JANGAN LUPA TINGGALIN JEJAK
Keheningan yang terlalu panjang di antara kalian menjadi jawaban tersendiri bagi Riki. Tatapannya menajam, kilat ketidaksabaran bercampur dominasi mutlak terpancar jelas dari manik matanya yang pekat.
“Kelamaan mikir,” desis Riki rendah, nada suaranya dingin dan tak terbantahkan. “Gue yang nentuin jalannya.”
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Riki meraih satu bungkus pengaman baru dari meja samping. Gerakan tangannya terlatih dan tenang saat merobek foil perak itu, mengeluarkan lapisan karet tipis, lalu memasangkannya ke miliknya yang sudah menegang sempurna.
Melihat persiapan itu, naluri bertahanmu mendadak menyala. Ada dorongan kuat di dalam dirimu untuk menarik kaki mundur, mencoba menggeser tubuh menjauh ke sudut sofa. Di depan lensa kamera dua operator yang terus merekam dalam mode senyap, gestur penolakanmu terlihat seperti akting alami yang luar biasa meyakinkan—padahal jauh di lubuk hatimu, ketakutan dan keengganan itu murni nyata. Namun Riki tidak memberi ruang sedikit pun untuk menghindar.
Kedua tangannya yang besar dan kokoh langsung mencengkeram pergelangan kakimu, menarik tubuhmu maju dengan satu sentakan mantap hingga pinggulmu berada tepat di tepi sofa. Sebelum kamu sempat menarik napas, Riki mendorong kedua kakimu ke atas, menekuk lututmu hingga kedua pahamu menempel rapat di sisi dadamu. Posisi itu melipat tubuhmu sepenuhnya, mengekspos liang intimu yang basah berkilau tanpa ada celah untuk menutup diri.
Riki menempatkan dirinya di antara kedua pahamu yang terkunci rapat. Ujung kejantanannya yang panas dan terbalut pengaman ditempelkan di pintu intimu, menggesekkannya perlahan dari bawah ke atas beberapa kali, godaan menyiksa yang memicu rasa ngilu bercampur desakan gairah di sekujur saraf panggulmu.
“Riki, tunggu—”
Jleb.
Tanpa aba-aba lanjutan, Riki menghujamkan pinggulnya maju dalam satu sentakan kuat, bertenaga, dan langsung menembus masuk hingga ke titik paling mentok di dalam rahimmu.
“A-akh...!”
Suaramu tercekik di tenggorokan. Matamu membelalak lebar saat rasa sesak, penuh, dan regangan yang luar biasa padat seketika menginvasi seluruh rongga kewanitaanmu. Tekanan dari posisimu yang terlipat membuat penetrasi itu terasa berkali-kali lipat lebih dalam daripada biasanya, menghantam titik terdalam tanpa ampun dan membuat dinding intimu berkontraksi hebat, menjepit miliknya dengan sangat kuat.
Punggungmu melengkung kaku di atas sofa, tanganmu refleks meremas kuat kedua lengan Riki yang sedang menahan kakimu di dada. Napas Riki memburu panas, otot-otot di bahu dan lehernya menegang saat ia menahan diri sejenak di titik terdalam, menikmati sensasi jepitan ketatmu sebelum memulai ritme kasarnya yang siap menghancurkan sisa tenagamu malam ini.
Erangan berat dan parau lolos dari tenggorokan Riki saat ia merasakan dinding kewanitaanmu yang berkontraksi luar biasa rapat, menjepit miliknya tanpa celah. Urat-urat di pelipis dan lehernya menegang, tapi senyum miring penuh kemenangan langsung terbit di wajahnya yang basah oleh peluh tipis.
“Ketat banget, bangsat...” bisik Riki vulgar, suaranya serak dan bergetar tepat di depan wajahmu. “Mulut lo sibuk nolak, tapi di dalem sini lo meluk gue sekuat ini. Munafik banget lo, (Y/N).”
Kata-kata kotor dan gamblang yang meluncur dari bibir Riki menghantam telingamu, mengirimkan sengatan panas yang aneh langsung ke saraf panggulmu. Tubuhmu bereaksi di luar kendali pikiran rasionalmu—dinding intimu refleks meremas lebih kuat merespons ucapannya, dan Riki menyambut respons biologis itu dengan satu dorongan dalam yang luar biasa bertenaga.
Jleb!
“A-akh! Riki... Don’t be rude... pelan... please...”
Kepalamu bergerak ke kanan dan ke kiri tak berdaya, jemarimu mencengkeram lengan kokoh Riki hingga kuku-kukumu memutih. Rasa sesak yang menghantam titik terdalam membuatmu kewalahan menahan gelombang kenikmatan yang datang terlalu brutal. Namun Riki sama sekali tidak berniat melambat.
Alih-alih menurunkan intensitas, Riki justru menaikkan kecepatan pinggulnya ke titik maksimal. Hentakan-hentakan kasarnya menghantam tanpa ampun, dalam, cepat, dan tanpa jeda. Setiap kali pangkal pahanya bertubrukan keras dengan kulit pantatmu yang masih terlipat di dada, bunyi plak... plak... plak... bergema nyaring dan konstan di ruangan vila yang kedap suara, beradu dengan deru napas berat dan erangan basah yang tak henti-hentinya keluar.
Kamu kehilangan kendali atas ekspresimu sendiri di depan lensa kamera. Matamu berputar ke atas setengah terpejam, lidahmu sedikit menjulur di sela bibir yang terbuka mencari pasokan udara, sepenuhnya pasrah dan tenggelam dalam sensasi liar yang menghancurkan seluruh dinding harga dirimu.
Setiap kata-kata mesum dan provokasi rendah yang dibisikkan Riki ke telingamu justru menjadi bensin yang membakar gairahmu hingga ke titik didih. Jauh di lubuk hatimu, kamu akhirnya harus mengakui kenyataan pahit itu: kamu membenci ritme lambat yang menyiksa seperti yang biasa diberikan Jake, dan permainan kasar, mendominasi, serta penuh tenaga dari Riki inilah yang secara biologis menjadi candu paling mematikan bagi tubuhmu.
“R-riki... faster... crush me...” bisikmu parau di antara isakan desahan, tak lagi mampu berpura-pura menolak.
Mendengar pengakuanmu yang akhirnya menyerah total, seringai Riki makin berbahaya.
“Good girl,” geramnya puas.
Riki menarik miliknya keluar sesaat, lalu dengan cepat mengubah posisimu di tepi sofa. Dia membiarkan satu kakimu menjuntai lemas menyentuh lantai marmer yang dingin, sementara kaki kirimu diangkat tinggi dan disampirkan di atas bahu lebarnya yang kokoh. Sudut masuk baru itu mengekspos liang intimu lebih lebar dan miring, memberikan jalur penetrasi yang jauh lebih dalam dan langsung menghantam titik paling sensitif tanpa halangan.
Brak!
Riki menghujam kembali masuk sampai mentok, lalu menggerakkan pinggulnya bagai mesin yang tak pernah kehabisan daya. Hentakannya begitu kencang dan konstan, mengguncang seluruh tubuhmu di atas bantalan sofa kulit hingga kamu terengah-engah dan kembali menangis memohon agar dia berhenti sejenak karena sensasinya terlalu menusuk saraf pusat.
“Stop... Riki... gue nggak kuat... stop... Ahh! Ahh! Eunghh!” rengekmu putus asa.
“Nggak ada yang stop sebelum lo hancur total di bawah gue,” bisik Riki rendah di samping telingamu, melontarkan kalimat-kalimat vulgar tanpa filter tentang bagaimana tubuhmu diciptakan hanya untuk menampung miliknya.
Kata-kata rendah itu menjadi hantaman terakhir bagi kesadaranmu. Sensasi panas di dalam sana mendadak meledak hebat, mendorongmu ke ambang pelepasan paling dahsyat yang siap meruntuhkan seluruh sisa energimu dalam hitungan detik.
Ritme dorongan Riki tidak melambat sedikit pun. Di posisi satu kaki bertengger di bahu lebarnya dan satu kaki menjuntai ke lantai dingin, setiap tumbukan pinggulnya terasa semakin padat, dalam, dan tanpa jeda. Suara benturan kulit yang basah dan deru napas berat yang saling memburu mendominasi seluruh ruang vila yang sunyi.
Sensasi penuh yang menumbuk titik terdalammu secara konstan membuat seluruh saraf panggulmu bergetar hebat. Dinding intimu berkontraksi luar biasa kencang, menjepit miliknya bagai cengkeraman baja.
“R-riki... cum... gue mau cum...!”
Suaramu pecah menjadi jeritan tertahan. Bersamaan dengan itu, Riki mengeram berat, urat-urat di leher dan lengannya menonjol kaku saat ia menghujamkan miliknya dalam beberapa sentakan terakhir yang paling kuat dan dalam.
Tepat di titik klimaks paling dahsyat, Riki mencondongkan tubuhnya ke depan, mencengkeram rahangmu dengan jemarinya yang kokoh, lalu membungkam mulutmu dengan ciuman yang luar biasa brutal. Bibirnya melumat, lidahnya menginvasi rongga mulutmu tanpa ampun, menelan habis suara tangisan nikmatmu saat gelombang pelepasan meledak secara bersamaan di dalam tubuh kalian berdua. Ciuman itu begitu basah, dalam, dan penuh dominasi mutlak, mengunci kesadaranmu hingga detik terakhir pelepasan mereda.
Ketika Riki akhirnya melepaskan tautan bibir kalian dan menarik diri mundur, seluruh saraf di tubuhmu terasa putus. Pandangan matamu yang berkabut mendadak gelap gulita. Tubuhmu langsung terkulai lemas di atas sofa kulit putih, kehilangan kesadaran sepenuhnya akibat kelelahan fisik dan intensitas gairah yang melampaui batas kemampuan tubuhmu.
Riki berdiri tegak di samping sofa, napasnya naik turun teratur saat ia melepas pengaman dan membersihkan dirinya dengan gerakan tenang. Matanya melirik ke arah dua juru kamera di sudut ruangan yang masih memegang rig stabilizer dalam posisi siaga. Riki mengangkat satu tangannya ke udara, memberikan isyarat tangan tegas ke arah kru.
“Cut. Cukup buat hari ini,” suara Riki terdengar begitu dingin dan berwibawa, memecah kesunyian ruangan. “Dia pingsan. Materi yang tadi udah lebih dari cukup buat master cut.”
Kedua kameramen itu saling bertukar pandang sekilas, lalu serempak mengangguk patuh tanpa mengajukan pertanyaan apa pun. Mereka dengan cekatan mematikan lampu latar amber, mengemas rig kamera ke dalam kotak pelindung hitam, dan segera melangkah keluar meninggalkan vila menuju paviliun terpisah di area bawah yang sudah disiapkan untuk tempat istirahat kru.
Klik.
Pintu utama tertutup rapat. Vila megah di atas tebing itu kembali tenggelam dalam keheningan total, hanya menyisakan desau angin pegunungan dan kabut putih yang makin tebal di balik dinding kaca tempered.
Riki berbalik, menatap sosokmu yang terbaring miring tanpa daya di atas sofa. Wajahmu yang pucat, bibir yang merah merekah dan sedikit bengkak, serta helaian rambut yang menempel di pelipis basah membuat tatapan matanya melembut, perubahan ekspresi langka yang tak pernah ia perlihatkan di depan lensa kamera.
Riki melangkah mendekat, lalu berlutut di samping sofa. Jemarinya yang panjang dan hangat terangkat, membelai pipimu dengan usapan yang sangat pelan dan berhati-hati. Ujung jarinya menyingkirkan rambut dari keningmu, lalu turun menyusuri garis rahang hingga ke ceruk lehermu yang dipenuhi bercak merah tanda kepemilikannya.
“Lo selalu maksain diri sampai batas lo habis,” bisik Riki rendah, nada suaranya terdengar begitu intim dan sarat akan emosi yang terkunci rapat selama bertahun-tahun.
Dengan satu gerakan mulus dan penuh kehati-hatian, Riki menyelipkan kedua lengannya yang kokoh di bawah tubuhmu—satu di bawah tengkuk dan satu lagi di bawah lipatan lututmu—mengangkat tubuh lemasmu ke dalam dekapannya. Kepalamu terkulai bersandar di dada bidangnya yang hangat, mencium aroma tembakau manis dan cedarwood yang kini terasa begitu melekat di inderamu.
Langkah kaki Riki membawamu menaiki tangga marmer melingkar menuju lantai dua, tempat kamar tidur utama berada. Ruangan itu jauh lebih hangat, dengan pencahayaan temaram dari perapian modern dan ranjang berukuran super king yang dilapisi seprai sutra abu-abu gelap.
Riki membaringkan tubuhmu di tengah ranjang dengan sangat lembut, lalu menarik selimut tebal berbahan bulu halus untuk menutupi tubuh polosmu hingga sebatas dada.
Dia tidak langsung beranjak pergi. Riki duduk di tepi kasur, menopang dagunya dengan satu tangan sementara tangan lainnya terus mengusap puncak kepalamu, mengunci tatapannya pada wajah lelapmu di bawah keheningan malam pegunungan yang panjang.
Kamar tidur utama di lantai dua itu hanya diterangi oleh lidah api kecil dari perapian modern di sudut dinding. Di luar, kabut malam pegunungan semakin pekat menekan kaca jendela besar, menghapus sisa-sisa dunia luar dan meninggalkan ruangan itu dalam isolasi total.
Riki melangkah pelan menuju nakas kayu gelap di samping ranjang. Dia menuangkan cairan berwarna amber pekat dari botol kristal ke dalam gelas kaca pendek. Es batu berdenting pelan saat ia memutar pergelangan tangannya, sebelum menyesap wiski itu perlahan. Rasa terbakar yang akrab meluncur di tenggorokannya, namun tidak cukup untuk meredakan gejolak di dalam kepalanya.
Dia kembali duduk di tepi kasur yang melesak pelan. Sambil memegang gelas di tangan kiri, tangan kanannya yang panjang dan hangat terangkat, menyusup ke sela-sela rambutmu yang terurai berantakan di atas bantal sutra abu-abu.
Jemarinya menyisir helaian rambutmu dengan gerakan teratur, sangat pelan, seolah takut mengusik tidur lelapmu yang tenang. Tatapan Riki turun menatap wajahmu yang pucat dan bibirmu yang masih merekah kemerahan. Selama bertahun-tahun, dia mengontrol setiap detail dalam hidupnya dengan presisi dingin—bisnisnya, reputasinya, hingga rencana jangka panjangnya untuk membawamu kembali ke dalam orbitnya.
Namun malam ini, batas kendali itu mulai retak.
Menyaksikanmu terbaring tanpa daya di hadapannya, mencium aroma tubuhmu yang bercampur dengan aromanya sendiri, dan merasakan kembali bagaimana tubuhmu merespons sentuhannya tanpa filter kamera... memicu sesuatu yang gelap dan tertahan di balik kesadarannya. Dorongan obsesif yang selama satu dekade dia tekan dengan disiplin ketat mendadak runtuh.
Riki meneguk sisa wiski di gelasnya hingga tandas dalam satu tegukan, lalu meletakkan gelas kosong itu di atas nakas dengan dentingan pelan. Napasnya memberat. Tatapan matanya menggelap sepenuhnya, kehilangan sisa-sisa ketenangan penuh perhitungan yang biasanya menjadi topeng andalannya.
Perlahan, Riki merangkak naik ke atas ranjang. Bobot tubuhnya yang kokoh menaungi tubuhmu yang masih terpejam dalam tidur lelap. Tangannya tidak lagi hanya mengusap rambut, melainkan merayap turun ke leher jenjangmu, lalu menyusup ke balik selimut tebal, menyingkap kain halus itu dan merasakan kembali panas kulit polosmu yang belum sepenuhnya dingin.
“Gue udah nahan diri terlalu lama, (Y/N)...” bisik Riki sangat rendah tepat di depan bibirmu, suaranya serak bergetar oleh desakan gairah yang tak lagi bisa ia rem.
Napas hangat beraroma wiski pekat menyapu wajahmu sesaat sebelum Riki kembali menunduk, menempelkan bibirnya ke bibirmu dalam sebuah lumatan lambat dan posesif di tengah keheningan malam yang sunyi.
Keheningan di dalam kamar utama lantai dua terasa begitu tebal, hanya diiringi gemeretak halus dari bara api perapian modern di sudut dinding. Di luar, kabut pegunungan menelan seluruh pemandangan lembah, mengunci vila itu dalam isolasi mutlak.
Kamu tidak bergerak sedikit pun. Kelelahan fisik yang ekstrem dari sesi maraton di lantai bawah—ditambah obat pereda nyeri dan pelepasan bertubi-tubi yang menguras sarafmu—menenggelamkan kesadaranmu ke titik paling dasar. Napasmu tetap teratur dan pelan, dadamu naik turun halus, benar-benar larut dalam tidur lelap yang kebas.
Namun bagi Riki, keadaanmu yang tak berdaya justru menjadi bensin murni yang menyiram api obsesinya yang sudah tertahan sepuluh tahun. Efek wiski yang membakar tenggorokannya bukan menumpulkan hasrat, melainkan meruntuhkan seluruh rem kendali diri yang selama ini ia bangun dengan dingin.
Riki menekan bibirnya di atas bibirmu yang sedikit terbuka. Ciuman kali ini tidak terburu-buru seperti saat kamera menyala. Ini adalah lumatan yang sangat lambat, pekat, dan basah. Ujung lidahnya yang hangat dan beraroma alkohol manis menyapu belahan bibirmu, menyesap kelembutan bibir bawahmu yang bengkak dengan kehati-hatian yang sarat akan rasa kepemilikan mutlak.
Merasakan bahwa kamu sama sekali tidak terusik atau terbangun, jemari tangan kanan Riki yang panjang dan hangat mulai merayap turun. Dari garis rahang, menyusuri leher jenjangmu yang dipenuhi bercak merah keunguan, lalu menyusup ke balik selimut tebal berbahan bulu halus. Telapak tangannya yang kokoh mendarat tepat di atas dadamu.
Riki menangkup payudaramu yang montok, meremasnya dengan tekanan yang lambat, berirama, dan penuh perhitungan. Kulitmu yang halus dan kenyal di bawah telapak tangannya mengirimkan sengatan panas yang langsung merambat naik ke tulang belakang pria itu. Ibu jarinya bergerak melingkar, mengusap dan mencubit lembut putingmu yang perlahan menegang merespons stimulasi fisik murni tanpa kesadaran sadar dari kepalamu.
“Bahkan pas lo tidur... tubuh lo seindah ini di bawah tangan gue,” bisik Riki serak tepat di depan bibirmu yang dingin, napasnya yang berat dan panas menyapu pipimu.
Riki menarik dirinya sedikit mundur hanya untuk menatap seluruh siluet tubuh polosmu yang kini tersingkap di bawah temaram cahaya perapian. Pandangannya menggelap total, dipenuhi rasa lapar yang tak pernah terpuaskan.
Tangannya terus meluncur turun melewati lekuk pinggang rampingmu, menelusuri garis perut yang rata, hingga akhirnya jemarinya yang panjang menyusup ke sela-sela pangkal paha bagian dalam. Udara di antara kedua kakimu masih memancarkan sisa-sisa kehangatan dari sesi sebelumnya.
Dengan gerakan yang sangat halus, dua jari Riki mulai menyentuh dan membelai lipatan intimu yang sensitif. Rasa basah alami yang masih tersisa di sana memudahkan jemarinya untuk merayap lebih dalam. Riki memainkan titik klitorismu dengan sapuan-sapuan pelan melingkar, merasakan bagaimana otot-otot di dalam sana berkedut halus di luar kehendakmu. Setiap sentuhan lambat yang dia berikan bukan lagi sekadar dorongan birahi sesaat, melainkan ritual pemujaan yang membakar seluruh kewarasannya—memastikan bahwa dalam keadaan sadar maupun terlelap, setiap jengkal tubuhmu telah sepenuhnya terikat dan terkunci dalam kendali takdir yang telah ia rancang sejak lama.
Di balik alam bawah sadarmu yang gelap dan kebas, sebuah sensasi hangat yang berdenyut perlahan mulai merayap naik ke permukaan mimpi. Otot-otot di liang intimu berkedut halus, merespons gesekan ritmis dan basah yang terus merangsang titik sensitifmu tanpa henti.
Namun, rasa lelah yang luar biasa berat mengunci kedua kelopak matamu tetap terpejam. Kamu tidak terbangun. Tubuhmu hanya bereaksi secara biologis murni—punggungmu melengkung tipis di atas seprai sutra abu-abu, dan sebuah desahan halus yang serak lolos begitu saja dari belahan bibirmu di tengah tidur lelap. Suara desahan tanpa sadar itu menjadi pemantik yang menghancurkan sisa kewarasan Riki.
Melihat ekspresi wajahmu yang polos, sedikit berkerut menikmati rangsangan fisik dalam kondisi setengah sadar, napas Riki seketika memberat. Tatapannya yang gelap mengunci setiap detail mikro: bibirmu yang sedikit terbuka mencari udara, bulu matamu yang bergetar pelan, dan rona merah samar yang kembali merebak di pipimu. Pemandangan itu baginya jauh lebih erotis, mentah, dan memabukkan daripada performa apa pun yang pernah kamu tampilkan di depan lensa kamera.
Di balik celana kain hitam santai yang ia kenakan, kejantanannya menegang keras dan berdenyut nyeri, menuntut pelepasan yang lebih nyata. Riki tidak menahan diri lagi. Gerakan jemarinya di bawah sana mulai bertransisi dari elusan lambat menjadi ketukan dan putaran yang semakin cepat dan rapat. Dua jarinya meluncur masuk dan keluar dengan ritme yang teratur, menekan dinding bagian atas yang hangat, sementara ibu jarinya terus menggesek klitorismu dengan tekanan yang presisi.
Di saat yang bersamaan, Riki menundukkan kepalanya. Bibirnya mendarat di dada kirimu, melumat kulit halus di sekitar payudaramu sebelum mengunci putingmu yang mengeras ke dalam hisapan yang dalam dan panas. Lidahnya yang basah menyapu dan menjentik ujung dadamu dengan tempo konstan, menciptakan tarikan gairah ganda yang langsung menghantam saraf panggulmu.
“(Y/N)... liat gimana tubuh lo bereaksi ke gue bahkan pas lo nggak sadar,” bisik Riki parau di sela lumatannya, suaranya bergetar menahan desakan nikmat yang membakar miliknya sendiri.
Tubuhmu menggeliat pelan di bawah kuasanya. Desahan-desahan kecil terus meluncur dari tenggorokanmu seiring ritme jemarinya yang semakin bertenaga di dalam liang intimu, mengikis batas antara mimpi dan realitas di bawah temaram api perapian yang menari di dinding kamar. Sisa kendali diri yang dipertahankan Riki lenyap tak bersisa. Napasnya memburu panas di udara kamar yang dingin, sementara detak jantungnya berdegup liar menghantam tulang rusuk.
Dengan satu gerakan cepat dan tak sabar, Riki melucuti celana kain santai yang ia kenakan, melemparnya sembarangan ke lantai samping ranjang. Kejantanannya yang padat berdiri tegak, tegang sempurna, dan memancarkan panas yang siap menginvasi. Kali ini, tidak ada lagi kilatan bungkus foil perak di atas nakas. Riki sengaja mengabaikan pengaman—membiarkan miliknya sepenuhnya telanjang demi merasakan kehangatanmu yang murni tanpa perantara sintetis.
Riki menaiki kasur, memposisikan dirinya di antara kedua kakimu. Kedua tangannya yang besar mencengkeram pergelangan kakimu, lalu mendorong dan membuka pahamu lebar-lebar hingga posisimu mengangkang sempurna di hadapannya di bawah pantulan temaram cahaya perapian. Pemandangan di depan matanya membuat mata Riki semakin menggelap pekat.
Stimulasi jari dan hisapan di dadamu tadi telah membuat liang intimu merekah basah. Cairan gairah mengalir berkilau di sela-sela lipatan sensitifmu, membasahi seprai sutra di bawah pinggulmu seolah-olah seluruh tubuh biologismu sedang memohon dan mengundang untuk dihajar habis-habisan tanpa ampun.
Riki menarik kedua jarinya keluar dari dalam liangmu yang berdenyut, lalu menggantikannya dengan menempelkan kepala kejantanannya yang panas tepat di bibir intimu yang terbuka.
“Liat cairan lo... becek banget kayak gini,” bisik Riki rendah dan serak, nada suaranya vulgar, merendahkan, namun sarat akan obsesi kepemilikan yang mendalam. “Tubuh lo emang dari awal diciptain cuma buat gue obrak-abrik, (Y/N). Mulut lo boleh lupa sama masa lalu, aturan lo boleh sok suci di depan orang lain... tapi di bawah gue, lo cuma wanita yang selalu basah tiap kali gue sentuh.”
Kata-kata kotor itu meluncur bersamaan dengan dorongan pinggul Riki yang menghujam masuk secara perlahan namun bertenaga.
Jleb.
Tanpa lapisan pengaman, sensasi kontak kulit ke kulit terasa luar biasa panas dan intens. Dinding intimu yang sempit dan hangat seketika merenggang, memeluk dan menjepit setiap urat di miliknya dengan cengkeraman yang sangat ketat.
Riki mengeram tertahan di tenggorokannya, memejamkan mata sesaat saat kehangatan intimu membungkusnya sampai ke titik terdalam, mengunci takdir kalian berdua dalam pusaran gairah tanpa batas di tengah sunyinya malam pegunungan. Erangan berat dan parau lolos dari tenggorokan Riki saat miliknya tertanam sempurna hingga batas terdalam. Di antara gemeretak lidah api perapian, suaranya terdengar begitu dalam dan berbahaya saat melafalkan namamu berulang kali.
“(Y/N)... Fuck, (Y/N)...”
Sensasi hangat dan basah yang menjepitnya tanpa sehelai lapisan karet sintetis meruntuhkan benteng pertahanan terakhir di kepalanya. Selama sepuluh tahun penuh, memori tentang bagaimana tubuhmu menyambutnya selalu menjadi hantu yang menghantuinya di setiap malam. Riki telah menunggu melalui waktu yang teramat panjang—melihatmu jatuh, melihatmu kehilangan ingatan, hingga melihatmu bangkit dengan topeng dingin di industri malam—hanya untuk bisa kembali ke titik ini.
Tanpa penghalang. Murni, mentah, dan membakar kesadarannya hingga ke titik relapse paling parah.
Riki menarik pinggulnya mundur beberapa sentimeter secara perlahan, membiarkan gesekan kulit langsung itu membakar sarafnya, sebelum kembali menghujam masuk dengan satu sentakan dalam yang penuh penekanan.
“Sepuluh tahun, (Y/N)...” bisik Riki serak tepat di pelipismu, tangannya mencengkeram sprei sutra di samping kepalamu hingga kusut. “Lo nggak tahu seberapa gilanya gue nahan diri biar nggak ngerusak lo lebih cepat.”
Hentakan pinggulnya mulai menemukan ritme yang stabil dan bertenaga. Di tengah tidur lelapmu yang masih dibalut kelelahan ekstrem, stimulasi fisik yang begitu intens dan tanpa perantara memaksa tubuhmu merespons secara naluriah. Dinding intimu berkontraksi ritmis, memeluk miliknya dengan sangat ketat, sementara desahan halus yang putus-putus kembali meluncur dari belahan bibirmu yang sedikit terbuka.
Mendengar suara dan merasakan bagaimana tubuhmu tetap mengenalinya di luar batas kesadaran ingatanmu, seringai gelap terukir di wajah Riki. Di bawah keheningan vila pegunungan yang terisolasi, dia terus menggerakkan tubuhnya—menegaskan kembali hak kepemilikan mutlak yang tak pernah ia lepaskan sedetik pun selama satu dekade terakhir.
Ritme dorongan Riki di atas ranjang lantai dua itu semakin rapat dan bertenaga. Tanpa sehelai pun penghalang sintetis, gesekan kulit yang bertubrukan secara langsung menciptakan suara tamparan basah yang bergema konstan di keheningan kamar utama yang terisolasi.
Plak... plak... plak...
Setiap hentakan pinggulnya menghujam ke titik terdalam, mengguncang tubuhmu yang terbaring di atas seprai sutra abu-abu. Dalam sisa-sisa pengaruh obat penenang dan keletihan fisik yang ekstrem, tubuhmu bergerak mengikuti tempo kuat yang Riki bangun. Desahan-desahan halus yang serak terus meluncur dari bibirmu yang sedikit terbuka, sebuah reaksi biologis murni terhadap rasa penuh dan panas yang mendesak di dalam sana.
Riki menunduk, menumpukan kedua tangannya yang kokoh di sisi kepalamu. Tatapannya yang gelap mengunci wajahmu yang berkerut tipis, memperhatikan bagaimana bulu matamu mulai bergetar pelan saat gelombang sensasi fisik itu menembus kabut tidur lelapmu.
Sensasi mengganjal yang padat, tebal, dan luar biasa panas di dalam liang intimu akhirnya menarik kesadaranmu ke permukaan.
Rasa sesak yang menekan dinding rahimmu berdenyut begitu nyata, memicu saraf-saraf tubuhmu untuk menyala serentak. Kelopak matamu yang berat perlahan terbuka, berkedip beberapa kali melawan temaramnya cahaya lidah api perapian yang menari di langit-langit kamar.
Pandanganmu yang semula kabur perlahan memfokus. Hal pertama yang tertangkap oleh kedua matamu adalah siluet bidang dada Riki yang basah oleh peluh tipis tepat di atasmu, garis rahangnya yang menegang menahan kenikmatan, dan manik mata elangnya yang menatap lurus ke arahmu dengan sorot obsesi yang tak lagi disembunyikan.
Napasmu tercekat di tenggorokan saat menyadari sepenuhnya apa yang sedang terjadi.
“R-riki...?” bisikmu parau, suaranya nyaris tenggelam di antara bunyi napas beratnya.
Bersamaan dengan kesadaranmu yang kembali utuh, kamu merasakan bagaimana miliknya yang telanjang menegang dan berdenyut di dalam dirimu—menyadarkanmu bahwa tidak ada batas karet pengaman yang memisahkan kalian malam ini.
Riki tidak menghentikan gerakannya saat melihat kedua matamu terbuka lebar. Sudut bibirnya justru terangkat membentuk senyum tipis yang dingin, lalu ia memberikan satu sentakan dalam yang membuat tubuhmu terlonjak kaku di bawah kuasanya.
“Akhirnya bangun juga,” bisik Riki serak dan rendah tepat di depan wajahmu. “Welcome back to reality, (Y/N).”
to be continued
jangan lupa vote





Brutal yaah😭😭
😭😭🙏🙏☠️☠️😵😵😖😖