JANGAN LUPA LIKE
Semenjak malam hujan deras dan terbukanya blokiran WhatsApp itu, dinamika di antara kalian berdua mengalami pergeseran yang cukup drastis. Riki yang dulu terkesan cuek, dingin, dan acuh tak acuh, kini secara perlahan menunjukkan sisi lain yang belum pernah kamu lihat sebelumnya dari perhatian yang tulus, lembut, namun disampaikan dengan penuh kehati-hatian.
Di kelas Harmoni Lanjut minggu berikutnya, Riki datang jauh lebih awal dari biasanya. Saat kamu melangkah masuk ke studio musik bersama Hyerin, kamu mendapati meja belajarmu yang berada di barisan depan—posisi yang sengaja kamu pilih untuk menghindari Riki—sudah terisi sesuatu.
Di atas meja kayu itu, tergeletak satu botol air mineral dingin dan sebuah kotak plastik bening berisi croissant cokelat dari toko roti terbaik di dekat kampus. Di sisinya ada lembaran kertas catatan kecil dengan tulisan tangan Riki yang rapi dan tegas:
Gak ada kafeinnya. Makan dulu sebelum kelas mulai, lo sering lupa sarapan kan.
Hyerin yang berjalan di sampingmu langsung menepuk lenganmu pelan sambil menyeringai lebar. “Anjir, (Y/N)... ini mah jelas banget dari Riki. Tulisan tangannya gue apal banget pas tugas kelompok kemarin.”
Kamu terpaku menatap kotak roti itu. Dulu, kamu yang selalu membawakannya bekal atau roti, dan Riki selalu membiarkannya dingin di pojok meja. Sekarang, keadaannya berbalik seratus delapan puluh derajat. Kamu melirik ke arah pojok belakang kelas. Riki sedang duduk di sana, menyandarkan kepalanya ke dinding sambil pura-pura sibuk mendengarkan musik lewat headphone-nya. Namun, dari balik helai rambut hitamnya yang agak panjang, kamu tahu matanya sesekali melirik ke arah depan, menunggu reaksimu.
Kamu tidak membuang roti itu. Kamu duduk, mengambil catatan kecil itu, lalu mengetik pesan singkat di WhatsApp.
(Y/N): Makasih rotinya, Ki. Lain kali gak usah repot-repot.
Dari kejauhan, kamu melihat Riki merogoh saku celananya, membaca pesanmu, lalu sebuah senyuman tipis sangat tipis hingga hampir tak terlihat terukir di bibirnya.
Riki: Gak repot. Dimakan aja.
Perhatian Riki tidak berhenti di situ. Di hari-hari berikutnya, cara Riki memperlakukanmu di depan umum benar-benar berubah. Dia tidak lagi memedulikan gengsinya yang setinggi langit.
Suatu sore di ruang latihan vokal utama, pendingin ruangan (AC) di studio sedang rusak dan diatur ke suhu paling dingin tanpa bisa diubah. Kamu yang sedang berlatih vokal hanya menggunakan kaos katun tipis dan mulai merasa kedinginan. Kamu beberapa kali mengusap lenganmu sendiri.
Riki, yang kebetulan sedang duduk di luar koridor bersama Junghwan dan James sambil menunggu giliran latihan instrumen, memperhatikanmu dari balik kaca pintu studio. Tanpa mengatakannya pada siapa pun, Riki berdiri, melepas jaket denim kesayangannya, mendorong pintu studio, dan masuk begitu saja di tengah-tengah sesi latihanmu.
“Ki?” kamu menghentikan nyanyianmu, bingung.
Tanpa bicara sepatah kata pun, Riki melangkah mendekat dan menyampirkan jaket denimnya ke atas bahumu. Dia bahkan membetulkan letak kerah jaket itu agar menutup lehermu dengan benar.
“AC-nya terlalu dingin. Pakai ini biar suara lo gak serak,” kata Riki dengan suara beratnya yang tenang.
Anak-anak kelas vokal yang ada di dalam ruangan langsung bersorak heboh. Hyerin sampai menutupi mulutnya tidak percaya. Di luar studio, Junghwan dan James menepuk jidat mereka sambil tertawa puas melihat Riki yang makin ugal-ugalan menunjukkan perhatiannya.
Wajahmu memerah sampai ke telinga. “Ki, ini di depan temen-temen...”
“Biarin,” balas Riki pendek, menatap matamu lurus-lurus tanpa rasa malu sedikit pun. “Gue gak mau lo sakit pas hari H pertunjukan.”
Lama-kelamaan, kamu mulai menyadari kalau Riki benar-benar berusaha untuk berubah. Dia tidak bertindak agresif yang membuatmu merasa terancam, melainkan hadir di setiap celah kecil dalam keseharianmu untuk memastikan kamu baik-baik saja. Setiap kali kamu latihan vokal sampai malam, Riki selalu setia menunggu di lorong gedung fakultas. Dia tidak memaksamu naik mobilnya lagi jika kamu tidak mau, tapi dia akan memastikan kamu naik transportasi online yang aman, bahkan mencatat plat nomor kendaraannya.
Saat tugas aransemen kalian membutuhkan revisi, Riki tidak lagi memintamu datang ke tempatnya. Dialah yang mengalah, mendatangi kafe pilihanmu, membawakan laptopnya, dan mendengarkan setiap masukannya dengan penuh kesabaran. Dia mulai menghafal lagu-lagu favoritmu yang baru. Beberapa kali kamu memergoki Riki sedang memainkan petikan gitar dari lagu-lagu yang baru saja kamu simpan di playlist Spotify-mu.
Suatu sore saat kalian sedang duduk di tangga koridor kampus menunggu hujan reda, Riki menyerahkan sebuah botol tumbler stainless warna pastel padamu.
“Apa ini, Ki?” tanyamu heran.
“Teh chamomille hangat,” jawab Riki pelan, menatap lurus ke arah tetesan air hujan di halaman. “Lo kemarin di story dibilang lagi susah tidur kan? Ini bikin rileks. Minum aja sebelum tidur.”
Kamu menatap tumbler hangat itu di tanganmu. Dadamu bergetar hebat. Dulu, kamu harus berjuang setengah mati hanya untuk mendapatkan perhatian lima detik dari cowok ini. Kamu harus berpura-pura menjadi orang lain, bertingkah manja, dan merendahkan harga dirimu.
Tapi sekarang, saat kamu sudah berhenti mengejarnya dan menjadi dirimu sendiri yang tenang dan mandiri, Riki justru datang memberikan seluruh perhatiannya tanpa diminta—sepenuhnya, tulus, dan tanpa syarat. Kamu melirik Riki dari samping. Garis rahangnya yang tegas, profil wajahnya yang tampan, dan tatapan matanya yang kini selalu menyimpan kehangatan khusus untukmu.
“Riki,” panggilmu pelan.
Riki menoleh, menatapmu dengan mata hitamnya yang dalam. “Kenapa?”
“Kenapa kamu... beda banget sekarang?” tanyamu tulus, menyuarakan pertanyaan yang selama ini tertahan di dadamu.
Riki diam sejenak. Dia menarik napas panjang, lalu memiringkan badannya sedikit menghadap padamu. Tangannya terangkat ragu-ragu, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk menyentuh dan merapikan helai rambutmu yang berantakan terkena angin sore, menyangkutkannya di belakang telingamu dengan sangat lembut.
“Karena gue bodoh, (Y/N),” bisik Riki dengan suara parau yang begitu tulus. “Gue butuh kehilangan lo dulu buat sadar kalau lo adalah hal terbaik yang pernah hadir di hidup gue. Dan sekarang... gue cuma mau berusaha biar lo izinin gue ada di hidup lo lagi. Walaupun harus mulai dari nol.”
Sentuhan jarinya di telingamu dan kejujuran di matanya membuat jantungmu berdegup kencang, perasaan manis yang kini terasa begitu nyata dan aman. Perjalanan ini mungkin masih lambat, tapi kamu tahu, Riki beneran sudah membuka seluruh hatinya hanya untukmu.
Gedung Pertunjukan Utama Fakultas Seni Musik malam itu riuh oleh riuh rendah penonton, dentuman bass yang menggetarkan lantai kayu, dan pendar lampu sorot warna-warni. Festival Musik Tahunan akhirnya tiba di puncaknya.
Di area backstage, suasananya tak kalah sibuk. Para penampil berlarian mempercantik riasan, menyetem instrumen, atau sekadar menetralkan rasa gugup. Kamu berdiri di depan cermin besar dekat area rias, mengenakan gaun satin panjang berwarna champagne yang jatuh dengan anggun di tubuhmu. Rambutmu ditata dengan gaya half-updo yang membiarkan leher jenjangmu terekspos manis, dipadu riasan tipis yang menonjolkan aura feminimmu yang tenang.
Kamu terlihat begitu memukau, sangat elegan dan susah digapai.
Riki, yang berdiri lima meter di belakangmu bersandar pada pilar besi sambil memegang gitar akustik keemasannya, tak bisa mengalihkan pandangan sedikit pun. Cowok itu mengenakan kemeja hitam yang digulung sampai siku dan celana kain gelap, memberikan kesan sharp namun tetap santai. Matanya tak lepas menatap pantulan bayanganmu di cermin.
“Biasa aja liatnya, Bro. Nanti matanya terlepas,” tegur James pelan sambil menyenggol bahu Riki.
“Dia cantik banget malam ini,” gumam Riki tanpa sadar, menyuarakan apa yang ada di pikirannya tanpa filter.
Junghwan dan Ryul yang mendengar ucapan Riki langsung pura-pura terbatuk heboh. “ANJIR! Riki tanpa sadar melontarkan gombalan maut!” seru Junghwan heboh.
Namun, momen kekaguman Riki tak bertahan lama. Sebuah langkah kaki terburu-buru mendekati area riasmu, membawa kehangatan yang mendadak membekukan suhu di sekitar Riki.
“Hai, (Y/N)! Sumpah, lo cantik banget malam ini!”
Laki-laki itu adalah Evan—anak Seni Pertunjukan angkatan atas yang dikenal sebagai vokalis band tamu terkenal sekaligus MC acara malam ini. Evan datang membawa seikat bunga lili putih yang masih segar dan segelas teh hangat.
Kamu menoleh, memamerkan senyum sopan. “Eh, Kak Evan. Makasih banyak ya. Bunga sama tehnya buat aku?”
“Iya, khusus buat penampil favorit gue malam ini,” jawab Evan percaya diri, melangkah makin mendekat hingga jarak mereka sangat tipis. Evan mengulurkan bunga itu dan tanpa ragu menyentuh pelan lengan gaunmu. “Gue udah denger persiapan aransemen lo. Suara lo emang gak ada tandingannya. Nanti selesai tampil, mau dinner bareng gue gak? Gue tau tempat makan enak di daerah Selatan.”
Riki yang melihat tangan Evan mendarat di lenganmu mendadak mengepalkan tangannya di atas fretboard gitar. Rahangnya mengeras seketika. Buku-buku jarinya memutih, dan binar matanya yang tadinya hangat berubah menjadi dingin dan tajam, tatapan membunuh yang sangat pekat.
“Anjir, si Evan cari penyakit...” bisik Ryul merinding melihat perubahan ekspresi Riki.
Sebelum kamu sempat merangkai kata untuk menolak ajakan Devan secara halus, sebuah langkah lebar dan berat memecah jarak di antara kalian.
Thump.
Riki sudah berdiri tepat di antaramu dan Evan. Punggung tegapnya yang lebar menutup pandangan Devan darimu secara penuh. Aura teror dingin memancar kuat dari tubuh Riki.
“Sori, Kak,” suara Riki terdengar begitu dalam, berat, dan datar—tipe suara yang bisa membuat orang merinding seketika. “Lima menit lagi kita harus naik panggung. (Y/N) butuh fokus dan gak boleh diganggu sama hal-hal gak penting.”
Evan mengernyitkan alis, agak terkejut dengan interupsi yang begitu agresif dari Riki. “Gue cuma ngajak ngobrol sebentar, Ki. Gak usah se-posesif itu kali, lo kan cuma pengiring gitarnya.”
Kata ‘cuma pengiring gitarnya’ bagai memantik api di dalam dada Riki. Riki memajukan badannya setengah langkah, menatap Evan dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan yang sangat kentara.
“Pengiring gitar atau bukan, dia tampilnya bareng gue,” balas Riki dingin, menekankan setiap kata. “Dan nanti selesai acara, dia balik bareng gue. Jadi sori, tawaran dinner lo gak terpakai.”
Evan terdiam, merasakan tekanan intimidasi yang luar biasa dari Riki. Mengetahui situasi bakal makin keruh jika dilanjutkan, Evan akhirnya mengalah, menaruh bunganya di atas meja rias, lalu pergi dengan wajah bersungut-sungut.
Kondisi backstage mendadak hening. Riki membalikkan badannya menghadap padamu. Napasnya masih agak memburu karena menahan emosi dan cemburu yang membakar dadanya.
Kamu menatap Riki dengan alis terangkat. “Ki? Kamu ngapain sih galak banget sama Kak Evan?” Riki menatapmu lurus-lurus. Tatapan cemburunya yang telanjang tak bisa lagi disembunyikan di balik topeng nonchalant.
“Gue gak suka dia megang-megang lengan lo,” kata Riki jujur, suaranya parau. “Gue gak suka dia ngajak lo dinner. Dan gue paling gak suka liat lo tersenyum ramah banget ke dia.”
Dadamu bergetar mendengar pengakuan blak-blakan itu. Riki yang dulu tidak pernah peduli siapa pun yang mendekatimu, kini terang-terangan menunjukkan rasa kepemilikannya. “Tapi aku kan cuma sopan, Ki...” bisikmu pelan, mencoba menetralkan ketegangan.
Riki menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang agak memerah. Dia melangkah lebih dekat, mengikis jarak hingga kamu bisa merasakan kehangatan tubuhnya. Tangannya merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah jepit rambut mutiara kecil. Tanpa meminta izin, dengan jemari yang sangat lembut dan berhati-hati, Riki menyematkan jepit mutiara itu di sisi rambutmu yang terurai.
“Gue tau lo cuma sopan,” kata Riki pelan, jarinya sempat mengusap pipimu dengan sangat halus sebelum ditarik kembali. “Tapi tolong... jangan bikin gue gila malam ini karena cemburu. Gue cuma mau mata lo tertuju ke gue pas kita di panggung nanti.”
Kamu terpaku. Sentuhan lembutnya dan kejujuran di balik kata-katanya membuat jantungmu bergedup kencang secara brutal. Semua rasa ragu yang tersisa di hatimu perlahan menguap, berganti dengan rasa hangat yang memenuhi rongga dadamu.
“Panggilan untuk Riki dan (Y/N), dipersilakan bersiap di pinggir panggung!” suara panitia memecahkan sihir di antara kalian.
Riki mengulurkan tangannya padamu—bukan lagi secara paksa, melainkan sebuah penawaran yang hangat dan terbuka. “Siap naik panggung bareng gue, (Y/N)?” tanya Riki lembut.
Kamu menatap telapak tangannya yang besar, lalu menatap matanya yang kini penuh dengan kasih sayang dan keseriusan. Dengan senyuman paling tulus dan anggun yang kamu punya, kamu meletakkan jemarimu di atas telapak tangannya.
“Siap, Riki.”
Riki menggenggam jemarimu dengan erat, menuntun langkahmu menuju pendar lampu panggung utama—membawa kisah kalian yang dulu penuh penolakan dan kebodohan, menuju babak baru yang manis, dewasa, dan penuh rasa saling memiliki.
to be continued





Kakkk plisssss endingin hari ini nunggu banget.. suka bgt POV Niki tuhh
aw aw aww ni-ki mulai ugal-ugalan nich🤭