jangan lupa like
Sentuhan demi sentuhan panas yang terukir di atas kasur malam itu membuat suhu udara di dalam kamar Jungwon kian membakar. Tantangan manjamu benar-benar menghanguskan sisa-sisa kendali diri sang ace.
Namun, terbatasnya ruang gerak karena tangan kanannya yang masih terikat rapi pada shoulder brace (penyangga bahu) membuat Jungwon terhambat untuk sepenuhnya merengkuh dan menguasai tubuhmu. Gerakannya beberapa kali terhenti ragu, menimbulkan rintihan frustrasi dari bibirnya tiap kali penyangga kain tebal itu mengalangi posisinya untuk menindihmu lebih dalam.
“Ah, sialan...” desis Jungwon rendah di lehermu, suaranya dipenuhi amarah dan ketidaksabaran yang membuncah.
Sambil menatap matamu yang sayu berkabut gairah, Jungwon mendadak menarik tangan kirinya dari pinggangmu. Tanpa ragu sedikit pun, jemari kirinya bergerak cepat meraba tali perekat velcro pada shoulder brace yang mengikat bahu kanannya.
Srett! Srett!
“Jungwon, stop!” jeritmu kaget. Rasa pusing di kepalamu seketika buyar, tergantikan oleh sengatan panik saat melihatnya mulai melepas penyangga bahu itu dengan kasar. Kamu buru-burung memegang pergelangan tangan kirinya. “Kamu gila?! Dokter bilang bahu kamu belum sembuh total! Jangan dilepas!”
“Aku ga peduli,” potong Jungwon cepat dengan napas memburu.
Ia membuang penyangga kain tebal itu begitu saja ke lantai hingga terdengar bunyi buang yang keras. Tangan kanannya yang kini terbebas bergerak perlahan, meski sedikit kaku dan menimbulkan ringisan tipis di sudut bibirnya, Jungwon tetap memaksanya bergerak naik untuk mengunci pinggangmu.
“Won, jangan dipaksa! Nanti cedera kamu makin parah—”
“Ssshh...” Jungwon menyela ucapan khawatirmual lewat bisikan lembut tepat di depan bibirmu.
Tatapan matanya yang tadi liar mendadak melunak, memperlihatkan ketulusan dan intensitas yang teramat pekat. Tangan kanannya yang baru terbebas itu naik pelan, mengelus pipimu yang terasa hangat dengan kelembutan yang luar biasa seolah kamu adalah porselin yang mudah pecah.
“Ga usah khawatir, y/n,” bisik Jungwon serak, menatap lurus ke dalam pupil matanya. “Aku ga apa-apa.”
“Tapi bahu kamu—”
“Rasa sakit di bahu aku ga ada apa-apanya dibanding tersiksa karena ga bisa meluk kamu dengan benar,” potong Jungwon lirih, suaranya bergetar penuh perasaan yang mendalam. Ia mendekatkan wajahnya, menyentuhkan ujung hidungnya ke hidungmu. “Buat kamu... apa pun bakal aku lakuin. Jangankan cuma nahan sakit di bahu, hal yang lebih gila dari ini pun bakal aku terjang asal aku bisa milikin kamu sepenuhnya malam ini.”
Pernyataan tulus bercampur gairah posesif itu sukses meruntuhkan seluruh rasa khawatir dan pertahananmu. Hatimu berdesir hebat, meleleh oleh dominasi dan rasa cinta dari cowok di atasmu ini.
Kamu tidak lagi menolak. Kamu mengangkat kedua tanganmu, melingkarkannya di leher tegap Jungwon, membiarkan tubuhmu pasrah di bawah kendalinya.
“Kamu bener-bener gila, Yang Jungwon...” rintihmu halus di depan bibirnya.
“Aku gila karena kamu,” balas Jungwon miring, menyunggingkan senyum miringnya yang seksi sebelum kembali menenggelamkan kalian berdua dalam lautan ciuman yang jauh lebih dalam, intens, dan tanpa batas.
Gairah yang menyelimuti kamar remang itu makin tak terkendali. Terbebasnya tangan kanan Jungwon dari shoulder brace membuat cowok itu makin bertindak lepas dan liar. Napasnya memburu panas di lehermu, sementara jemarinya bergerak terburu-buru menyambar kemeja seragam yang masih melekat di tubuhmu. Jungwon menarik kain itu dengan kasar, berniat menyibakkannya begitu saja tanpa peduli.
“Jungwon! Pelan-pelan!” jeritmu tertahan, buru-buru menahan kedua pergelangan tangannya. “Kancing bajuku bisa lepas semua kalau kamu se-brutal ini!”
Jungwon merintih frustrasi di ceruk lehermu, napas panasnya menghembus kulitmu yang hangat. “Tapi aku udah ga tahan, y/n...”
“Ssst... lepasin tangan kamu,” bisikmu halus namun penuh perintah. Kamu menatap matanya yang gelap berkabut gairah. “Biar aku yang lepas sendiri. Tangan kamu juga belum sembuh total, jangan banyak tingkah dulu.”
Ajaibnya, gertakan dan tatapan matamu membuat sang ace Hwanwoon yang biasanya angkuh dan dominan itu mendadak luluh. Jungwon mengalah. Ia menarik tubuhnya sedikit ke belakang, lalu duduk bertumpu pada lututnya di atas kasur, persis seperti anak anjing besar yang penurut, menunggu perintah dari majikannya. Mata cokelatnya yang tajam tidak berkedip sedikit pun, memperhatikan setiap gerak-gerikmu dengan napas yang masih naik-turun memburu.
Melihat sosok Jungwon yang mendadak penurut dan pasrah di hadapanmu, niat menggoda di dalam dirimu kembali membara. Kamu perlahan duduk tegak di hadapannya. Tanpa terburu-buru, jemarimu yang lentik naik ke kerah kemejamu, melepaskan kancing pertama secara perlahan sambil menatap lurus ke dalam matanya yang makin menggelap.
“Kenapa diam aja, Hm?” godamu halus, menyunggingkan senyum tipis yang sengaja dibuat memikat.
Kancing kedua terlepas. Kamu sengaja membiarkan bagian atas kemejamu terbuka, memamerkan kulit leher dan tulang selangkamu yang merona halus di bawah sinar bulan. Jungwon menelan ludah kasar. Jakunnya bergerak naik-turun, jemari tangannya meremas seprai kasur erat-erat untuk menahan diri agar tidak kembali menerjangmu. “Kamu... sengaja banget ya ngetes iman aku...”
Kamu terkekeh pelan. Kancing ketiga dan keempat terlepas, hingga kemeja itu meluncur jatuh dari bahumu, mengekspos tubuh bagian atasmu yang hanya terbalut pakaian dalam. Melihat Jungwon yang begitu patuh dan menggebu-gebu namun berusaha keras menahan posisinya, sebuah ide gila mendadak muncul di kepalamu. Mengingat kondisi bahu kanannya yang belum sembuh total dari cedera, kamu tidak mau Jungwon bekerja terlalu keras dan malah memperparah sakitnya malam ini.
Malam ini, biarlah kamu yang memegang kendali. Kamu merayap maju dengan gerakan yang sangat lambat dan anggun. Kamu menaiki pangkuan Jungwon, mendudukkan dirimu di atas paha tegapnya hingga tubuh kalian merapat tanpa jarak. Kedua lenganmu melingkar manja di leher tegapnya, menyusup ke rambut hitamnya yang lembab.
Jungwon tersentak kaget. Matanya membelalak menatapmu dari jarak sejengkal, terkejut dengan tindakan beranimu yang mendadak mengambil alih posisi puncak. “y/n... kamu...” suara Jungwon terdengar sangat serak dan bergetar.
Kamu menundukkan kepala, memiringkan wajahmu hingga bibirmu menyapu lembut permukaan bibir Jungwon yang sedikit terbuka, memberinya ciuman manis namun sarat akan dominasi. “Bahu kamu belum sembuh, Babe,” bisikmu seksi tepat di depan bibirnya, mengusap rahang tegasnya yang menegang. “Jadi malam ini... duduk yang tenang, nurut sama aku, dan biarkan aku yang ngatur semuanya buat kamu.”
Pupil mata Jungwon melebar sempurna. Senyum miring yang luar biasa tampan dan pasrah perlahan terukir di bibirnya, menyerahkan seluruh pertahanannya bulat-bulat ke dalam genggamanmu. Jantung Jungwon berdegup sangat kencang, dentumannya memukul tegap dadanya yang kini menempel pas pada dadamu. Tangan kirinya yang sehat secara refleks merengkuh pinggangmu, sementara tangan kanannya yang masih sedikit kaku beristirahat rileks di paha mulusmu, sepenuhnya patuh pada instruksimu.
“Sesuai perintah kamu, My Love...” bisik Jungwon serak, matanya yang redup berkabut gairah menatapmu penuh kepasrahan yang seksi. “Malam ini... aku milik kamu sepenuhnya.”
Kamu menyunggingkan senyum kemenangan. Rasa pusing akibat demam yang tadi menggelayut perlahan melebur menjadi gelombang panas yang membakar seluruh sarafmu. Dengan gerakan lambat dan penuh dominasi, kamu memiringkan kepala, mendaratkan ciuman yang dalam dan penuh kendali di bibirnya. Kamu melumat bibir bawah Jungwon perlahan, menyerap napas panasnya yang memburu, sementara jemarimu yang lentik bergerak menelusuri dada bidangnya hingga turun melucuti kaos hitam yang ia kenakan.
“Nghh... y/n...” lenguh Jungwon tertahan di balik ciumanmu.
Otot-otot di perut six-pack-nya menegang ketat saat pakaian dalammu meluncur jatuh di atas kasur. Kamu mengangkat tubuhmu sedikit, memposisikan dirimu tepat di atas kejantanannya yang sudah menegang keras di balik celana olahraganya. Tanpa memutus tatapan matamu dari manik cokelat Jungwon yang intens, kamu menurunkan celana kerjanya bersamaan dengan pakaian dalammu sendiri. Ruangan yang remang itu mendadak makin terasa menyengat. Udara di antara kalian begitu pekat oleh aroma parfum maskulin, minyak hangat, dan gairah yang sudah di ambang batas ledakan.
“y/n... serius, kamu mau di atas?” bisik Jungwon terengah-engah, jemari tangan kirinya menekan pinggulmu pelan, mencoba menahan gejolak liar di dadanya. “Badan kamu masih hangat... aku takut kamu kecapekan...”
“Ssst,” potongmu halus, menyegel bibirnya dengan ibu jarimu. Kamu menunduk, menggesekkan ujung hidungmu di rahang tegasnya yang basah oleh peluh halus. “Aku bilang nurut, Yang Jungwon. Misi aku malam ini bikin ace Hwanwoon yang angkuh ini ga berdaya di bawah aku.”
Jungwon terkekeh rendah, tawa seksi yang bergetar di tenggorokannya. Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan kepalanya bersandar pada tumpukan bantal di belakangnya, menyerahkan kontrol sepenuhnya padamu.
“Oke... buktiin kalau kamu sanggup ngelumpuhin aku,” tentang Jungwon balik dengan bisikan yang sangat memabukkan.
Kamu memegang kedua bahu kokohnya dengan hati-hati menghindari tekanan berlebih pada bahu kanannya yang cedera. Kamu mengatur napasmu yang mulai berburu, lalu secara perlahan menurunkan tubuhmu, menyatukan inti tubuh kalian yang sudah sama-sama siap.
“Aahhnn... Jungwon...” jeritmu pelan saat sensasi penuh dan panas menyengat memenuhi seluruh rongga bawahmu dalam satu dorongan yang presisi.
Jungwon mendongak seketika, urat-urat di lehernya tercetak jelas saat ia menahan erangan keras yang hampir meluncur dari tenggorokannya. Tangan kirinya mencengkeram erat pinggangmu, sementara tangannya yang lain menahan matras di samping tubuhnya.
“Ssshh... y/n... fuck... ketat banget...” geram Jungwon serak, matanya terpejam rapat menahan kenikmatan dahsyat yang menghantamnya bertubi-tubi.
Kamu berdiam sejenak di atas pangkuannya, membiarkan tubuh kalian beradaptasi dengan penyatuan yang intim ini. Sinar bulan sore-malam yang menerobos jendela melukis siluet tubuhmu yang indah di atas tubuh tegap atletis Jungwon. Perlahan, kamu mulai menggerakkan pinggulmu. Tempo awal yang kamu mainkan terasa santai, teratur, namun sangat dalam. Kamu menaik-turunkan tubuhmu dengan ritme yang menyiksa, menumbuk tepat di titik peka di dalam dirimu sendiri sembari menikmati setiap ekspresi pasrah yang terukir di wajah tampan pacarmu.
Plak... plak...
Suara gesekan kulit dan hentakan intim bergema halus di dalam kamar sepi itu.
“Mhh... Won... ahh...” lenguhan manjamu terlepas makin sering. Kamu menggigit bibir bawahmu, membiarkan rambut hitammu yang terurai jatuh menyapu dada telanjang Jungwon.
Jungwon membuka matanya lambat-lambat. Pandangannya yang liar dan lapar menatapmu yang sedang bergerak di atasnya dengan begitu anggun dan seksi. Dominasi yang kamu tunjukkan justru menyulut gairah terpendamnya hingga ke tingkat yang paling berbahaya. “Kamu... bener-bener pinter bikin aku gila, y/n...” bisik Jungwon dengan napas putus-putus.
Tangan kirinya yang kekar mendadak menyusup ke belakang tengkukmu, menarik kepalamu turun untuk kembali membungkus bibirmu dalam ciuman yang panas dan menuntut. Di saat yang sama, pinggul Jungwon yang tangguh mulai memberikan dorongan balasan dari bawah—memutar dan menumbuk naik dengan sudut yang makin tajam dan penuh daya ledak.
“Ahn! Jungwon... pelan... ahh!” jeritmu terperanjat saat kendali yang tadinya kamu pegang mendadak goyah oleh gerakan balasan dari Jungwon.
“Katanya kamu yang mau ngatur?” goda Jungwon di balik ciumannya, menyunggingkan senyum miring yang luar biasa angkuh dan memikat. “Tapi gesekan kamu makin berantakan gini, Sayang...”
“Kamu... mhh... kamu jahil banget ih!” balasmu terengah-engah, makin mempercepat tempo gerakanmu untuk membalas dorongan pinggulnya.
Pertarungan kendali di atas kasur itu berubah menjadi simfoni gairah yang sangat panjang dan intens. Kamu yang tidak mau kalah terus memacu ritme di atas tubuhnya, sementara Jungwon meski dengan satu tangan yang harus dijaga menggunakan kekuatan penuh otot paha dan pinggul atletisnya untuk mengimbangi setiap gerakanmu dari bawah.
Setiap tumbukan terasa makin dalam, merayap naik membakar seluruh saraf kewarasan kalian. Peluh membasahi tubuh kalian berdua, membuat kulit yang saling bertabrakan terasa makin licin dan panas.
“Jungwon... aku... aku ga kuat...” rintihmu pasrah, kedua tanganmu meremas bahu tegapnya erat-erat saat sensasi pelepasan mulai mengumpul hebat di dasar perutmu.
Jungwon membuka matanya penuh, menatapmu dengan binar cinta dan gairah yang pekat.
“Bareng aku, y/n...” bisik Jungwon rendah, suaranya sarat akan perintah posesif yang melumpuhkan.
Tangan kirinya meraih pinggangmu, menahan tubuhmu untuk menumbuk ke bawah satu kali lagi dengan hentakan yang sangat dalam dan mengunci, sementara ia menyentakkan pinggulnya naik maksimal.
“AHHN! JUNGWON!”
Ledakan kenikmatan yang luar biasa dahsyat pecah seketika di dalam dirimu. Dinding dalammu menjepitnya ketat dalam kejang kebahagiaan yang melumpuhkan seluruh tubuhmu. Pelepasan hebat itu menarik Jungwon melewati batas ketahanannya. Cowok itu mengerang keras di lehermu, menanamkan posisinya sejauh mungkin di dalam dirimu saat cairan hangatnya menyembur deras, memenuhi rahimmu.
Kamu ambruk di atas dada bidang Jungwon, napasmu berburu hebat dan terengah-engah. Jungwon langsung melingkarkan kedua lengannya di tubuhmu, mengabaikan sedikit rasa pegal di bahu kanannya lalu menarik selimut abu-abu tebal untuk membungkus tubuh kalian berdua yang masih saling menyatu dalam kehangatan.
Hening malam kembali menyelimuti kamar. Hanya ada suara deru napas kalian berdua yang perlahan mulai teratur dan detak jantung Jungwon yang berdebar kencang di bawah telingamu. Jungwon menghirup aroma rambutmu yang lembab, lalu mengecup puncak kepalamu berkali-kali dengan rasa sayang yang tak terhingga.
“Gimana, Manajer?” bisik Jungwon lembut, suaranya terdengar sangat damai dan penuh kemenangan. “Masih mau bilang aku ga berdaya?”
Kamu terkekeh pelan di balik dada bidangnya, menggigit kecil kulit dadanya sebagai balasan. “Bahu kamu gimana? Jangan bohong.”
Jungwon tersenyum manis, lesung pipi tipisnya mekar sempurna dalam kegelapan. Ia mengelus punggungmu yang halus dengan jemarinya. “Udah ga terasa sakit sama sekali,” jawab Jungwon tulus. Ia menunduk, mengangkat wajahmu pelan untuk menyatukan bibir kalian dalam ciuman singkat yang sangat manis. “Kan obat terbaik aku udah ada di sini... pelukan sama aku.”
Kamu menempelkan pipimu yang masih hangat di dada bidang Jungwon, mendengarkan detak jantungnya yang perlahan mulai berangsur normal. Namun, senyum miring yang usil kembali terukir di bibirmu. Mana mungkin kamu melepaskan sang ace begitu saja setelah dia merasa menang?
Kamu sengaja menggeser posisi dudukmu sedikit di atas pangkuannya. Gesekan pelan dari inti tubuhmu yang masih basah dan pekat membuat otot perut Jungwon seketika kembali menegang kaku. “y/n... kamu mau ngapain lagi?” tanyanya dengan suara serak, sedikit kaget tapi matanya langsung berkilat penuh antisipasi.
“Masa ace baseball kebanggaan cuma tahan satu inning sih?” godamu halus.
Jemari lentikmu mulai bertingkah. Kamu menelusuri dada bidangnya yang licin oleh keringat, menuruni garis perut six-pack-nya, lalu sengaja membisikkan kata-kata manja di ceruk lehernya yang peka. Kamu bahkan mengecup lembut tepat di bawah rahangnya, menghirup dalam-dalam aroma parfum maskulin yang bercampur keringat seksi pacarmu itu.
“Padahal aku baru mau serius...” bisikmu seksi, nada suaramu mengalun begitu menggoda tepat di daun telinganya. “Katanya tadi mau bikin aku mendesah panggil nama kamu sampai lupa kalau aku lagi demam? Kok kaptennya udah lemas duluan?”
Jungwon menelan ludah kasar. Jakunnya bergerak naik-turun dengan cepat. Erangan rendah yang memabukkan kembali terlepas dari tenggorokannya saat ia merasakan bagian bawahnya yang belum sepenuhnya mengendor mulai mengeras kembali akibat provokasimu.
“Kamu bener-bener... ga ada takut-takutnya ya, y/n,” desis Jungwon dengan napas yang kembali memburu panas di lehermu. Tangan kirinya yang kekar langsung meremas pinggulmu ketat, menahannya agar tidak makin banyak bertingkah di atas pangkuannya. “Jangan salahin aku kalau besok kamu ga bisa jalan ke lapangan.”
“Coba aja kalau kamu sanggup, Yang Jungwon,” balasmu makin berani, menggesekkan pinggulmu satu kali lagi dengan gerakan sengaja yang sangat lambat namun membakar. “Ingat ya... bahu kanan kamu masih dalam pengawasan aku. Jangan belagu kalau cuma bisa pasrah di bawah kendali aku.”
Manik mata cokelat Jungwon seketika memancarkan aura predator yang benar-benar berbahaya. Rasa sabar dan kepasrahannya runtuh total dalam sedetik.
“Oke, permainan penurutnya selesai,” geram Jungwon miring, penuh dominasi.
Tanpa membuang waktu, Jungwon membalikkan posisi kalian secara instan. Dengan satu gerakan cepat, mulus, dan bertenaga tetapi tetap ekstra hati-hati menjaga bahu kanannya, dia menindih tubuhmu di atas kasur empuk, mengunci kedua tanganmu di atas kepala dengan tangan kirinya yang kuat.
Ia menunduk, menatapmu yang kini sudah berada di bawah cengkeramannya dari jarak satu sentimeter.
“Dengar baik-baik, My Manager,” bisik Jungwon serak, matanya menatapmu dengan gairah posesif yang membakar habis seluruh kewarasan. “Malam ini ga akan ada yang tidur. Dan besok pagi, aku yang bakal jamin kamu cuma bisa tiduran di kasur sambil meluk aku.”
to be continued





Engga usah tidur kalo sama sama binal gini😭😭 dan sembuh bisa di atur nanti
mom bikinn pov hayy jugaa