jangan lupa like
Suara dengung lift yang membawa Jake kembali ke lantai apartemen Heeseung terasa begitu lambat dan menyiksa. Di dalam kotak besi yang bergerak naik itu, Jake bersandar pasrah pada dinding cermin. Kacamata netralnya sudah kembali tertancap miring di wajahnya, namun matanya yang biasanya jernih kini sayu dan meredup. Kaos oblong abu-abunya basah kuyup oleh keringat dingin yang terus menetes dari pelipis dan lehernya.
Setiap helai otot di tubuhnya terasa seperti terbakar. Efek samping yang pernah dia takutkan kini menghantamnya tanpa ampun, kelenjar jaring organik di pergelangan tangannya telah menguras habis cadangan glukosa, protein, dan kalsium murni dari aliran darahnya demi menahan beban belasan ton truk kontainer tadi. Jantungnya berdetak lambat dan berat, sebuah tanda bahwa sistem metabolismenya sedang berada di titik terendah.
Jake melangkah tertatih-tatih keluar dari lift. Langkah kakinya berat, menyeret sepatu ketsnya di atas lantai koridor yang sunyi. Dunia di sekitarnya seolah berputar. Pandangannya mengabur, memudar di bagian tepi, namun satu-satunya kompas yang menuntun kakinya tetap melangkah adalah ingatan tentang kamar di ujung koridor ituโtempat di mana ada kamu yang menunggunya.
Begitu sampai di depan pintu unit apartemen Heeseung, Jake mengangkat tangannya yang gemetar hebat. Dengan sisa tenaga yang hampir punah, jarinya menekan tombol bel pintu.
Diiing-dooong.
Suara bel itu bergema tipis. Jake memejamkan mata, menyandarkan dahi dinginnya pada daun pintu beton, berdoa dalam hati agar bukan hening yang menyambutnya.
Di dalam apartemen, kamu yang dari tadi tidak bisa duduk tenang di sofa langsung melonjak berdiri begitu mendengar denting bel. Ruang tamu itu terasa begitu mencekam sejak Jake pergi dua jam lalu. Kamu tidak bisa fokus mendengarkan Heeseung yang sibuk mengoles selai di mejanya atau mengoceh soal bagaimana nge-gym yang benar. Hati dan pikiranmu sepenuhnya tertahan pada cowok bertopeng yang terbang membelah gedung-gedung kota.
โBiar (Y/N) yang buka, Mas!โ serumu cepat sebelum Heeseung sempat berdiri.
Kamu berlari kecil ke arah pintu, memutar gagang pintunya dengan cepat dan menariknya terbuka lebar.
โJakeโโ
Kalimatmu terputus di udara. Begitu pintu terbuka, sosok tinggi itu tidak lagi berdiri tegap. Jake yang sudah berada di ambang batas kesadarannya tidak sanggup lagi menopang berat tubuhnya sendiri. Begitu melihat wajahmu menyapa penglihatannya yang kabur, seluruh pertahanan fisiknya runtuh seketika.
Bruk.
Tubuh Jake yang lemas dan basah oleh keringat dingin ambruk ke depan. Secara refleks, kamu maju satu langkah dan merentangkan kedua tanganmu, menahan dada dan bahu lebar Jake agar tidak menghantam lantai keras. Beban tubuhnya yang berat membuatmu terhuyung mundur dua langkah, membawa kepala dan dada Jake terkulai pasrah dalam dekapan eratmu di ambang pintu.
โJake! Ya Tuhan, Jake!โ pekikmu hysteris, nada suaramu pecah oleh rasa panik yang membuncah seketika.
Napas Jake terdengar pendek-pendek dan memburu. Kulit badannya yang menempel di lengannya terasa sangat dingin dan lembap oleh keringat. Pria yang beberapa jam lalu sanggup menahan besi beban dengan senyuman santai itu, kini terkulai tidak berdaya seperti helai daun kering di dalam pelukanmu.
โMas Heeseung! Mas! Tolongin (Y/N)! Mas Heeseung!โ jeritmu meminta bantuan, suaramu bergema panik menembus lorong apartemen.
Heeseung yang sedang berada di area dapur langsung menjatuhkan pisau roti dari tangannya. Mendengar nada jeritanmu yang tidak biasa, Heeseung berlari kencang ke arah pintu depan. Langkah kakinya membeku selama satu detik begitu menyaksikan pemandangan di depannya, kamu yang berlutut di lantai sambil memangku kepala Jake yang tidak sadarkan diri, wajah cowok itu pucat pasi bagai mayat.
โAstaga! Kenapa dia?! Jake!โ Heeseung membelalakkan mata, langsung berlutut di sebelah kalian. Tanpa membuang waktu untuk bertanya, Heeseung merengkuh tubuh Jake, mengangkat lengan cowok itu ke bahunya. โPingsan?! Kok bisa sampai begini?!โ
โNanti (Y/N) jelasin, Mas! Sekarang bantuin bawa Jake masuk ke kamar dulu! Cepat, Mas!โ pintamu dengan mata berkaca-kaca, memegangi pinggang Jake saat Heeseung memapah tubuh jangkung itu masuk ke dalam.
Dengan bersusah payah, Heeseung membopong Jake melintasi ruang tengah dan merebahkannya secara perlahan di atas kasur queen size di dalam kamar tamu. Kepala Jake terkulai ke samping, napasnya samar, dan keringat dingin terus mengucur deras membasahi bantal dan kaos abu-abunya. Heeseung berdiri di tepi kasur, menatap napas Jake yang patah-patah dengan raut wajah kaget dan kebingungan yang luar biasa. โAnak ini kenapa, (Y/N)? Tadi pas lari dia sehat-sehat aja! Kok balik-balik kayak orang kena serangan jantung begini?! Dia punya penyakit kronis apa gimana?!โ
Kamu berlutut di samping kasur, jemarimu yang gemetar cepat-cepat melepas kacamata tebal Jake dan meletakkannya di meja. Kamu meraba nadi di pergelangan tangan bagian dalam milik Jakeโtempat di mana kelenjar jaring organik itu berada. Nadinya berdenyut kelewat cepat dan lemah.
Ingatanmu langsung melayang pada penjelasan Jake kemarin malam di apartemen tuanya: โKelenjar jaring organik di pergelangan tangan gue menyedot glukosa dan kalsium murni dari aliran darah dalam jumlah raksasa setiap kali diproduksi. Makanya metabolisme gue mendadak drop parah kalau gue kehabisan nutrisi tersebut.โ
Aksi nekat menahan truk berbobot belasan ton tadi pasti sudah menguras seluruh cadangan energi dan cairan organiknya sampai batas paling kritis.
โMas Heeseung, dengerin (Y/N)!โ kamu mendongak menatap Heeseung, berusaha memoles nada suaramu agar terdengar tegas di tengah rasa panik yang melingkupi dadamu. โPenjelasan nanti aja ya?! Sekarang Jake butuh asupan nutrisi darurat! Mas tolong banget... ambilin susu cair high protein yang mas punya di kulkas, seduh pakai air hangat, terus campur madu murni dua sendok makan! Cepat ya, Mas! Please!โ
Heeseung menatapmu lurus-lurus. Sebagai orang yang selalu berpikir rasional dan logis, permintaanmu yang sangat spesifik untuk kondisi โorang pingsanโ terasa sangat aneh. Tapi melihat matamu yang sudah digenangi air mata dan kepanikanmu yang begitu nyata, Heeseung mengurungkan rentetan pertanyaan di kepalanya. โOke, oke! Mas siapin sekarang!โ Heeseung berbalik dan berlari cepat menuju dapur.
Begitu Heeseung keluar kamar, kamu kembali berfokus pada Jake. Kamu mengusap lembut dahi dinginnya yang tertutup poni basah, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan degup jantungmu sendiri. โJake... dengar gue kan?โ bisikmu halus di dekat telinganya, suaramu bergetar melow. โLo udah aman di sini. Jangan kenapa-kenapa, please... Gue mohon.โ
Kamu mengangkat kepala Jake perlahan, memindahkan posisinya agar tersangga nyaman di atas pangkuan paha mulusmu. Kamu menyapu keringat di pelipis dan leher Jake memakai ujung lengan kaosmu sendiri. Di dalam kondisi pingsannya, alis Jake menyatu rapat, seolah dia masih berjuang menahan kesakitan dan kelelahan dahsyat yang mencengkeram otot-ototnya.
Tak lama kemudian, Heeseung kembali dengan terburu-buru sambil membawa segelas besar cairan hangat campuran susu high protein dan madu pekat. โIni susunya, (Y/N)! Mas campur madu banyak sesuai kata kamu,โ kata Heeseung sambil menyodorkan gelas itu padamu.
โMakasih, Mas,โ jawabmu pelan.
Kamu menerima gelas itu dengan satu tangan, sementara tangan satunya tetap memangku kepala Jake dengan protektif. Dengan sangat hati-hati dan telaten, kamu mendekatkan tepi gelas ke bibir Jake yang pucat dan kering. Kamu menekan pelan sudut bibirnya agar terbuka sedikit, lalu meneteskan cairan susu hangat berbumbu madu itu ke dalam mulutnya secara bertahap.
Hebatnya, refleks metabolisme tubuh mutasi milik Jake bekerja secara alami. Meski matanya terpejam rapat dalam pingsan, tenggorokannya bergerak perlahan, menelan cairan bernutrisi tinggi itu secara otomatis demi menyelamatkan sistem tubuhnya yang kelaparan akan protein.
Kamu menghela napas lega yang teramat panjang saat melihat Jake bisa menelan cairan itu tanpa tersedak. Tetes demi tetes susu hangat itu kamu suapkan sampai isi gelas besar itu tandas tak tersisa.
Heeseung berdiri menyandarkan punggungnya di dinding dekat pintu kamar, melipat kedua tangannya di dada. Matanya tidak pernah lepas memandangi setiap gerak-gerikmu. Cara kamu merawat Jake, cara kamu memangku kepalanya dengan begitu lembut, dan kepanikan luar biasa yang baru saja kamu tunjukkan... semuanya mengindikasikan satu hal bagi Heeseung.
Ada rahasia raksasa yang ditutupi oleh kamu dan Jake Sim.
Heeseung tahu ada yang tidak beres. Tidak ada mahasiswa biasa yang pingsan gara-gara โmulesโ lalu membutuhkan dosis protein dan madu darurat seperti atlet yang mengalami kelumpuhan otot. Dan reaksi kamu... reaksi itu bukan sekadar reaksi teman sekelas biasa. Ada keterikatan dan rasa saling percaya yang teramat dalam di sana.
Heeseung menarik napas panjang, menahan semua asumsi dan pertanyaannya yang berputar-putar di dalam kepala aljabar-nya. Dia sadar ini bukan waktu yang tepat untuk menuntut kejelasan. Jake sedang lemah, dan kamu sedang berada di puncak kecemasan.
โMas... biarin Jake tidur dulu ya di sini,โ katamu pelan tanpa mendongak, masih mengusap lembut rambut cokelat Jake yang basah.
Heeseung mengangguk pelan, raut wajahnya melunak dipenuhi rasa simpati. โIya. Biarin dia istirahat total. Kalau butuh apa-apa lagi, panggil Mas di ruang tengah ya.โ
โMakasih banyak ya, Mas Heeseung...โ bisikmu tulus.
Heeseung memberikan senyuman tipis yang menenangkan sebelum melangkah mundur dan menutup pintu kamar tamu itu perlahan, menyisakan keheningan yang intim dan penuh kecemasan di dalam ruangan.
Jam di dinding kamar berdetak lambat, menandakan berlalunya waktu yang terasa begitu menyiksa. Kamu tidak beranjak sedikit pun dari posisimu. Kepala Jake masih bersandar pasrah di atas pangkuanmu. Kamu membiarkan paha dan kakimu pegal, sama sekali tidak peduli pada rasa tidak nyaman di tubuhmu sendiri, selama kamu bisa memastikan deru napas Jake perlahan-lahan kembali stabil dan teratur.
Efek dari campuran susu high protein dan madu murni itu perlahan mulai bekerja pada metabolisme ajaib Jake. Pucat pasi di wajahnya perlahan surut, digantikan rona hangat yang hangat di pipinya. Keringat dingin yang membanjiri tubuhnya pun mulai mengering.
Di tengah keheningan kamar yang temaram itu, untuk mengalihkan rasa cemas yang masih tersisa, kamu meraih ponselmu yang tergeletak di meja samping kasur dengan satu tangan yang bebas.
Kamu menyalakan layar ponsel, membuka aplikasi berita terkini dan platform media sosial. Kamu mengetik kata kunci pencarian satu per satu di kolom pencarian: โKejadian Kota Pagi Iniโ, โKecelakaan Hari Iniโ, hingga โBerita Luar Biasaโ.
Dan benar saja. Hanya dalam hitungan detik, halaman utama media sosial dan situs berita lokal dibanjiri oleh ratusan unggahan video amatir dan artikel berita panas bertajuk BERITA UTAMA DARURAT.
Mata berbinarmu terpaku pada salah satu judul berita dengan jumlah penonton terbanyak:
[Aksi Heroik Sosok Bertopeng Misterius: Menahan Truk Rem Blong Berbobot Belasan Ton Demi Selamatkan Bayi di Persimpangan Jalan!]
(kira kira ginilah ya)
Kamu menekan tombol play pada video amatir berdurasi dua menit yang diambil dari atap gedung terdekat.
Layar ponselmu menampilkan rekaman yang membuat jantungmu serasa berhenti berdetak saat itu juga. Di dalam video itu, terlihat jelas bagaimana sebuah truk kontainer raksasa meluncur hilang kendali dari perbukitan, mengancam mobil putih yang berisikan seorang bayi di tengah persimpangan. Dan kemudian... sesosok pemuda bertopeng kain hitam melompat turun dari ketinggian, menancapkan kakinya di aspal, menembakkan jaring-jaring perak tebal ke pilar gedung, dan menahan laju truk raksasa itu menggunakan kekuatan fisiknya sendiri!
Suara jeritan warga, deru gesekan besi yang mengerikan, dan kepulan asap hitam di video itu terdengar begitu nyata. Dan kamu tahu betul... pemuda bertopeng hitam yang mengerang kesakitan menahan beban mati belasan ton di layar HP itu adalah cowok yang kepala dinginnya sedang tersandar di pangkal pangkuanmu saat ini.
Air mata haru dan rasa kagum yang amat dahsyat perlahan menetes dari sudut matamu, jatuh mengenai pipi Jake yang terlelap.
โGila lo, Jake Sim...โ bisikmu dengan suara serak menahan tangis, mengusap bekas air matamu di pipi Jake. โLo beneran mempertaruhkan nyawa lo demi bayi itu...โ
Rasa hormat dan kepedulian yang tumbuh di dalam dadamu kini berubah menjadi ikatan emosional yang teramat kokoh. Kamu menyadari bahwa di balik kacamata tebal dan sikap pemalunya di kampus, Jake Sim adalah sosok pahlawan sejati yang berhati teramat muliaโseseorang yang tidak akan pernah kamu biarkan berjuang sendirian lagi di dunia yang keras ini.
Kamu meletakkan ponselmu kembali ke meja, lalu menundukkan kepala, memandangi wajah Jake yang kini tertidur lelap tanpa beban. Kamu terus mengusap lembut rambut cokelatnya, mengandalkan sentuhan hangatmu untuk menyampaikan pesan bahwa dia sudah aman, bahwa bahaya telah berlalu, dan bahwa kamu tidak akan pernah meninggalkannya sampai matanya kembali terbuka menyapa dunia.
Di bawah sorotan lampu meja yang redup dan temaram, keheningan kamar tamu itu terasa makin membalut. Suara deru napas Jake yang tadinya patah-patah kini sudah berubah menjadi helaan napas yang dalam, teratur, dan begitu halus. Pucat di wajahnya benar-benar sirna, digantikan warna rona hangat alami yang perlahan kembali menyapu permukaan kulitnya.
Kamu menunduk, memandangi pahatan wajah Jake dari dekat. Tanpa kacamata tebal yang biasa membentenginya, bulu matanya kelihatan panjang dan lentik, garis rahangnya tegas namun memancarkan ketenangan yang teramat polos. Ada pendar kekaguman, rasa haru, dan luapan emosi yang bergulung-gulung di dalam dadamu begitu mengingat video aksi nekatnya menahan truk kontainer belasan ton demi nyawa seorang bayi.
Tanpa sadar, didorong oleh rasa lega yang meluap dan afeksi yang membuncah begitu dalam, kamu memiringkan kepalamu pelan. Kamu mengecup kening Jake lembut. Sentuhan bibirmu bertahan beberapa detik di atas kulit keningnya yang kini sudah hangat dan kering, menyampaikan seluruh doa dan rasa syukur yang tidak sanggup diucapkan oleh kata-kata.
Tepat pada detik itu... tubuh Jake mendadak bergetar halus. Proses pemulihan cepat dalam sistem metabolisme mutasi laba-labanya yang dipicu oleh asupan protein dan madu tadi tampaknya telah mencapai puncaknya. Otot-otot di dada dan lengannya yang tadinya kaku terkunci kini meregang pelan secara alami.
โNgh... uhh...โ
Jake bergumam lirih. Kelopak matanya berkedip-kedip perlahan, berusaha menghalau bayangan kabur yang menyapa penglihatannya. Rasa pegal dan ngilu yang dahsyat di sekujur persendiannya perlahan melarut, berganti dengan aliran energi hangat yang kembali menyelimuti pembuluh darahnya.
Saat iris matanya yang cokelat tua berhasil fokus sepenuhnya, hal pertama yang ditangkap oleh penglihatannya adalah wajahmu yang berada sangat dekat dengannyaโdengan sisa genangan air mata yang memantulkan cahaya di sudut matamu.
โJ-Jake...? Lo... lo udah bangun?!โ suaramu bergetar hebat. Jake baru menyadari kepalanya sedang bersandar nyaman di atas pangkuan paha mulusmu. Belum sempat Jake mencerna situasi atau merasa canggung gara-gara posisi itu, refleks panik dan lega di dalam dirimu mendadak meledak. Kamu langsung terjungkat memeluk leher Jake dengan teramat erat!
โJake! Ya Tuhan, Jake! Lo bikin gue takut setengah mati, tahu enggak?!โ pekikmu pecah dalam isakan lega, meremas bagian belakang kaos abu-abunya dengan jemarimu yang gemetar. โGue pikir lo bakal kenapa-kenapa! Gue lihat beritanya di HP... lo nekat banget nahan truk segede gitu sendirian! Gimana kalau tubuh lo enggak kuat?! Gimana kalau lo yang hancur?! Lo bener-bener gila, Jake Sim! Bikin jantung gue serasa mau copot!โ
Rentetan kalimat khawatir yang meluncur deras dari mulutmu membasahi bahu Jake.
Jake terpaku di tempatnya. Lingkaran lenganmu di lehernya dan kehangatan tubuhmu yang merengkuhnya begitu erat membuat seluruh sisa rasa sakit di fisiknya menguap seketika. Jantung Jake berdegup kencangโbukan karena lelah, tapi karena rasa haru yang teramat dahsyat membakar dadanya. Ada seseorang yang menangisinya, seseorang yang begitu mengkhawatirkan keselamatannya.
Dengan perlahan dan penuh kelembutan, tangan Jake terangkat, melingkari punggungmu dan membalas pelukanmu tak kalah erat.
โMaaf... Maaf udah bikin lo khawatir, (Y/N)...โ bisik Jake pelan di samping telingamu, suaranya kini kembali terdengar dalam, hangat, dan penuh tenaga. โGue... gue baik-baik aja. Gue janji.โ Kamu melepaskan pelukanmu pelan-pelan, mengusap air mata di pipimu dengan kasar, lalu menatap seluruh tubuh Jake dari atas ke bawah untuk memastikan tidak ada tulang yang patah atau luka dalam. โBentar! Jangan gerak dulu!โ pintamu terburu-buru.
Kamu membalikkan badan ke arah pintu kamar yang tertutup rapat, lalu berteriak sekuat tenagamu menembus dinding ruangan. โMAS HEESEUNG! MAS HEESEUNG! JAKE UDAH SIUMAN! CEPAT KESINI, MAS!โ
Hanya butuh waktu lima detik. Suara langkah kaki yang berlari kencang terdengar dari ruang tengah, disusul pintu kamar yang terdorong terbuka lebar hingga menghantam dinding.
BAM!
Heeseung berdiri di ambang pintu dengan napas terengah-engah, matanya membelalak kaget begitu melihat Jake sudah duduk tegak di atas kasur, sementara kamu sibuk menepuk-nepuk dan memeriksa lengan serta bahu Jake dengan raut wajah panik.
โAstaga! Udah sadar?!โ Heeseung berlari mendekati kasur, langsung berlutut di sebelah kalian dan memegang kedua bahu Jake. โJake! Lo gimana?! Ada yang sakit enggak?! Dada lo sesak?! Perlu Mas panggilkan ambulans sekarang?!โ
Jake menggelengkan kepalanya cepat sambil tersenyum canggung, membetulkan posisi duduknya. โEnggak perlu, Mas Heeseung! Beneran! Saya udah sehat banget sekarang. Susu hangat campur madu yang Mas bikin tadi bener-bener manjur banget, tenaga saya langsung balik.โ
Heeseung memicingkan matanya tajam, menatap wajah Jake yang kini sudah segar bugar tanpa ada sisa pucat sedikit pun. Orang biasa yang pingsan kritis gara-gara kelelahan ekstrem tidak mungkin bisa pulih total dan tampak sebugar ini hanya dalam waktu dua jam gara-gara segelas susu hangat dan madu. Heeseung berpaling menatapmu yang sedang memegangi pergelangan tangan Jake dengan raut wajah lega luar biasa. Lalu matanya kembali menatap Jake yang tersenyum sopan.
Kecurigaan Heeseung sudah berada di puncaknya. Sebagai orang yang biasa mengolah data dan logika, semua puzzle aneh sejak kemarinโdimulai dari keahlian algoritma Jake yang tidak masuk akal, sikap protektifmu yang kelewatan, aksi lari mendadak Jake pagi tadi, hingga pemulihan ajaib iniโmulai mengarah pada satu kesimpulan bahwa ada sesuatu yang sangat raksasa sedang disembunyikan di depan matanya.
Heeseung menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang tegang, lalu menyandarkan punggungnya di tepi kasur.
โOke...โ kata Heeseung pelan, suaranya terdengar sangat serius namun tetap tenang. Dia melipat kedua tangannya di dada, menatap kalian berdua secara bergantian. โMas lega banget lo udah sadar dan sehat lagi, Jake. Beneran.โ
Heeseung menggantungkan kalimatnya sejenak, membuat atmosfer ruangan mendadak hening dan kembali tegang.
โTapi sekarang...โ lanjut Heeseung sambil menatap matamu dan mata Jake lurus-lurus. โ...Mas rasa udah waktunya kalian berdua cerita sama Mas. Ada rahasia apa sebenarnya yang lagi kalian tutup-tutupi dari Mas?โ
to be continued






NGE GANTUNG BGTT, SEKALIAN UP YANG 8 MOM๐ฅบ๐
Emg yah kl org lg panik kdg tanpa sadar bertindak kek ember bocor. Td nya mu nutupin eh akhirnya malah keuungkap sendirinya๐