7 Sharing With Daddy
HEeseung & Riki
Kesadaranmu menipis seperti selembar benang yang siap putus. Tarikan konstan pada kedua pergelangan tanganmu oleh Heeseung dan Riki mendadak terasa jauh, seolah suara bentakan mereka tersaring oleh dengungan keras yang memenuhi kepalamu. Pendar lampu tidur temaram berwarna kuning redup di sudut kamar bergoyang kabur dalam pandanganmu yang mulai memutih. Udara di dalam kamar pernikahan itu terasa begitu pekat, mengunci paru-parumu hingga setiap tarikan napas yang keluar dari bibirmu yang pecah terdengar seperti bisikan parau yang tersedat.
βM-Mas Hee... R-Riki... s-sakit...β rintihmu terbata-bata untuk terakhir kalinya.
Warna pias di wajahmu berubah menjadi seputih kanvas. Detak jantungmu yang semula berpacu gila-gilaan karena serangan panic attack mendadak melambat secara drastis, menyisakan kekosongan yang dingin di rongga dadamu. Lututmu yang gemetar hebat sejak sore tadi akibat eksploitasi fisik yang brutal akhirnya kehilangan seluruh daya topangnya. Tubuhmu luruh, lunglai sepenuhnya seperti boneka tali yang diputus paksa.
βY/N?!β
Suara bentakan Heeseung dan geraman Riki lenyap seketika, digantikan oleh kepanikan yang keluar serentak dari tenggorokan mereka. Sebelum tubuh lemasmu sempat menghantam lantai kayu yang keras, kedua pasang tangan yang beberapa detik lalu saling menarikmu berebutan, kini bergerak dengan sinkronisasi yang tidak disengaja untuk menangkapmu.
Heeseung menyergap tubuh bagian atasmu, menyangga kepalamu yang terkulai lemas di lengan kokohnya, sementara Riki dengan sigap menahan pinggang dan kakimu. Kuncian posesif Riki yang semula menyakitkan kini berubah menjadi dekapan protektif yang gemetar.
βSayang! Hei, bangun... Y/N, tatap aku!β Suara Heeseung pecah. Kedewasaan dan ketenangan batin yang dia banggakan runtuh total saat melihat matamu terpejam rapat dengan sisa air mata yang mengering di pipi. Tangan kanannya yang besar menepuk-nepuk pipimu yang sedingin es dengan kepanikan yang teramat sangat.
βDad, minggir! Dia nggak bisa napas!β Riki berteriak, wajah angkuhnya kini dipenuhi ketakutan yang nyata. Tanpa memedulikan tatapan murka ayahnya, Riki menyusupkan lengannya di bawah tubuhmu dan mengangkatmu sepenuhnya dari kursi santai, memindahkan tubuh ringkihmu ke atas ranjang king size yang seprainya masih berantakan oleh jejak penyatuan mereka berdua.
Heeseung tidak menghentikan Riki. Ego seorang suami yang dikhianati mendadak padam, digantikan oleh naluri seorang pria yang ketakutan setengah mati melihat wanita yang dicintainya berada di ambang kematian mental. Pria matang itu berlutut di tepi ranjang, dengan cepat melonggarkan kerah sweter longgar yang mencekik lehermu, memberikan ruang bagi dadamu yang naik-turun secara dangkal untuk meraup oksigen.
Di bawah pendar lampu kuning yang temaram, kedua pria itu membeku di sisi ranjang yang sama. Mereka menatap tubuhmu yang terbaring tak berdaya dengan napas yang tersengal-sengal dalam pingsan yang semu. Di leher dan dadamu, hamparan kissmark keunguan milik Riki dan bercak merah pekat milik Heeseung yang tumpang tindih tampak jelas, memantulkan visualisasi nyata dari dosa dan kepemilikan gila yang hampir merenggut kesadaranmu malam ini.
Keheningan yang mencekam kembali menguasai kamar utama, namun kali ini atmosfernya tidak lagi dipenuhi oleh hasrat untuk saling membunuh. Kamar itu kini dipenuhi oleh rasa bersalah yang pekat dan ketakutan kolektif yang mendalam. Heeseung duduk di tepi kasur, jemarinya yang hangat menggenggam tangan kananmu yang terkulai lemas, sesekali mengecup punggung tanganmu dengan napas yang masih memburu berat. Di seberang ranjang, Riki berdiri tegak dengan kedua tangan terkepal di dalam saku celananya, matanya yang sehitam jelaga tidak sedetik pun beralih dari wajah pucatmu.
βDia hancur karena kita, Riki,β Heeseung membuka suara setelah keheningan yang panjang. Suaranya terdengar sangat tua, lelah, dan penuh kekalahan. Pria berusia empat puluh tahun itu mendongak, menatap anak kandungnya dengan pandangan yang tidak lagi mengintimidasi, melainkan pandangan dari seorang pria yang terpaksa berkompromi dengan kegelapan. βDia sayang sama kamu. Dan dia... dia juga mencintaiku sebagai suaminya. Pengakuannya tadi... itu membunuh mentalnya secara perlahan.β
Riki menarik napas dalam-dalam, rahangnya mengetat, namun dia tidak menyangkal kalimat ayahnya. Sifat keras kepala dan cemburu buta yang dia warisi dari Heeseung membuatnya sadar bahwa menuntutmu untuk memilih hanya akan mendorongmu menuju kegilaan yang lebih parah.
βAku nggak akan pernah bisa lepasin dia ke Daddy sepenuhnya, Dad,β Riki berbisik parau, melangkah mendekat ke sisi ranjang, menatap jemarimu yang berada di genggaman Heeseung. βTapi aku juga nggak mau liat dia hampir mati kayak tadi karena dipaksa milih.β
Heeseung terdiam lama, menatap wajah tidurmu yang dipenuhi sisa trauma. Sebagai seorang pria terhormat di dunia luar, apa yang sedang melintas di kepalanya saat ini adalah sebuah penyimpangan moral yang menjijikkan. Namun, sebagai seorang pria yang terlanjur terobsesi pada istri mudanya, dia tahu tidak ada jalan kembali.
βKalau begitu... kita nggak punya pilihan lain,β Heeseung berbisik rendah, suaranya mantap namun terdengar begitu berdosa di tengah kesunyian malam. Dia mengusap dahi tokomu yang berkeringat dingin. βKita bagi dia, Riki. Di rumah ini, di balik pintu kamar yang terkunci ini... dia milik kita berdua. Nggak ada pilihan, nggak ada yang pergi, dan nggak ada yang boleh membuat dia menangis terbata-bata seperti tadi lagi.β
Riki tertegun sejenak, sebelum sebuah senyuman tipis, gelap, dan penuh kepuasan kembali terukir di bibirnya. Dia mengulurkan tangannya ke atas ranjang, menyentuh pergelangan kaki kirimu yang terekspos di balik selimut. βDeal, Dad. Tapi Daddy harus tahu... aku nggak akan menahan diri kalau giliranku tiba.β
Kamu yang masih berada di ambang antara sadar dan tidak, samar-samar mendengar bisikan kesepakatan terlarang itu bergema di dalam kamarmu. Rahimmu yang masih terasa penuh dan berkedut sensitif oleh sisa benih Riki sore tadi seolah menjadi saksi bisu bahwa mulai malam ini, tubuh dan jiwamu telah resmi menjadi tempat perlindungan sekaligus pemuasan bagi dua generasi pria bermarga Lee yang menggilaimu tanpa ampun.
Keheningan tengah malam di kamar utama terasa begitu tebal dan pekat ketika kesadaranmu perlahan kembali ke permukaan. Kelopak matamu yang masih terasa berat dan bengkak akibat tangisan beberapa jam lalu terbuka perlahan, mendapati pendar lampu tidur kekuningan di sudut ruangan telah meredup, menyisakan bayang-bayang panjang yang menari sunyi di langit-langit kamar.
Hal pertama yang menyergap indramu bukanlah visual, melainkan rasa sakit fisik yang besar. Perut bagian bawahmu terasa kram, berdenyut nyeri dan kaku-sebuah konsekuensi tak terelakkan dari rahimmu yang dipaksa menerima gempuran beringas beronde-ronde sejak subuh oleh Riki, dibersihkan secara kasar, lalu diisi kembali hingga penuh. Sensasi panas dan lengket yang mengering di celah pahamu mempertegas integritas dosa yang telah terjadi. Bersamaan dengan rasa kram itu, lambungmu yang kosong berbunyi lirih, kamu kelaparan, menguras seluruh energi setelah melewati histeria mental yang hampir membuatmu gila.
Kamu mencoba menggeser tubuhmu untuk meredakan nyeri di perut, namun seluruh sendimu mendadak terkunci. Ada beban yang berat dan protektif mendekapmu di kedua sisi.
Ketika kamu menoleh ke sisi kanan, wajah Heeseung berada hanya beberapa sentimeter dari wajahmu. Pria matang berusia empat puluh tahun itu tertidur dalam posisi miring menghadapmu. Setelan jas kerjanya telah tanggal, menyisakan kaus putih tipis yang mengekspos dada bidangnya yang naik-turun teratur.
Tangan kanannya yang besar melingkar posesif di atas perutmu yang kram, memberikan usapan-usapan kecil yang tidak sadar dia lakukan dalam tidurnya-seolah insting kedewasaannya tahu bahwa bagian tubuhmu itu sedang kesakitan. Wajah Heeseung tampak begitu tenang, gurat-gurat amarah dingin yang beberapa jam lalu siap membunuh Riki kini sirna, digantikan oleh ekspresi kelelahan seorang suami yang hampir kehilangan dunianya.
Merasa terjebak, kamu perlahan memutar kepala ke sisi kiri. Di sana, Riki tertidur dengan posisi yang tidak kalah intim. Anak tirimu-atau lebih tepatnya, pacar rahasiamu-tidur dengan satu lengan dijadikan bantalan di bawah kepalamu, sementara tangan lainnya menggenggam jemari kirimu dengan sangat erat, menguncinya di atas kasur seolah dia takut jika dia melepaskannya sedikit saja, kamu akan lenyap dari jangkauannya. Wajah Riki yang biasanya dipenuhi seringai angkuh dan provokatif kini tampak sangat polos dalam tidurnya, memancarkan aura pemuda dua puluh tahun yang rapuh dan cemas.
Sikap mereka berdua saat ini berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan beberapa jam yang lalu. Pria-pria Lee yang sebelumnya memperlakukan tubuhmu bagai medang perang tarik-tambang yang egois, kini justru mendekapmu dengan kelembutan yang luar biasa-seolah-olah kamu adalah pualam retak yang bisa hancur berkeping-keping jika disentuh dengan kasar.
Kamu terengah lirih di tengah jepitan tubuh tegap ayah dan anak itu. Di satu sisi, kehangatan domestik ini memberikan rasa aman yang aneh bagi hatimu yang menyayangi keduanya, perhatian lembut Heeseung dan kedekatan adiktif dengan Riki melebur jadi satu. Namun di sisi lain, kesadaran bahwa kamu kini resmi menjadi konsumsi bersama di balik pintu kamar yang terkunci ini membuat rasa kram di perutmu semakin melilit pilu. Kamu kelaparan, kamu kesakitan, namun kamu terjebak di dalam sangkar emas paling posesif yang pernah tercipta.
Rasa melilit di perut bagian bawahmu semakin lama semakin tidak bisa ditoleransi. Kontraksi kram akibat dinding rahimmu yang dieksploitasi tanpa ampun sejak subuh tadi kini bercampur dengan rasa perih yang kosong dari lambungmu yang kelaparan. Kamu melepaskan sebuah lenguhan lirih, selembar suara parau yang tertahan di tenggorokan, sambil mencoba menekuk kedua lututmu sedikit ke dada untuk mengurangi rasa nyeri.
βNnghh...β
Pergerakan kecil itu, sekecil apa pun usahamu untuk tidak menimbulkan suara, langsung memicu reaksi berantai dari kedua pria itu yang menguncimu.
Di sisi kananmu, Heeseung adalah yang pertama membuka mata. Naluri protektif seorang pria matang berumur empat puluh tahun membuatnya sangat peka terhadap perubahan ritme napasmu. Maniknya yang jernih berkedip perlahan di bawah temaram lampu sudut kamar, langsung tertuju pada wajah piasmu. Tangannya yang semula mengusap perutmu kini menekan sedikit lebih dalam dengan lembut.
βSayang? Hei... ada yang sakit?β bisik Heeseung, suaranya parau khas pria yang baru bangun tidur, terdengar sangat berat dan penuh perhatian yang tulus. Dia menegakkan tubuhnya dengan bertumpu pada satu siku, menyingkirkan anak rambut yang menempel di dahi basahmu.
Sebelum kamu sempat menjawab, lengan di bawah kepalamu bergerak. Di sisi kirimu, Riki terusik. Pemuda itu tidak langsung berbicara, dia hanya membuka matanya yang sehitam jelaga, menatapmu dengan pandangan tajam yang langsung mengunci manik matamu. Genggaman tangannya pada jemari kirimu justru semakin mengerat, memberikan remasan posesif yang seolah menegaskan kehadirannya.
βPerutku... kram banget, Mas... terus lapar,β cicitmu terbata-bata, menyembunyikan wajahmu di bantal, merasa tertekan sekaligus tak berdaya di antara kepungan perhatian mereka.
Mendengar keluhanmu, atmosfer di atas ranjang itu mendadak berubah sibuk, namun tidak ada lagi ketegangan berdarah seperti beberapa jam lalu. Sikap beringas mereka telah luruh sepenuhnya, digantikan oleh kompetisi baru untuk merawat wanita yang sama-sama mereka gila-gilai.
βAku ambilin kompres air hangat sama obat dulu di luar,β Riki bersuara lebih cepat. Suaranya berat, khas anak muda yang acuh tak acuh namun tindakannya selalu intens. Dia melepaskan genggaman tangannya dari jemarimu, lalu bangkit dari tempat tidur. Kaos hitam longgarnya sedikit kusut, menampilkan siluet tubuh tegapnya yang atletis saat dia berjalan menuju pintu kamar mandi luar.
Heeseung menatap kepergian Riki sekilas, lalu kembali memfokuskan seluruh dunianya kepadamu. Dia menarik selimut tebal hingga menutupi dadamu rapat-rapat, memastikan tubuhmu tidak terkena angin malam yang dingin. βMas turun ke dapur sebentar ya, Sayang? Aku buatin bubur instan atau sup hangat buat kamu. Kamu jangan banyak gerak dulu, diam di sini.β
Heeseung mengepalkan tangannya sejenak di atas kasur, seolah menahan diri untuk tidak mencium bibir bengkakmu karena tahu tubuhmu sudah terlalu lelah. Pria matang itu turun dari ranjang, mengenakan kembali celana santainya, dan melangkah keluar kamar menuju dapur lantai bawah.
Tidak butuh waktu lama sampai Riki kembali lebih dulu. Dia membawa sebuah mangkuk berisi air hangat dan selembar handuk kecil, lengkap dengan dua butir pereda nyeri di saku celananya. Tanpa meminta izin, Riki duduk di tepi ranjang tempat Heeseung duduk tadi. Dia menyibak selimutmu sedikit, lalu menyingkap bagian bawah sweter longgarmu hingga batas pusar.
βR-Riki, jangan... nanti Daddy kamu liat,β bisikmu panik, mencoba menahan tangan Riki.
βDaddy lagi di bawah, Y/N. Diem,β potong Riki dingin namun gerakannya saat memeras handuk hangat itu sangat hati-hati. Dia menempelkan handuk basah yang hangat itu di atas perut bagian bawahmu yang kram. Rasa hangat yang menjalar seketika membuat otot-otot perutmu yang kaku menjadi sedikit rileks.
Riki membungkuk, mendekatkan wajahnya hingga jarak di antara kalian terkikis habis. Matanya memperhatikan lehermu yang dipenuhi bercak merah buatannya dan Heeseung yang saling tumpang tindih. βMasih perih di dalam? Maaf... sore tadi aku terlalu kasar karena cemburu denger kamu desahin nama Daddy.β
Sebelum kamu sempat memproses ucapan Riki, pintu kamar kembali terbuka. Heeseung masuk dengan membawa nampan berisi semangkuk sup ayam hangat dan segelas air putih. Langkah kakinya memelan saat melihat Riki sedang menempelkan kompres hangat di perutmu. Ada kilatan tidak suka yang melintas cepat di mata Heeseung, namun pria itu berhasil menekannya demi keadaanmu.
Heeseung meletakkan nampan di meja nakas, lalu duduk di sisi ranjang yang lain, tepat di depan Riki. Kini, kamu berada tepat di tengah-tengah mereka lagi. Heeseung menyendok sup hangat itu, meniupnya perlahan dengan penuh kesabaran, lalu mengarahkannya ke bibirmu.
βAyo makan dulu sedikit, Sayang, biar bisa minum obat,β ujar Heeseung lembut.
Kamu membuka mulutmu perlahan, menerima suapan dari suamimu, sementara di bagian bawah tubuhmu, tangan Riki masih terus bergerak memberikan usapan hangat di perutmu melalui handuk kompres. Malam itu, di bawah pendar lampu temaram, tidak ada makian atau pertumpahan darah. Dua generasi pria bermarga Lee itu bekerja sama merawatmu dalam keheningan yang intim namun menyimpang-sebuah awal dari kehidupan barumu sebagai milik bersama mereka.
Keheningan di dalam kamar tidur utama itu terasa merayap aneh setelah sendok terakhir dari sup hangat yang disuapkan Heeseung berpindah ke dalam mulutmu. Rasa kenyang yang kini mengisi lambungmu yang semula kosong bukannya memberikan ketenangan, melainkan mendatangkan rasa bingung yang amat sangat. Kamu bersandar pada tumpukan bantal dengan napas yang masih tersisa satu-dua helai sesak, matamu yang bengkak bergerak gelisah, menatap bergantian ke arah dua pria bermarga Lee yang masih setia mengungkungmu di kedua sisi ranjang.
Logika warasmu menolak situasi ini. Berdasarkan apa yang terjadi beberapa jam lalu-pertengkaran hebat, tarikan kasar pada pergelangan tangan, dan kata-kata penuh amarah-kamu sepenuhnya berekspektasi bahwa badai susulan akan segera pecah. Kamu mengira mereka akan kembali saling melempar tatapan membunuh atau beradu fisik memperebutkan hak kepemilikan atas dirimu. Namun, yang kamu dapati justru sebaliknya. Atmosfer di sekitar mereka begitu tenang, sebuah ketenangan yang dingin, teratur, dan justru terasa jauh lebih mengintimidasi daripada bentakan kasar.
Heeseung meletakkan mangkuk kosong ke atas meja nakas dengan gerakan yang sangat pelan, hampir tanpa suara. Ia menghela napas panjang, lalu memutar tubuhnya untuk menghadapmu sepenuhnya. Manik matanya yang jernih dan matang menatapmu dengan bauran rasa bersalah yang amat dalam, namun di balik rasa bersalah itu, ada ketetapan hati yang mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.
βSayang... Mas mau minta maaf,β Heeseung membuka suara, bariton beratnya terdengar begitu lembut, mengusap permukaan kulit pipimu yang masih pias dengan punggung jarinya yang hangat. βMas minta maaf karena ego Mas siang tadi, dan karena amarah Mas malam ini, udah bikin kamu ketakutan sampai sesak napas kayak tadi. Mas tahu... Mas nggak seharusnnya ngasih kamu pilihan sesulit itu di saat kamu bahkan nggak punya kekuatan buat milih salah satu dari kami.β
Kamu mengerutkan dahi, setitik rasa lega yang sempat muncul di hatimu mendadak menguap ketika melihat Riki yang duduk di sisi kiri ranjang mengeluarkan sebuah senyuman miring yang sarat akan kemenangan gelap. Pemuda berumur dua puluh tahun itu melipat kedua tangannya di depan dada, menatapmu seolah kamu adalah seekor mangsa yang sudah masuk sepenuhnya ke dalam jebakan tali yang dia pasang bersama ayahnya.
βM-Mas Heeseung... maksudnya apa?β tanyamu dengan suara yang masih serak dan bergetar hebat. Rasa kram di perut bagian bawahmu seolah kembali menegang, merespons firasat buruk yang mulai menjalar di sepanjang tulang belakangmu.
Heeseung tidak segera menjawab. Dia meraih tangan kananmu, menggenggamnya erat, sementara tangan kirimu kembali ditarik oleh Riki ke dalam genggaman kokohnya. Sentuhan simultan dari ayah dan anak ini membuat bulu kudukmu meremang kaku.
βPas kamu pingsan tadi, Mas dan Riki sudah bicara. Kami sudah meluruskan semuanya,β Heeseung melanjutkan kalimatnya dengan nada suara yang teramat tenang, seolah apa yang akan dia sampaikan adalah sebuah keputusan bisnis yang wajar, bukan sebuah kegilaan moral yang menyimpang. βDan kami sadar... nggak ada satu pun di antara kami yang rela kehilangan kamu, Y/N. Riki nggak akan pernah ngelepasin kamu sebagai pacarnya, dan Mas... Mas nggak akan pernah membiarkan istri muda Mas pergi dari rumah ini.β
βJadi...β napasmu tertahan di tenggorokan, matamu membelalak lebar menatap Heeseung, lalu beralih pada Riki yang kini mulai merangkak mendekat, mengikis jarak di antara kalian.
βJadi, kamu nggak perlu memilih lagi, Sayang. Mulai malam ini, hak pilih itu sudah nggak ada untuk kamu,β Riki yang mengambil alih kalimat ayahnya, suaranya yang berat dan dingin berbisik tepat di samping telingamu, mengirimkan sensasi ngeri sekaligus gairah terlarang yang adiktif ke seluruh sarafmu. βKamu nggak dikasih pilihan buat pergi atau milih salah satu. Kamu cuma punya satu tugas mulai sekarang, terima dominasi dari kami berdua. Kamu milik Daddy, dan kamu tetap milikku.β
βNggak... Mas, ini gila... Riki, nggak boleh kayak gini-β
Kamu menyentak kepalamu ke belakang, mencoba menegakkan sisa-sisa moralitasmu yang hancur untuk menolak kesepakatan gila yang mereka buat sepihak. Kamu bergerak panik, hendak menarik kedua tanganmu dari cengkeraman mereka untuk turun dari ranjang terkutuk itu.
Namun, penolakanmu bergerak terlalu lambat di hadapan Heeseung dan Riki yang memiliki insting cemburu buta yang serupa.
Sebelum kalimat penolakanmu selesai terucap dari bibirmu yang bergetar, Heeseung bergerak lebih cepat. Dengan kedewasaan dan otoritas mutlaknya sebagai seorang suami, dia memajukan tubuhnya, mencengkeram tengkukmu dengan tangan besarnya, dan langsung membungkam bibirmu dengan sebuah ciuman yang dalam, menuntut, dan penuh penekanan. Kamu melenguh tertahan di dalam pagutan Heeseung, seluruh bantahanmu tersendat di dalam tenggorokan saat lidahnya mulai menguasai rongga mulutmu, memaksamu untuk tunduk pada otoritas sahnya.
Bersamaan dengan bibirmu yang dibungkam tanpa ampun oleh Heeseung, tubuh bagian bawahmu kembali menegang hebat saat merasakan sentuhan dingin di leher kirimu. Riki tidak memberikanmu celah untuk bernapas. Pemuda itu maju, menyusupkan wajahnya di antara ceruk leher dan bahumu yang terekspos di balik sweter longgar. Gigi-gigi tajam Riki menggigit kecil kulit sensitifmu, sebelum akhirnya dia menghisap kulit lehermu dengan sangat kuat dan rakus meninggalkan sebuah tanda kepemilikan baru yang pekat, tepat di atas sisa-sisa bercak yang sebelumnya dibuat oleh ayahnya.
βNnghh... Mas Hee... R-Riki... ahh...β
Rintihan pasrah akhirnya lolos secara menyedihkan dari sela-sela ciuman Heeseung. Tubuhmu lemas total, kehilangan seluruh pasokan kekuatan untuk menolak. Di bawah kungkungan fisik yang sinkron dari dua pria yang sama-sama kamu cintai ini, kamu akhirnya dipaksa sadar, tindakan fisik mereka malam ini adalah bukti nyata bahwa mereka beneran tidak main-main dengan ucapan mereka. Mulai detik ini, tidak ada lagi jalan pulang. Kamu telah resmi dikunci di dalam sangkar emas, menjadi satu wanita yang harus berbagi rahim, tubuh, dan jiwanya untuk memuaskan dominasi gila dari ayah dan anak di hadapanmu.
Kamar utama itu sepenuhnya telah kehilangan fungsi aslinya sebagai ruang pernikahan yang sakral. Di bawah pendar lampu tidur yang meredup menjadi seulas warna jingga temaram, aturan moralitas yang selama ini kamu pertahankan runtuh tak bersisa. Ciuman menuntut dari Heeseung baru saja terlepas, meninggalkan bibirmu yang basah, bengkak, dan terbuka kecil demi meraup pasokan oksigen yang menipis. Namun, sebelum dadamu sempat naik-turun dengan teratur, rasa panas yang menyengat kembali menjalar dari leher kirimu, yaitu tempat di mana Riki baru saja meninggalkan tanda kepemilikan yang baru, sebuah kissmark pekat yang mengunci statusmu malam ini.
βM-Mas Heeseung... Riki... hnghh... c-cukup...β
Rintihanmu terdengar begitu menyedihkan, sebuah usaha penolakan terakhir yang justru terdengar seperti undangan pasrah di telinga kedua pria bermarga Lee yang sedang dikuasai obsesi buta.
Heeseung menatap wajah hancurmu dengan pandangan yang sarat akan dominasi matang. Tidak ada lagi keraguan di matanya. Pria berusia empat puluh tahun itu bergerak merangkak naik, memosisikan tubuh tegapnya tepat di atas tubuh ringkihmu, mengungkungmu sepenuhnya di bawah beban tubuhnya yang hangat. Tangan besarnya menyusup ke belakang punggungmu, mengangkat tubuhmu sedikit untuk melepaskan sweter rajut longgar yang kamu kenakan, membiarkan kulit piasmu yang dipenuhi bercak merah terekspos langsung pada udara malam yang dingin.
βNggak ada kata cukup untuk malam ini, Sayang,β bisik Heeseung, bariton beratnya bergetar rendah di depan wajahmu. βKamu sudah setuju untuk nggak memilih. Dan ini adalah konsekuensi yang harus kamu terima karena telah mencintai kami berdua.β
Bersamaan dengan kalimat itu, Heeseung kembali membungkam bibirmu. Namun kali ini, ciumannya tidak lagi kasar karena cemburu, ciuman itu terasa lambat, dalam, dan penuh dengan kepemilikan sah seorang suami yang sedang membagi hartanya yang paling berharga. Kedua tangannya mengunci pergelangan tangan kananmu di atas kepala, menahannya di atas kasur agar kamu tidak bisa memberontak.
Di saat bagian atas tubuhmu dikuasai sepenuhnya oleh kelembutan Heeseung yang menghanyutkan, bagian bawah tubuhmu mendadak tersentak.
Riki tidak membiarkan detik-detik ini berlalu tanpa klaimnya. Pemuda berusia dua puluh tahun itu merangkak dari arah kaki ranjang, menyusup di antara kedua pahamu yang lemas. Matanya yang sehitam jelaga menatap lurus pada bagaimana ayahnya sedang mencumbu bibirmu, memicu gairah mudanya yang beringas untuk meledak seketika. Dengan gerakan yang intens dan posesif, tangan kekar Riki mencengkeram pinggulmu, mengangkatnya sedikit, lalu menanggalkan sisa pakaian bawahmu tanpa celah untuk bernegosiasi.
βR-Riki... ahh!β
Kamu melenguh tertahan di sela-sela ciuman Heeseung saat merasakan penyatuan fisik itu terjadi kembali. Namun malam ini, sensasinya terasa berkali-kali lipat lebih menghancurkan sarafmu. Rahimmu yang masih terasa penuh dan sensitif oleh sisa gempuran Riki sore tadi kini dipaksa untuk meregang kembali, menerima dominasi beringas dari pria muda itu di saat suamimu sendiri sedang menuntut kepatuhanmu dari arah depan.
Sentuhan simultan ini membakar seluruh akal sehatmu. Gerakan Riki di bawah terasa cepat, kasar, dan penuh dengan letupan gairah muda yang posesif, kontras dengan bagaimana Heeseung di atasmu yang bergerak dengan ritme yang lambat, konstan, dan penuh tekanan yang mengintimidasi. Kamu terjepit di antara dua pria obsesif yang memiliki genetik yang sama namun memberikan sensasi pelepasan yang berbeda.
Air matamu kembali luruh, membasahi pelipis, bukan lagi karena rasa takut, melainkan karena tubuhmu telah telanjur kecanduan pada rasa sakit dan nikmat yang berjalan beriringan ini. Setiap kali Riki mendorong tubuhnya ke dalam hingga ke titik terdalam, Heeseung akan memperdalam ciumannya, menyedot seluruh lenguhan pasrahmu, seolah mereka beneran sedang membagi setiap jengkal tubuh dan jiwamu dengan pembagian yang adil dan presisi.
Malam itu, di atas ranjang pernikahan yang ternoda, kamu akhirnya menyerahkan dirimu sepenuhnya ke dalam pusaran dosa terbesar dalam hidupmu-menjadi wadah pemuasan gila bagi ayah dan anak yang tidak akan pernah melepaskanmu lagi.
To be continued





KACAU
Kapan lagi jadi suami Heeseung , pacar Riki secara bersamaan , π€€π€€