisa pakaian bawahnya sendiri dalam satu gerakan yang sangat maskulin. Kini, ia benar-benar tanpa sehelai benang pun di hadapanmu, menunjukkan tubuh atletisnya yang tegang karena gairah yang sudah di puncak.
Ia kembali menindihmu, merasakan detak jantung kalian yang beradu keras. Sunghoon memegang pangkal intinya, mengarahkannya tepat di depan gerbangmu yang sudah sangat siap dan terbuka.
“Aku mau masuk sekarang. Aku mau kita bener-bener menyatu tanpa ada yang menghalangi lagi,” bisiknya tepat di bibirmu, memberikan kecupan lembut namun penuh tuntutan. “Lepasin semuanya pas aku di dalam, ya? Aku mau rasain setiap jepitan kamu pas kita sampai puncak bareng-bareng.”
Dengan satu dorongan yang mantap dan perlahan, ia mulai memasuki dirimu, mengisi kekosongan yang selama bertahun-tahun ini kalian rasakan, membawa kalian berdua menuju malam penyatuan yang paling jujur dan penuh gairah.
Kamu menatap mata Sunghoon yang sedalam samudera itu dengan tatapan tidak percaya. Napasmu masih tersengal, dan di tengah intimasi yang begitu lekat, logika kecil di kepalamu mencoba bertanya sekali lagi untuk memastikan.
“Hoon... kamu benar-benar yakin?” bisikmu parau, suaramu bergetar antara haru dan takut. “Dunia luar... kariermu... semuanya. Kamu yakin mau sejauh ini sama aku?”
Sunghoon tidak langsung menjawab dengan kata-kata. Ia malah membawa tanganmu ke dadanya, membiarkanmu merasakan detak jantungnya yang berpacu liar namun stabil. Ia menyatukan keningnya dengan keningmu, memejamkan mata sejenak seolah sedang memantapkan seluruh jiwanya.
“Aku udah menyiapkan semua ini cuma buat kamu, (y/n). Sejak malam itu, di kamar kecilmu, aku sudah memutuskan kalau nggak akan ada orang lain lagi,” jawabnya dengan suara yang begitu mantap dan rendah, seolah ia sedang mengucap janji suci.
Ia mengecup hidungmu lembut sebelum melanjutkan, “Aku tahu ini berat buat kamu, tapi kamu harus tahu... kamu yang pertama buat aku, dan aku mau jadi yang pertama sekaligus yang terakhir buat kamu. Cinta dan sayangku ke kamu itu jauh lebih besar dari rasa takutku sama dunia luar.”
Sunghoon meraih jemarimu, mengecup punggung tanganmu dengan penuh rasa hormat. “Aku jamin keamananmu. Aku jamin kenyamananmu. Selama aku masih berdiri di depan mic dan di bawah lampu panggung, aku akan pakai seluruh kekuatanku buat lindungin kamu dari siapapun. Kamu rumahku, (y/n). Dan aku nggak akan biarkan rumahku hancur lagi.”
Mendengar pernyataan itu, keraguan terakhirmu runtuh. Air mata haru menggenang di sudut matamu. Kamu menarik lehernya, membawa wajahnya kembali mendekat hingga bibir kalian bersentuhan dalam sebuah ciuman yang kali ini terasa lebih dalam, lebih penuh emosi, dan penuh komitmen.
“Aku percaya kamu, Hoon,” gumammu di sela ciuman kalian.
Sunghoon tersenyum, sebuah senyuman paling tulus yang pernah ia tunjukkan seumur hidupnya. Dengan perlahan dan penuh perasaan, ia kembali melanjutkan dorongannya, mengisi dirimu sepenuhnya dengan rasa cinta yang kini tak lagi memiliki penghalang. Malam itu, di bawah saksi bisu kemewahan apartemennya, kalian benar-benar menyatu—bukan sebagai idol dan jurnalis, tapi sebagai dua manusia yang telah melewati badai dan akhirnya menemukan dermaga untuk pulang.
Tubuhmu tersentak kecil, kedua tanganmu secara refleks mencengkeram pundak Sunghoon yang kokoh saat merasakan miliknya yang berukuran fantastis itu mulai mendesak masuk. Rasanya seolah seluruh ruang di dalam dirimu terisi penuh, menciptakan sensasi tegang dan rasa sakit yang tajam sekaligus asing—sebuah pengingat bahwa ini adalah kali pertama bagi kalian berdua.
“Hhh... Hoon... sakit,” rintihmu dengan suara pecah, air mata kecil mulai menggenang di sudut matamu. Napasmu memburu, mencoba beradaptasi dengan invasi yang begitu dominan dan memenuhi dirimu hingga ke pangkal.
Sunghoon langsung berhenti bergerak. Ia memejamkan mata rapat-rapat, rahangnya mengeras dan urat-urat di lehernya menonjol, menahan gejolak gairah yang luar biasa karena merasakan betapa sempit dan hangatnya dirimu yang menjepitnya dengan kuat. Ia mengerang rendah, suara yang terdengar seperti perjuangan antara keinginan untuk meledak dan kebutuhan untuk menjagamu.
“Sshh... ini pelan-pelan, sayang. Napas, (y/n)... ikutin aku,” bisiknya parau sambil mengusap keringat di dahimu dengan lembut.
Ia tidak langsung melanjutkan dorongannya. Sunghoon membiarkan tubuhnya tetap diam di sana, memberikan waktu bagi otot-ototmu untuk rileks dan terbiasa dengan kehadirannya. Ia mulai menghujani wajahmu dengan kecupan-kecupan kecil yang menenangkan—di kening, di pipi, lalu berakhir di bibirmu dalam sebuah ciuman yang sangat lembut dan penuh perasaan.
“Maaf... aku tahu ini sakit, tapi tahan sebentar ya?” gumamnya tepat di depan bibirmu. Tangannya yang besar merayap turun, kembali memainkan titik sensitifmu dengan ibu jari untuk mengalihkan rasa sakitmu menjadi gairah yang kembali memuncak.
Perlahan tapi pasti, kamu mulai merasa sedikit lebih rileks. Rasa sakit yang tajam itu perlahan memudar, digantikan oleh rasa penuh yang memabukkan. Sunghoon yang menyadari perubahan reaksimu mulai kembali bergerak dengan sangat hati-hati. Ia mendorong sedikit demi sedikit, membiarkan dirimu yang sempit perlahan-lahan menerima ukurannya yang luar biasa itu secara utuh.
“Kamu hebat banget, (y/n)...” puji Sunghoon dengan suara yang sangat rendah dan penuh damba saat ia akhirnya berhasil masuk sepenuhnya.
Ia menatapmu dengan pandangan yang begitu posesif dan penuh cinta, memastikan bahwa meski ada rasa sakit di awal, kamulah satu-satunya wanita yang ia izinkan untuk merasakan sisi paling intim dari dirinya. Di tengah kesunyian kamar yang hanya diisi suara napas kalian, Sunghoon mulai mengatur ritme yang sangat lambat dan dalam, memastikan setiap pergerakannya membuatmu merasa nyaman sekaligus terbuai dalam kenikmatan yang lebih besar dari sebelumnya.
Begitu ia berhasil menyatu sepenuhnya, Sunghoon menarik napas panjang, mencoba menahan dirinya agar tidak kehilangan kendali seketika saat merasakan betapa sempurna dirimu menjepitnya. Rasa sakit yang tadi menyiksa perlahan berganti menjadi sensasi penuh yang hangat dan berdenyut, menciptakan gelombang nikmat yang mulai merambat ke seluruh tubuhmu.
“Udah nggak sakit, kan?” tanyanya lembut, memastikan dengan tatapan mata yang masih penuh kasih sebelum ia mulai beraksi.
Saat kamu mengangguk pelan sambil mengatur napas, Sunghoon mulai menggerakkan pinggulnya. Awalnya sangat perlahan, seolah ia sedang menguji seberapa jauh kamu bisa menerima setiap dorongannya. Namun, seiring dengan basahnya intimu yang semakin mempermudah pergerakannya, ritme itu mulai menjadi lebih teratur dan dalam.
Plap... plap...
Suara kulit yang bertemu di tengah keheningan kamar itu menjadi melodi yang sangat intim. Setiap kali pinggulnya menumbukmu, kamu merasakan milik Sunghoon menyentuh titik-titik terdalam yang belum pernah terjamah sebelumnya. Kamu hanya bisa mendongakkan kepala, mencengkeram sprei dengan kuat saat rasa nikmat yang luar biasa mulai melumpuhkan kesadaranmu.
“Hoon... ahh, Sunghoon-ah...” desahanmu pecah, memanggil namanya dalam nada yang begitu tinggi dan penuh damba.
Sunghoon sendiri sudah tidak bisa lagi menyembunyikan gairahnya. Ia menunduk, menanamkan wajahnya di ceruk lehermu sambil terus menggoyangkan pinggulnya dengan tenaga yang semakin stabil dan bertenaga. Setiap dorongannya terasa begitu mantap, membawa kamu pada level keintiman yang membuat dunia di luar sana benar-benar lenyap.
“Kamu... kamu sempit banget, (y/n)... nikmat banget,” geramnya parau di telingamu.
Ia mulai meningkatkan temponya, membuat tubuhmu berguncang di bawahnya. Kamu mengikuti setiap gerakannya, membiarkan dirimu hanyut dalam ritme yang ia ciptakan. Sunghoon meraih kedua tanganmu, menautkan jemarinya dengan jemarimu di atas kepala, mengunci posisimu agar ia bisa masuk lebih dalam lagi, memberikan stimulasi yang membuatmu terus melenguh tanpa henti.
Malam itu, di atas kasur yang menjadi saksi bisu, Sunghoon membawamu terbang tinggi. Gerakannya yang teratur namun penuh gairah memastikan bahwa setiap detik penyatuan ini akan terukir selamanya dalam ingatanmu sebagai momen paling indah, paling jujur, dan paling nikmat yang pernah kalian lalui bersama.
Dunia seolah-olah runtuh di sekelilingmu, menyisakan hanya kamu dan Sunghoon dalam pusaran gairah yang tak terbendung. Dinding rahimmu yang semakin mengetat seolah berusaha mencengkeram miliknya lebih dalam, memberikan tekanan nikmat yang membuat napas Sunghoon semakin menderu kasar.
Setiap tumbukan pinggulnya yang liar membuat payudaramu memantul indah di bawah remang cahaya, sebuah pemandangan yang membuat mata Sunghoon tak lepas memandangmu dengan lapar. Kamu sudah kehilangan kendali atas suaramu, desahanmu yang tinggi dan serak terus memanggil namanya berulang kali, terdengar seperti doa suci di tengah keheningan malam.
“Sunghoon... ahh, Hoon! D-disana... lebih dalam...” rintihmu dengan tubuh yang melengkung hebat.
Bunyi kulit ke kulit yang bertemu dengan ritme cepat itu menjadi simfoni paling intim yang pernah ada, memicu gairah Sunghoon hingga mencapai titik didih. Wajahnya memerah, peluh membasahi tubuh atletisnya, dan rahangnya mengeras saat ia merasakan getaran hebat mulai menjalar dari pusat tubuhmu.
“Sedikit lagi, (y/n)... bareng aku, sayang,” geramnya parau sambil mempercepat tempo goyangannya secara brutal namun tetap presisi.
Kamu bisa merasakan sensasi panas yang meledak dari dalam, saraf-sarafmu menegang maksimal saat kamu mencapai klimaks yang luar biasa. Di detik yang sama, Sunghoon mengeluarkan geraman rendah yang panjang, mendorong tubuhnya sekuat tenaga untuk masuk sedalam mungkin saat ia pun melepaskan seluruh puncaknya di dalam dirimu.
Tubuh kalian berdua bergetar hebat, menyatu dalam kontraksi nikmat yang seolah menghentikan waktu. Sunghoon menenggelamkan wajahnya di ceruk lehermu, memelukmu seerat mungkin seolah takut kamu akan menghilang, membiarkan kehangatan yang meluap di dalam dirimu menjadi segel bisu atas janji setia yang akhirnya terpenuhi malam ini.
Keheningan yang damai perlahan menyelimuti kamar setelah badai gairah itu reda. Napas Sunghoon masih terdengar berat dan memburu di ceruk lehermu, sementara kamu masih berusaha mengumpulkan kembali kesadaranmu yang sempat melayang.
Sunghoon tidak langsung beranjak. Ia tetap memelukmu erat selama beberapa saat, membiarkan detak jantung kalian yang berangsur tenang saling menyahut. Dengan sangat lembut, ia mulai menghujani wajahmu dengan ciuman-ciuman kecil—di kening, kedua kelopak matamu yang terpejam, hingga ke ujung hidungmu.
“Kamu hebat banget, (y/n)... makasih ya,” bisiknya dengan suara yang begitu dalam dan penuh rasa syukur.
Perlahan, Sunghoon mengangkat tubuhnya, bertumpu pada kedua tangannya untuk menatapmu. Matanya kini tidak lagi gelap oleh gairah, melainkan kembali bening dengan binar cinta yang sangat tulus. Dengan gerakan yang sangat hati-hati dan perlahan—seolah takut menyakitimu lagi—ia mulai menarik dirinya keluar.
Kamu merasakan sensasi hampa yang dingin sesaat setelah miliknya yang terbungkus kondom itu terlepas sepenuhnya. Sunghoon segera bangkit sebentar untuk mengurus pembuangan kondom tersebut dan membersihkan dirinya dengan cepat, lalu ia kembali padamu dengan selembar handuk kecil hangat yang entah kapan sudah ia siapkan.
“Sini, biar aku bersihin pelan-pelan,” gumamnya lembut.
Tanpa rasa canggung, Sunghoon menyibak selimut dan dengan telaten membersihkan sisa-sisa keintiman di antara paha dalammu. Tindakannya begitu protektif dan penuh kasih, jauh dari kesan idol megabintang, di momen ini, dia hanyalah seorang pria yang sangat mencintai wanitanya.
Setelah selesai, ia menarikmu kembali ke dalam dekapannya, menyelimuti tubuh kalian berdua hingga sebatas dada. Ia memposisikan kepalamu agar nyaman bersandar di lengannya yang kokoh, sementara tangan satunya lagi mengusap punggungmu dengan gerakan memutar yang menenangkan.
“Tidur ya? Aku nggak akan ke mana-mana,” ucapnya sambil mengecup puncak kepalamu. “Besok pagi, aku yang bakal buatin sarapan buat kamu. Anggap aja ini balasan untuk sup pereda mabuk beberapa tahun lalu.”
Kamu tersenyum kecil dalam dekapan hangatnya, menghirup aroma tubuhnya yang kini menjadi aroma favoritmu. Di pelukan Sunghoon, kamu akhirnya merasa benar-benar aman, menyadari bahwa perjalanan panjang dari seorang fans, jurnalis, hingga menjadi belahan jiwanya telah sampai di titik yang paling indah.
Di dalam dekapan Sunghoon yang hangat, pikiranmu masih terasa berkabut. Kamu memejamkan mata, tapi bagian kecil dari logikamu sebagai jurnalis terus berteriak kalau ini tidak masuk akal. Kamu merasa seperti sedang terjebak dalam fanfiction paling liar yang pernah kamu baca, atau sekadar proyeksi keinginan terdalammu saat sedang lelah bekerja.
Ini pasti cuma mimpi... batinmu. Nggak mungkin Park Sunghoon yang itu—pria yang wajahnya ada di setiap sudut kota—sekarang lagi meluk aku tanpa sehelai benang pun di bawah selimut yang sama.
Kamu bergumam pelan dalam kondisi setengah sadar, suaramu nyaris tidak terdengar namun penuh dengan keraguan yang tersisa. “Hoon... ini beneran kamu? Aku nggak lagi mimpi di meja kantor kan?”
Sunghoon yang tadinya hampir terlelap, mendengar gumamanmu. Ia tidak menjawab dengan kata-kata indah yang puitis. Sebaliknya, ia sedikit menggeser tubuhnya, membuat kulit dadanya yang bidang kembali bergesekan dengan kulitmu, memberikan sensasi nyata yang membuat bulu kudukmu meremang.
Ia menarik dagumu pelan, memaksamu membuka mata dan menatap langsung ke dalam manik matanya yang berkilau terkena sedikit cahaya lampu jalan dari luar jendela.
“Masih belum percaya juga?” bisiknya serak, ada nada geli namun sangat tulus di sana. “Sentuhan tadi... rasa sakit tadi... itu semua masih kurang nyata buat kamu?”
Sunghoon meraih tanganmu, membawa telapak tanganmu untuk meraba rahangnya yang tegas, lalu turun ke dadanya di mana jantungnya masih berdetak dengan ritme yang stabil. “Aku di sini, (y/n). Nyata. Dan kamu juga di sini, sama aku.”
Seolah ingin memberikan validasi paling mutlak, Sunghoon tidak membiarkanmu menjawab lagi. Ia memajukan wajahnya dan dengan sengaja membungkam bibirmu. Kali ini bukan ciuman yang menuntut seperti sebelumnya, melainkan ciuman yang lambat, basah, dan sangat dalam—sebuah cara untuk memastikan bahwa indra perasamu mencatat kehadirannya secara permanen.
Ia menyesap bibir bawahmu pelan, membiarkan lidahnya menyapa milikmu sesaat, memberikan sensasi hangat yang menjalar hingga ke ujung kaki. Ciuman itu berlangsung cukup lama sampai kamu merasa sedikit kehabisan napas dan benar-benar sadar kalau ini nyata.
Begitu ia melepas tautan bibir kalian, Sunghoon menempelkan keningnya di keningmu. Napasnya yang hangat menerpa wajahmu.
“Udah sadar kalau ini bukan mimpi?” tanyanya sambil tersenyum kecil, jarinya mengusap bibirmu yang sedikit bengkak akibat ulahnya. “Sekarang tidur. Aku nggak mau denger jurnalis Shin besok pagi ngeluh kurang tidur gara-gara sibuk mikirin ini mimpi atau bukan. Karena besok pas kamu bangun, aku masih akan tetap di sini, meluk kamu kayak gini.”
Kamu akhirnya mengangguk pelan, rasa percaya diri dan kenyamanan itu perlahan memenuhi dadamu. Kamu menyurukkan wajahmu ke lehernya, menghirup aroma tubuhnya yang memabukkan, dan akhirnya membiarkan kantuk membawamu pergi, kali ini dengan kepastian bahwa pria di sampingmu bukan lagi sekadar poster di dinding, melainkan rumah yang sesungguhnya.
TO BE CONTINUED
BTW 🌚🌚🌚
mau ending epic ga?
ramein dulu part ini🤤





ihhh mauu hoonie!! sweet bgt gmn gw ga kecintaan coba!! 😭💗
MAU JADI JURNALIS AHHHH